[SFT 2026] Design Thinking Workshop #3 : Prototype & Solution Refinement
[musik]
[musik]
[musik]
[musik]
[musik]
[musik]
[musik]
[musik]
[musik]
[musik]
[musik]
[musik]
[musik]
[musik]
[musik]
[musik]
[musik]
[musik]
[musik]
[musik]
[musik]
[musik]
[musik]
Recording in progress. [musik]
[musik]
[musik]
[musik]
[musik]
[musik]
[musik]
Yeah.
[musik]
[musik]
[musik]
[musik]
[musik]
[musik]
[musik]
[musik]
[musik]
[musik]
[musik]
[musik]
[musik]
[musik]
[musik]
[musik]
[musik]
[musik]
[musik]
[musik]
[musik]
[musik]
[musik]
[musik]
[musik]
[musik]
[musik]
[musik]
[musik]
[musik]
[musik]
[musik]
[musik]
[musik]
[musik]
Yeah.
[musik]
[musik]
[musik]
[musik]
[musik]
[musik]
[musik]
[musik]
[musik]
He.
[musik]
[musik]
[musik]
[musik]
[musik]
[musik]
[musik]
[musik]
[musik]
[musik]
[musik]
[musik]
[musik]
[musik]
[musik]
[musik]
[musik]
[musik]
[musik]
[musik]
[musik]
[musik]
[musik]
H
[musik]
[musik]
[musik]
[musik]
[musik]
[musik]
Selamat pagi teman-teman, Bapak, Ibu
Guru. Gimana nih kabarnya pagi ini?
Semoga semuanya sehat dan penuh energi
ya. Selamat datang kembali di workshop
Samsung S for tomorrow 2026. Perkenalkan
aku Angita yang bakal jadi moderator
untuk sesi hari ini. Nah, sebelum aku
memulai kelas, aku mau tahu dulu nih
gimana mood teman-teman hari ini. Boleh
dong kasih reaction-nya di kolom chat
atau di reaction emoji.
Oke, mantap ya ini. Wah, ramai banget
ya. Mantap. Semangat pagi ya,
Teman-teman. Oke, sebelum kita mulai ada
beberapa hal kecil yang mau aku ingetin
terlebih dahulu. Dimohon untuk Bapak,
Ibu, teman-teman mic-nya di-mute
terlebih dahulu dan jangan lupa untuk on
cam pakai virtual background yang udah
disediakan biar makin kecek juga di
kamera. Nah, buat yang belum rename nama
nih boleh disesuaikan lagi untuk Bapak
Ibu guru silakan menggunakan format nama
namainstansi. Dan teman-teman siswa,
mahasiswa itu bisa pakai format nama
nama tim seperti itu. Kemudian aku juga
mau ngingetin kembali untuk Bapak, Ibu,
teman-teman jangan lupa untuk
diduplicate miro yang udah dibagikan.
Nah, untuk link sama tutorialnya itu
udah dilihat di grup Telegram yang sudah
dibagikan oleh teman-teman admin. Nah,
ini juga enggak kalah penting. Jangan
sampai leave meeting duluan ya, karena
link feedback dan juga post teks itu
akan dibagikan di akhir sesi. Lalu kalau
ada pertanyaan selama materi itu boleh
banget langsung aja tulis di slido yang
akan dibagikan oleh teman-teman admin di
kolom chat atau rise hand tapi saat sesi
Q&A nanti ya, bukan sekarang
teman-teman. Begitu. Oke, aku cek dulu
kali ya mentor kita hari ini, Mas Kusuma
apakah sudah standby di room?
Sudah. Selamat pagi, Mbak Gita.
Pagi, Mas. Gimana kabarnya hari ini nih,
Mas?
Semangat, semangat, semangat. [tertawa]
Sudah semangat diketemu teman-teman.
Semangat terus ya. Udah day three, ya,
Mas, ya. Oke, kayaknya teman-teman udah
enggak sabar juga nih, Mas, buat belajar
bareng Mas Kusuma lagi. Tanpa
berlama-lama, aku serahkan waktu dan
tempatnya ke Mas Kusuma. Silakan, Mas.
Oke, thank you, Mbak Gita. Selamat pagi,
Bapak, Ibu, dan rekan-rekan
ee partisipan Samsung S for tomorrow.
Ya,
kita masuk ke sesi ketiga hari ini. Ee
semoga masih semangat ee dan mungkin
boleh cek ombak dulu nih dari
teman-teman. Kalau sudah ready boleh
kasih
apa
boleh kasih thumbs up. Boleh, Pak kasih
love. Ayo emote-nya yang banyak
biar layarnya penuh nih. Wah,
oke. Mantap.
Oke, semangat ya.
Nah, karena udah semangat aku izin share
screen dulu sebentar.
Kita
hari ini akan melanjutkan
materi kemarin.
Ups. Oke,
sudah terlihat ya.
Oke.
Nah, kita masuk ke
fase berikutnya ya, di mana kita akan
belajar mengenai prototype and test.
Nah, tapi sebelum kita masuk ke
prototype and test buat teman-teman,
kita recap dulu nih pembelajaran kemarin
ya.
Masih ingat enggak materi minggu lalu
kita membahas
kira-kira pembelajarannya apa aja yang
kalian sudah serap kemarin ya
atau mungkin sudah lupa mungkin
[tertawa]
karena seminggu kesibukan sudah lupa
mungkin ya.
Oke define edit. Nah, oke nice
oke divine.
Oke, masih ingat ya
Crazy. Nah, apa nih? Kok ketawa dia?
Wah, [tertawa]
materinya nempel bet. Oke, masuk.
Oke, apalagi nih selain defend andate
kalian apa yang berkesan di pertemuan
sebelumnya buat teman-teman
gambar. Oh, iya gambar ini ya crazy-nya
ya.
Cepat-cepatan [tertawa]
cepat-cepat ya kemarin 8 menit ya.
Oke,
misi mirror. Oke, define andate. Oke,
nice. Oke, kayaknya kalian eh
teman-teman dan Bapak Ibu sekalian
sepertinya sudah nyantau itu ya
pembelajaran kemarin ya. Oh, ini ada ada
aturan brainstorming. Oke, nice. Ya,
kalian belajar banyak hal ya. Nah,
mungkin kita recap sebentar proses dari
idea menjadi sebuah produk ya. Nanti itu
seperti apa sih gambarannya? Kita nonton
dulu sebentar biar ee kita manesin otak
kita dulu ya biar ee apa? Makin nyantol
nih nanti di sesi ini. Oke, kita nonton
dulu. We explore the problem and observe
with an open mind.
For our project, Ken and Sean from the
Grobem team fly out to Los Angeles to
study my environment and how I work. We
did the same study with my mentor Chryst
from both of these sessions, we quickly
noticed some overlap and challenges when
it comes to note taking a big part of
our daily work. As a follow-up to these
inperson interviews, we conduct a series
of online surveys with Grogmade's email
list.
We ask questions to learn how people
take notes, [musik] what their workflow
and tools are, and what challenges they
face. From all of these, we were able to
make the following observations. First,
[musik] taking notes is essential to our
daily work using notepads or whatever
paper is on our desk. Second, we don't
have a good way to store our notes,
which usually leaves a mess on our desks
or are hidden out of sight, out of mind.
[musik]
Third, people tend to keep important
notes for 3 to 5 days while processing
them. [musik]
With these core insights and many more,
we move on to the next phase, define.
Here we make sense of our discoveries
and focus on the right problem to solve.
While the previous phase was all about
expansive thinking, now we're narrowing
things down till we have a clear design
challenge. I fly out to Portland to
review our insights with the Grb team.
Here we kick things around and ask
ourselves, what are the common insights
and pain points? Does this seem like a
big enough problem that others face? Are
there already solutions on the market?
And is this something we're excited
about? After much discussion, we land on
the following as a challenge we want to
address. How can we design a better way
to capture, review, and store notes?
With a clear design challenge
established, we move on to the next
phase, develop. Here we go back into an
expansive way of thinking. Now exploring
potential solutions. [musik]
We continue to work remotely running
whiteboard sessions digitally in Miro.
For a few weeks, we set time aside to
sketch ideas, share research, and add
[musik] to each other's work. For me,
this is the fun part of the process
because it's loose, fast, and it's
exciting to see possibilities [musik]
rather quickly.
In Portland, some of Sean's sketches
include quick prototypes made of
cardboard, [musik] old scraps, and 3D
printing, which he sends to me for a
review. One unexpected challenge in this
process comes up [musik] with the
notepad paper stock, and we spend a few
weeks trying to find the perfect
thickness that would stand up on its own
without feeling excessive
like carden stock. [musik]
This entire process takes several months
of cycles to complete. We refine the
ideas we like, test them out, then make
adjustments to the form and function,
dialing in the details of dimensions,
angles, [musik] and materials. We settle
on a direction that involves a set of
tools that work together, [musik] an
updated notepad size from a previous
grove made design, a stand to hold
[musik] notes, and a divider to store
them. Now, we move into the last phase
of creating the [musik] product,
deliver. the implementation of taking
the prototype and turning [musik] it
into a production model. This is the
last part of the design process and
we're [musik] back into convergent
thinking. We know what the solution is.
Now the focus is building [musik] it the
right way. This whole process takes
months. It's largely out of my hands and
now under the care of the implementation
team at Grobemade. They finalize the
sourcing of materials, [musik]
develop how each piece will be made, and
the processes for assembly, determining
the cost to make each piece.
[musik]
This slightly influences the final
design and price, but not by much since
Sean and Ken [musik] kept manufacturing
in mind as we went through the earlier
phases. After several months,
Groveemmaid sends me the final product,
which I'll give a detailed review of at
the end of the video.
As the implementation team at GroveMate
is completing the manufacturing of the
products, there's a few more things we
have to take care of to get the product
ready to sell. naming, messaging, and
marketing. Naming is such a critical
part of bringing a product to market
because it helps define its [musik]
identity. For us, we have to name the
individual products we've created as
well as the name of the collection
[musik]
since they'll be sold individually and
as a group. Our criteria are to fit
within the naming conventions of other
groade products, [musik]
communicate what it does, is nice to
say, and looks good when types set, and
[musik] uses words that are common in
the market, but utilize any distinctions
that set it apart. Just like the double
diamond approach we use for design,
[musik] we follow a similar approach
here. We start by writing down whatever
comes to mind, then curate the words and
phrases we like. From there, we expand.
researching words that carry [musik] the
same meaning, then combine, edit, and
try out sets of words together until we
land on these. The note taking kit,
notepad, display rail, and vertical
organizer. [musik]
They they might seem simple, but there's
a lot of consideration into how they
live [musik] in the current and future
groveem made lineup and where they might
appear when searching for these items
online. With the names established, we
move on to messaging. These are the core
talking points to communicate the
essence of the products. I take the lead
on this because marketing and content is
my area of expertise and what I bring to
the collaboration. In this [musik] step,
I try to keep the language clear and
direct to answer the core questions we
need to understand before marketing.
What is the product? [musik]
How does it work? Who is it designed
for? And why is it valuable? Going back
to our research and surveys, I put my
head into the mind of our users.
thinking of their pain points [musik]
and goals when it comes to note taking.
The core messaging I land on is [musik]
this. The note taking kit is a set of
tools to help you capture, review, and
recall your [musik] notes. Clear the
clutter, organize your ideas, keep your
tasks top of mind.
Now that we know what we'll talk about,
we move on to how we'll say it. The
messaging translates into the
copywriting on the website and packaging
as well as [musik] the story for videos
and media were creating to generate
awareness and excitement [musik] for the
product. Since Grove and I have spent
years developing an audience [musik] on
ya tadi gambarannya ya teman-teman ya.
Jadi prosesnya e menggunakan double
diamond. Kemarin teman-teman sudah
belajar juga dan sebenarnya teman-teman
sudah praktikin sampai ke fase tadi ya
menentukan naming dan juga eh key
message-nya. Nah, kemarin kan kalian
sampai bikin logonya ya. Nah, sebenarnya
bagian inilah eh teman-teman sudah
memproduce
dari idea menjadi sebuah produk yang
ready to
eh develop gitu ya atau konsepnya udah
jadi tinggal kalian bahkan prototype-nya
mungkin udah kebayang. Nah, hari ini
kita akan ee cobain bagaimana
teman-teman bisa membangun visualnya
menjadi sebuah produk gitu ya. Oke.
Baik. Nah, eh sebagai gambaran tadi ya
kan dia berangkatnya dari Homight W ya
tadi ya si GroveMate tadi ya. Jadi
problem statement ini menentukan eh how
we ini membuat ruang bagi solusinya dan
ini jadi kompas sekalian ya teman-teman
mau dibawa ke mana sih produknya
nantinya. Tadi ada empat pertanya ya,
why, how, who, and eh apa tadi? Satu
lagi lupa. Eh, jadi inilah yang
menentukan ke mana arah produk ini akan
di tujukan gitu ya. Dan proses tadi
diverse dan converse ini penting karena
setiap kalian ingin mendapatkan ide
sebanyak-banyak, kalian harus punya
pemikiran yang diverse dan kalian
convert supaya mendapatkan hasil yang
kalian mau prioritaskan ya sesuai dengan
eh impact effort yang kemarin kalian
sudah pelajari juga. Nah, jadi
prioritaskan 1 sampai 3 ide dari proses
id kalian. siapkan
bahan bakunya dan kita wujuduskan hari
ini ya. Jadi kemarin kalian sudah
mikirin apa aja nih ee bentuknya,
prosesnya, itu semua ada di Crazy
sebenarnya, Teman-teman ya. Ide sudah
hebat di tangan. So, what's next? Nah,
kita akan masuk ke fase prototype dan
tes. Nah, yang perlu diingat
teman-teman, jangan jatuh cinta pada ide
pertama karena akan menyesatkan
teman-teman.
Ide di atas kertas itu seperti asumsi ya
teman-teman. Kalian perlu melakukan
validasi gitu ya. Jadi kalian mungkin
wah ini udah paling the best lah. Tidak
semudah itu Ferguso. Gitu ya. Kalau
belum diuji, belum tahu apakah
benar-benar produk ini punya impact atau
manfaat bagi si usernya. Jadi ee yang
perlu kita lakukan adalah dari ide kita
visualkan yaitu dengan melakukan
prototyping. Jadi wujud wujudkan ide
dalam bentuk visual yang sederhana ya.
Bisa disentuh, bisa dicoba. kayak tadi
kan dia produknya sebenarnya simpel
produknya kayak notes tapi dari bahan
material yang ee apa ee
recycle ya. Nah, dan ee dia bikin
beberapa versi supaya kertasnya bisa ee
ditaruh dengan nyaman gitu ya, dengan
bisa berdiri. Nah, sebenarnya simpel
sekali ee tapi prosesnya panjang gitu
ya. Karena enggak semudah itu juga kita
mewujudkan high quality product gitu.
