Full Transcript

·YouTLDR

PERINGATAN KERAS! SURATI PRABOWO SEGERA PECAT GIBRAN, INI SURAT TERBUKA DENNY INDRAYANA!!

28:02IndonesianTranscribed Jul 29, 2026
0:14

[musik]

0:21

[musik]

0:26

[musik]

0:29

Apa

0:34

[musik]

0:35

kabar Bapak Presiden Prabowo? Semoga

0:37

sehat selalu. Lama juga kita tidak

0:40

berjumpa. Izinkan saya menyampaikan

0:42

pandangan ini melalui ruang publik. Saya

0:45

tidak mengirimkannya secara pribadi

0:48

karena khawatir tidak pernah sampai

0:49

kepada Bapak. Salah satu masalah

0:52

terbesar menjadi presiden adalah tidak

0:55

semua informasi bisa sampai apa adanya.

0:58

Gaya kerja istana mungkin berbeda pada

1:00

setiap masa kepresidenan. Tetapi satu

1:03

hal saya yakin tetap sama. Istana bukan

1:06

hanya menyaring siapa yang boleh bertemu

1:07

Presiden, tetapi juga menyaring

1:09

informasi apa yang boleh sampai kepada

1:11

Presiden. Penyaringan informasi itulah

1:14

yang berbahaya. Kebenaran yang disaring

1:17

perlahan-lahan dapat berubah menjadi

1:19

kebenaran yang dimanipulasi. Data yang

1:21

diolah terlalu jauh dapat membuat

1:23

Presiden mengambil keputusan yang

1:25

keliru. Misalnya tentang pertumbuhan

1:28

ekonomi dan angka-angka penting lainnya

1:30

menurut Badan Pusat Statistik. Tolong

1:32

dicek betul, Pak. Mintalah angka yang

1:34

sebenarnya. Lebih baik Bapak menerima

1:36

kenyataan yang pahit daripada disuguhi

1:39

data yang manis tetapi palsu. Sebab

1:42

kalau angka statistik yang seharusnya

1:44

bersifat pasti saja sudah dikorupsi,

1:46

maka arah kebijakan negara juga berisiko

1:49

tersesat. Karena itu, Bapak Presiden,

1:51

pandangan ini akan saya sampaikan apa

1:54

adanya. Mungkin tidak selalu

1:55

menyenangkan untuk didengar, tetapi bagi

1:57

saya ini adalah salah satu cara membantu

1:59

Bapak dan jauh lebih penting membantu

2:02

republik. Membacanya jangan sambil marah

2:06

loh, Pak. Sebab pendur dugaan saya,

2:08

ketakutan kepada kemarahan Bapak itulah

2:10

yang mungkin menyebabkan orang-orang di

2:12

sekeliling Bapak tidak berani

2:14

menyampaikan data dan fakta yang

2:16

sebenarnya. Saya [mendengus] masih ingat

2:18

pernah dimarin Bapak di apartemen

2:20

Darmawangsa. Waduh ngeri Pak dimarahi

2:24

mantan dan Jen Kopalsu saja sudah

2:27

menegangkan. Apalagi sekarang Bapak

2:29

sudah menjadi presiden Republik

2:31

Indonesia. Pasti lebih ngeri lagi.

2:35

Bapak, saya akan mencoba rutin memberi

2:38

masukan, terutama mengenai dua masalah

2:41

besar, konstitusi dan korupsi. Hari ini

2:45

kita membahas konstitusi, lebih tepatnya

2:48

bagaimana mekanisme konstitusional untuk

2:50

memberhentikan seorang wakil presiden.

2:52

Mengapa saya membahas masalah ini? Pada

2:55

Senin, 20 Juli 2026 muncul satu

2:58

peristiwa yang sudah ramai

2:59

diperpinjangkan halayak. Dalam sidang

3:01

kabinet paripurna di Istana Negara, Wak.

3:03

Presiden Gibran Rakabuming Raka duduk di

3:06

bagian bawah sejajar dan bersebelahan

3:08

dengan para menteri koordinator. Ia

3:10

tidak duduk sejajar dengan Bapak.

