Full Transcript

·YouTLDR

BAB 1 : PENGUKURAN DALAM KEGIATAN KERJA ILMIAH | IPA SMA Kelas 10 Kurikulum Merdeka

23:59IndonesianTranscribed Jul 29, 2026
0:00

Halo sahabat sains, welcome to Miss Maya

0:04

Channel. Sebelum menonton video ini,

0:06

jangan lupa untuk like, comment, dan

0:10

subscribe dulu ya. Enjoy this

0:21

video. Halo sahabat sains, kembali lagi

0:25

di channel YouTube Miss Maya. Pada video

0:28

kali ini kita akan membahas materi IPA

0:31

kelas 10 kurikulum merdeka yaitu

0:34

mengenai bab 1 pengukuran dalam kegiatan

0:38

kerja ilmiah. Simak videonya sampai

0:41

selesai ya. Sahabat sains. Coba kalian

0:45

perhatikan gambar berikut ini, ya. Nah,

0:48

gambar tersebut menunjukkan kasus

0:50

kecelakaan lalu lintas yang terjadi.

0:53

Terlihat bahwa truk tersebut mengalami

0:55

patah baut roda belakang. Banyak faktor

0:58

yang dapat menyebabkan patah baut pada

1:01

ban belakang. seperti muatan pada truk

1:04

melebihi batas maksimum, kemudian ukuran

1:07

mur dan baut tidak sesuai, penggunaan

1:09

baut dengan material bahan yang tidak

1:11

sesuai dan lain-lain. Agar kecelakaan

1:15

serupa tidak terulang kembali, kira-kira

1:17

bagaimana ya cara memastikan ukuran baut

1:21

sudah sesuai dengan murnya dan bagaimana

1:24

cara memastikan bahan material mur dan

1:27

baut sudah benar? Mari kita pelajari

1:30

lebih dalam lagi dalam bab ini, Sahabat

1:33

Sains, coba kalian amati gambar berikut

1:36

ini. Tentu kalian tidak asingkan dengan

1:39

aktivitas tersebut. Apapun bidang

1:42

pekerjaannya, aktivitas yang dilakukan

1:45

masyarakat dalam kehidupan sehari-hari

1:47

tidak lepas dari kegiatan pengukuran.

1:50

Sehingga penting bagi kalian untuk dapat

1:52

memahami tentang prinsip-prinsip

1:54

pengukuran. Kira-kira apa sih yang

1:57

dimaksud dengan pengukuran? Pengukuran

1:59

merupakan suatu kegiatan membandingkan

2:02

besaran yang belum diketahui besaran

2:05

nilainya dengan nilai standar dari

2:08

satuan ukuran tertentu. Misalnya yaitu

2:11

ketika kalian sedang mengukur suatu

2:14

benda yang nilai ukurannya tidak

2:16

diketahui misalnya pensil dengan

2:19

menggunakan alat ukur yaitu berupa

2:22

penggaris. Berarti kalian sedang

2:25

membandingkan ukuran suatu benda yang

2:27

belum diketahui ukurannya, yaitu dalam

2:30

hal ini pensil ya, dengan alat yang

2:33

dianggap sebagai ukuran standar dalam

2:35

hal ini yaitu penggaris. Terdapat banyak

2:39

sekali alat ukur yang dapat kita jumpai

2:41

dalam kehidupan sehari-hari seperti

2:44

penggaris, meteran, speedometer, jangka

2:48

sorong, gelas ukur, tensimeter, pHmet,

2:52

termometer, mikrometer scrup, stopwatch,

2:56

dan masih banyak lagi yang lain. Sahabat

2:59

sains, kalian tahu enggak sih apa

3:02

perbedaan besaran, satuan, dan dimensi?

3:05

Besaran merupakan sesuatu yang dapat

3:08

diukur dan dinyatakan dengan angka.

3:10

Contohnya yaitu ketika seseorang sedang

3:13

mengukur sebuah kain. Besaran yang

3:16

muncul yaitu berupa besaran panjang.

