Ngaji Filsafat 504 : Ghazw al Fikr - Invasi Pemikiran dan Perebutan Kesadaran
[musik]
[musik]
[musik]
[musik]
Oke. Baik. Bismillah.
Asalamualaikum
warahmatullahi
wabarakatuh.
Waalaikumsalam warahmatullahi
wabarakatuh.
Bismillahirrahmanirrahim.
Alhamdulillahiabbil
alamin
asalatu wassalamu ala asrofilyaai
wal mursalin
sayyidina wa maulana Muhammadin
wa ala alihi wa ashabihi
waman tabiahum biihsanin ila yaumiddin.
Amma ba'ad.
Baik, bismillah. Mari kita lanjutkan
lagi belajar kita
malam ini. Kita ada di minggu kedua dari
tema perang.
Malam ini kita masih membahas perang di
luar diri
meskipun musuhnya berbeda dengan yang
kemarin.
Kalau kemarin perang beneran fisik,
malam ini perang pemikiran
istilahnya gusw fikri.
Ghaswul fikr boleh saja dibaca begitu.
yang artinya
perang pemikiran. Jadi istilah
gaza, yagzu, goswun itu
setara dengan di dalam bahasa Arab ada
istilah harab, ada istilah
kital,
ada istilah sira,
ada istilah makrokah atau mukrakah
maknanya sama perang.
Tapi kalau Goswun ini perang yang
sifatnya
ekspansif,
agresif, offensif.
Beda dengan kital. Kalau kital itu
pertarungan combat kalau bahasa
Inggrisnya ya. Mortal Kombat itu kalau
bahasa Arabnya berarti
mortal itu mematikan. Pertarungan yang
mematikan. Alkitabal mumit
sekarang baru main itu filmnya ya. Itu
Mortal Kombat.
Nah, malam ini kita gazwul fikr. Makanya
saya menerjemahkannya
invasi pemikiran.
Bagaimana ketika terjadi
serangan tapi
tidak seperti minggu lalu secara fisik,
tapi serangannya serangan pemikiran.
Tanpa ada perang fisik
kita bisa dikalahkan
bahkan hanya oleh pemikiran. Nah, itu
waswul fikri. Dan ini level perang yang
lebih tinggi.
Kalau kata Sunsu dulu kita pernah ngaji
tentang beliau juga.
Seni perang tertinggi adalah kita
menaklukkan musuh tanpa perang.
Maksudnya tanpa perang fisik musuh sudah
dikalahkan.
Nah, ini wacana waswul fikr ini kemudian
banyak dikenal khususnya kok istilahnya
bahasa Arab karena istilah ini populer
dalam
kajian Islam khususnya abad-abad 1920.
Jadi di era ini memang sebagian besar
dunia Islam itu terjajah.
Nah, strateginya para penjajah itu tidak
melulu menyerang, tidak melulu dengan
fisik kita dikalahkan.
Tapi banyak di antaranya ya menggunakan
strategi pikiran.
Cara kita berpikir, cara kita bernalar
itu dipengaruhi. Sehingga mungkin
padahal penjajahan itu sangat
menyakitkan tapi dianggap ah normalnya
begitu.
Biasanya begitu ndak masalah kok begini.
Nah, ini pikiran kita sudah dipengaruhi
dan ini lebih susah mengalahkannya.
Kalau fisik kan gampang
kelihatan datang dilawan, siapa jatuh
dia kalah. Tapi begitu pemikiran tidak
gampang.
Makanya perlu seni perang yang lebih
tinggi.
Seperti kata Sunsu, seni perang
tertinggi adalah menaklukkan musuh tanpa
perang.
Sebenarnya ada yang lebih tinggi lagi,
bukan lagi bagaimana cara kita
menaklukkan musuh, tapi bagaimana kita
tidak punya musuh.
Nah, itu lebih tinggi daripada ini. Cuma
kan yo ndak gampang kalian untuk sampai
ke sana.
Kadang-kadang kita ndak ngapa-ngapain
baik-baik saja. Ada saja orang wong saya
ndak ganggu, saya ndak menyusahkan kok
tiba-tiba ada orang iri, ada orang ndak
senang.
Oke, kita ndak posting diendir. Alah
gaya
sok sekarang. Padahal yo pengin
sebenarnya kita posting. Wah tambah
dikomentari ndak karu-karuan sudah.
Oke. Kita ndak cari musuh. Musuhnya
datang sendiri. Oh. Jadi kalau ada orang
yang bisa ada di level gak ada musuh
sama sekali itu orang luar biasa, orang
hebat.
Yo. Yang lebih bawah lagi ya. kita punya
musuh dan bertarung tapi tanpa
menyakiti.
Nah, tanpa ini level bawahnya. Kalau
kata dulu kita pernah belajar Sosro
Kartono Raden Mas, bagaimana kita bisa
[menghela napas]
menang tanpa ngasorake.
Kita menang tapi tidak merendahkan,
tidak membuat yang kalah jadi tunduk.
Nah, ini luar biasa.
Apalagi kalau kita bisa sugih tanpo
bondo
dan lain-lain. Sudahlah kalau bahas itu
lagi nanti ke mana-mana. Saya jadi
panjang kalau ngomong begitu-begitu.
Kita kembali ke sini ya. Silakan dicek
lagi dulu materi Raden Mas Sosrokartono
kearifan-kearifan Jawa.
Baik.
Ini juga kita harus waspada.
Tidak semua penjajahan itu datang dengan
pasukan.
Sebagian datang dalam bentuk gagasan.
Yang tidak kelihatan. Yang samar itu
ketika kita diserang oleh gagasan.
Lebih berat lagi kalau kita ndak pintar.
kita sudah malas baca, malas mikir,
serangannya dalam bentuk pemikiran,
kalah sudah kita.
Padahal pertarungan besar hari ini itu
arenanya arena pemikiran.
Semua bertarung agar gagasannya
diterima, agar pikirannya diakui.
Itu yang nanti kita rasakan. Apalagi di
era digital hari ini.
Baik,
kita mulai sekarang belajar apa itu
waswul fikr,
pertarungan pemikiran, perang pikiran,
invasi intelektual atau penjajahan
ideologis.
ini sering didefinisikan sebagai
masuknya ide,
nilai, gaya hidup, cara pandang yang
asing
berarti dari luar yang dapat dianggap
melemahkan identitas kita, moral kita,
peradaban kita, akidah kita.
Itulah waswul fikr. Jadi kalau ada
pikiran-pikiran dari luar, ide dari
luar,
pengaruh-pengaruh dari luar,
provokasi-provokasi dari luar, yang itu
mengancam
identitas kita. Yo, karena istilah
wacana ini muncul dalam kajian Islam, yo
yang terancam itu identitas keislaman.
Sebenarnya bisa dimaknai luas. kita yang
Indonesia mungkin juga terancam
keindonesiaan kita. Bisa saja begitu
yang Jawa terancam ke Jawaannya
dari masuknya pengaruh-pengaruh dari
luar.
Jadi terus kita berubah,
[menghela napas]
kita putus dari akar kita,
kemudian pelan-pelan budaya dan
peradaban kita habis mati.
Nah, itu berarti kalah dalam wuswul
fikr.
Istilah ini populer dalam dunia Islam
abad 1920.
Seperti tadi saya jelaskan ya, karena di
era-era ini sebagian besar kita itu
sedang dijajah
sehingga terus penjajah [menghela napas]
tidak hanya menaklukkan secara fisik,
tapi juga
memasukkan gagasan-gagasan.
penaklukannya ndak hanya lewat militer
ekonomi, ndak hanya tanam paksa, ndak
hanya penghisaban, tapi juga lewat
pendidikan, budaya, bahasa, termasuk
pola pikir.
Jadi cara berpikir berubah.
Yang mengubah siapa? Para penjajah.
Yang dulu dianggap gak normal, sekarang
dianggap normal saja. Yang dulu mungkin
negatif, sekarang bisa positif.
yang dulu biasa-biasa sekarang jadi luar
biasa dan lain sebagainya. Ini berarti
kita kalah.
Itu yang saya tulis di kanan yang warna
merah itu biasanya wacana-wacana yang
sering dipandang bagian dari
guzwul fikr. Ini yang populer sekali
westernisme,
pembaratan.
Bahkan dulu ketika kita belajar
filosuf dari Iran, Ali Syariati, beliau
punya istilah
west toxication.
Jadi itu gabungan dari west, barat dan
toksik.
Ah, [menghela napas] ya toksik itu
racun. Jadi wopication
itu berarti banyak di antara orang-orang
Timur, umat Islam juga itu yang
keracunan Barat.
Keracunan Barat itu
apa ya istilah beliau? Nanti ada
orang-orang sok pemikir kata beliau.
Padahal dia cuma ngutip
pikiran-pikirannya orang Barat yang
belum mesti cocok dengan dunia Islam,
dengan dunia kita.
Orang-orang yang sok pemikir ini
biasanya dia bisanya hanya mengimitasi
saja. Dia bangga kalau sudah niru barat
ini istilah beliau west toxication.
Apa saja itu?
Nah, mungkin di sini ah saya gak, Pak.
Kalau barat, kalau Korea mungkin
sedikit-sedikit
yo podo wae. [menghela napas]
Jadi [mendengus] bukan identitas
jenuinmu.
Jadi kamu dipengaruhi
sehingga gaya hidupmu berubah, cara
berpikirmu berubah. Kalau itu mengikuti
barat ya terjadi namanya westernisme,
pembaratan.
Ada juga yang populer sekali
didiskusikan di banyak forum
sekularisme.
Ini kan yang terkenal dengan memisahkan
agama dan dunia.
[mendengus] Ini urusan dunia, ini urusan
agama. itu itu dikritik hebat di
mana-mana banyak dikritisi
yo agama kita itu yo gak hanya ngurusi
masjid gak hanya ngurusi akhirat kita
juga ngurusi dunia juga kok Islam itu ya
dunia akhirat gak bisa seperti
sekularisme begitu
ya kita sebenarnya sering mengkritik
sekularisme tapi kelihatannya dalam
praktik hidup kita sering sekuler
kita sering ah ini kan urusan urusan
sekolahan, Pak. Ah, ini kan urusan
politik, Pak. Gak ada hubungannya dengan
ah jangan dikit-dikit agama dong, Pak.
Jangan. Kita kan sering begitu. Saya
sering baca sekilas-sekilas di
mesos-mesos itu begitu. Apa-apa kok
agama dikit-dikit kok dibawa ke agama
dan kita gatal dengan itu. Padahal kalau
ditanya setuju sekuler apa gak? Gak
setuju, sekuler.
Tapi ketika kita membahas sesuatu,
mengomentari sesuatu, tiba-tiba ada
ngomong dari perspektif agama, terus
kita marahi dia, "Mbok jangan
dikit-dikit dibawa ke agama."
