PERANG SHIFFIN : Ali Bin Abi Thalib Vs Muawiyah Bin Abu Sufyan Awal Mula Perpecahan Dalam Islam
Assalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh. Perang
Syifin. Sebuah peristiwa saat umat Islam
berdiri saling berhadapan bukan di
hadapan musuh, tapi di hadapan saudara
sendiri. Di medan itu, darah tumpah
bukan karena
kekufuran, tapi karena dua kebenaran
yang tak lagi bisa duduk bersama. Perang
Syifin bukan sekadar kisah lama. Ia
adalah titik awal dari pecahnya barisan
umat. Saat mushaf diangkat di ujung
tombak dan fitnah mulai berbicara lebih
nyaring daripada nasihat. Kita membahas
perang Syifin. Karena untuk memahami
luka hari ini, kita harus kembali ke
tempat di mana luka itu pertama kali
terbuka. Perang ini bukan tentang Islam
melawan kekufuran. Bukan pula tentang
iman melawan kemunafikan. Yang terlibat
dalam perang ini adalah dua sahabat Nabi
Ali bin Abi Thalib, menantu Nabi.
Muawiyah bin Abi Sufyan, penulis wahyu
dan gubernur Syam. Keduanya adalah tokoh
besar dalam sejarah Islam. Keduanya
beriman. Keduanya berjuang bersama Nabi
Muhammad sallallahu alaihi wasallam.
Tapi sejarah mencatat mereka pernah
berhadapan di medan perang. Di tempat
yang kelak dikenal sebagai Syifin
ahlusunah wal jamaah tidak menyalahkan
salah satu secara mutlak. Mereka tidak
memihak dengan hawa nafsu, tapi menilai
dengan ilmu dan adab terhadap para
sahabat. Mereka meyakini bahwa apa yang
terjadi adalah hasil dari ijtihad. Nabi
Muhammad sallallahu alaihi wasallam
bersabda, "Jika seorang hakim berijtihad
dan benar, maka baginya dua pahala. Jika
salah, maka baginya satu pahala." Hadis
riwayat Bukhari dan Muslim. Maka Ali bin
Abi Thalib dipandang benar dan mendapat
dua pahala. Sedangkan Muawiyah meski
ijtihadnya dianggap keliru, tetap
mendapat satu pahala. Tapi di luar semua
itu, umat tidak hanya menanggung
perhitungan hukum. Umat menanggung
perpecahan. Yang tersisa dari perang itu
adalah luka. Luka yang membelah umat.
Luka yang belum sembuh sampai hari ini.
Karena saat pedang mulai diangkat dan
mushaf belum dibuka. Kebenaran menjadi
samar, kepercayaan mulai retak, dan umat
Islam mulai saling curiga. Perang belum
dimulai, tapi arah sejarah sudah mulai
berubah. Kecurigaan mulai tumbuh. Dan di
antara barisan yang pernah bersatu di
bawah panji Nabi Muhammad sallallahu
alaihi wasallam, retakan mulai terlihat.
Semua bermula dari satu peristiwa.
Wafatnya Utsman bin Affan.
Khalifah ketiga itu bukan gugur di medan
jihad, bukan mati di tangan musuh luar,
melainkan terbunuh oleh orang-orang yang
mengaku muslim yang datang dengan alasan
menuntut keadilan. Ia wafat dalam
keadaan membaca mushaf dan darahnya
menai lembaran yang dibacanya. Beberapa
riwayat menyebut ayat terakhir yang
disentuh darah Utman adalah dari Quran
surarah.
Cukuplah Allah bagimu. Dialah
sebaik-baik
pelindung. Kekosongan kekuasaan setelah
wafatnya Utsman membuka jalan bagi
kebingungan. Kota Madinah tidak lagi
menjadi pusat ketenangan. Para
pemberontak masih ada di dalamnya dan
masyarakat umum tak tahu harus berpihak
ke mana. Di tengah kekacauan itu, satu
nama disebut-sebut Ali bin Abi Thalib.
Sosok yang dikenal karena keilmuannya,
keberaniannya, dan kedekatannya dengan
Nabi Muhammad sallallahu alaihi
wasallam. Awalnya ia menolak, tapi
tekanan dari masyarakat membuatnya
menerima baiat sebagai khalifah. Ali
dibaiat bukan dalam suasana damai. Ia
memimpin dalam kondisi negara yang
hampir pecah dan itu membuat langkah
pertamanya tidak mudah. Di antara
barisan pendukungnya, ada yang pernah
terlibat dalam pembunuhan
Utsman. Ada yang hanya diam saat itu
terjadi. Dan ada pula yang tak tahu
siapa
pelakunya. Masalahnya para pembunuh itu
tidak bergerak sebagai satu kelompok.
Mereka menyebar, membaur, dan menghilang
