0:00
Ketika kita membaca berita tentang para
0:03
politisi dan mungkin beberapa akademisi
0:06
berbicara tentang harga pangan, kita
0:08
mungkin sering menemukan istilah
0:11
swasembada pangan, kedaulatan pangan,
0:13
dan juga ketahanan pangan. Para politisi
0:16
misalnya, kerap kali mereka menggunakan
0:19
ketiga istilah ini secara bergantian dan
0:22
ini kerap menjadi sesuatu yang
0:24
membingungkan. Oleh karena itu, dalam
0:27
video ini kita diskusikan makna dari
0:30
ketiga istilah tersebut berdasarkan
0:33
keterjangkauan, ketersediaan, dan
0:36
kegunaan pangan. Istilah pertama
0:39
kedaulatan pangan ini didefinisikan
0:42
sebagai hak rakyat untuk mendapat
0:46
makanan yang layak secara adat dan
0:49
secara kesehatan diproduksi dengan cara
0:53
berkelanjutan dan hak mereka untuk
0:56
menentukan makanan dan sistem pertanian
1:00
mereka sendiri. Istilah kedua, swembada
1:05
pangan didefinisikan sebagai mampu
1:09
memenuhi kebutuhan konsumsi khususnya
1:12
untuk bahan pangan pokok dari produksi
1:15
sendiri dan bukan dari membeli atau
1:18
mengimpor. Di Indonesia istilah ini
1:21
pertama kali dipakai pada masa
1:23
pemerintahan Presiden Soekarno melalui
1:25
Casimoplan pada tahun 1952.
1:28
Tujuannya adalah untuk meningkatkan
1:31
produksi pangan dalam negeri dan
1:34
mencapai suasembada pangan pada tahun
1:37
1956, 11 tahun pasca proklamasi
1:40
kemerdekaan Indonesia.
1:43
Sementara itu, ketahanan pangan berarti
1:47
ketika semua orang di setiap saat
1:51
memiliki akses baik secara fisik dan
1:54
ekonomi terhadap makanan yang aman dan
1:58
bergizi dalam jumlah yang cukup sesuai
2:02
dengan selera mereka untuk kehidupan
2:04
sehari-harinya yang aktif dan sehat.
2:07
Istilah ini biasanya digunakan oleh
2:11
Badan Pembangunan Internasional dan juga
2:13
Lembaga Riset ketika berbicara tentang
2:17
bagaimana memastikan tersedia cukup
2:20
pasokan pangan untuk memberi makan
2:22
kepada rakyat. Istilah ini juga
2:25
diperluas sebagai isu yang juga
2:27
berhubungan dengan beberapa isu yang
2:29
lain seperti perubahan iklim,
2:32
produktivitas pertanian, dan juga
2:35
tentang perdagangan internasional. Kita
2:37
akan kembali ke istilah swasembad
2:39
pangan. Karena penting bagi kita untuk
2:42
melihat istilah ini digunakan sebagai
2:45
agenda politik dan juga program
2:47
pemerintah. Kita sering menemukan
2:49
istilah ini dalam berita atau ketika
2:52
para politisi berbicara tentang masalah
2:54
harga pangan. Salah satu program yang
2:57
dibicarakan terkait istilah sasembada
3:00
pangan adalah meningkatkan produksi
3:02
domestik melalui subsidi sarana produksi
3:05
pertanian. seperti bibit dan
3:09
pupuk. Kita perlu mempertanyakan apakah
3:12
program ini efektif untuk memastikan
3:15
Indonesia untuk dapat menyediakan
3:18
ketahanan pangan yang
3:20
memadai. Pada kenyataannya, program ini
3:24
tidak begitu disukai oleh banyak
3:27
petani. Bibit dan pupuk yang mereka
3:30
terima biasanya dalam kondisi buruk dan
3:34
tidak berguna bagi tanaman pangan
3:37
Tetapi mengapa program ini tetap
3:40
berlanjut? Bisa jadi karena kegiatan
3:43
pengadaan sarana produksi pertanian ini
3:46
hanya dipercayakan kepada beberapa
3:48
perusahaan tertentu saja.
3:51
Tetapi sebagai akibatnya, manfaat dari
3:54
program-program ini tidak sampai kepada
3:58
petani. Seharusnya cara yang lebih
4:01
produktif adalah dengan tetap mengacu
4:04
pada definisi ketahanan
4:07
pangan. Kebijakan kita semestinya
4:10
berdasarkan definisi ketahanan pangan,
4:13
bukan swasembada pangan.
4:16
Karena ketahanan pangan adalah istilah
4:18
yang berfokus pada Anda dan pada saya
4:22
untuk mendapatkan makanan yang layak,
4:25
bergizi, dan dengan harga yang dapat