Yo mungkin konteks tertentu, ya. Tapi
ini gambaran. Kadang-kadang kita itu di
mulut bilang gak setuju, tapi dalam
praktiknya kita lakukan.
Oke.
Baik. Mungkin juga ada wacana selain
sekularisme, materialisme,
apa-apa serba materi, serba mater ini yo
kalau ini sudah kita kalau disebut kamu
mater ya mesti kita tersinggung itu
enggak mau. Ayo, faktanya begitu
[mendengus]
membahas apa saja nanti ujung-ujungnya
yo materi, materi.
Ujung-ujungnya kesejahteraan ekonomi itu
sama fokusnya ke materi.
Ruwet bahas diskusi panjang lebar yo
pada akhirnya materi.
Ah, kita ndak mau dituduh materik tapi
yo mikir kita begitu terus.
apa-apa pertimbangannya uang nilai
uangnya yang kita ukur. Ah, itu materi
konsumerisme.
Kalau ini juga saya ndak berani bilang,
saya ndak termasuk ya kadang-kadang yo
senang aja mengkonsumsi. Beli tiap hari
jempol ini nyekrollnya bangsofe,
Tokopedia gitu. apa yang harus saya
konsumsi minggu ini kan begitu pikiran
kita hari ini
mengkonsumsi.
Jadi mindset kita bukan mindset
produsen, kita mindset konsumen.
Cita-cita kita itu kan cari uang banyak
untuk beli ini, beli itu.
Itu konsumtif. Jadi bukan kok saya ingin
memproduksi ini, berkontribusi itu ndak.
Pikiran kita itu yo wis
kerja kemudian dapat uang banyak. Wong
sekarang kuliah saja kita diminta nawa
itunya cari kerja
yang gak nyambung dengan kerja mau
ditutup sama pemerintah.
Iya. Jadi
oke ya. Padahal sejak dulu kita
dinasehati
cari ilmu itu kewajiban, ilmu itu utama,
ilmu itu mulia untuk hidup tinggi.
Sekarang degradasi ilmunya hanya untuk
nyari kerja.
Akhirnya yo kamu meresponnya kan juga
begitu. Caramu kuliah itu kan yang
penting nilainya tinggi, ijazah, gelar
yang bisa jadi bekal cari kerja.
Pokoknya belajarmu yo praktiskan sesuai
kebutuhan kerja.
Kemarin saya ditanya mahasiswa yang
konsultasi ke saya, "Pak, saya ini mau
wawancara kerja. Kalau saya ditanya ini
jawabnya gimana yo, Pak?" gitu lah. Kok
tanya saya?
Tak pikir minta doa gitu tak doain. Tapi
loo minta tips diwawancarai HRD. L aduh.
Ah, itu hari ini begitu kita
konsumeristik. Padahal kan budaya kita
Jawa misalnya itu sebenarnya ndak semat
itu, ndak sekonsumtif itu. Saya masih
ingat meskipun banyak dikritik ya di
Jawa itu ada peribahasa mangan ora
mangan kumpul.
Itu berarti kan materi ekonomi itu nanti
dulu. Yang penting kita ini rukun dulu.
Yang penting kita ini guyub dulu
bareng-bareng dulu, harmonis dulu.
Jadi mikir makannya nanti dulu. Nah,
sekarang kan teman-teman mungkin dibalik
kumpul ora kumpul sing penting mangan.
Jadi makannya didulukan. Ini yang saya
maksud perubahan mindset,
perubahan nalar. Mungkin ada pengaruh
ini, pengaruh itu, kita jadi lebih
materialistik, konsumtif.
Sekarang kan kelihatan mulai banyak di
antara kita yang ilfil. Kalau ada orang
ngomong tentang agama yang gimana alah
dikit-dikit dalil, dikit-dikit agama itu
kita gatal. Banyak orang yang sekarang
sain saja deh, dijawab dengan ilmu saja.
Apa agama itu kan gitu. Nah, ini
kemungkinan juga pengaruh-pengaruh dari
kiri kanan kita.
Kemudian hedonisme,
relativisme itu salah satu contoh
ideologi mungkin yang berkembang di
dunia kita, dunia Islam, Indonesia yang
itu sebenarnya tidak khas kita sih.
Orang Indonesia ndak sehedon itu.
Misalnya budaya kita itu kenal kebiasaan
tirakat.
Tirakat itu
susah dulu ndak apa-apa, sengsara dulu
ndak apa-apa, berjuang dulu ndak apa-apa
demi nanti panen keberhasilan, panen
kesuksesan.
Ini kan lawannya headon. Kalau hedon itu
nyari enak terus, nyari senang terus.
Nah, tapi hari ini logika tirakat itu
mulai terkikis.
kita yang dicari. Pokoknya saya harus
enak.
Entah lewat jalan apa entah tentang apa,
kita ndak betah [tertawa] kalau kebagian
yang tidak enak.
Nah, mental kita mulai geser.
Relativisme juga begitu. Yo, kayak kita
ini kan sering
dicekoki dengan pandangan, ah apa-apa
hidup ini relatif gak ada yang pasti.
Jadi kita terus sering bingung sendiri
mau apa-apa serba gak pasti. Ah relatif
dari mana dulu, tentang apa dulu itu kan
gitu. Kita selalu begitu tambah pintar
kita itu tambah hari ini tambah jeli
melihat bahwa segala sesuatu itu gak ada
yang pasti.
Apalagi kalian belajar filsafat
terus bilang satu-satunya
kepastian dalam hidup adalah
ketidakpastian. Wah,
iya sudah itu. Oke, ya. Yo, terus kamu
kan terus jadi ngambang, jadi bingung.
Mau saya yakini ternyata juga relatif.
Kalau saya ndak terlalu yakin, gimana
saya bisa menjalankannya mantap?
Kalau saya gak mantap, mana bisa saya
sukses.
Itu mindsetnya kita karena geser terus
kita kebingungan sendiri. itu buahnya
guzwul fikr.
Jadi ini yang kita harus hati-hati ya.
Bayangkan saya sering sekali tanya di
banyak forum
mahasiswa biasanya ya. Siapa di sini
yang merasa ndak yakin dengan
jurusannya?
Itu biasanya yang angkat tangan banyak.
Kadang-kadang kalau jurusan-jurusan
filsafat, jurusan kayak di usuluddin itu
mending. Kadang jurusan-jurusan
prospeknya besar kayak pendidikan,
kedokteran itu juga banyak yang merasa
salah jurusan
gitu loh. Jadi saya rasanya salah
jurusan, Pak. Saya jadinya gak mantap
kuliah ini, Pak. Padahal kedokteran,
padahal mungkin pendidikan yang itu
daftarnya rebutan.
Sementara yang kuliah filsafat
santai-santai saja.
I kalau kuliah filsafat mungkin kalau
ditanya, "Emangnya kamu yakin?" Yakin.
Yakin apa? Yakin susah suksesnya.
[tertawa]
Sementara yang di sana masih bingung
kamu sudah mantap sudah.
Nah, ini yang dimaksud ya perang pikiran
itu pikiranmu yang lama,
yang itu mungkin ideal, yang itu mungkin
identitas dasar hidupmu, yang itu
mungkin nilai-nilai pokokmu.
Diinvasi,
diserang,
kemudian kamu goncang, kemudian kamu
goyah, kemudian kamu berubah.
Jangan dikira pikiran itu simpel. Ah,
kan cuma pikiran, Pak.
Ah, cuma ide saja, Pak. Ah, cuma wawasan
saja, Pak. Jangan dikira pikiran, ide,
gagasan, wawasan itu jauh dari hidupmu.
Kalau diambil rute seperti yang saya
gambar itu ya,
manusia itu hidupnya justru diawali dari
pikiran.
Fitrah manusia yang paling dasar itu dia
ingin tahu,
maka
otomatis orang itu akan bertanya ini itu
tentang hidupnya. itu fitrah sudah dasar
kenapa manusia dikaruniai akal budi.
Dia anak kecil itu sering saya
ilustrasikan ya, yang baru belajar
ngomong
itu biasanya cerewet, pikirannya baru
berkembang dia bisa ngomong. Itu
biasanya apa saja ditanyakan
ini apa ya, itu apa ya, dia cerewet
omongnya mesti banyak.
Kenapa? natur fitrah. Dia ingin tahu
apa sih yang benar, apa yang baik, apa
tujuan hidup. Ini juga akan kita
tanyakan. Kenapa saya hadir di bumi ini?
Apa tujuannya?
Hidup yang benar bagaimana? Hidup yang
baik bagaimana? Tujuan hidup ini ke
mana? Otomatis pertanyaan-pertanyaan itu
akan muncul di kepala kita.
Terus kita berpikir.
Dari berpikir itu muncul ide, muncul
gagasan, muncul pemikiran
tentang hidup yang benar, hidup yang
baik, tentang tujuan hidup.
Termasuk antara lain dibantu oleh agama,
dibantu oleh budaya, dibantu oleh
tradisi, oleh sekolahan.
Di situ kita paham apa itu kebebasan,
apa itu keadilan, apa itu kemajuan, apa
itu ketuhanan.
Kalau sudah paham akan jadi word,
pandangan dunia sederhananya. Jadi
kacamata kita.
Ilmu itu kacamata kita untuk memandang
dunia, memahami dunia.
Dari kacamata itulah nanti kita terus
berperilaku.
Orang yang melihat dunia ini adalah
ujian. Wah, itu nanti perilakunya beda
dengan orang yang anggap dunia ini
adalah anugerah
atau orang yang anggap dunia ini adalah
penderitaan. itu cara bersikapnya akan
berbeda.
Kenapa? Word view-nya beda
cara pandangnya beda. Dari mana word
itu? Yo, dari pikiran.
Maka di banyak sesi ngaji filsafat kan
sedang saya sebut kuncinya manusia itu
ada di pikirannya.
Kalau pikiranmu serba optimis, hidup ini
menyenangkan. Tapi kalau pikiranmu serba
pesimis, hidup ini menyedihkan.
Betul. Jadi hal yang sama dilihat orang
yang berbeda bisa berbeda maknanya.
Kenapa? Pikirannya beda, kacamatanya
berbeda.
Itu pentingnya pikiran. Jadi jangan
disepelekan goswul fikir, perang pikiran
itu. Perang pikiran itu berarti
yang terjadi apa? Ada pikiran dari luar
ingin masuk, ingin jadi kacamatu.
Berarti apa? ingin mengendalikanmu
biar kamu ikut maunya dia.
Jadi itu hakikatnya goswul fikr.
Baik. Jadi semoga gak ada yang alapak
cuma pikiran saja, alapak cuma bayangan
saja gak. Makanya teman-teman mungkin
sering dengar istilah adillah sejak
dalam pikiran.
Karena kalau di pikiranmu ndak adil, yo
kemungkinan caramu melihat juga ndak
adil. Kalau caramu melihat gak adil,
perilakumu juga pasti tidak adil.
Oke. Misalnya kalau di kita ada istilah,
"Woh, kui pikirane ngeres misalnya."
