0:00
Hai assalamualaikum warahmatullah
0:01
wabarakatuh Di video kali ini kita akan
0:04
belajar materi tentang persamaan
0:06
diferensial parsial kita mulai dengan
0:09
pendahuluan PDP yaitu persamaan
0:12
diferensial parsial yang akan kita
0:14
pelajari hari ini memegang peranan
0:16
penting di dalam penggambaran keadaan
0:18
fisis dimana besaran-besaran yang
0:21
terlibat di dalamnya berubah terhadap
0:23
ruang dan waktu apabila besaran-besaran
0:27
yang terlibat tersebut berubah terhadap
0:29
ruang makan nantinya akan muncul
0:32
variabel x y ini bila dua dimensi
0:37
ataupun Z ya xyz gila tiga dimensi dan
0:40
apabila berubah terhadap waktu makan
0:43
nanti akan ada variabel Taeyang
0:45
menggambarkan waktu tersebut sebagai
0:48
contoh jika kita akan meninjau
0:50
topik-topik fisika lanjut atau Advance
0:54
fisik seperti halnya mekanika klasik
0:56
lanjut yang membicarakan tentang
1:00
itik hidrodinamik dan mekanika kuantum
1:04
yaitu gelombang syuting er maka kita
1:07
akan menemukan penggunaan persamaan
1:10
diferensial parsial ini yang digunakan
1:12
untuk menggambarkan fenomena fisis yang
1:16
berkaitan dengan masalah-masalah
1:17
tersebut sehingga di sini pertama kita
1:20
akan belajar dulu tentang definisi dari
1:24
persamaan diferensial persamaan
1:26
diferensial biasa dan persamaan
1:29
diferensial parsial kita mulai dengan
1:31
persamaan diferensial yang sering
1:34
disingkat sebagai pede atau differential
1:37
equations yang disingkat sebagai di
1:41
persamaan diferensial ini adalah suatu
1:43
persamaan yang memuat satu atau lebih
1:46
turunan dari suatu fungsi yang tidak
1:48
diketahui terhadap satu atau lebih
1:51
variabel bebas jadi Disini yang saya
1:55
cetak tebal ini yang harus kita
2:00
pada persamaan diferensial persamaan
2:03
tersebut akan memuat satu atau lebih
2:06
turunan ya dari suatu fungsi yang tidak
2:09
diketahui di sini terhadap satu atau
2:12
lebih variabel bebas jadi jumlah turunan
2:16
dari suatu fungsi yang tidak diketahui
2:19
tersebut ada satu atau lebih dan
2:23
variabel bebasnya bisa satu ataupun
2:25
lebih ya saya disini persamaan
2:28
diferensial tersebut akan dibagi menjadi
2:30
dua yaitu Disini yang pertama adalah
2:33
persamaan diferensial parsial atau yang
2:36
Biasa disingkat sebagai PDB atau biasa
2:39
disebut sebagai ornery differential
2:41
equations atau Oji ya di sini persamaan
2:45
diferensial biasa adalah suatu persamaan
2:48
yang memuat satu atau lebih turunan dari
2:51
suatu fungsi yang tidak diketahui
2:53
terhadap satu buah variabel bebas jadi
2:57
yang perlu kita perhatikan disini adalah
3:00
dari variabel bebasnya hanya satu
3:03
sedangkan di sini pembagian persamaan
3:06
diferensial yang kedua adalah persamaan
3:08
diferensial parsial atau yang sering
3:10
disingkat sebagai PDP atau sering
3:13
disebut sebagai parcel differential
3:15
equations atau PDIP ini adalah suatu
3:18
persamaan yang memuat satu atau lebih
3:21
turunan dari suatu fungsi yang tidak
3:23
diketahui terhadap dua atau lebih
3:26
variabel bebas jadi kita perhatikan
3:28
disini bahwa jumlah variabel bebasnya
3:31
ada dua ataupun lebih jadi kita paham ya
3:34
beda dari persamaan diferensial biasa
3:36
dan parsial disini kalau persamaan
3:38
diferensial biasa jumlah variabel
3:40
bebasnya hanya ada satu sedangkan pada
3:43
persamaan diferensial parsial disini
3:45
jumlah variabel bebasnya bisa dua
3:47
ataupun lebih selanjutnya setelah kita
3:50
belajar tentang definisi dari persamaan
3:52
diferensial persamaan diferensial biasa
3:54