3:12

Sependek ingatan saya, peristiwa semacam

3:14

ini sangat langka dalam sejarah

3:16

republik. Baru pertama kali terjadi

3:18

karena itu menarik dan penting secara

3:21

ketatanegaraan. Saya tidak tahu apakah

3:23

Bapak menyadari posisi doduk tersebut,

3:25

apakah itu atas arahan Bapak, apakah itu

3:27

keputusan protokoler istana atau ada

3:29

arahan dari pihak lain. Namun apapun

3:31

alasannya, posisi duduk wakil presiden

3:33

mempunyai makna dan konsekuensi

3:35

ketatanegaraan yang serius. Posisi wakil

3:37

presiden yang tidak sejajar dengan

3:39

presiden bukan sekedar persoalan teknis

3:41

rapat. Kalau pihak istana menjelaskan

3:43

bahwa itu hanya masalah teknis, maka

3:45

teknis yang demikian harus dikoreksi.

3:48

Sebab protokol bagi presiden presiden

3:51

bukan sekedar urusan kursi, ini urusan

3:54

konstitusi. Presiden adalah R1, Wakil

3:57

Presiden adalah RU2. Keduanya memang

3:59

memiliki kedudukan yang berbeda, tetapi

4:01

berada dalam satu lembaga kepresidenan.

4:04

Dipilih dalam satu pasangan. Karena itu

4:06

dalam acara resmi ketatanegaraan

4:08

termasuk sidang kabinet paripurna,

4:10

Presiden dan Wakil Presiden seharusnya

4:11

ditempatkan duduk sejajar. Tidak harus

4:14

selalu persis bersebelahan tetapi harus

4:17

sejajar. Dalam sidang DMPR misalnya,

4:19

Presiden Wakil Presiden mungkin tidak

4:21

duduk persis berdampingan, namun

4:23

posisinya tetap sejajar. Mengapa? Karena

4:27

kesejajaran mengandung makna

4:28

konstitusional. Posisi presiden tidak

4:31

boleh dibuat lebih tinggi secara

4:33

simbolis, bahkan sekedar lebih maju

4:35

dapat menimbulkan taksir yang keliru.

4:38

Menempatkan Presiden Gibran di bawah

4:40

Presiden Prabowo menurut pandangan saya

4:42

merupakan kekeliruan protokoler

4:44

kepresidenan dan penyimpangan dari

4:47

konvensi ketatanegaraan. Apalagi jika

4:49

wakil presiden justru ditempatkan

4:51

sejajar dengan paramenko, kesalahan

4:53

konstitusionalnya menjadi

4:55

berlapis-lapis. Mungkin ada yang

4:57

mengatakan, "Ah, itu hanya soal kursi.

4:59

Jangan dibesar-besarkan.

5:01

Keliru. Bernegara mempunyai aturan main.

5:05

Bernegara mempunyai hukum. Bernegara

5:08

mempunyai konstitusi. Seorang presiden

5:11

mengucapkan sumpah untuk menjalankan

5:13

Undang-Undang Dasar dan seluruh

5:15

peraturan perundang-undangan dengan

5:17

selurus-belurusnya.

5:18

Sumpah itu bukan rangkaian kata tanpa

5:20

makna. Sumpah itu mempunyai bobot moral,

5:23

bobot hukum, dan bobot sakral

5:26

konstitusional.

5:28

kecuali Bapak Presiden memang sedang

5:30

mengirimkan pesan politik tertentu

5:32

dengan menurunkan posisi duduk wakil

5:34

Presiden Gibran menjadi sejajar dengan

5:36

Paramenko. Sebagai tindakan protokol

5:39

konstitusional tidak tepat, tetapi

5:41

sebagai simbol politik dan penilaian

5:43

moral terus terang saja saya sangat

5:46

setuju. Jangankan sekedar menurunkan

5:48

posisi Duduk Gibran, memberhentikannya

5:51

melalui mekanisme konstitusional pun

5:53

menurut pandangan saya layak dilakukan.

5:56

Sebab sejak awal pencalonannya sebagai

5:59

wapres telah menimbulkan persoalan

6:01

konstitusional yang sangat serius. Bagi

6:03

saya putusan paman Usman untuk ponakan

6:06

Gibran merupakan salah satu noda hitam

6:08

dalam sejarah ketatanegaraan Indonesia.

6:11

Menurut pandangan saya, terdapat

6:13

berbagai alasan pemakahzulan yang layak

6:15

dilaksanakan secara konstitusional.