Nah, kalian itu pikirannya ngeres itu
kenapa kok pikiranmu ngeres? Karena
input datanya hal-hal yang ngeres,
hal-hal yang negatif. Akhirnya apa? Yo
kacamatamu kacamata ngeres.
Lihat lawan jenis seperti apapun yo
bayanganmu ngeres.
Kenapa? pikiranmu ngeres, pikiranmu
kotor.
Jadi pikiran bisa jadi kunci nasibmu,
kunci hidupmu.
Maka kalau ada orang bisa menguasai
pikiranmu, berarti dia sebenarnya sudah
menaklukkanmu.
Pada siapa orangnya kalian bilang
begini, "Wis, aku ikut kamu sajalah.
Malas mikir aku, kamu aja yang mikir.
Itu alamat kamu sedang memasrahkan
dirimu sepenuhnya. Kamu membuka dirimu
untuk dijajah.
Oke, ya.
Baik. Ini saya jelaskan ini biar gak ada
yang nganggap al-Pa gazwul fikir cuma
pertarungan pikiran gak seru. Lebih seru
bom-boman, lebih seru nuklir-nukliran
kan begitu. Padahal ini efeknya besar.
Baik, kita lanjutkan.
Meskipun begitu
kita harus kritis ya. WW fiker tidak
sama dengan intelektual
exchange.
Oh, kalau begitu kita ndak belajar
tentang yang luar-luar, Pak. Kita ndak
belajar tentang filsafat Barat, filsafat
Yunani. Nak. Bukan begitu maksudnya.
Bahkan kalau ini konteksnya kajian Islam
pun dalam sejarah Islam, peradaban Islam
itu yo berkembang melalui dialog dengan
banyak tradisi.
Kita itu sudah lama diskusi dengan
Yunani, dengan Persia, dengan India.
Para ulama Imam Ghazali, Ibnu Rus, Ibnu
Khaldun
itu mereka yo berdialog, berdialektika
dengan ilmu-ilmu wawasan dari luar,
tapi mereka mampu menyaringnya, mereka
mampu mengkritisinya, mereka mampu
mengembangkannya
tanpa kehilangan jati diri.
Jadi mereka tidak kemudian menjiplak
begitu saja, menelan begitu saja
gagasan-gagasan dari luar.
Mereka punya saringannya,
punya filternya.
Mereka bisa mengkritisi, "Oh, sampai di
titik ini cocok dengan kita, tapi kalau
sudah bagian itu sudah gak sesuai lagi."
Nah, itu bisa begitu. terus dikembangkan
sesuai dengan word viw cara pandang
Islam.
Jadi itu disebut intelektual exchange.
Tapi kalau yang hw fiker tadi yo kita
pengaruhnya masuk merusak kita ndak
punya filter kita disetir total
itu waswul fikr.
Jadi bedakan dua ya saya khawatirnya
nanti. Wah berarti saya ndak lagi
baca-baca buku luar lah Pak. Ndak lagi
diskusi dengan luarlah Pak. Nah, bukan
itu maksudnya.
Silakan saja kamu perluas wawasanmu
sebanyak mungkin, tapi tetap berfilter,
tapi tetap kritis. Kalau ada yang gak
cocok dengan kemanusiaan, gak nyambung
dengan ketuhanan, kok isinya zalim, yo
kamu tolak.
Jangankan yang luar-luar, bahkan
pikiranmu sendiri kalau itu negatif,
kalau itu jelek, bahkan budayamu sendiri
kalau merusak yo harus dikritisi.
Jadi waswul fikir bukan intelektual
exchange. Jadi yang dapat beasiswa luar
negeri yo lanjutkan saja.
Jangan gara-gara sesi malam hari ini.
Wah, ndak jadi, Pak, saya kuliah nanti
gara-gara Pak Faiz ini
ndak yo ambil wawasan sebanyak mungkin
ndak masalah tapi jangan ndak punya
filter, jangan tidak kritis, jangan
kalian ditelan begitu saja. ikut saja
seperti tadi.
Jadi bedakan dua ini ya biar tidak
terjebak.
Bahkan nanti
sejarah itu juga berkembang melalui
pertarungan pemikiran.
Jadi
perebutan pikiran itu kan memang yang
kita sebut dialog atau dialektika itu
kan jadi kunci perkembangan sejarah.
Monarki apa demokrasi misalnya
teosentris berpusat pada Tuhan atau
antroposentris berpusat pada manusia.
Kolonialisme apa kebebasan. Tradisi apa
modern? Oh itu kan debat.
Tapi debat yang produktif,
pertarungan gagasan melahirkan ide baru.
Ini kalau di filsafatnya Hegel ada
tesis, ada sintesis, terus lahir
filsafat yang baru,
tesis, antitesis, sintesis. Terus begitu
zaman itu berkembang jadi lebih cerdas.
Jadi lebih cerdas. Kenapa? Terjadi
pertarungan pemikiran. Itu pun jenis
waswul fiker, tapi pertarungan pikiran
yang konstruktif.
Jadi terjadi dialog gagasan lama dengan
gagasan baru yang kemudian melahirkan
gagasan yang lebih baru.
Dengan ini sejarah itu berkembang.
Kalau yang ini nak masalah. Jadi
bahkan kalian diskusilah terus,
dialoglah terus, dialektikalah terus,
nanti kamu tambah pintar, tambah pintar.
Diskusi itu kadang ada bingungnya, ada
stresnya, gak apa-apa. Setelah itu
pintar.
Jadi kalau kalau kayak kalian baca buku
itu kan kadang itu kan terjadi
pertarungan antara wawasanmu yang ada di
kepala dengan pikiran yang ada di buku.
Itu kan tabrakan sudah. Tapi kan terus
terjadi kalau istilahnya gadamer itu
terjadi fusi
pertemuan, peleburan lahir ide baru. Nah
ide baru itu apa? Ya, tafsirmu terhadap
buku itu ide baru, gagasan yang baru.
Ujilah terus gagasanmu biar lahir
gagasan baru lagi. Gagasan baru lagi.
Kalau kamu diam saja merasa sudah
selesai, Pak, saya sudah tahu
kebenarannya, yo kamu macet. Pikiranmu
ndak berkembang.
Dari sisi ini justru carilah lawan untuk
perang,
untuk menguji gagasanmu, menguji idemu.
Nah, ini konteksnya berbeda dengan
guzwul fikir tadi. Kalau ini ya belajar.
Nanti di bidang psikologi ada istilah
ini beberapa kali saya sebut ya,
creative tension.
Creative tension itu ketegangan tapi
kreatif.
Setelah kita debat lama ketemu sekarang
ide barunya itu lahir sesuatu yang baru.
Setelah kita tabrakan sekarang ada
sesuatu yang baru yang lahir. Ini
namanya creative tension.
Kadang-kadang kita itu kalau ndak
ditekan,
kalau tidak dipaksa, ndak mau mikir,
kreatifnya ndak keluar.
Begitu ada paksaan kreatifnya keluar.
Kalau ndak dikasih tugas oleh dosen
bikin tulisan,
ndak akan kamu diam-diam nulis. Tapi
begitu dosennya bilang tugas ya
kumpulkan bulan depan. Jangankan bulan
depan, minggu depan pun jadi tulisanmu.
Kamu jadi kreatif.
Itu yang disebut creative tension. Dari
ketegangan kamu jadi kreatif.
Itu pun disuruh tugas minggu depan kamu
lupa kurang sehari baru ingat. Aduh.
Tapi yo jadi sekepet itu pun bisa jadi.
Kamu ndak sadar dirimu sehebat itu.
Ini mahasiswa zaman dulu ya.
[tertawa]
Karena kalau mahasiswa zaman sekarang
mesti kamu larinya ke chat GPT. Mesti
ini mahasiswa dulu.
Zaman saya dulu itu ya kalau kepepet itu
disuruh apa saja bisa. Sudah
baik itu kayak kamu gak pernah azan
misalnya tiba-tiba kayak teman saya dulu
KKN disuruh azan.
Yo wis nekat saja yo iso. Mungkin
awalnya keliru-keliru.
Teman saya itu saking groginya dulu
KKN-nya di Kulon Perogo disuruh azan.
Saking groginya, saking paniknya, wong
ndak pernah azan. Harusnya awalnya
Allahu Akbar tapi bismillah.
Yo ndak opo-opo yo ketawa. Tapi kan
terus bisa
yo kalau katanya iklan kan kalau ndak
kotor kan ndak belajar.
Kalau ndak keliru kan ndak ada
perbaikan. Jadi terus oh ya keliru.
Tiba-ti bismillahnya keras sekali.
Bismillah. Eh, keliru
harusnya Allahu Akbar.
Nah, dari tension lahir kreatif. Itu
creative tension. Jadi, sejarah itu
bergerak melalui konflik pemikiran
lah. Terus kalau kayak gini aman, Pak.
Yang guzwul fikir itu yang seperti apa
sih? Nah, sekarang kita belajar
ciri-cirinya wajwul fikr.
Terjadi invasi pemikiran, terjadi
tadi ya perebutan kekuasaan pikiran
dalam diri kita.
Kapan waswul fikir itu terjadi?
Waswul fikir terjadi pertama ketika ada
relasi yang tidak seimbang.
Yang satu sangat powerful, yang satu
hopeless,
yang satu sangat kuat, yang satu sangat
lemah. Sehingga yang lemah ini mau tidak
mau harus menerima gagasan yang satunya.
Ini sudah guswul fikr.
Kamu mau gak mau harus ikut, ndak boleh
bantah, ndak boleh milih.
Karena kalau milih atau bantah ada
resikonya yang itu pahit.
itu ghaswul fikir. Jadi salah satu pihak
punya kuasa membuat standar, menentukan
narasi, membentuk aspirasi yang lain.
Standarnya saya yang bikin dan itu untuk
kepentingan saya dan kamu ndak bisa
nawar.
Kalau situasinya begitu, itulah waswul
fikr.
Benar salah, kamu harus setuju. Kalau
kamu ndak setuju, nilaimu saya turunkan.
Nah, ini khusus fikir.
Kalau kamu nak setuju, keluar saja dari
sini.
Keluar dari pekerjaan ini. Ya, relasi
kuasanya ndak seimbang.
Kalau kamu ndak ikut, tak serang loh,
tak habisi loh. Itu wasul fikir.
Kalau yang sehat kan orang bisa milih,
orang bisa menyaring. Tapi kalau di usul
fikir gak ada kesempatan milih dan
kesempatan menyaringnya.
Entah dengan strategi apa, kita ndak
punya ruang, ndak punya kesempatan untuk
bantah,
untuk mengkritisi, untuk memfilter.
Itu ciri pertama.
Ciri kedua,
ghaswul fikir itu
mengajak untuk niru saja, taklid saja,
imitasi saja.
Makanya tadi istilahnya terus bukan kok
dari barat diambil sainnya saja, gak ya?
semua Barat sak gaya-gaya hidupnya.