dan persamaan diferensial parsial maka
3:57
kita harus dapat mengklasifikasikan
4:00
contoh berikut Diah merupakan persamaan
4:02
diferensial biasa atau persamaan
4:04
diferensial parsial kita lihat pada
4:06
persamaan yang pertama di sini y aksen
4:09
ditambah X dikali y = x ^ x kita tahu
4:13
bahwa y aksen ini = d y dibagi DX
4:18
sehingga ia tersebut ya diturunkan
4:22
terhadap variabel bebas x y adalah
4:24
Variabel terikat atau variabel tak bebas
4:28
nya ya sedangkan x adalah variabel bebas
4:32
kita lihat di sini y aksen ditambah X
4:37
dikali y = x ^ x ini merupakan persamaan
4:43
diferensial biasa ya mengapa karena kita
4:47
perhatikan disini jumlah dari variabel
4:50
bebas yang terlibat ya dalam turunan
4:54
parsial tersebut hanyalah ada satu ya
4:56
yaitu X jadi yang bersamaan pertama ini
5:00
saya Tuliskan disini d y dibagi DX
5:03
ditambah x * y = x ^ x terlihat di sini
5:07
ya fungsi yang tidak diketahui yaitu y
5:09
dan variabel bebasnya adalah x sehingga
5:12
disini persamaan yang pertama disebut
5:15
sebagai persamaan diferensial biasa
5:17
Karena persamaan tersebut memuat turunan
5:21
parsial yaitu d y per DX dimana variabel
5:25
terikatnya adalah y dan jumlah dari
5:27
variabel bebasnya hanya ada satu yaitu X
5:31
kita lihat contoh yang kedua di sini Yep
5:34
double absen kuadrat ditambah x = y
5:38
aksen pangkat tiga ini juga merupakan
5:40
persamaan diferensial biasa Karena kita
5:44
perhatikan di sini ya double absen ini =
5:47
D kuadrat y per DX kuadrat ini
5:52
dikuadratkan ditambah X = d y per DX
6:00
tiga terlihat disini bahwa jumlah
6:03
variabel terikatnya ada satu yaitu y dan
6:07
jumlah variabel bebasnya juga ada satu
6:09
yaitu X sehingga disini persamaan
6:13
tersebut memuat satu buah variabel bebas
6:17
yaitu X sehingga termasuk persamaan
6:21
diferensial biasa kita lihat contoh yang
6:24
ketiga di sini ada y12 semya ditambah y
6:28
aksen min 3 y = 0 ini juga merupakan
6:32
contoh dari persamaan diferensial biasa
6:36
Karena variabel terikatnya itu yee di
6:39
sini ya tersebut diturunkan terhadap
6:43
satu buah variabel bebas yaitu X ya
6:46
untuk contoh yang keempat di sini Dek
6:49
kuadrat Q dibagi DT kuadrat dikurangi 3D
6:54
kiper DT ditambah 2q = Sin 2T ini juga
7:00
contoh dari PDB karena kita perhatikan
7:04
disini variabel terikatnya yaitu Ki ini
7:08
diturunkan terhadap satu buah variabel
7:11
bebas yaitu t sehingga disini persamaan
7:15
yang keempat ini merupakan contoh dari
7:18
persamaan diferensial biasa kita lihat
7:21
contoh yang kelima disini dok wadrat Z
7:24
dibagi do x kuadrat dikurangi Duck War Z
7:28
perdu y kuadrat = 0 ini merupakan contoh
7:31
dari persamaan diferensial parsial ya
7:35
Mengapa kita perhatikan di sini ada
7:38
variabel terikatnya ya yaitu disini z z
7:42
tersebut diturunkan terhadap dua buah
7:44
variabel bebas yaitu x&y sehingga jumlah
7:48
dari variabel bebas yang terlibat di
7:50
sini dalam turunan parsial nya ada dua
7:52
yaitu x&y Jadi jika ada persamaan yang
7:56
memuat turunan parsial dari suatu fungsi
8:00
karena jumlah dari variabel bebas yang
8:02
terlibat di dalamnya dua atau lebih itu
8:05
merupakan persamaan diferensial parsial
8:07
ya Sehingga jelas disini contoh yang
8:10
kelima ini merupakan persamaan
8:12
diferensial parsial selanjutnya untuk
8:16
contoh yang keenam di sini ada sebuah
8:18
persamaan yang memuat turunan parsial
8:21
dari suatu fungsi yang tidak diketahui
8:23
yaitu disini Utara sebut diturunkan
8:26
terhadap dua buah variabel bebas yaitu
8:29
x&y sehingga jumlah variabel bebas yang
8:32