6:18

Mulai dari dugaan tindak pidana korupsi,

6:20

dugaan kejahatan berat lainnya,

6:22

perbuatan tercela, hingga persoalan

6:24

apakah yang bersangkutan masih memenuhi

6:26

syarat sebagai wakil presiden. Tentu

6:29

semua itu harus dibuktikan melalui

6:30

mekanisme hukum yang sah melibatkan DPR,

6:32

pemeriksaan oleh Mahkamah Konstitusi,

6:34

dan keputusan politik konstitusional di

6:36

MPR. Detailnya akan saya sampaikan dalam

6:39

surat berikutnya. Namun satu hal penting

6:42

apabila terjadi kekosongan jabatan Wakil

6:44

Presiden, Konstitusi memberikan

6:46

kesempatan kepada Presiden untuk

6:48

mengusulkan dua calon wakil presiden

6:50

kepada MPR paling lambat 60 hari sejak

6:53

terjadi kekosongan. Artinya republik

6:56

masih mempunyai jalan konstitusional

6:57

untuk memperoleh wakil presiden baru

6:59

yang lebih kompeten, lebih berwibawa,

7:02

lebih mampu membantu presiden

7:04

menyelamatkan negara. Ada baiknya

7:06

Indonesia mempunyai WP Presiden baru

7:08

sebelum 2 tahun masa pemerintahan Bapak

7:10

pada 20 Oktober 2026. Mungkin dengan

7:13

demikian republik ini masih mempunyai

7:16

harapan paling tidak sedikit harapan

7:18

kepada Presiden Prabowo Subianto.

7:22

Meskipun seorang rekan saya profesor

7:24

hukum tata negara pernah mengingatkan,

7:27

"Jangan terlalu berharap dan percaya

7:30

kepada Prabowo. Sebab katanya berharap

7:33

dan percaya secara berlebihan kepada

7:35

Prabowo bisa berarti menyekutukan Tuhan

7:39

dan itu artinya syirik. Haram hukumnya.

7:43

Sekian dahulu Bapak Presiden. Sampai

7:45

berjumpa dalam surat kami.

7:48

Dan saya ingin membacakan surat dari

7:51

sahabat saya ya, sebenarnya junior saya

7:54

di ee Fakultas Hukum UGM tapi kopromotor

7:58

saya di [tertawa]

8:00

ketika saya ngambil doktor ya. Jadi eh

8:03

Profesor Deni Indrayana, SH. Lalm, PhD

8:07

ya. sekarang banyak mukim di Australia

8:11

dan suratnya ini menarik untuk Presiden

8:14

Prabowo. Nah, saya ingin membacakan ya

8:17

sebagai selingan kita instead of kita

8:19

bicara terus mengenai ijazah palsu. Tapi

8:23

ee sebelumnya saya ingin memperkenalkan

8:25

ya buku ee kontroversi ee vaksin ya

8:30

jalan pintas mengubah dunia ee yang

8:33

ditulis oleh ee Dr.

8:36

dan ee ya saya diberikan amanat ya untuk

8:40

mempublikasikannya.

8:42

Buku yang luar biasa 734 halaman dan

8:46

kalau ee Anda berminat untuk membelinya

8:50

ya silakan hubungi nomor-nomor yang

8:52

tertera nanti di apa di video ini.

8:57

Video ini ya saking beratnya bukunya

8:59

tapi jatuh dia ya. Oke. Eh,

9:03

begitu ya, Saudara sekalian. Dan saya

9:05

ingin membacakan ee wah ini memang harus

9:08

diinikan dia. Nah, biar ada keseimbangan

9:10

ya. Jadi ee biar

9:15

ini ya ini ada silakan ya ada hubungi

9:17

Asti Inda Dina gitu ya di nomor-nomor

9:20

yang tertera nanti ee bisa dilihat ya

9:23

sepanjang video ini. Ee luar biasa

9:27

bukunya ya. Ini bukan kumpulan tulisan,

9:30

tapi ini sebuah karya yang konon menurut

9:34

ee kalau kita lihat recorder

9:38

Luis misalnya, wah enggak gampang itu

9:40

ngomong tentang vaksin apalagi

9:42

berbau-bau ee yang bagaimana gitu ya.