Makanya butuh banyak iterasi, banyak ee
ee uji coba sampai akhirnya kalian
mendapatkan ini ya hasil yang paling
maksimal atau hasil yang menurut kalian
paling relevan. Jadi kalian melakukan
tes, tes, tes, tes. Dan uji coba
prototype dengan berbagai ee koreksi ya,
varian dierasi prototype-nya, dapat
feedback di ee bangun ulang atau mungkin
diperbaiki kekurangannya supaya kalian
belajar mana yang berhasil, mana yang
tidak dan kalian harus perbaiki itu.
Oke. Nah, gimana kita? Nah, sebenarnya
kita sudah masuk di fase akhir,
Teman-teman. Jadi eh kalau di desain
thinking itu kita di dua step terakhir
ya, prototype dan tes. Tapi prosesnya
belum berarti berakhir ya kalau kita
sudah sampai tes terus sudah gitu.
Enggak. Justru nanti kita dari tes ini
bisa jadi kita ulang lagi ke empetize.
Kita coba target yang lain misalnya gitu
ya. kita bikin fitur baru, pengembangan
fitur baru. Kita akan balik lagi ke tes.
Jadi kalau teman-teman lihat misalnya
kalian pakai layanan
eh OTA ya online travel eh application.
Nah [berdehem]
itu mereka prosesnya banyak teman-teman.
Jadi kalau ada fitur baru ya sudah jadi
kan produknya ya. Tapi mau misalnya mau
nambah menu untuk ee sewa mobil di
bandara misalnya gitu ya. Mereka akan
ulang lagi dari
ada enggak sih kebutuhan dari user kita
untuk pakai mobil di eh sewa mobil di
bandara gitu misal dan dia akan coba
lagi prototype interaction-nya gimana
atau mungkin experience butuh enggak sih
kalau kita traveling terus ada ee ini ee
apa ee kegiatannya gitu ya, kegiatan
wisatanya kita empat lagi dengarkan.
Biasanya teman-teman kalau traveling
suka ke mana aja? Ke mall kah? Atau
teman-teman ee ke sinking ke tempat
wisata, biasanya prosesnya seperti apa?
Kalian beli tiket dulu enggak? Prepare
lebih awal enggak? Dan semua itu
terwujud karena kita mendengarkan dari
target user kita. Akhirnya itu jadi satu
fitur yang kalian lihat sekarang gitu
ya. Ada kalau di ee brand ee apa? OTA
itu ada eh event ada experience dan
lain-lain. Itu sebenarnya bagian dari
proses membuat
tadi dari idea jadi suatu produk atau
bahkan ee feature ya di dalam sebuah
aplikasi yang sudah jadi atau bahkan
nanti juga kalian bikin produk ee IoT
misalnya ada fitur tambahannya ada ini
itu. Nah, semua itu berdasarkan proses
tersebut. Oke,
kita masuk ke prototype. Jadi, bagaimana
mengubah ide di kepala kita menjadi
sesuatu yang bisa diuji.
Nah, kita nonton dulu biar dapat
pemahamannya, ya.
Inventors and engineers make prototypes
as a way to show their ideas and test
their ideas. For example, if you were an
engineer creating a new phone, you
wouldn't make the complete phone right
away. Instead, you would make a
prototype out of inexpensive materials.
That way, you can test the shape and the
feel or if you want to figure out if the
code works. Let's walk through an
adventure we made here at Kid Museum
called a movement dice. Our movement
dice has different exercises on each
side. That way, when you roll it,
it tells you what to do.
We wanted our dice to be made by our
students so they could design and
customize each side of their dice. The
first step of our prototyping process is
making a sketch. Our sketch allows us to
see if we like our idea and it allows us
to get feedback from other people. If
you don't want to make a sketch, you can
also make a prototype as a 3D model and
Tinker CAD. Here we made our prototype
out of cardboard. We liked how it had
six different sides for six different
exercises. So, we drew our different
movements on our dice and then we gave
it to kids to test. They liked how it
looked and how it worked, but they
didn't like the tape on the sides. And
when they rolled it, they said it was
too light and it didn't roll very well.
So, then we had to think, what new
material could we use to help fix this
problem? So, we decided to do some
brainstorming
and we went with wood as our material.
So, we had to then think, if we want
other people to make this dice, how are
they going to put it together? We
decided to make our sides puzzle piece
shapes. That way, you get cleaner edges
when you put them together
and it'll be easier to assemble.
After we had our box put together, we
gave it to other people for their
feedback. They liked how it felt. They
liked how it rolled, but they thought
our dice could be a little bit more
exciting. They suggested we add some
sound to it. So, back to the drawing
board and we decided to add a microbit
to give it some sounds. Our microbit
allows us to add sound to our dice. So,
each time we move our microbit,
it plays different sounds. We tested our
microbit over and over again because
this is our works like prototype. We
wanted to make sure our code worked the
way we wanted. We had our code. We had
our microbit. Now it was time to put it
in our box. At first, we just put it on
the inside, but then it was rolling
around too much when we rolled the dice.
So, an easy way to fix that was to just
tape it to one of the sides. That way,
it stayed in place as we rolled our
dice. Now, we had our final prototype
product. This now allows us ask
questions like, [musik] do other people
know how to use it? Does it work the way
we want to? And do we like how this
looks? Throughout this prototyping
process, we tried a lot of different
things and tried new materials to get to
a product we were happy with. Don't be
afraid to try new things because that's
what the invent is about. Keep on
making,
ya. Nah, itu tadi ya sesimpel kita mau
bikin
eh activity dice gitu ya. Nah, jadi
prosesnya tadi di sketsa dulu dibuat
prototype-nya ya.
dibayangin dulu terus dijadiin sebuah ee
prototype dalam bentuk awalnya dari
kardus dulu ya kan. Tapi ternyata
setelah dapat feedback nih oh ternyata
terlalu ringan dari kardus gitu ya dan
hanya di sambung dengan tap dan ee
sering lepas. Nah, oleh sebab itu di
dari feedback diganti jadi kayu tadi ya
ee dadunya dibuat dari kayu terus ee
lebih firm, lebih kuat, enggak banyak
berubah ee ininya ya bentuknya dan ada
bobotnya. Nah, tapi kurang fun gitu ya.
Akhirnya di ee sematkan mikrobit untuk
kasih suara. Jadi ditempel mikrobit di
dalamnya biar waktu dia eh rolling down
ada voice-nya supaya jadi lebih fun gitu
ya. Nah, proses itulah yang teman-teman
sebenarnya akan eh getting through ya
along the way. Nanti teman-teman bikin
suatu solusi dan ee jadikan itu sebuah
eh apa? produk kalian sebaiknya melalui
proses prototype and test dulu sebelum
kalian benar-benar eh launch your final
version
gitu ya atau kalian iterate dulu
beberapa kali di twick sampai ketemu
yang paling pas ya tapi pasti butuh
proses lagi ya diulang lagi diulang
enggak akan berhent
kalian jadi ya atau produk yang kalian
ee inginkan itu bisa live dan bisa
terwujud dulu supaya ee user bisa ee apa
gunakan gitu ya. Nah, prototype di
sekitar kita tuh ee analoginya seperti
roti, Teman-teman. Jadi ee kita punya
toko roti. Nah, itulah tim kita ya.
Kalau tadi di video paling awal kan
dijelaskan ada dia sebagai ee ada produk
desainer, ada marketingnya, ada ee apa
ee manajernya. Jadi proses ini ya yang
memberikan ee engine terhadap ee ide-ide
yang kita mau buat gitu ya. Jadi ee toko
toko road ini ya membuat produk barunya
dalam porsi kecil dan murah sebelum
diproduksi. Masal ibarat toko roti
biasanya kita dikasih display ee
beberapa item aja mungkin satu jenis itu
mungkin 3 empat ya. Kalau kalau kalian
ke coffee shop biasanya seperti itu.
Nah,
yang kedua adalah pelanggan adalah user
kalian. Jadi, kalian biasanya juga kasih
teaser mungkin ya. Ee kalian bisa lihat
kalau ee misalnya di toko roti atau
kadang ada oke kita ada roti baru gitu
ya, tes baru bisa dicobain gitu ya atau
kita ada ee apa cookies misalnya. Nah,
cookiesnya boleh dicoba dulu gitu atau
si simple es krim gelato gitu ya. kita
boleh nyobain dulu tuh ee tesnya cocok
enggak sama tes kita gitu ya. Nah,
itulah yang jadi ee sampel road. Inilah
yang jadi ee prototype-nya gitu ya. Jadi
pelanggan akan melihat dan merasakan
dengan pancra mereka ya. Baik itu
dipegang di apa dirasakan ya kan dilihat
secara visual secara ee apa ee panca
indra akan mencoba mengeksplore apakah
prototype ini sesuai dengan kebutuhan
mereka atau enggak ya. Jadi bentuk
sederhana dari produk ini untuk menguji
tujuannya untuk menguji asumsi ke orang
nyata ya. Jadi ini orang-orang benar
benar-benar bisa merasakan manfaat dari
produk kalian.
Oke. Nah, prototyap membuat asumsi kita
jadi bisa diuji ke orang ya sebelum kita
berinvestasi besar ya. Kayak misalkan
roti. Oh, ini disukai enggak sih taste
ini kita bikin roti rasa
nasi Padang misalnya misalnya [tertawa]
orang suka enggak ya gitu ya? atau mie
rasa
eh nano-nano misalnya, orang suka enggak
sih? Nah, kita tes dulu.
Kalau iya suka baru di launch full
skills kita produksi massal misalnya
seperti itu karena akan mengurangi
risiko kerugian yang lebih besar karena
tidak laku misalnya atau tidak
memecahkan solusi mereka dan eh ini ya
for long term juga teman-teman eh less
karena sudah diuji di awal dan
tinggal ee fokus ke area lain misalnya
ke marketingnya ke proses improvement
produksin dan lain-lain.
Nah, kenapa kita harus bikin prototype
dulu?
Jadi, proses kita
memvisualkan ide itu satu tujuannya
adalah memvalidasi solusinya. Apakah
relevan, apakah menjawab masalah user,
dan bagaimana mereka berinteraksi dengan
prototype kalian ya. Jadi, kalian perlu
observe lagi itu apakah ada ee feedback
ya kan. Tujuan itulah yang berlanjut ya.
Jadi kedua adalah belajar cepat dan
murah. Jadi dengan menemukan kelemahan
saat masih prototype nih masih bisa
lebih mudah kalian ubah perbaiki bukan
setelah produknya jadi ya.
Nah, contohnya apa yang sering kita
temui? Kalau teman-teman mungkin pernah
dengar recall produk atau recall mobil
gitu ya.
Nah, itu sebenarnya ada kesalahan
ee ini produksi teman-teman ya di call
kan mungkin ada kesalahan di bagian ee
injeksi oli atau apa ya kan. Nah, itu
biasanya ada tuh di beberapa pabrikan
mobil mereka akan narik versi ee 2000
berapa gitu ya dan itu diganti dengan ee
yang sudah di-improve kayak gitu.
Sebenarnya itu bagian dari proses juga
gitu ya.
Ya, ada kesalahan di versi pertama, kita
perbaiki di versi kedua, itu bagian dari
proses iterasi gitu. Baru ketemu pas di
fase itu. Bisa jadi karena ee kesalahan
engineering ya prosesnya gitu. Jadi
tujuannya apa sih kenapa kita perlu
melakukan ee perbaikan terus-menerus ya,
iterasi terus-menerus ya? Salah satunya
adalah meyakinkan stakeholder, yaitu
bentuk nyata memudahkan menjelaskan ide
ke juri, mentor, dan pihak sekolah
nantinya, Teman-teman, ya. Jadi, kalau
Teman-teman sudah bikin sampel
produknya, bikin bentuk visualnya dalam
ee format prot
teman-teman akan bisa mempresentasikan
dengan lebih mudah karena ada alat
bantunya. Bayangin kalau cuma gambar aja
terus gitu ya, apalagi pakai AI
gambarnya doang gitu ya.
kayak ini saya pakai gambar ya ini apa
ya Samsung ngeluarin apa sih itu ya
misalnya kayak gitu ya. Nah, teman-teman
harus bisa wujudkan itu supaya orang oh
ini ada tombolnya nanti kalau dipencet
nyala ya kan. Oh ini ada komponennya
chip-cipnya ini ada tombol ee ada apa
colokan USB ada tombol tombol power dan
lain-lain
akan beroperasinya seperti apa kayak
gitu. Nah, itulah fungsi dari kalian
membuat prototype.
Yang kita ketahui membuat prototype itu
bisa dua fase ya. Pertama, low fidality
atau low ya. Kalau teman-teman kemarin
dengar ya tentang lowi, highfi. Nah,
lowy ini eh low fidelity atau yang
benar-benar row ya atau masih kasar gitu
ya. Bahannya bisa dari kertas, pulpen,
sticky note, bisa visual sederhana dan
kasar ya kan. sangat cepat dan mudah
dibuat prosesnya. Fungsinya untuk
menguji ide dan konsep. Kalau kalian
lihat di video tadi dia bikin sketch-nya
di kertas. Nah, itu masuk ke lava
idelity
ya. Terus kita bikin high fidelity
version-nya. Bahannya bisa e digital
tools ya, mau di Figma, di Miro atau
kalian bikin mokup-nya ee dengan tadi ya
produksi satuan ya kan. Kalian coba tes
dulu kayak tadi kan dia bikin satuan ya
di video awal tadi ya. Terus mirip
visualnya mirip dengan tampilan produk
akhirnya. Jadi yang digambar dengan yang
di tadi diproduksi secara real kurang
lebih sama gitu. Biasanya karena pakai
mesin CNC akurasinya biasanya sangat
tinggi ya sizing-nya dan lain-lain. Dan
proses ini butuh lebih banyak waktu.
Memang kayak tadi kita harus ke workshop
ya kan potong dulu kayunya, potong
besinya ya kan logamnya tadi ya. terus
diassembly, dirakit. Nah, tapi fungsinya
untuk uji detail interaksi dan
presentasi jadi lebih mudah gitu ya kan
bisa ada touch-nya dipegang. Oh,
bentuknya seperti ini kita tes taruh
kertasnya, oh ternyata bisa menahan
lebih baik. Itulah fungsi dari kita
membuat prototype di tingkat fidelity
atau ee kita bikin ee visualnya ya,
visual sampai jadi ee apa?
produk realnya.