terlibat dalam persamaan 6 tersebut ada
8:35
dua buah yaitu x&y sehingga jelas disini
8:39
bahwa persamaan keenam ini juga
8:41
merupakan persamaan diferensial parsial
8:44
selanjutnya akan kita bahas tentang Orde
8:48
dari suatu persamaan diferensial parsial
8:51
kita lihat di sini suatu persamaan
8:54
diferensial parsial akan berorde n jika
8:57
turunan ke-n nya merupakan
9:00
enam tertinggi yang termuat dalam
9:02
persamaan diferensial parsial tersebut
9:05
Nah kita lihat contohnya di sini untuk
9:07
persamaan yang pertama do kuadrat ur2 x
9:12
kuadrat + 2x y dikali Kandou kuadrat
9:16
upr.co y kuadrat + uh ini sama dengan
9:19
satu ini kita lihat disini bahwa turunan
9:24
tertinggi yang termuat dalam persamaan
9:27
diferensial parsial tersebut adalah
9:31
turunan kedua ya di sini do kuadrat Wu
9:35
perdopsi kuadrat dan di sini ada juga
9:38
Doh wadrat Uper doie kuadrat jadi
9:41
turunan tertingginya adalah dua sehingga
9:44
kita bisa katakan persamaan diferensial
9:47
parsial tersebut merupakan persamaan
9:49
diferensial parsial yang berorde 2 ya
9:52
karena persamaan tersebut memuat turunan
9:58
Hai selanjutnya untuk contoh yang kedua
10:00
di sini Dopod Ratu perdu x kuadrat + 5
10:04
dohu verdo y = x ^ x ini kita perhatikan
10:10
ya Ada dua buah turunan parsial yaitu
10:13
turunan parsial mesin yang pertama ini
10:15
kalau yang kedua adalah ini ya yang
10:18
pertama ini Do kuadrat overdue kuadrat
10:21
ini adalah turunan kedua ya turunan
10:24
kedua dari UU terhadap variabel bebas
10:27
eks ya sedangkan yang kedua disini
10:29
adalah turunan pertama dari variabel utr
10:36
hadavar ia bebas y sehingga turunan
10:38
tertingginya adalah turunan kedua disini
10:42
sehingga kita bisa katakan bahwa
10:43
persamaan diferensial parsial tersebut
10:45
merupakan persamaan diferensial parsial
10:48
yang berorde 2 selanjutnya kita lihat
10:52
disini untuk contoh yang ketiga do
10:58
y kuadrat dikurangi 2xz jika Lido
11:02
kuadrat z verdo y kuadrat pangkat 4 = 0
11:05
kita lihat di sini ada dua buah turunan
11:09
parsial ya untuk yang pertama di sini
11:11
turunan ketiga ya dari Variabel terikat
11:16
Z sedangkan yang kedua ini adalah
11:19
turunan kedua ya Sehingga PDP tersebut
11:23
merupakan PDP orde 3 ya karena turunan
11:26
tertinggi yang termuat dalam persamaan
11:29
diferensial parsial tersebut adalah
11:31
turunan ketiga kita lihat contoh yang
11:34
keempat di sini tiga dikali douze
11:37
terduga y kuadrat dikuadratkan ditambah
11:40
do pangkat 3 zetter do x kuadrat y = 0
11:45
ini merupakan persamaan diferensial
11:48
parsial yang berordo 3 karena kita
11:51
perhatikan disini terdapat dua buah
11:53
turunan parsial yaitu Disini yang
11:56
pertama turunan parsial nya adalah turun
11:58
kedua ya dari variabel z dan yang kedua
12:00
adalah turunan ketiga dari variabel Z
12:04
sehingga disini turunan tertingginya
12:06
adalah turunan ketiga sehingga disini
12:09
kita bisa katakan bahwa PDP tersebut
12:12
adalah PDP yang berorde tiga selanjutnya
12:15
setelah kita belajar tentang Orde dari
12:18
suatu persamaan diferensial parsial maka
12:20
kita akan lanjutkan pembahasannya
12:22
tentang derajat dari suatu persamaan
12:24
diferensial parsial suatu persamaan
12:27
diferensial parsial akan berderajat k
12:30
jika turunan tertinggi yang termuat
12:32
dalam PDB tersebut memiliki pangkat
12:35
tertinggi call kita lihat contohnya agar
12:37
kita lebih mudah untuk memahami di sini
12:40
ada persamaan diferensial parsial yang
12:42
pertama yaitu dop wadrat upr.co x
12:45