Makanya tadi disebut westernisme.
Jadi kita itu hanya bisa taklid
mengimitasi.
Kalau yang sehat kan tidak imitasi tapi
adaptasi. Oke, saya cocok tapi saya
sesuaikan dengan budaya saya ya kalau
ini dialog.
Tapi kalau kamu bisanya hanya niru 100%
berarti posisimu inferior.
Kamu di depan dia kalah sudah.
Seperti tadi ya kata Ali syariati,
cirinya orang kalah biasanya
mengimitasi
yang menang.
Jadi niru kamu kagum, wah luar biasa
Barat itu luar biasa Eropa itu luar
biasa. Terus kamu ingin niru.
Padahal mungkin situasimu ndak
memungkinkan untuk niru.
Samalah mungkin gambaran gampangnya
kayak sepak bola itu ya. Kamu lihat
sepak bola luar itu wah luar biasa
strateginya. Luar biasa. Terus kamu
ingin niru saja strategi yang sama.
Padahal mungkin orang Indonesia
beda posturnya, beda, kemudian
staminanya, durasinya beda, mungkin
menang di kecepatan dan lain sebagainya.
Itu kalau kamu jiblak saja begitu saja
mungkin ya sulit suksesnya.
Nah, harus ada adaptasi. Tapi begitu
kamu pokoknya saya pengin niru 100%
menunjukkan kamu inferior,
kamu kalah. sebenarnya.
Nah, coba ya teman-teman coba direnungi
di hidup kita ini. Siapa yang kamu ingin
niru begitu saja? Yang ingin kamu ikuti
begitu saja tanpa kamu kritisi. Kalau
ada yang begitu, kamu di depan dia
kalah.
Kamu inferior. Berarti
apapun itu, mungkin artis kah, mungkin
tokoh idolamu kah, siapa saja. Kalau
misimu hanya ingin niru dia, saya ingin
persis seperti dia, itu berarti
setidaknya kamu kalah, kamu inferior di
depan dia.
Itu ciri gazwul fikr. Kalau sudah niru
dia, kamu merasa seperti dia.
Artis idolaku ya. Rambutnya sekarang
modelnya begitu. Saya tak niru ah. Terus
kamu niru seperti artis idolamu. Begitu
selesai mungkin model rambutnya kamu
potong persis seperti dia. Nanti kamu
keluar dari barber shop, kamu merasa
sudah secakep dia.
Aku sudah kayak dia. Atau mungkin niru
model bajunya. Oh, idolaku bajunya
begitu loh. Begitu kamu beli baju yang
sama, kamu merasa sudah selevel dia. Itu
sebenarnya menunjukkan kamu awalnya
inferior.
Caramu untuk naik kelas, kamu rumuskan
dengan cara kalau saya harus ikut persis
seperti dia.
Jadi di antara tadi kan ada kelompok
namanya westernisme.
Nanti di dunia Timur juga banyak orang
yang terbaratkan western ini.
Mereka punya teori kalau Timur ingin
maju ya menirulah yang sudah maju yaitu
barat.
Berarti apa? Yo ditiru saja barat
melakukan apa kita tiru. Nah berarti
karena barat itu maju. Kalau kita niru
dia berarti kita juga maju.
itu sama kayak oh kalau artis idola saya
pakai jaket seperti itu, saya juga pakai
jaket begitu, berarti saya sekarang
levelnya seperti artis. Itu cara
berpikirnya begitu. Itu kita berarti
sedang mengalami invasi kesadaran,
invasi pemikiran
waswul fikir.
Baik, itu ciri kedua.
Ciri ketiga.
Cirinya apa? Goswul fikir itu kebenaran,
kebaikan, makna dan nilai hidup kita
perlahan-lahan
berubah.
Tidak langsung ya. Karena pikiran itu
mengubahnya pelan-pelan.
Berubah sedikit, berubah sedikit,
berubah sedikit, lama-lama utuh.
Kayak tadi loh, ilmu dari tujuannya
kemuliaan hidup. Ki Hajar menjelaskan
bagaimana pendidikan yang merdeka
sekarang berubah. Jadi ilmu itu sekedar
alat untuk mencari pekerjaan dan itu
pelan-pelan.
Kalau ditanya lah kok begitu loh
zamannya memang begitu Pak sekarang
dinormalisasi.
Jadi sesuatu yang sebenarnya kalau dulu
ini gak normal. Tapi karena ada
gagasan-gagasan baru yang masuk yang
semula dianggap gak normal, dianggap
normal saja.
Misalnya hari ini ada orang memandang
manusia itu adalah unit produksi.
Nilai manusia ditentukan dari dia bisa
apa,
dia sudah melakukan apa secara produktif
atau kebahagiaan dilihat dari konsumsi.
Oh, orang itu mobilnya terbaru. Weh, dia
mesti kaya, mesti dia bahagia. cara
pandang kita pelan-pelan mulai geser
terus kita berarti saya juga harus punya
mobil seperti itu. Makna hidup
pelan-pelan geser berubah dan kita tidak
sadar
sampai nanti puncaknya justru kita
kehilangan identitas
dan ini prosesnya lambat. Karena lambat
itulah kita ndak sadar. Mungkin
teman-teman ingat ya, ada cerita tentang
kata rebus.
Nah, ingat yo.
Bukan suike, katak rebus saja.
Jadi kalau kamu membayangkan panganan
to. Jadi katak rebus itu ini sebenarnya
eksperimen. Meskipun ini biasanya sering
dipakai cerita ilustrasi saja saya juga
gak pernah ngecek.
Jadi katak rebus itu kalau kalian ada
katak,
kalau kalian masukkan katak itu ke air
yang mendidih, tetap dia akan loncat,
gak akan mau panas. Tapi kalau airnya
dingin, kamu masukkan dia ke air dingin
itu dia mau. Terus kemudian panaskan
air itu pelan-pelan.
Nah, dia bisa beradaptasi. Dipanaskan
dikit dia masih cocok. dipanaskan lagi
dia cocok, dipanas lagi dia cocok.
Sampai pada akhirnya dia ndak sadar air
sudah mendidih dan kalau sudah mendidih
dia gak akan bisa loncat
mati tentu saja.
Nah, kita sering seperti kata rebus
tadi.
Alah, Pak wong berubah sedikit saja gak
terasa. Terubah sedikit gak terasa.
Lama-lama kalau sudah akumulatif,
perubahan besar pada akhirnya dan kamu
sudah gak bisa keluar lagi dari sana.
Sudah sangat berat. Itu seperti Imam
Ghazali ya ketika menggambarkan dosa itu
seperti satu titik yang menggelapkan
hati.
Ketika dosanya masih sedikit yo kotoran
titik-titiknya masih sedikit.
Menghapusnya gampang.
Tapi begitu menumpuk banyak ndak gampang
lagi sudah menghapusnya.
Nah, perubahan juga begitu.
Perubahan tadi loh kena
pengaruh-pengaruh pikiran pelan-pelan
itu kita itu awalnya nak terlalu jahat
biasa saja tapi terus diulang lagi,
diulang lagi pada akhirnya kita jahat
beneran dan biasa saja, normal saja.
Ah, normal saja, Pak. Di sini begitu.
Hari ini memang begitu. Anak muda
sekarang, Pak. Pikiran-pikiran ini terus
seperti kata rebus tadi, pelan-pelan
kita berubah dan kita pada akhirnya ndak
bisa keluar lagi sudah dari sana.
Ini peringatan ya untuk kita. Ayo tidak
dinormalisasi
kesalahan, kekeliruan, salah jalan
sekecil apapun.
Tetap itu harus kita sebut ini salah,
ini keliru, ini gak seharusnya.
Saya harus kembali lagi.
Karena kalau tidak, kalau kita tidak
cepat-cepat segera keluar, kita nak akan
sadar ketika airnya sudah sampai titik
didih.
Kemudian cirinya lagi gazwul fikr adalah
mengubah manusia jadi konsumen
bukan produsen makna.
Kita ini bisanya mengimpor saja
pikiran, gagasan, nilai, kategori, dan
lain sebagainya.
Kita tidak punya otonomi intelektual,
otonomi budaya.
Kita disuruh berubah, berubah. Disuruh
berhenti, berhenti. Disuruh lari-lari.
Yang mahasiswa merasa keren kalau sudah
ngutip dari sana, ngutip dari sini. Dia
sendiri gak pakai mikir. Isinya kutipan
semua.
Ya kan? Kalau bikin tulisan setiap
paragraf awalnya ada kata menurutnya.
Menurut ini. Terus bawahnya lagi menurut
ini. Mahasiswa kok nurutan.
mikir sendirinya ndak ada.
Kamu ndak percaya diri kalau itu
pikiranmu sendiri.
Kadang-kadang mungkin kalau ada orang
nakal itu kamu dibohongi dengan cara
dikutipkan padahal kutipannya ngarang.
itu saya pernah ngalami zaman dulu saya
ee
mahasiswa baru zaman saya masih ada
penataran P4 100 jam
yang itu terus ada lomba debatnya
dan saya menang debat gara-gara ngawur
nyebut kutipan
dianggap hebat itu kalau sudah ada
kutipannya ngawur wae menurut Nur Kholis
Majid menurut Abdurrahman Wahid ngo
Terus woh orang-orang dianggapnya kalau
sudah begitu itu ndak iso dibantah.
Sudah
jadi ketika mengkonsumsi kita merasa
hebat
bukan saat memproduksi.
Itu jurinya mungkin kagum kan. Saya
banyak kutipan. Coba saya ngomongnya
menurut saya. Ah menurut saya [tertawa]
nanti mesti diketawain kamu level apa
mikir kok menurut saya itu sebagai apa
nih? Jadi kalau kita berpikir sendiri
gak terlalu dipercaya.
Kita mengkonsumsi baru diakui. Nah, ini
termasuk sudah mengalami waswul fikr.
Terus
ada cirinya guzwul fikir itu orang
merasa asing dengan identitasnya sendiri
pada akhirnya.
malu pada tradisinya sendiri, inferior
terhadap identitasnya, menganggap
budayanya sendiri sebagai hambatan.
Ah, ini belakangan sering ya kita dengar
orang yang malu saya, Pak, jadi orang
Indonesia gitu.
Mbok malunya jangan ke Indonesianya.
Malu, Pak, dengan pemerintah sekarang
boleh. Malu, Pak, dengan ngono loh. Kamu
ndak spesifik kok malu dengan
Indonesianya.
Jadi, y yang jelas saja yang kamu malu
siapa. Karena khawatirnya apa? Nanti
kamu kehilangan akarmu.
Malu, Pak, saya dengan orang Indonesia
hari ini? Boleh. Mungkin memang
masyarakat kita mungkin banyak yang
malas mikir apa-apa gak apa-apa. Tapi
jangan dengan Indonesiamu
itu loh. Jadi banyak yang merasa
inferior dengan identitasnya sendiri.
