Full Transcript

·YouTLDR

Engineering Thinking untuk Menyelesaikan Masalah | The Trial

1:00:43IndonesianTranscribed Jul 25, 2026
0:19

Ini enggak adais Enfield.

0:23

Halo, selamat siang yang sangat

0:27

atau terlar cerah ini. [tertawa]

0:31

Eh, kenalan dulu lah ya. Gua Sabda PS ee

0:35

partnernya Bang Feri untuk urusan kampus

0:38

Malaka dan lain sebagainya. Nah, gua

0:42

pengin tahu konteksnya ya. Tahu-tahu

0:43

dikit sih sebenarnya cuman gua kan belum

0:46

belum tahu banget nih projectnya. Mau

0:47

ngapain lu disuruhnya ngapain dan segala

0:49

macam. Ada yang bisa jelasin dulu? Gua

0:51

sambil dulu enggak apa-apa sih.

0:52

Basically projectnya itu adalah kita

0:55

diberikan sebuah pertanyaan yaitu

0:58

pendidikan tinggi yang ideal itu kayak

1:02

gimana sih gitu kan. Dan dari project

1:05

dan dari pertanyaan itu kita harus

1:09

kayak meng-outline satu permasalahan

1:11

yang menurut kita sangat amat krusial

1:12

dan itu tuh bisa diperbaiki oleh kita.

1:16

Jadi kita tuh sebagai orang yang

1:18

mengidentifikasi masalahnya di mana,

1:20

habis itu tujuannya apa, baru nanti itu

1:24

kita memproblem solve si masalahnya

1:26

tersebut. Ada deadline-nya enggak

1:28

problem solve-nya kapan? Apakah lu

1:29

solve-nya itu ketika lu jadi mahasiswa

1:31

atau ketika lu solve-nya sudah 20 tahun

1:33

dari sekarang atau 5 tahun dari

1:35

sekarang? Belum ada

1:36

itu enggak ada sih, aku izin jawab ya,

1:37

Bang. Kalau misalnya terkadang ketutuan

1:39

kapan kita bakal menyelesaikan solusi

1:40

tersebut tuh enggak ada. Cuman mungkin

1:42

kalau misalnya aku pengin tambahin juga

1:43

e dari teman aku itu sebenarnya kemarin

1:46

tuh kita juga udah buat video juga kan

1:48

tentang berbagai macam masalah di

1:50

perguruan tinggi. Nah, itu juga kita

1:51

jelasin sebenarnya lebih konkret di

1:53

presentasi kita hari ini gitu. Jadi

1:55

memang kita bisa bilang tuh juga lebih

1:57

banyaklah penjelasan di presentasi

1:59

nanti.

2:00

Oke ya, bayang. Berarti intinya lu mau

2:04

outline problem identification gitu kan.

2:06

Apa sih masalah ee masalahnya spesifik

2:08

soal pendidikan tinggi? Yes. Pendidikan

2:10

tinggi identifying the problems.

2:12

Kemudian kenapa ini problems gitu ya

2:14

pasti ya. Oke.

2:16

Sekarang ada yang mau ini enggak ada

2:17

yang mau cerita sama gua enggak? Gimana

2:18

approach lo menemukan Mas? Eh, by the

2:21

way itu satu orang satu apa seluruhnya

2:23

kamit? Satu hal.

2:24

Satu hal satu sih. Satu orang satu.

2:26

Satu orang satu

2:27

jadi different. Nah, oke.

2:29

I

2:30

ee gua mau ambil sampel dong. Siapa yang

2:32

udah ee yang udah punya solusi bukan

2:35

punya udah punya problem identifying?

2:37

Menurut lu gimana? Gua pengin tahu ee

2:39

problem-problem dulu beberapa sampel

2:40

gitu yang belum belum dulu. Hansen

2:42

Hansen dulu deh

2:43

problem identification-nya, Bang.

2:44

Iya. Apa yang lu temuin?

2:47

E kebetulan lingkungan gua kan cindo ya.

2:50

[tertawa]

2:51

Izin, izin. Teman-teman saya satu almade

2:54

semua sama yang ini, Bang. Iya kan? Satu

2:56

alamat semua.

2:58

Kebetulan juga keresahannya jadi apa

3:00

yang mereka resahkan saya dengar

3:01

meskipun saya bukan satolmet sama

3:03

mereka.

3:04

Jadi ee apalagi waktu itu tentang

3:07

kasusnya gua bahas angkat tuh sebetulnya

3:09

angkat masalah kebebasan berekspresi

3:12

di lingkungan perguruan tinggi gitu.

3:15

Nah, anak-anak BINUS itu sering ngomong

3:20

berseliweran bahwa kalau gua demo pakai

3:23

almed gua bisa di do. Selain nyontek do

3:26

demo pakai almed juga bisa di do. Dan

3:28

itu setelah gua cari ternyata benar ada

3:31

iming-iming seperti itu masuk di

3:33

beritanya tadi gua itu CNN kalau enggak

3:35

salah deh atau BBC gua lupa. Nah, habis

3:38

itu ketika gua ngelihat itu gua merasa

3:41

bahwa hal ini enggak tepat gitu karena

3:44

kan itu kan kebebasan berekspresi ya.

3:47

Demonstrasi itu bagian dari ekspresi ya.

3:49

meskipun enggak harus demo, tapi kalau

3:51

melarang demo menggunakan lamatur

3:53

bukannya kampus itu seharusnya menjadi

3:55

tempat di mana para mahasiswa itu bisa

3:57

menyuarakan apapun ide-ide kritis yang

3:59

ada itu. Maka dari situ gua merasa

4:01

kayaknya ini kurang benar. Habis itu gua

4:02

cek lagi ke anak-anak lain. Kebetulan

4:05

kan lingkungan gua cindo. Kalau enggak

4:06

UPH, Prasmul ya, Binus. [tertawa]

4:09

Izin, izin, izin, izin, izin ya. Izin.

4:13

Mohon ya. Habis itu ya gua tanyalah. Gua

4:15

mulai survei ke anak-anak Prasmul, ke

4:17

anak-anak UPH, kenalan gua dan mereka

4:19

mengalami kurang lebih hal-hal yang

4:21

sama. mungkin tidak ada tertulis di ee

4:24

peraturannya dilarang demo, tetapi di

4:27

PPATK peraturannya kalau enggak salah

4:29

gitu ya, PPATK-nya itu dia di pasal itu

4:32

ada dilarang menggunakan ee atribut

4:35

kampus untuk kepentingan ee di luar

4:39

kampus segala macam itu. Tapi

4:40

interpretasinya itu digunakan sebagai

4:42

alat penekan bahwa lu enggak boleh demo

4:44

karena lu akan merusak citra bisnis gua,

4:46

gitu. Oke. Oke. Thank you. Yang lain

4:51

siapa? Ujung. Ujung. Ee gua berusaha

4:53

mengingat nama lu tadi.

4:55

Wahyu.

4:55

Wahyu. Wahyu. Ya. Wahyu.

4:57

Ini Bang Hafd. Aku jadi kemarin-kemarin

4:59

udah lama sih dari kurang lebih dari

5:00

zaman semester 1 atau du gitu aku

5:02

ngerasa banyak banget teman-temanku yang

5:05

apa ya menggunakan chat CPT. Untuk

5:06

sebenarnya enggak masalah sih tapi untuk

5:08

nanya ketika misalkan presentasi ada

5:11

semacam apa ya skenario gitu. Jadi ya

5:13

dia udah dibriefing jadi yang nanya udah

5:15

ada siapa. Kemudian yang jawab siapa?

5:17

Terus kayak ya udah jawabannya dan

5:19

pertanyaan sudah disiapin sama yang

5:20

presentasi gitu. And itu enggak jadi

5:22

masalah sama dosen. E gua e gua enggak

5:25

tahu kenapa itu kenapa dan gua ngerasa

5:27

ya kenapa dan gua gua kayak ngerasa gua

5:30

udah ya ford parah dengan teman-teman

5:31

gua yang lain dan mereka dapat nilai

5:33

yang sama dengan gua sedangkan ya I

5:36

don't know why gitu. Itu yang aku

5:38

temukan. Jadi menurutku adalah ee

5:40

seharusnya pendidikan tinggi itu

5:43

memiliki semacam integritas yang yang

5:45

harusnya kan ya fokusnya kan tentang

5:47

kejujuran gitu. Itu aja. Gimana kalau

5:50

misalkan ada banyak orang-orang tidak

5:51

jujur yang ya gelarnya S1 tapi enggak

5:53

jujur dan IPK-nya tinggi tapi tidak

5:57

sesuai dengan apa yang sudah dia

5:59

kerjakan gitu. Harusnya kalau di IPK kan

6:01

kata Mas Sabda sendiri bahwa kan tanda

6:02

sebenarnya orang rajin kan ya. Kalau dia

6:04

rajin ya harusnya bisa dong ngerti dong.

6:07

He

6:07

soya aku sering nemuin aja gilan ditanya

6:09

ini enggak enggak ngerti sama sekali.

6:10

Oke, sekarang gua mau satu contoh lagi

6:12

tapi gua enggak akan ngambil dari lu.

6:15

Siapa yang ngerasa bahwa enggak enggak

6:17

ini masalah gua kayaknya paling penting

6:19

deh nih. Paling kalau dissolve paling

6:21

signifikan eh untuk bisa ngsolve

6:24

berbagai macam hal lain ya. Siapa yang

6:26

ngerasa punya masalah? Ya, yang ngerasa

6:29

masalahnya

6:31

penting banget. Paling penting mungkin

6:33

enggak bukan masalah sombong ya, tapi

6:35

gua pengin tahu siapa yang ngerasa bahwa

6:37

my problem is probably the biggest

6:39

problem of all. Siapa siapa yang siapa

6:41

yang ngerasa bahwa masalahnya itu

6:43

terpenting? Oke.

6:45

Jadi 1 2 3.

6:48

El lu juga enggak tadi tangan 1 2 3 4.

6:51

Singkat aja berarti.

6:52

Oke. Jadi masa yang aku ambil itu

6:54

tentang paradigma. Nah, karena aku

6:56

mengambil paradigma, maka aku merasa ini

6:57

adalah sebuah fondasi yang menjadi

6:59

baseline. Dan seharusnya ketika ini

7:02

disolve, maka cabang-cabang yang lain

7:04

pun akan ikutan tersolve.

7:06

Masalah pada itu maksudnya gimana?