Nah, ada lima langkah teman-teman bisa
ee
pilih ya dari ke prototip sampai ke eh
sori dari ide terpilih sampai ke
prototip siap uji gitu ya. Jadi kemarin
kalian sudah bikin e beberapa ee ini ya
opsi terus kalian pilih salah satu
akhirnya kalian bikin crazy-nya. Nah,
tujuannya adalah menutupkan satu,
tentukan produknya dulu. Pilih solusi
yang paling layak dari ide-ide terpilih
di dalam tim kalian. Bisa pakai Impact
Matric, bisa kalian asses dari sisi
feedback user. Jadi, tergantung dari eh
capability tim kalian. Terus yang kedua
adalah kalian bikin sketsa rancangannya
ya. Kemarin di Crazy kalian sudah bikin
ee sketsa kasarnya ya, buat flow charge
bisa atau requirement atau tadi sketsa
kasar dan tentukan scop-nya fokus pada
fitur yang paling krusial untuk kalian
mau uji ya misalnya di bagian oh fitur
ordernya gitu ya kalau memang produk
kalian digital atau kalau kemarin bikin
yang dari case ee example saya bikin ee
IoT untuk mengukur ee apa kualitas AS
udara. Nah, mungkin di measure PM-nya
dulu ya kan atau diukur kelembabannya ya
kan. Nah, itu bisa juga apa aja ee
indikator yang kalian butuhin dites
dulu. Kemudian kalian bikin
prototype-nya. Jadi dari sketsach itu
coba kalian bikin kalau kalian IoT ya
bikin komponennya dulu. itu kalian bisa
ee beliah ya kalau di di ya apa tuh
kalian bebas mau pakai Adruino atau
pakai apa. Nah, terus kalian rakitlah
supaya
ee fungsinya berjalan. Nah, nanti
tinggal kalian bikin ee prototype
cover-nya ya. Bisa kalian pakai 3D
print, bisa kalian dari kardus dulu ya
atau kalian mau bikin dari apa? kertas
bahkan ya kertas dulu kalian ee apa ee
kertas yang bisa dibentuk itu ya. Nah,
itu boleh juga atau ya kayak [berdehem]
tadi bikin dari kayu, dari bambu dibikin
dulu supaya ada bentuknya.
Kalau dari apps lebih gampang ya karena
produk digital kalian tinggal ee jadikan
di apa di tools online ya mau Miro, mau
Figma, mau pakai AI itu bisa ya.
Nah, terus siapkan skenario tesnya. Apa
yang kalian mau tes? Apakah fiturnya ee
kalian mau coba ee feedback ee ini
menurut kalian warding-nya ee clear
enggak ya kan atau ee ini cara
penggunaannya kalian paham enggak
eksplorasinya, cara sign up, cara holder
misalnya ya atau ee ya tergantung
fiturnya apa gitu ya. Kalau produk ya
misalkan dia tahu enggak cara nyalainnya
gimana gitu kan. Nah, ini cara milih apa
ee fungsinya ya kan caranya ganti
fungsinya paham enggak? Misalnya kayak
kayak kita punya ee apa ya kemarin yang
ee kisah itu ee kayak misalnya air
purifier lah ya, air purifier. Nah, itu
gimana cara nyalainnya? Terus fungsi
tombol-tombolnya paham atau enggak? Iya
kan? ada fan, ada speed, ada eh automate
automated ya kan. Terus ada fitur smart
homeya. Nah, terkoneksi ke HP misalnya.
Nah, mereka paham enggak gitu ya. Jadi
skenario itu kalian susun dalam bentuk
ceklist gitu ya. Mereka paham enggak
dengan proses tersebut.
Nah, pastikan setiap langkah kalian
membuat prototip itu makin terarah dan
hemat ya. Tujuannya untuk supaya
menghemat, jangan dilompati urutannya ya
dari lima ini. Oke.
Nah, tadi kita bahas dulu ya
masing-masing ya. Jadi pertama tentukan
produk yang dibuat. Jadi berdasarkan
impact effort kemarin kalian sudah
memahami impact effort, nah mana yang
menurut kalian paling ee visibel untuk
kalian jadikan sebuah produk?
Pertimbangannya
yaitu cost and selain impact and adalah
cost and timeline ya. Berapa biayanya
waktu yang relis untuk tim eh dan
pelajar ya kan mungkin kalian budget
terbatas apa sih yang kalian bisa bikin
gitu ya. pilih yang terjangkau sama
resource-nya ya, skill, alat, bahan yang
benar-benar dimiliki tim saat ini. Jadi
kalian enggak perlu makaksain diri, oh
aku harus bikin pakai 3D printing. Galau
memang di tempat kalian belum ada untuk
kalian order 3D printing, jangan dipaksa
gitu atau kalian budgetnya terbatas ya,
jangan di ee paksakan dulu untuk harus
jadi yang dengan bahan baku yang bagus.
misalkan pakai yang ada di sekitar
kalian dulu ya gitu. Mungkin kalian ada
ee dari lab sekolah kalian ya kan ada
bahan yang kalian bisa pakai ulang ya
kan atau dari kardus. Saya pernah tuh
bikin IoT untuk kandang ee apa itu
kandang ini ya? Ada studen saya bikin
kandang landak tuh ya ada termometernya
dan suhu ukurnya. Nah, itu ee dari
kardus dulu itu sebelum dibikin versi ee
bahan ee aslinya gitu ya, pakai pakai
bahan plastik. Nah, jadi usahakan impact
effort ini membantu teman-teman mana sih
yang paling bisa saya bangun dulu, saya
bikin dulu ya dengan resource yang
available. Semakin teman-teman eh masuk
ke ini eh high impact low revert bagus
gitu ya, berarti bisa langsung di ee
buat gitu ya atau low impact low effort
juga masih oke gitu. Nah, tapi kalau
udah bagus misalnya oke idenya sudah
diterima dengan baik,
produknya udah ee apa kemungkinan ini
bakal keren ya. misalnya bakal bisa
diimplementasiin ya berarti masuk yang
kuadran ini ya project. Nah, tapi
biasanya long term gitu ya ada fasenya
waktu kalian bikin mungkin masih di sini
nanti akan naik jadi high impact mungkin
bisa geser lagi sampai akhirnya jadi
major project. Nah, kalau high effort
tapi low impact, nah sebaiknya kalian
perlu hindari gitu ya, karena ee akan
menyulitkan teman-teman nantinya dengan
membuang budget lebih banyak. Oke, yang
kedua adalah sketsa tadi ya. Kalau
kalian lihat videonya kan dibikin sketsa
dulu sama kayak kemarin kalian bikin
crazy ya, bikin sketsa. Makanya kalian
butuh brandstorming ya. Supaya terlihat
croncrete lebih mudah kalian berdiskusi.
Oh, aku penginnya kayak gini, kamu
penginnya kayak gimana. Kita combine
atau bisa pilih salah satu. Ya,
tujuannya apa? Yaitu memprediksi
masalah. Jadi, dari sketsa tersebut ada
potensi error celah yang produk tidak
terlihat lebih apa produk terlihat lebih
awal. Ya, mungkin flow-nya kok gini ya.
Salah nih kalau sign up ya. kamu bisa
pakai button apa dulu nih supaya
registernya lebih mudah gitu misalnya.
Nah, terus yang ketiga adalah mudah
direiterasi. Jadi bisa dihapus dulu nih
dari sketch saya atau buat ulang gitu
ya. Ee supaya lebih ee terarah flow
charge-nya jadi ee alurnya juga clear
dan kalian jadi tahu kebutuhannya atau
requirement-nya di setiap bagian tuh
seberapa besar sih gitu ya. Makanya
dengan menggambar ini jadi mudah
diiterasi, cepat dibuat, mudah diubah,
bahkan kalau salah ya tinggal dibuang
gitu ya tanpa rugi besar. Jadi belum
sampai tahap yang kalian harus
mengimplementasikan dengan tools-tools
yang lebih advance.
Nah, yang ketiga adalah tentukan scop
prototype-nya ya. Kalau tanpa scopur
sekaligus lama jadinya mahal, feedback
didapat kadang melebar ke mana-mana.
Karena semua fitur tersedia di situ
dalam waktu yang bersamaan. Jadinya
feedback-nya akan panjang gitu ya,
lebar. Wah, ini kurang gini, kurang itu,
kurang ini, kurang itu. Akhirnya kalian
ke distrack dan tidak fokus ke solusi
utama kalian. Nah, makanya kita perlu
kasih scope ya. Kan tidak serta-merta
nih kalau kalian misalnya lihat apps-
apps yang sekarang tuh tidak serta-merta
dari awal dia begitu gitu ya, ada
prosesnya. dia satu dulu fungsi utamanya
terus ditambahin fitur berikutnya, fitur
yang lain lagi, yang lain lagi. Tapi
masing-masing fitur ini prosesnya sama
melalui desain thinking yang tadi itu
ya. Ada yang fokus utamanya ngantterin
orang dulu, fokus kedua ngantterin
makanan, fokus ketiga nganterin paket.
Nah, ingat ya. Jadi masing-masing fitur
kalian perlu kasih feedback ya. Karena
audiens-nya bisa jadi di dalam lingkup
yang sama tapi kebutuhannya beda gitu
ya. Yang satu butuhnya makanan, yang
satu butuhnya diantar, yang satu butuhan
butuhnya diantarin paket gitu ya. Jadi
fokus pada satu fitur paling krusial
dulu diuji sisanya bisa menyusul
belakangan. yang jadi utamanya adalah
untuk kalian ee
orang-orang ini kan sama ya mereka ee
apa drivernya yang akan melakukan ee tas
tersebut gitu ya. Tapi kebutuhannya jadi
berbeda karena ee usernya ee punya needs
and goal yang beda gitu ya.
Jadi kalau kalian ingin menguji fitur,
cari produk misalnya ya, cukup buat alur
pencarian, login, pembayaran dan profil
tidak perlu dibuat dulu. Jadi fokus ke
fitur pencariannya dulu gitu.
Nah, tahap 4 adalah tadi dari gambar
kalian bikin produksi prototype-nya. N
jadi sesuaikan dulu tujuannya
untuk test
kan baru kalian fokus ke fitur yang
paling krusial, fokus pada bagian yang
paling valuable ya, yang masih penuh
asumsi itu kalian perlu
bikin jadi semakin detail, makin
kompleks prototype, makin lama dibuat
dan makin bias feedback-nya. Jadi
usahakan jangan terlalu detail. Jadi
justru malah bikin yang kayak ini ya,
kayak screenshot-nya yang mungkin gambar
sketsa yang ee belum kelihatan tuh warna
dan ininya enggak apa-apa nanti baru di
high fidelity-nya kita bikin gitu ya.
Nah, tapi enggak usah semua fitur kamu
aktifin dulu fitur yang utama kamu mau
uji dulu gitu ya. Kalau memang mau ee
ordernya dulu diaktifin gitu ya, nanti
baru fitur pencarian gitu ya atau fitur
sign up bertahap sampai akhirnya jadi
keseluruhan dari fitur yang kalian mau
over ya. Yang perlu kalian ingat adalah
prototype kasar yang selesai lebih
berharga daripada yang udah indah gitu
ya. Udah bagus tapi tidak pernah diuji
gitu. Secara desain bagus banget gitu ya
karena nyomot-nyomet dari dari [tertawa]
apa? dari internet, tapi ee kalian
enggak paham sebenarnya ee fungsinya ini
atau fiturnya tuh menyelesaikan masalah
atau enggak, gitu ya.
Nah, ada enam bentuk prototype yang
teman-teman bisa pilih dan bisa kalian
cepat untuk si asumsi ini ya ee produk
kalian ya. Yang satu paper prototype ini
jelas ya yang kalian gambar kalian eh
apa eh sketsa tadi ya. Yang kedua adalah
roleplay layanan. Nah, ini kayak yang
minggu lalu teman-teman eh lihat
videonya yang dia itu sebenarnya role
play layan karena ada service designnya
prosesnya gitu ya. Terus yang kedua
adalah storyboard. Jadi kalian kemarin
sebenarnya eh Crazy itu mirip storyboard
ya. Sebenarnya proses storyboard eh eh
sori proses kalian mendefinisikan ee apa
baik itu penggunaannya atau prosesnya
itu masuk ke storyboard. Jadi tujuannya
untuk membuat rangkaian gambar yang
menceritakan si pengalaman user. Yang
kelima adalah digital mo ya. Digital mo
yang ee teman-teman bisa lihat sekarang
ya. banyak di internet atau di tools
misalnya pakai Figma, pakai Miro, pakai
ee AI. Nah, itu semua bisa di ee jadikan
ee apa? Clickable prototype sekarang.
Jadi bisa diinteraksi dan bisa diukur.
Nah, wizard of ini istilah ya ee jadi
terlihat otomatis padahal dijalankan
manual of team. Jadi jadi kayak ee
prototype-nya oh bisa gerak padahal
pasti digerakin pakai tangan gitu ya
atau ee
apa udah ada
apa ee tombolnya gitu. Oh bisa nyala
padahal kita pakai senter. Jadi kayak
seolah-olah benar-benar udah terjadi
gitu ya. Nah itu wizard of istilahnya
ajaib gitu ya. Oh, baru m apa baru
prototype sudah bisa beroperasi gitu.
Padahal belum semua fiturnya nyala gitu
ya. Oke. Nah, yang keenam adalah mokap
fisik. Jadi model tadi bisa dari kardus,
clay, e sederhana sampai akhirnya jadi
ee terbentuk ee visualnya. Kalau kalian
ingat di pertemuan pertama itu yang
bikin prototype apa tuh? Ee
shopping chart ya. Nah, shopping card
itu kan awalnya dari shopping card
ditambahin ini, tambahin ditambahin itu
yang mainan lah, yang ada apa ee remote
lah dan lain-lain. Akhirnya kebayang nih
kebutuhannya kayaknya bisa lebih simpel,
bisa lebih sederhana. Ee akhirnya dibuat
yang ada keranjang terpisahnya supaya
nanti langsung diangkat, ada
gantungannya untuk barang-barang yang
memang ee enggak perlu ditaruh. gitu ya
di boknya. Jadi contohnya seperti itu.
Tujuan utama dari prototype adalah
memvalidasi asumsi secara cepat bukan
kesempurnaan visual. Jadi lebih kayak
memvalidasi ini sebenarnya dibutuhin
atau enggak. Jadi lebih ke
fungsionalitasnya bukan secara visual
bagus nih gitu ya. Tapi fungsinya enggak
berjalan gitu.
Oke,
kita break dulu mungkin ya, Mbak kita
atau masih ada waktu?
Ee masih ada waktu 4 menit lagi sih,
Mas.
Oke, mungkin break dulu aja ya, Kak kita
ya. Boleh ya. Habis itu kita langsung ee
ini ada materi berikutnya.
Oke, terima kasih banyak Mas Kusuma atas
pemaparan materinya yang keren dan super
insightful sekali ya. Nah, Teman-teman
gimana nih sejauh ini? Boleh dong kasih
rating nih dari skala 1 sampai 10.
Seberapa paham kalian sama materi
barusan?
Entar aku
10 9. Wah, keren ya. Berarti udah paham
banget.
Khatam
6.
Oke,
aku lanjut ya, Teman-teman. Makasih
banyak yang sudah ngasih rating. By the
way, kalau misalkan udah ngerasa aduh
pegal nih, Kak. Karena duduk lama ya
boleh banget untuk stretching stretching
dulu untuk minum biar badannya lebih
rileks lagi karena kita akan break
selama kurang lebih 5 menit. Nah,
dihimbau agar tidak meninggalkan
aplikasi Zoom ataupun di YouTube
teman-teman YouTube. Nah, bagi
teman-teman ataupun Bapak Ibu yang masih
stay di Zoom atau YouTube, kita akan
segerin otak dulu lewat sesi ice
breaking seru. Nah, Teman-teman, Bapak,
Ibu nantinya silakan mengetikkan jawaban
melalui kolom chat di Zoom ataupun
YouTube ya. Oke, main apa nih, Kak?
