Full Transcript

·YouTLDR

Ngaji Filsafat 504 : Ghazw al Fikr - Invasi Pemikiran dan Perebutan Kesadaran

1:51:48IndonesianTranscribed Jul 29, 2026
0:01

[musik]

0:07

[musik]

0:14

[musik]

0:20

[musik]

0:24

Oke. Baik. Bismillah.

0:27

Asalamualaikum

0:29

warahmatullahi

0:31

wabarakatuh.

0:32

Waalaikumsalam warahmatullahi

0:34

wabarakatuh.

0:37

Bismillahirrahmanirrahim.

0:40

Alhamdulillahiabbil

0:42

alamin

0:45

asalatu wassalamu ala asrofilyaai

0:49

wal mursalin

0:51

sayyidina wa maulana Muhammadin

0:57

wa ala alihi wa ashabihi

1:01

waman tabiahum biihsanin ila yaumiddin.

1:07

Amma ba'ad.

1:11

Baik, bismillah. Mari kita lanjutkan

1:15

lagi belajar kita

1:20

malam ini. Kita ada di minggu kedua dari

1:26

tema perang.

1:30

Malam ini kita masih membahas perang di

1:33

luar diri

1:35

meskipun musuhnya berbeda dengan yang

1:38

kemarin.

1:40

Kalau kemarin perang beneran fisik,

1:43

malam ini perang pemikiran

1:48

istilahnya gusw fikri.

1:53

Ghaswul fikr boleh saja dibaca begitu.

1:59

yang artinya

2:02

perang pemikiran. Jadi istilah

2:05

gaza, yagzu, goswun itu

2:09

setara dengan di dalam bahasa Arab ada

2:12

istilah harab, ada istilah

2:15

kital,

2:17

ada istilah sira,

2:20

ada istilah makrokah atau mukrakah

2:24

maknanya sama perang.

2:28

Tapi kalau Goswun ini perang yang

2:32

sifatnya

2:33

ekspansif,

2:36

agresif, offensif.

2:39

Beda dengan kital. Kalau kital itu

2:44

pertarungan combat kalau bahasa

2:48

Inggrisnya ya. Mortal Kombat itu kalau

2:51

bahasa Arabnya berarti

2:54

mortal itu mematikan. Pertarungan yang

2:56

mematikan. Alkitabal mumit

3:01

sekarang baru main itu filmnya ya. Itu

3:04

Mortal Kombat.

3:07

Nah, malam ini kita gazwul fikr. Makanya

3:10

saya menerjemahkannya

3:12

invasi pemikiran.

3:17

Bagaimana ketika terjadi

3:21

serangan tapi

3:24

tidak seperti minggu lalu secara fisik,

3:28

tapi serangannya serangan pemikiran.

3:32

Tanpa ada perang fisik

3:35

kita bisa dikalahkan

3:38

bahkan hanya oleh pemikiran. Nah, itu

3:41

waswul fikri. Dan ini level perang yang

3:45

lebih tinggi.

3:49

Kalau kata Sunsu dulu kita pernah ngaji

3:52

tentang beliau juga.

3:56

Seni perang tertinggi adalah kita

3:58

menaklukkan musuh tanpa perang.

4:03

Maksudnya tanpa perang fisik musuh sudah

4:06

dikalahkan.

4:09

Nah, ini wacana waswul fikr ini kemudian

4:14

banyak dikenal khususnya kok istilahnya

4:17

bahasa Arab karena istilah ini populer

4:20

dalam

4:21

kajian Islam khususnya abad-abad 1920.

4:28

Jadi di era ini memang sebagian besar

4:32

dunia Islam itu terjajah.

4:36

Nah, strateginya para penjajah itu tidak

4:39

melulu menyerang, tidak melulu dengan

4:42

fisik kita dikalahkan.

4:45

Tapi banyak di antaranya ya menggunakan

4:48

strategi pikiran.

4:51

Cara kita berpikir, cara kita bernalar

4:55

itu dipengaruhi. Sehingga mungkin

4:59

padahal penjajahan itu sangat

5:01

menyakitkan tapi dianggap ah normalnya

5:03

begitu.

5:05

Biasanya begitu ndak masalah kok begini.

5:08

Nah, ini pikiran kita sudah dipengaruhi

5:12

dan ini lebih susah mengalahkannya.

5:15

Kalau fisik kan gampang

5:18

kelihatan datang dilawan, siapa jatuh

5:21

dia kalah. Tapi begitu pemikiran tidak

5:24

gampang.

5:27

Makanya perlu seni perang yang lebih

5:29

tinggi.

5:31

Seperti kata Sunsu, seni perang

5:34

tertinggi adalah menaklukkan musuh tanpa

5:37

perang.

5:40

Sebenarnya ada yang lebih tinggi lagi,

5:42

bukan lagi bagaimana cara kita

5:45

menaklukkan musuh, tapi bagaimana kita

5:48

tidak punya musuh.

5:51

Nah, itu lebih tinggi daripada ini. Cuma

5:54

kan yo ndak gampang kalian untuk sampai

5:56

ke sana.

5:58

Kadang-kadang kita ndak ngapa-ngapain

6:00

baik-baik saja. Ada saja orang wong saya

6:03

ndak ganggu, saya ndak menyusahkan kok

6:05

tiba-tiba ada orang iri, ada orang ndak

6:07

senang.

6:10

Oke, kita ndak posting diendir. Alah

6:15

gaya

6:17

sok sekarang. Padahal yo pengin

6:20

sebenarnya kita posting. Wah tambah

6:23

dikomentari ndak karu-karuan sudah.

6:26

Oke. Kita ndak cari musuh. Musuhnya

6:29

datang sendiri. Oh. Jadi kalau ada orang

6:31

yang bisa ada di level gak ada musuh

6:35

sama sekali itu orang luar biasa, orang

6:37

hebat.

6:39

Yo. Yang lebih bawah lagi ya. kita punya

6:42

musuh dan bertarung tapi tanpa

6:44

menyakiti.

6:47

Nah, tanpa ini level bawahnya. Kalau

6:51

kata dulu kita pernah belajar Sosro

6:55

Kartono Raden Mas, bagaimana kita bisa

7:00

[menghela napas]

7:01

menang tanpa ngasorake.

7:05

Kita menang tapi tidak merendahkan,

7:08

tidak membuat yang kalah jadi tunduk.

7:12

Nah, ini luar biasa.

7:15

Apalagi kalau kita bisa sugih tanpo

7:17

bondo

7:20

dan lain-lain. Sudahlah kalau bahas itu

7:22

lagi nanti ke mana-mana. Saya jadi

7:25

panjang kalau ngomong begitu-begitu.

7:28

Kita kembali ke sini ya. Silakan dicek

7:30

lagi dulu materi Raden Mas Sosrokartono

7:33

kearifan-kearifan Jawa.

7:37

Baik.

7:39

Ini juga kita harus waspada.

7:42

Tidak semua penjajahan itu datang dengan

7:45

pasukan.

7:47

Sebagian datang dalam bentuk gagasan.

7:53

Yang tidak kelihatan. Yang samar itu

7:57

ketika kita diserang oleh gagasan.

8:01

Lebih berat lagi kalau kita ndak pintar.

8:06

kita sudah malas baca, malas mikir,

8:09

serangannya dalam bentuk pemikiran,

8:11

kalah sudah kita.

8:14

Padahal pertarungan besar hari ini itu

8:18

arenanya arena pemikiran.

8:22

Semua bertarung agar gagasannya

8:25

diterima, agar pikirannya diakui.

8:29

Itu yang nanti kita rasakan. Apalagi di

8:32

era digital hari ini.

8:37

Baik,

8:39

kita mulai sekarang belajar apa itu

8:43

waswul fikr,

8:47

pertarungan pemikiran, perang pikiran,

8:51

invasi intelektual atau penjajahan

8:55

ideologis.

8:58

ini sering didefinisikan sebagai

9:02

masuknya ide,

9:05

nilai, gaya hidup, cara pandang yang

9:10

asing

9:12

berarti dari luar yang dapat dianggap

9:15

melemahkan identitas kita, moral kita,

9:19

peradaban kita, akidah kita.

9:23

Itulah waswul fikr. Jadi kalau ada

9:26

pikiran-pikiran dari luar, ide dari

9:29

luar,

9:31

pengaruh-pengaruh dari luar,

9:33

provokasi-provokasi dari luar, yang itu

9:37

mengancam

9:38

identitas kita. Yo, karena istilah

9:41

wacana ini muncul dalam kajian Islam, yo

9:44

yang terancam itu identitas keislaman.