7:07

Nah, di sini aku ngelihat sebenarnya ada

7:09

pola misalnya di dalam ketika ee

7:12

berbicara soal kuantitas. Nah, kita

7:14

berorientasi lebih condong terhadap

7:16

kuantitas daripada kualitas. Misalnya

7:18

dalam hal kemarin ada yang pernah e naik

7:21

soal research integrity index ataupun

7:23

soal gimana IPK inflasi ataupun soal em

7:30

gimana kita cuma ngfal aja buat dapat

7:33

nilai. Nah, itu kan adalah sebuah pola

7:36

yang aku lihat dan aku coba tarik ke

7:37

bawah lagi dan aku nemuin dua lagi. Tapi

7:40

intinya dari situ aku lihat ini adalah

7:41

sebuah masalah yang coba aku tarik dan

7:44

mungkin ketika aku coba solve di

7:45

[mendengus] bagian bawahnya

7:46

cabang-cabang yang lain bisa ikutan

7:48

pelan-pelan tersolve juga.

7:49

Ini paradigma yang lu ngomongin spesifik

7:51

soal quantity versus quality atau

7:53

paradigma secara umum? Maksudnya lu bisa

7:56

terapin paradigma yang ini bermasalah,

7:58

paradigma tentang ini bermasalah, atau

7:59

paradigma specifically on quality versus

8:02

quality. Sebenarnya ada tiga sih,

8:04

ada tiga paradigma.

8:05

Yang pertama soal quality versus

8:07

quantity. Terus ada juga soal dogmeric

8:09

sama dialectic.

8:11

Apa?

8:11

Dogmeric

8:12

sama dialectic. Terus ada em tentang

8:16

rigid, rigidness, kekuan, sama agility.

8:20

Jadi tiga itu

8:20

rigidness tu soal kurikulum rigid

8:22

rigidity gitu.

8:24

Oke. Oke. Oke. Sip. Next. Yang rasa

8:27

penting banget masalahnya. Oke,

8:29

untuk didengar.

8:30

Sebenarnya kalau untuk masalah gua

8:32

sendiri itu ada beririsan sama temantan

8:36

aku tadi. E, teman gue tadi yaitu Hero.

8:38

Aku juga awalnya tuh ngebahas tentang

8:40

kenapa sih ranking di Indonesia itu

8:42

kampus tuh benar-benar mentingin

8:43

ranking. Padahal kalau misalkan aku

8:46

kalau misalkan gua reflect ke kampus

8:48

luar negeri kayak misalkan g enggak usah

8:50

jauh-jauh di China, Singapura aja NTU,

8:52

mereka tuh enggak boasting tentang

8:55

ranking mereka untuk show they are the

8:56

best gitu. Jadi dari situ aku bisa

8:58

menarik bahwa ada ada apa nih yang salah

9:01

dengan pembanggaan ranking ini? Apakah

9:04

pendidikan tinggi di Indonesia ini

9:06

kurang diapresiasi atau gimana? Dan

9:08

setelah aku ee gali-gali lebih dalam

9:10

lagi, ternyata

9:12

pendidikan di Indonesia ini memang apa

9:14

ya memang agak sedikitnya kurang

9:16

diapresiasi dan kurang diapresiasinya

9:19

ini karena output yang keluar dari

9:22

universitas di Indonesia itu emang

9:24

kurang gitu. both itu dari kualitasnya

9:28

bahkan sampai untuk kinerjanya sendiri

9:31

itu emang apa ya menurut aku tuh tidak

9:35

memenuhi standar yang ada sekarang lah

9:37

gitu. Nah, standar itu maksudnya apa

9:38

sih? Kayak kan banyak tuh ee

9:40

sarjana-sarjana yang unemploy itu kan

9:43

kebanyakan skill mismatch dan berbagai

9:46

macam hal yang tidak sesuai gitu dalam

9:49

sarjana sendiri dan dunia yang

9:51

menawarkan kerja tersebut. Kurang lebih

9:54

kayak gitu sih.

9:54

Ee kalau gua gini, Bang.

9:57

Kita pernah mikir enggak sih setiap

10:01

tahun dari seluruh pendidik perguruan

10:04

tinggi di Indonesia itu ada berapa

10:06

skripsi yang disahkan, ada berapa

10:08

skripsi yang lahir gitu. Cuman setelah

10:11

itu ke mana perginya skrip-skripsi itu?

10:15

Setelah saya mencari tahu, ternyata

10:17

cuman numpuk di perpustakaan kampus.

10:20

Bagi publik minim akses, bagi mahasiswa

10:23

yang punya akses enggak ada yang baca

10:25

karena saking tebalnya.

10:27

Nah,

10:29

realitas di mayoritas perguruan tinggi

10:31

kita, skripsi itu masih harus yang

10:34

[mendengus] tertulis kaku, panjang,

10:36

tebal, berlembar-lembar, dan

10:38

ujung-ujungnya harus diprint. Kita kan

10:41

hidup di era digital, Bang, ya. Semua

10:43

serba cepat, serba visual gitu kan.

10:45

Attention spend kita menurun gitu.

10:48

dengan mempertahankan skripsi kayak gitu

10:50

emang ada gitu mahasiswa yang mau baca

10:52

gitu. Emang ada mahasiswa yang masih

10:55

semangat nulis skripsi tanpa bantuan

10:57

joki dan GPT.

10:59

Makanya saya di sini menawarkan

11:02

kepada institusi perguruan tinggi untuk

11:05

menghadirkan pilihan alternatif bahwa

11:09

skripsi tidak selalu melulu harus

11:11

ditulis dan dicetak, tapi bisa juga

11:14

direkam dalam project audio visual dan

11:17

naik ke platform digital kayak gitu

11:19

paling enggak.

11:20

Jadi problemnya adalah

11:22

problemnya adalah skripsi ini

11:26

setelah disahkan cuma numpuk enggak ada

11:28

keberlanjutannya setelah itu.

11:30

Oke.

11:30

Kalau naik ke digital kan bisa dilihat

11:32

oleh semua orang kan.

11:33

Right. Next.

11:34

Oke. Baik Bang. Ee kalau saya pribadi

11:38

ngangkat tentang kurang lebih sama-sama

11:39

Wahyu tapi ee Wahyu lebih ke AI gitu

11:42

kan. Kalau saya tentang metode

11:44

pembelajaran di kampus itu ee

11:48

beberapa kampus ee saya temui bahwa ada

11:50

dominansi ee perkuliahan diisi sama satu

11:54

metode tertentu aja, Bang. Misalnya

11:55

metode presentasi dari mahasiswa gitu.

11:58

Nah, ee itu memang kan berangkat dari

12:00

SCL ya, Bang. Student eh center eh

12:02

learning center gitu. Eh

12:04

student center learning.

12:05

Oke, sori. Ee itu ee yang berfokus pada

12:08

mahasiswa gitu. Tapi dalam praktiknya

12:10

banyak ee dosen gitu yang memanfaatkan

12:13

celah dari sistem ini gitu. Dalam

12:15

konteksnya ee dosen jadi pasif gitu,

12:18

Bang, dari fasilitator yang harusnya

12:20

menuntun juga diskusi dan juga gimana

12:23

cara berpikir mahasiswa itu tetap ee

12:26

berjalan. Jadi, hanya sekedar pengamat

12:28

administratif, Bang. Jadi kayak cuma ee

12:31

mahasiswa berbicara ee dosen menilai dan

12:34

kelas berjalan tanpa benar-benar

12:36

berpikir kalau kelas itu ya sedang

12:38

berpikir gitu. Dan dan juga ee

12:41

banyak dosen yang memanfaatkan kayak ee

12:43

kan kalau di perguruan tinggi itu ada

12:45

taksonomi belum ya, Bang ya? Dalam

12:47

jenjang S1 itu dia sampai menganalisis

12:49

gitu tapi dosen ingin mencapai

12:52

menganalisis ee bisa membuat mahasiswa

12:54

menganalisis tapi lupa gitu bahwa

12:56

taksonomi belum itu di bawah-bawahnya

12:57

masih ada gitu. harus mahasiswa tuh

12:59

harus ada tahapannya dulu, memahami

13:01

dulu, mengevaluasi dulu, atau dan

13:03

sebagainya gitu, Bang. Nah, jadi

13:04

permasalahan saya angkat tentang gimana

13:06

si metode presentasi ini menciptakan

13:08

mahasiswa yang tidak kredibel gitu dalam

13:10

menerapkan konsep-konsep yang mereka

13:12

dapatkan di perkuliahan itu sendiri.

13:14

Lu dulu karena dari tadi belum?

13:15

Kalau aku sendiri sebenarnya ngangkatnya

13:17

tentang pendidikan vokasi, Bang. Jadi

13:19

pendidikan vokasi ini yang kalau di

13:21

video aku, aku tuh bertanya sebenarnya

13:24

masalah di pendidikan vokasi itu apa?

13:26

Karena kalau aku sendiri dari SMK

13:28

sekarang pindah ke vokasi ee aku sempat

13:31

mikir kalau oh mungkin yang salah tuh

13:33

karena peralatannya kurang ininya belum

13:36

maju dosennya enggak langsung dari

13:37

praktisi yang di industri yang

13:39

dibutuhkan, makanya mereka enggak punya

13:40

enggak bisa kerja. Tapi ternyata

13:43

ada faktor yang lebih simpel gitu. ada

13:47

ground purpose yang enggak enggak

13:50

digunakan, enggak dilihat sama

13:52

pemerintah kalau oh sekolah vokasi ini

13:54

sebenarnya tujuannya tuh untuk bantu

13:58

sebenarnya basicnya secara general kalau

14:01

kayak di Jerman, di China itu buat

14:02

ngebantu ekonominya si negara itu

14:04

sendiri dari eh independence labor-nya

14:07

negara itu. Tapi kalau di Indonesia

14:11

kacamata pemerintah tuh beda. bukan

14:13

sebagai training camp supaya mereka bisa

14:16

industri, tapi sebagai educational

14:17

project yang dibarengin sama training

14:20

skill gitu. Dan itu yang bikin cacat ee

14:24

pendidikan vokasi di Indonesia tuh

14:25

karena ya oke adalah sertifikat BNSP

14:28

gitu, tapi skill set-nya ee sertifikat

14:32

itu

14:33

dia cuman dapat sama ijazah aja. Tapi

14:36

kalau ditaruh ke industri, industri

14:38

tetap akan harus ngelihat, oh berarti

14:39

gua harus trending ulang dari nol dong.

14:41

Kalau misalkan mereka masuk ke otomotif

14:43

atau ke

14:44

manapun itu eh spesific

14:46

ininya skill-nya gitu. Jadi cacat gitu.

14:50

Oke, terakhir satu lagi lu mau lu dulu

14:54

deh. Sor ini problemnya belum gua dengar

14:55

soalnya. I

14:56

oke. Oke.

