PERINGATAN KERAS! SURATI PRABOWO SEGERA PECAT GIBRAN, INI SURAT TERBUKA DENNY INDRAYANA!!
[musik]
[musik]
[musik]
Apa
[musik]
kabar Bapak Presiden Prabowo? Semoga
sehat selalu. Lama juga kita tidak
berjumpa. Izinkan saya menyampaikan
pandangan ini melalui ruang publik. Saya
tidak mengirimkannya secara pribadi
karena khawatir tidak pernah sampai
kepada Bapak. Salah satu masalah
terbesar menjadi presiden adalah tidak
semua informasi bisa sampai apa adanya.
Gaya kerja istana mungkin berbeda pada
setiap masa kepresidenan. Tetapi satu
hal saya yakin tetap sama. Istana bukan
hanya menyaring siapa yang boleh bertemu
Presiden, tetapi juga menyaring
informasi apa yang boleh sampai kepada
Presiden. Penyaringan informasi itulah
yang berbahaya. Kebenaran yang disaring
perlahan-lahan dapat berubah menjadi
kebenaran yang dimanipulasi. Data yang
diolah terlalu jauh dapat membuat
Presiden mengambil keputusan yang
keliru. Misalnya tentang pertumbuhan
ekonomi dan angka-angka penting lainnya
menurut Badan Pusat Statistik. Tolong
dicek betul, Pak. Mintalah angka yang
sebenarnya. Lebih baik Bapak menerima
kenyataan yang pahit daripada disuguhi
data yang manis tetapi palsu. Sebab
kalau angka statistik yang seharusnya
bersifat pasti saja sudah dikorupsi,
maka arah kebijakan negara juga berisiko
tersesat. Karena itu, Bapak Presiden,
pandangan ini akan saya sampaikan apa
adanya. Mungkin tidak selalu
menyenangkan untuk didengar, tetapi bagi
saya ini adalah salah satu cara membantu
Bapak dan jauh lebih penting membantu
republik. Membacanya jangan sambil marah
loh, Pak. Sebab pendur dugaan saya,
ketakutan kepada kemarahan Bapak itulah
yang mungkin menyebabkan orang-orang di
sekeliling Bapak tidak berani
menyampaikan data dan fakta yang
sebenarnya. Saya [mendengus] masih ingat
pernah dimarin Bapak di apartemen
Darmawangsa. Waduh ngeri Pak dimarahi
mantan dan Jen Kopalsu saja sudah
menegangkan. Apalagi sekarang Bapak
sudah menjadi presiden Republik
Indonesia. Pasti lebih ngeri lagi.
Bapak, saya akan mencoba rutin memberi
masukan, terutama mengenai dua masalah
besar, konstitusi dan korupsi. Hari ini
kita membahas konstitusi, lebih tepatnya
bagaimana mekanisme konstitusional untuk
memberhentikan seorang wakil presiden.
Mengapa saya membahas masalah ini? Pada
Senin, 20 Juli 2026 muncul satu
peristiwa yang sudah ramai
diperpinjangkan halayak. Dalam sidang
kabinet paripurna di Istana Negara, Wak.
Presiden Gibran Rakabuming Raka duduk di
bagian bawah sejajar dan bersebelahan
dengan para menteri koordinator. Ia
tidak duduk sejajar dengan Bapak.
Sependek ingatan saya, peristiwa semacam
ini sangat langka dalam sejarah
republik. Baru pertama kali terjadi
karena itu menarik dan penting secara
ketatanegaraan. Saya tidak tahu apakah
Bapak menyadari posisi doduk tersebut,
apakah itu atas arahan Bapak, apakah itu
keputusan protokoler istana atau ada
arahan dari pihak lain. Namun apapun
alasannya, posisi duduk wakil presiden
mempunyai makna dan konsekuensi
ketatanegaraan yang serius. Posisi wakil
presiden yang tidak sejajar dengan
presiden bukan sekedar persoalan teknis
rapat. Kalau pihak istana menjelaskan
bahwa itu hanya masalah teknis, maka
teknis yang demikian harus dikoreksi.