9:47

Sebenarnya bisa dimaknai luas. kita yang

9:51

Indonesia mungkin juga terancam

9:52

keindonesiaan kita. Bisa saja begitu

9:55

yang Jawa terancam ke Jawaannya

10:00

dari masuknya pengaruh-pengaruh dari

10:04

luar.

10:06

Jadi terus kita berubah,

10:09

[menghela napas]

10:09

kita putus dari akar kita,

10:13

kemudian pelan-pelan budaya dan

10:15

peradaban kita habis mati.

10:19

Nah, itu berarti kalah dalam wuswul

10:22

fikr.

10:25

Istilah ini populer dalam dunia Islam

10:30

abad 1920.

10:32

Seperti tadi saya jelaskan ya, karena di

10:34

era-era ini sebagian besar kita itu

10:38

sedang dijajah

10:42

sehingga terus penjajah [menghela napas]

10:45

tidak hanya menaklukkan secara fisik,

10:48

tapi juga

10:50

memasukkan gagasan-gagasan.

10:53

penaklukannya ndak hanya lewat militer

10:55

ekonomi, ndak hanya tanam paksa, ndak

10:58

hanya penghisaban, tapi juga lewat

11:00

pendidikan, budaya, bahasa, termasuk

11:04

pola pikir.

11:07

Jadi cara berpikir berubah.

11:11

Yang mengubah siapa? Para penjajah.

11:15

Yang dulu dianggap gak normal, sekarang

11:18

dianggap normal saja. Yang dulu mungkin

11:20

negatif, sekarang bisa positif.

11:23

yang dulu biasa-biasa sekarang jadi luar

11:25

biasa dan lain sebagainya. Ini berarti

11:27

kita kalah.

11:31

Itu yang saya tulis di kanan yang warna

11:33

merah itu biasanya wacana-wacana yang

11:37

sering dipandang bagian dari

11:41

guzwul fikr. Ini yang populer sekali

11:44

westernisme,

11:47

pembaratan.

11:49

Bahkan dulu ketika kita belajar

11:53

filosuf dari Iran, Ali Syariati, beliau

11:56

punya istilah

11:58

west toxication.

12:02

Jadi itu gabungan dari west, barat dan

12:05

toksik.

12:07

Ah, [menghela napas] ya toksik itu

12:09

racun. Jadi wopication

12:13

itu berarti banyak di antara orang-orang

12:16

Timur, umat Islam juga itu yang

12:19

keracunan Barat.

12:22

Keracunan Barat itu

12:25

apa ya istilah beliau? Nanti ada

12:28

orang-orang sok pemikir kata beliau.

12:32

Padahal dia cuma ngutip

12:34

pikiran-pikirannya orang Barat yang

12:38

belum mesti cocok dengan dunia Islam,

12:40

dengan dunia kita.

12:43

Orang-orang yang sok pemikir ini

12:46

biasanya dia bisanya hanya mengimitasi

12:49

saja. Dia bangga kalau sudah niru barat

12:53

ini istilah beliau west toxication.

12:57

Apa saja itu?

12:59

Nah, mungkin di sini ah saya gak, Pak.

13:01

Kalau barat, kalau Korea mungkin

13:04

sedikit-sedikit

13:06

yo podo wae. [menghela napas]

13:09

Jadi [mendengus] bukan identitas

13:11

jenuinmu.

13:14

Jadi kamu dipengaruhi

13:17

sehingga gaya hidupmu berubah, cara

13:20

berpikirmu berubah. Kalau itu mengikuti

13:23

barat ya terjadi namanya westernisme,

13:27

pembaratan.

13:31

Ada juga yang populer sekali

13:33

didiskusikan di banyak forum

13:35

sekularisme.

13:38

Ini kan yang terkenal dengan memisahkan

13:42

agama dan dunia.

13:45

[mendengus] Ini urusan dunia, ini urusan

13:47

agama. itu itu dikritik hebat di

13:50

mana-mana banyak dikritisi

13:52

yo agama kita itu yo gak hanya ngurusi

13:55

masjid gak hanya ngurusi akhirat kita

13:58

juga ngurusi dunia juga kok Islam itu ya

14:00

dunia akhirat gak bisa seperti

14:03

sekularisme begitu

14:06

ya kita sebenarnya sering mengkritik

14:07

sekularisme tapi kelihatannya dalam

14:10

praktik hidup kita sering sekuler

14:15

kita sering ah ini kan urusan urusan

14:18

sekolahan, Pak. Ah, ini kan urusan

14:20

politik, Pak. Gak ada hubungannya dengan

14:22

ah jangan dikit-dikit agama dong, Pak.

14:24

Jangan. Kita kan sering begitu. Saya

14:26

sering baca sekilas-sekilas di

14:28

mesos-mesos itu begitu. Apa-apa kok

14:30

agama dikit-dikit kok dibawa ke agama

14:34

dan kita gatal dengan itu. Padahal kalau

14:37

ditanya setuju sekuler apa gak? Gak

14:39

setuju, sekuler.

14:41

Tapi ketika kita membahas sesuatu,

14:45

mengomentari sesuatu, tiba-tiba ada

14:48

ngomong dari perspektif agama, terus

14:50

kita marahi dia, "Mbok jangan

14:52

dikit-dikit dibawa ke agama."

14:56

Yo mungkin konteks tertentu, ya. Tapi

14:58

ini gambaran. Kadang-kadang kita itu di

15:01

mulut bilang gak setuju, tapi dalam

15:04

praktiknya kita lakukan.

15:07

Oke.

15:10

Baik. Mungkin juga ada wacana selain

15:13

sekularisme, materialisme,

15:18

apa-apa serba materi, serba mater ini yo

15:23

kalau ini sudah kita kalau disebut kamu

15:25

mater ya mesti kita tersinggung itu

15:27

enggak mau. Ayo, faktanya begitu

15:30

[mendengus]

15:32

membahas apa saja nanti ujung-ujungnya

15:34

yo materi, materi.

15:39

Ujung-ujungnya kesejahteraan ekonomi itu

15:42

sama fokusnya ke materi.

15:45

Ruwet bahas diskusi panjang lebar yo

15:48

pada akhirnya materi.

15:50

Ah, kita ndak mau dituduh materik tapi

15:54

yo mikir kita begitu terus.

15:57

apa-apa pertimbangannya uang nilai

16:00

uangnya yang kita ukur. Ah, itu materi

16:06

konsumerisme.

16:08

Kalau ini juga saya ndak berani bilang,

16:11

saya ndak termasuk ya kadang-kadang yo

16:13

senang aja mengkonsumsi. Beli tiap hari

16:17

jempol ini nyekrollnya bangsofe,

16:21

Tokopedia gitu. apa yang harus saya

16:24

konsumsi minggu ini kan begitu pikiran

16:26

kita hari ini

16:29

mengkonsumsi.

16:32

Jadi mindset kita bukan mindset

16:34

produsen, kita mindset konsumen.

16:38

Cita-cita kita itu kan cari uang banyak

16:41

untuk beli ini, beli itu.

16:45

Itu konsumtif. Jadi bukan kok saya ingin

16:49

memproduksi ini, berkontribusi itu ndak.

16:52

Pikiran kita itu yo wis

16:55

kerja kemudian dapat uang banyak. Wong

16:58

sekarang kuliah saja kita diminta nawa

17:01

itunya cari kerja

17:05

yang gak nyambung dengan kerja mau

17:07

ditutup sama pemerintah.

17:11

Iya. Jadi

17:13

oke ya. Padahal sejak dulu kita

17:16

dinasehati

17:18

cari ilmu itu kewajiban, ilmu itu utama,

17:21

ilmu itu mulia untuk hidup tinggi.

17:24

Sekarang degradasi ilmunya hanya untuk

17:26

nyari kerja.

17:30

Akhirnya yo kamu meresponnya kan juga

17:32

begitu. Caramu kuliah itu kan yang

17:36

penting nilainya tinggi, ijazah, gelar

17:40

yang bisa jadi bekal cari kerja.

17:45

Pokoknya belajarmu yo praktiskan sesuai

17:48

kebutuhan kerja.

17:50

Kemarin saya ditanya mahasiswa yang

17:53

konsultasi ke saya, "Pak, saya ini mau

17:55

wawancara kerja. Kalau saya ditanya ini

17:58

jawabnya gimana yo, Pak?" gitu lah. Kok

18:00

tanya saya?

18:04

Tak pikir minta doa gitu tak doain. Tapi

18:07

loo minta tips diwawancarai HRD. L aduh.

18:13

Ah, itu hari ini begitu kita

18:15

konsumeristik. Padahal kan budaya kita

18:22

Jawa misalnya itu sebenarnya ndak semat

18:25

itu, ndak sekonsumtif itu. Saya masih

18:27

ingat meskipun banyak dikritik ya di

18:29

Jawa itu ada peribahasa mangan ora

18:32

mangan kumpul.