14:57

Jadi, Bang sebenarnya ada dua masalah

14:58

yang sering banget dibahas ya tadi yaitu

15:00

tentang aspirasi. Terus kedua itu ada

15:01

penggunaan AI. Nah, dari situ sebenarnya

15:04

karena aku mahasiswa hukum juga ya, di

15:06

situ aku kayak mikir juga nih, oh gimana

15:08

ya kalau misalnya tadi banyak banget

15:09

masalah, salah satunya hukum ini kan

15:11

menghadirkan cara untuk mengaturkan,

15:13

cara untuk menetapkan suatu normatif,

15:15

suatu undang-undang untuk ngatur hal

15:17

tersebut kayak kebijakan, pendidikan,

15:18

dasar, dan lain. Nah, tapi pertanyaannya

15:21

gimana kalau misalnya orang yang buat

15:22

aturan tersebut ternyata malah tidak

15:25

mementingkan keadilan gitu. Jadi seakan

15:27

mereka ngebuat kebijakan bias tentang

15:28

pendidikan tapi enggak peduli sebenarnya

15:30

tujuan pendidikan tuh tentang apa sih

15:31

gitu. mereka seakan-akan lupa gitu

15:33

tentang norma-norma ataupun em idealnya

15:37

yang mereka pelajarin di Fakultas Hukum

15:38

itu apa gitu. Kayak liat saya bisa

15:40

Fakultas Hukum selalu ngebahas tentang

15:41

keadilan kan. Tapi kalau misalnya ketemu

15:42

tentang politik atau ketemu tentang hal

15:44

lain itu tuh seakan-akan hancur gitu.

15:46

Nah, makanya di sini sebenarnya salah

15:48

satu cara aku em kenapa tadi aku juga

15:50

akhirnya tunjuk tangan karena aku

15:51

melihat oh banyak banget ya ternyata

15:52

masalah-masalah di pendidikan yang salah

15:53

satunya itu bisa kita kontrol sebenarnya

15:55

dengan hukum gitu. Tapi pertanyaannya

15:57

lagi siapa yang buat hukumnya ini? Siapa

15:59

yang buat regulasinya ini? seperti itu

16:01

sih, Bang, ya.

16:03

Oke.

16:04

Eh, gua akan mulai dari one basic

16:07

question dulu sebelum kita masuk ke

16:09

dalam isi dari ee kalau gua tuh sering

16:13

intinya gini, ini ada struktur dulu nih,

16:16

ada struktur di dalamnya baru

16:18

substance-nya gitu. Nah, ini formasinya

16:20

gitu ya. Ini formasi dalamnya baru ada

16:22

substance-nya apa gitu.

16:23

Sebelum kita masuk ke substance-nya apa,

16:25

kita lihat meta. Do you understand what

16:28

meta is? Kalau gua sebut meta, ngerti

16:30

enggak meta apa gitu?

16:32

Besar.

16:33

Iya,

16:33

meta tuh basically eh kayak misalnya

16:36

berpikir berpikir cognition gitu ya.

16:39

Cognition itu mikirnya gitu. Mikir

16:40

tentang something-nya. Meta cognition

16:42

adalah berpikir tentang berpikirnya

16:43

gitu.

16:44

Oh, belajar

16:47

contoh dalam kasus ini kita trying to

16:48

identify identify a problem.

16:51

Sebelum kita kita actually identify the

16:54

problem, gua pengin tahu

16:57

problem itu sebenarnya apa sih

16:58

definisinya?

17:00

Problem.

17:00

Problem itu apa?

17:01

Hal yang

17:02

dan kenapa kita bisa sebut dia itu

17:03

sebuah problem?

17:04

Ada hal yang

17:05

hal yang menghambat. Iya, benar.

17:07

Hal yang

17:08

tujuan.

17:08

Tujuan.

17:09

Yes. Berarti kalau gitu problem itu kita

17:11

bisa define sebagai eh gua mau kemari

17:13

nih ya kan

17:15

tujuannya ke a nih set dari sini ke

17:17

sini.

17:18

Yes.

17:18

Tapi somehow ada barrier, ada blocker

17:22

yang sehingga eh kalau gue gini aja

17:26

enggak akan nyampai gitu kan. This is

17:29

what we define as problem. Ya, something

17:32

yang ngeblocking suatu tujuan. Kalau

17:35

gitu kita balik dulu. Can we agree on

17:40

ketika lu disuruh ya, ketika lu diminta

17:42

nih coba kasih identify a problem ya

17:46

dalam pendidikan tinggi.

17:49

Kita mau lihat dulu nih tujuan

17:51

pendidikan tinggi kita sebenarnya mau

17:52

ngapain sih.

17:54

Kita sudah sepakat belum di situ

17:56

ya. Kita belum sepakat belum. Jadi gua

17:58

ee nih ini ini sesi yang ya basically

18:00

sharing lah ya. Gua enggak usah bilang

18:02

mentoring karena siapa tahu ilmu lo ada

18:03

yang lebih tinggi dari gua. It's ok gitu

18:05

kan. So I share with you and you share

18:08

things with me too. Nah

18:11

number one berarti kalau gitu harus ada

18:14

yang kita tuju.

18:14

Yes.

18:16

Dari pendidikan tinggi ini atau

18:17

pendidikan in general ya. Tapi ya udah

18:20

spesific for this pendidikan tinggi. Ada

18:22

yang bisa diutarin enggak kira-kira? ini

18:24

targetnya bukan pendidikan tinggi

18:26

Indonesia targetnya apa bukan ya tapi

18:28

menurut lu gimana sih target pendidikan

18:29

tinggi Indonesia supaya kita punya suatu

18:31

konsensus kecill lah gitu ground

18:34

common grounds yes

18:35

ini gua masuk dalam PPT gua juga Bang

18:38

gua dari kalau dari Nas Mandela bilang

18:40

bahwa the yang paling ee apa senjata

18:44

yang paling kuat untuk merubah dunia itu

18:46

adalah pendidikan

18:47

ya

18:47

jadi gua percaya bahwa pendidikan itu

18:50

fungsinya buat apa? Untuk merubah nasib

18:51

suatu bangsa. Gua sih percaya di situ.

18:53

Jadi pendidikan kalau ditanya buat apa

18:55

itu merubah nasib kita dari yang tadi

18:56

kita tidak terpelajar, enggak punya

18:58

apa-apa, miskin melarat, tapi kita bisa

19:01

merubah hidup dengan cara kita memiliki

19:02

pengetahuan gitu kan. Tujuan kita semua

19:04

kuliah pada satu titik kan juga mau

19:05

dapat kerja gitu kan. Nah, itu untuk

19:07

ngerubah nasib sebetulnya kalau kita

19:09

pikir lebih dalam gitu sih dari gua

19:10

Bang.

19:11

yang lain.

19:12

Kalau by my definition, menurut gua

19:14

tujuan pendidikan tinggi itu adalah

19:16

untuk membuat manusia itu bisa menolong

19:20

manusia lainnya dengan ya dengan

19:23

menyediakan lapangan pekerjaan, dengan

19:25

menyediakan riset yang bagus dengan

19:28

keahliannya yang di mana itu semua akan

19:30

menjadi sebuah valuable

19:33

output.

19:34

Hm.

19:35

Akan apa ya? Jadi akan menghasilkan

19:37

sebuah output yang valuable gitu. Kurang

19:40

lebih itu sih.

19:41

Ada yang punya pendapat lain? Halo.

19:43

Sebenarnya ngutip dari Kajar Dewantara

19:44

sih, Bang. Waktu itu menyelamatkan

19:45

jiwanya dan bahagia raganya. Nah, dari

19:47

sini mungkin aku bisa kutip dari duanya.

19:49

Sebenarnya kalau misalnya aku bisa kasih

19:52

tahu dari definisi tujuan pendidikan

19:53

aku, sebenarnya sederhana membahagiakan

19:55

diri kita sendiri. Nah, kalau misalnya

19:56

kita sudah bahagia berarti kita bisa

19:57

ngebahagiain orang lain dan semakin

19:59

banyak orang yang bahagia gitu sih.

20:00

Oke. Kalau buat aku pendidikan tinggi

20:02

itu sederhana untuk menjadikan kita

20:05

sebagai problem solver yang lebih baik.

20:07

baik itu di jurusan apapun yang kita

20:10

masukin, kita akan menjadi problem

20:12

solver yang lebih baik di dalam yang

20:13

kita masukin.

20:14

H. Oke, sip. Gua punya bayangan. Ee gua

20:20

udah punya bayangan. Ada beberapa hal

20:21

yang mau gua share dikit ya. Nih, ini

20:23

kadang-kadang ada enggak nyambung dikit

20:24

tapi ada gatalnya gue. Gua mau share

20:26

tentang sesuatu yang ini nih penting

20:28

nih. Ini ya penting, tapi soal

20:31

presentasi tadi gua sebenarnya ya itu

20:33

gua gatal banget sih soalnya apa sih

20:34

suruhnya ya udah maju presentasi maju

20:36

presentasi. dan segala macam. Dan itu

20:38

tadi ee belum belum apa namanya?

20:40

Taksonomi ya. Beloms taksonomi itu dari

20:43

mulai mengingat, merrecall apa segala

20:45

macam sampai memahami, analying,

20:47

evaluating, dan kemudian creating gitu

20:50

kan. Dan itu memang penting walaupun

20:52

sebenarnya itu enggak apa ya enggak

20:54

harus step by step banget tapi eh

20:57

ideally ya stepnya gitu. Itu bisa

20:59

paralel sebenarnya enggak ada masalah.

21:01

Eh, nah yang sering banget dari dulu gua

21:05

pegang itu soal pyramid of understanding

21:07

ya. Piramida of understanding itu jadi

21:09

berapa persen sih lu retention ni? Ini

21:11

sedikit sedikit apa eh data dari

21:14

pendidikan lah ya.

21:17

Kalau el lecturing

21:19

dengerin lecture sor dengerin lecture

21:21

nonton kayak gua nih nonton kayak gini

21:23

nih gua nonton lu nonton gua ngomong

21:25

doang satu arah. Nonton video apa segala

21:28

macam itu 5 sampai 15% doang

21:29

efektivitasnya.

21:32

Tapi biasanya enak. Kenapa enak? Karena

21:34

lu enggak aktif. Lu tinggal eh diam

21:36

nonton kayak nonton YouTube kan enggak

21:38

usaha lu nonton apa gitu kan yang

21:39

tinggal dengar doang masuk doang enggak

21:40

usah. Itu enak. Cuma efektivitas segini

21:43

efektivitasnya gitu ya. Kalau nontonin

21:47

dipraktikin gitu demonstrasi pemakaian

21:50

alatlah inilah apa segala macam ngoding

21:51

gua tunjukin lu ngodingnya segala macam.