dalam keramaian. Jika langsung
menegakkan kisas tanpa kejelasan hukum
dan saksi yang adil, maka itu bukan
keadilan. itu hanya akan melahirkan
perang saudara baru. Maka Ali memilih
menunda. Ia ingin menyatukan kembali
umat, ingin menata kembali pemerintahan.
Tapi pilihan itu tidak diterima semua
pihak. Dari Syam, Muawiyah bin Abi
Sufyan menyatakan penolakannya untuk
berbaiat. Ia bukan sahabat biasa. Ia
adalah kerabat Utsman. Ia juga gubernur
Syam yang telah ditunjuk sejak masa Umar
bin Khattab.
Ia memiliki pasukan, pengaruh, dan
kedudukan. Penolakannya bukan karena
ingin menjadi
khalifah, tapi karena satu hal menuntut
kisas atas darah Utsman. Baginya, selama
para pelaku belum diadili, maka tidak
ada baiat. Ia menulis surat kepada Ali
meminta ditegakkannya qisasy. Tapi surat
itu dibalas dengan penjelasan bahwa
penegakan hukum membutuhkan syarat.
Harus jelas pelakunya, harus ada
pengadilan, harus ada
stabilitas. Ali tahu keadilan yang
tergesa hanya akan melahirkan
ketidakadilan baru. Ia tidak ingin darah
ditumpahkan atas dasar dugaan. Tapi dari
Syam, jawaban itu dianggap alasan. Dan
dari situlah konflik berkembang. Surat
demi surat dikirim, utusan demi utusan
diutus, tapi masing-masing tetap pada
pendiriannya. Ali tidak bisa mencabut
pedang kepada rakyatnya sendiri yang
tidak terbukti secara hukum membunuh
Utsman. Muawiah tidak bisa menerima
pemimpin yang membiarkan pembunuh Utsman
bebas. Dalam kitab albidayah wan
nihayah, Ibnu Katsir menjelaskan bahwa
Ali mengambil langkah paling bijak untuk
mencegah pertumpahan darah di awal. Tapi
kondisi umat saat itu sudah tidak siap
untuk mendengar. Kebenaran yang lambat
seringkiali dianggap sebagai kelemahan
dan kecurigaan tumbuh di antara
barisan. Masalah lain muncul. Sebagian
pasukan Ali ternyata bersimpati pada
pemberontak. Sebagian lainnya justru
ingin segera menyerang Syam. Kepercayaan
mulai goyah. Di sisi lain, Syam sudah
mulai mempersiapkan pasukan. Muawiyah
belum menyatakan perang, tapi penolakan
itu sudah cukup untuk memicu barisan
Kufah bersiap. Maka dua e pusat kekuatan
umat Islam mulai bergerak. Ali dari
Kufah, Muawiyah dari Syam. Keduanya
membawa orang-orang terbaik. Keduanya
ingin memperbaiki keadaan. Tapi jalur
yang mereka tempuh berbeda. Dalam Quran
surat Alhujurat ayat 9 disebutkan, "Dan
jika dua golongan dari orang-orang
mukmin berperang, maka damaikanlah
antara keduanya. Jika salah satu dari
mereka melampaui batas maka perangilah.
Yang melampaui batas itu sampai kembali
kepada perintah Allah."
Ayat ini diturunkan bukan untuk
menghakimi siapa yang kafir, tapi untuk
mengingatkan bahwa dua kelompok yang
saling bertikai tetap berada dalam
lingkup iman. Diplomasi berhenti di
jalan, dan keyakinan pribadi mulai
mengalahkan usaha untuk memahami, maka
dua jalur yang berbeda pun bertemu di
satu titik, di satu tempat, di satu nama
yang kelak tidak akan dilupakan sejarah.
Syifin Ali bin Abi Thalib memulai
langkahnya dari Kufah. Ia membawa amanah
sebagai khalifah yang sah. Ia tidak
membawa pasukan untuk menundukkan
rakyatnya, tapi untuk menjaga marwah
kepemimpinan. Di sekelilingnya ada
sahabat-sahabat Nabi yang setia. Di
antaranya Ammar bin Yasir Malik Alasar
dan Abdullah bin Abbas. Orang-orang ini
tahu Ali tidak mencari perang. Tapi
mereka juga sadar jika fitnah dibiarkan,
umat akan lebih hancur. Ali tidak
membentuk pasukan dalam semalam. Ia
membangun komando dengan hati-hati. Ia
tidak ingin kekuatan yang lepas kendali.
Ia ingin keadilan ditegakkan tanpa
mengorbankan persatuan. Tapi keadaan tak
lagi sederhana. Dari Syam, Muawiyah bin
Abi Sufyan juga bersiap. Ia bukan orang
asing bagi umat Islam.
Ia pemimpin wilayah penting dan
pengaruhnya mengakar. Ia tidak