Sebentar ya, Teman-teman. Aku share
screen.
Nah, hari ini aku mau ngajakin
teman-teman buat main Describe me ins.
Caranya gampang banget. Nanti akan aku
tunjukkan satu gambar. Teman-teman bisa
jawab menggunakan dua kata yang menurut
kalian tuh paling menggambarkan gambar
tersebut. Nah, misalkan ini ada gambar
ice krim nanti teman-teman bisa jawab
dingin dan juga manis seperti itu. Oke,
udah siap
aku lanjut ya. Gambar pertama.
Nah,
kira-kira apa nih? Ya, dua kata nih.
Boleh nih, Teman-teman. Dua kata yang
menggambarkan gambar tersebut
diaduk enak, gurih. Benar. Enak ya buat
sarapan. Emang buburbubur ayam. Betul.
Diaduk enak, pedes,
anget. Benar ya. Emang perdebatan bubur
diaduk dan enggak diaduk tuh kayak
perdebatan never ending saga. Ya,
teman-teman.
Aku lanjut kali ya ke pertanyaan kedua
nih. Jawabannya apa ya? Jawabannya ini
bubur ya. Betul, betul. Masih gampang
ya. Nah. Aduh ini mah kayaknya easy sih.
Upin Ipin
kembar. Iya benar kembar.
[tertawa]
UI TB. Siapa itu yang jawab UI TB?
Lucu. Betul. Betul. Ini kartun favorit
sih ya. Memang semua kalangan kayaknya
pernah nonton deh. Aku pun masih suka
nonton sih.
Oke. Kembar bukan dong
ayam goreng. Betul. [terkesiap] Bukan
itu bukan Universitas Indonesia ya
Upin-Ipin. Ya, teman-teman. Ini aku
lanjut lagi ya ke question 3.
Diumlah ya. Apa nih? Dokter dan nyawa.
Dokter. Iya, betul.
Jantung. Dokter. Nah, dokter. Wah. Iya.
Rata-rata dokter ya jawabannya.
Stetoskop. Iya, betul. Ini adalah alat
yang emang dipakai untuk para-para
dokter ya. Betul. Stetoskop ya
teman-teman.
Jantung, telinga, dan detak. Betul.
[tertawa]
Oke, aku lanjut lagi. Question 4. Nah.
Ah, ini tuh yang namanya Dubai cucu
enggak sih? Eh, apa aku salah ya? Dubai
cui.
Moi, Dubai. Bukan, bukan. Brownis.
Lumer. Manis. Betul.
Maca. Ini bukan maca sih ini kunas sih,
Guys. Namanya
Mochi Dubai. My favorite.
Mantap.
Bukan next star, Kak.
Bapa Bapa lagi. Bukan bukan.
Oke, ini adalah Dubai Cubi Cookie. Ini
makanan. Kalau misalkan kalian sering
scrolling TikTok pasti sering dia nemu
food vlogger yang review gitu. Lanjut.
Nah,
aduh ini kegampangan sih jalan-jalan
sepatu roda
[tertawa]
udah siap belum? Ya ampun, seru banget
ini komennya.
Sepatu roda roda sepatu mesin sepatu
mesin.
[terkesiap][tertawa]
Hah?
Ikat sepatu berjalan. Iya, betul ni tuh.
sepatu roda ya, Guys. Ada warna hitam,
pink biru ya. Ini aku lengkapin semua
warna ada.
Oke, lanjut ya, Teman-teman. Ada lagi
enggak, ya? Oke, masih ada lagi nih. Apa
nih?
Ini tuh
Mas [tertawa]
bukan teman-teman. Itu hewan. Ayo,
depannya itu C tem cuman kalau dibaca
itu K.
Nah, Kepara. Betul. Berbulu. Iya.
Berbulu gendut. Gendut enggak sih? Imut
enggak sih? Kepiara tuh
Sandy. Bukan ini bukan tupai ya,
Teman-teman. Ini Kibara.
Oke, komentarnya ini ee random banget
ya. Ada yang jawab ini Kara, ada yang
benar. Oke, aku lanjut lagi ya. Masih
ada enggak ya ini? Nah. Oh, question
teman-teman. Deskripsikan tentang diri
kamu.
Ayo self love dulu nih princess. Iya
betul. Tampan rupawan. Mantap. Imut.
Cantik imut. Sangar. Waduh Sigma ya.
Baik hati dan tidak sombong. Amin.
Si menyamar. Amin. Amin.
Mager. Wuh.
mager dia lapar. Oh iya kamu lagi lapar
ya? Sarapan dulu coba. Sopan santun imut
nih. Beragam banget ya. Nah tuh.
Cantik pintar. Oke
lanjut ya teman-teman.
Oke karena udah habis nih speak
break-nya kita lanjut lagi yuk ke
materi. Oh ya sebelum lanjut aku mau tes
dulu nih buat teman-temannya. masih
semangat itu boleh dong kasih
reaction-nya emoji love apa jempol
bebas.
Oke, masih semangat ya. Kalau gitu aku
kembalikan lagi ke Mas Kusuma untuk
pemaparan materi. Mas Kusuma.
Oke. Seru banget. [berdehem]
Apa mau lanjut terus tuh [tertawa]
tebak-tebakannya? Lucu-lucu ya
sepertinya iya cuman yah durasi ya Mas
buat [tertawa] dilanjut lagi Mas.
Iya siap. Oke kembali kita ke materinya.
Tapi enggak perlu khawatir kita ee
masih lanjut materi happy-happy dulu nih
biar enggak berat. Kita
nonton yang lucu-lucu nih. Nah ini kan
ada gambar apa tuh? Kalau tadi apa? Lucu
gendut. [tertawa]
Kalau ini ada gambar sapi ya,
Teman-teman ya. Oke, kita nonton dulu
sebentar ya. Mari.
Last year we got a special email. The
center's father is a farmer in the
mountain village. Their cows are raced
in the mountains. Every day he has to go
up to the mountain to check on the cows
[musik] and find them. It is very
tiring. A few years ago, he even broke
his leg while looking for them. They
tried count GPS tracker before, but the
products on the market had problems. We
called them to ask more [musik] and
found out the tracker debot had very
large arrows. The real location and the
location in the app could be off by an
entire melon. But here is what confused
us. We tested a similar tracker
ourselves. Yes, the battery size is
absolutely fake. But the rear location
and the app location were only off by 10
m. So why was there so inaccurate? We
went to his home and tried hurting
[musik] KS ourselves.
[musik]
After running around the mountains for a
whole day, we found the reason the phone
signal is very weak in this mountain
area. Most calckers send location data
through 4G to a server, then the server
sends the data to the user. This means
if the cals in the place with good
signal, the tracker sends the location
successfully. Then Cal moves to a place
with poor signal. [musik] The phone
cannot get update. So the location on
the phone can be very far from the real
location. And cows move over a very
large area. Whoa, they climb really far.
When we got back to the studio, we
started working on a solution. This is a
systemly built. It has five parts. A
color tracker, a [musik] gateway, lower
relay stations, a walkie, and a mobile
app. So, how do we solve the weak signal
problem in the mountains? [musik] We
cannot build cell towers, but there is
another option. called Laura. Laura is a
longrange lowpowered communication
protocol. The bandwidth is low but
enough for location data. When we
visited it before, we tested Laura base
stations and a gateway. [musik] Our
tracker first sends the location data to
a release station. The relay station
sends it to the gateway. The gateway
sends it to the server and finally it
reaches the user's phone. This solves
the problem of course signal [musik] but
here is another problem. When you are in
the mountains, your phone also has no
signal. So how do you receive the
[musik] cow's location? Let us show you
the core of the system, the walkietalky.
It also uses Laura. So even without forg
signal, you can receive the cou location
and guide you to find it. And with this
device, you can even ask. Number one,
where are you?
Just kidding, we added a Y feature
[musik] inside. So now if I ask where is
cow number seven?
Number seven, cow is located directly
[musik] north of the BL.
Now let's talk about the tracker. We
used a nylon shell and a metal buckle.
So even when cals fight or scratch it
will not break. We also added numbers on
the shell so it is easier to tell the
cows apart. To detect accidents, we
added accelerometer inside the tractor.
It can detect the cow's movement and
alert you if it acts strange or leaves
the group. You can see it in the app.
The uncle can also ask the device about
the weather so he can bring the cows
back in time and avoid danger in the bad
weather. Mountain rows are easy to slip
on. So we added an SOS button to the
device. Press and hold it, and the
family will get an alert on their phone.
They will hear an alarm sound and see
his location in the gap. At the end, we
even made a bout shap shell for the
tracker so we can spot the from the
forest. But in real use, it was not very
practical. So we removed it. Then we
took the system to his house, installed
the gateway and lower relay stations in
the right places. Put the trackers on
the cal and now we can finally start
founding CS. [musik]
[musik]
[musik]
[musik]
After testing everything, we marked the
locations in the mountains with the
uncle. Then we went home. It was a great
experience. Thanks [musik] for watching.
See you next time.
Oke, ya. Enggak habis-habis, ya. Ini
idenya sih hati banget. [tertawa] Oke.
Nah, kalau teman-teman lihat idenya
sederhana ya, tapi praktikalnya cukup
kompleks gitu ya. Bikin mel ee alat
untuk melacak ee sapi. Nah, masalahnya
sebenarnya ini berasal dari salah satu
ini mereka ya, viewer mereka di YouTube.
Ee karena di desa mereka peternak tuh
sering kehilangan sapi nih di padang
rumput gitu ya. karena lumayan naik
turun gitu ya bukitnya dan ee metode
carinya tuh lelah ya, harus disamperin
ya kan dan kadang makan waktu
berhari-hari dan ee resiko ya kehilangan
ternaknya secara permanen karena enggak
tahu di mana gitu ya hilang gitu ya.
Nah, tadi kalau teman-teman lihat ee
mereka bikin prototype dulu ya dengan
GPS, tenaga surya dan juga ee apa tadi
yang dipasang di tracker dipasang di
kalung sapinya ada selerometernya juga
ya kan. Jadi fokus ke pengujian apakah
keandalan transmisi sinyal jarak jauh,
tahan baterai, dan ketahanan fisik alat
terhadap cuaca ekstrem tuh bisa ee ini
ya ee
apa
bisa tahan lama juga ya digunakan gitu
ya di segala medan. Tadi sempat di
dikasih lihat ya ee ada yang patah, ada
yang enggak berfungsi dengan baik
akhirnya diganti. Nah, proses itulah ee
gunanya prototype gitu ya. tadi
dibikinin dasi gitu ya patah akhirnya ya
enggak perlulah dikasih dasi gitu ya
iseng-iseng doang dan hasilnya tadi
teman-teman lihat ada e kalung pelacak
contrackernya ya ringan hemat energi ya
kan dipakai 20 eh baterai 60.000 Ibu ya
dan integrasi langsung ke HP. Terus
dapat dipantau real time ya dengan tadi
ee walkyet talkie-nya tadi dan dari
pencarian yang harian sekarang dalam
hitungan menit bisa diketahui tetak
sapinya lagi di mana gitu ya. Bahkan
lagi ngumpul gitu ya, lagi apa ngerumpi
atau lagi arisan gitu ya. Jadi ketahuan
deh gitu. G. Nah, itu ee bagaimana
sebuah desain thinking membantu proses
pembuatan
ee ini ya proses tadi ya dari masalah
jadi sebuah prototip dari prototype
menjadi sebuah testing eh melalui proses
testing dan hasilnya punya nilai manfaat
atau impact.
Nah, di era modern sekarang teman-teman
bisa juga menggunakan EAI ya. Kalau
memang produknya digital ee teman-teman
bisa atau mungkin bikin eh sket of
fidelity-nya dulu bisa juga kalau 3D ya
produknya ee kalian mau nanti bikin
real-nya g
ya kan ya misalnya kayak gitu itu
posibel banget dilakuin sekarang ya kan.
Jadi kalian bisa desain dulu pakai
Figma, pakai VO ya, Persoel ya, Replid,
Lovable, Mirror. Dan sekarang cukup
mudah kalian tinggal deskripsikan
melalui teks ya kan mungkin bikinin UI
eh ininya frame-nya ya kan atau bikin
wireframe dulu ya. Kalau dulu kita harus
berjam-jam untuk buat ya. Sekarang
hitungan menit si apa E AI-nya bisa
bantuin bikin sketch-nya gitu ya atau
hardware IoT gitu ya. Bikin bayangan
bentuknya seperti apa. Nah, ee langsung
bisa dibikinin gitu ya. Diagram flow-nya
ya, flow charge-nya, function-nya semua
bisa dibreakdown dengan mudah melalui
AI. Dan kita juga bisa brainstorming ya
dengan AI-nya. Mau kalian pakai model
apapun ya, mau JBT, cloud, Kemini, bikin
draft-nya dulu, alurnya, fitur ee daftar
fiturnya apa aja, terus apa aja yang
perlu diuji. Nah, kalau kalian bingung
ya kan kalian enggak perlu buka buku
lagi gitu ya. Sekarang sudah bisa nanya
chatbot AI untuk bantu teman-teman bikin
skenarionya. Nah, tapi yang perlu kalian
ketahui tetap ee teman-teman ee jadi
pilotnya ya kan. Jadi ee AI membantu
mempercepat proses. Tapi keputusan baik
itu dari sisi desain, validasi dengan ee
tim itu ee semua ee apa iterasinya
hingga tercapainya outcome tuh ya dari
kalian ya. Itu kita sebagai human, kita
sebagai manusia yang menentukan
decision-nya apakah ini sudah oke atau
belum gitu ya. Contoh kalau mau bikin
prom buatkan wirefame sederhana aplikasi
pengingat jam pulang. Nah, terus kalian
juga sebutkan layarnya ada apa aja dan
tombol utamanya seperti apa. Nah, itu
kalau bisa didetailin. Bahkan sekarang
kalian bisa bikin ee brand guideline-nya
misalnya warna kalian sudah bikin logo
ya kemarin ya. Sekarang brand
guideline-nya kalian mau apply warnanya
apa aja. Kalau bisa kasih kode hax-nya.
Nah, nanti akan menyesuaikan
seperti gitu teman-teman. Nah, itu e
kalian bisa tes dan lakukan untuk
pengujian menggunakan prototypi.
Oke, pertanyaannya kuis pertama. Apa
tujuan utama membuat prototype dalam
desain thinking? Boleh tulis di chat
kira-kira apa nih tujuannya bikin
prototype?
B.
Oke. Wah, banyak nih. Nah, mantap.
Wih, semangat banget nih. Ya, jawabannya
B. Betul, Teman-teman.
Betul, betul, betul, betul. Karena tadi
ada Upin-Ipin jadi inget, ya. Betul,
betul, betul.
Oke,
lanjut.
Nah, kita masuk ke fase tes ya.
Nonton lagi. Kita nonton dulu ya fase
tes ya. After the prototyping step of
the design thinking process, we are
arriving at the last one dedicated to
validation of our previous activities.