3:19

Berdasarkan hasil pengukuran potongan

3:21

kain tersebut didapatkan dua komponen

3:24

hasil pengukuran, yaitu besaran berupa

3:27

panjang dan satuan berupa cm. Besaran

3:31

terdiri atas dua kelompok besaran, yaitu

3:35

besaran pokok dan besaran turunan.

3:38

Besaran pokok merupakan besaran dasar

3:41

yang satuannya sudah ditetapkan.

3:44

Sedangkan besaran turunan adalah besaran

3:47

yang satuannya tersusun dari beberapa

3:50

satuan dari besaran pokok. Selanjutnya

3:53

yaitu mengenai sistem satuan. Satuan

3:56

merupakan ukuran yang menjadi acuan dari

4:00

suatu besaran. Terdapat beberapa sistem

4:03

satuan yang digunakan di dunia seperti

4:06

sistem FPS yaitu fit, PON, dan second.

4:11

Kemudian sistem CGS cm

4:15

grs m

4:17

kgs. Berikut ini merupakan tabel besaran

4:22

satuan SI dan dimensi dari

4:25

besaran-besaran pokok. Terdapat tujuh

4:28

besaran pokok, yaitu besaran panjang,

4:31

massa, waktu, kuat arus listrik, suhu,

4:36

intensitas cahaya, dan jumlah zat. Tabel

4:40

yang selanjutnya yaitu mengenai besaran

4:44

satuan SI dan dimensi dari beberapa

4:47

besaran turunan. Terdapat delapan

4:50

besaran turunan, yaitu besaran luas,

4:53

volume, massa jenis, kecepatan,

4:57

percepatan, gaya, usaha, dan daya.

5:02

Pembahasan yang selanjutnya yaitu

5:04

mengenai

5:05

dimensi. Sahabat sains, dimensi

5:09

merupakan cara suatu besaran turunan

5:12

disusun berdasarkan besaran pokoknya.

5:15

Suatu besaran turunan dapat dinyatakan

5:18

dalam susunan beberapa besaran pokok

5:21

yang dapat diketahui dengan cara

5:23

melakukan analisis dimensi. Untuk

5:27

memahami lebih lanjut, ayo kita

5:29

identifikasi bersama. Berikut ini ada

5:32

tabel yang masih kosong dengan kolom

5:36

yang berisi nama alat ukur, besaran yang

5:39

diukur, kemudian jenis besaran, satuan

5:43

pada alat, satuan dalam si, dan dimensi.

5:47

Coba kita isi yuk tabelnya. Baris

5:50

pertama kita isi yaitu nama alat ukurnya

5:53

berupa penggaris. Besaran yang diukur

5:55

yaitu panjang. Jenis besarannya yaitu

5:58

besaran pokok. Satuan pada alat

6:00

penggaris yaitu cm, sedangkan satuan

6:04

panjang dalam si yaitu meter. Nah,

6:07

dimensi dari panjang adalah L besar.

6:10

Baris yang kedua kita isi nama alat

6:13

ukurnya yaitu berupa stopwatch.

6:15

Stopwatch ini digunakan untuk mengukur

6:18

besaran waktu. Nah, waktu merupakan

6:21

jenis besaran pokok. Satuan pada

6:24

stopwatch yaitu berupa sekond. Sedangkan

6:27

satuan waktu dalam si yaitu sama juga

6:30

sekond. Nah, dimensi pada besaran waktu

6:34

yaitu T besar. Baris yang ketiga kita

6:37

isi nama alat ukurnya yaitu berupa

6:40

spedometer. Besaran yang diukur dalam

6:43

alat spedometer yaitu berupa kelajuan.

6:46

Kelajuan ini merupakan jenis besaran

6:49

turunan satuan pada spedometer yaitu

6:52

km/j. Sedangkan satuan kelajuan dalam SI

6:56

yaitu met/s. Dimensi pada besaran

7:01

kelajuan yaitu L

7:05

bes. Kenapa sih dimensi dari kelajuan

7:08

itu L besar?