21:54

Ee ini demonstratif gitu ya. Itu sampai

21:57

25an%.

21:59

Karena ini gimanapun juga masih passive

22:02

learning ya. Kalau di sini, nah ini

22:06

active learning nih. Active learning nih

22:08

actually el yang ikutan. Lu yang ikutan

22:12

untuk praktik ya kan? Atau bahkan lu

22:15

ikutan ngajar bisa ngajarin temannya

22:18

diskusi. Nah ini kalau diskusi itu 50-an

22:23

ya. Lu praktik sendiri 75% lu ngajarin

22:26

orang 90%. Ini teaching, ini praktik,

22:29

ini discussion. Nah,

22:33

jadi

22:34

gua kadang ngerti kalau misalnya

22:37

dosen-dosen atau apa ya pengin

22:38

menekankan lu untuk yang presentasi, ya

22:41

kan presentasi kan lu berarti dapat data

22:43

dulu apa segala macam, dapat segala

22:45

macam, habis itu lu presentasi dan

22:47

diskusi

22:48

targetnya tuh sebenarnya arahnya ke

22:50

sini.

22:50

Oke,

22:51

gitu. Active routing soalnya ngerti ya.

22:52

Jadi, jadi

22:53

ee targetnya ke sana. Cuman sorry banget

22:56

nih seperti apapun di Indonesia ya kan

22:58

lu bawa sesuatu yang bagus dari luar lu

23:00

bawa ke sini tiba-tiba [tertawa]

23:04

jadi tapi seriously seriously that's

23:06

that's somehow itu di Indonesia sering

23:09

banget kejadian apapun yang bagus di

23:11

luar coba diterapin di sini somehow

23:13

diterapin salahnya kan yang lu bilang

23:15

tadi bisa jadi terlepas dari

23:17

kurikulumnya terlepas dari ininya

23:18

terlepas dari apanya begitu diexecute

23:21

lah kok jadi begini gitu loh itu sama

23:23

sering terjadi. Oke, jadi eh gue jelasin

23:26

A in theory this is good sebenarnya cuma

23:31

in practice. Hah? Ada bolong-bolong.

23:35

Itu satu gua menekanin bahwa ada ada hal

23:37

ini. Kedua, ketika lo trying to identify

23:40

the problems, ya trying to identify the

23:43

problems. Eh, by the way, gua mau tahu

23:45

dong di sini ada yang dulu yang pai

23:47

genenius enggak?

23:48

Aku.

23:48

Oh, lu Zenius dari kapan?

23:50

Dari SMP.

23:51

Buset.

23:52

Oke. Jadi satu orang aja ya. Ya.

23:56

Sing.

23:58

Oke. Nah, jadi kalau ee di Zenius gua

24:02

sering ngajarin ee kita tuh targetnya

24:04

adalah CCA.

24:07

CCA ini cerdas,

24:11

sininya cerah, di sini asik.

24:15

Iya.

24:16

Ya, jadi ini eh konsep yang pal menurut

24:20

kita ya of course Zenus Milly itu eh CCL

24:23

ini sebagai konsep yang paling penting

24:25

nih. Jadi ke apa ya kayak yang sebagai

24:27

manusia kalau lu mau nuju sebelum bukan

24:30

sebelum sih nanti berguna bermanfaat

24:34

atau hidupnya enak fulfilling life,

24:36

meaningful life apa segala macam CCA

24:38

first gitu baru yang lain-lain. Cerdas

24:41

itu definisinya adalah pola pikirnya.

24:43

Jadi kayak logic lo jalan, critical

24:45

thinking, logic ya alat-alat tools untuk

24:47

mikir murni. Ini kalau bahasanya

24:50

programmer adalah algoritmanya ya. This

24:53

is pure the algorithms, not a data ya.

24:56

Jadi cerdas itu adalah algoritmanya.

24:57

Jadi ambil kesimpulan ngambil data

24:59

segala macam itu algoritma bukan

25:02

substance-nya dulu. Baik ya. Not the

25:04

substance.

25:06

Hardwar-nya dulu.

25:07

Iya.

25:08

Yes. Di situ-nya nih, algoritma

25:11

software-nya dulu ya. Cerdas itu itu dan

25:15

itu ada something yang universal gitu

25:17

loh ya. Bermatika ya, that's universal

25:20

logic. Ada yang universal nih bahwa ini

25:22

yang benar universal. Gua sering bilang

25:24

kebenaran itu cuma bisa dicapai 100%

25:25

oleh matematika gitu ya. Maksud saya

25:29

karena the actual truth cuman itu doang

25:31

gitu karena logiknya doang ya. Jika A

25:33

maka B, jika B maka C. Jika A pasti AC

25:36

itu universal. gitu. You can argue with

25:39

apun segala macamah eh apa itu ya

25:43

gimanapun logic tuh universally true ya.

25:46

That's number one.

25:48

Nah, kalau ininya udah ya biasanya kita

25:51

eh latihannya nih satu yang membangun

25:53

cerdas tuh matematik, logic, critical

25:55

thinking, bahasa, verbal reasoning, ya

25:58

kan. Karena bahasa itu mengantarkan

26:01

bagaimana lu dapat informasi dari 1

26:03

tahun ke tempat lain. Cenderung kita

26:05

sampai saat ini masih pakai bahasa.

26:07

Ya, nantinya mungkin kita bisa pakai new

26:09

ralingnya Elen Mask, we don't know. Tapi

26:11

at least for now untuk informasi itu

26:14

nyampai kotak kita mostly berbahasa ya.

26:17

So forbal sendiri. Nah, itu nomor satu.

26:19

Nomor dua itu cerah.

26:22

Cerah ini itu eh adalah seberapa akurat

26:27

lo punya peta realitas. Ini realitas nih

26:30

dunia ya. Ada realitas alamnya, hukum

26:33

alam. Seberapa akurat lu mengerti

26:36

tentang how the universe works, how the

26:38

world works, hukum alam, ya, hukum

26:41

sosial, hukum sosial as in bagaimana sih

26:43

dinamika manusia berinteraksi dan segala

26:45

macam cenderungannya gimana gimana

26:47

gimana itu ee ya ada cara dunia bekerja

26:50

yang cair tapi kalau lo akurat seakurat

26:53

mungkin lo peta realitas itu gua mau

26:56

analogiin peta peta ya seperti peta apa

26:59

peta realitas itu kayak kayak peta

27:01

beneran aja kayak lu mau lesnya misalnya

27:03

gini lu di Jakarta gitu kan mau menuju

27:06

Surabaya, tapi di peta lu Surabaya itu

27:09

50 km di utara Jakarta. Ya nyasar dong.

27:13

Iya

27:13

ya kan ya kalau di Peta lu itu Surabaya

27:17

50 km di utara Jakarta ya nyasar karena

27:20

target lu mau ke Surabaya. Nah terakhir

27:23

asik gua sekilas aja nih asik nih gua

27:27

bingung menemukan kata apa yang pas buat

27:29

anak-anak SMA gitu ya. Sebenarnya itu

27:31

lebih tepat bijaksana gitu ya. bijaklah

27:33

gitu. How to understand others well,

27:36

mengerti orang lain secara akurat.

27:39

Dengan mengerti orang lain secara

27:40

akurat, be effective with others jadinya

27:42

ya. Karena gimanapun juga kita social

27:45

animal, manusia itu adalah makhluk eh

27:48

apa ya? Hewan sosial lah gitu. Sebagai

27:51

hewan sosial of course ya kita harus be

27:54

effective with others. Untuk be

27:55

effective with others we have to

27:56

understand others well first. understand

27:59

first and then be effective. Nah, tapi

28:02

gua enggak mau bahas terlalu banyak di

28:04

sini ya. Eh, gua mau nekan di sini

28:07

karena topik kita nyambung banget sama

28:10

ya dua inilah ya. Ininya sih ada ya,

28:12

tapi bagian ininya gitu cerdas dan cerah

28:15

gitu.

28:17

Jadi

28:19

sekarang kok gini deh gua balikin ke lu.

28:23

Gua bilang tadi eh bukan gua bilang

28:26

kalian juga udah sepakat bahwa problem

28:28

adalah sesuatu yang ngeblok kita menuju

28:31

tujuan.

28:32

Oke.

28:34

Gua mau tahu

28:36

seberapa ngerti loh kenapa gua ngomongin

28:38

ini dan kenapa ini relevan? specifically

28:41

soal cerdas dan cerahnya dan kenapa ini

28:43

relevan terhadap hal ini. Anyone can

28:45

have an opinion punya ada yang punya

28:48

something siapa duluan? Lu duluan? Iya

28:51

lu dulu boleh.

28:52

Sori. Ini in what context ya tadi ya

28:54

cca-nya itu mengenai problem.

28:56

Jadi gini jadi gini gua cerita tadi kan

28:58

bahwa

28:59

eh identifying a problem itu akan sukses

29:02

kalau kita punya ee tujuannya.

29:05

Iya. Oke.

29:06

Oke. Lu punya tujuan. He.

29:08

Oke, di sini jadi problem.

29:10

He.

29:10

Nah, terus habis itu gua tiba-tiba

29:11

ngomongin CCA nih.

29:12

CCA

29:13

specifically cerah.

29:14

Cerah.

29:15

Nah.

29:16

Hm.

29:17

Lu bisa connect enggak? Kenapa ini

29:20

nyambung sama ini?

29:21

Oh, oke oke oke.

29:23

Kalau dosen normal gua akan nyajarin

29:24

bahwa e kenapa cara itu relevan? Karena

29:26

gini gini gini gini. Nah, sekarang

29:27

gua peng

29:30

oke

29:30

conin sendiri sebelum jadi jadi kayak

29:33

kalau lu nonton series tuh kayak lu udah

29:34

punya fan theory duluan gitu sebelum

29:36

actually episode. Lu tahu fan teori sih?

29:39

Sebelum sebelum episod-ya keluar lu

29:41

punya fan teori dulu.

29:42

Oke. Sebenarnya sih kalau misalkan

29:44

[berdehem] dibahas dari cerah sendiri

29:46

ya, cerah itu kan by definition tadi eh

29:48

Bang Sabda juga udah mention itu

29:50

seberapa cerah atau how you how well you

29:54

understand the universe works gitu kan

29:55

basically. Nah, kalau misalkan gua

29:58

potret ya universe-nya orang itu tuh

30:00

hangman itu kan universe-nya bisa

30:02

dibilang adalah sebuah gua bisa bayangin

30:04

itu adalah sebuah kotak. Nah, kotaknya

30:06

itu tuh ee boleh maju ke depan enggak

30:09

sih? Oke, izin ya, Bang, ya. [tertawa]

30:13

Enggak usah izin sama gua,

30:14

Sor. Penasaran gua. Oke, izin, ya. Jadi

30:20

ee untuk teman-teman ini yang ini kurang

30:22

lebih yang aku pahami itu adalah kalau

30:24

dari perspektif aku, let's say orang ini

30:27

hangman ini namanya Udin lah. Udin.