18:35

Itu berarti kan materi ekonomi itu nanti

18:38

dulu. Yang penting kita ini rukun dulu.

18:40

Yang penting kita ini guyub dulu

18:42

bareng-bareng dulu, harmonis dulu.

18:46

Jadi mikir makannya nanti dulu. Nah,

18:49

sekarang kan teman-teman mungkin dibalik

18:52

kumpul ora kumpul sing penting mangan.

18:56

Jadi makannya didulukan. Ini yang saya

18:59

maksud perubahan mindset,

19:02

perubahan nalar. Mungkin ada pengaruh

19:04

ini, pengaruh itu, kita jadi lebih

19:07

materialistik, konsumtif.

19:11

Sekarang kan kelihatan mulai banyak di

19:13

antara kita yang ilfil. Kalau ada orang

19:15

ngomong tentang agama yang gimana alah

19:18

dikit-dikit dalil, dikit-dikit agama itu

19:20

kita gatal. Banyak orang yang sekarang

19:24

sain saja deh, dijawab dengan ilmu saja.

19:27

Apa agama itu kan gitu. Nah, ini

19:30

kemungkinan juga pengaruh-pengaruh dari

19:33

kiri kanan kita.

19:36

Kemudian hedonisme,

19:39

relativisme itu salah satu contoh

19:42

ideologi mungkin yang berkembang di

19:44

dunia kita, dunia Islam, Indonesia yang

19:48

itu sebenarnya tidak khas kita sih.

19:52

Orang Indonesia ndak sehedon itu.

19:56

Misalnya budaya kita itu kenal kebiasaan

20:00

tirakat.

20:02

Tirakat itu

20:04

susah dulu ndak apa-apa, sengsara dulu

20:07

ndak apa-apa, berjuang dulu ndak apa-apa

20:10

demi nanti panen keberhasilan, panen

20:13

kesuksesan.

20:14

Ini kan lawannya headon. Kalau hedon itu

20:18

nyari enak terus, nyari senang terus.

20:23

Nah, tapi hari ini logika tirakat itu

20:27

mulai terkikis.

20:30

kita yang dicari. Pokoknya saya harus

20:33

enak.

20:35

Entah lewat jalan apa entah tentang apa,

20:38

kita ndak betah [tertawa] kalau kebagian

20:40

yang tidak enak.

20:43

Nah, mental kita mulai geser.

20:46

Relativisme juga begitu. Yo, kayak kita

20:49

ini kan sering

20:52

dicekoki dengan pandangan, ah apa-apa

20:55

hidup ini relatif gak ada yang pasti.

20:59

Jadi kita terus sering bingung sendiri

21:01

mau apa-apa serba gak pasti. Ah relatif

21:05

dari mana dulu, tentang apa dulu itu kan

21:07

gitu. Kita selalu begitu tambah pintar

21:09

kita itu tambah hari ini tambah jeli

21:13

melihat bahwa segala sesuatu itu gak ada

21:15

yang pasti.

21:18

Apalagi kalian belajar filsafat

21:21

terus bilang satu-satunya

21:24

kepastian dalam hidup adalah

21:26

ketidakpastian. Wah,

21:29

iya sudah itu. Oke, ya. Yo, terus kamu

21:34

kan terus jadi ngambang, jadi bingung.

21:37

Mau saya yakini ternyata juga relatif.

21:41

Kalau saya ndak terlalu yakin, gimana

21:43

saya bisa menjalankannya mantap?

21:47

Kalau saya gak mantap, mana bisa saya

21:49

sukses.

21:52

Itu mindsetnya kita karena geser terus

21:54

kita kebingungan sendiri. itu buahnya

21:57

guzwul fikr.

22:01

Jadi ini yang kita harus hati-hati ya.

22:05

Bayangkan saya sering sekali tanya di

22:08

banyak forum

22:12

mahasiswa biasanya ya. Siapa di sini

22:15

yang merasa ndak yakin dengan

22:17

jurusannya?

22:19

Itu biasanya yang angkat tangan banyak.

22:24

Kadang-kadang kalau jurusan-jurusan

22:26

filsafat, jurusan kayak di usuluddin itu

22:29

mending. Kadang jurusan-jurusan

22:31

prospeknya besar kayak pendidikan,

22:33

kedokteran itu juga banyak yang merasa

22:35

salah jurusan

22:39

gitu loh. Jadi saya rasanya salah

22:42

jurusan, Pak. Saya jadinya gak mantap

22:44

kuliah ini, Pak. Padahal kedokteran,

22:48

padahal mungkin pendidikan yang itu

22:50

daftarnya rebutan.

22:54

Sementara yang kuliah filsafat

22:55

santai-santai saja.

23:00

I kalau kuliah filsafat mungkin kalau

23:03

ditanya, "Emangnya kamu yakin?" Yakin.

23:06

Yakin apa? Yakin susah suksesnya.

23:09

[tertawa]

23:11

Sementara yang di sana masih bingung

23:13

kamu sudah mantap sudah.

23:16

Nah, ini yang dimaksud ya perang pikiran

23:21

itu pikiranmu yang lama,

23:25

yang itu mungkin ideal, yang itu mungkin

23:28

identitas dasar hidupmu, yang itu

23:31

mungkin nilai-nilai pokokmu.

23:33

Diinvasi,

23:37

diserang,

23:38

kemudian kamu goncang, kemudian kamu

23:41

goyah, kemudian kamu berubah.

23:45

Jangan dikira pikiran itu simpel. Ah,

23:47

kan cuma pikiran, Pak.

23:50

Ah, cuma ide saja, Pak. Ah, cuma wawasan

23:53

saja, Pak. Jangan dikira pikiran, ide,

23:56

gagasan, wawasan itu jauh dari hidupmu.

24:02

Kalau diambil rute seperti yang saya

24:05

gambar itu ya,

24:09

manusia itu hidupnya justru diawali dari

24:13

pikiran.

24:17

Fitrah manusia yang paling dasar itu dia

24:20

ingin tahu,

24:23

maka

24:25

otomatis orang itu akan bertanya ini itu

24:29

tentang hidupnya. itu fitrah sudah dasar

24:32

kenapa manusia dikaruniai akal budi.

24:38

Dia anak kecil itu sering saya

24:40

ilustrasikan ya, yang baru belajar

24:43

ngomong

24:44

itu biasanya cerewet, pikirannya baru

24:48

berkembang dia bisa ngomong. Itu

24:50

biasanya apa saja ditanyakan

24:54

ini apa ya, itu apa ya, dia cerewet

24:57

omongnya mesti banyak.

25:00

Kenapa? natur fitrah. Dia ingin tahu

25:08

apa sih yang benar, apa yang baik, apa

25:10

tujuan hidup. Ini juga akan kita

25:12

tanyakan. Kenapa saya hadir di bumi ini?

25:14

Apa tujuannya?

25:16

Hidup yang benar bagaimana? Hidup yang

25:18

baik bagaimana? Tujuan hidup ini ke

25:21

mana? Otomatis pertanyaan-pertanyaan itu

25:24

akan muncul di kepala kita.

25:27

Terus kita berpikir.

25:32

Dari berpikir itu muncul ide, muncul

25:35

gagasan, muncul pemikiran

25:40

tentang hidup yang benar, hidup yang

25:43

baik, tentang tujuan hidup.

25:47

Termasuk antara lain dibantu oleh agama,

25:50

dibantu oleh budaya, dibantu oleh

25:52

tradisi, oleh sekolahan.

25:55

Di situ kita paham apa itu kebebasan,

25:59

apa itu keadilan, apa itu kemajuan, apa

26:02

itu ketuhanan.

26:04

Kalau sudah paham akan jadi word,

26:10

pandangan dunia sederhananya. Jadi

26:13

kacamata kita.

26:16

Ilmu itu kacamata kita untuk memandang

26:20

dunia, memahami dunia.

26:24

Dari kacamata itulah nanti kita terus

26:27

berperilaku.

26:30

Orang yang melihat dunia ini adalah

26:34

ujian. Wah, itu nanti perilakunya beda

26:36

dengan orang yang anggap dunia ini

26:38

adalah anugerah

26:41

atau orang yang anggap dunia ini adalah

26:44

penderitaan. itu cara bersikapnya akan

26:46

berbeda.

26:49

Kenapa? Word view-nya beda

26:52

cara pandangnya beda. Dari mana word

26:56

itu? Yo, dari pikiran.

27:00

Maka di banyak sesi ngaji filsafat kan

27:03

sedang saya sebut kuncinya manusia itu

27:05

ada di pikirannya.