Sebab protokol bagi presiden presiden
bukan sekedar urusan kursi, ini urusan
konstitusi. Presiden adalah R1, Wakil
Presiden adalah RU2. Keduanya memang
memiliki kedudukan yang berbeda, tetapi
berada dalam satu lembaga kepresidenan.
Dipilih dalam satu pasangan. Karena itu
dalam acara resmi ketatanegaraan
termasuk sidang kabinet paripurna,
Presiden dan Wakil Presiden seharusnya
ditempatkan duduk sejajar. Tidak harus
selalu persis bersebelahan tetapi harus
sejajar. Dalam sidang DMPR misalnya,
Presiden Wakil Presiden mungkin tidak
duduk persis berdampingan, namun
posisinya tetap sejajar. Mengapa? Karena
kesejajaran mengandung makna
konstitusional. Posisi presiden tidak
boleh dibuat lebih tinggi secara
simbolis, bahkan sekedar lebih maju
dapat menimbulkan taksir yang keliru.
Menempatkan Presiden Gibran di bawah
Presiden Prabowo menurut pandangan saya
merupakan kekeliruan protokoler
kepresidenan dan penyimpangan dari
konvensi ketatanegaraan. Apalagi jika
wakil presiden justru ditempatkan
sejajar dengan paramenko, kesalahan
konstitusionalnya menjadi
berlapis-lapis. Mungkin ada yang
mengatakan, "Ah, itu hanya soal kursi.
Jangan dibesar-besarkan.
Keliru. Bernegara mempunyai aturan main.
Bernegara mempunyai hukum. Bernegara
mempunyai konstitusi. Seorang presiden
mengucapkan sumpah untuk menjalankan
Undang-Undang Dasar dan seluruh
peraturan perundang-undangan dengan
selurus-belurusnya.
Sumpah itu bukan rangkaian kata tanpa
makna. Sumpah itu mempunyai bobot moral,
bobot hukum, dan bobot sakral
konstitusional.
kecuali Bapak Presiden memang sedang
mengirimkan pesan politik tertentu
dengan menurunkan posisi duduk wakil
Presiden Gibran menjadi sejajar dengan
Paramenko. Sebagai tindakan protokol
konstitusional tidak tepat, tetapi
sebagai simbol politik dan penilaian
moral terus terang saja saya sangat
setuju. Jangankan sekedar menurunkan
posisi Duduk Gibran, memberhentikannya
melalui mekanisme konstitusional pun
menurut pandangan saya layak dilakukan.
Sebab sejak awal pencalonannya sebagai
wapres telah menimbulkan persoalan
konstitusional yang sangat serius. Bagi
saya putusan paman Usman untuk ponakan
Gibran merupakan salah satu noda hitam
dalam sejarah ketatanegaraan Indonesia.
Menurut pandangan saya, terdapat
berbagai alasan pemakahzulan yang layak
dilaksanakan secara konstitusional.
Mulai dari dugaan tindak pidana korupsi,
dugaan kejahatan berat lainnya,
perbuatan tercela, hingga persoalan
apakah yang bersangkutan masih memenuhi
syarat sebagai wakil presiden. Tentu
semua itu harus dibuktikan melalui
mekanisme hukum yang sah melibatkan DPR,
pemeriksaan oleh Mahkamah Konstitusi,
dan keputusan politik konstitusional di
MPR. Detailnya akan saya sampaikan dalam
surat berikutnya. Namun satu hal penting
apabila terjadi kekosongan jabatan Wakil
Presiden, Konstitusi memberikan
kesempatan kepada Presiden untuk
mengusulkan dua calon wakil presiden
kepada MPR paling lambat 60 hari sejak
terjadi kekosongan. Artinya republik
masih mempunyai jalan konstitusional
untuk memperoleh wakil presiden baru
yang lebih kompeten, lebih berwibawa,
lebih mampu membantu presiden
menyelamatkan negara. Ada baiknya
Indonesia mempunyai WP Presiden baru
sebelum 2 tahun masa pemerintahan Bapak
pada 20 Oktober 2026. Mungkin dengan
demikian republik ini masih mempunyai
harapan paling tidak sedikit harapan
kepada Presiden Prabowo Subianto.