Jadi menganggap budayanya sendiri
sebagai hambatan sampai ayo kita kabur
saja jangan di sini gitu.
Nah, ini dia merasa terasing. Mungkin
dia mindsetnya sudah masuk pengaruh dari
luar bahwa standar hebat, standar maju
itu begini.
Berarti kita masih belum maju, belum
hebat. Kita masih belum ada di situ.
Terus kita kita merasa inferior pada
akhirnya. Itu itu contoh bahwa kita
kalah.
Kemudian
cirinya goswul fikir lagi kita
menormalisasi
sesuatu yang itu sebenarnya asing tanpa
kita pikirkan dulu.
Jadi apa saja itu kita melihat sesuatu
ah rasanya kok cocok. Saya tiru ah.
Kita dengar orang sana ngomong, "Wih,
kok keren ya orang sana ngomong. Saya
harus seperti itu." Ah,
kita ndak punya filter. Kita tidak ada
ruang refleksi.
Jadi, ini yang sering membuat kita kalah
dalam waswul fikir. Akhirnya kita
berubah. Akhirnya kita gak bisa kembali
lagi ke identitas lama. Seperti kata
rebus tadi sudah terlanjur mendidih,
sudah terlanjur kita terputus dari akar
kita.
Eh, kita lihat salah satu contoh ya.
Praktik wul fikir itu.
Ini dari India. Ada seorang tokoh
sejarawan, filosuf namanya Thomas
Bington Mcle.
ini beliau satu ketika nulis dokumen
yang judulnya Min on Indian Education.
Ini sama seperti di Indonesia dulu
Belanda ada politik etis.
Ternyata di Bali itu ada misinya
penjajah.
Jadi itu nanti dari sini dikenal
istilahnya brown English man. Orang
Inggris tapi kulit coklat. Nah, itu
kayak di kita lah. Kita kan sering pakai
istilah londo ireng.
Nah, itu sebenarnya yo orang kita
sendiri yo orang jawo tapi kok yo gayane
koy londo.
Nah, itu ini juga brown English man itu
ee orang Inggris coklat. Maksudnya orang
India sendiri yang saat itu ini
sebenarnya diskusinya tentang
pendidikan.
Saat itu ada perdebatan
apakah pendidikan di India ini pakai
bahasa Inggris atau pakai bahasa India
yang sesuai dengan budaya sana.
Nah, terus tokoh ini ini ada di dewan di
Kalkuta saat itu ya. Tokoh ini dia nulis
dokumen ini. Jadi kalimatnya menarik.
Saat ini kita harus berupaya sebaik
mungkin untuk membentuk satu kelas yang
dapat menjadi penerjemah antara kita dan
jutaan orang yang kita perintah.
Satu kelas orang yang berdarah dan
berwarna India, tetapi berjiwa,
berpendapat, bermoral, dan berintel
Inggris.
Kita perlu orang sebanyak ini kenapa?
Jadi alatnya Inggris
untuk tetap menguasai India.
Bahkan seandainya Inggris sudah pulang
pun masih banyak yang mewakilinya di
India.
Orang Inggris yang kulit coklat brown
English.
Nah, itu saya kapan itu juga baca
misalnya politik etis Belanda di
Indonesia yang saat itu buka pendidikan
macam-macam itu kan. Itu ada yang bilang
sebenarnya tujuannya Belanda dia biar
dapat tenaga pintar terdidik yang bisa
dibayar murah.
Jadi Belanda memerlukan tenaga terdidik
administratif yang bisa dibayar murah.
Jadi mereka kan menjalankan pemerintahan
di Indonesia cuma kan tenaga teknisnya
kekurangan.
Itu yo solusi paling simpel ngambil
penduduk pribumi. Akhirnya dibukalah
sekolah-sekolah banyak di Indonesia biar
lahir orang-orang yang terampil.
Tujuannya apa? untuk kerja di
administrasi pemerintahannya Belanda.
Yo kasarnya jadi PNS-nya Belanda.
Makanya ada yang bilang sebenarnya kalau
ada lowongan PNS kok yang ngelamar
ribuan orang rebutan. Itu sebenarnya
mentalitas yang diwariskan sejak zaman
Belanda.
Ngelamar PNS.
Jadi kerja untuk pemerintah itu ya ada
perspektif yang begitu.
Jadi ini dicontohkan brown Englishman
ini. Jadi jangan dikira ee mereka
memberi peluang pendidikan itu untuk
kepentingan kita. Mereka gak pernah
mikir kita ya. Mereka kepentingan mereka
sendiri.
Itu pun yo maju mundur kan dulu Belanda
itu di parlemennya sendiri debatnya lama
itu sampai kemudian sudahlah memang
dibukalah pendidikan untuk pribumi.
Jadi ini contoh waswul fikir ndak tidak
pakai pembantaian, tidak pakai
kekerasan, diubah saja cara berpikirnya
dan itu masuk akal.
Di mana masuk akalnya? Kita lihat ya.
Kalau di filsafat itu kita bisa membaca
pakai perspektif gramsi atau perspektif
huko atau yang lebih to the point boleh
pakai perspektifnya Edward Said dengan
orientalismenya.
Kalau perspektifnya Gramsi
kita ada teori hegemoni budaya.
Jadi kekuasaan modern itu tidak hanya
bekerja lewat paksaan
senjata atau negara, tapi lewat budaya,
lewat pendidikan, lewat media, lewat
agama.
Dengan ini orang bisa melanggangkan
kekuasaannya.
Jadi penguasa itu
memaksa kita, mengalahkan kita. tidak
hanya dengan
aparat keras, tidak hanya dengan polisi,
tidak hanya dengan pengadilan, tidak
hanya dengan tentara,
tapi mereka juga ngambil jalur lembut.
Jalur lembut itu apa? budaya namanya
hegemoni.
Kita itu dididik, diajari mungkin lewat
sekolah-sekolah, lewat media-media,
lewat agama, ceramah-ceramah dan lain
sebagainya untuk menganggap segala
sesuatunya baik-baik saja, normal saja.
Maka kita ayo patuh saja pada kekuasaan
itu. Ini namanya hegemoni. Jadi kalau
dipaksa mungkin kita memberontak, tapi
kalau dihegemoni kita gak akan sadar.
Karena pikiran kita sendiri setuju
dengan itu,
dibentuk seperti itu.
Nah, ini hegemoni. Jadi sama seperti
gazwul fikir tadi, menaklukkan satu
bangsa ya. Kendalikan saja cara
berpikirnya,
mungkin lewat pendidikan, mungkin lewat
media.
Pada akhirnya orang patuh tapi ndak
sadar kalau dia dijajah.
Dia merasa normalnya begitu.
Baik, itu gramsi.
Ada lagi fuko.
Kalau fuko dia bilang
orang yang punya kekuasaan dialah yang
menguasai pengetahuan.
Kalau zaman dulu orang yang punya
pengetahuan dia yang kuasa. Kalau zaman
dulu knowledge is power. Kata fuko
sebaliknya power is knowledge. Jadi
orang yang kuat itu dia yang bisa
mengendalikan pikiran kita.
Kalau saya punya kekuasaan misalnya di
kampus misalnya, saya tinggal ngatur,
"Oh, Om materi ini saja yang diajarkan
materi itu jangan. Mata kuliah ini yang
diangkat, mata kuliah itu jangan."
Jadi ah ini materi-materi ini itu kalau
diajarkan bahaya mereka bisa nanti sadar
terus ngritik saya ini gak usah orang
yang punya kekuasaan yang bisa begitu
yo sama kan dulu misalnya di Orde Baru
ada banyak larangan-larangan
tentang komunisme.
Janganlah materi ini jangan masuk kamu
jangan masuk kelas karena apa? khawatir.
Jadi dia yang punya kekuasaan yang bisa
ngatur pengetahuan
itu fuko. Nah, orang yang punya kuasa
inilah nanti yang menaklukkan pikiran
kita dengan fasilitas yang mereka
miliki. Mungkin sekolah, mungkin
guru-guru, mungkin mimbar-mimbar di
masjid, di gereja.
Power is knowledge
itu fuko nanti bolehlah diceki dua orang
ini sudah kita bahas di ngaji filsafat
entah seri ke berapa baik fuko maupun
gramsi
saya lupa kelihatannya Fuko termasuk
yang
gagal rekam ya tapi gak tahu saya lupa
itu karena ada beberapa seri ngaji yang
gagal direkam
Meskipun banyak yang minta mengulang,
saya mengulang lagi malas.
Wah, ya sudah ngomong suruh ngomong
lagi. Termasuk yang gagal rekam itu yang
saya masih ingat itu sekali. Mungkin
memang sama Allah ndak bolehlah disebar
rekamannya karena temanya memang
sensitif tentang Kamutra.
Dulu pernah tahun berapa itu saya
temanya Kamasutra filosofi
ee Hindu,
tapi yo rekamannya gagal berarti yo
memang yo Gusti Allah tahu audiensnya
kayak kalian gini
nguatiri kalau dikasih tema kama sutra.
Oke. Kemudian yang ketiga Edward Said.
Edward Said terkenal sekali dengan
orientalismenya ya. Jadi Edw Said
melihat di era itu barat itu belajar
tentang timur. Tujuannya memang untuk
menguasai Timur.
Jadi belajar memang belajar tapi
tujuannya biar bisa menguasai. Biar tahu
kelebihannya apa, kelemahannya apa,
kemudian bisa menguasai.
Kita kenal sekali dengan tokoh namanya
Senuk Horgronyi
yang dia sampai ke Aceh sampai masuk
Islam belajar selukbeluk
tentang Islam. Jadi iya memang dia
belajar tapi tujuannya untuk bisa
menaklukkan itu orientalisme.
Dari titik ini itu berhubungan dengan
tadi pertarungan pikiran.
Terus barat itu sering menggambarkan
timur itu irasional.
Logikanya logika mistika saja
terbelakang.
Mereka itu perlu dibimbing oleh biar
lebih maju. Loh itu kalau kita setuju
dengan itu kan kita terus terpengaruh.
Kita terus wah kita berarti memang harus
mengikuti Barat.
Jadi sengaja dinarrasikan begitu
biar kita merasa inferior.
Kita itu terbelakang, kita itu perlu
bimbingan. Ini kita diam-diam
didominasi.
Kalau dalam antropologi ada istilah
eurosentrisme.
Eurosentrisme itu standar apa-apa
mengikuti standarnya Eropa. Yang gak
kayak Eropa dianggap terbelakang,
dianggap belum maju.
Akhirnya yang bukan Eropa kiblatnya ke
Eropa semua.
sehingga produksi-produksi dari Eropa
dikonsumsi oleh timur secara masif. Kita
kemudian mengalami ketergantungan dan
semakin kalah.
Itulah goswul fikr, pertarungan pikiran,
pertarungan gagasan.
Baik, kita lihat konkretnya konsep ya.