27:10

Kalau pikiranmu serba optimis, hidup ini

27:13

menyenangkan. Tapi kalau pikiranmu serba

27:17

pesimis, hidup ini menyedihkan.

27:22

Betul. Jadi hal yang sama dilihat orang

27:27

yang berbeda bisa berbeda maknanya.

27:30

Kenapa? Pikirannya beda, kacamatanya

27:33

berbeda.

27:36

Itu pentingnya pikiran. Jadi jangan

27:38

disepelekan goswul fikir, perang pikiran

27:42

itu. Perang pikiran itu berarti

27:45

yang terjadi apa? Ada pikiran dari luar

27:48

ingin masuk, ingin jadi kacamatu.

27:52

Berarti apa? ingin mengendalikanmu

27:56

biar kamu ikut maunya dia.

28:01

Jadi itu hakikatnya goswul fikr.

28:08

Baik. Jadi semoga gak ada yang alapak

28:10

cuma pikiran saja, alapak cuma bayangan

28:14

saja gak. Makanya teman-teman mungkin

28:16

sering dengar istilah adillah sejak

28:19

dalam pikiran.

28:22

Karena kalau di pikiranmu ndak adil, yo

28:25

kemungkinan caramu melihat juga ndak

28:27

adil. Kalau caramu melihat gak adil,

28:30

perilakumu juga pasti tidak adil.

28:35

Oke. Misalnya kalau di kita ada istilah,

28:39

"Woh, kui pikirane ngeres misalnya."

28:42

Nah, kalian itu pikirannya ngeres itu

28:45

kenapa kok pikiranmu ngeres? Karena

28:48

input datanya hal-hal yang ngeres,

28:52

hal-hal yang negatif. Akhirnya apa? Yo

28:55

kacamatamu kacamata ngeres.

28:59

Lihat lawan jenis seperti apapun yo

29:02

bayanganmu ngeres.

29:04

Kenapa? pikiranmu ngeres, pikiranmu

29:07

kotor.

29:10

Jadi pikiran bisa jadi kunci nasibmu,

29:15

kunci hidupmu.

29:19

Maka kalau ada orang bisa menguasai

29:22

pikiranmu, berarti dia sebenarnya sudah

29:25

menaklukkanmu.

29:29

Pada siapa orangnya kalian bilang

29:31

begini, "Wis, aku ikut kamu sajalah.

29:34

Malas mikir aku, kamu aja yang mikir.

29:36

Itu alamat kamu sedang memasrahkan

29:38

dirimu sepenuhnya. Kamu membuka dirimu

29:42

untuk dijajah.

29:46

Oke, ya.

29:48

Baik. Ini saya jelaskan ini biar gak ada

29:52

yang nganggap al-Pa gazwul fikir cuma

29:54

pertarungan pikiran gak seru. Lebih seru

29:57

bom-boman, lebih seru nuklir-nukliran

29:59

kan begitu. Padahal ini efeknya besar.

30:05

Baik, kita lanjutkan.

30:09

Meskipun begitu

30:11

kita harus kritis ya. WW fiker tidak

30:15

sama dengan intelektual

30:19

exchange.

30:21

Oh, kalau begitu kita ndak belajar

30:23

tentang yang luar-luar, Pak. Kita ndak

30:25

belajar tentang filsafat Barat, filsafat

30:28

Yunani. Nak. Bukan begitu maksudnya.

30:33

Bahkan kalau ini konteksnya kajian Islam

30:36

pun dalam sejarah Islam, peradaban Islam

30:40

itu yo berkembang melalui dialog dengan

30:43

banyak tradisi.

30:46

Kita itu sudah lama diskusi dengan

30:48

Yunani, dengan Persia, dengan India.

30:52

Para ulama Imam Ghazali, Ibnu Rus, Ibnu

30:56

Khaldun

30:57

itu mereka yo berdialog, berdialektika

31:00

dengan ilmu-ilmu wawasan dari luar,

31:05

tapi mereka mampu menyaringnya, mereka

31:09

mampu mengkritisinya, mereka mampu

31:12

mengembangkannya

31:14

tanpa kehilangan jati diri.

31:18

Jadi mereka tidak kemudian menjiplak

31:21

begitu saja, menelan begitu saja

31:24

gagasan-gagasan dari luar.

31:27

Mereka punya saringannya,

31:30

punya filternya.

31:33

Mereka bisa mengkritisi, "Oh, sampai di

31:35

titik ini cocok dengan kita, tapi kalau

31:39

sudah bagian itu sudah gak sesuai lagi."

31:42

Nah, itu bisa begitu. terus dikembangkan

31:45

sesuai dengan word viw cara pandang

31:48

Islam.

31:51

Jadi itu disebut intelektual exchange.

31:56

Tapi kalau yang hw fiker tadi yo kita

31:59

pengaruhnya masuk merusak kita ndak

32:02

punya filter kita disetir total

32:06

itu waswul fikr.

32:10

Jadi bedakan dua ya saya khawatirnya

32:13

nanti. Wah berarti saya ndak lagi

32:15

baca-baca buku luar lah Pak. Ndak lagi

32:17

diskusi dengan luarlah Pak. Nah, bukan

32:19

itu maksudnya.

32:22

Silakan saja kamu perluas wawasanmu

32:25

sebanyak mungkin, tapi tetap berfilter,

32:28

tapi tetap kritis. Kalau ada yang gak

32:30

cocok dengan kemanusiaan, gak nyambung

32:33

dengan ketuhanan, kok isinya zalim, yo

32:36

kamu tolak.

32:38

Jangankan yang luar-luar, bahkan

32:41

pikiranmu sendiri kalau itu negatif,

32:45

kalau itu jelek, bahkan budayamu sendiri

32:48

kalau merusak yo harus dikritisi.

32:54

Jadi waswul fikir bukan intelektual

32:58

exchange. Jadi yang dapat beasiswa luar

33:01

negeri yo lanjutkan saja.

33:04

Jangan gara-gara sesi malam hari ini.

33:06

Wah, ndak jadi, Pak, saya kuliah nanti

33:08

gara-gara Pak Faiz ini

33:10

ndak yo ambil wawasan sebanyak mungkin

33:15

ndak masalah tapi jangan ndak punya

33:18

filter, jangan tidak kritis, jangan

33:21

kalian ditelan begitu saja. ikut saja

33:25

seperti tadi.

33:27

Jadi bedakan dua ini ya biar tidak

33:30

terjebak.

33:32

Bahkan nanti

33:34

sejarah itu juga berkembang melalui

33:39

pertarungan pemikiran.

33:44

Jadi

33:46

perebutan pikiran itu kan memang yang

33:49

kita sebut dialog atau dialektika itu

33:52

kan jadi kunci perkembangan sejarah.

33:56

Monarki apa demokrasi misalnya

33:59

teosentris berpusat pada Tuhan atau

34:02

antroposentris berpusat pada manusia.

34:06

Kolonialisme apa kebebasan. Tradisi apa

34:09

modern? Oh itu kan debat.

34:13

Tapi debat yang produktif,

34:16

pertarungan gagasan melahirkan ide baru.

34:21

Ini kalau di filsafatnya Hegel ada

34:23

tesis, ada sintesis, terus lahir

34:25

filsafat yang baru,

34:28

tesis, antitesis, sintesis. Terus begitu

34:32

zaman itu berkembang jadi lebih cerdas.

34:35

Jadi lebih cerdas. Kenapa? Terjadi

34:38

pertarungan pemikiran. Itu pun jenis

34:41

waswul fiker, tapi pertarungan pikiran

34:45

yang konstruktif.

34:49

Jadi terjadi dialog gagasan lama dengan

34:53

gagasan baru yang kemudian melahirkan

34:56

gagasan yang lebih baru.

34:59

Dengan ini sejarah itu berkembang.

35:04

Kalau yang ini nak masalah. Jadi

35:07

bahkan kalian diskusilah terus,

35:11

dialoglah terus, dialektikalah terus,

35:13

nanti kamu tambah pintar, tambah pintar.

35:18

Diskusi itu kadang ada bingungnya, ada

35:20

stresnya, gak apa-apa. Setelah itu

35:22

pintar.

35:25

Jadi kalau kalau kayak kalian baca buku

35:27

itu kan kadang itu kan terjadi

35:29

pertarungan antara wawasanmu yang ada di

35:32

kepala dengan pikiran yang ada di buku.

35:35

Itu kan tabrakan sudah. Tapi kan terus

35:39

terjadi kalau istilahnya gadamer itu

35:42

terjadi fusi

35:46

pertemuan, peleburan lahir ide baru. Nah

35:49

ide baru itu apa? Ya, tafsirmu terhadap

35:52

buku itu ide baru, gagasan yang baru.