30:31

Udin ini dia hidup di sebuah universe

30:34

yang di mana dia itu dihalangin sama

30:37

problemnya ya kan. Jadi ya aduh gua

30:40

enggak bisa ke sini gitu kan. Gimana

30:42

caranya? Well, kalau misalkan kita pakai

30:44

eh teori cerah tadi yaitu how well you

30:47

understand how well how well you are

30:50

understanding your own universe. Udin

30:52

ini harusnya dia bisa mikir, "Oh, masih

30:53

ada celah ke sini kok." gitu kan boleh.

30:56

Atau dia kalau bisa ya keluar aja dari

30:58

universe-nya terus ke A gitu loh. Bisa

31:01

banyak cara untuk dia mencapai jalan

31:04

tersebut. A gitu. Kalau gu kalau kurang

31:07

lebih pengertian gua kayak gitu sih.

31:08

Sip. Nice ya. Lu ada lagi.

31:11

Oke nih.

31:13

Boleh Bang maju ke depan. Kalau dia

31:14

namanya Udin, [tertawa]

31:16

gua pengin kasih nama dia namanya

31:18

Aliong.

31:21

[terkesiap] Kita kasih dia namanya

31:22

Aliong. Nah, sebetulnya ini tuh menurut

31:25

gua yang disampain sama F itu tepat,

31:27

tapi menurut gua masih ada kurang

31:28

lengkap. Gua mau lengkapin sedikit dari

31:29

Fami. Ee cerahnya itu kan tadi kan kita

31:32

maemba bahas tentang peta realitas.

31:34

Iya kan? Nah, peta realitas itu berarti

31:36

kita bisa mengidentifikasi masalah

31:38

dengan tepat. He.

31:39

Misalkan si Along ini, Along itu tidak

31:42

tahu dia misalkan problemnya di sini

31:44

adalah ada lubang yang besar.

31:47

H

31:48

problemnya adalah lubang yang besar.

31:50

H

31:50

iya kan? Bagaimana cara Along bisa

31:52

melewati lubang ini? H

31:54

gitu kan. Kita Alion mesti sadar dulu

31:57

petaralitasnya apa. Apakah di sini

31:58

lubang atau di sini sebuah gundukan

32:00

batu?

32:01

H

32:02

h. Kalau misalkan digunakan batu,

32:04

berarti dia misalkan harus hancurin

32:06

batunya tinggal jalan lurus. Tapi kalau

32:08

misalkan dia lubang, berarti dia

32:09

misalkan bangun tangga di sini

32:11

atau misalkan dia bisa muter ke sini.

32:13

Nah, cerah yang tadi dimaksud itu adalah

32:16

untuk melihat realitas problem yang ada.

32:19

Itu menurut saya. Bagaimana cara Along

32:21

melihat masalah yang terjadi gitu, Bang.

32:23

Yes, nice. Yey.

32:25

Ye,

32:25

both for both ya. Karena itu itu a

32:28

series itu sebenarnya dua rantai tu ya.

32:30

Jadi kalau episode tadi kita kayak agak

32:32

Star Wars muncul episode 2-nya dulu baru

32:34

episode 1 yang muncul gitu kan. Karena

32:36

tadi eh Fahmi itu m-define oke kalau dia

32:40

punya peta realitas dia punya berbagai

32:42

macam jalur untuk menuju ke sini.

32:44

Sedangkan Hansen mdefine bahwa loh

32:46

sebelum ke sana kita harus jelas dulu

32:48

nih bahwa emang beneran itu problem. Itu

32:50

kan yang what you're saying kan. Jadi

32:52

bisa jadi peta realitas dia nih misalnya

32:54

ya peta realitas dia ee itu gini. LC di

32:57

sini. Di sini ada satu eh ini ada ruang

33:00

terbuka di sini ngeblok gitu ya. Terus

33:02

di sini nih A-nya di sini nih misalnya.

33:04

Nah, petar atas yang dia punya misalnya

33:06

seperti ini. Ini adalah problems-nya dia

33:08

di sini dalam otaknya dia bisa jadi ini

33:13

yang ada. Tapi ternyata begitu dia

33:15

belajar lebih jauh eh ada jalan ini, ada

33:19

jalan ini, gitu kan. Jadi ini itu belum

33:22

ada di dalam peta realitas dia, tapi

33:24

sudah ada di realitas sebenarnya.

33:26

Oh,

33:27

I

33:27

bayang

33:28

ya. Bisa jadi karena dia enggak tahu

33:30

dagan sini. Ada yang main civilization

33:33

apa?

33:33

Civilization ada yang main

33:35

pernah doang. Kalau ada pernah main

33:37

civilation ada bagian yang gelap terrain

33:39

incognita.

33:39

Oh iya i

33:40

begitu lo dekatin baru nyala terang peta

33:43

lo baru kebuka. Bang

33:48

beda generasi ya kita gameennya.

33:50

[tertawa]

33:53

Jadi beda beda, beda game discipation

33:55

itu gelap. Begitu lu deketin terang,

33:58

begitu terang, oh ada itu anjrit. Kalau

34:00

gitu gua bisa ke sana.

34:01

Iya. I

34:01

ya.

34:02

So basically kita bisa aja ngelihat ini

34:05

problem just because el belum ngelihat

34:08

peta realitas secara utuh.

34:10

Of course kita susah ngarat realitas

34:12

secara utuh, tapi bisa jadi itu menjadi

34:14

problem karena kalau bahasanya gua lupa

34:18

nama lu.

34:18

Hero.

34:19

Hero. Oh gampang. Harus diingat

34:21

bahasanya hero change the paradigm.

34:24

Bisa jadi katanya ya paradigm itu agak

34:26

mirip realitas gitu.

34:28

Kalau paradigmnya itu berubah, lu bisa

34:30

ngelihat dari sudut-sudut yang berbeda

34:32

segala macam lebih lengkap, lebih angle

34:34

lebih banyak bisa jadi it's no longer a

34:36

problem karena oh lewat sini aja kalau

34:38

gitu. Ngapain nih lewat sini?

34:41

Bayang ya. So, that's how important is

34:45

this. Salah satu kenapa eh kita bisa

34:48

ngelihat tuh problem. [berdehem] Problem

34:50

ini bisa jadi no longer problem just

34:53

because you see things differently.

34:56

Bayang ya. Eh, sor cek waktu dulu dong.

34:59

Gua punya waktu berapa lama dan sekarang

35:00

udah

35:01

43 menit.

35:02

Udah 43 menit apa 43 menit lagi?

35:05

Oke. Tipis-tipis sih. Waktu gua 90 menit

35:07

ya. Eh,

35:09

nah jadi ee nih nih gua pengin gua

35:13

pengin banget banget banget banget lu

35:16

memahami ini karena ini adalah one of

35:19

the most apa ya transformative things

35:23

yang mindblowing buat gua ketika gua

35:24

mahasiswa. Makanya scientific scientific

35:27

and engine mindset bahasanya hero adalah

35:30

problem solver ya kan? Bahwa kita

35:32

menjadi problem solver. Lu tujuannya

35:34

ngapain sih? Kuliah apa segala macam

35:36

jadi problem solver. problem solver at

35:38

scale gitu ya lebih ya problem solver

35:40

aja enggak apa-apa tapi kalau dia

35:42

problem solver at scale lu bisa membantu

35:44

solve sejuta umat problemnya sejuta bisa

35:47

solve ya itu lebih bagus eh kalau apa ya

35:51

gua bahasanya tuh the deeper and the

35:54

wider atau the broader the impact iya

35:57

bagi gua better gua enggak bilang bahwa

35:58

itu better universally ya gua

36:00

ngelihatnya itu better kalau lu bisa

36:02

punya kemampuan problem solving

36:05

semakin deep impact impact-nya dan

36:08

semakin broad atau wide impact-nya bro

36:11

seberapa bread the breadth and depth of

36:13

the impact. Nah, that's a matrix gua

36:17

untuk menilai a good problem solver ya

36:20

problem solving at scale.

36:22

Scientific mindset help you having the

36:25

peta realitas yang akurat. Engineering

36:27

mindset

36:29

ability to come up with the solutioning

36:30

yang akhirnya nyampai. But tadi step 1,

36:33

step du ada step nolnya.

36:38

step nol yang dipresentasikan oleh Hamid

36:41

di mana step nol ini basically inilah

36:43

yang gua sebut meta

36:45

ya kan

36:46

lu punya tujuan gara-gara lu punya

36:49

tujuan ini lu mau nyampai ke sana

36:51

ternyata di peta lo ini jadi problem

36:53

ngeblokir

36:55

nah metanya apa kita challenge

36:59

ya kita challenge nih the goal

37:04

nah Nah, ini nih

37:07

the crazy

37:10

Kebayang enggak seberapa itu bisa

37:13

changing your game? Ya, challenge the

37:17

goal.

37:19

Bisa aja yang terjadi tuh kalau gua

37:20

kasih visualisasinya

37:22

misalnya

37:25

tahun atau enggak usah tahun lah di

37:28

zaman boomers

37:30

ya kan enggak ada yang boomers kan sini

37:33

kan.

37:34

mungkin yang nonton gitu [tertawa]

37:37

yang off

37:38

eas gua juga ikutan

37:41

si

37:42

nah di zaman boomers gitu kan untuk les

37:46

di A di statusnya lu di A ya kan lu mau

37:49

menuju E

37:51

di zaman boomers itu posisi letaknya tuh

37:53

gini oh dari A jalurnya ya lewat B lewat

37:57

C lewat Dah jadi kalau lu mau ke E

38:02

otomatis B, C, dan D adalah tujuan lu,

38:06

ya kan?

38:08

The goal is B. Kenapa goal-nya B? Karena

38:10

untuk mencapai, gua mau mencapai E. Oke,

38:12

kalau gitu harus B jadi tujuan step

38:14

satu, tujuan kedua, tujuan ketiga dan

38:16

akhirnya sampai ke ultimate game, the

38:18

end game

38:20

gitu ya.

38:22

L sih di zaman Boomer seperti itu. Terus

38:24

dunia berubah wang

38:27

berubahlah tentang realitas itu ternyata

38:29

bentukannya gini.

