0:03
Walau hanya 3,5 tahun,
0:07
bayang penjajahan Jepang di Indonesia menyisakan jejak mendalam.
0:17
Waktu yang sekilas itu menyulam luka harapan dan perlawanan dalam satu hela tarikan napas bangsa.
0:36
Setelah mengguncang Pearl Harbour pada Januari 1942,
0:42
armada Jepang bergerak ke Tarakan Kalimantan Timur.
0:49
Kemudian bagaikan gelombang pasang yang tak terelakkan,
0:54
Balikpapan, Ambon, Kendari hingga Pontianak satu persatu jatuh ke tangan mereka.
1:05
Puncak dari invasi ini adalah tanggal 5 Maret 1942,
1:11
ketika Batavia, jantung kekuasaan Hindia Belanda, bertekuk lutut.
1:20
Tak lama berselang, pada 8 Maret 1942 di Kalijati, Jawa Barat,
1:28
pemerintah kolonial Hindia Belanda menyerah tanpa syarat.
1:38
Kedatangan tentara Jepang awalnya disambut sorak-sorai oleh sebagian rakyat Indonesia.
1:47
Pasalnya Jepang hadir dengan propaganda sebagai "saudara tua",
1:52
penyelamat yang diklaim akan membebaskan Nusantara dari cengkraman penjajah Belanda.
2:01
Alhasil, Jepang tak perlu menghadapi perlawanan besar untuk menancapkan kukunya di bumi Nusantara.
2:11
Jepang kemudian membentuk pemerintahan militer dengan nama Bala Tentara Nippon.
2:17
Kekuasaan ini tak hanya menggantikan peran Gubernur Jenderal Hindia Belanda,
2:23
tetapi juga menyatukan militer dan pemerintahan di bawah satu komando.
2:28
Dua angkatan perang, Rikugun (angkatan darat) dan Kaigun (Angkatan Laut), memegang kendali penuh atas tanah Nusantara.
2:42
Ketika gerakan 3A dengan slogan kosongnya tentang:
2:47
Nippon pelindung, cahaya dan pemimpin Asia, gagal membuai hati rakyat Indonesia,
2:55
pada tahun 1943, gerakan 3A pun dibubarkan.
3:06
Sebagai gantinya, lahirlah Pusat Tenaga Rakyat (PUTRA), sebuah upaya
3:11
sebuah upaya baru yang dikendalikan oleh tangan besi militer Jepang, namun dipimpin oleh tokoh-tokoh bangsa:
3:19
Bung Karno, Bung Hatta, Ki Hajar Dewantoro, dan Kiai Haji Mas Mansur.
3:26
Peperangan sekarang ini bukanlah hanya peperangan Dai Nippon saja, tetapi adalah peperangan kita pula.
3:37
PUTRA dirancang untuk menggerakkan rakyat mendukung perang Pasifik,
3:41
tetapi dalam senyap para pemimpin Indonesia menyulapnya menjadi panggung perjuangan.
3:48
Di balik propaganda yang dihembuskan Jepang, mereka menyisipkan bibit nasionalisme dan impian kemerdekaan,
3:56
seperti api kecil yang perlahan membakar kayu yang basah.
4:07
Namun di luar panggung PUTRA, wajah penjajahan Jepang menampakkan watak aslinya.
4:15
Sumber daya alam Indonesia diperas hingga kering untuk menopang ambisi militer Nipon.
4:22
Rakyat pun tak luput dari eksploitasi.
4:26
Heiho dibentuk dari pemuda-pemuda Indonesia, dilatih oleh tentara Jepang,
4:31
dan dikirim paksa ke medan pertempuran sebagai bagian dari mesin perang mereka.
4:38
Di sisi lain, pembela tanah air (PETA) didirikan dengan alasan pertahanan negara.
4:51
Segala aspek kehidupan rakyat diarahkan untuk mendukung Perang Asia Timur Raya. Pers dikuasai sepenuhnya sebagai alat propaganda.
5:08
Kesenian yang mestinya menjadi ekspresi kebebasan dipaksa memainkan peran dalam narasi Jepang.
5:14
Bahkan suara pengajian yang biasanya menenangkan jiwa disusupi pesan-pesan dukungan untuk penjajah.