35:57

Ujilah terus gagasanmu biar lahir

36:00

gagasan baru lagi. Gagasan baru lagi.

36:03

Kalau kamu diam saja merasa sudah

36:05

selesai, Pak, saya sudah tahu

36:06

kebenarannya, yo kamu macet. Pikiranmu

36:10

ndak berkembang.

36:13

Dari sisi ini justru carilah lawan untuk

36:16

perang,

36:18

untuk menguji gagasanmu, menguji idemu.

36:23

Nah, ini konteksnya berbeda dengan

36:26

guzwul fikir tadi. Kalau ini ya belajar.

36:30

Nanti di bidang psikologi ada istilah

36:33

ini beberapa kali saya sebut ya,

36:36

creative tension.

36:38

Creative tension itu ketegangan tapi

36:41

kreatif.

36:44

Setelah kita debat lama ketemu sekarang

36:47

ide barunya itu lahir sesuatu yang baru.

36:50

Setelah kita tabrakan sekarang ada

36:53

sesuatu yang baru yang lahir. Ini

36:55

namanya creative tension.

36:58

Kadang-kadang kita itu kalau ndak

37:00

ditekan,

37:02

kalau tidak dipaksa, ndak mau mikir,

37:06

kreatifnya ndak keluar.

37:08

Begitu ada paksaan kreatifnya keluar.

37:12

Kalau ndak dikasih tugas oleh dosen

37:14

bikin tulisan,

37:16

ndak akan kamu diam-diam nulis. Tapi

37:19

begitu dosennya bilang tugas ya

37:21

kumpulkan bulan depan. Jangankan bulan

37:24

depan, minggu depan pun jadi tulisanmu.

37:27

Kamu jadi kreatif.

37:31

Itu yang disebut creative tension. Dari

37:33

ketegangan kamu jadi kreatif.

37:36

Itu pun disuruh tugas minggu depan kamu

37:39

lupa kurang sehari baru ingat. Aduh.

37:43

Tapi yo jadi sekepet itu pun bisa jadi.

37:46

Kamu ndak sadar dirimu sehebat itu.

37:53

Ini mahasiswa zaman dulu ya.

37:56

[tertawa]

37:58

Karena kalau mahasiswa zaman sekarang

38:00

mesti kamu larinya ke chat GPT. Mesti

38:04

ini mahasiswa dulu.

38:06

Zaman saya dulu itu ya kalau kepepet itu

38:09

disuruh apa saja bisa. Sudah

38:12

baik itu kayak kamu gak pernah azan

38:15

misalnya tiba-tiba kayak teman saya dulu

38:18

KKN disuruh azan.

38:21

Yo wis nekat saja yo iso. Mungkin

38:24

awalnya keliru-keliru.

38:27

Teman saya itu saking groginya dulu

38:29

KKN-nya di Kulon Perogo disuruh azan.

38:33

Saking groginya, saking paniknya, wong

38:35

ndak pernah azan. Harusnya awalnya

38:37

Allahu Akbar tapi bismillah.

38:44

Yo ndak opo-opo yo ketawa. Tapi kan

38:46

terus bisa

38:49

yo kalau katanya iklan kan kalau ndak

38:52

kotor kan ndak belajar.

38:55

Kalau ndak keliru kan ndak ada

38:56

perbaikan. Jadi terus oh ya keliru.

38:59

Tiba-ti bismillahnya keras sekali.

39:00

Bismillah. Eh, keliru

39:03

harusnya Allahu Akbar.

39:06

Nah, dari tension lahir kreatif. Itu

39:10

creative tension. Jadi, sejarah itu

39:12

bergerak melalui konflik pemikiran

39:16

lah. Terus kalau kayak gini aman, Pak.

39:19

Yang guzwul fikir itu yang seperti apa

39:22

sih? Nah, sekarang kita belajar

39:25

ciri-cirinya wajwul fikr.

39:32

Terjadi invasi pemikiran, terjadi

39:37

tadi ya perebutan kekuasaan pikiran

39:41

dalam diri kita.

39:43

Kapan waswul fikir itu terjadi?

39:47

Waswul fikir terjadi pertama ketika ada

39:51

relasi yang tidak seimbang.

39:57

Yang satu sangat powerful, yang satu

40:01

hopeless,

40:02

yang satu sangat kuat, yang satu sangat

40:05

lemah. Sehingga yang lemah ini mau tidak

40:09

mau harus menerima gagasan yang satunya.

40:14

Ini sudah guswul fikr.

40:18

Kamu mau gak mau harus ikut, ndak boleh

40:21

bantah, ndak boleh milih.

40:25

Karena kalau milih atau bantah ada

40:27

resikonya yang itu pahit.

40:31

itu ghaswul fikir. Jadi salah satu pihak

40:34

punya kuasa membuat standar, menentukan

40:38

narasi, membentuk aspirasi yang lain.

40:43

Standarnya saya yang bikin dan itu untuk

40:45

kepentingan saya dan kamu ndak bisa

40:47

nawar.

40:49

Kalau situasinya begitu, itulah waswul

40:52

fikr.

40:55

Benar salah, kamu harus setuju. Kalau

40:57

kamu ndak setuju, nilaimu saya turunkan.

41:01

Nah, ini khusus fikir.

41:04

Kalau kamu nak setuju, keluar saja dari

41:06

sini.

41:09

Keluar dari pekerjaan ini. Ya, relasi

41:11

kuasanya ndak seimbang.

41:14

Kalau kamu ndak ikut, tak serang loh,

41:16

tak habisi loh. Itu wasul fikir.

41:21

Kalau yang sehat kan orang bisa milih,

41:24

orang bisa menyaring. Tapi kalau di usul

41:27

fikir gak ada kesempatan milih dan

41:30

kesempatan menyaringnya.

41:32

Entah dengan strategi apa, kita ndak

41:35

punya ruang, ndak punya kesempatan untuk

41:38

bantah,

41:40

untuk mengkritisi, untuk memfilter.

41:44

Itu ciri pertama.

41:48

Ciri kedua,

41:50

ghaswul fikir itu

41:53

mengajak untuk niru saja, taklid saja,

41:59

imitasi saja.

42:03

Makanya tadi istilahnya terus bukan kok

42:06

dari barat diambil sainnya saja, gak ya?

42:10

semua Barat sak gaya-gaya hidupnya.

42:13

Makanya tadi disebut westernisme.

42:17

Jadi kita itu hanya bisa taklid

42:23

mengimitasi.

42:25

Kalau yang sehat kan tidak imitasi tapi

42:27

adaptasi. Oke, saya cocok tapi saya

42:30

sesuaikan dengan budaya saya ya kalau

42:33

ini dialog.

42:35

Tapi kalau kamu bisanya hanya niru 100%

42:40

berarti posisimu inferior.

42:45

Kamu di depan dia kalah sudah.

42:50

Seperti tadi ya kata Ali syariati,

42:54

cirinya orang kalah biasanya

42:58

mengimitasi

43:00

yang menang.

43:03

Jadi niru kamu kagum, wah luar biasa

43:07

Barat itu luar biasa Eropa itu luar

43:10

biasa. Terus kamu ingin niru.

43:13

Padahal mungkin situasimu ndak

43:15

memungkinkan untuk niru.

43:18

Samalah mungkin gambaran gampangnya

43:20

kayak sepak bola itu ya. Kamu lihat

43:22

sepak bola luar itu wah luar biasa

43:25

strateginya. Luar biasa. Terus kamu

43:28

ingin niru saja strategi yang sama.

43:30

Padahal mungkin orang Indonesia

43:33

beda posturnya, beda, kemudian

43:37

staminanya, durasinya beda, mungkin

43:40

menang di kecepatan dan lain sebagainya.

43:42

Itu kalau kamu jiblak saja begitu saja

43:44

mungkin ya sulit suksesnya.

43:49

Nah, harus ada adaptasi. Tapi begitu

43:52

kamu pokoknya saya pengin niru 100%

43:55

menunjukkan kamu inferior,

43:59

kamu kalah. sebenarnya.

44:02

Nah, coba ya teman-teman coba direnungi

44:04

di hidup kita ini. Siapa yang kamu ingin

44:07

niru begitu saja? Yang ingin kamu ikuti

44:11

begitu saja tanpa kamu kritisi. Kalau

44:14

ada yang begitu, kamu di depan dia

44:16

kalah.

44:18

Kamu inferior. Berarti

44:21

apapun itu, mungkin artis kah, mungkin

44:24

tokoh idolamu kah, siapa saja. Kalau

44:27

misimu hanya ingin niru dia, saya ingin

44:29

persis seperti dia, itu berarti

44:31

setidaknya kamu kalah, kamu inferior di

44:33

depan dia.