38:32

A sama E sebelah-sebelahan ini B ini C

38:34

ini D.

38:37

Nah, somehow di peta realitasnya

38:39

seseorang atau beberapa orang dia masih

38:42

punya peta realitas yang ini. Jadi A ke

38:44

B, B ke C, C ke D. Oh, kalau gitu sampai

38:47

ke E. Padahal si E itu ada di sebelah

38:51

Padahal si E itu ada di sebelah si A.

38:55

Bayang

38:55

bayang.

38:56

Nah, this is the meta thinking di mana

38:59

lu challenge the goal.

39:01

Ini gua masih relevan enggak sih? Target

39:03

besarnya apa? Endgame-nya apa? Kalau end

39:05

game-nya gini, lu bisa cek

39:08

gitu bahwa bisa jadi perubahan dunia

39:11

dinamika, resource ini itu segala peta

39:13

realitas yang baru berubah menjadi bahwa

39:16

eh coy, ngapain lu kemari gitu kan. Ini

39:19

tuh di sebelah lo it's always been with

39:21

you in the first place. Ngapain

39:22

tujuannya ke sini? Karena di sini udah

39:24

jelas ada gitu. Nik gua contoh pribadi

39:28

gue dan contohnya besar gitu ya.

39:31

Eh,

39:33

ya basically namanya mahasiswa dulu kan

39:36

gua tuh pengin ee standar lah ya

39:39

mahasiswa zaman zaman itu masih punya

39:41

ambis-ambisan. Ambis-ambisan yang

39:44

ambis-ambisannya

39:46

ee gua dari SMA, SMA gua SMA 8 Jakarta

39:49

by the way.

39:50

Oh, udah pintar.

39:51

Jadi,

39:54

nah jadi ya kebayanglah gitu kan di

39:56

dalam itu ambis-ambisnya juga

39:58

keikut-ikutan juga gitu kan. Oh, ya.

39:59

ITB, ITB, ITB gitu kan. ITB Informatika

40:02

yang dulu pasingnya paling tinggi stay

40:03

lah zaman sekarang. ee informatika

40:06

segala macam itu sebagai kayak oke gua

40:09

step-stepnya gitu ada SMA udah oke masuk

40:12

ITB Informatika nanti mungkin gua akan

40:15

kerja di zaman itu ya zaman itu

40:17

something yang ee keinformatikaan tuh

40:20

kalau enggak ya Telkom Sell Telkom

40:22

Telkom Indosat apa segala macam

40:24

gitu-gitulah atau software house apalah

40:26

atau bahkan coba ke luar negeri dulu

40:28

belum ada tuh kayak Google apa segala

40:30

macam Google belum lahir ya ketahuan

40:33

[tertawa]

40:35

Nah,

40:36

nah saat itu gua pengin punya something

40:39

yang ee gua suka ngoding dari gua

40:42

ngoding dari SD walaupun off on and off,

40:44

tapi gua suka banget ngoding dan gua

40:46

pengen doing my life through ngoding

40:48

bisa punya impact

40:50

ya bikin something software yang apalah

40:52

gitu canggih apa yang imp. Nah, terus

40:54

kemudian jalurnya itu jalurnya tak tak

40:58

sampai to the point di mana saat itu gua

41:01

harus lulus nih [tertawa]

41:05

gua terus segala macam. Terus habis itu

41:07

gua ngelihat-lihat setelah gua melakukan

41:11

dis analisis gitu ya, gua kayaknya

41:14

enggak penting-penting amat. [tertawa]

41:17

Oke. Nah, tapi ya g makanya gua bilang

41:19

politically correct belum tentu relevan

41:21

sama el. Bagi gua sendiri saat itu gua

41:23

ngerasa bahwa apapun yang gua harus

41:25

lakukan saat itu di kuliah kayaknya udah

41:27

enggak relevan lagi. Dan waktu itu gua

41:29

juga ada sedikit marahnya lah gitu sama

41:31

kondisi setelah gua belajar pendidikan

41:33

di Indonesia dan dunia gua agak marah

41:35

dikit. Ada ada biasalah rebel-rebel

41:38

mahasiswa umur 19 tahun 20 tahun

41:41

rebel-rabel ya

41:42

gitu kan. Jadi gua enggak ngelihat bahwa

41:46

this goal no longer relevan. Gua gua

41:49

ngelihat bahwa di school no longer

41:50

relevan dan bisa jadi problem yang gua

41:52

hadapin jadi irelevan semua. Kalau gua

41:54

harus lulus ini ya segala macam problem

41:57

gua hilang dong ya kan. Tapi gua punya

41:59

jalan lain ternyata. I challenge the

42:01

goal dan goal gue ya kebetulan waktu itu

42:05

salah satu yang mentrigger juga si bapak

42:07

yang ada fotonya di situ dengan bukunya

42:10

Madilock. [tertawa]

42:12

Nah gua baca buku Madilock terus kayak

42:14

berapi-api gitu ya. terbakar berapi-api

42:16

menemukan tujuan hidup yang [tertawa]

42:20

kayak gua purpose of life-nya gua kalau

42:22

harus punya purpose of life ini kayaknya

42:24

enggak penting-penting amat gua

42:25

melakukan ini. Akhirnya gua change

42:27

challenge the goal. Gua ngelihat

42:28

problemnya di mana yang lebih besar yang

42:31

ya waktu itu gua belajar di Mil waktu

42:33

itu masalah terbesar di Indonesia ini

42:36

benar-benar gua bisa bilang sekarang ya

42:37

karena gua udah melaluinya berpul eh ber

42:41

6 tahun [tertawa]

42:44

itu udah udah melalui itu dan gua ambil

42:46

simpulan bahwa

42:49

one of the biggest problem di Indonesia

42:51

bisa dibilang the biggest problem di

42:53

Indonesianya yang gua temuin adalah

42:55

bahwa kapasitas masyarakat kita untuk

42:59

kalau bahasanya Tamalaka

43:01

bermadilog, bahasanya Zenius berc. Jadi

43:05

kalau kita udah punya CCA di mas eh

43:08

hilang lagi kita sudah bermadiok atau

43:10

berceca di seluruh Indonesia, segala

43:12

masalah lainnya ikut hilang.

43:16

Nah, gara-gara gua menemukan itu ya

43:18

akhirnya segala macam yang

43:19

masalah-masalah lainnya, gol-gol lainnya

43:21

jadi irelevan.

43:23

Kebayang enggak?

43:24

Kebayang

43:25

ya.

43:26

Salah satu syarat untuk jadi problem

43:28

solver actually adalah lu harus berpikir

43:30

segila itu

43:32

ya.

43:33

Oke,

43:33

jadi gua mau nekanin di sini bahwa once

43:36

dapat nih hit the biggest thing yang

43:39

ininya bisa jadi turunan-turunan di

43:40

dalam-dalamnya itu lah enggak penting

43:43

dong, enggak penting dong, enggak

43:44

penting dong, enggak penting dong. Jadi

43:46

akhirnya clear the goal itself is udah

43:50

besar banget juga untuk akhirnya nah

43:52

dari situ mulai. Nah, so eh the most

43:56

important thing tadi yang gua mau

43:57

tekenin adalah bagaimana ya lu bisa

44:00

ngelihat kalau lu punya petar atas yang

44:02

akurat apa segala macam yang lebih luas

44:03

dan sebagainya, suatu problem bisa jadi

44:06

no longer problem. See the big picture.

44:10

Lihat lebih luas. Ya, nanti bisa kalau

44:12

kita punya banyak waktu sebenarnya gua

44:14

apa yang lu lihat misalnya problem ini.

44:16

Kenapa problem itu ada gua tantang

44:17

tujuannya apa? Kalau problem kita solve

44:19

emang masalahnya kenapa? Misalnya

44:20

contohnya, misalnya contohnya aja let's

44:22

say kita ngomongin soal ini nih contoh

44:24

ekstrem dulu ya. Kita ngomongin oh kita

44:26

mau universitas segala macam dengan

44:28

kurikulum bagas dan segala macam tapi

44:30

masalah terbesarnya gaji dosennya gitu

44:31

kan. Gaji dosennya masalah. Oke. Gimana

44:34

kalau kita bikin universitas tanpa

44:35

dosen?

44:36

H

44:37

irrelevan kan

44:39

goalnya apa? Goalnya membuat lu jago

44:41

gini gini gini. Oke. Bisa tuh tercapai

44:42

kalau dosennya can we solve that? Kayak

44:45

kebayangan maksudnya jadi that problem

44:48

no longer a problem. Kalau kita lihat

44:50

ujung akhir tujuannya itu dengan exactly

44:55

zoom out,

44:56

zoom out.

45:00

Kalau lu zoom out itu lu bisa lagi eh no

45:03

longer [berdehem] problem nih. Bisa jadi

45:04

tujuannya eh ini ngapain kita tujuannya

45:06

ini ya? Di sini ada tujuan yang bisa

45:08

mencapai itu tadi ini ternyata ada nih

45:11

di sini gitu kan ya. Ngapain lu

45:13

lewat-lewat sini? Nah

45:16

itulah yang gua sudah didisikan hidup

45:18

gua. untuk soal pendidikan ya. Setelah

45:21

gue itu nih ini sekitar sharing-sharing

45:23

kan tadi minta yang relate gitu kan.

45:25

Nah, ini lihat sama gua. Enggak tahu

45:26

lihat sama lu apa enggak. Tapi, tapi

45:28

yang dilihat sama gua langsung contoh

45:30

langsungnya adalah bahwa kita mau

45:33

bahasanya Tanaka mencerahkan Indonesia

45:35

gitu ya kan mencerahkan membuat

45:37

Indonesia ini kan Tanang bahwa Madiok

45:39

ini adalah suatu hal yang wajib dimiliki

45:42

di semua otak pemuda Indonesia,

45:44

pemuda-pemudi lah gitu. Di bukunya cuma

45:46

pemuda doang tapi ya you get it.

45:49

Targetnya itu. Nah, gua ngelihat gua

45:52

setuju nih ya. Gua setuju targetnya itu.

45:55

Nah, tapi ketika itu diterjemahkan

45:58

dengan peta realitas yang terbatas, kita

46:00

bisa bilang bahwa oh itu berarti harus

46:01

lewat pendidikan. Pendidikan berarti oke

46:04

dalam otaknya harus ada fisik kampusnya,

46:07

harus ada dosennya, harus ada sistemnya,

46:08

ada regulasinya, ini segala macamlah

46:10

yang bisa jadi itu semua jadi mahal.

46:11

Misalnya kebayang kan?

46:13

Iya.