Usability testing is all about
verifications of our designs, but also
assumptions we made in the previous
stages. Is the target group of users
able to perform tasks that solve their
problems through a prototype? Are the
assumptions you made during defining an
ideation stages correct? Is the
functionality of your prototype clear to
the testers? Those are examples of very
high level answers that you need to
acquire during usability testing
activities. As I already explained in my
previous videos, usability testing is a
method of testing the functionality of
your product prototype by observing real
users as they attempt to complete tasks
through it. A typical usability testing
session would require from you
preparation of tasks or goals list which
testers would need to perform through
the prototype. An example of such a task
can be creation of an account, purchase
of an item or whatever else your product
offers to its users. During tester
interactions with the prototype, you
need to observe them thorly, which
allows you to spot any blockers and
issues with the logic, interface or core
concepts. [musik] Apart from simply
observing, it's a good idea to prepare a
list of feedback questions which will
allow you to expand the amount of useful
information. An example of such a
question can sound like this. Was the
process clear for you? Or is there
anything missing in the presented
process? Or if you had a magic Went,
what would you add to the presented
prototype? [musik] List of
tasks and feedback questions for
usability testing is typically referred
to as study plan or script. Apart from
the mentioned, it's a good idea for you
to include in your script the purpose of
the study, some background on the
product and questions to learn about the
participant's current knowledge of the
problems that the prototype aims to
solve. To make your usability testing
session unbiased and scientific, you
should follow the same script in each
user session. Assuming that you have
your prototype ready to go and you also
prepared a script for your study, you
need to find participants for it. I
think that's the most difficult and time
[musik] consuming step for most aspiring
UX designers because first you need to
find your target group representatives
and then somehow convince them to spend
time on your study. Contact your
usability testing sessions online
through conference calls definitely will
help you on that front because you don't
need physical location and participants
don't need to spend time commuting
[musik] then most likely you will need
some sort of a card that would convince
them to join your study good practice is
to offer something like a gift card okay
but how can you find them here with the
help come various social media platforms
like Facebook or LinkedIn you can look
up for interest groups that your target
group should be interested in. Then
enroll to those groups and post about
your study. You can also utilize
extended advertisement targeting
functions and reach with your study this
way. Nowadays, more and more designers
use dedicated platforms to conduct their
usability testing studies. Primary
argument for that
is the speed increase and process
simplification because you don't need to
find and schedule meetings yourself and
you can conduct them asynchronically.
Unfortunately, those services are
generally quite expensive, but most of
the time they are worth that money.
After the study, it's time for analysis
of what you learn and application of
your findings to the next iteration of
the prototype. If the situation requires
it, you may need to go through all or
some of the design thinking process
steps multiple times, but thanks to
that, the chances for success of your
project increase. It's also easier to
acquire funding. That's why many
startups use a design thinking approach
for that purpose. If you want to watch
the videos dedicated to the previous
stages, you can click on the playlist
here. Or if you want to learn something
else today, you can click on the video
here.
Oke, ya. tadi kalau teman-teman lihat
prosesnya eh untuk melakukan
fase testing dari prototype yang
teman-teman sudah buat, teman-teman bisa
eh reach out ya ke audiens balik ya kan
dari persona
kalian. Kalian bisa reach out lagi atau
kalian cari
ee ee segmennya teman kalian atau ee
orang tua. Misal kalau target kalian
adalah aplikasi
untuk anak-anak misalnya, targetnya
justru ke orang tua. Jadi kalian harus
pakai logika juga ya bisa jadi orang tua
atau guru karena mungkin kalau anak-anak
mungkin kalau game yes. Tapi kalau
sesuatu yang membantu proses belajar itu
justru mungkin ee dua-duanya butuh ya,
dari anak, dari orang tuanya juga atau
dari guru di kelas
itu. Jadi ee pastikan
teman-teman memvalidasi dan mengiterasi.
Jadi ingat ya, validasi dan iterasi.
Jadi bisa me
apa ya menguji apakah ee fitur yang kita
buat dengan asumsi kita bisa men-solving
permasalahan mereka apakah benar
terbukti atau tidak.
Nah, misalkan terbukti apa yang perlu di
improve? Nah, itulah di bagian
iterasinya. Mungkin tampilannya, mungkin
juga secara fungsionalitas letaknya aja
ngaruh ya tombol gitu ya. Kalau di
aplikasi itu tombol bahkan call to
action-nya kata
writing-nya itu berpengaruh mudah
dipahami ya kan atau eh kurang kurang
apa misleading ya e kurang bisa dipahami
itu bisa jadi misleading eh kalimatnya
atau per sorry eh kalimatnya atau call
to action-nya. Nah, makanya penting
untuk teman-teman menguji tes tadi ya
secara berulang-ulang dan bagaimana
solusi ini berhasil benar-benar sampai
ke tangan pengguna kalian.
Nah, caranya ada dua.
Saya bersihin dulu nih layarnya.
Oke. Nah, ada beberapa ee cara. Ada dua.
Nah, ini kalau teman-teman ingat Nilson
Norman Norman yang bikin buku yang di
sesi pertama kita ya. The only way to
get UX design right is to dulu.
Jadi, proses produk yang useful itu dari
sisi usability plus utility. Nah,
usability apa? Usability adalah seberapa
mudah produk digunakan. Bisa enggak user
ini menyelesaikan tugas tanpa bingung
atau frustasi? Intinya kata kuncinya
adalah mudah digunakan, Teman-teman.
Apakah membantu mereka menggunakan itu
dengan mudah? Ya. Yang kedua adalah
utility. Ya, utility adalah apakah
produk benar-benar dibutuhkan user?
Mudah digunakan tapi
tidak dibutuhkan. Sama aja sia-sia ya,
Teman-teman. Jadi kata kuncinya adalah
dibutuhkan user. Jadi dua hal ini yang
jadi output
kita
waktu kita melakukan t benar enggak
dibutuhin user? Jadi memvalidasi dan
meng improve tadi ya mediterasi gitu ya.
Oke. Jadi selalu ingat ya usability dan
utility. Nah, menurut Nilson Norman ya,
ada lima komponen usability. Yang
pertama adalah learn ability. Seberapa
mudah user memakai produk saat pertama
kali mencoba? Kalau dia tidak banyak
pertanyaan,
ya ada dua kemungkinan ya, antara
bingung atau enggak enak mau nanya atau
udah oke gitu ya. Oh, mereka bisa paham
tanpa kita perlu menjelaskan terlalu
detail. sudah tahu misalnya sign up. Oh,
sudah jelas nih ada bisa pakai email,
bisa pakai nomor HP misalnya atau bisa
pakai apa Google Signup misalnya. Udah
clear gitu ya tanpa perlu banyak ee
bertanya gitu. Tapi kalau mereka kurang
clear ini caranya gimana ya ee
registrasinya? Nah, berarti ada yang
perlu diapprove teman-teman
gu ya. Yang kedua adalah efisiensi.
seberapa cepat user menyelesaikan tas
pada produk gitu. Semakin cepat
semakin banyak ee apa battleen-nya ya.
Wah lama loadingnya gitu error misalnya
terus enggak ketahuan ini udah
keregister atau belum. Nah itu jadi drop
off nantinya
atau user akan tidak kembali lagi gitu
ya.
Ini sering banget kalau teman-teman main
game tuh ya. Misalnya kalian main game
terus tiba-tiba e server error gitu ya.
Akhirnya
tidak efisien sebenarnya bermainnya.
Jadi tidak efisien karena nge-lag ya kan
atau jadi karena terlalu berat akhirnya
jadi experience-nya berkurang gitu. Nah,
itu berpengaruh teman-teman ya
efisiensinya.
Yang ketiga adalah memorability. Jadi
setelah jeda apakah user masih ingat
cara memakainya? ini penting karena
waktu ini mempengaruhi ee retention ya,
apakah mereka akan kembali menggunakan
app kalian atau enggak. Kalau iya mereka
biasanya enggak perlu e mengingat ulang
tapi kalau ee kurang mereka akan coba
untuk mengambil jeda ya kayak udah
ee kemarin caranya gimana ya gitu ya.
atau nanya lagi, "Ini kok aku enggak
bisa login lagi ya misalnya gitu atau
aku kok enggak bisa ngeklik ini ya gitu
atau nge-tap di e menu ini ya gitu dia
lupa gitu. Jadi penting untuk mudah
gimana ee mudah diingat. Jadi ini ada
faktor behavior
eh ini ya study ya kayak kemarin di ini
ya ee di apa video yang e pertemuan kita
pertama. Jadi ada behavior study yang ee
membantu user untuk me
mengikuti instruksi dan mengikuti pola
yang serupa.
Nah, tadi ada error seberapa banyak
error terjadi dan semudah apa
dipulihkan. Nah, ini biasanya app-f
tertentu ya bisa jadi error ya kan ada
server gateway misalnya atau ee link-nya
mati misalnya ya tidak nyambung gitu ee
ke ke server. Nah, itu bisa jadi error
dan sama ya ujung-ujungnya nanti jadi
drop off. Jadi kalian perlu perbaiki
kalau nemu error, nemu bug enggak ada
sih yang sempurna teman-teman. Mau mau
produk apapun enggak ada yang sempurna.
Pasti butuh iterasi tadi dites dan
literasi supaya errornya ini bisa kita
solving atau bug-nya.
Kalau produknya real apalagi ya ini kok
gitu ya rusak kah ini gitu ya. Jadi itu
termasuk
kategori error atau tidak berfungsi se
ee sesuai ee normalnya gitu ya. Sesuai
instruksi awal. Yang kelima adalah
satisfaction. Jadi penting untuk kita
melihat, mengobserve apakah mereka
satisfy menggunakan ee produk ini ya kan
dengan ee fitur yang menyelesaikan tas
mereka
ya. Jadi kalian perlu tanyakan bagaimana
menurut Bapak Ibu apakah aplikasinya
membantu dari segi apa terbantunya jadi
kalian perlu menanyakan probing question
juga.
Oke. Nah, lima komponen ini jadi lensa
saat teman-teman mengamati user mencoba
prototype ya. Jadi, pastikan kalian bisa
mengamati lima komponen usability ini.
Oke. Nah, untuk melakukan testing ada
yang perlu kalian persiapkan.
Nah, ada yang paling utama. Langkah
pertama adalah tentukan goals-nya dulu.
Testingnya mau buat apa. Ya, kalau
enggak nanti melebar ke mana-mana,
Teman-teman. Jadi, apa yang ingin
dipelajari dari tesnya? kita pilih
metode yang paling cocok ya, tergantung
ya nanti kalian mau ngetes apa pastiin
ee relevan ya. Apakah ini nanti akan
metodenya ee
perlu apa
perlu diuji secara kualitatif atau
kuantitatif atau nanti ada tools
tertentu yang bisa
di ee fungsikan gitu ya.
Nah, ee terus tentukan skenario sama
tugasnya, tasnya tadi ya. Kalau mau
login, register, sign up, dipisah
satu-satu. Oke, tas pertama skenarinya
adalah bikin account. Nah, caranya step
by step-nya adalah A buka aplikasi, B
klik eh sign up, terus klik ee
menggunakan email atau pakai Google ee
Sign up misalnya ya, Google email. Nah,
terus mereka bisa enggak nyelesaikan
sampai selesai ee create accountnya
kayak gitu. Nah, yang ketiga adalah
tentukan matrik. Ini penting banget ya.
Biasanya kemisnya nih di matrik nih.
Jadi harus tahu ukuran keberhasilannya
baik dari sukses rate, waktu dan
kepuasan. Ya, bikin akunnya berhasil
gitu, tapi butuh waktu
lama gitu ya, setengah jam bikin karena
loading loading loading
akhirnya jadi enggak puas gitu ya.
usernya. W lama banget aku bikin account
ini ee apa servernya lemot atau gimana
gitu kan. Nah, jadi perlu tentukan
matrik waktu kalian menguji testing
karena ini yang menentukan apakah app
kalian berhasil atau tidak atau ee
solusi kalian ee apa menyelesaikan
permasalahan si user atau enggak. Yang
keempat, siapkan prototype dan ini nanti
kalian ulang lagi nih kalau udah jadi
matrik nya bikin prototype
terus disesuaikan ya kalian bisa pakai
ee tools-tools tertentu ya ee kayak eh
miss Userberry dan lain-lain sebagainya
untuk menguji prototype yang sifatnya
produk digital ya. Jadi sesuaikan
senario dan tugasnya di dalam situ.
Terus rekrut partisipannya. Jadi ini
yang kadang kita salah juga nih record
participasinya kita bisa siapa aja dah
yang ada di dekat kita gitu. Mau
tetangga kek, mau teman enggak salah
gitu ya. Kalian harus bikin clusternya.
Ingat ya yang pertama kemarin empatize.
Jadi bikin clusternya dulu. Fitur ini
ditujukan untuk siapa? Audience A B C
user A B Ca kalian yang kayak gimana.
Nah itulah yang kalian select. Kalian
harus filter dulu. Pilih partisipan yang
sesuai target user. Kemudian jadwalkan.
Ya, kalian cukup sebenarnya lima
partisipan tuh cukup teman-teman ee
untuk kalian uji e awal gitu ya. Tapi
memang semakin banyak semakin baik. Tapi
lima itu biasanya sudah mewakili asalkan
tadi sesuai sama personal kalian gitu
ya. Tuh. Nah, format ujinya contoh ya
misalnya skenario tugas sama matriknya
kayak gini. Senarionya bayangkan kamu
pelajar yang sering ketinggalan bus
sekolah sore. Kamu ingin mencoba
aplikasi pengat jam pulang agar tidak
tertinggal bus ee hari ini. Nah,
tugasnya adalah tunjukkan bagaimana
caranya kamu mengatur pengingat jam
pulang di prototype ini. Biarkan
partisipan mencoba tanpa bantuan. Jadi,
kamu lihat aja ee oke kita sudah ada ee
aplikasinya. coba ee tunjukin cara kamu
untuk mengatur ee pengam pulang di ee
prototype kita ini. Nah, biarkan dia ee
si audiens-nya ini yang kita tes mencoba
dulu mengeksplore, mencoba apakah mereka
paham atau enggak. Nah, kita cukup
melihat dulu sambil mencatat ya bikin oh
dia kok pencetnya yang lain ya gitu ya.
pada kita bikin fitur itu apa ya kok dia
ee ke menu yang lain bukan ke ke menu
alarmnya misalnya gitu. Nah, ini nanti
jadi benchmark kita di matriknya. Jadi
apakah
kemudahannya bisa tercapai enggak
success rate-nya berapa persen ya kan
kecepatan time compion-nya berapa detik.
Nah, itu dihitung teman-teman ya.
Kenyamanan skala kepuasannya berapa? 1
sampai 5 atau sistem usability scale-nya
SAS-nya tuh berapa.
Nah, itu kalian perlu hitung. Oke, kalau
tadi bikin sign up cuma cuma butuh waktu
3 detik selesai gitu. Berarti oke masih
oke. Tapi target kamu sebenarnya 2 detik
sudah kelar gitu ya. misalnya seperti
itu. Enggak perlu lama-lama karena sudah
langsung bisa pakai Google Sign misalnya
atau pakai fitur yang lain yang
mempercepat proses sign up itu misalnya
seperti itu. Nah, itu semua diukur
faktornya. Jadi waktu menguji itu enggak
asal oke oh dia paham bagus bagus bagus
gitu. Enggak gitu ya. Kalian harus punya
ee perhitungannya catatan kalian
matriknya tercapai atau enggak. Oke.