9:45

Oke ee coba kita bacakan surat dari Deni

9:49

Indrayana ini dan ini ee luar biasa

9:53

nantinya ya. Oke, ini juga surat yang

9:56

luar biasa. Karena itu pagi tadi sudah

9:59

berapa hari surat ini sesungguhnya, tapi

10:00

pagi tadi ketika saya membacanya, wah

10:03

ini harus saya bacakan ya ee untuk

10:07

penanda semangat kita juga ya di pagi

10:09

ini. [tertawa][terkesiap]

10:11

Oke, sobat semuanya coba kita bacakan

10:14

ya. Londo Ireng di Republik Anti Kritik,

10:19

Deni Indrayana, advokat Indonesia dan

10:22

Australia.

10:24

Bapak Presiden Prabowo, selamat Minggu

10:27

pagi ya. Minggu pagi yang lalu. Ya,

10:30

izinkan saya bersurat lagi seperti biasa

10:33

apa adanya saja. Ada dua kegemaran Bapak

10:36

yang belakangan membuat saya deg-degan.

10:39

Pertama, sering berpergian ke luar

10:41

negeri. Kedua, berpidato berjam-jam di

10:44

dalam negeri, terutama ketika sudah

10:46

meninggalkan teks resmi. Setiap Bapak

10:50

mulai berimprovisasi, saya membayangkan

10:52

para staf menahan napas. Mereka mungkin

10:55

tersenyum di barisan depan, tetapi

10:57

jantungnya berlari ke mana-mana. Takut

11:00

ada lagi kalimat yang melompat dari

11:02

podium, lalu menjadi berita sebelum

11:04

pidatonya selesai.

11:06

Yang gembira tentu wartawan dan warga

11:08

net. Ada bahan baru, ada potongan video

11:11

baru, ada lagi yang membuat kita

11:13

tertawa. Sayangnya belum tentu membuat

11:16

kita bangga. Dinopati Jalal pernah

11:19

meminta Bapak mengurangi kunjungan ke

11:21

luar negeri. Saya punya permintaan lain.

11:24

Kurangilah pidato panjang di dalam

11:26

negeri. Jangan tertipu tepuk tangan

11:29

relawan yang meminta Bapak terus bicara.

11:32

Bisa jadi mulut mereka berteriak,

11:34

lanjutkan. Tapi hati kecilnya berbisik

11:37

liri. Berhenti, Pak.

11:39

Indonesia memerlukan presiden yang gesit

11:42

beraksi, bukan terlalu lama berorasi.

11:46

Lalu tibalah pidato puncak hari lahir

11:48

ke-28 PKB. Dari podium, Bapak berkata,

11:53

londo-londok Ireng ini sampai sekarang

11:55

masih ada. Hanya dia sekarang pakai baju

11:58

lain kan. Wartawan, jurnalis, pengamat

12:02

LSM. Kalimat itu pendek, gemanya

12:05

panjang.

12:07

[mendengus] Bukan kali pertama kelompok

12:09

kritis kepada kekuasaan diber

12:11

pengkhianat, antek asing, tidak

12:14

nasionalis,

12:16

sekarang ditambah satu istilah lama dari

12:18

gudang kolonial Londo Ireng. Saya

12:21

percaya Bapak bukan orang munafik,

12:23

omon-omon tidak antikritik, tetapi kata

12:26

dan mata justru menghardik. Kalau saya

12:29

menjadi bapak, jabatan pertama yang saya

12:31

angkat adalah staf khusus pembisik.

12:34

Orang yang setiap pagi wajib membawa

12:36

kabar buruk, menyampaikan kritik paling

12:38

pahit, dan mengatakan kepada Bapak

12:40

Presiden, "Bapak keliru.

12:44

Presiden tidak perlu mencari pujian.

12:46

Pujian akan datang sendiri bahkan tanpa

12:49

diundang. Di sekitar kekuasaan selalu

12:52

terjadi inflasi pemuja. Kabar baik

12:55

membanjir dari segala penjuru. Kabar

12:58

buruk tersangkut di pagar istana.

13:02

Yang langkah justru suara jujur. Yang

13:04

langkah justru orang yang berkata apa

13:06

adanya. Bukan ada apanya. Yang langkah

13:10

justru orang yang berani berkata tidak.