mengangkat dirinya sebagai khalifah,
tapi ia mengangkat satu bendera menuntut
Kisas atas kematian Utsman. Pasukan Syam
terbentuk dengan rapi. Ratusan ribu
orang berkumpul bukan untuk memberontak,
tapi untuk membela kehormatan darah
Utsman. Setiap langkah mereka membawa
keyakinan bahwa mereka menolong yang
teraniaya.
Setiap persenjataan mereka dibalut tekad
untuk memperjuangkan kebenaran yang
mereka pahami. Dari Kufah dan dari Syam,
dua arus kekuatan itu bergerak. Keduanya
menuju tempat yang sama, sebuah dataran
di tepi sungai Eufrat, namanya
Shifin. Tempat ini tidak pernah istimewa
sebelumnya. Tapi setelah itu ia akan
menjadi saksi sejarah yang tak
terhapuskan.
Sebelum pertempuran Ali dan Muawiyah
masih saling mengirim utusan. Surat
ditukar. Kalimat demi kalimat berusaha
memperjelas niat masing-masing. Tapi
setiap penjelasan justru menambah
kecurigaan. Ali meminta Muawiyah
berbayat. Ia menjelaskan bahwa darah
Utsman tidak bisa dituntut tanpa proses
yang benar. Ia tidak bisa menebas
sembarang orang hanya untuk memuaskan
dendam politik. Sebaliknya, Muawiyah
meminta satu hal, tangkap pembunuh
Utsman terlebih dahulu. Setelah itu baru
akan ada pembicaraan soal baiat. Tapi
Ali tahu siapa yang harus ditangkap
belum
jelas. Mereka tersebar, membaur, bahkan
sebagian menyusup ke barisan pasukannya.
Dalam kitab albidayah wan nihayah, Ibnu
Katsir mencatat bahwa upaya damai masih
terus dilakukan bahkan menjelang
hari-hari terakhir. Masih ada harapan
bahwa darah tidak harus tumpah, tapi
suara dari belakang barisan terlalu
bising. Ada kelompok yang tidak
menginginkan damai. Mereka tidak mencari
keadilan mereka ingin kekacauan tetap
hidup. Fitnah yang menyebar lebih cepat
daripada pesan-pesan damai. Dan dari
fitnah itu lahir ketegangan yang tak
terbendung. Ali tetap mengedepankan
musyawarah. Tapi sebagian pasukannya
mulai tak sabar. Mereka merasa Syam
menghina kekhalifahan. Mereka merasa
dikhianati oleh sesama Muslim. Di sisi
lain, pasukan Muawiyah juga terbangun
oleh amarah. Mereka tidak bisa menerima
seorang pemimpin yang dianggap
melindungi para pembunuh Utsman. Kedua
belah pihak merasa benar. Keduanya
merasa membela Islam. Tapi dalam keadaan
seperti ini, kebenaran tidak lagi
bersih. Ia terhalang kabut opini. Ketika
dua pihak sama-sama yakin membela
kebenaran dan tidak lagi percaya satu
sama lain, maka medan perang menjadi
satu-satunya tempat mereka berbicara.
Maka pedang mulai diasah, perisai mulai
disiapkan, pasukan mulai berbaris,
aba-aba belum terdengar, tapi pandangan
mata sudah saling menusuk. Dan sejarah
sedang bersiap mencatat sesuatu yang
tidak akan pernah mudah dibaca oleh
generasi setelahnya. Ali tidak menarik
diri, Muawiyah tidak mengalah.
Di tengah dataran Syifin, dua pasukan
Islam berdiri saling
berhadapan. Keduanya pernah salat
berjamaah di belakang Nabi Muhammad
sallallahu alaihi wasallam. Keduanya
pernah berjihad melawan musuh yang sama.
Tapi kini mereka harus memilih diam atau
saling menyerang. Beberapa sahabat masih
mencoba mencegah. Mereka mengingatkan
sabda Nabi, "Jangan kembali kafir
sepeninggalku. Sebagian kalian memenggal
kepala sebagian yang lain." Hadis
riwayat Bukhari. Tapi suara itu
tenggelam di antara derap kaki pasukan.
Tidak ada yang menginginkan pertumpahan
darah, tapi tidak ada yang bisa
menghentikannya. Karena saat keyakinan
sudah menjadi kaku, maka dialog tidak
lagi cukup. Dua pasukan yang saling
berhadapan di Shifin tak lagi mampu
mundur. Perundingan gagal, utusan sudah
tak dipercaya, surat tak lagi dibaca.
Maka perintah bergerak turun dari
masing-masing komando. Dan untuk pertama
kalinya dalam sejarah Islam, pasukan
muslim mengangkat pedang terhadap
pasukan muslim lainnya.
Hari pertama darah mulai tumpah. Bukan