Meskipun seorang rekan saya profesor
hukum tata negara pernah mengingatkan,
"Jangan terlalu berharap dan percaya
kepada Prabowo. Sebab katanya berharap
dan percaya secara berlebihan kepada
Prabowo bisa berarti menyekutukan Tuhan
dan itu artinya syirik. Haram hukumnya.
Sekian dahulu Bapak Presiden. Sampai
berjumpa dalam surat kami.
Dan saya ingin membacakan surat dari
sahabat saya ya, sebenarnya junior saya
di ee Fakultas Hukum UGM tapi kopromotor
saya di [tertawa]
ketika saya ngambil doktor ya. Jadi eh
Profesor Deni Indrayana, SH. Lalm, PhD
ya. sekarang banyak mukim di Australia
dan suratnya ini menarik untuk Presiden
Prabowo. Nah, saya ingin membacakan ya
sebagai selingan kita instead of kita
bicara terus mengenai ijazah palsu. Tapi
ee sebelumnya saya ingin memperkenalkan
ya buku ee kontroversi ee vaksin ya
jalan pintas mengubah dunia ee yang
ditulis oleh ee Dr.
dan ee ya saya diberikan amanat ya untuk
mempublikasikannya.
Buku yang luar biasa 734 halaman dan
kalau ee Anda berminat untuk membelinya
ya silakan hubungi nomor-nomor yang
tertera nanti di apa di video ini.
Video ini ya saking beratnya bukunya
tapi jatuh dia ya. Oke. Eh,
begitu ya, Saudara sekalian. Dan saya
ingin membacakan ee wah ini memang harus
diinikan dia. Nah, biar ada keseimbangan
ya. Jadi ee biar
ini ya ini ada silakan ya ada hubungi
Asti Inda Dina gitu ya di nomor-nomor
yang tertera nanti ee bisa dilihat ya
sepanjang video ini. Ee luar biasa
bukunya ya. Ini bukan kumpulan tulisan,
tapi ini sebuah karya yang konon menurut
ee kalau kita lihat recorder
Luis misalnya, wah enggak gampang itu
ngomong tentang vaksin apalagi
berbau-bau ee yang bagaimana gitu ya.
Oke ee coba kita bacakan surat dari Deni
Indrayana ini dan ini ee luar biasa
nantinya ya. Oke, ini juga surat yang
luar biasa. Karena itu pagi tadi sudah
berapa hari surat ini sesungguhnya, tapi
pagi tadi ketika saya membacanya, wah
ini harus saya bacakan ya ee untuk
penanda semangat kita juga ya di pagi
ini. [tertawa][terkesiap]
Oke, sobat semuanya coba kita bacakan
ya. Londo Ireng di Republik Anti Kritik,
Deni Indrayana, advokat Indonesia dan
Australia.
Bapak Presiden Prabowo, selamat Minggu
pagi ya. Minggu pagi yang lalu. Ya,
izinkan saya bersurat lagi seperti biasa
apa adanya saja. Ada dua kegemaran Bapak
yang belakangan membuat saya deg-degan.
Pertama, sering berpergian ke luar
negeri. Kedua, berpidato berjam-jam di
dalam negeri, terutama ketika sudah
meninggalkan teks resmi. Setiap Bapak
mulai berimprovisasi, saya membayangkan
para staf menahan napas. Mereka mungkin
tersenyum di barisan depan, tetapi
jantungnya berlari ke mana-mana. Takut
ada lagi kalimat yang melompat dari
podium, lalu menjadi berita sebelum
pidatonya selesai.
Yang gembira tentu wartawan dan warga
net. Ada bahan baru, ada potongan video
baru, ada lagi yang membuat kita
tertawa. Sayangnya belum tentu membuat
kita bangga. Dinopati Jalal pernah
meminta Bapak mengurangi kunjungan ke
luar negeri. Saya punya permintaan lain.
Kurangilah pidato panjang di dalam
negeri. Jangan tertipu tepuk tangan
relawan yang meminta Bapak terus bicara.
Bisa jadi mulut mereka berteriak,
lanjutkan. Tapi hati kecilnya berbisik
liri. Berhenti, Pak.
Indonesia memerlukan presiden yang gesit
beraksi, bukan terlalu lama berorasi.