44:37

Itu ciri gazwul fikr. Kalau sudah niru

44:40

dia, kamu merasa seperti dia.

44:46

Artis idolaku ya. Rambutnya sekarang

44:48

modelnya begitu. Saya tak niru ah. Terus

44:52

kamu niru seperti artis idolamu. Begitu

44:55

selesai mungkin model rambutnya kamu

44:57

potong persis seperti dia. Nanti kamu

44:59

keluar dari barber shop, kamu merasa

45:03

sudah secakep dia.

45:06

Aku sudah kayak dia. Atau mungkin niru

45:10

model bajunya. Oh, idolaku bajunya

45:13

begitu loh. Begitu kamu beli baju yang

45:15

sama, kamu merasa sudah selevel dia. Itu

45:19

sebenarnya menunjukkan kamu awalnya

45:21

inferior.

45:24

Caramu untuk naik kelas, kamu rumuskan

45:28

dengan cara kalau saya harus ikut persis

45:31

seperti dia.

45:34

Jadi di antara tadi kan ada kelompok

45:36

namanya westernisme.

45:39

Nanti di dunia Timur juga banyak orang

45:41

yang terbaratkan western ini.

45:45

Mereka punya teori kalau Timur ingin

45:47

maju ya menirulah yang sudah maju yaitu

45:51

barat.

45:53

Berarti apa? Yo ditiru saja barat

45:55

melakukan apa kita tiru. Nah berarti

45:58

karena barat itu maju. Kalau kita niru

46:00

dia berarti kita juga maju.

46:04

itu sama kayak oh kalau artis idola saya

46:08

pakai jaket seperti itu, saya juga pakai

46:10

jaket begitu, berarti saya sekarang

46:12

levelnya seperti artis. Itu cara

46:15

berpikirnya begitu. Itu kita berarti

46:17

sedang mengalami invasi kesadaran,

46:20

invasi pemikiran

46:23

waswul fikir.

46:28

Baik, itu ciri kedua.

46:32

Ciri ketiga.

46:36

Cirinya apa? Goswul fikir itu kebenaran,

46:41

kebaikan, makna dan nilai hidup kita

46:46

perlahan-lahan

46:48

berubah.

46:51

Tidak langsung ya. Karena pikiran itu

46:53

mengubahnya pelan-pelan.

46:57

Berubah sedikit, berubah sedikit,

46:58

berubah sedikit, lama-lama utuh.

47:01

Kayak tadi loh, ilmu dari tujuannya

47:05

kemuliaan hidup. Ki Hajar menjelaskan

47:08

bagaimana pendidikan yang merdeka

47:12

sekarang berubah. Jadi ilmu itu sekedar

47:15

alat untuk mencari pekerjaan dan itu

47:18

pelan-pelan.

47:20

Kalau ditanya lah kok begitu loh

47:22

zamannya memang begitu Pak sekarang

47:25

dinormalisasi.

47:28

Jadi sesuatu yang sebenarnya kalau dulu

47:31

ini gak normal. Tapi karena ada

47:34

gagasan-gagasan baru yang masuk yang

47:36

semula dianggap gak normal, dianggap

47:38

normal saja.

47:41

Misalnya hari ini ada orang memandang

47:44

manusia itu adalah unit produksi.

47:49

Nilai manusia ditentukan dari dia bisa

47:53

apa,

47:55

dia sudah melakukan apa secara produktif

48:00

atau kebahagiaan dilihat dari konsumsi.

48:05

Oh, orang itu mobilnya terbaru. Weh, dia

48:07

mesti kaya, mesti dia bahagia. cara

48:10

pandang kita pelan-pelan mulai geser

48:11

terus kita berarti saya juga harus punya

48:13

mobil seperti itu. Makna hidup

48:17

pelan-pelan geser berubah dan kita tidak

48:20

sadar

48:22

sampai nanti puncaknya justru kita

48:25

kehilangan identitas

48:29

dan ini prosesnya lambat. Karena lambat

48:31

itulah kita ndak sadar. Mungkin

48:34

teman-teman ingat ya, ada cerita tentang

48:36

kata rebus.

48:40

Nah, ingat yo.

48:44

Bukan suike, katak rebus saja.

48:47

Jadi kalau kamu membayangkan panganan

48:49

to. Jadi katak rebus itu ini sebenarnya

48:52

eksperimen. Meskipun ini biasanya sering

48:54

dipakai cerita ilustrasi saja saya juga

48:57

gak pernah ngecek.

48:59

Jadi katak rebus itu kalau kalian ada

49:02

katak,

49:04

kalau kalian masukkan katak itu ke air

49:07

yang mendidih, tetap dia akan loncat,

49:09

gak akan mau panas. Tapi kalau airnya

49:12

dingin, kamu masukkan dia ke air dingin

49:15

itu dia mau. Terus kemudian panaskan

49:19

air itu pelan-pelan.

49:23

Nah, dia bisa beradaptasi. Dipanaskan

49:25

dikit dia masih cocok. dipanaskan lagi

49:28

dia cocok, dipanas lagi dia cocok.

49:30

Sampai pada akhirnya dia ndak sadar air

49:33

sudah mendidih dan kalau sudah mendidih

49:35

dia gak akan bisa loncat

49:38

mati tentu saja.

49:41

Nah, kita sering seperti kata rebus

49:44

tadi.

49:47

Alah, Pak wong berubah sedikit saja gak

49:49

terasa. Terubah sedikit gak terasa.

49:51

Lama-lama kalau sudah akumulatif,

49:54

perubahan besar pada akhirnya dan kamu

49:58

sudah gak bisa keluar lagi dari sana.

50:02

Sudah sangat berat. Itu seperti Imam

50:05

Ghazali ya ketika menggambarkan dosa itu

50:07

seperti satu titik yang menggelapkan

50:09

hati.

50:11

Ketika dosanya masih sedikit yo kotoran

50:13

titik-titiknya masih sedikit.

50:15

Menghapusnya gampang.

50:17

Tapi begitu menumpuk banyak ndak gampang

50:21

lagi sudah menghapusnya.

50:24

Nah, perubahan juga begitu.

50:28

Perubahan tadi loh kena

50:30

pengaruh-pengaruh pikiran pelan-pelan

50:32

itu kita itu awalnya nak terlalu jahat

50:35

biasa saja tapi terus diulang lagi,

50:37

diulang lagi pada akhirnya kita jahat

50:39

beneran dan biasa saja, normal saja.

50:44

Ah, normal saja, Pak. Di sini begitu.

50:48

Hari ini memang begitu. Anak muda

50:51

sekarang, Pak. Pikiran-pikiran ini terus

50:54

seperti kata rebus tadi, pelan-pelan

50:57

kita berubah dan kita pada akhirnya ndak

51:00

bisa keluar lagi sudah dari sana.

51:05

Ini peringatan ya untuk kita. Ayo tidak

51:07

dinormalisasi

51:09

kesalahan, kekeliruan, salah jalan

51:12

sekecil apapun.

51:14

Tetap itu harus kita sebut ini salah,

51:17

ini keliru, ini gak seharusnya.

51:20

Saya harus kembali lagi.

51:23

Karena kalau tidak, kalau kita tidak

51:25

cepat-cepat segera keluar, kita nak akan

51:27

sadar ketika airnya sudah sampai titik

51:30

didih.

51:33

Kemudian cirinya lagi gazwul fikr adalah

51:38

mengubah manusia jadi konsumen

51:42

bukan produsen makna.

51:46

Kita ini bisanya mengimpor saja

51:50

pikiran, gagasan, nilai, kategori, dan

51:53

lain sebagainya.

51:56

Kita tidak punya otonomi intelektual,

51:59

otonomi budaya.

52:03

Kita disuruh berubah, berubah. Disuruh

52:05

berhenti, berhenti. Disuruh lari-lari.

52:10

Yang mahasiswa merasa keren kalau sudah

52:13

ngutip dari sana, ngutip dari sini. Dia

52:15

sendiri gak pakai mikir. Isinya kutipan

52:18

semua.

52:20

Ya kan? Kalau bikin tulisan setiap

52:23

paragraf awalnya ada kata menurutnya.

52:26

Menurut ini. Terus bawahnya lagi menurut

52:28

ini. Mahasiswa kok nurutan.

52:34

mikir sendirinya ndak ada.

52:38

Kamu ndak percaya diri kalau itu

52:40

pikiranmu sendiri.

52:44

Kadang-kadang mungkin kalau ada orang

52:46

nakal itu kamu dibohongi dengan cara

52:49

dikutipkan padahal kutipannya ngarang.