Oke. Lanjut.
Nah, kemudian kita sudah dapat
audience-nya. Gimana nih kita
melaksanakan sesi testingnya? Nah,
misalnya kalian ee sapa dulu ya. Terima
kasih Bapak, Ibu. Terima kasih
teman-teman yang sudah hadir. Saya akan
melaksanakan ee
uji coba testing aplikasi A. Nah, kami
persilakan Bapak Ibu mencoba terlebih
dahulu aplikasi ini. Ee tujuannya untuk
apa? Boleh dijelasin dulu ABC. Nah, saya
akan berikan waktu sekian menit untuk
Bapak Ibu mencoba mengeksplore terlebih
dahulu. Jadi baru kalian kasih. Nah,
jadi tadi ingat sambut dulu. Kedua,
jelaskan skenario dan tugasnya ya.
nya tadi suruh mencoba tugasnya ngapain
tadi bikin akun misalnya ya.
Nah, terus minta waktu selama proses itu
biarkan mereka think a lot ya
think out loud ya salah nulis nih. Ee
jadi biarkan mereka oh apa yang mereka
omongin oh ini kok ee saya bingung ya
ini di mana ya gitu ya. Nah kita biarin
dulu coba. Oh ya. Coba dulu Pak ee lihat
ee ee di aplikasi mungkin Bapak nanti
nemu gitu ya cara sign up-nya. Jadi
biarkan mereka cerita dulu ee oh saya
enggak begitu kelihan kelihatan nih
font-nya gitu ya tulisannya gitu ya.
Berarti Anda perlu kalian perlu catat
tuh ada perlu improvement sizing
font-nya
atau oh ini kok saya bingung mau sign
apa disuruh ini ya sign in ya gitu. Oh,
berarti ada kesalahan penulisan misalnya
kayak gitu. Jadi, call to action-nya
kita perlu ganti UX eh copywriting-nya
kita ganti. Amati dan catat. Jangan
menginterupsi atau memberi arahan. Jadi,
biarin dulu kalau mereka out a lot
adanya kita tadi. Eh, coba dulu Pak,
boleh coba dulu nanti kalau memang ada
kendang disampaikan aja. Tapi kalian
enggak boleh intervensi
ya. Tujuannya apa? tadi kita mendapatkan
insight-insight yang penting gitu ya
selama proses mereka mencoba itu. Jadi
ingat yang diuji adalah prototap-nya
bukan partisipannya. Tidak tidak ada
jawaban salah atau benar. Semua feedback
itu berharga karena tujuannya apa?
Improvement dan iterasi produk kita
selanjutnya.
Nah, ini yang sering terjadi nih ee tips
menghadapi situasi sulit saat testing
gitu ya. partisipannya gaptek ini HP-nya
cara pakainya gimana gitu ya karena
enggak terbiasa gitu kan karena mereknya
beda-beda kan coba pakai Samsung gitu ya
teknis yang jelas tanpa mengarahkan
jawaban ya jadi diarahin oh ini buka
dulu Pak ee tombol on off-nya supaya
layarnya terbuka ya kan terus ee kasih
batasannya
ee kadang minta kunci ini aku enggak
Enggak bisa-bisa ya. Nah, berarti kalian
harus kasih
batasan ya. Beri batas waktu. Kalau lama
kelamaan ya nanti bisa satu orang bisa
lama banget ya. Bisa seharian nanti
kalau enggak ketemu-ketemu. Nah, kasih
batasan. Oke, ini sudah tiga kali nyoba
dia enggak ketemu atau bisa durasi ya 5
menit dia nyobain enggak enggak
kelar-kelar nih nemu ee sign up-nya.
Nah, berarti ada yang perlu di-improve.
Ini gagal nih tasnya, tapi berharga
informasinya karena nanti kalian bisa
improve. Oke, berarti ada kesalahan kita
set up eh sign up button-nya. Kita perlu
rubah nih posisinya, button-nya atau
naming-nya
call to action-nya ya. Atau error nih.
Eh, minta maaf perbaiki sebentar lalu
lanjutkan sesi dengan tenang. ini biasa
sering banget karena tiba-tiba diklik
enggak connect namanya prototype ya
diklik tidak connect atau belum belum
belum jadi fitur yang kita mau uji. Nah,
nanti kalian bisa jelaskan gitu ya yang
ini memang belum kami uji misalnya. Tapi
kalau memang iya ada error ee kalian oke
kita perbaiki dulu sebentar ya. Tim kami
akan ee deploy misalnya kayak gitu. Jadi
ee proses ini terlihat kayaknya gampang
ya gitu. Tapi pada praktiknya nanti
teman-teman ngerasain mereka frustrating
juga ya. Baik dari kitanya atau dari
usernya. Oh ini saya bingung banget nih.
Saya susah banget nih. Ada yang sampai
emosi ini gimana sih mau aplikasinya
enggak bisa dipakai gitu ya. Nah itu
sering terjadi teman-teman. Jadi kalian
juga harus sabar ya menghadapi ee ee apa
[berdehem] calon customer kalian. Karena
basically itulah yang nanti terjadi di
lapangan. Makanya teman-teman lihat ya,
banyak yang enggak sabaran kalian udah
ee apa dideploy atau di launch
aplikasinya terus trading-nya dapat satu
du gitu ya. karena ada ee apa error atau
improvement yang tidak kalian perbaiki
dulu sebelum ee kalian rilise. Makanya
ada function biasanya beta tes dulu ya.
Beta tes itu untuk tujuannya itu sebelum
ke eh publ ke market, publish ke market
kalian bisa review dulu gitu ya, bisa
dites dulu sampai benar-benar matang
gitu ya atau tidak ada bug atau tidak
ada error. Nah, kalau produk real
gimana, Kak? Kalau yang ee bentuknya apa
produk hardware sama sebenarnya ya
tinggal mereka mengeksplorasi dulu. Oh
tahu enggak buttonnya gimana? Oh tahu
cara nyalain gimana. Sesimpel kayak
kalian ini AC misalnya itu dites juga
ya. By the way teman-teman cara nyalain
AC tombolnya paham atau enggak. Ini
kadang enggak ada apa di AC itu kan ada
banyak tombol ya. Kadang ada yang enggak
tahu fungsinya untuk apa gitu. ada yang
fan, ada yang ee untuk ee mendinginkan,
ada untuk menghangatkan.
Ya, itu di AC tuh ada tombol-tombol itu
yang kadang enggak dipahami semua orang.
Nah, kita makanya tes dulu gitu ya.
Oke, setelah kalian testing dirangkumlah
semua. kumpulkan semua inset-nya,
catatan observasinya, angka matriknya,
success rate, waktu SAS-nya, dan kutipan
ya dari apa yang mereka sampaikan,
kalian perlu catat tuh mereka
feedback-nya apa yang mereka ucapkan
secara spontan dari user kalian. Jadi
kan ee itu quot ya, nanti akan jadi
inset kalian. Lalu prioritaskan mana
yang sebenarnya ee paling perlu
disolving dulu gitu ya. dari kita tes,
oh kayaknya mereka masih ee user masih
terkendala waktu mereka mau pakai fitur
kita gitu. Kenapa jurninnya kayaknya ee
terlalu kompleks gitu ya. Nah, kalian
perlu improve di next iteration-nya.
Jadi, kalian perlu get back lagi
prioritasin mana yang paling krusial.
Kalau dia misalkan ya, kalau aplikasi
sign up aja belum bisa gimana mau akses
gitu ya fiturnya misalnya. Jadi kalian
solving dulu si up-nya gitu ya,
registrasinya itu. Jadi ee
kalian klasifikasiin misalnya high
menghalangi tugas utama, medium
mengganggu tapi ada jalan lain. Low
masalah kosmetik maksudnya masalah ini
ya permaknya gitu ya.
Ya, ee bisa diperemak gitu loh. Yang
ketiga adalah iterasi. Jadi perbaiki
temuan yang high itu kalian kelompokkan
kalian ee solving itu dulu isu-isunya
ya. Nanti di prototype berikutnya kalian
uji lagi ya. Satu putaran iterasi sama
dengan solusi satu level lebih matang.
Jadi setiap kali melakukan iterasi
ee solusi kalian jadi lebih matang satu
level gitu atau jadi lebih ee firm satu
level gitu. Nah, tiap kali iterasi
kalian akan menemukan insert-insert
baru. Tapi pastikan eh tadi kita punya
batasan sampai kapan kita mau melakukan
testing. Ya, ingat yang kita jadi mau
capture semua inset terus kita lakuin
interasi 10 kali, 20 kali. Kalau memang
sudah pattern-nya sama ya udah gitu.
Jadi tadi ingat fokus ke kalian ee
iterasinya punya dampak gitu ya, punya
impact. Nah, contohnya kayak gimana,
Kak? Nah, misalnya ini contohnya
aplikasi
ee ini ya e ya tahulah kalian ya.
[tertawa]
Jadi perbandingan sebelum dan sesudah
UT. Jadi ada feedback menyesuaikan
arsitektur ee informasi untuk perubahan
visual menjadi lebih visibel saat
mencari penerbangan. dan feedback B
menyederakan tampilan dengan lebih
banyak opsi penerbal agar pengguna tidak
bingung berdasarkan baris mask yang
lebih detail. Nah, kalau kalian lihat di
sini ee yang before-nya ya,
before-nya ada cari penerbangan sama
pilih penerbangan. Jadi cuma dua dua
fitur ini itu berpengaruh sama
experience user ya teman-teman ya.
Bayangin tuh kalau kalian buka
aplikasinya kan ada home, ada apa, ada
apa, ada apa, itu banyak banget. Dan
kadang kita perlu lakukan tes gitu. Ada
yang perlu kita improve, ada yang perlu
kita ee tambahin gitu ya. Nah, dengarkan
suara keluhan misalnya saya bingung saat
memilih penerbangan dengan input tanggal
tidak terbaca dan selain itu harus
beberapa kali melakukan scrolling karena
tidak begitu terlihat keseluruhan opsi
maskapai yang tersedia. Nah, makanya ini
dibreakdown, Teman-teman. Kalau
Teman-teman lihat, mungkin aku sambil
kasih ya.
Kenet-coret nih, ya. Ini kalau kalian
lihat di eh
biru.
Nah, ini kalau di layar pertama dia
tampilannya langsung tanggal ya. ini
pulang perginya ee ada tombol ini
apa namanya?
Ee aduh aku lupa action button ya atau
apa ya. Nah, terus di
diganti lebih setelah ditesting ternyata
butuh
tanggalnya aja dulu gitu ya.
Kalau pelang pergi dia tinggal
tab di sini ya nanti akan muncul
tambahannya. Gu ya.
Nah, [mendengus]
terus dari maskap-nya jadi lebih panjang
karena dia butuh breakdown. Nih,
aku mau lihat perbandingan. Orang kan
kalau lihat tiket pesawat mau bandingin
kan, bukan mau ee langsung pilih mana
gitu ya, tapi di-bakdown dulu. Nah,
makanya semakin tampilannya semakin luas
semakin mudah terbaca. Ini kan dia lebih
panjang ya dibanding ini yang hanya dua
maskap terlihat gitu. Ini bisa jadi
berapa nih? 1 2 3 4 5 lima dalam satu
layar gitu ya. Yang ini jadi lebih
sederhana yang ini jadi
lebih expanded gitu ya, lebih luas gitu.
Nah, itulah fungsi kalian memvalidasi
dan mendapatkan feedback UT atau
usability testing. Usability usability
testing dari user kalian.
Kebayang ya teman-teman ya.
Oke, lanjut.
Nah, ada tadi kasus yang biasa dilakuin
di
Google Desain Sprint ya. Nah, kita
biasanya ee ada ee feedback yang kita
rangkum.
Jadi, ee banyak ee startup tuh membangun
ee produk yang langsung jadi ya selama
berbulan-bulan tanpa tahu pasarnya tidak
benar-benar menginginkan solusinya gitu
ya. Maka yang dilakukan oleh Google
adalah bikin ee desain sprint. Jadi 5
hari mereka bikin prototype ee bikin
fasadnya aja di di tampak depannya aja
dalam 1 hari lalu diuji ke lima pengguna
besoknya gitu. Dan hasilnya ide besar
jadi mudah tervalidasi
atau gugur dalam seminggu sebelum kode
ditulis. Jadi sebelum mereka develop ide
yang terlalu besar itu bisa jadi ee apa
akhirnya mengecil gitu ya. dan
tervalidasi atau bahkan ya ternyata
enggak enggak make sense. Janganlah kita
ini dulu
e
dulu gitu ya.
Jadi ini menghemat ee waktu mungkin akan
mereka investasikan jadinya ee akan
lebih mudah untuk kita prevent hal-hal
yang tidak diinginkan. Jadi fokus sama
yang kita mau buat dulu yang benar-benar
punya dampak dan punya value. Nah, kita
nonton dulu ya kayak gimana sih proses
lens sprint itu.
Hi, I'm Jake from GV and this is a super
fast intro to our sprint process. The
big idea with a sprint is to build and
test a prototype in just 5 days. It's
kind of like fast forwarding into the
future so you can see how customers
react before you go at all the time and
expense of building a real product.
[musik] Every sprint starts with a big
challenge, a team of about seven people,
and a clear calendar. [musik]
On Monday, you'll create a map of the
problem and choose one specific target.
On Tuesday, you'll create solutions to
your problem. But instead of a shout out
loud group brainstorm, you'll work alone
[musik] to sketch detailed competing
solutions. On Wednesday, you'll pick the
best solutions. Instead of endless
debate, you'll use [musik] a structured
decision making process. On Thursday,
you'll build one, two, or even three
realistic prototypes. [musik] These
prototypes are just a facade of a
finished product. You can use tools like
Keynote, Marvel, and Invision to create
fake apps and websites. Or to quickly
prototype hardware, you can use a 3D
printer or modify an existing product
or just prototype the marketing
materials.
Finally, [musik]
on Friday, you'll test your prototypes
in five one-on-one customer interviews.
[musik] You'll find obvious patterns.
Some solutions will work, but some
won't.
Either way, you'll have clarity about
what to do next and a great start on
that big challenge. [musik] To learn
more, check out our book Sprint. It's
got detailed hour byour instructions and
it's packed with stories about startups
like slack and medium and flat. Nah, itu
tadi dia desainya. Jadi sebenarnya eh
versi singkatnya desaining. Jadi lebih
eh apa langsung ke fase prototype dan
tes. Jadi di fase research-nya dia akan
lebih pendek tapi dalam 5 hari itu bisa
langsung ketemu wujud produknya seperti
apa. tadi di bisa teman-teman lihat juga
ya ee dia prototype digitalnya pakai
tools atau bahkan tadi bikin eh yang non
digital bisa pakai eh 3D print atau
packaging dan eh apa ee tetap bisa
diapply untuk kalian tujuannya sama
mendapatkan feedback dan iterasi apakah
benar-benar bisa punya nilai manfaat
atau enggak itu ya.