7:11

Nah, hal ini karena satuan dalam si

7:15

besaran kelajuan yaitu berupa meter/s.

7:18

Meter memiliki dimensi L besar,

7:21

sedangkan sekond memiliki dimensi T

7:24

besar. Sehingga dimensi dari kelajuan

7:27

yaitu L di / T bes. Nama alat ukur yang

7:31

selanjutnya yaitu gelas ukur. Gelas ukur

7:35

memiliki besaran berupa volume. Volume

7:38

merupakan jenis besaran turunan satuan

7:41

pada gelas ukur yaitu berupa mililiter.

7:45

Sedangkan satuan S pada besaran volume

7:48

yaitu m³. Dikarenakan satuan dalam

7:52

si-nya yaitu berupa meter kubik, maka

7:56

kita peroleh dimensi yaitu L besar P 3

7:59

juga ya. Sahabat Sains, berikut

8:02

merupakan gambar baut dan mur. Kira-kira

8:06

kalian tahu enggak sih alat ukur apa

8:08

yang dapat digunakan untuk mengukur baut

8:11

dan mur? Bagaimana ya cara mengukurnya?

8:15

Terdapat beberapa alat ukur yang dapat

8:18

digunakan untuk mengukur mur dan baut.

8:22

Di antaranya yaitu jangka sorong dan

8:24

mikrometer scrup. Kita bahas satu

8:27

persatu yuk. Sahabat sains, jangka

8:30

sorong merupakan alat pengukuran panjang

8:33

yang memiliki bentuk seperti kunci

8:35

inggris. Jangka sorong digunakan untuk

8:38

mengukur diameter luar maupun dalam

8:41

sebuah benda. Selain itu, jangka sorong

8:44

berfungsi untuk mengukur kedalaman suatu

8:46

benda. Terdapat komponen-komponen pada

8:49

jangka sorong. Bagian yang pertama yait

8:52

rahang dalam. Bagian nomor dua yaitu

8:55

rahang luar. Bagian nomor tiga yaitu

8:58

pengukur kedalaman. Bagian nomor empat

9:01

yaitu skala utama dalam cm. Bagian nomor

9:06

5 yaitu skala utama juga tapi

9:09

menggunakan skala inci. Bagian 6 yaitu

9:12

skala nonius. Satuannya yaitu milimeter.

9:15

Bagian nomor 7 juga skala nonius dalam

9:18

satuan inci. Sedangkan pada bagian nomor

9:21

8 yaitu pengunci. Bagaimana sih cara

9:25

mengukur menggunakan jangka sorong? Yang

9:28

pertama yaitu menjepit benda di antara

9:31

rahang tetap dan geser. Selanjutnya

9:34

mengunci hasil pengukuran. Yang ketiga,

9:37

menetapkan nol skala nonius sebagai

9:40

acuan pengukurannya. Selanjutnya lihat

9:44

satu ukuran skala utama yang berada

9:46

tepat pada 0 skala nonius. Hasil

9:49

pembacaan merupakan nilai skala utama.