kuadrat + 2x y dok kuadrat Cooper doie
12:49
kuadrat + Usama dengan satu sudah kita
12:52
bahas bahwa persamaan diferensial
12:54
parsial tersebut adalah PDB yang berorde
12:58
Hai karena turunan tertingginya adalah
12:59
tingkat dua sedangkan di sini kita
13:02
perhatikan bahwa derajat dari PDB
13:04
tersebut adalah derajat 1 Mengapa karena
13:09
turunan tertinggi yang termuat dalam PDP
13:12
tersebut yaitu disini turunan kedua
13:15
yaitu memiliki pangkat tertinggi satu
13:18
jadi disini kalau kita perhatikan bahwa
13:21
turunan tertingginya itu memiliki
13:24
pangkat tertinggi satu ya ini sama-sama
13:26
memiliki pangkat-1 sehingga jelas disini
13:29
bahwa PDP yang pertama tersebut adalah
13:31
PDP yang berderajat zat kita lihat
13:35
contoh yang kedua ini adalah PDP yang
13:38
berorde 2 seperti yang sebelumnya sudah
13:42
kita bahas ya karena turunan tertinggi
13:45
dari PDP tersebut itu adalah turunan
13:50
tingkat buah ya Sehingga disini ordernya
13:52
adalah orde 2 sedangkan kita perhatikan
13:55
bahwa derajatnya adalah derajat 1
13:58
Oh iya mengapa karena kita lihat bahwa
14:01
turunan tertingginya yaitu turunan 2 ini
14:05
ini memiliki pangkat-1 sehingga jelas
14:08
disini PDB yang kedua ini adalah PDP
14:11
orde-2 yang memiliki derajat satu kita
14:14
perhatikan contoh yang ketiga disini
14:17
sudah kita bahas bahwa PDP tersebut
14:21
adalah PDP yang memiliki orde 3 ya
14:24
karena turunan tertinggi yang termuat
14:26
dalam persamaan tersebut adalah turunan
14:29
tingkat 3 ya kita perhatikan bahwa
14:31
turunan tertingginya yaitu tingkat 3
14:33
tersebut itu berpangkat satu yah jadi
14:37
ini pangkatnya satu sehingga kita bisa
14:40
katakan bahwa PDP tersebut adalah PDP
14:43
yang berderajat satu ya Jadi kenapa
14:46
bukan empat di sini ya karena Disini
14:50
yang dipangkatkan 4 adalah turunan
14:52
parsial tingkat dua ya sedangkan turunan
14:54
parsial tingkat dua ini bukan merupakan
14:58
dalam persamaan diferensial parsial
14:59
tersebut yang tertingginya adalah ini ya
15:02
yang merupakan turunan ketiga ya
15:06
Sehingga Disini yang kita lihat adalah
15:08
pangkat dari turunan parsial
15:10
tertingginya yaitu satu sehingga seperti
15:14
yang sudah saya katakan di sini
15:15
persamaan ketiga ini adalah PDP yang
15:18
berordo 3 berderajat satu kita lihat
15:23
contoh yang keempat disini sudah kita
15:25
bahas sebelumnya bahwa PDB tersebut
15:27
adalah PDP yang berorde 3 ya karena
15:31
turunan tertingginya ya turunan parsial
15:33
tertinggi yang permodalan PDP tersebut
15:36
adalah turunan tingkat 3 sedangkan kita
15:39
lihat bahwa pangkat dari turunan
15:41
tertingginya di sini adalah pangkat-1 ya
15:43
sehingga kita sebenarnya sudah terlihat
15:45
ya turunan parsial tertinggi dari
15:49
persamaan tersebut adalah turunan ketiga
15:51
dan persamaan tersebut memuat turunan
15:58
berpangkat satu ya sehingga kita bisa
16:00
katakan bahwa PDP tersebut adalah PDP
16:03
yang berderajat satu selanjutnya setelah
16:06
kita bahas tentang Orde dan derajat dari
16:10
suatu persamaan diferensial parsial Maka
16:12
selanjutnya akan kita bahas tentang
16:14
linearitas dari suatu persamaan
16:16
diferensial parsial kita lihat disini
16:19
bahwa suatu persamaan diferensial
16:21
parsial akan dikatakan linier jika yang
16:25
pertama fungsi yaitu fungsi yang tidak
16:28
diketahui dalam suatu persamaan
16:30
diferensial parsial ya dan David
16:32
derivatif derivatif parsial nya itu
16:34
berpangkat satu atau yang kedua di sini
16:37
koefisien suku pada PDP itu hanya
16:40
bergantung pada variabel bebas atau