Oke,
kuis. Semoga belum ngantuk nih,
Teman-teman. Berapa partisipan yang
cukup untuk tes kualitatif menemukan
mayoritas masalah usability?
5 101
tidak perlu karena sudah ada AI nih. Aku
ganti aja AI misalnya ya.
K tanya AI aja
wis semoga belum ngantuk nih teman-ah
semua nih.
Apakah betul? Ah, betul.
Thank you yang sudah jawab teman-teman.
Yes. Jadi betul A ya teman-teman ya.
Lima partisipan sebenarnya cukup ya
untuk e masalah usability. Nah, tapi
ingat ya, tapi kalian bisa juga kalau
clustering kalian bisa lebih dari lima
itu.
Oke,
kita
hand dulu nih Mbak kita
lanjut hand dulu ya. Benar ya. H.
Oke. Nah, nah sekarang kalian mencoba
untuk
membuat ee
prototype dan menganalisa testing ee
menggunakan lensa yang lens ya kita
nyebutnya lens yang kemarin kalian
pelajari di sesi pertama yaitu
adaability, visibility, viability, dan
responsibility. Nah, Teman-teman sudah
duplicate ini ya, e mironnya ya. Nah,
mungkin aku ganti
ee
screen dulu sebentar.
Oke, kalau belum duplicate,
duplicate
dulu ya, Teman-teman ya. Bisa di-copy
juga. Nah, jadi yang perlu kalian lakuin
teman-teman ee apa? Kita akan bikin
prototype digital dulu ya. Ee tapi kalau
teman-teman udah ada ee apa case yang
kalian bikin physical product, boleh
juga ee kalian bikin sketchnya atau
bikin apanya di desainnya ya nanti di
PA-nya.
Nah, yang perlu kalian lakin adalah ee
bikin
ee problem opportunity kemarin ya.
Kalian coba tulis dulu, terus ee ideasi
solusinya kalian taruh ya. Kemarin saya
ee ini contohnya yang masalah sampah ya,
banjir.
Nah, gimana memantau lingkungan dari
warga setempat hingga pelaporan akses
relawan untuk mengolah sampah. Nah, ini
saya bikin brief konsep produk gitu ya.
Jadi, teman-teman bisa ee apa bikin
briefnya dulu.
Nah, ini saya bikin satu panduan
referensi. Nah, sebenarnya semakin
banyak semakin bagus. Tujuannya apa?
Lebih untuk mendapatkan referensi warna
dan juga ee ininya ya, bentuk
tampilannya ya gitu. Nah, ini nanti
teman-teman bisa buka
ee
hasil output-nya seperti apa. Cuma ini
bisa karena saya pakai Miro, saya e
generate pakai Miro. Cuma ini berbayar
ya, Teman-teman ya. Kalau mau
teman-teman tinggal eh masukkan eh ini
idenya problem oportunity sama solusinya
misalnya pakai Gemini CGPT atau cloud
atau persplexity teman-teman tinggal eh
copy paste eh permasalahannya terus
minta buatkan product brief ya
product brief ya ini contohnya seperti
ini. Ini kalau saya
run ini sudah ada structure-nya mungkin
saya ganti ke bahasa Indonesia.
Kakin ee product brief-nya.
Nah, Teman-teman bisa pakai EA yang lain
ya.
Jadi nanti masuk
kan problem opportunity-nya kalian tulis
terus solusinya sama referensi
desainnya. Referensi desainnya kalian
tinggal copy paste linknya aja. take
reference atau ambil referensi desain
dari website ini misalnya seperti itu.
Nah, ini ya contohnya ya. Jadi kalau
kita nyebutnya di industri namanya PRD,
Teman-teman. Jadi kalian bisa bikin
kayak problem statement-nya Bali
menghadapi pengolahan sampah, masalah
pengolahan sampah dan mengakibkan budget
saat musim hujan. Jadi kurang sistem
pemantauan koordinasi antar warga, warga
dan lain sebagainya ya. Nah, goal dan
structure-nya adalah bikin nih outcome
yang diharapkan meningkatkan laporan
tersedia akses sebagai relawan
berkurangnya kejadian banjir. Jadi, ini
tujuannya dan usernya kita juga bisa
define ya kayak Pak siapa nih case-nya
ya target e warga Bali, terus warga
kondisi sampah relawan sama koordinator.
Jadi ada tiga stakeholder. Solusinya apa
nih? fitur ya, fiturnya pemantauan,
pelaporan, fitur akses, sama ee
mekanismenya untuk ee apa masuk ke
sistem ya, relawan dan lain-lain yang
tidak termasuk. Jadi, ini ada biasanya
kalau kita bikin tuh ada batasannya,
boundaries-nya. Jadi, kita set out of
scopes gitu ya.
Nah, ini asumsi sor ini kelihatan
aku geser dikit
ya. ini asumsinya ada beberapa yang
question yang kita bisa eh define. Nah,
tujuannya apa sih kenapa harus ada open
question atau assumption untuk
men-challenge produk kita? Apakah
benar-benar kita bisa eh deliver atau
enggak ke
usernya, gitu ya. Oke, kalau udah kalian
bisa bikin menggunakan lovable. Nah, ini
ini kalian bisa join lovable di sini.
Karena saya pakai lovable, kalian bisa
ee sama atau kalian pakai tools yang
lain ya, ada bolt, ada mau pakai di di
apa cloud code misalnya itu boleh juga
cuma aku enggak enggak bisa ngajarin ya.
[tertawa] Jadi teman-teman bisa ee
explore caranya gimana. Mungkin aku
kasih contoh dulu ya, Teman-teman ya.
Ini kalau kalian buka ini udah jadi
website-nya, Teman-teman. Entar ya aku
share screenya
teman dan ini hanya pakai lobab
ya.
Dan ini klik teman-teman cuma ya baru
landing page ya. Kalau kalian mau bikin
eh next page-nya kalian harus generate
lagi. Ini belum functionnya belum jalan
ya. Tapi ini yang di main page-nya udah
klikable. Nah, kalian bisa pakai tools
lain juga selain dari
lovable, tapi
ada free credit. Jadi, kalian bisa
generate dua atau tiga kali ee page-nya.
Mau itu apps atau mau ee apa
mau apps ataupun website gitu ya. Nah,
tadi kalau caranya teman-teman itu bisa
ee masukin
PRD-nya.
yang tadi ya ee product brief-nya kalian
copy
terus digenerate di sini teman-teman
ya. masukin ke sini atau bisa dalam
bentuk dokumen ya, kalian save as PDF
terus kalian masukin sini. Kalau kalian
ada referensi lebih bagus langsung
attach saja dalam bentuk file desainnya
atau kalian pakai
ee apa konektor. Kalau misalkan mau
connect ke mirronya bisa langsung Miro
gitu ya. Tapi ini lebih advance ya
teman-teman pakai MCP ya. Tapi kalau mau
bisa langsung eh promptingnya aja.
Terus sama tadi attach referency
desainnya, link-nya kalian bisa atau
bentuk PDF kalian mau eh attach file-nya
nanti generate dia akan bikin seperti
ini teman-teman
yang tadi aku buat [mendengus]
ya
sama ya
itu aku mau mau ganti per section juga
bisa gitu ya teman-teman.
Oke, clear enough ya. Dicoba dulu
eksperimen. Silakan teman-teman kita
coba bikin prototype-nya dulu.
Waktunya
15 menit teman-teman untuk mencoba bikin
prototype versi kalian.
Oke, dicoba, ya, Teman-teman, ya.
Boleh dibantu Kak Gita ee kalau ada
pertanyaan dulu mungkin dicek dari
teman-teman.
Ee sebenarnya masih ada waktu 10 menit
sih, Mas. Oke.
H
masih ada waktu 10 menit
buat Q&A.
Oke. Oke. Enggak apa-apa kita mulai
early aja ya biar nanti kalau
ada kendala ya. Oke saya kasih waktu
teman-teman 15 menit untuk kalian coba
bikin prototype dulu ya.
Oke, silakan kalau ada pertanyaan
langsung di chat ya, Teman-teman ya.
Let's go.
Ayo, semangat teman-teman dikerjakan
ya
nyobain EA-nya ya.
[mendengus]
Nah, Teman-teman kalau misalkan sudah
selesai boleh diinfoin ya ke kolom chat
gitu kalau ada pertanyaan. nya juga
boleh diinfoiin nanti bakal Mas Kusuma
jawab ya Mas. Nah, gitu.
[musik]
Semangat teman-teman, Bapak Ibu. Bu
H
[musik]
Wih, adakah yang udah selesai nih? Boleh
banget langsung drop di kolom chat ya,
Teman-teman. Bapak, Ibu
ada yang udah jadi.
Mantap.
Oke, nanti boleh share ya kalau ada yang
sudah jadi.
Betul. Boleh share di kolom [musik] chat
ya, Mas Kusuma.
Ah.
Ramai banget tuh ya. [musik] Semoga
enggak ada kendala sebelum seperti
hari-hari kemarin ya.
Waktunya sisa masih sisa 5 menit lebih
deh. Semangat teman-teman, Bapak Ibu.
Iya, kayak Miro.
Ah
Boleh. Kalau udah selesai drop di kolom
chat dong, Teman-teman.
Tunjukin [musik]
hasil keren, karya keren kalian.
Ha.
Ah
H
Betul. Nanti penjelasan terkait paper
dan ada [musik] challenge juga akan aku
jelasin di akhir sesnya teman-teman.
Jadi stay tune aja jangan live dulu. Oke
semangat semangat.
[musik]
Ah
[musik]
Ah
Nah, sisa waktunya sisa 2 menit nih,
Teman-teman. Boleh? Yuk, yuk
kita percepat lagi.
Semangat, tetap fokus.
Nanti akan ada ditunjuk oleh Mas Kusuma
satu orang untuk presentasi [musik] ya
gitu.
2 menit lagi.
[musik]
Nah, [musik] 5 4 3 2 satu. Oke, habis
times up.
Gimana nih ya?
Mana nih suaranya nih? [tertawa]
Ada yang sudah jadi.
Ada tuh, Mas.
Boleh dong, boleh dong. Siapa tuh? Boleh
langsung share screen mungkin
ada yang mau raise hand untuk presentasi
enggak? Ayo dong teman-teman. Enggak
usah malu sih. Santai aja kita.
Oke. Nah.
Eh. Nih ada Fahri, ada Yudan. Oke. Boleh
Fahri. Silakan
boleh share screen mungkin hasilnya
seperti apa.
Oke, nice. Boleh dijelasin bikin apa
nih?
Ibu boleh open mic dong.
Oke. Baik, cek.
Jadi di sini ee yang saya buat itu
berasal dari masalah kerusakan fasilitas
umum yang bisa mengganggu aktivitas
masyarakat dan membahayakan keselamatan.
Mantap. Jadi karena itu saya di sini
berinovasi membuat website pelaporan
fasilitas umum yang di mana bisa
melaporkan ee kerusakan fasilitas umum
dari foto dan lokasi serta pemantauan
status perbaikan oleh masyarakat dan
pemerintah.
Oke, coba lihat hasilnya seperti apa.
Seperti ini. Ini saya buatnya pakai
loveable.
Wih. Oke, boleh discroll. Oke.
Report verification repair compe. Jadi
ini ya eh website pelaporan
ya.
Iya.
Landing page-nya ya. Oke, nice.
Tapi itu udah eh ada page page sign inya
udah belum?
Cuman apa? Cuman seperti ini aja. Oh,
belum ya? Oke. Oh. Oh, tapi udah ada
tampilannya. Mantap juga nih.
Oke, sip. Menarik menarik. Boleh dong
di-share link-nya nanti buat teman-teman
bisa lihat juga ee ininya ya,
share lovable-nya nih buat inspirasi
yang lain. Jadi nanti kayak gini,
Teman-teman. Waktu kalian me-develop
dengan eh prototype dengan lavable bisa
tampilannya bentuk website ya atau
bahkan apps gitu ya.
Oke, boleh di-share di chat mungkin Kak
Fahri lovable-nya ya.
Thank you. Tadi satu lagi siapa ya?
Boleh dong tadi yang res.
Thank you ya Fahri ya sudah sharing ya.
Nah, ini buat contoh teman-teman ya.
Yudan silakan. Yudan silakan.
Mantap kali, Bang Fix City.
Mantap ya, Mas. Keren. Keren, Kak.
Keren. Oh, Kak Yuden gak bisa open
bisa share screen enggak? Tapi
cekek suara saya kedengaran enggak?
I sudah masuk. Oke.
Oke, boleh dijelasin?
I
cek cek. Nah,
oke. Jadi ee
problem atau opportunity yang di ee
angkat kami atau saya itu yang pertama
dari masalah jaringan lambat, kedua eh
spek device yang terbatas, yang ketiga
ee apa namanya?
Yang ketiga yaitu ee tidak tahunya
kemampuan dari masing-masing siswa ee
yang sudah dikuasai oleh siswa itu
pelajarannya segimana sih? Lalu ee
solusinya yaitu personalisasi belajar
berbasis CI, server lokal bertenaga
surya dan juga platform e pembelajaran
ringan dan interaktif. Oke,
untuk PRD-nya
loh. Ini langsung ke ininya, Mas.
Iya, langsung ke produknya. Enggak
apa-apa.
Oh, ini berarti app ya. Oke. [berdehem]
Iya.
J sini ada ya pertamanya nanti
pemahamannya itu di ini ya, di sini ada
presentasinya. mau
dia meningkat misal
ya ini akan bertambah setelah
menjawab-jawab ee dari asesmen gitu.
Ini sih ee Kak Kusuma untuk
yang guru sudah bisa diakses juga belum?
Yang guru belum saya coba sih. Ini baru
nge-prom tadi.
Tapi menarik nih ee ininya ya,
dashboard-nya ya.
pencapaiannya. Oke, nice. Keren banget
ini.
Boleh di-share enggak ya linknya?
Boleh ke Kusuma. Nanti saya share.
Nanti mungkin teman-teman boleh di-share
aja ya ke
class manager juga ke Kak Gita yang udah
ee berhasil
bikin pakai loveable atau tools lain
juga boleh ya. Tadi ada yang nanya pakai
Vel bisa pakai VO juga.
Mantap banget tuh. tadi sudah dari
siswa, dari guru, jadi dua-duanya ya
udah udah jadi ini
ee interface-nya.
Hai,
baik. Aku sema ini
oke
ee ini sih jadi
apa namanya
ini atau gimana?
Udah boleh boleh boleh diop screen ya.
Thank you ya Yudan ya sudah sharing ke
teman-teman juga.
Nah ini ada dua contoh yang menarik ya
Kak Gita ya. buat teman-teman untuk
inspirasi.
Jadi mungkin ada yang belum sempat jadi
bisa jadi inspirasi juga.
Oke, keren banget teman-teman. Kak Fari,
Kak siapa tadi? Kak Yuda. Oke, mungkin
teman-teman yang lain pasti punya hasil
yang keren nanti bisa ditunjukkan ya.