5:23
Kita semua berdiri di pihak Nippon. Ini adalah peperangan kita.
5:31
Namun mereka juga mencoba meraih hati rakyat dengan kebijakan yang terlihat berpihak.
5:37
Bahasa Indonesia didorong penggunaannya.
5:41
simbol-simbol kolonial Belanda dihancurkan,
5:44
dan organisasi keagamaan diberi ruang untuk berkembang,
5:50
tapi di balik itu ada motif tersembunyi: menanamkan kesetiaan yang semu.
6:07
Di bawah kibaran bendera matahari terbit, dengan cepat Jepang menampakkan taringnya.
6:15
Kekuasaan mereka di bumi Nusantara menjadi neraka yang meluluhlantakkan ekonomi rakyat.
6:22
Semua hasil ladang, perkebunan dan ternak, dirampas untuk mengisi perut Perang Pasifik.
6:36
Dalam kelaparan yang tak terperi rakyat terpaksa mengais apa saja untuk sekadar bertahan hidup.
6:47
Daerah yang dulu makmur menjadi ladang kematian akibat kelaparan.
6:58
Militer Jepang memaksa ribuan lelaki Indonesia meninggalkan rumah mereka.
7:08
Mereka diangkut ke tempat-tempat jauh seperti Burma, Thailand hingga Sumatera.
7:17
Di sana mereka menjadi romusha,
7:20
pekerja rodi yang dipaksa membangun infrastruktur dalam kondisi yang mengenaskan.
7:31
Tanpa makanan dan obat-obatan, banyak yang tumbang dan tak pernah kembali.
7:45
Di sudut lain, banyak perempuan Indonesia dijadikan Jugun Ianfu.
7:55
Mereka dipaksa dalam perbudakan yang menghancurkan harga diri dan kemanusiaan.
8:13
Janji palsu pembebasan menjadi mimpi buruk, membuat rakyat bangkit melawan.
8:24
Aceh (Cot Plieng 1942) dan Tasikmalaya (Singaparna 1943) menjadi saksi awal pemberontakan.
8:35
Kiai Haji Zainal Mustafa memimpin perlawanan jihad melawan penjajah.
8:46
Tahun 1944, Teuku Hamid memimpin perlawanan di Aceh,
8:52
sementara 1945, Supriyadi memimpin PETA di Blitar melawan penjajah.
9:02
Gumilir di Cilacap menyusul dengan api pemberontakan pada April 1945.
9:11
Di balik layar, perlawanan bawah tanah juga tak kalah sengit.
9:16
Tokoh seperti Sutan Syahrir menjadi nyala harapan yang mengatur strategi pengusiran penjajah.
9:24
Baru setelah Jepang ditaklukkan Sekutu, cengkeraman mereka mulai melonggar.
9:34
Pada tanggal 17 Agustus 1945, Indonesia mendeklarasikan kemerdekaannya,
9:41
merobek belenggu yang telah menjerat bangsa ini.
9:48
Meski penuh derita, 3,5 tahun penjajahan meninggalkan hikmah pondasi masa depan bangsa.
10:08
Jepang memberi ruang bahasa Indonesia berkembang hingga menjadi pengikat identitas bangsa.
10:29
Tahun 1944, lagu Indonesia Raya kembali bergema sebagai lagu kebangsaan.
10:43
Bahkan nama Batavia digantikan dengan Jakarta sebagai simbol kebangkitan.
10:51
Soekarno dan Hatta menjadi tonggak perjuangan melalui mobilisasi rakyat.
11:04
Semangat nasionalisme mereka membuka jalan bagi Indonesia untuk bangkit.
11:15
Jepang tanpa sadar memupuk jiwa kepemimpinan yang membakar semangat revolusi.
11:27
Heiho dan PETA melahirkan generasi muda terlatih sebagai tulang punggung tentara nasional.
11:34
Warisan organisasi tingkat bawah seperti Tonari Gumi kini dikenal sebagai Rukun Tetangga.
11:58
Struktur ini tetap menjadi pilar penting dalam kohesi sosial masyarakat modern.
12:15
Namun hikmah ini tak menghapus fakta bahwa penjajahan Jepang adalah babak kelam.
12:25
Masa ketika kebebasan direnggut dan masa depan ditentukan tangan asing.