Ini tadi kan teori-teori umumnya.
Saya pinjamkan teori tiga tokoh yang
terkenal sekali kalau dalam kajian Islam
itu mengembangkan menganalisis tentang
wul fikir ini.
Cuma yo sebenarnya masing-masing ini
panjang tapi saya ndak bisa detail ya.
Kapan-kapan kita detailkan lagi.
Tiga orang yaitu Sayid Kutub, Sayid
Naqib Al-Attas dan Malik bin Nabi.
Malik bin Nabi pernah kita bahas.
Jadi tiga orang ini kegelisahannya sama,
yaitu Gazwul Fikr.
Umat Islam yang
pontang-panting diserang oleh
pikiran-pikiran Barat.
Ambil nafas sebentar.
Ini kalian harus agak mikir kali ini
belajar tiga tokoh ini.
Kita lihat ya. [tertawa] Pertama kita
belajar dari Sayid Kutub.
Beliau melihat
ada masalah yang beliau sebut jahiliah
modern.
Jahiliah modern itu pikiran-pikiran,
gagasan-gagasan
Barat
itu yang menormalisasi
hal-hal yang sebenarnya
antimoral,
immoral, hal-hal yang anti Tuhan.
hal-hal yang merusak hati nurani
kemanusiaan
itu yang beliau sebut sebagai jahiliah
modern.
Bentuknya apa? serangan pikiran terhadap
Islam itu beliau melihat mereka itu
kalau melihat Islam direduksi
Islam itu hanya di ritual-ritual
privat.
Sementara hukum, pendidikan, budaya dan
lain sebagainya diposisikan sebagai
bukan kajian
Islam.
Jadi serangannya seperti itu membuat
orang Islam sendiri kemudian terpengaruh
lebih sibuk dengan halal haramnya fikih
daripada isu-isu pendidikan,
kemiskinan,
perdamaian, dan lain sebagainya.
Jadi kita itu ee ingin dibentuk kembali
seperti zaman jahiliah.
Parameter-parameter hidup kita itu yo
kesuksesan, keberhasilan, tapi duniawi.
Nah, ruang serangannya perang gusul
fikir itu ya politik, ya hukum ya budaya
ya pendidikan dan lain sebagainya.
Efeknya apa?
Kita kehilangan identitas,
penciri keislaman.
Terputus dari orientasi beragama.
Kita menganggap agama itu privat saja.
Masyarakatnya juga begitu. Masyarakat
yang kehilangan arah moral
transendentalnya.
masyarakat yang ambisius tapi target
duniawi saja.
Nah, ini serangannya ke situ ya.
Terkenal sekali diksi dari beliau
jahiliah modern.
Kita ini sudah modern tapi masih
jahiliah.
Nah, itu istilah dari Sayid Kutub.
Terus Sayid Naqib Al-Attas.
Beliau
terkenal sekali dengan diksinya ya,
lenyapnya adab.
Kalau ini nanti beliau punya proyek
terkenal sekali namanya islamisasi ilmu.
Di barat ilmu tinggi tapi kehilangan
hikmah.
Ilmu secara ilmiah, secara sains itu
memang luar biasa.
Tapi kehidupan sosial, kehidupan budaya,
kehidupan kemanusiaan memprihatinkan.
Dan sain yang seperti ini yang masuk ke
kita.
Pendidikan pun tidak ada visi rohani di
situ.
Pendidikan itu ya kayak tadi kita bahas,
pendidikan ternyata diorientasikan hanya
untuk kerja.
Keberhasilan ekonomi,
kiblat utamanya ekonomi ternyata. Nah,
ini ilmu yang kehilangan hikmahnya.
Kualitas hidup tidak naik meskipun
kekayaan mungkin naik.
Nah, umat Islam kehilangan komitmen pada
nilai,
kemudian krisis makna, orientasi hidup
tidak jelas,
rusaknya kepemimpinan intelektual,
degradasi adab sosial dan lain
sebagainya.
Beliau menawarkan, "Yuk, memulihkan lagi
adab." Adab itu mungkin sisi human, sisi
manusiawi dalam hidup ini. Termasuk yang
spiritual, yang moral, yang religius,
yang itu terlewatkan oleh sains Barat
itu Syekh Naqib Al-Attos.
Kemudian Malik bin Nabi.
Ini namanya unik ya, Malik bin Nabi,
putranya Nabi. [mendengus]
Nah, beliau punya gagasan
yo antara lain beliau punya istilah
namanya kolonisability.
Colonisability itu kondisi
apa ya? Terjemahan letaknya itu layak
jajah.
Jadi umat Islam itu dijajah,
diinvasi itu bukan karena kok begitu
hebatnya yang menjajah, yang menginvasi,
tapi karena
umat Islam sendiri gayanya layak jajah.
Opo yo? layak itu pokoknya mancing orang
biar bully itu sederhananya [tertawa]
gitu ya.
Wajahmu kayak gitu pengin bully terus
aku kita k alasannya pembuli itu kan
gitu. Jadi apa sih gaya layak jajah itu?
Ya mereka pasrah
kemudian
taklid
lemah
pendidikannya
kemudian etos kerjanya juga rendah. etos
intelektualnya rendah, secara psikologi
inferior, kurang percaya diri. Ini
kondisi-kondisi layak jajah.
Orang ndak pengin jajah, tapi lihat
kayak gitu kesempatan
peluang untuk menjajah.
kita yang membuka diri sehingga gampang
dijajah itu colonisability
loh. Jadi terus kita mentalnya konsumen
yo mereka masuk untuk dikonsumsi.
Kita mentalnya penurut yo masuk untuk
dituruti. Itu colonisability namanya.
Jadi itu kalau digambarkan kayak tadi ya
kan saya lupa itu ada peristiwa
pembulian itu ada satu wawancara yang
isinya yo
tidak hanya mengkritik yang membully
tapi mengkritik yang dibully.
Yang dibully kok diam saja ya. Yang
dibully kok ndak lapor-lapor yang
dibully kok itu karena gaya seperti ini
itu terus gaya layak jajah
orang jadi gatal ingin membully dia.
Teman-temannya apalagi yang usil terus
pengin bully.
Bayangkan kalau kamu agak percaya diri,
agak tegas. orang dekat mau bule kamu
tinggal mendelik gitu aja minggir dia
gitu loh.
Nah, umat Islam itu colonisability tadi
mentalnya mental pasif, mental lemah
sehingga memancing orang untuk menjajah.
Ini kritiknya Malik bin Nabi. Terus
pikiran-pikiran dari luar masuk begitu
saja sehingga identitas kita terancam.
Ini contoh tiga gagasan besar yang
temanya adalah waswul fikr. Kalau
teman-teman ingin mendalam bolehlah
silakan dikaji tokoh-tokoh ini.
Baik.
Saya ingin masuk ke sini.
Itu tadi kan abad 1920.
Sekarang kita lihat gazwul fikr masa
kini itu lebih halus tapi lebih
mengerikan
karena didukung fasilitas digital.
Apa
bentuk ghazwul fikr masa kini?
Yang pertama adalah
naratif warfare. Narrative warfare itu
perang narasi.
Jadi hari ini
pertarungan itu tentang cerita siapa
yang dipercaya,
framing mana yang unggul.
Siapa penjahat, siapa musuh kan
tergantung frame-nya. Bukan soal
faktanya,
tapi bagaimana fakta itu disusun jadi
makna.
Yang menang tidak selalu yang benar,
tapi yang pintar nge-frame.
Itu yang disebut narrative warfare.
Itu kan yang dilakukan di perang Amerika
Iran hari ini. Itu kan berlomba-lomba
semuanya dari pihak Iran maupun Amerika
menceritakan frame-nya masing-masing
dan bertarung di situ. Siapa lebih
dipercaya, dialah yang menang.
itu naratif Warp
itu kan tergantung frame-nya melihatnya
di mana dulu
ngaji ini bisa saja kamu sebut ngaji
filsafat itu ngaji yang otoriter
Pak Faiz terus yang ngomong misalnya kan
bisa [tertawa] L itu frame tinggal
cerita siapa yang lebih unggul mungkin
ya bilang wong ngaji filsafat itu asik
kok buktinya apa ada kopi gratisnya
kapan lagi tinggal kamu frame sudut
mananya.
Nah, nanti setipe orang nge-frame sesuai
dengan kepentingannya
terus dia posting. Yang lain dengan
kepentingannya posting. Itu yang disebut
narrative warfare. Cerita siapa yang
paling dipercaya.
Kadang-kadang kan kita ketipu,
sudah mati-matian mendukung, "Wah, saya
dukung kamu." Begitu pihak sana cerita,
"Ah, ndak jadi." Ternyata begitu toh
kenyataannya. Kita ketipu oleh
frame-frame.
Jadi, hari ini naratif warfare,
pertempurannya lebih ngeri lagi kan.
Pertempuran framing, frame siapa yang
paling menang?
Yang kedua,
informative warfare. Informative warfare
itu perang informasi.
Siapa punya informasi dia yang menang.
Siapa yang mengontrol informasi dia yang
menang.
Hari ini orang bahkan bisa saja bohong,
disinformasi,
misinformasi,
manipulasi persepsi.
Jangan dikira kalimat siapa punya
informasi dia menang. Itu maksudnya yang
ilmunya banyak gak. Tapi siapa yang bisa
mengontrol arus informasi dia menang?
Ini mungkin ada hubungannya dengan
naratif warfare tadi. Hari ini kan
instrumennya banyak.
Misalnya didukung oleh bot mesin,
kayak yang ngomong banyak tapi mesin
atau troll farm. Troll farm itu ya salah
satu contohnya buzer-bzer.
Deep fake, clickbait isinya apa,
gambarnya apa, yang penting orang
ngeklik semua atau micro targeting,
melihat target-target kecil. Oh, kalau
ini anak-anak filsafat dipancing saja
dengan pikiran-pikirannya Aristoteles
Plato dia masuk mesti oh kalau ini orang
apa dipancing dengan itu biar diklik.
Ini namanya information warfare.
Orang bohong
dan ketahuan bohong tapi gak masalah.
Karena kebohongan yang diulang-ulang
rasanya kok yo jadi kayak benar.
Ini bohong sih, tapi terus bazirnya
ribuan jutaan posting semua.
Jangan-jangan yang salah saya, kita yang
ragu-ragu. Akhirnya ini information
warfare. Tidak sekedar menang-menangan
informasi, tapi yang menguasai arus
informasi.
Kadang-kadang perang informasi itu tidak
hanya
kebohongan yang ingin dipercaya, tapi
kadang-kadang sekedar ingin menciptakan
kelelahan epistemik.
Kita digempur terus habis-habisan dengan
informasi sampai ke titik ah capek, ah
gitu-gitu terus sudahlah paling yo
semuanya bohong. Selesai. Ini bisa jadi
titik yang ditarget yang mengolah
informasi tadi. Begitu kamu kelelahan
dan nganggap alah semuanya bohong. Saat
itu juga mungkin salah satu pihak menang
sudah.