Lalu tibalah pidato puncak hari lahir
ke-28 PKB. Dari podium, Bapak berkata,
londo-londok Ireng ini sampai sekarang
masih ada. Hanya dia sekarang pakai baju
lain kan. Wartawan, jurnalis, pengamat
LSM. Kalimat itu pendek, gemanya
panjang.
[mendengus] Bukan kali pertama kelompok
kritis kepada kekuasaan diber
pengkhianat, antek asing, tidak
nasionalis,
sekarang ditambah satu istilah lama dari
gudang kolonial Londo Ireng. Saya
percaya Bapak bukan orang munafik,
omon-omon tidak antikritik, tetapi kata
dan mata justru menghardik. Kalau saya
menjadi bapak, jabatan pertama yang saya
angkat adalah staf khusus pembisik.
Orang yang setiap pagi wajib membawa
kabar buruk, menyampaikan kritik paling
pahit, dan mengatakan kepada Bapak
Presiden, "Bapak keliru.
Presiden tidak perlu mencari pujian.
Pujian akan datang sendiri bahkan tanpa
diundang. Di sekitar kekuasaan selalu
terjadi inflasi pemuja. Kabar baik
membanjir dari segala penjuru. Kabar
buruk tersangkut di pagar istana.
Yang langkah justru suara jujur. Yang
langkah justru orang yang berkata apa
adanya. Bukan ada apanya. Yang langkah
justru orang yang berani berkata tidak.
Jangan terlalu berharap kepada bawahan.
Bapak Presiden. Banyak yang bermental
hamba sahaya. Jangan pula terlalu
berharap kepada kabinet koalisi.
Sebagian mendukung selama kursi menteri
masih empuk dan anggaran target korupsi
masih bisa diketuk. [tertawa]
Dalam sistem republik yang demokratik
tidak ada yang lebih berbahaya dari
presiden yang antikritik.
Stepen Levitki dan Daniel Zibl dalam How
Democrais Die mengingatkan bahwa
demokrasi masa kini sering tidak mati
oleh kodeta. Ia melemah perlahan dari
tangan pemimpin terpilih sendiri.
Lembaga pengawas dilemahkan, lawan
didilegitimasi, dan kritik diperlakukan
sebagai permusuhan.
Tidak selalu ada tank di jalan, tidak
selalu ada tentara di studio televisi.
Kadang demokrasi mati sambil tepuk
tangan ketika semua partai masuk koalisi
dan semua suara berhasil di berbeda
dianggap pengkhianatan.
Paling berbahaya jika Presiden tidak
mempunyai oposisi yang nyaring
mengawasi. Tidak ada kelompok kritis
yang mengingatkan.
Ingat, tidak ada presiden yang sempurna.
Presiden juga manusia. Presiden pasti
pernah salah. Ya, karena itu kritik
kepada penguasa bukan gangguan
demokrasi. Kritik adalah syarat
demokrasi.
Republik tanpa kritik mudah tergelincir
menjadi pemuja kepada orang. bukan
kesetiaan kepada konstitusi.
Timoti Sneider dalam On Tirani menulis
tentang bahaya kepatuhan yang diberikan
terlalu dini kepada penguasa. Ketika
orang-orang dahulu menunduk sebelum
diperintah, kekuasaan memperoleh ruang
yang bahkan tidak pernah dimintanya. Di
situlah demokrasi mulai kehilangan
tulang belakang. Tanpa oposisi parlemen
yang nyaring, kebijakan lebih rentan
diselewengkan. Rumus klasik Robert
Clitgard dalam controlling corruption
sederhana. Corruption sama dengan
monopoli plus discretions minus
accountability.
Korupsi tumbuh ketika kekuasaan
dimonopoli, diskresi membesar dan
pertanggungjawaban mengecil.
Sekarang arah negara seperti berjalan
dengan rem pengawasan yang blong.
Lembaga-lembaga negara cenderung
dikooptasi.
Hampir semua partai merapat ke koalisi.
PDI Perjuangan pun tidak terdengar
nyaring sebagai oposisi. Entah takut
kasus lama korupsi rentan dibuka lagi.
Entah khawatir jauh dari pundi-pundi.