9:53

Skala nonius yang berimpit atau segaris

9:56

dengan skala utama merupakan nilai skala

9:58

nonius. Selanjutnya menjumlahkan nilai

10:01

skala utama dengan

10:05

0,01 * nilai skala nonius. Kita coba yuk

10:09

membaca hasil pengukuran jangka sorong

10:11

pada gambar berikut ini. Pertama,

10:14

tentukan skala utama dalam satuan

10:17

ctimeter yang letak garisnya itu sebelum

10:20

angka 0 skala nonius. Nah, berdasarkan

10:24

gambar berikut ini kita peroleh skala

10:27

utama yaitu sebesar 2 cm. Selanjutnya

10:31

cari skala nonius yang berimpit dengan

10:33

skala utama. Jadi kita cari yang

10:37

kelihatan seperti bentuk garis lurus

10:39

antara skala utama dengan skala

10:42

noniusnya. Karena tingkat ketelitian

10:45

skala nonius adalah 0,01 cm, jadi

10:49

diperoleh skala noniusnya yaitu sebesar

10:53

1 *

10:55

0,01 cm. Sehingga skala noniusnya yaitu

10:59

sebesar

11:00

0,01 cm. Setelah kita memperoleh skala

11:04

utama dan skala nonius, kemudian kita

11:07

bisa menuliskan hasil pengukurannya,

11:09

yaitu tinggal menambahkan antara skala

11:12

utama dengan skala noniusnya, yaitu 2 +

11:17

0,01 cm. Sehingga hasil pengukurannya

11:21

yaitu sebesar

11:23

2,01

11:25

cm. Alat yang selanjutnya yaitu

11:28

mikrometer scrup. Mikrometer SC group

11:30

merupakan alat yang digunakan untuk

11:32

mengukur panjang, diameter, dan

11:35

ketebalan suatu benda. Terdapat beberapa

11:38

komponen pada mikrometer scrup. Di

11:41

antaranya bagian landasan, poros,

11:44

bingkai, kunci, selubung dalam, skala

11:48

nonius, selubung luar, dan roda

11:52

bergerigi. Bagaimana sih cara untuk

11:55

mengukur menggunakan mikrometer scrop?

11:58

Nah, langkah pertama yaitu kita menjepit

12:00

benda di antara landasan dan poros

12:04

kemudian menguncinya. Setelah itu, lihat

12:07

satu ukuran skala utama yang berada

12:09

tepat di samping selubung luar. Hasil

12:12

pembacaan ini merupakan nilai skala

12:15

utama. Lalu kita melihat skala nonius

12:19

yang berimpit atau yang segaris dengan

12:22

skala utama. Nah, hasil ini merupakan

12:25

nilai skala noniusnya. Kita coba yuk

12:28

membaca hasil pengukuran mikrometer

12:30

scrub pada gambar berikut ini. Langkah

12:33

pertama yaitu kita lihat nilai yang

12:35

tertera di skala utama dalam satuan

12:38

mileter. Pada gambar berikut ini

12:40

menunjukkan bahwa skalanya yaitu sebesar

12:43

7 mm. Selanjutnya kita lihat nilai yang

12:47

tertera di skala nonius. Kita peroleh

12:50

hasil yaitu sebesar 25. Kemudian kita

12:53

kalikan dengan 0,01 mm. sehingga

12:57

diperoleh hasil skala nonius yaitu

12:59

sebesar

13:01

0,25 mm. Setelah kita berhasil melihat

13:05

nilai yang tertera di skala utama dan

13:07

skala nonius, selanjutnya untuk membaca

13:10

hasil pengukurannya kita tambahkan skala

13:13

utama ditambah dengan skala nonius yaitu

13:16

7 +

13:18

0,25 sehingga hasil pengukurannya yaitu

13:21

sebesar

13:22

7,25 mm. Yang selanjutnya akan kita

13:26

bahas yaitu mengenai aturan angka

13:29

penting dan notasi ilmiah. Sahabat

13:31

sains, angka penting adalah satuan angka

13:35

yang menunjukkan ketelitian atau

13:37

ketidakpastian suatu alat ukur yang

13:40

digunakan. Fungsi angka penting adalah

13:43

untuk menunjukkan seberapa akurat dan

13:46

seberapa telitinya hasil pengukuran kita

13:49

terhadap suatu besaran tertentu. Hasil

13:51

pengukuran alat ukur ini juga biasanya

13:54

berfungsi untuk pembulatan angka

13:56

penting. Sedangkan untuk notasi ilmiah

14:00

bisa didefinisikan sebagai penyajian

14:03

bilangan bulat antara 1 dan 10 yang

14:06

dikalikan dengan eksponen 10. Contohnya

14:10

ada bilangan sebesar R.500 juta. Nah,

14:14

penulisan angka 0 untuk bilangan ini

14:17

sangat panjang sehingga terlihat rumit.