52:53

itu saya pernah ngalami zaman dulu saya

52:56

ee

52:58

mahasiswa baru zaman saya masih ada

53:00

penataran P4 100 jam

53:03

yang itu terus ada lomba debatnya

53:08

dan saya menang debat gara-gara ngawur

53:10

nyebut kutipan

53:14

dianggap hebat itu kalau sudah ada

53:16

kutipannya ngawur wae menurut Nur Kholis

53:19

Majid menurut Abdurrahman Wahid ngo

53:22

Terus woh orang-orang dianggapnya kalau

53:24

sudah begitu itu ndak iso dibantah.

53:27

Sudah

53:29

jadi ketika mengkonsumsi kita merasa

53:32

hebat

53:34

bukan saat memproduksi.

53:37

Itu jurinya mungkin kagum kan. Saya

53:40

banyak kutipan. Coba saya ngomongnya

53:41

menurut saya. Ah menurut saya [tertawa]

53:44

nanti mesti diketawain kamu level apa

53:47

mikir kok menurut saya itu sebagai apa

53:51

nih? Jadi kalau kita berpikir sendiri

53:53

gak terlalu dipercaya.

53:57

Kita mengkonsumsi baru diakui. Nah, ini

54:01

termasuk sudah mengalami waswul fikr.

54:08

Terus

54:12

ada cirinya guzwul fikir itu orang

54:15

merasa asing dengan identitasnya sendiri

54:19

pada akhirnya.

54:23

malu pada tradisinya sendiri, inferior

54:26

terhadap identitasnya, menganggap

54:29

budayanya sendiri sebagai hambatan.

54:32

Ah, ini belakangan sering ya kita dengar

54:35

orang yang malu saya, Pak, jadi orang

54:37

Indonesia gitu.

54:41

Mbok malunya jangan ke Indonesianya.

54:43

Malu, Pak, dengan pemerintah sekarang

54:45

boleh. Malu, Pak, dengan ngono loh. Kamu

54:48

ndak spesifik kok malu dengan

54:50

Indonesianya.

54:54

Jadi, y yang jelas saja yang kamu malu

54:57

siapa. Karena khawatirnya apa? Nanti

54:59

kamu kehilangan akarmu.

55:02

Malu, Pak, saya dengan orang Indonesia

55:05

hari ini? Boleh. Mungkin memang

55:07

masyarakat kita mungkin banyak yang

55:09

malas mikir apa-apa gak apa-apa. Tapi

55:11

jangan dengan Indonesiamu

55:15

itu loh. Jadi banyak yang merasa

55:18

inferior dengan identitasnya sendiri.

55:23

Jadi menganggap budayanya sendiri

55:27

sebagai hambatan sampai ayo kita kabur

55:30

saja jangan di sini gitu.

55:32

Nah, ini dia merasa terasing. Mungkin

55:35

dia mindsetnya sudah masuk pengaruh dari

55:39

luar bahwa standar hebat, standar maju

55:43

itu begini.

55:45

Berarti kita masih belum maju, belum

55:48

hebat. Kita masih belum ada di situ.

55:51

Terus kita kita merasa inferior pada

55:53

akhirnya. Itu itu contoh bahwa kita

55:56

kalah.

55:59

Kemudian

56:01

cirinya goswul fikir lagi kita

56:05

menormalisasi

56:07

sesuatu yang itu sebenarnya asing tanpa

56:12

kita pikirkan dulu.

56:16

Jadi apa saja itu kita melihat sesuatu

56:19

ah rasanya kok cocok. Saya tiru ah.

56:23

Kita dengar orang sana ngomong, "Wih,

56:26

kok keren ya orang sana ngomong. Saya

56:28

harus seperti itu." Ah,

56:31

kita ndak punya filter. Kita tidak ada

56:34

ruang refleksi.

56:38

Jadi, ini yang sering membuat kita kalah

56:44

dalam waswul fikir. Akhirnya kita

56:47

berubah. Akhirnya kita gak bisa kembali

56:49

lagi ke identitas lama. Seperti kata

56:52

rebus tadi sudah terlanjur mendidih,

56:57

sudah terlanjur kita terputus dari akar

57:01

kita.

57:05

Eh, kita lihat salah satu contoh ya.

57:07

Praktik wul fikir itu.

57:11

Ini dari India. Ada seorang tokoh

57:14

sejarawan, filosuf namanya Thomas

57:17

Bington Mcle.

57:19

ini beliau satu ketika nulis dokumen

57:23

yang judulnya Min on Indian Education.

57:27

Ini sama seperti di Indonesia dulu

57:29

Belanda ada politik etis.

57:32

Ternyata di Bali itu ada misinya

57:35

penjajah.

57:38

Jadi itu nanti dari sini dikenal

57:41

istilahnya brown English man. Orang

57:44

Inggris tapi kulit coklat. Nah, itu

57:47

kayak di kita lah. Kita kan sering pakai

57:49

istilah londo ireng.

57:51

Nah, itu sebenarnya yo orang kita

57:54

sendiri yo orang jawo tapi kok yo gayane

57:56

koy londo.

57:58

Nah, itu ini juga brown English man itu

58:02

ee orang Inggris coklat. Maksudnya orang

58:05

India sendiri yang saat itu ini

58:07

sebenarnya diskusinya tentang

58:08

pendidikan.

58:10

Saat itu ada perdebatan

58:13

apakah pendidikan di India ini pakai

58:16

bahasa Inggris atau pakai bahasa India

58:20

yang sesuai dengan budaya sana.

58:23

Nah, terus tokoh ini ini ada di dewan di

58:28

Kalkuta saat itu ya. Tokoh ini dia nulis

58:32

dokumen ini. Jadi kalimatnya menarik.

58:35

Saat ini kita harus berupaya sebaik

58:38

mungkin untuk membentuk satu kelas yang

58:43

dapat menjadi penerjemah antara kita dan

58:47

jutaan orang yang kita perintah.

58:51

Satu kelas orang yang berdarah dan

58:55

berwarna India, tetapi berjiwa,

58:59

berpendapat, bermoral, dan berintel

59:02

Inggris.

59:04

Kita perlu orang sebanyak ini kenapa?

59:06

Jadi alatnya Inggris

59:10

untuk tetap menguasai India.

59:14

Bahkan seandainya Inggris sudah pulang

59:17

pun masih banyak yang mewakilinya di

59:19

India.

59:21

Orang Inggris yang kulit coklat brown

59:24

English.

59:28

Nah, itu saya kapan itu juga baca

59:31

misalnya politik etis Belanda di

59:34

Indonesia yang saat itu buka pendidikan

59:37

macam-macam itu kan. Itu ada yang bilang

59:40

sebenarnya tujuannya Belanda dia biar

59:44

dapat tenaga pintar terdidik yang bisa

59:47

dibayar murah.

59:51

Jadi Belanda memerlukan tenaga terdidik

59:54

administratif yang bisa dibayar murah.

59:56

Jadi mereka kan menjalankan pemerintahan

59:59

di Indonesia cuma kan tenaga teknisnya

1:00:02

kekurangan.

1:00:04

Itu yo solusi paling simpel ngambil

1:00:07

penduduk pribumi. Akhirnya dibukalah

1:00:10

sekolah-sekolah banyak di Indonesia biar

1:00:14

lahir orang-orang yang terampil.

1:00:16

Tujuannya apa? untuk kerja di

1:00:19

administrasi pemerintahannya Belanda.

1:00:23

Yo kasarnya jadi PNS-nya Belanda.

1:00:30

Makanya ada yang bilang sebenarnya kalau

1:00:32

ada lowongan PNS kok yang ngelamar

1:00:36

ribuan orang rebutan. Itu sebenarnya

1:00:39

mentalitas yang diwariskan sejak zaman

1:00:42

Belanda.

1:00:44

Ngelamar PNS.

1:00:46

Jadi kerja untuk pemerintah itu ya ada

1:00:49

perspektif yang begitu.

1:00:52

Jadi ini dicontohkan brown Englishman

1:00:55

ini. Jadi jangan dikira ee mereka

1:00:58

memberi peluang pendidikan itu untuk

1:01:01

kepentingan kita. Mereka gak pernah

1:01:02

mikir kita ya. Mereka kepentingan mereka

1:01:05

sendiri.

1:01:07

Itu pun yo maju mundur kan dulu Belanda

1:01:10

itu di parlemennya sendiri debatnya lama

1:01:13

itu sampai kemudian sudahlah memang

1:01:15

dibukalah pendidikan untuk pribumi.

1:01:20

Jadi ini contoh waswul fikir ndak tidak

1:01:23

pakai pembantaian, tidak pakai

1:01:25

kekerasan, diubah saja cara berpikirnya

1:01:33

dan itu masuk akal.

1:01:36

Di mana masuk akalnya? Kita lihat ya.

