0:00
Ini adalah kisah Dewi dan Putri, dua
0:03
anak perempuan dari Indonesia. Dewi
0:06
berasal dari keluarga yang termasuk 10%
0:09
rumah tangga terkaya di Indonesia.
0:12
Sebaliknya, Putri berasal dari keluarga
0:15
yang termasuk 10% rumah tangga termiskin
0:17
di Indonesia. 28 juta orang Indonesia
0:21
hidup miskin seperti keluarga putri.
0:25
Ketimpangan antara Dewi dan Putri
0:27
dimulai sejak dalam kandungan. Ibu putri
0:30
tidak mampu untuk mengunjungi fasilitas
0:32
kesehatan formal ketika hamil dan juga
0:35
tidak mengkonsumsi nutrisi yang sesuai.
0:38
Akibatnya, Putri lahir dengan berat
0:41
badan di bawah normal.
0:43
Ibu Dewi mampu untuk datang ke dokter
0:46
secara teratur dan mendapatkan asupan
0:48
gizi yang baik sehingga Dewi lahir
0:50
normal dengan berat badan yang cukup. Du
0:53
tahun pertama, Putri tidak mendapatkan
0:56
imunisasi yang lengkap dan asupan gizi
0:59
Akibatnya Putri tidak bisa menyusul
1:01
tinggi badan Dewi dan malah semakin
1:06
Dewi besar di rumah yang memiliki
1:07
saluran air bersih dan toilet. Keluarga
1:10
Putri tidak memiliki toilet. Karena
1:13
buruknya sanitasi di lingkungan rumah,
1:15
Putri sering terkena diare. Penyakit
1:18
diare menyebabkan pertumbuhan Putri
1:20
semakin terhambat, sedangkan Dewi terus
1:23
tumbuh sehat dan tinggi. Kesenjangan
1:26
antara Dewi dan Putri semakin dalam
1:28
ketika mereka memasuki usia sekolah.
1:31
Dewi dimasukkan ke dalam program
1:32
pendidikan anak usia dini yang mendukung
1:35
pertumbuhan kognitifnya. Sedangkan Putri
1:38
tidak. Dia hanya tinggal di rumah.
1:41
Dewi sekolah hingga lulus SMA lalu
1:43
melanjutkan ke perguruan tinggi. Putri
1:47
juga sekolah hingga tamat SD. Namun
1:50
karena tingginya biaya untuk buku,
1:52
seragam, dan transportasi, Putri tidak
1:55
bisa melanjutkan sekolah. Ia terpaksa
1:58
tinggal di rumah dan membantu mencari
2:00
nafkah untuk keluarganya.
2:03
Setelah lulus sekolah, Dewi mendapatkan
2:05
pekerjaan yang layak dengan gaji yang
2:07
tinggi. Putri yang hanya lulus SD harus
2:11
puas dengan pekerjaan di sektor informal
2:13
dengan penghasilan yang kecil dan tidak
2:15
pasti dan perlindungan yang minim. Tanpa
2:19
pekerjaan yang layak, putri yang kini
2:21
telah berkeluarga tidak mampu
2:23
menyekolahkan anaknya atau membawanya ke
2:25
fasilitas kesehatan ketika sakit.
2:28
Karena itu rantai kemiskinan dan
2:30
ketimpangan terus menjerat dari generasi
2:35
Tapi kisah putri tidak hanya dialami
2:37
oleh 10% termiskin. Hampir 68 juta orang
2:41
Indonesia yang termasuk 40% terbawah
2:45
hidup sangat dekat dengan garis
2:46
kemiskinan. Sangat mudah bagi mereka
2:49
untuk terperosok ke dalam jurang
2:51
kemiskinan. Gagal panen, kehilangan
2:54
pekerjaan, atau sakit bisa menyebabkan
2:56
mereka jatuh miskin. Tapi mari kita
2:59
mundur sejenak. Bagaimana jika ibu putri
3:02
bisa mendapatkan perawatan yang layak di
3:04
saat hamil? Bagaimana jika putri bisa
3:07
mendapatkan imunisasi lengkap? Bagaimana
3:10
jika rumah putri memiliki air bersih dan
3:12
sanitasi layak? Bagaimana jika putri
3:15
bisa sekolah dari TK hingga lulus SMA?
3:18
Bagaimana jika Putri bisa mengikuti
3:21
pelatihan keterampilan dan mendapatkan
3:23
pekerjaan yang layak? Ini tidak hanya
3:25
bermanfaat bagi Putri, tapi juga anak
3:28
dan cucunya. Dan apabila anak lain
3:31
seperti Putri juga mendapatkan peluang
3:33
yang sama, mereka bisa bermanfaat untuk
3:36
komunitas mereka dan pada akhirnya
3:39
mereka akan bermanfaat untuk Indonesia.
3:42
Tapi ini semua dimulai dari memberikan
3:44
Dewi dan Putri kesempatan yang sama.