14:20

Oleh karena itu, kita bisa

14:21

mempersingkatnya dengan cara

14:23

menuliskannya sebagai 75 * 10^ 8. Contoh

14:29

lainnya yaitu misal ada bilangan 0,0075.

14:35

Maka cara lain untuk menuliskannya

14:37

dengan notasi ilmiah adalah 75 * 10^ -6.

14:43

Sahabat sains, lalu apa sih hubungan

14:47

antara angka penting dan notasi ilmiah?

14:50

Nah, saat kita menggunakan notasi ilmiah

14:53

dengan mempersingkat banyaknya angka 0

14:55

pada suatu bilangan dengan eksponen 10,

14:57

maka kita bisa lebih fokus pada bilangan

15:00

bulatnya saja. Nah, bilangan bulatnya

15:03

ini bisa disebut sebagai angka penting.

15:06

Terdapat beberapa aturan angka penting

15:08

yang harus kita pahami. Yang pertama

15:10

yaitu semua angka yang bukan nol

15:13

dianggap sebagai angka penting.

15:15

Contohnya yaitu ketika kita mengukur

15:18

panjang meja dan hasilnya adalah 125 cm,

15:22

maka hasil pengukuran ini memiliki tiga

15:25

angka penting. Aturan yang kedua yaitu

15:28

angka nol yang berada di antara angka

15:30

bukan nol dianggap sebagai angka

15:32

penting. Contohnya ketika kita mengukur

15:35

berat suatu barang dan mendapatkan angka

15:38

100 gr. Ini berarti angka tersebut

15:41

memiliki empat angka penting. Dua angka

15:44

0 dalam bilangan 1005 diapit oleh dua

15:47

angka bukan 0 sehingga angka 0 dianggap

15:51

sebagai angka

15:52

penting. Aturan yang selanjutnya yaitu

15:55

angka 0 yang berada di akhir setelah

15:58

tanda koma dianggap sebagai angka

16:00

penting. Contohnya yaitu pengukuran luas

16:03

dan hasilnya adalah 2,40 m². Ini berarti

16:08

ada tiga angka penting karena angka 0

16:11

setelah tanda koma masih merupakan

16:13

bagian dari bilangan. Biasanya pada

16:16

pengukuran semacam ini hasilnya

16:18

merupakan hasil pembulatan. Misalnya

16:21

2,40 m² merupakan pembulatan dari

16:26

2,401 m² atau 2,403 m².

16:32

Aturan yang selanjutnya yaitu angka nol

16:35

yang digunakan sebagai titik desimal

16:37

tidak dianggap sebagai angka penting.

16:39

Contohnya yaitu pengukuran ketebalan

16:41

kertas jika hasilnya adalah 0,06 cm.

16:46

Artinya bilangan 0,06 ini hanya memiliki

16:49

satu angka penting. Hal ini karena kedua

16:52

angka nol dalam bilangan tersebut

16:54

merupakan titik desimal.

16:57

Aturan yang selanjutnya yaitu bilangan

16:59

puluhan, ratusan, dan ribuan yang

17:03

dituliskan dalam notasi ilmiah atau

17:05

diberi garis bawah dianggap sebagai

17:07

angka penting. Seperti yang telah kita

17:09

sebutkan sebelumnya, angka penting dan

17:12

notasi ilmiah ini digunakan agar kita

17:14

lebih fokus pada bilangan bulatnya saja.

17:17

Jadi dalam bilangan 0,03 cm kita dapat

17:21

fokus pada angka pentingnya dengan

17:24

menuliskan 3 * 10^ -2 cm. Yang

17:28

selanjutnya akan kita bahas yaitu nilai

17:31

ketidakpastian pada pengukuran berulang.