Ketika kontrol formal dimandulkan karena
semua diajak masuk ke dalam koalisi,
pengawasan dari luar menjadi semakin
terpenting. Di situlah peran masyarakat
sipil, LSM, media, akademisi, mahasiswa,
dan kelompok masyarakat madani lainnya.
Mereka bersuara bukan tanpa risiko.
Kekuasaan biasanya mempunyai tiga cara
untuk melumpuhkan kritik. Dibeli,
dikriminalisasi,
lalu
jika dua cara itu gagal dihabisi.
Nauzubillah ya. Pertama dibeli.
Tidak selalu dengan koper dolar atau
janji emas dari brangkas entah di rumah
siapa. Kekuasaan punya cara yang lebih
rapi. Kursi menteri, Komisaris BUMN,
duta besar, proyek konsesi atau minimal
anggaran baz untuk memuja pemerintah.
Kritik yang sudah dibeli tidak lagi
menggigit. Ia hanya menggonggong sesuai
pesanan. Kedua, dekriminalisasi.
Jika tidak bisa dibeli, kesalahan dapat
disulap menjadi kejahatan. Pelanggaran
administrasi SIM salabim berubah menjadi
korupsi. Penegakan hukum menjadi senjata
untuk melumpuhkan lawan. Padahal
kesalahannya mungkin hanya satu, terlalu
berisik mengkritik. Hukum tidak lagi
mencari keadilan. Hukum menjadikan lawan
sebagai sasaran. Ketiga, dihabisi.
Inilah wajah kekuasaan yang paling
pengecut. Ketika kritik aktivis dijawab
dengan penculikan. Ketika arsenik
membungkam keberanian almarhum Munir.
Ketika air keras membutakan mata Novel
Baswedan dan Andri Yunus.
dibeli,
dikriminalisasi, dihabisi. Tiga kata itu
perlu diulang. Bukan untuk membosankan,
tetapi supaya kita tidak lupa bagaimana
kekuasaan bekerja ketika kritik dianggap
musuh bangsa. Bapak Presiden, kelompok
yang bersikap kritis bukan pengkhianat
negara. Menyamakan kritik dengan
pengkhianatan adalah kekeliruan berpikir
yang fatal dan wajib diluruskan. Negara
bukan hanya pemerintah. Pemerintah bukan
hanya presiden. Mengkritik presiden
bukan berarti membenci negara. Seseorang
justru dapat mengkritik Presiden karena
mencintai republik, bukan karena
membenci Prabowo. Sebagai tentara, Bapak
mestinya terlatih membaca peta
pertempuran. Musuh tidak selalu berada
di luar pagar. Kawan tidak selalu duduk
di dalam lingkaran. Mereka yang
berteriak mengingatkan belum tentu
lawan. Mereka yang diam mengamini belum
tentu kawan. Lawan tidak selalu oposisi.
Kawan tidak selalu koalisi.
Koruptor, Bapak Presiden, merekalah
pengkhianat bangsa yang sesungguhnya.
Mereka jelas tidak duduk di bangku
oposisi yang sulit memperoleh proyek
makan bergizik. Koruptor ada di ada
lingkaran koalisi Bapak sendiri. Ada di
lingkaran. Maksudnya mereka menyamar
menjadi Menteri Jampitsus, Kepala BGN.
Mereka menjadikan kekuasaan sebagai
bungker perlindungan, bertopeng seolah
alim menjadi pejabat, aparat penegak
hukum, oligarki, haji, pencari ee
proyek, bahkan pembisik sehari-hari.
Yang pasti kritik adalah vitamin bagi
kekuasaan. Dalam kondisi negara yang
sedang sakit, dosisnya perlu ditambah.
bukan dibeli, bukan dikriminalisasi,
apalagi dihabisi meskipun hanya sebatas
kata-kata melalui podium orasi. Ingat
Bapak Presiden, pemimpin yang senang
dipuji tapi meradang dikritisi akan
lebih rentan diberhentikan oleh
rakyatnya. Pemilik republik yang
sebenarnya. Kritik adalah cara rakyat
mengingatkan Presiden bahwa mandat
hanyalah titipan. Titipan itu sementara.
Kesabaran rakyat pun ada batasnya.
Republik bukan hak milik presiden.