13:13

Jangan terlalu berharap kepada bawahan.

13:16

Bapak Presiden. Banyak yang bermental

13:18

hamba sahaya. Jangan pula terlalu

13:20

berharap kepada kabinet koalisi.

13:23

Sebagian mendukung selama kursi menteri

13:25

masih empuk dan anggaran target korupsi

13:27

masih bisa diketuk. [tertawa]

13:30

Dalam sistem republik yang demokratik

13:32

tidak ada yang lebih berbahaya dari

13:34

presiden yang antikritik.

13:36

Stepen Levitki dan Daniel Zibl dalam How

13:40

Democrais Die mengingatkan bahwa

13:43

demokrasi masa kini sering tidak mati

13:45

oleh kodeta. Ia melemah perlahan dari

13:48

tangan pemimpin terpilih sendiri.

13:50

Lembaga pengawas dilemahkan, lawan

13:52

didilegitimasi, dan kritik diperlakukan

13:55

sebagai permusuhan.

13:57

Tidak selalu ada tank di jalan, tidak

13:59

selalu ada tentara di studio televisi.

14:02

Kadang demokrasi mati sambil tepuk

14:05

tangan ketika semua partai masuk koalisi

14:07

dan semua suara berhasil di berbeda

14:10

dianggap pengkhianatan.

14:13

Paling berbahaya jika Presiden tidak

14:15

mempunyai oposisi yang nyaring

14:16

mengawasi. Tidak ada kelompok kritis

14:19

yang mengingatkan.

14:21

Ingat, tidak ada presiden yang sempurna.

14:24

Presiden juga manusia. Presiden pasti

14:27

pernah salah. Ya, karena itu kritik

14:31

kepada penguasa bukan gangguan

14:33

demokrasi. Kritik adalah syarat

14:36

demokrasi.

14:38

Republik tanpa kritik mudah tergelincir

14:40

menjadi pemuja kepada orang. bukan

14:43

kesetiaan kepada konstitusi.

14:46

Timoti Sneider dalam On Tirani menulis

14:51

tentang bahaya kepatuhan yang diberikan

14:54

terlalu dini kepada penguasa. Ketika

14:57

orang-orang dahulu menunduk sebelum

14:59

diperintah, kekuasaan memperoleh ruang

15:01

yang bahkan tidak pernah dimintanya. Di

15:04

situlah demokrasi mulai kehilangan

15:06

tulang belakang. Tanpa oposisi parlemen

15:09

yang nyaring, kebijakan lebih rentan

15:11

diselewengkan. Rumus klasik Robert

15:14

Clitgard dalam controlling corruption

15:16

sederhana. Corruption sama dengan

15:20

monopoli plus discretions minus

15:23

accountability.

15:25

Korupsi tumbuh ketika kekuasaan

15:26

dimonopoli, diskresi membesar dan

15:29

pertanggungjawaban mengecil.

15:32

Sekarang arah negara seperti berjalan

15:34

dengan rem pengawasan yang blong.

15:36

Lembaga-lembaga negara cenderung

15:37

dikooptasi.

15:39

Hampir semua partai merapat ke koalisi.

15:42

PDI Perjuangan pun tidak terdengar

15:44

nyaring sebagai oposisi. Entah takut

15:47

kasus lama korupsi rentan dibuka lagi.

15:49

Entah khawatir jauh dari pundi-pundi.

15:53

Ketika kontrol formal dimandulkan karena

15:55

semua diajak masuk ke dalam koalisi,

15:57

pengawasan dari luar menjadi semakin

16:00

terpenting. Di situlah peran masyarakat

16:03

sipil, LSM, media, akademisi, mahasiswa,

16:06

dan kelompok masyarakat madani lainnya.

16:09

Mereka bersuara bukan tanpa risiko.

16:11

Kekuasaan biasanya mempunyai tiga cara

16:13

untuk melumpuhkan kritik. Dibeli,

16:17

dikriminalisasi,

16:18

lalu

16:20

jika dua cara itu gagal dihabisi.

16:24

Nauzubillah ya. Pertama dibeli.

16:27

Tidak selalu dengan koper dolar atau

16:30

janji emas dari brangkas entah di rumah

16:32

siapa. Kekuasaan punya cara yang lebih

16:34

rapi. Kursi menteri, Komisaris BUMN,

16:39

duta besar, proyek konsesi atau minimal

16:42

anggaran baz untuk memuja pemerintah.