46:13

Bisa jadi kalau misalnya kita

46:14

ngelihatnya itu intinya adalah apa yang

46:16

ada di buku itu versi expanded

46:18

version-nya itu kan udah di apa sih

46:20

namanya? Di zip gitu. Di zip masih

46:22

ngerti sihon. [tertawa]

46:24

komprespres

46:25

sudah dikompres gitu kan Bangpres

46:28

itu kan versi kompresnya gitu kan kalau

46:30

ini di kompres gitu kan bisa jadi 100

46:32

kali lipat isinya enggak harus masuk

46:34

lewat pendidikan yang tata cara normal

46:36

kita lakuin bisa aja untuk masuk segala

46:37

macam hal yang lain we solve the problem

46:40

oh

46:41

kebayang enggak kebayang

46:43

ya jadi gua ngajak lu untuk berpikir

46:45

ekstrem ya ekstremek ekstrem dulu karena

46:47

problem solving itu lu enggak boleh ada

46:49

apa ya ya itu tadi meluaskan peta

46:51

realitas segala macam cara segala macam

46:54

petarik di zoom out, zoom out, zoom out

46:56

itu bisa set, set, set, set. Harus

46:57

banget latihan kayak gitu gitu. Dulu gua

47:01

waktu kuliah latihannya, oke kita mau

47:03

bikin acara nih brainstorming ya,

47:04

brainstorming brandstorming ngapain?

47:05

Kita butuh duit R juta buat bikin acara

47:07

ini. Gimana caranya kita berar duit R5

47:09

juta? Ya udah gua pertama kali ngangkat

47:11

tangan, "Ya udah kita ngerampok, Bang."

47:14

Amin, Mas. [tertawa]

47:17

Tapi kan. Nah, habis itu oh cari lagi.

47:21

Intinya adalah jangan batasin otak lo.

47:24

Jangan batasin otak lo dulu untuk apa

47:27

yang mungkin.

47:29

Zoom out petaalitas yang akulah cari

47:31

dulu ya kan bisa jadi gol-gol itu

47:34

irelevan. Setelah kita melihat the

47:36

bigger goal, the bigger goal, the bigger

47:37

goal. Baru susun step by step

47:40

gitu. Alright.

47:43

Oke.

47:44

Ada pertanyaan, ada feedback, ada

47:46

kritik. Bang, gua gak setuju sama lu,

47:48

Bang. Uh, menurut lu gini-gini, it's ok.

47:51

Sama gua totally ini ya harus begitu.

47:54

Kita harus berdialektika di sini.

47:58

Yes.

47:59

Sebetulnya, Bang, apa yang ee Bang Sabda

48:01

sampaiin sama Kakak Nias Bang Feri

48:03

s-sesi kemarin itu berpikir tentang out

48:06

of the box dan jangan intinya tu adalah

48:08

tadi jangan batasin kemungkinan. Tapi

48:11

pertanyaannya di sini kan yang menjadi

48:13

perdebatan antara kita ee kayak misalkan

48:15

tadi kita coba merampok gitu kan. Nah,

48:18

ee seolah-olah saya merasa bahwa e

48:22

jangan membatasi pemikiran itu kayak ada

48:23

sedikit hal yang janggal. Bagaimana

48:25

moral di situ diletakkan gitu loh.

48:27

Itu pertanyaannya sih, Bang.

48:29

Nice,

48:30

nice question. Eh, gua hapus tadi ya.

48:33

Gua tulis lagi berarti ulang. Kenapa

48:34

kita buat CC itu lengkap? Ya, tadi kita

48:37

ngomongin mostly C2 ini C1 C2 cerdas dan

48:41

cerah. C2 itu peta realitas ya kan. Nah,

48:44

emang ada faktor A-nya atau asik?

48:46

Asik. Asik itu bagai sebagai sosial

48:49

animal. Lu bagian dari masyarakat ya

48:52

kan? Nah di situ baru lu pikirin enggak

48:54

ada masalah. Itu tetap bagian dari peta

48:55

realitas. Dengan ini semua

48:57

manusia-manusia yang ada juga bagian

48:58

dari peta realitas kan ya. Itu bagian

49:00

dari peta realitas etiks dan

49:02

sebagain-sebagainya. Petitas kalau gua

49:03

kayak gini mah ini menghambat dong

49:06

nantinya begini gitu.

49:07

Kebayang ya. Jadi gua melakukan ini ya

49:09

misalnya gua punya gol tadi mau bikin

49:10

acara oke gua ngerampok bang. Habis

49:11

ngelampok bang oke pun duit ditangkap

49:13

[tertawa] enggak jadi acara juga gitu.

49:16

manusia, batasan manusia itu bisa jadi

49:17

konsin. Yes. Tapi bisa juga itu power.

49:20

Oke.

49:21

Kalau lu understanding manusia well gitu

49:23

kan, lu bisa ngelihat ini orang punya

49:25

berbakat gila banget di sini bisa kita

49:27

ee ajak atau kita encourage dia untuk

49:30

bisa melakukan ini itu segala macam. Lu

49:32

bisa jadi power yang luar biasa justru

49:33

gitu kan. Bahasa gua gini deh.

49:35

Ketika 0 a 1 a menjadi limiter. Ketika A

49:39

lebih dari 1

49:40

menarik

49:40

kalau ini kali

49:41

nah itu model matematisnya gitu kan.

49:43

Jadi kalau ada yang enggak ngerti.

49:45

[tertawa]

49:46

Jadi kalau kalau les ini kali ya C1 * C2

49:50

* A gitu.

49:50

Iya.

49:51

Kalau nilai A-nya adalah segini berarti

49:53

lu akan mdefine itu A sebagai limiter

49:55

constrain

49:56

karena mengecilkan outputnya gitu kan.

49:58

Tapi kalau nilai A-nya itu lebih dari

49:59

satu akhirnya that's multiplier. Right?

50:03

Nah tadi gua mau perjelas bahwa yang eh

50:06

poin L tadi penting bahwa kalau kita mau

50:09

punya T kan juga enggak bisa liar banget

50:10

juga kan. Lagi-lagi batasannya apa? peta

50:12

realitas lagi gitu. Tapi yang paling

50:14

penting ini ada dua, ada dua power, ada

50:17

dua driving force ya yang harus ada. Lu

50:20

jangan membatasi satu sisi ya, di satu

50:22

sisi lain gimanapun realitas akan

50:24

membatasi lu tapi realitas yang akurat

50:28

ini ini penting banget nih. Orang suka

50:29

berpikir, "Wah, gua mah realistis aja.

50:32

Gua sering gua kadang-kadang ngelihat

50:33

orang ngomong, "Gua mah realistis aja

50:34

nih gini-gini." Kagak, cuy. Lu enggak

50:36

realistis. Kenapa? Karena realitasnya

50:38

itu memungkinkan ini terjadi. Kebayang

50:41

enggak?

50:41

Iya. Sering banyak orang ngomong, "Gua

50:43

realistis aja gitu."

50:46

Hah? [tertawa]

50:49

Ya, karena kalau gue ngelihat kenapa gua

50:52

punya optimisme yang luar biasa terhadap

50:54

Indonesia? Karena gua ngerasa ini

50:55

mungkin terjadi kalau kita optimisme

50:57

segala macam

50:58

ya. Ya, contoh misalnya optimisme yang

51:00

yang sering yang gue sering dibilang

51:02

halu gitu ya. Bahwa Indonesia bisa jadi

51:05

negara maju gitu. Ah kita tuh lihat tuh

51:07

orangnya gini gini gini gini. IQ kita

51:10

itu beda cuma 13 poin apa gua lupa ya

51:13

berapa. Cuma 13 14 poin. Gua punya alat

51:17

yang bisa meningkatkan IQ minimal 23 IQ

51:19

points dalam 11 bulan ya. Dan setelah

51:23

dianalisis segala macam kan masalah

51:24

utama ujung-ujungnya deh ya

51:26

ujung-ujungnya bangsa tuh kalau IQ-nya

51:28

oke ya udah bisa nih melakukan berbagai

51:31

jadi problem solver semua orang jadi

51:33

better problem solver gitu kan ya itu

51:36

bisa. Nah, kalau gua punya alat yang 23

51:37

IQ points dan 11 bulan cuman ngalahin

51:40

Vietnam doang cincai cuy gitu. Asal

51:44

semuanya ya kan harus naikin rata-rata

51:46

ya kan. Kebayang sih lu one single

51:48

matrix doang misalnya gua pakai tapi IQ

51:50

pengertian gua luas ya. Jadi jangan

51:52

kalau dengar kata IQ cuman tes IQ itu

51:54

doang. Karena IQ nih nih statement yang

51:57

my boldest adalah IQ yang benar itu

52:01

meningkat. Significantly integritas

52:04

meningkat. I can say that. Gua berani

52:06

bilang gini. Integritas meningkat,

52:09

kejujuran, korupsi segala macam hilang,

52:11

etika lebih baik. Karena namanya

52:14

bermoral itu membutuhkan kompleksitas.

52:17

Kalau lo enggak tahu tindakan lo ini

52:19

merugikan orang lain, lu akan melakukan

52:21

itu.

52:22

Ya kan? Kalau lu enggak tahu, kalau lu

52:24

merugikan orang lain, orang lain

52:25

merugikan orang lain yang lain, orang

52:27

lain itu merugikan lu sendiri. Akhirnya

52:29

ujungnya bukan karena or anything ya,

52:30

tapi this is cause and effect aja.

52:33

Kebayang kan? Oke.

52:34

Lu merugikan orang lain, orang segist

52:36

hancur, akhirnya lu drop semua. Jadinya

52:39

untuk bisa mengerti bahwa ini merugikan

52:42

itu butuh kompleksitas pemikiran.

52:44

Apa yang lu omong itu sebetulnya pernah

52:45

gua bahas di video gua tentang teori

52:47

kontrak sosial Tom Hobes yang awal itu

52:50

di mana keadaan natural manusia itu kan

52:53

sebetulnya kan animalistik kan yang tadi

52:55

K bilang kan enggak ada yang ngatur.

52:56

Jadi kalau lu mau ngebunuh orang, mau

52:58

segala macam itu adalah hal biasa

53:01

melumrah. Tapi yang tadi kayak lu bilang

53:02

ketika itu menjadi kita semakin sadar,

53:05

semakin tahu, maka itu jadi kompleks.

53:07

Awalnya kan orang rasis kan biasa aja

53:08

kan kayak lu cina, lu hitam gitu. Tapi

53:11

setelah kita punya morally, etically

53:13

bahwa kita tahu itu salah ya kan itu

53:15

menjadi hal yang tabu gitu dan itu butuh

53:17

kompleksitas gitu.