Tentang apa saja biasanya kasus yang
berlarut-larut kayak apao yo ijazah
misalnya kayak apa gitu ya.
Itu kan kadang-kadang berakhir dengan
kelelahan. Kamu capek terus. Ah,
sudahlah ini podo-podo orang ambisi
semua. Paling isinya yo bohong semua
sampai ke titik itu. Ini information
warfare namanya. Cuma kan kamu sulit
menghindari ini. Kamu selalu
terombang-ambing oleh komentar-komentar.
Sebanyak itu orang setuju berarti saya
harus setuju nih. Sebanyak itu orang
marah saya harus ikut marah nih.
Ini information warfare.
Nah. Nah, pikiranmu diam-diam
dikendalikan tapi kamu ndak sadar.
Yo, kalau basernya dapat bayaran tapi
kan kamu ndak dapat. Tapi kamu yo
ikut-ikutan jempol lah, nge-like lah,
komen lah gitu. Sampai kamu sendiri
kelelahan. Capek capek, Pak, ngikuti
beritanya. Yo, yang nyuruh ngikuti yo
siapa?
Jadi ini dua jenis. Yang pertama.
Yang ketiga
ada istilah attention warfare,
perang perhatian.
Jadi di era hari ini yang kita sebut
ekonomi digital,
aset yang paling berharga itu perhatian.
Sumber daya yang paling dicari itu
perhatian. Semua platform itu rebutan
perhatianmu,
rebutan waktumu, fokusmu, emosimu.
Maka dia melakukan segala macam cara
biar kamu memperhatikannya.
Medan perangmu sekarang itu.
Jadi,
mereka memperebutkan screen timeu.
Screen time-mu itu yo waktumu di layar.
Mereka memperebutkan klikmu karena
sekali klik itu adsen. Mereka
memperebutkan engagementu.
Jadi pertarungan hari ini adalah juga
pertarungan perhatian.
Tentu saja kalau kamu kalah di sini
berarti perhatianmu keseret-seret terus
ke mana-mana.
Lagi enak-enaknya baca mungkin ebookmu
baru dapat satu baris tiba-tiba iklan
keluar. Kok bagus ya baju ini
kelihatannya bagus ya. Terus kamu
ngeklik masuklah kamu. Ini ini attention
warfare.
Jadi fokusmu sedang dicuri, perhatianmu
sedang direbut.
Jatuhnya apa? Pada akhirnya kamu ndak
sempat berefleksi.
kamu ndak sempat mikir panjang
karena isi hidupmu itu
notifikasi-notifikasi
untuk diklik
dengan kepentingannya masing-masing.
Jadi, siapa menguasai perhatian, dia
yang menguasai kesadaran kita.
Jadi hati-hati,
attention pun berada dalam peperangan
sekarang. attention warfare. Fokusmu itu
mahal, klikmu itu mahal. Jadi, kamu
boleh bangga sekarang, "Pak, jempol saya
ini mahal loh, Pak." gitu kan. Gak
apa-apa. Memang itu yang diperebutkan
oleh platform-platform itu hari ini.
Kemudian ada lagi algoritmic warfare,
perang algoritma.
Jadi perang algoritma itu algoritma kan
yang menentukan apa yang dilihat, apa
yang disembunyikan, apa yang diblow up
itu algoritma.
Sehingga nanti ada orang-orang agen-agen
yang bisa ngatur algoritma.
Misalnya
orang tertentu bisa ngatur, "Kamu harus
diberi berita baiknya pemerintah terus."
Jadi tampil terus baiknya perintah di
FYP-mu
atau sebaliknya jeleknya pemerintah itu
diatur FYP-mu itu jeleknya pemerintah.
Terus ini algoritmic warfare.
Kamu ndak ngeklik cuma dia tampil di
hadapanmu.
Ketika disuguhi itu terus lama-lama
mungkin salah satu salah duanya kamu
klik dan akan muncul terus konten yang
setara. itu algoritmic warfare.
Kemudian
ada lagi.
Kalau ini yo unik ya, tapi sekarang ada
kajian ini, ada buku tentang ini yang
nulis Richard Dawkins yang terkenal
sekali itu mementetic
warfare perang memikira
ee medsos itu tentang ujaran yang
kebencian atau pujian. Ini kadang-kadang
cuma mem,
cuma jempol, cuma gambar lucu,
formatnya mungkin template
innalillahi gambare podo g innalillahi
innalillahi podo kab kayak itu mim kan
atau gambar anak kecil ngapain ini itu
gambar potongan video pendek itu nyebar
itu memangan
dikira ini sederhana
memekannya
besar kata dok
Loh, pertarungan melalui unit-unit kecil
dan muda viral. Bukan argumentasi
panjang, simbolnya padat, punch line
ironi.
Kata Dokins kadang-kadang satu
memengaruh
daripada IC 20 halaman.
Sedikit tragis tapi kata dia internet
memang kadang-kadang memperlakukan
filsafat itu seperti cemilan saja.
Gak terlalu penting.
Coba kamu tampilkan video pendek apa
gitu. Oh, itu bisa heboh seluruh
Indonesia.
Itu kuatnya M.
Kita semakin terfragmentasi.
Kenapa? Yo, karena kita sekarang ndak
tahan lama baca panjang, ndak tahan lama
lihat video panjang.
Jadi apalagi kayak ngaji filsafat ini
rong jam
2 jam itu yo lumayan loh satu film utuh
yang bisa nyaingi cuma drama CEO itu.
Iya. Tapi yo kan kamu kalau nonton drama
CEO kan kerasan ngaji filsafat berat.
Makanya ngaji ini kan terus
dipotong-potong di mana-mana. Karena
kita gak tahan lama, kita lebih tahan
nonton M.
Nah, perjuangan kita hari ini adalah
tidak terpengaruh oleh konten-konten
pendek yang menjebak.
Karena konten pendek itu bisa
multitafsir, bisa dipakai diarahkan ke
mana saja sesuai kepentingan yang
nafsir.
Kadang-kadang
foto-foto kendolong
fotonya siapa pejabat lagi ketiduran. Oh
itu kan narasinya panjang
gitu.
Mahasiswa pacaran di taman difoto terus
diposting caption-nya
Gensi hari ini. Itu itu saja itu
pikiranmu berkecamuk macam-macam sudah
itu the power of mem
jadi mimetic warfare perang mim
sekarang lebih ngeri lagi.
mediated cognitive warfare namanya.
Perang dengan dasar AI. Kalau ini sudah
ngeri bisa produksi informasi, simulasi
opini, sintetik media. Saya yang ndak
ngomong tiba-tiba bisa ada di video
ngomong ada gambar saya. Ai sudah.
Oh, ini pertarungannya lebih ngeri hari
ini. Bisa terjadi manipulasi skala
besar,
fabrikasi realitas. Dari tidak ada bisa
jadi ada.
Kebenaran bukan fakta yang kita kemas,
tapi fakta yang kita buat.
Kalau ingin kita benar, ayo dibuatkan
buktinya.
Jadi
persepsi kita dulu, pandangan kita dulu,
faktanya kita buat belakangan, bisa
dibantu oleh AI.
Oke, ini harus dibahas khusus
kapan-kapan ya tentang AI ini agak
panjang.
Yang terakhir ada lagi yang terkenal
yaitu soft power competition.
Kalau ini skalanya agak besar.
Negara-negara dan peradaban-peradaban
yang saling bersaing
melalui tidak melalui militer tapi
melalui budaya, melalui film, melalui
universitas, melalui teknologi, melalui
lifestyle,
film-film K-pop yang kalian kemari.
Hollywood, Bollywood juga
platform-platform global pendidikan
internasional.
Kalian diberi beasiswa-beasiswa
itu bagian dari pertarungan ini.
Jadi soft power competition tidak
dipaksa
bebas kok. Kamu beasiswa mau apa dak
suka-suka kamu. Tapi kan kamu
ngejar-ngejar itu. K-pop juga ndak maksa
kok. Drama Korea kamu ndak dipaksa
nonton tapi kan kamu senang sendiri.
Competition
bahkan termasuk
sepak bola
itu kan juga ada di sini. Jadi
pertarungan peradaban kita hari ini
lebih mengerikan sebenarnya. tidak to
the point seperti zaman dulu
ketika pikiran kita tiba-tiba ingin
dikuasai kita dijajah tapi lebih halus
karena dimediasi oleh
fasilitas digital.
Baik.
Ah, ternyata lebih mengerikan perang
pikiran ini dibandingkan perang
langsung.
Masih ada waktu kita belajar sebentar
tentang
cari selamatnya bagaimana
jalan agar kita
tetap bertahan bila perlu yo menang
dalam guzwik
apa yang harus kita lakukan.
Yang pertama tentu saja kalau bahasa
saya itu tahu diri,
kenali siapa diri kita, kenali word
kita.
Yo, orang yang tidak kenal dirinya, yo,
dia akan mudah ditarik ke mana-mana,
diseret ke mana-mana. pikiran kita
dipengaruhi ini, dipengaruhi itu.
Jadi, ayo kita perkuat word kita. Kita
sadari orientasi hidup kita. saya itu
tujuan hidup saya ke mana dan
nilai-nilai saya yang ini jangan sampai
luntur
kita sadari itu.
Jadi kalau kita ndak punya ini hari ini
kita akan kelelahan karena akan diseret
ke utara, diseret ke selatan, diseret ke
barat.
Oke.
Yang kedua,
kita punya budaya, kita punya tradisi.
Kalau tidak ingin tradisi kita hanyut
habis,
ayo kita jalankan tradisi itu secara
substantif, tidak hanya simbolik.
substantif itu kita ngerti maknanya,
kita sadar tujuannya, kita paham
sejarahnya, nilainya, itu substantif.
Kalau simbolik itu sekedar
mengimitasi materinya.
kayak salat kayak entah tradisi apa yo
fisiknya saja kita jalan cuma kita ndak
paham maknanya ndak paham maksudnya ndak
paham arah dan tujuannya ini berarti
hanya simbolik
ada sih slogan-slogan kembali pada
tradisi. Kalau agama kembali pada
Al-Qur'an dan hadis, tapi yo kembalinya
jangan hanya simbolik, harus substantif
dengan cara ngerti sampai dalam, ngerti
maknanya, ngerti maksudnya, filosofinya,
dan lain sebagainya. Itu yang disebut
menguasai tradisi secara substantif.
Kemudian yang ketiga,
pertarungan-pertarungan
digital tadi. Tentu saja kita harus
terliterasi
secara kritis.
Ayo latihan literasi yang kritis.
Kita harus bisa membedakan ini fakta,
ini opini, ini propaganda, ini framing,
ini manipulasi.
Ada konten apapun kita tanyakan siapa
sih yang bicara itu? Apa kepentingannya,
asumsi dia? Apa kira-kira apa yang dia
tidak katakan? Siapa yang untung dari
konten ini? Ini penting hari ini. Kalau
tidak kita akan tertipu.