16:45

Kritik yang sudah dibeli tidak lagi

16:46

menggigit. Ia hanya menggonggong sesuai

16:49

pesanan. Kedua, dekriminalisasi.

16:53

Jika tidak bisa dibeli, kesalahan dapat

16:56

disulap menjadi kejahatan. Pelanggaran

16:58

administrasi SIM salabim berubah menjadi

17:01

korupsi. Penegakan hukum menjadi senjata

17:04

untuk melumpuhkan lawan. Padahal

17:06

kesalahannya mungkin hanya satu, terlalu

17:08

berisik mengkritik. Hukum tidak lagi

17:11

mencari keadilan. Hukum menjadikan lawan

17:14

sebagai sasaran. Ketiga, dihabisi.

17:18

Inilah wajah kekuasaan yang paling

17:20

pengecut. Ketika kritik aktivis dijawab

17:22

dengan penculikan. Ketika arsenik

17:25

membungkam keberanian almarhum Munir.

17:27

Ketika air keras membutakan mata Novel

17:29

Baswedan dan Andri Yunus.

17:32

dibeli,

17:34

dikriminalisasi, dihabisi. Tiga kata itu

17:37

perlu diulang. Bukan untuk membosankan,

17:40

tetapi supaya kita tidak lupa bagaimana

17:42

kekuasaan bekerja ketika kritik dianggap

17:44

musuh bangsa. Bapak Presiden, kelompok

17:47

yang bersikap kritis bukan pengkhianat

17:49

negara. Menyamakan kritik dengan

17:52

pengkhianatan adalah kekeliruan berpikir

17:54

yang fatal dan wajib diluruskan. Negara

17:57

bukan hanya pemerintah. Pemerintah bukan

18:00

hanya presiden. Mengkritik presiden

18:02

bukan berarti membenci negara. Seseorang

18:05

justru dapat mengkritik Presiden karena

18:07

mencintai republik, bukan karena

18:09

membenci Prabowo. Sebagai tentara, Bapak

18:13

mestinya terlatih membaca peta

18:15

pertempuran. Musuh tidak selalu berada

18:18

di luar pagar. Kawan tidak selalu duduk

18:20

di dalam lingkaran. Mereka yang

18:23

berteriak mengingatkan belum tentu

18:24

lawan. Mereka yang diam mengamini belum

18:27

tentu kawan. Lawan tidak selalu oposisi.

18:31

Kawan tidak selalu koalisi.

18:34

Koruptor, Bapak Presiden, merekalah

18:37

pengkhianat bangsa yang sesungguhnya.

18:40

Mereka jelas tidak duduk di bangku

18:42

oposisi yang sulit memperoleh proyek

18:45

makan bergizik. Koruptor ada di ada

18:48

lingkaran koalisi Bapak sendiri. Ada di

18:50

lingkaran. Maksudnya mereka menyamar

18:52

menjadi Menteri Jampitsus, Kepala BGN.

18:56

Mereka menjadikan kekuasaan sebagai

18:58

bungker perlindungan, bertopeng seolah

19:00

alim menjadi pejabat, aparat penegak

19:03

hukum, oligarki, haji, pencari ee

19:06

proyek, bahkan pembisik sehari-hari.

19:08

Yang pasti kritik adalah vitamin bagi

19:11

kekuasaan. Dalam kondisi negara yang

19:13

sedang sakit, dosisnya perlu ditambah.

19:16

bukan dibeli, bukan dikriminalisasi,

19:19

apalagi dihabisi meskipun hanya sebatas

19:22

kata-kata melalui podium orasi. Ingat

19:26

Bapak Presiden, pemimpin yang senang

19:28

dipuji tapi meradang dikritisi akan

19:30

lebih rentan diberhentikan oleh

19:32

rakyatnya. Pemilik republik yang

19:35

sebenarnya. Kritik adalah cara rakyat

19:37

mengingatkan Presiden bahwa mandat

19:40

hanyalah titipan. Titipan itu sementara.

19:43

Kesabaran rakyat pun ada batasnya.

19:46

Republik bukan hak milik presiden.