53:18

Nah gini maksud gua gini bukan cuman

53:19

rasa kompleksitas itu datang dari

53:21

gara-gara ngerasa ini salah tapi

53:22

benar-benar ngelihat kausalitasnya.

53:24

Kalau gua gini orang gini gini

53:27

kalau gua melakukan A, A melakukan B, B

53:29

melakukan ini, ujung-ujungnya balik lagi

53:31

ke gua.

53:31

Hm.

53:32

Bisa ngelihat kompleksitas itu gitu.

53:33

I i.

53:35

So, yes. Number one, ada lu harus

53:38

berpikir melampaui batas ya. Nah, tapi

53:43

batas-batas itu adalah batas-batas yang

53:45

sebenarnya diciptakan oleh otak kita

53:47

sendiri, oleh nilai-nilai, oleh logika

53:51

mistika, oleh apapun itu loh, budaya lah

53:55

atau pendidikan yang salahlah atau

53:56

apapun itu. Ya, kalau bahasa setan

53:58

malaka, itulah penjara pikirannya,

54:01

right? Nah, kalau kita bisa melempa

54:03

batas membongkar penjara pikiran itu

54:06

dengan realitas yang lebih akurat, lu

54:08

bisa ngelihat masalah dengan jauh lebih

54:09

baik. Mana goal yang lebih penting, mana

54:11

goal yang lebih bigger picture-nya lebih

54:13

tuju. And all the engineering mindset to

54:16

actually being there, going there,

54:19

gitu. Oke. Nah, sekarang menjawab

54:22

pertanyaan Mars terakhir ya karena kita

54:24

sesi udah harus habis soal pribadi. H

54:28

ya. Soal pribadi ini gua punya nih

54:32

pendidikan gua informatika awalnya

54:35

hobing sebagai apa? Jalur engineering

54:37

gua lah gitu ya. jalur solving the

54:39

problem through engineering.

54:41

Habis itu gua belajar filsafat. Apa sih?

54:44

Filsafat itu itu metahaning ya. Jadi

54:48

basically filsafat itu yang gua

54:49

pelajarin itu ya metaing tuh apa ya?

54:53

Suatu zoom out terhadap segala keilmuan.

54:56

Oh

54:57

jadi peta ilmu itu di mana? Itu adalah

54:59

filsafat. Oh ini tuh ilmu ini di sini

55:01

ini letaknya di sini. Jadi bisa

55:02

memetakan dengan filsafat. Nah terakhir

55:05

antropologi ya. Kenapa ini gua mau ngjin

55:09

solving pendidikan Indonesia. Pendidikan

55:11

Indonesia itu terdiri dari ngerti

55:12

manusianya which is butuh antropologi

55:14

gitu kan. Ngerti caranya yang gua pilih

55:17

dengan teknologi which is IT-nya dan

55:19

filsafat untuk bisa ngelihat semua ilmu

55:21

ini jadi suatu ini

55:23

jadi lengkap tuh untuk jadi pendidikan

55:26

informatika ada, filsafatnya ada dan

55:29

antropologi untuk ng mansian.

55:31

Nah, ya setelah gua belajar

55:34

berantropologi,

55:36

antropologi itu nomor satu yang gua

55:38

pelajarin. Kapasitas manusia tuh gila

55:40

sebenarnya

55:41

per individual basis tuh gila banget.

55:44

Nah, cuman

55:46

kita berevolusi ya, berevolusi di zaman

55:49

yang scars apa ya? Scars tuh ee

55:52

kelangkaan gitu. ada ada scar city yang

55:54

tinggi. Nah, karena scar city yang

55:56

tinggi, orang-orang tuh harus dibuat

55:58

sadar akan perannya, sadar akan

56:01

tempatnya, sadar akan role-nya dan

56:02

segala macam. Dan itu dijadikan dalam

56:05

bentuk budaya.

56:06

Oh,

56:07

lu enggak boleh gini, lu enggak boleh

56:08

gitu, harus gini, harus gitu, segala

56:10

macam gini gini

56:10

penjara pikiran.

56:11

Yes.

56:14

Nah, itu semua jadi penjara pikiran loh

56:16

ya. Berbagai macam ya budaya itu yang

56:18

dalam bentuk kompleksnya logika mistika

56:19

yang kita kenal semua inilah gitu kan.

56:22

Nah, itu semua jadi penyab pikiran. Tapi

56:24

sebenarnya batasan-batasan apa?

56:26

Batasan-batasan aslinya ada enggak sih?

56:28

Enggak segitu terbatasnya ya. Batasan

56:31

fisika dan biologisnya ada L gitu. Tapi

56:33

itu bisa di-engineering. Kita sudah

56:34

punya medical system yang sudah canggih

56:36

gitu kan. Suplemen segala macam, diet

56:38

ini atau segala macam. Wah, banyaklah

56:40

yang bisa di-engineerin secara biologis,

56:42

secara fisikal segala macam. Kita sudah

56:44

punya teknologi yang bisa menjadi

56:45

ekstensi kita mencapai berbagai macam

56:47

hal ya kan. Mau pakai CBI segala macam

56:49

dengan correctly gitu kan. He makai

56:51

[tertawa]

56:52

makai AI dengan correctly ya itu semua

56:55

udah udah banyak alat-alat itu semua

56:57

tinggal seberapa. Nah ini yang paling

57:00

penting meta ya usernya

57:02

user

57:03

lu adalah lu adalah user dari diri lu.

57:05

Lu adalah user dari otak lo. Lu adalah

57:07

programmer dari diri lu sendiri. Bayang

57:09

enggak? Kalau lu belum bisa ngelihat

57:11

otak lu sendiri keterbatasan di mana dan

57:13

sebenarnya potensinya di mana, ya lu

57:15

enggak akan bisa makai dong.

57:17

Iya kan? Contoh misalnya siapa yang e I

57:19

don't know pakai software apa gitu

57:21

misalnya eh Excel deh gitu atau Google

57:23

Sheet atau whatever apa gitu. Lu tahu

57:25

enggak semua function-nya di mana? Engak

57:27

semua function enggak hafal kan yang lo

57:29

pakai cuman yang lu terbiasa itu-itu

57:31

lagi gitu kan. Yakinlah gua juga gitu

57:33

pasti gitu kan.

57:34

Nah lu bayangin kita terhadap otak kita

57:37

sebenarnya kayak gitu.

57:38

Oke

57:39

ya,

57:40

lu belum tahu batasan-batasannya gitu

57:42

loh. Nah, gue sebagai orang yang gua

57:45

enggak bisa bilang eksert, tapi gua

57:46

mendalami cukup lama gitu ya, mendalami

57:49

soal antropologi ya of course di situ

57:51

belajar neuroscience-nya, belajar

57:53

psychology-nya segala macam cara otak

57:55

bekerja lah gua ngelihat bahwa

57:58

gila sih ini gitu. Gila sebenarnya ke

58:02

apa potensi itu sebenarnya gila. Makanya

58:03

gua PD ini IQ segil SK PD gua gitu. The

58:06

main point is kita harus tahu batas kita

58:08

sampai mana baru apa ya bukan akumulate

58:10

tapi lebih ke harness batas tersebut

58:13

gitu.

58:13

Yes, harness that's the word. Oh,

58:15

jadi embrace apa yang ada di situ segala

58:18

macam dan yang membatasi tadi yang

58:21

menjarakkan lo itu tadi dengan segala

58:23

macam budaya segala macam lal ya lu

58:26

pecahin itu understanding bahwa lu punya

58:28

potensi yang gila ya udah ngelewatin

58:31

batasnya it's easier much easier jadi

58:35

sini kan kita lihat ada dua agensi ya

58:36

pertama kitanya keterbatasan lu untuk

58:39

melihat punya peta yang akuratnya untuk

58:40

lihat masalahnya nah ya udah dengan kita

58:44

ngerti potensi yang ada harness itu

58:47

kemudian lihat tentang realitas no

58:49

realitas yang beneran ada nih gimana dan

58:51

dari situ bisa ngelihat masalah-masalah

58:52

yang ada kita jadi fokus pada yang

58:54

penting-penting aja kalau bahasa Jones

58:56

YPPA ya. [tertawa] Nah,

59:00

gitu. Nah, itu bakal bisa jadi lebih

59:03

rapi, lebih enak, lebih cinc apa ya?

59:06

Cincai was the word gua gua enggak tahu

59:09

katanya. Tapi kalau gua gua sering cinc

59:11

lah ini gitu gitu loh ya. If you can see

59:15

ya dengan Zumat lebih oke. Alright.

59:18

Oke.

59:19

So far the conclusion for the lecture

59:21

today. Sharing today. [tepuk tangan]

59:24

Thank you so much. Semoga berguna.

59:28

Oke. So next ngapain kita? Sudah.

59:32

Oke

59:33

ya. Thank you ya.

59:38

Selamat datang.

59:39

Selamat datang.

59:39

Mau nyanyi lagu apa? [tertawa]

59:43

So, we start

59:45

y

59:45

dari permasalahan itu saya menawarkan

59:47

sebuah solusi kepada institusi perguruan

59:50

tinggi di Indonesia.

59:51

Apa yang diajarkan di kelas tidak

59:52

benar-benar melekat ke pikiran mereka

59:54

karena salah satu dominasi metode

59:57

presentasi ini sebagai metode

1:00:00

pembelajaran. Menurutku bentuk

1:00:01

pendidikan tinggi paling ideal adalah

1:00:03

pendidikan tinggi itu bisa menjadi

1:00:05

kanvas R&D bagi masyarakat untuk

1:00:07

menghasilkan valable output yang

1:00:09

dikolaborasikan oleh para ahli dan

1:00:11

mahasiswa.

1:00:11

Gua masih belum dapat kenapa yang lo

1:00:13

anggap masalah ini adalah masalah untuk

1:00:15

pendidikan tinggi.

1:00:16

Jadinya gue mempertanyakan ini orang

1:00:18

ngerti isinya enggak sih yang diomongin

1:00:20

atau lu emang terbiasa untuk

1:00:22

menghafalkan jargon-jargon lu pakai

1:00:24

supaya kita impress by your jargon itu

1:00:26

matriksnya itu enggak tepat sasaran

1:00:27

gitu. Nah, kalau kebohongan jadinya

1:00:30

kayak

1:00:32

sampai Bangsab dananya tadi kan coba

1:00:34

pakai gaya ngabers gitu. [tertawa]

1:00:41

Yeah.

More transcripts

Explore other videos transcribed with YouTLDR.

Get the TLDR of any YouTube video

Transcribe, summarize, and repurpose videos in 125+ languages — free, no signup required.

Try YouTLDR Free