16:42
konstanta dan jika tidak demikian maka
16:44
persamaan diferensial parsial tersebut
16:47
merupakan persamaan diferensial parsial
16:49
yang non linier atau tidak diet
16:53
Ayo kita lihat di sini setelah kita tahu
16:57
tentang linearitas dari PDB maka kita
17:00
harus bisa menentukan apakah suatu
17:02
persamaan diferensial parsial itu
17:04
termasuk persamaan diferensial parsial
17:07
yang linear ataupun yang nonlinear ya
17:09
kita lihat yang pertama di sini do
17:12
kuadrat ur0 oex kuadrat + 2x y dukotu
17:17
perdo y kuadrat + Usama dengan satu
17:20
sudah kita bahas sebelumnya bahwa PDP
17:23
tersebut itu berorde 2 ya karena turunan
17:25
tertinggi yang termuat dalam turunan
17:29
parsial tersebut adalah turunan kedua
17:31
dan derajatnya adalah satu karena
17:33
turunan parsial tertingginya itu
17:36
memiliki ^ 1 dan kita lihat bahwa setiap
17:40
fungsi yang tidak diketahui ataupun
17:43
turunan parsial nya ini berpangkat satu
17:45
ya kita perhatikan disini ini turunan
17:48
parsial dari unyai ini berpangkat satu
17:51
ataupun di sini suku
17:53
yang merupakan variabel terikatnya yaitu
17:57
UU ini juga berpangkat satu sedangkan
18:00
yang kedua kita perhatikan bahwa setiap
18:03
suku itu bergantung pada variabel bebas
18:09
ataupun konstanta kita lihat di sini ini
18:12
adalah kau seni adalah konstanta yaitu
18:16
satu disini juga ksenia adalah 2x y
18:20
dimana X dan Y adalah variabel bebas dan
18:24
disini punya juga koefisiennya satu ya
18:28
maka disini kita bisa katakan bahwa
18:31
persamaan diferensial parsial yang
18:33
pertama ini merupakan persamaan
18:34
diferensial parsial yang linier ya
18:37
karena setiap fungsi yang tidak
18:40
diketahui ataupun turunan parsial nya
18:42
itu berpangkat satu tidak ada suku yang
18:47
bergantung pada variabel terikatnya
18:49
sehingga jelas disini pada persamaan
18:53
Hai makan persamaan diferensial parsial
18:55
yang linier untuk yang kedua di sini do
18:59
kuadrat Cooper the x kuadrat + 5 Doppler
19:03
doie ini = x ^ x ini adalah PDP orde dua
19:08
ya karena turunan parsial eh
19:12
tertingginya ya ini memiliki pangkat 2
19:15
dan kita perhatikan bahwa turunan
19:18
parsial tertingginya itu berpangkat satu
19:22
sehingga disini merupakan PDP yang
19:25
berderajat satu ya kita perhatikan
19:27
disini setiap fungsi yang tidak
19:30
diketahui yaitu UU atau pun turunan
19:34
parsial nya itu berpangkat satu ya Jadi
19:41
hai lalu yang kedua di sini juga
19:42
berpangkat satu yang kedua di sini
19:45
setiap sukunya itu bergantung pada suatu
19:49
konstanta atau variabel bebas ya di sini
19:52
konstanta ini juga konstanta ya sehingga
19:56
kita bisa katakan PDP yang kedua ini
19:58
adalah PDP yang linier untuk yang ketiga
20:02
di sini kita perhatikan bahwa PDB
20:06
tersebut adalah PDP yang berorde 3 dan
20:09
berderajat satu ya karena turunan
20:11
tertinggi dari persamaan tersebut adalah
20:15
turunan parsial tingkat 3 ya dan turunan
20:18
parsial tertinggi tersebut itu bermimpi
20:22
pangkat-1 ya sehingga disebut sebagai
20:23
PDP berderajat satu kita perhatikan
20:27
bahwa koefisien dari suku yang kedua
20:30
yaitu disini min 2 x z
20:34
Hai dikali 2 kuadrat z verdo y kuadrat
20:37
pangkat 4 ini memiliki koefisien yang
20:42
mengandung atau memuat Variabel terikat
20:47
Hai dan disini double ini
20:50
Hai slime ada suku yang bergantung pada
20:54
variabel terikat Z di sini ada turunan
20:58
parsial yang berpangkat tidak satu yaitu
21:01
berpangkat tempat sehingga jelas PDB
21:04
tersebut merupakan PDP yang nonlinier