19:48

Republik adalah milik rakyat. Jadi

19:51

jangan panggil wartawan, pengamat,

19:54

akademisi, dan LSM sebagai londok Ireng

19:57

hanya karena mereka tidak ikut bertepuk

19:59

tangan. Ingat, mereka adalah alarm

20:02

mengingat agar Bapak Presiden tidak

20:04

makin jauh tersesat.

20:06

Sampai berjumpa dengan surat saya

20:09

berikutnya.

20:12

Ya, Sobat RH sekalian itu dari Deni

20:17

Indrayana ya. Ya.

20:20

Ee ee saya ingin melihat apa komentar

20:25

Sobat RH sekalian ya.

20:27

Tapi kalau saya mau mengatakan kritik

20:30

isrit

20:33

begitu ya, belum tentu benar kritik

20:35

tersebut tetapi kritik dibutuhkan

20:38

sebagai sebuah vitamin atau barangkali

20:41

juga obat

20:43

pahit ketika dicicipi tetapi

20:46

menyembuhkan

20:47

paling tidak memberikan kesadaran kepada

20:49

kita.

20:51

Jadi, sahabat sekalian eh

20:55

mudah-mudahan ya ini didengarkan. Saya

20:59

sendiri kadang-kadang merasa dilema ya

21:01

mengkritik pemerintahan ini karena tadi

21:06

banyak teman-teman yang sudah masuk

21:08

dalam pemerintahan

21:10

dan selalu mengatakan, "Sudahlah, tidak

21:13

usah mengkritik."

21:15

Padahal kalau tidak ada orang yang

21:16

mengkritik, maka pemerintahan tidak akan

21:18

pernah aware dengan hal-hal yang

21:21

barangkali kurang. Korupsi

21:24

itu adalah sesuatu yang nyata. Seperti

21:27

yang dikatakan Deni Indrayana, korupsi

21:29

adalah sesuatu yang nyata.

21:32

Jadi,

21:33

musuh kita adalah koruptor. And then

21:38

koruptor itu tidak bersemayam di luar

21:41

orbit pemerintahan.

21:43

dia justru berada di sekitar atau di

21:45

seputar pemerintahan

21:48

dan bukan tidak paham Presiden Prabowo

21:51

siapa saja yang seharusnya dibidik

21:55

atau diringkus dengan perkara korupsi

21:57

besar. Tetapi masalahnya adalah ruetnya

22:01

koalisi kekuasaan membuat hal itu

22:04

seperti benang kusut yang sulit

22:06

diuraikan seperti S if ya. Padahal

22:10

sesungguhnya bisa dilakukan bila ada

22:14

ketegasan.

22:15

Sahabat sekalian ya, saya sering

22:17

mengatakan bahwa pemilu kita itu adalah

22:19

pemilu comberan. Penuh dengan kekotoran,

22:23

penuh dengan kecurangan, money politics,

22:27

penggunaan aparatus, kekuasaan, state

22:29

facilities, state financial resources

22:32

dan lain sebagainya. Jadi menggunakan

22:35

aparat, menggunakan uang negara,

22:37

menggunakan fasilitas negara.

22:40

untuk curang.

22:42

Tetapi saya berharap bahwa mereka yang

22:44

terpilih itu ada unenlighten leader.

22:47

Mereka yang terpilih itu adalah orang

22:49

yang sadar betul karena muncul dari

22:52

kecurangan, dari kecomberan. maka

22:55

kemudian memiliki kesadaran yang

22:57

melompat meloncat agar kemudian hal ini

23:01

tidak terjadi lagi. Nah, saya kita semua

23:05

masih berharap Presiden Prabowo mampu

23:08

menjadi an enlighten leader.