Republik adalah milik rakyat. Jadi
jangan panggil wartawan, pengamat,
akademisi, dan LSM sebagai londok Ireng
hanya karena mereka tidak ikut bertepuk
tangan. Ingat, mereka adalah alarm
mengingat agar Bapak Presiden tidak
makin jauh tersesat.
Sampai berjumpa dengan surat saya
berikutnya.
Ya, Sobat RH sekalian itu dari Deni
Indrayana ya. Ya.
Ee ee saya ingin melihat apa komentar
Sobat RH sekalian ya.
Tapi kalau saya mau mengatakan kritik
isrit
begitu ya, belum tentu benar kritik
tersebut tetapi kritik dibutuhkan
sebagai sebuah vitamin atau barangkali
juga obat
pahit ketika dicicipi tetapi
menyembuhkan
paling tidak memberikan kesadaran kepada
kita.
Jadi, sahabat sekalian eh
mudah-mudahan ya ini didengarkan. Saya
sendiri kadang-kadang merasa dilema ya
mengkritik pemerintahan ini karena tadi
banyak teman-teman yang sudah masuk
dalam pemerintahan
dan selalu mengatakan, "Sudahlah, tidak
usah mengkritik."
Padahal kalau tidak ada orang yang
mengkritik, maka pemerintahan tidak akan
pernah aware dengan hal-hal yang
barangkali kurang. Korupsi
itu adalah sesuatu yang nyata. Seperti
yang dikatakan Deni Indrayana, korupsi
adalah sesuatu yang nyata.
Jadi,
musuh kita adalah koruptor. And then
koruptor itu tidak bersemayam di luar
orbit pemerintahan.
dia justru berada di sekitar atau di
seputar pemerintahan
dan bukan tidak paham Presiden Prabowo
siapa saja yang seharusnya dibidik
atau diringkus dengan perkara korupsi
besar. Tetapi masalahnya adalah ruetnya
koalisi kekuasaan membuat hal itu
seperti benang kusut yang sulit
diuraikan seperti S if ya. Padahal
sesungguhnya bisa dilakukan bila ada
ketegasan.
Sahabat sekalian ya, saya sering
mengatakan bahwa pemilu kita itu adalah
pemilu comberan. Penuh dengan kekotoran,
penuh dengan kecurangan, money politics,
penggunaan aparatus, kekuasaan, state
facilities, state financial resources
dan lain sebagainya. Jadi menggunakan
aparat, menggunakan uang negara,
menggunakan fasilitas negara.
untuk curang.
Tetapi saya berharap bahwa mereka yang
terpilih itu ada unenlighten leader.
Mereka yang terpilih itu adalah orang
yang sadar betul karena muncul dari
kecurangan, dari kecomberan. maka
kemudian memiliki kesadaran yang
melompat meloncat agar kemudian hal ini
tidak terjadi lagi. Nah, saya kita semua
masih berharap Presiden Prabowo mampu
menjadi an enlighten leader.
Kadang-kadang kita kehabisan kata untuk
mengatakan apa yang sesungguhnya. But
don't worry about me. For example, saya
sudah from the beginning saya sudah
mengatakan saya tidak tertarik untuk
ikut dalam lingkaran kekuasaan. Bukan
karena kekuasaan itu tidak enak atau
menghindari tanggung jawab. hanya ingin
mengatakan kepada halayak bahwa ada loh
orang yang mau menyampaikan kritik itu
bukan karena dia ingin mendapatkan
sesuatu, tetapi karena cinta republik
ini. Ah, cuma memang kadang-kadang salah
diartikan sebagai sikap yang terlalu
keras, ya. Jadi kepada pemerintahan
Prabowo kita melembutkan hati dalam
mengkritik
karena kita masih berharap pemerintahan
ini baru berjalan menjelang 2 tahun
Oktober nanti. Dan kita berharap nanti
setelah 2 tahun itu ada
langkah-langkah keras dan tegas dari
pemerintahan Presiden Jokowi untuk
membersihkan
petualang korupsi di sekitarnya atau di
seputarnya.
Begitu, Saudara sekalian, ya. Ee coba
kita lihat, ya. Once again, kalau mau
memberi kontroversi vaksin, jalan pintas
mengubah dunia karya DRTa, silakan ya
hubungi nomor-nomor yang tertera ya.