dari pasukan Romawi, bukan dari kaum
musyrik, tapi dari sesama umat yang
mengucap kalimat yang sama, sujud ke
arah kiblat yang sama, dan menyebut nama
Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam
di setiap doa mereka. Pagi itu denting
pedang tidak bisa dibedakan dari takbir.
Derap kuda tak bisa dipisah dari seruan
jihad. Tapi jihad ini bukan lagi melawan
kekufuran. Ini adalah pertarungan antara
dua pihak yang sama-sama merasa
benar. Hari kedua, korban berjatuhan
lebih banyak. Barisan pasukan Ali
bertahan dengan keyakinan bahwa mereka
memegang kebenaran. Di sisi lain,
pasukan Muawiyah berperang dengan
semangat membela kehormatan Utman bin
Affan. Tak ada yang mengaku menyerang
duluan, tapi setiap tebasan mengarah ke
dada saudaranya sendiri. Dalam catatan
sejarah, tidak ada yang bisa memastikan
siapa yang lebih dulu kehilangan
kendali. Tapi di Medan Shifin tidak ada
ruang bagi keraguan. Yang ragu akan
tumbang lebih
dulu. Hari ketiga, suasana berubah
menjadi kelelahan kolektif. Tapi
pertumpahan darah belum berhenti. Dan di
tengah medan yang menghitam oleh debu
dan darah, seorang sahabat Nabi gugur,
Ammar bin Yasir. Ia gugur di pihak Ali.
Dan kabar kematiannya mengguncang
pasukan. Sebab Nabi Muhammad sallallahu
alaihi wasallam pernah bersabda, "Ammar
akan dibunuh oleh kelompok yang
durhaka." Hadis riwayat Muslim. Sabda
itu dulu mungkin hanya dianggap sebagai
peringatan. Tapi ketika tubuh Amar
jatuh, isyarat itu menjadi nyata.
Pasukan Ali mulai yakin mereka di pihak
yang benar. Jika Amar gugur di barisan
mereka, maka lawan mereka adalah
kelompok durhaka. Tapi keyakinan itu tak
serta-merta memberi kemenangan. Karena
kekuatan di lapangan tidak hanya
ditentukan oleh kebenaran, tapi juga
oleh strategi, daya tahan, dan
kepercayaan diri. Di sisi lain, pasukan
Muawiyah mulai goyah. Tapi justru di
saat itu satu manuver muncul. Mushaf
diangkat di ujung tombak. Dari seluruh
arah lembaran-lembaran Al-Quran
dikibarkan bukan sebagai tanda
kemenangan, tapi sebagai ajakan untuk
berhenti. Satu isyarat damai. Tapi bagi
sebagian orang itu adalah siasat.
Sebagian pasukan Ali melihat itu sebagai
pengalihan. Mereka menolak berhenti.
Tapi sebagian yang lain merasa mushaf
tidak boleh diabaikan. Di sinilah
perpecahan terjadi bukan antara dua
pasukan, tapi di dalam satu barisan. Ali
mencoba menjaga kendali, tapi suaranya
tenggelam dalam perdebatan. Yang satu
berkata, "Jangan tertipu. Ini hanya cara
untuk menghentikan kekalahan mereka."
Yang lain menjawab, "Jika kita terus
menyerang, kita lebih buruk dari mereka.
Karena kita mengabaikan Alquran." Ali
tahu mushaf itu diangkat bukan karena
niat tulus, tapi ia tidak bisa memaksa
semua orang untuk percaya padanya.
Pasukannya mulai ragu. Sebagian dari
mereka memaksa Ali menerima tahkim.
Sebuah jalan tengah berupa arbitrase,
perundingan di luar medan perang. Ali
menolak, tapi suara penolakan tak lebih
kuat dari desakan pasukannya sendiri.
Akhirnya Ali setuju, tapi dalam hatinya
ia tahu ini bukan perdamaian. Ini adalah
jebakan. Karena tahkim yang dimaksud
bukan musyawarah, tapi panggung baru.
Bukan untuk menyelesaikan konflik, tapi
untuk mengatur ulang kekuasaan. Tapi
babak baru dari fitnah yang lebih dalam.
Ali bin Abi Thalib akhirnya menerima
tahkim bukan karena meyakininya sebagai
solusi, tapi karena desakan dari
pasukannya sendiri yang terbelah. Ia
tahu keputusan itu tidak ideal, tapi
dalam kekacauan bahkan pilihan yang
buruk bisa terlihat sebagai satu-satunya
jalan
keluar. Dua perwakilan ditunjuk dari
pihak Ali Abu Musa
Al-As'ari, seorang sahabat yang dikenal
lembut dan tidak suka konfrontasi. Dari
pihak Muawiyah, Amr bin
Asorikus cerdik, ahli retorika, dan
sangat berpengalaman dalam urusan.
Kesepakatan awalnya tampak