17:34

Sahabat sains, pada setiap aktivitas

17:36

pengukuran, kesalahan pengukuran tidak

17:39

dapat dihindarkan. Apalagi jika

17:41

pengukurannya hanya dilakukan sekali

17:43

saja. peluang ketidaksesuaian antara

17:47

hasil pengukuran dengan kondisi

17:48

sebenarnya akan semakin besar. Nah,

17:51

banyak faktor kesalahan yang dapat

17:53

menyebabkan hasil pengukuran tidak

17:55

sesuai dengan kondisi aslinya. Untuk

17:58

mengurangi faktor kesalahan pengukuran

18:00

tersebut dapat mengatasinya dengan cara

18:03

melakukan pengukuran secara berulang.

18:06

Pengambilan data untuk pengukuran

18:08

berulang minimal dilakukan sebanyak lima

18:10

kali ya. Untuk mendapatkan nilai

18:13

ketidakpastian pengukuran berulang dapat

18:15

menggunakan persamaan standar deviasi

18:18

yang dinyatakan sebagai berikut. Sahabat

18:21

sains, setelah kita melakukan pengukuran

18:23

berulang, lalu bagaimana ya aturan

18:26

membulatkan angka hasil pengolahan data

18:29

ini? Nah, yang pertama yaitu dengan cara

18:32

menentukan nilai ketidakpastian

18:34

relatifnya dengan cara sebagai berikut.

18:37

Ketidakpastian relatif sama delta x /

18:40

rata-rata x * 100%. Yang kedua yaitu

18:45

dengan mencocokkan persentase

18:47

ketidakpastian relatif yang didapatkan

18:50

dengan aturan sebagai berikut. Aturan

18:52

yang pertama yaitu jika persentase

18:54

ketidakpastian relatif sebesar

18:57

0,1%, jumlah angka hasil pengolahan data

19:00

yang dituliskan sebanyak 4 angka.

19:02

Kemudian jika persentase ketidakpastian

19:05

relatif sebesar 1% maka jumlah angka

19:08

hasil pengolahan data yang dituliskan

19:10

yaitu sebanyak tiga angka. Sedangkan

19:13

jika persentase ketidakpastian

19:15

relatifnya sebesar 10% maka jumlah angka

19:18

hasil pengolahan data yang dituliskan

19:20

sebanyak dua angka. Kita coba latihan

19:23

yuk. Nah, ini ada beberapa data tentang

19:26

pengukuran diameter botol. dilakukan

19:29

percobaan sebanyak lima kali dan

19:31

didapatkan hasil yaitu seperti pada

19:33

tabel tersebut. Selanjutnya dari data

19:36

diameter tutup botol kita bisa mencari

19:39

luas permukaan tutup botolnya yaitu

19:42

dengan menggunakan rumus a = 1/4 pi d².

19:47

Nah, kita cari menggunakan rumus

19:49

tersebut ya. dan didapatkan hasil

19:51

seperti pada kolom kedua yaitu data yang

19:54

pertama sebesar 7,64 kemudian 7, 74

19:59

kemudian

20:00

7,79

20:02

7,59 dan yang terakhir

20:04

7,74. Setelah kita mendapatkan nilai

20:07

a-nya, kita bisa mencari kuadrat luas

20:10

permukaan tutup botol, yaitu dengan cara

20:13

masing-masing dari a yang sudah

20:14

diperoleh tadi kita kuadratkan nilainya.

20:17

Nah, sehingga diperoleh hasil yaitu

20:19

58,4, kemudian

20:21

59,9, 60,7, 57,6 dan

20:26

59,9. Selanjutnya luas permukaan tutup

20:29

botol ini bisa kita cari sigmanya ya,

20:31

yaitu dengan cara menjumlahkan kelima

20:34

data yang sudah kita peroleh tadi dan

20:36

diperoleh hasil sebesar

20:38

38,5 cm².