21:07
selanjutnya untuk persamaan keempat di
21:10
sini tiga dikali Doh kuadrat z pardo y
21:13
kuadrat dikuadratkan ditambah do pangkat
21:17
3 zr2 x kuadrat 2 y = 0 kita sudah bahas
21:22
sebelumnya bahwa PDP tersebut adalah PDP
21:25
yang berorde tiga karena turunan parsial
21:29
yang terkandung dalam persamaan tersebut
21:30
adalah turunan ketiga dan karena turunan
21:34
parsial tertingginya itu memiliki
21:37
pangkat-1 maka disini PDP tersebut
21:40
adalah PDP yang berderajat satu kita
21:43
perhatikan bahwa disini terdapat turunan
21:48
Hai memiliki pangkat dua ya Sehingga
21:52
disini kita bisa katakan bahwa PDP pada
21:56
persamaan 4 tersebut merupakan PDP yang
21:59
nonlinear ya karena terdapat turunan
22:01
parsial yang memiliki pangkat lebih dari
22:03
satu selanjutnya di sini kita lihat
22:06
contoh yang kelima do kuadrat Z perdu y
22:10
kuadrat pangkat 3 ditambah 3 dikali dop
22:13
angkat 3z per do X dikali 2 y kuadrat =
22:17
X kita perhatikan bahwa pada persamaan
22:20
diferensial parsial tersebut memuat
22:24
turunan parsial yang merupakan turunan
22:28
parsial tingkat tiga yaitu turunan
22:31
parsial yang tertinggi dalam persamaan
22:36
diferensial parsial tersebut sehingga
22:38
kita bisa katakan bahwa persamaan
22:40
diferensial parsial tersebut memiliki
22:42
orde 3 kita perhatikan bahwa turunan
22:46
parsial dengan tingkat tertinggi
22:48
angkatnya adalah satu sehingga derajat
22:50
dari PDB yang kelima ini adalah derajat
22:54
satu selanjutnya disini pada persamaan
22:57
diferensial parsial yang kelima ini
22:59
memuat turunan parsial yang berpangkat
23:04
lebih dari satu yaitu tiga Oleh karena
23:07
itu disetting kita bisa katakan bahwa
23:09
PDP yang kelima ini adalah PDP yang
23:11
nonlinear setelah kita bahas tentang
23:14
linearitas dari suatu persamaan
23:15
diferensial parsial Maka selanjutnya
23:17
akan kita bahas tentang persamaan
23:19
diferensial parsial homogen dan
23:21
nonhomogen sebuah persamaan diferensial
23:24
parsial itu akan dikatakan sebagai
23:26
persamaan diferensial parsial yang
23:28
homogen jika semua suku akan memuat
23:31
fungsi yang tidak diketahui atau turunan
23:34
parsial nya jika tidak demikian maka PDP
23:38
tersebut dikatakan sebagai PDP yang
23:42
nonhomogen kita lihat contohnya untuk
23:45
persamaan yang pertama ini seperti yang
23:47
kita bahas sebelumnya
23:48
Oke debit tersebut adalah PDP yang
23:51
memiliki orde-2 berderajat satu linier
23:55
dan kita perhatikan bahwa ini adalah PDP
23:58
yang nonhomogen ya karena terdapat suku
24:04
Hai suatu fungsi ataupun turunan parsial
24:08
nya ya jadi disini ada suku yaitu disini
24:13
11 tersebut tidak memuat fungsi yang
24:17
tidak diketahui yaitu uh ataupun turunan
24:19
parsial dari uh sehingga disini PDP yang
24:22
pertama ini adalah PDP yang nonhomogen
24:25
untuk yang selanjutnya disini PDP yang
24:28
kedua ini juga merupakan PDP yang non
24:32
homogen karena disini kita perhatikan
24:35
untuk suku pertama ini membuat turunan
24:37
parsial dari Variabel terikat uh ya di
24:41
sini suku yang kedua juga membuat
24:42
turunan parsial akan tetapi disini
24:45
terdapat suku yaitu e pangkat x yang
24:49
tidak memuat variabel yang tidak
24:52
diketahui yaitu uh ataupun turunan
24:54
parsial Nya sehingga disini kita bisa
24:58
katakan bahwa PDP tersebut adalah PDP
25:04
Hai untuk contoh yang ketiga di sini
25:06
kita perhatikan bahwa semua suku itu
25:09
memuat suatu fungsi yang tidak diketahui
25:15
yaitu Z ataupun turunan parsial nya ya
25:17
ini suku yang pertama ini memuat turunan