sederhana. Kedua pihak setuju untuk
mencabut klaim kekuasaan lalu
menyerahkan urusan kepemimpinan kepada
umat. Ini terlihat seperti langkah
menuju Islam. Tapi di balik meja
perundingan, sesuatu yang lain sedang
disusun. Abu Musa dengan keluguannya
benar-benar mengira bahwa lawannya akan
bersikap jujur. Tapi Amr bin Ash datang
dengan rencana. Ketika saatnya deklarasi
tiba, Abu Musa bicara lebih dulu. Ia
menyatakan, "Aku mencabut Ali dari
kepemimpinan sebagaimana aku mencabut
cincin dari jariku." Lalu ia menoleh
kepada Amr bin Ash. Giliran Amr bicara,
tapi bukan kalimat damai yang keluar. Ia
justru berkut menetapkan Muawiyah
sebagai pemimpin sebagaimana Abu Musa
mencabut Ali dari kepemimpinan. Abu Musa
terdiam. Ia sadar dirinya diperdaya.
Tahkim berubah menjadi tipu daya, Ali
murka. Tapi lebih dari itu, kerusakan
sudah terjadi. Umat sudah semakin
bingung. Suara yang tadinya memaksa
untuk berdamai kini membisu. Sebagian
justru berbalik arah. Kelompok Khawarij
yang sebelumnya mendesak Ali untuk
menerima tahkim, kini mengkafirkan Ali
karena menerima tahkim. Fitnah
berkembang cepat. Apa yang dimulai
sebagai upaya musyawarah berubah menjadi
tuduhan, pengkhianatan, dan pemecahan.
Ali kembali ke Kufah, tapi kekuatannya
melemah. Legitimasi yang sebelumnya kuat
kini mulai goyah. Di saat yang sama,
kelompok Khawarij mulai bergerak
sendiri. Mereka menyebar, menyerang
siapa saja yang berbeda pandangan.
Mereka menganggap seluruh pihak telah
menyimpang, termasuk Ali sendiri. Dan
dari kelompok inilah muncul satu orang
yang kelak mencatatkan sejarah
kelam. Di pagi hari yang sunyi dalam
perjalanan menuju masjid, Ali bin Abi
Thalib ditikam. Pelakunya, anggota
Khawarij Ali wafat. Dunia Islam
kehilangan salah satu tokoh paling
mulia. Di sisi lain, Muawiyah menguat.
Ia akhirnya mengambil alih kekuasaan
secara de facto. Tidak melalui
penunjukan syura, tidak melalui baiat
yang utuh, tapi melalui runtuhnya lawan
politiknya sendiri. Perang berakhir.
Tapi bukan karena menang, tapi karena
luka sudah terlalu dalam. Shifin tidak
menyisakan pemenang. Yang ada hanya
tubuh-tubuh yang ditinggalkan sejarah.
Dan sejak saat itu umat Islam tidak lagi
satu. Muncul Khawarij yang memusuhi
semua pihak. Muncul Syiah yang
mengkultuskan satu pihak. Dan Ahlusunah
wal jamaah tetap berdiri di tengah
mengambil sikap adil terhadap para
sahabat. Menilai bahwa Ali bin Abi
Thalib adalah pihak yang lebih dekat
pada kebenaran namun tidak mencela
Muawiyah. Karena kedua pihak adalah
mujtahid dan ijtihad dalam Islam selama
dilandasi keikhlasan dan ilmu tetap
diberi pahala oleh Allah Subhanahu wa
taala.
Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam
bersabda, "Jika seorang hakim berijtihad
dan benar, maka baginya dua pahala. Jika
salah maka baginya satu pahala." Hadis
riwayat Bukhari dan Muslim. Maka Ali
mendapat dua pahala. Muawiyah yang
ijtihadnya keliru tetap mendapat satu
pahala. Tapi umat harus menanggung
akibatnya.
Perang Syifin adalah pengingat bahwa
fitnah bisa datang dari dalam, bahwa
keyakinan yang dibalut fanatisme bisa
melahirkan perpecahan, dan bahwa
kebenaran tidak selalu dimenangkan
dengan pedang. Kadang ia justru
tertinggal di belakang setelah semua
suara diam dan semua tubuh terjatuh.
Jika Anda merasa kisah ini membuka
pandangan dan ingin terus menelusuri
jejak-jejak sejarah Islam dengan sudut
pandang yang adil dan terang, silakan
subscribe channel Lauhul
Mahfud. Di sini setiap cerita bukan
sekadar narasi, tapi upaya memahami umat
dengan ilmu dan ketenangan. Klik tombol
subscribe, aktifkan loncengnya dan mari
terus belajar bersama. Wassalamualaikum
warahmatullahi wabarakatuh.
[Musik]
More transcripts
Explore other videos transcribed with YouTLDR.