Eh, my responsibility is just to inform
you that buku ini sudah terbit ya 734
halaman dan merupakan karya bukan
kumpulan tulisan ya. Betul-betul buku
yang bulat. Oke, Sobat RH sekalian. Coba
kita lihat ya komentar Sobat RH kalian
sekalian terkait dengan hal ini.
Oke.
Oh.
Nah,
saking lamanya saya tidak anu ya, tidak
langsung ini tiba-tiba saya saya enggak
tahu caranya seperti kehilangan anunya
apa ee kehilangan komentar hidupnya.
[tertawa]
Coba kita lihat ya di di e di HP.
Jadi ee sekali lagi sobat RH sekalian
ya, kita combine ya dengan dengan
e ini semua ya. Jadi tidak hanya sekedar
kita bicara mengenai ee apa ijazah
palsu, tapi kita coba bicara hal-hal
lain yang tentu dalam diri banyak hal
yang harus kita bicarakan nih ya.
Ee
coba lihat ya.
Asalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh. Waalaikumsalam.
Di antara kita Antartika dan Antikritik
ya,
Pak Prabowo selaku Presiden RI setiap
pidatonya tidak menunjukkan kesejukan
untuk rakyat. Ya.
Kemudian selamat pagi, Bang Taiwan
hadir.
Kemudian
eh soal Udin nanti kita akan bicara yang
lain ya. Eh, democracy is broken when
people are limited by time restrictions
on chatting on live command.
Kemudian
apalagi ya?
Mm.
[mendengus] Kritik yang kurang benar.
Yang salah tak sampai menjatuhkan
negara. Penggunaan kekuasaan yang salah
bisa meruntuhkan merusaknya. Tapi
manakala benar menjadikan rakyat dan
negara maju. Oke. Oke. Good ya. Good
point.
Eh,
saya setuju sama Pak Presiden asalkan
ada garansi tidak ada korupsi dan jujur.
Oke
ya, Saudara sekalian sekali lagi ya ini
adalah pendapat ya perspektif. Jadi
jangan khawatir juga bahwa saya berpikir
bahwa negara kita masih negara demokrasi
ya, masih negara konstitusional,
konstitutional democracy. Demokrasi yang
berdasarkan hukum dan konstitusi. Jadi
mudah-mudahan bahwa ini adalah soft
critics actually ya. Jadi jangan perlu
jangan terlalu dirisaukan juga.
More transcripts
Explore other videos transcribed with YouTLDR.

Mengenal Konsep Dasar Kewirausahaan
Komunitas Kajian Ilmu Manajemen Pendidikan KoKI MP · Indonesian

PIKIRAN NEGATIF & Teman TOXIC Ternyata Bisa Membunuh Banyak Mimpimu? | SUARA BERKELAS #130
SUARA BERKELAS · Indonesian

UNBOXING #03 - KE LAUT AJA
Indonesia Baru · Indonesian

5 Prinsip Keamanan Jaringan
Guru Digital · Indonesian

Mau Sukses Harus Pintar Ilmu Komunikasi
Helmy Yahya Bicara · English

KWU 1 Konsep Dasar Kewirausahaan
Kalim Ayu · Indonesian

Keutamaan Wudhu (Jadi Tanda Pengenal Hingga Pengampun Dosa)
CulapCulip · Indonesian

BESARAN DAN SATUAN - PART 4 ( materi alat ukur panjang part )
Sibejoo Jadda · Indonesian

Eco Enzyme - Cara Mengolah Sampah Jadi Berkah.! Panduan Cara Membuat dan Menggunakan Eco Enzyme,
Kebun Indra Tarigan · Indonesian

Sejarah Lahirnya Pancasila
Civics Education · Indonesian

Informatika & Keterampilan Generik (Generic Skill) - Informatika Kelas 7 SMP/ MTs
gusaddin teach · Indonesian

COMO ORGANIZAR SUAS FINANÇAS E GUARDAR DINHEIRO | Planejamento financeiro FÁCIL
O Primo Rico · Portuguese (Portugal, Brazil)
Get the TLDR of any YouTube video
Transcribe, summarize, and repurpose videos in 125+ languages — free, no signup required.