Oke, ini aku lanjut ke sesi Q ini ya
karena keterbatasan waktu juga. Boleh
teman-teman, Bapak, Ibu yang mau rise
hand
atau kalau misalkan enggak bisa nanti
akan aku bacakan dari Slido juga.
Adakah yang ingin bertanya?
Boleh raise hand.
Oke, sepertinya aku bacakan dari Slido
dulu kali ya, mungkin sambil teman-teman
ee mempersiapkan pertanyaan kayak gitu.
Sebentar.
Nah, di sini ada pertanyaan dari Kak Oh
ini top komennya ada di Kak Akuwarah.
Kak, izin bertanya dalam babek ini
seperti apa bentuk prototype yang
diharapkan oleh panitia ataupun juri dan
apa saja ketentuan prototype-nya?
Monggo, Mas. Gimana tuh?
Nih saya balikin ke tim ee ini ya
[tertawa]
kriterianya kayak gimana tuh?
Oh,
yang dari seleksinya.
Oke, mungkin ini ee bisa ditanyakan ke
admin masing-masing di grup Telegram ya,
Teman-teman. Nih kalau misalkan ada
pertanyaan seperti itu. Ini aku bacain
lagi dari Kak Elza. Kak produk kita mini
reaktor dengan machine learning dan
dashboard. Perkiraan hasil reaksi apakah
prototype bisa dipakai material yang
belum diinovasi? Gimana nih, Mas?
Maksudnya material yang belum diinovasi
itu seperti apa? Boleh di mungkin kalau
ada di sini Elsa boleh open mic dulu.
Iya boleh, Kak Elza
boleh dijelaskan lebih detail mungkin ya
seperti apa? material yang belum
diinovasi itu.
Yes. Itu sudah onc. Silakan El.
Iya.
Ee jadi gini, Kak. Ee produk kami itu
ee ada inovasi materialnya. Jadi dengan
inovasi material tersebut dapat
menghasilkan hasil yang lebih
bervaluable.
Nah, tetapi untuk ee sintesis material
yang itu
itu ribet prosesnya.
Jadi, apakah kita boleh prototype-nya
itu tanpa inovasi material, tapi yang
penting ada itunya apa tentang machine
learning dan lain-lainnya
ya. Yang jadi waktu bikin prototype bisa
dari yang tadi prioritas dulu ya. kamu
bikin effort dulu mana yang menurut kamu
ini bisa dilakuin terlebih dahulu. Kalau
memang tadi yang material inovasi kan
memang core, tapi kayaknya butuh effort
lebih banyak nih kamu jadiin itu eh apa
strategic project ya lebih panjang
prosesnya. Tapi yang sekarang kamu bisa
tes kayak machine learning dan lain-lain
kamuin dulu gitu. Jadi enggak masalah
nanti kamu nambahin di belakang ya. Yang
penting proses
ee prototype-nya kamu fokus ke fitur
mana yang paling mudah untuk dibuat dan
bisa dites gitu ya.
Ada tambahan mungkin
jawabak ya.
Terima kasih, Kak. Sudah cukup.
Oke ya. Ingat ya, prioritas teman-teman
saat membuat fotot. Prioritaskan dulu
yang teman-teman bisa develop segera.
Oke, silakan. Ada lagi.
Ini ada di dari Sultan Habia. Boleh,
Kak. Satu lagi ya, Teman-teman yang
resen.
Bentar saya cek
mau open mic atau langsung di
bacakan.
Eh, halo, Kak.
Oh, dia di chat, Kak. Ini, Kak. Izin
bertanya
untuk misal sudah membuat desain mup
tampilan mobile dan app serta prototype
buat hardware-nya itu nanti dicantumkan
berbentuk link atau disisipan berbentuk
gambar. Begitu, Mas.
Bisa keduanya. Kalau memang kamu ada ee
sudah bikin prototapilnya
bisa untuk karena butuh untuk
dokumentasi ya pelaporan nanti
teman-teman di ee apa
di tim ini. Ee nanti kalian bisa
cantumin gambarnya seperti apa. Tapi
kalau belum bikin dulu ininya ee apa ee
flowchart-nya function-nya ya kan. Terus
ee kalau ada prototype gambarnya ya
pakai link boleh ya kan atau kayak tadi
sketsanya dulu planning kalian mau
developnya seperti apa. Kalau biasa ada
yang bikin pakai 3D juga boleh. Ee kalau
memang hardware-nya bentuknya ada ee
sisi-sisi yang memang ada fiturnya ya
itu bisa juga. Tapi kalau enggak ada ya
kalian ee ini aja foto satu sisi
misalnya kayak produk ee apa ee untuk
IoT yang apa tuh ee
ada sensornya misalnya ya udah
komponennya itu kalian fotoin dari atas
tuh boleh gitu.
Oke, thank you.
Gitu ya. Heeh. Oh, ini ada Sultan. Thank
you ya Sultan ya. Oke,
terima kasih, Kak. Oke,
mungkin aku quick answer aja, Mbak, yang
di Mbak kita yang di chat enggak apa-apa
ya. Ee aku langsung jawab aja cepat.
Kalau masih dalam bentuk paper lag dari
Mari Maria ya, Kak. Ini masih dalam
bentuk paper-nya lagi atau sudah dalam
bentuk prototype? Nah, kalau di Protot
baiknya sudah ada bentuk physicalnya ya.
Ee kalau memang hardware. Tapi kalau eh
produk digital ya tadi kalian bikin
lovable-nya gitu ya atau bikin prototype
eh digitalnya karena itu kan clickable.
Sebenarnya yang diovable tuh udah live
cuma fiturnya kan belum semua didevelop
ya. Kayak tadi Fahril sudah bikin. Tapi
fitur apanya? Eh sign up-nya eh sign
up-nya udah ya. Tadi apa yang konakct
atau apa ya? yang pojok kanan belum
koneksi misalnya kayak gitu atau tadi
yang punyanya si
Yudan juga sama ya yang belum selesai
yang di bagian guru. Tapi it's oke
karena udah kebayang visual tampilannya.
Terus dari Zakaria misal produk dibuat
dalam skala yang lebih kecil bisa
enggak? Bisa. Kalau hardware baiknya
dari skala kecil justru biar enggak
boncos ya. Jadi [tertawa]
bikin ee ukuran kecil dulu. At least
paling enggak fitur dan ee ininya ee
kelihatan gitu ya. Kalau memang ada
tombolnya, ada ee apa screen-nya
kalian mau
ee sensor biar video tadi ya bikin
prototype yang ada materialnya.
E kalau bisa dari yang kecil dulu boleh,
tapi kalau memang cost-nya sama bikin
kecil sama besar mending langsung sesuai
ukuran realnya aja ya. Karena kalau
kayak 3D printing itu cost filamennya
sama soalnya ya. Mau banyak mau dikit
sama dia hitungannya satu kali bikin
tabungnya ya.
Oke.
Oh.
Ini Yuliana fot software jatuh bisa
keduanya ya. tadi kan di contohnya ada
ya yang tadi dari Google ya eh ya Google
ya tadi Google kan ada contohnya ya mau
produk digital atau produk real kayak
tadi ada yang bikin coffee ada yang
bikin ee ini bisa pakai 3D printing. Nah
itu sama prosesnya tetap desain
thinking-nya sama gitu.
Oke Kita saya kembalikan.
Oke, cukup ya teman-teman untuk sesi
kene. Mohon maaf banget kalau misalkan
ada pertanyaan yang belum sempat
disampaikan ke Mas Kusuma karena
keterbatasan waktu juga ya. Nah, terima
kasih banyak ya Mas Kusuma atas ilmu
pengalaman berharga yang sudah dibagikan
ke teman-teman hari ini, ke Bapak Ibu
juga. Benar-benar insightful banget.
Boleh dong kita kasih applause ke mentor
kita hari ini, Mas Kusuma. Teman-teman,
reaction-nya tepuk tangan gitu.
Thank you.
Oh, thank you. [tertawa]
[terkesiap] Oke, sebelum kita berakhir
nih, jangan sampai lupa momen penting
yaitu dokumentasi. Boleh oncam dulu,
siapin senyum terbaik kalian. Kita foto
bareng dulu yuk. Sebentar kok.
Oke, ini aku hitung 1 2 3 ya. 1 2 3.
Oke, untuk slide yang selanjutnya. 1 2
3.
Oke, terima kasih banyak teman-teman
yang sudah on cam. Nah, once again thank
you Mas Kusuma atas materi yang sangat
luar biasa hari ini. Untuk Mas Kusuma
kalau misalkan ada agenda lain itu boleh
banget untuk lif Mas kalau misalkan mau
stay bareng kita sampai akhir itu juga
boleh gitu. Sekali lagi makasih banyak
ya Mas Kusuma.
Thank you ya. Oh iya. Ee tadi testingnya
kan belum. Sebenarnya testing eh
sebenarnya teman-teman bisa jadikan itu
untuk reflection ya. Kalian tinggal
generate question yang kalian mau
tanyakan untuk melakukan testing. Tapi
fasenya sesuai dari material tadi ya
cara melakukannya. Itu aja sih
teman-teman. Ee mohon maaf karena
keterbatasan waktu ee nanti bisa
dipraktikkan sendiri di rumah ya. Thank
you. Saya kembalikan ke Kak kita.
Oke teman-teman kita sudah sampai nih di
pengujung workshop. off. Tapi jangan out
dulu karena kita masih ada satu link
form yang perlu diisi yaitu untuk post
tes feedback dan juga absensi sekaligus.
Sebentar ya aku share screen terlebih
dahulu.
Nah, teman-teman Ibu bisa scan barcode
ini untuk pengisian feedback post. Jadi
sekaligus gitu loh untuk
pengisiannya. Boleh diisi terlebih
dahulu sebelum meninggalkan Zoom ya dan
jangan sampai terlewat untuk absen gitu.
Nah, untuk post sendiri itu
ee di dalamnya itu akan ada keyword.
Nah, keyword-nya itu adalah prototype.
Aku ulangi lagi prototype ya. Pr O
Ty P. Nah, nanti kwat ini bisa kalian
isi pada kolom yang diminta di form.
Begitu.
Kemudian aku sambil jelasin juga ya
Bapak, Ibu terkait yang tadi ada
challenge dan juga ada paper ya. Nah, em
buat teman-teman, Bapak, Ibu, ada yang
seru nih sekarang lagi ada meet meet the
innovator challenge. Ini waktunya kalian
buat pamerin kekompakan tim, bikin
video.
Oh, ya, sebentar, maaf teman-teman belum
full screen. Nah, iya.
Oke, aku ulangin ya. Nah, jadi buat
teman-teman mahasiswa dan siswa ada yang
seru nih. Sekarang lagi ada Meet the
Innovator Challenge. Ini waktunya kalian
buat pamerin kekompakan tim, bikin video
perkenalan yang nunjukin siapa ngapain
aja di tim kalian. Nah, selama develop
inovasinya. Nah, ini sifatnya itu wajib
ya, Teman-teman. Nah, pas bikin videonya
nanti akan ada tiga ketentuan yang harus
dipatuhi. Pertama itu follow dan tag
Instagram @samsungia.
Yang kedua bisa pakai fitur
collaboration post bareng satu anggota
tim kalian. Dan yang terakhir adalah
akunnya itu jangan di private ya,
Teman-teman. Jadi ee jangan asal bikin
video dan pastikan tiga hal di atas itu
udah terpenuhi seperti itu. Nah, kabar
baiknya empat video terbaik itu bakal
ada hadiahnya. Saldo iman nih. Totalnya
Rp4 juta. Lumayan kan buat beli cilok
ini dapat gak sih 1 RT gitu. Makanya
jangan lupa ikutan ya challenge ini.
Terus buat teman-teman nih yang
pertanyaan tadi ya terkait paper ee
boleh dilanjutkan kembali, boleh
disempurnakan kembali karena
deadline-nya itu ada di tanggal 26
sampai 29 Juli. Untuk template-nya itu
masih sama kayak pas kalian daftar. Jadi
enggak ada yang berubah ya, Teman-teman.
Seperti itu. Nah, oke Bapak, Ibu,
Teman-teman. Sebelum kita menutup sesi
hari ini, aku mau ngucapin makasih
banyak ya udah semangat terus dari awal
sampai akhir. Kalau tadi ada yang kurang
pas dari aku, tim dan juga dari yang
lainnya mohon dimaafkan. Semoga apa yang
sudah dipelajari hari ini bisa langsung
dipraktikkan buat konsep paper kalian
masing-masing. Dan jangan lupa untuk ini
scan barcode dulu untuk postest dan juga
feedback sebelum kalian cabut ke ya lif
pokoknya live zoom gitu. Sampai ketemu
lagi minggu depan. Tetap semangat dan
selamat melanjutkan aktivitasnya. Happy
weekend teman-teman
dan Bapak Ibu.
स्पड
Bentar ya.
[musik]
[musik]
[musik]
[musik]
[musik]
[musik]
[musik]
[musik]
[musik]
Teman-tem
hadir pada [musik][bernyanyi] sesi hari
ini di jam 1140 akan aku stop untuknya
ya.
[musik]
[musik]
Happy weekend semuanya. [musik] Semalam
lanjutkan aktivitas.
[musik]
[musik]
Jangan lupa diisi [musik] ya. Ini
feedback dan poch-nya juga dijakan.
Untuk keyboard-nya tadi kalau misalkan
ee lupa atau tertinggal keyword-nya itu
adalah [musik][bernyanyi] prototype ya.
Protype kayak gitu.
[musik]
[musik]
[musik]
[musik]
More transcripts
Explore other videos transcribed with YouTLDR.

Praktikum Analisis Jejaring Sosial mengunakan Aplikasi Gephi
Faizal Anugrah · Indonesian

What Should Galatasaray Fans Expect from Lesley Ugochukwu? Burnley Expert Explains
TheGalatasarayShow · Turkish

Sejarah Piala Dunia
Kongruen · Indonesian

CONSÓRCIO EM 2021: Vale a pena? É melhor que FINANCIAR?
ESFERA - Negócios e Dinheiro · English

Почему брак кажется таким ПИ**ЕЦОМ
Мигачёвщина · English

6 Skills pour Créer une VRAIE App avec Claude Code
Naier Saidane · French

Debat Asian Parliamentary SMKN 1 PANDEGLANG TIM A - SBB UNTIRTA 2024
Olvi Pebriani · Indonesian

Rise of China - The Generalissimo
Epic History · English

Film Pendek Jawa (Unggah-Ungguh Tata Krama Tetep Dijaga)
SMK Muhammadiyah 3 Nganjuk · English

Why Did Humans Evolve In Africa?
Evolve.2 · English

يامصر بتعمليها ازاي ¦ لغز مصر 🇪🇬 الي حير العالم والكوكب!
مداح بن راشد · English

FITUR SPREADSHEET EXCEL MUDAH DIPAHAMI
Balance Spot · Indonesian
Get the TLDR of any YouTube video
Transcribe, summarize, and repurpose videos in 125+ languages — free, no signup required.