Domain kodomain dan range suatu fungsi
Matematika hebat · English

Trend IQVISION BMS Supervisor Software Training | Configuration & Design Basics | Full Tutorial
Insight Control System · Arabic

O QUE ACONTECEU COM PYONG LEE? - RICHARD RECEBE #0062
Richard Rasmussen · Portuguese (Portugal, Brazil)

CAMPOLINA, MANGALARGA MARCHADOR E MUARES: A FORÇA DA MARCHA NO BRASIL - RICHARD RECEBE #0066
Richard Rasmussen · Portuguese (Portugal, Brazil)

TOMAR SUPLEMENTO É DINHEIRO JOGADO FORA? - RICHARD RECEBE #070
Richard Rasmussen · Portuguese (Portugal, Brazil)

TLT: Teknologi Pengolahan Limbah Cair 2
Andri Prasetyo Nugroho · English

UMA DENÚNCIA SOBRE OS JUMENTOS ABANDONADOS EM JERICOACOARA - RICHARD RECEBE #072
Richard Rasmussen · Portuguese (Portugal, Brazil)

¿Qué es un semiconductor? - una explicación sencilla.
MindMachineTV · English

DILERA E PSIU - RICHARD RECEBE #0067
Richard Rasmussen · Portuguese (Portugal, Brazil)

मुंबई आणि बॉलीवूड शूट | MUMBAI & BOLLYWOOD CONNECTION | Vlog
SHUBHRIT_ PRODUCTION · English

Khan Sir vs Raushan Sir: After 40 Days, Khan Sir Finally Breaks His Silence | Shubhankar Mishra.
Shubhankar Mishra · English

मसालेदार आलू कतली की चटपटी रेसिपी | Aloo Ki Katliyan Recipe | Aloo Katli Recipe | Aalu ki katli
Veg Zaika · English
Get the TLDR of any YouTube video
Transcribe, summarize, and repurpose videos in 125+ languages — free, no signup required.