20:40

Berdasarkan data sigma a yang sudah kita

20:43

cari yaitu sebesar

20:44

38,5, maka kita bisa mencari nilai x dan

20:47

juga y-nya. Nilai x merupakan sigma a

20:51

dikuadratkan. Berarti artinya 38,5 ini

20:55

kita kuadratkan. Hasilnya diperoleh

20:57

yaitu sebesar

21:00

1482,25 cm^ 4. Sedangkan untuk mencari

21:04

nilai y kita bisa memperoleh dengan cara

21:07

sigma a² sehingga a² ini bisa kita

21:10

jumlahkan yaitu hasilnya sebesar

21:14

296,5 cm^ 4. Dari data perhitungan yang

21:19

sudah kita dapatkan tadi, kita bisa

21:21

mengetahui yaitu jumlah datanya tadi

21:23

sebanyak lima kali percobaan ya.

21:25

Kemudian nilai x dan y-nya juga sudah

21:27

kita peroleh sehingga kita bisa

21:30

menemukan jawabannya yaitu menentukan

21:32

nilai rarata luas permukaan tutup botol

21:35

dengan rumus sebagai berikut. A

21:37

rata-rata = sigma A / N di mana sigma

21:41

A-nya yaitu

21:43

38,5 / 5 sehingga rata-rata luas

21:46

permukaan tutup botol yang diperoleh

21:48

yaitu sebesar

21:50

7,70 cm².

21:53

Selanjutnya kita bisa menentukan nilai

21:55

ketidakpastian pengukuran berulang

21:57

dengan menggunakan rumus berikut ini.

22:00

1/n

22:01

√n sig a² - sig a kita kuadratkan

22:06

kemudian dibagi n - 1. Nah, kita

22:09

masukkan ya nilai n-nya yaitu sebesar 5.

22:12

Kemudian nilai sigma a² bisa kita ganti

22:16

dengan simbol y. Selanjutnya nilai sigma

22:19

a kita kuadratkan. kita bisa

22:21

menggantinya dengan simbol x. Nah,

22:23

kemudian kita tuliskan ya hasilnya yaitu

22:26

seperti yang terlihat pada perhitungan

22:29

berikut ini sehingga diperoleh nilai

22:31

sigma a yaitu sebesar 0,05

22:35

cm². Berdasarkan perhitungan yang sudah

22:38

kita lakukan, maka kita bisa memperoleh

22:40

nilai ketidakpastian relatifnya yaitu

22:43

delta A dibagi a rata-rata di* 100%.

22:47

Kita masukkan delta A-nya yaitu sebesar

22:50

0,05. Sedangkan A rata-ratanya yaitu

22:53

sebesar 7,70 kita kalikan dengan 100%.

22:56

Maka didapatkan nilai ketidakpastian

22:58

relatif yaitu sebesar 0,65%.

23:02

Nah, nilai persentase ketidakpastian

23:04

relatif yang bernilai

23:07

0,65% atau nilainya kurang dari 1%

23:10

sehingga jumlah angka hasil pengolahan

23:12

data yang dapat dituliskan adalah

23:14

sebanyak tiga angka penting. Maka luas

23:17

permukaan tutup botol tersebut adalah a

23:20

=

23:21

7,70 kur

23:24

0,05 cm².

23:27

Sahabat sains, demikianlah pembahasan

23:29

kita mengenai materi pengukuran kelas 10

23:33

mata pelajaran IPA kurikulum merdeka.

23:35

Nah, pada video selanjutnya kita akan

23:37

membahas latihan soal mengenai bab ini

23:40

ya. Jangan lupa untuk subscribe channel

23:42

ini agar kalian tidak ketinggalan video

23:45

terbaru Miss Maya. Tetap semangat

23:47

belajar sahabat

23:49

sains. Thank you for watching, Sahabat

23:51

Science. See you on my next video.

23:55

[Musik]

More transcripts

Explore other videos transcribed with YouTLDR.

Get the TLDR of any YouTube video

Transcribe, summarize, and repurpose videos in 125+ languages — free, no signup required.

Try YouTLDR Free