25:19
parsial tingkat 3 lalu suku yang kedua
25:22
ini juga memuat turunan parsial tingkat
25:24
dua yang bergantung pada variabel Z juga
25:28
disini sehingga disini kita bisa katakan
25:32
bahwa PDP yang ketiga ini adalah PDP
25:34
yang homogen selanjutnya disini untuk
25:37
PDP yang keempat ini juga merupakan PDP
25:40
yang homogen karena setiap suku itu
25:45
Hai suatu fungsi yang tidak diketahui Z
25:47
ataupun turunan parsial nya kalau disini
25:50
yang keempat ini memuat turunan parsial
25:51
nya ya Sehingga disini kita bisa katakan
25:54
bahwa PDP tersebut adalah PDP yang
25:57
homogen untuk PDP yang kelima kita
26:00
perhatikan disini terdapat suku yang
26:03
tidak memuat suatu fungsi yang tidak
26:06
diketahui ataupun turunan parsial nya
26:08
itu X ini adalah variabel bebasnya ya
26:10
sehingga kita bisa katakan bahwa PDP
26:14
yang kelima ini adalah PDP yang non
26:16
homogen karena terdapat suku yang tidak
26:19
memuat suatu fungsi yang tidak diketahui
26:22
ataupun turunan parsial nya selanjutnya
26:24
kita tahu bahwa bentuk umum dari
26:27
persamaan diferensial parsial linear
26:29
orde dua adalah sebagai berikut yaitu a
26:32
dikali 2 kuadrat ur2 x kuadrat ditambah
26:37
B dikali 2 kuadrat Huper do x 2 y
26:40
ditambah C dikali 2 kuadrat Uper doie
26:45
Ma dengan nol dengan a-b-d-e dan C
26:49
adalah fungsi dari variabel bebasnya
26:52
yaitu x&y sedangkan D ini adalah fungsi
26:56
dari X Y UN ataupun kuy UX disini kita
27:02
bisa Tuliskan sebagai doper doex jadi
27:06
turunan parsial Variabel terikat puter
27:09
hadap variabel bebas X
27:13
Hai dan disini doie itu bisa kita
27:15
Tuliskan sebagai double doie ya dimana
27:20
disini double doie tersebut adalah
27:22
turunan parsial dari variabel yang tidak
27:24
diketahui ku terhadap variabel bebas
27:28
Ayo kita lihat bahwa klasifikasi dari
27:31
persamaan diferensial parsial yang
27:33
linier dan berorde 2 itu bisa dibagi
27:38
menjadi tiga yaitu yang pertama adalah
27:40
persamaan diferensial parsial yang
27:42
hiperbolik jadi suatu persamaan
27:44
diferensial parsial itu disebut sebagai
27:47
persamaan diferensial parsial yang
27:48
hyperbolic jika nilai b kuadrat min 4 AC
27:52
itu lebih dari nol B itu apa silakan
27:56
diperhatikan bahwa b adalah koefisien
27:58
dari Dukuh adrat ur2 x-2y sedangkan a di
28:03
sini adalah koefisien dari dokudrama
28:05
tahu berdoa x kuadrat dan C adalah
28:08
koefisien dari dokudrama Cooper doie
28:11
kuadrat ya di sini Jika nilai b kuadrat
28:14
min 4 Aceh itu lebih dari 60 yaitu
28:17
positif maka PDB tersebut disebut
28:20
sebagai PDP yang hyperbolic yang kedua
28:23
PDP itu disebut sebagai PDP yang
28:25
parabolic jika nilai b kuadrat minus
28:28
ACnya itu = 0 dan yang ketiga di sini
28:32
PDP itu disebut sebagai PDP lipstik itu
28:36
jika nilai b kuadrat min 4 Asin itu
28:39
kurang dari nol jadi nanti silahkan
28:41
diperhatikan nilai a b dan c yang
28:46
terdapat pada persamaan diferensial
28:49
parsial linear orde dua tersebut
28:50
kemudian dihitung nilai b kuadrat min 4
28:52
AC Kemudian dari nilai b kuadrat min 4
28:55
Aceh tersebut bisa kita tentukan jenis
29:00
dari PDB tersebut merupakan PDP yang
29:03
seperti apa ya Apakah hiperbolic
29:05
paraboloid ataupun eliptik Jadi
29:08
tergantung dari nilai b kuadrat min 4
29:10
lacinya seperti yang sudah saya
29:13
sampaikan tadi jika positif Maka nanti
29:15
akan merupakan PDB yang hyperbolic jika
29:18
sama dengan nol itu merupakan PDB yang
29:20
parabolic dan jika nilainya kurang dari
29:25