23:11

Kadang-kadang kita kehabisan kata untuk

23:13

mengatakan apa yang sesungguhnya. But

23:16

don't worry about me. For example, saya

23:19

sudah from the beginning saya sudah

23:21

mengatakan saya tidak tertarik untuk

23:24

ikut dalam lingkaran kekuasaan. Bukan

23:27

karena kekuasaan itu tidak enak atau

23:30

menghindari tanggung jawab. hanya ingin

23:33

mengatakan kepada halayak bahwa ada loh

23:36

orang yang mau menyampaikan kritik itu

23:38

bukan karena dia ingin mendapatkan

23:40

sesuatu, tetapi karena cinta republik

23:43

ini. Ah, cuma memang kadang-kadang salah

23:46

diartikan sebagai sikap yang terlalu

23:49

keras, ya. Jadi kepada pemerintahan

23:52

Prabowo kita melembutkan hati dalam

23:56

mengkritik

23:58

karena kita masih berharap pemerintahan

24:02

ini baru berjalan menjelang 2 tahun

24:04

Oktober nanti. Dan kita berharap nanti

24:07

setelah 2 tahun itu ada

24:12

langkah-langkah keras dan tegas dari

24:14

pemerintahan Presiden Jokowi untuk

24:16

membersihkan

24:18

petualang korupsi di sekitarnya atau di

24:21

seputarnya.

24:22

Begitu, Saudara sekalian, ya. Ee coba

24:27

kita lihat, ya. Once again, kalau mau

24:29

memberi kontroversi vaksin, jalan pintas

24:32

mengubah dunia karya DRTa, silakan ya

24:35

hubungi nomor-nomor yang tertera ya.

24:39

Eh, my responsibility is just to inform

24:43

you that buku ini sudah terbit ya 734

24:49

halaman dan merupakan karya bukan

24:52

kumpulan tulisan ya. Betul-betul buku

24:55

yang bulat. Oke, Sobat RH sekalian. Coba

24:58

kita lihat ya komentar Sobat RH kalian

25:02

sekalian terkait dengan hal ini.

25:07

Oke.

25:10

Oh.

25:13

Nah,

25:17

saking lamanya saya tidak anu ya, tidak

25:21

langsung ini tiba-tiba saya saya enggak

25:24

tahu caranya seperti kehilangan anunya

25:27

apa ee kehilangan komentar hidupnya.

25:32

[tertawa]

25:36

Coba kita lihat ya di di e di HP.

25:41

Jadi ee sekali lagi sobat RH sekalian

25:45

ya, kita combine ya dengan dengan

25:50

e ini semua ya. Jadi tidak hanya sekedar

25:52

kita bicara mengenai ee apa ijazah

25:56

palsu, tapi kita coba bicara hal-hal

25:59

lain yang tentu dalam diri banyak hal

26:02

yang harus kita bicarakan nih ya.

26:05

Ee

26:08

coba lihat ya.

26:11

Asalamualaikum warahmatullahi

26:13

wabarakatuh. Waalaikumsalam.

26:16

Di antara kita Antartika dan Antikritik

26:19

ya,

26:23

Pak Prabowo selaku Presiden RI setiap

26:26

pidatonya tidak menunjukkan kesejukan

26:29

untuk rakyat. Ya.

26:31

Kemudian selamat pagi, Bang Taiwan

26:34

hadir.

26:37

Kemudian

26:41

eh soal Udin nanti kita akan bicara yang

26:43

lain ya. Eh, democracy is broken when

26:48

people are limited by time restrictions

26:52

on chatting on live command.

26:56

Kemudian

26:58

apalagi ya?

27:01

Mm.

27:03

[mendengus] Kritik yang kurang benar.

27:05

Yang salah tak sampai menjatuhkan

27:07

negara. Penggunaan kekuasaan yang salah

27:09

bisa meruntuhkan merusaknya. Tapi

27:11

manakala benar menjadikan rakyat dan

27:13

negara maju. Oke. Oke. Good ya. Good

27:16

point.

27:17

Eh,

27:21

saya setuju sama Pak Presiden asalkan

27:24

ada garansi tidak ada korupsi dan jujur.

27:30

Oke

27:32

ya, Saudara sekalian sekali lagi ya ini

27:35

adalah pendapat ya perspektif. Jadi

27:38

jangan khawatir juga bahwa saya berpikir

27:41

bahwa negara kita masih negara demokrasi

27:44

ya, masih negara konstitusional,

27:46

konstitutional democracy. Demokrasi yang

27:48

berdasarkan hukum dan konstitusi. Jadi

27:51

mudah-mudahan bahwa ini adalah soft

27:54

critics actually ya. Jadi jangan perlu

27:57

jangan terlalu dirisaukan juga.

More transcripts

Explore other videos transcribed with YouTLDR.

Get the TLDR of any YouTube video

Transcribe, summarize, and repurpose videos in 125+ languages — free, no signup required.

Try YouTLDR Free