Ini yang disebut
literasi kritis.
Kemudian
lawanlah budaya instan. Yang sering jadi
masalah itu kamu penginnya opo-opo cepat
instan.
Ayo latihan hidup yang lebih dalam.
Boleh kamu latih misalnya membaca yang
agak panjang, berpikir yang lebih dalam,
diskusi yang mendalam, refleksi yang
mendalam.
Kalau ada potongan-potongan pendek,
real, quote, headline, meme, jangan
berhenti di situ.
Kalau belum ngerti benar, jangan
komentar.
Jangan diiyakan dulu atau ditidakkan
sebelum kamu pikir agak dalam, agak
panjang. Nyari rujukan, nyari bahan,
baru kemudian disimpulkan.
Karena kalau ingin instan terus,
kemungkinan kita nanti kehilangan
konteks. Kehilangan konteks itu
kehilangan ruang pemahaman yang utuh.
kita sudah ndak suka seseorang, kita
sudah maki-maki seseorang, kita sudah
benci seseorang, ternyata salah konteks.
Kenapa kita kurang dalam membacanya?
Jadi bukan berarti, "Wah, berarti gak
boleh ya, Pak YouTube gak boleh ya, Pak,
TikTok gak boleh ya, Pak." Boleh. Tapi
yo hidupmu jangan tergantung pada
media-media pendek tadi.
Hiduplah yang lebih dalam.
Kemudian tadi saya sebut perhatian itu
asetmu yang berharga maka kelolalah
dengan efektif.
Jadi kalau perhatianmu ke mana-mana yo
hidupmu bingung ke mana-mana.
Kalian harus disiplin,
punya batas, ngerti durasi,
bisa mengatur waktu, bisa memilih
sumber. Itu namanya mengelola ekologi
perhatian.
Ini istilah baru ya kalau di dunia
ilmiah hari ini kamu ngertinya ekologi
itu kan berhubungan dengan sampah,
sungai, gunung, laut. Sekarang ekologi
perhatian.
Jadi ruang lingkungan
perhatianmu ke mana saja.
Jadi harus sudah mulai kalian kalau
orang Jawa itu ada istilah nyapih.
Disapih gadgetmu disapih itu bukan
berarti ndak dimanfaatkan sama sekali.
Sama seperti bayi itu kalau disappear
nak boleh minum lagi. Tapi sekarang dia
bisa ngatur waktu minumnya. Nak bisa
suka-suka lagi.
Minum yang dengan cara yang berbeda khas
orang yang lebih dewasa.
Kamu tahu batasnya, kamu bisa ngatur
waktunya.
Milih yang sesuai kapan. Oh, ini gak
cocok. Ini cocok. Ah, ini cukup setengah
jam saja. eman-eman waktu saya ini
ekologi perhatian.
Kemudian tentu saja tetap kamu harus
punya ruang untuk batinmu.
Jadi
banyak orang yang kuat secara informasi,
wawasannya luas tapi rapuh secara
eksistensial.
hidupnya cemas, sepi, perlu validasi,
kosong makna. Ini urusan batin.
Maka jangan lupakan kehidupan batinmu.
Kalau batinmu ndak tenang, pikiran akan
mudah dipengaruhi.
Jadi, seperti di banyak sesi spiritual
ya saya sampaikan, hati batin itu justru
rajanya. Kalau kamu galau, kalau gelisah
yo pikiran akan sulit fokus dan mudah
diinvasi.
Terus
tentu saja kita tetap harus belajar dari
luar-luar, dari mana-mana, tapi tanpa
inferioritas, tanpa superioritas.
Kita belajar yo belajar sambil kritis,
terbuka tapi selektif, percaya diri,
rendah hati dan tidak sombong.
Hm. Orang baik itu.
Kemudian yang terakhir,
cari komunitas epistemik yang sehat.
Manusia itu banyak dipengaruhi oleh
orang-orang di sekitarnya.
Jadi cari komunitas yang cocok ya, yang
sesuai, yang bisa diajak dialog, yang
mendalam, yang punya integritas
intelektual, yang berani berpikir.
Kalau sircelmu ccle yang hanya cari
sensasi, yo sulit kamu hidup secara
dalam. Kalau sircelmu nyari
senang-senang hedon saja sulit kalau
kamu ajak tirakat.
Jadi ya nyari ccle yang cocok. Wah saya
pengin tirakat ini. Pengin puasa Senin
Kamis ini. Tapi sircelmu masih pagi. Yuk
nongkrong yuk gafe yuk apa yuk. Yo sulit
kamu jadi tirakat. Maka cari ccle yang
cocok yang sesuai. Ini kalau memang ini
peperangan, kamu kan harus punya sekutu
yang mendukungmu dalam peperangan.
Kalau kamu lemah, ndak punya sekutu, yo
kamu mudah kalah.
Kemudian, ayo kita mulai lebih kreatif
memproduksi gagasan. Jangan hanya
konsumsi
gagasan.
Masyarakat yang tangguh itu tidak hanya
mengimpor teori, mengomentari tren,
meniru model luar, tapi juga menulis,
meneliti, membangun konsep, menawarkan
solusi. Dari situlah nanti kedaulatan
intelektual kita terbentuk.
Kalau kita berdaulat secara intelektual
tidak akan kalah dalam
huzwul fikr,
pertarungan
pikiran.
Jadi, Teman-teman
itu beberapa tips ya. Saya uraikan
cepat. Insyaallah tetap kalian pahamlah
maksudnya.
materi-materi terakhir yang solusi itu
ya tentu saja untuk dipertimbangkan dan
dijalankan.
Gak ada gunanya saya ngomong
panjang-panjang toh kalian ndak berubah.
Oo ini sudah bolak-balik. Saya pengin
nyender dengan quot-nya Tagor.
You can cross the sea merely by standing
and staring at the water.
Kamu ndak akan bisa menyeberangi laut
hanya dengan berdiri dan menatap air.
Jadi mungkin di awal tadi saya
menjelaskan kamu mantuk-manduk saja. Oh
iya, Pak. Pak, begitu, Pak. Ah, memang
begitu Pak, tapi terus kamu diam saja
ya ndak ada yang berubah dalam hidupmu.
Jadi dikritik oleh Tagur, engkau ndak
akan bisa menyeberangi laut hanya dengan
berdiri dan menatap air.
Kemudian ini ada quote terakhir.
Tiba-tiba saya itu teringat presiden
kita pertama, Pak Soekarno. Bukan
apa-apa,
karena pertarungan pikiran ini tadi kan
ilustrasinya barat yang ke Islam atau
barat yang ke timur. Zaman dulu begitu.
Tapi jangan-jangan hari ini pertarungan
pikiran kita itu melawan saudara-saudara
kita sendiri.
Jadi yang ingin menjajah kita itu bukan
orang lain, orang dekat kita sendiri.
Maka kata Pak Karno, "Perjuanganku lebih
mudah karena mengusir penjajah,
tapi perjuanganmu akan lebih sulit
karena melawan bangsamu sendiri."
Jadi kita ini hari ini lebih banyak
gegeran dengan saudara-saudara kita
sendiri, bangsa-bangsa kita sendiri yang
ingin
menghegemoni kita, yang ingin
menaklukkan pikiran kita, yang ngotot
bahwa kita harus ikut mereka.
Mungkin ya tentu saja dengan sesama
saudara, sesama anak bangsa bukan perang
yang bunuh-bunuhan tapi jenis perangnya
pasti jenis waswul fikr. Ini
ideologiku yang harus dimenangkan,
kelompokku yang harus diunggulkan,
yang lain harus ikut saja, partaiku yang
harus nomor satu dan kita harus patuh
saja.
Dan ini bahasa lain dari gazwul fikr
tadi, tapi bukan melawan luar yang mana
tapi melawan saudara-saudara
bangsa kita sendiri.
Maka penting kita punya resiliensi yang
lebih kuat, daya tahan yang lebih
tangguh. Karena melawan saudara itu
gampang-gampang susah.
Kita mau balas sedemikian rupa wong
saudara sendiri ndak balas gimana wong
dia usil terus itu kan gak enak. Maka
ayo ya tadi tips-tips yang terakhir tadi
itu bagian dari meningkatkan daya tahan
atau resiliensi kita
biar tidak kalah dalam guzwik,
pertarungan antar pikiran.
Baik, [menghela napas] saya kira itu ya
teman-teman malam hari ini tentang
gazwul fikir. Materinya agak banyak
mungkin agak meloncat-loncat. Silakan
didengarkan ulang bolak-balik untuk
diwaspadai. Karena mungkin ini
pertarungan kita yang sebenarnya hari
ini. Goswul fikr.
Minggu depan kita lanjutkan dengan
pertarungan yang paling sulit dan paling
besar yaitu kalau ini kan masih melawan
saudara kita meskipun dekat tapi minggu
depan pertarungan melawan diri kita
sendiri.
Dan ini katanya paling berat jihadun
nafas.
Baik ya, kita tunggu minggu depan
perangnya ya. Insyaallah
saya akhiri. Sekian kurang lebihnya
mohon dimaafkan. Wallahul muwafiq.
Wallahu aamu bisawab. Wasalamualaikum
warahmatullah wabarakatuh.
Waalaikumsalam warahmatullahi
wabarakatuh.
More transcripts
Explore other videos transcribed with YouTLDR.

5 Prinsip Keamanan Jaringan
Guru Digital · Indonesian

Mau Sukses Harus Pintar Ilmu Komunikasi
Helmy Yahya Bicara · English

KWU 1 Konsep Dasar Kewirausahaan
Kalim Ayu · Indonesian

UNBOXING #03 - KE LAUT AJA
Indonesia Baru · English

Keutamaan Wudhu (Jadi Tanda Pengenal Hingga Pengampun Dosa)
CulapCulip · Indonesian

BESARAN DAN SATUAN - PART 4 ( materi alat ukur panjang part )
Sibejoo Jadda · Indonesian

Eco Enzyme - Cara Mengolah Sampah Jadi Berkah.! Panduan Cara Membuat dan Menggunakan Eco Enzyme,
Kebun Indra Tarigan · Indonesian

Sejarah Lahirnya Pancasila
Civics Education · Indonesian

Informatika & Keterampilan Generik (Generic Skill) - Informatika Kelas 7 SMP/ MTs
gusaddin teach · Indonesian

COMO ORGANIZAR SUAS FINANÇAS E GUARDAR DINHEIRO | Planejamento financeiro FÁCIL
O Primo Rico · Portuguese (Portugal, Brazil)

penelope y Lebron
Los Compañeres · Spanish

BESARAN DAN SATUAN - PART 1 (materi dimensi )
Sibejoo Jadda · Indonesian
Get the TLDR of any YouTube video
Transcribe, summarize, and repurpose videos in 125+ languages — free, no signup required.