Hai atau termasuk dalam PDB yang eliptik
29:29
kita lihat contohnya di sini contoh yang
29:32
pertama yaitu do kuadrat upr.co kuadrat
29:35
= C kuadrat dikali 2 kuadrat Cooper the
29:40
x kuadrat kita perhatikan bahwa nilai
29:44
Anya adalah negatif C kuadrat silahkan
29:48
diperhatikan kita bawa ke ruas kiri
29:50
semua ya berarti kita bisa Tuliskan
29:52
negatif C kuadrat.doc kuadrat Huper the
29:56
x kuadrat lalu ditambah Dukuh adrat
30:01
upr.co kuadrat ini sama dengan nol
30:03
sehingga nilai Anya adalah negatif C
30:06
kuadrat nilai b nya ini nggak ada ya 0
30:09
dan nilai c-nya yaitu satu ya karena
30:13
disini koefisien dari Doh kuadrat upr.id
30:17
kuadrat adalah satu sehingga kita bisa
30:19
hitung di sini nilai b kuadrat min 4
30:22
Aceh yaitu nol kuadrat min 4 kali cuy
30:25
C kuadrat kali satu yaitu nol ditambah
30:30
ini negatif kali negatif maka disini
30:32
positif Ya positif 4C kuadrat sehingga
30:36
nol ditambah 4 y kuadrat hasilnya adalah
30:39
4C kuadrat kita tahu disini C kuadrat
30:43
ini adalah eh bilangan kuadrat y
30:46
sehingga hasilnya pasti positif
30:48
dikalikan 4 Maka hasilnya juga pasti
30:51
positif yang lebih dari nol Oleh karena
30:55
itu disini karena nilai b kuadrat min 4
30:57
ac-nya itu lebih dari 60 maka PDB
31:00
tersebut adalah PDP yang hyperbolic
31:03
selanjutnya untuk contoh yang kedua di
31:05
sini Duh upr.co = C kuadrat Dou kuadrat
31:11
upr.co x kuadrat kita lihat di sini sama
31:15
seperti tadi ya jika ini dibawa ke ruas
31:18
kiri semua maka akan membentuk persamaan
31:20
diferensial sebagai berikut ya yaitu
31:23
disini negatif C kuadrat
31:25
Aduh kuadrat Cooper do x kuadrat + doubt
31:31
r.lt sama dengan nol kita perhatikan
31:35
bahwa nilai Anya adalah negatif C
31:37
kuadrat nilai b nya itu enggak ada yah0
31:40
c-nya juga nol Ya karena disini tidak
31:43
ada suku do kuadrat up2t kuadrat singa
31:49
kita bisa hitung di sini nilai b kuadrat
31:51
min 4 Aceh yaitu nol kuadrat min 4 kali
31:54
min C kuadrat kali nol yaitu nol
31:57
ditambah nol ya Maka hasilnya adalah nol
32:01
karena nilai b kuadrat min 4 Aceh ini
32:03
sama dengan nol maka PDP yang kedua ini
32:06
merupakan PDP yang parabolic untuk
32:09
contoh yang ketiga disini do kuadrat uh
32:12
verdo x kuadrat ditambah dua kuadrat ur2
32:16
y kuadrat = 0 ini kita lihat disini
32:21
bahwa koefisien dari dokwo drat Cooper
32:25
satu sehingga nilai Anya adalah satu
32:28
sedangkan di sini tidak ada suku Bro
32:32
kuadrat overdo x-2y sehingga di sini
32:35
bedanya adalah 0 dan disini do kuadrat
32:38
overdo y kuadrat ini kawinnya adalah
32:40
satu sehingga c-nya adalah satu sehingga
32:43
kita bisa hitung di sini nilai b kuadrat
32:45
min 4 Aceh yaitu amal kuadrat min 4 ya
32:49
kalianya adalah satu kali c-nya adalah
32:52
satu ya Sehingga di sini kita tulis
32:53
empat kali satu kali 10 kuadrat hasilnya
32:57
adalah nol sedangkan di sini Min 4 kali
33:01
satu kali satu adalah Min 4 y sehingga 0
33:03
dikurangi 4 hasilnya adalah Min 4 ini
33:06
negatif ya Otomatis kurang dari nol maka
33:09
PDB tersebut yang ketika ini merupakan
33:11
PDP eliptik karena nilai b kuadrat min 4
33:15
ac-nya kurang dari nol di akhir
33:18
perkuliahan disini terdapat tugas yang
33:21
harus kalian kerjakan silakan dikerjakan
33:23
di dalam kertas folio kemudian skenda
33:25
Wulan dalam Google classroom sekian
33:28
video kali ini Terima kasih atas
33:30
perhatiannya kita akan berjumpa lagi di
33:33
lain kesempatan mohon maaf apabila
33:34
terdapat kesalahan Wassalamualaikum
33:36
warahmatullah wabarakatuh