1:01:40

Kalau di filsafat itu kita bisa membaca

1:01:43

pakai perspektif gramsi atau perspektif

1:01:47

huko atau yang lebih to the point boleh

1:01:50

pakai perspektifnya Edward Said dengan

1:01:54

orientalismenya.

1:01:58

Kalau perspektifnya Gramsi

1:02:01

kita ada teori hegemoni budaya.

1:02:07

Jadi kekuasaan modern itu tidak hanya

1:02:11

bekerja lewat paksaan

1:02:13

senjata atau negara, tapi lewat budaya,

1:02:17

lewat pendidikan, lewat media, lewat

1:02:20

agama.

1:02:22

Dengan ini orang bisa melanggangkan

1:02:25

kekuasaannya.

1:02:27

Jadi penguasa itu

1:02:31

memaksa kita, mengalahkan kita. tidak

1:02:34

hanya dengan

1:02:36

aparat keras, tidak hanya dengan polisi,

1:02:39

tidak hanya dengan pengadilan, tidak

1:02:41

hanya dengan tentara,

1:02:44

tapi mereka juga ngambil jalur lembut.

1:02:48

Jalur lembut itu apa? budaya namanya

1:02:51

hegemoni.

1:02:54

Kita itu dididik, diajari mungkin lewat

1:02:57

sekolah-sekolah, lewat media-media,

1:03:02

lewat agama, ceramah-ceramah dan lain

1:03:04

sebagainya untuk menganggap segala

1:03:08

sesuatunya baik-baik saja, normal saja.

1:03:12

Maka kita ayo patuh saja pada kekuasaan

1:03:16

itu. Ini namanya hegemoni. Jadi kalau

1:03:20

dipaksa mungkin kita memberontak, tapi

1:03:22

kalau dihegemoni kita gak akan sadar.

1:03:25

Karena pikiran kita sendiri setuju

1:03:29

dengan itu,

1:03:31

dibentuk seperti itu.

1:03:35

Nah, ini hegemoni. Jadi sama seperti

1:03:38

gazwul fikir tadi, menaklukkan satu

1:03:40

bangsa ya. Kendalikan saja cara

1:03:43

berpikirnya,

1:03:45

mungkin lewat pendidikan, mungkin lewat

1:03:47

media.

1:03:49

Pada akhirnya orang patuh tapi ndak

1:03:52

sadar kalau dia dijajah.

1:03:56

Dia merasa normalnya begitu.

1:04:02

Baik, itu gramsi.

1:04:06

Ada lagi fuko.

1:04:08

Kalau fuko dia bilang

1:04:12

orang yang punya kekuasaan dialah yang

1:04:15

menguasai pengetahuan.

1:04:18

Kalau zaman dulu orang yang punya

1:04:21

pengetahuan dia yang kuasa. Kalau zaman

1:04:25

dulu knowledge is power. Kata fuko

1:04:28

sebaliknya power is knowledge. Jadi

1:04:32

orang yang kuat itu dia yang bisa

1:04:34

mengendalikan pikiran kita.

1:04:38

Kalau saya punya kekuasaan misalnya di

1:04:41

kampus misalnya, saya tinggal ngatur,

1:04:44

"Oh, Om materi ini saja yang diajarkan

1:04:46

materi itu jangan. Mata kuliah ini yang

1:04:48

diangkat, mata kuliah itu jangan."

1:04:51

Jadi ah ini materi-materi ini itu kalau

1:04:55

diajarkan bahaya mereka bisa nanti sadar

1:04:58

terus ngritik saya ini gak usah orang

1:05:01

yang punya kekuasaan yang bisa begitu

1:05:07

yo sama kan dulu misalnya di Orde Baru

1:05:10

ada banyak larangan-larangan

1:05:12

tentang komunisme.

1:05:15

Janganlah materi ini jangan masuk kamu

1:05:17

jangan masuk kelas karena apa? khawatir.

1:05:20

Jadi dia yang punya kekuasaan yang bisa

1:05:24

ngatur pengetahuan

1:05:29

itu fuko. Nah, orang yang punya kuasa

1:05:33

inilah nanti yang menaklukkan pikiran

1:05:36

kita dengan fasilitas yang mereka

1:05:38

miliki. Mungkin sekolah, mungkin

1:05:40

guru-guru, mungkin mimbar-mimbar di

1:05:43

masjid, di gereja.

1:05:48

Power is knowledge

1:05:53

itu fuko nanti bolehlah diceki dua orang

1:05:55

ini sudah kita bahas di ngaji filsafat

1:05:59

entah seri ke berapa baik fuko maupun

1:06:02

gramsi

1:06:04

saya lupa kelihatannya Fuko termasuk

1:06:06

yang

1:06:08

gagal rekam ya tapi gak tahu saya lupa

1:06:11

itu karena ada beberapa seri ngaji yang

1:06:13

gagal direkam

1:06:16

Meskipun banyak yang minta mengulang,

1:06:18

saya mengulang lagi malas.

1:06:21

Wah, ya sudah ngomong suruh ngomong

1:06:22

lagi. Termasuk yang gagal rekam itu yang

1:06:26

saya masih ingat itu sekali. Mungkin

1:06:28

memang sama Allah ndak bolehlah disebar

1:06:31

rekamannya karena temanya memang

1:06:33

sensitif tentang Kamutra.

1:06:36

Dulu pernah tahun berapa itu saya

1:06:39

temanya Kamasutra filosofi

1:06:43

ee Hindu,

1:06:47

tapi yo rekamannya gagal berarti yo

1:06:49

memang yo Gusti Allah tahu audiensnya

1:06:52

kayak kalian gini

1:06:55

nguatiri kalau dikasih tema kama sutra.

1:07:00

Oke. Kemudian yang ketiga Edward Said.

1:07:04

Edward Said terkenal sekali dengan

1:07:06

orientalismenya ya. Jadi Edw Said

1:07:10

melihat di era itu barat itu belajar

1:07:13

tentang timur. Tujuannya memang untuk

1:07:16

menguasai Timur.

1:07:19

Jadi belajar memang belajar tapi

1:07:22

tujuannya biar bisa menguasai. Biar tahu

1:07:25

kelebihannya apa, kelemahannya apa,

1:07:27

kemudian bisa menguasai.

1:07:30

Kita kenal sekali dengan tokoh namanya

1:07:33

Senuk Horgronyi

1:07:35

yang dia sampai ke Aceh sampai masuk

1:07:39

Islam belajar selukbeluk

1:07:42

tentang Islam. Jadi iya memang dia

1:07:46

belajar tapi tujuannya untuk bisa

1:07:48

menaklukkan itu orientalisme.

1:07:51

Dari titik ini itu berhubungan dengan

1:07:54

tadi pertarungan pikiran.

1:07:57

Terus barat itu sering menggambarkan

1:08:00

timur itu irasional.

1:08:03

Logikanya logika mistika saja

1:08:06

terbelakang.

1:08:07

Mereka itu perlu dibimbing oleh biar

1:08:10

lebih maju. Loh itu kalau kita setuju

1:08:13

dengan itu kan kita terus terpengaruh.

1:08:15

Kita terus wah kita berarti memang harus

1:08:18

mengikuti Barat.

1:08:20

Jadi sengaja dinarrasikan begitu

1:08:25

biar kita merasa inferior.

1:08:31

Kita itu terbelakang, kita itu perlu

1:08:34

bimbingan. Ini kita diam-diam

1:08:36

didominasi.

1:08:39

Kalau dalam antropologi ada istilah

1:08:43

eurosentrisme.

1:08:44

Eurosentrisme itu standar apa-apa

1:08:47

mengikuti standarnya Eropa. Yang gak

1:08:50

kayak Eropa dianggap terbelakang,

1:08:53

dianggap belum maju.

1:08:57

Akhirnya yang bukan Eropa kiblatnya ke

1:09:00

Eropa semua.

1:09:03

sehingga produksi-produksi dari Eropa

1:09:06

dikonsumsi oleh timur secara masif. Kita

1:09:10

kemudian mengalami ketergantungan dan

1:09:13

semakin kalah.

1:09:17

Itulah goswul fikr, pertarungan pikiran,

1:09:22

pertarungan gagasan.

1:09:26

Baik, kita lihat konkretnya konsep ya.

1:09:29

Ini tadi kan teori-teori umumnya.

1:09:33

Saya pinjamkan teori tiga tokoh yang

1:09:37

terkenal sekali kalau dalam kajian Islam

1:09:39

itu mengembangkan menganalisis tentang

1:09:43

wul fikir ini.

1:09:45

Cuma yo sebenarnya masing-masing ini

1:09:48

panjang tapi saya ndak bisa detail ya.

1:09:51

Kapan-kapan kita detailkan lagi.

1:09:54

Tiga orang yaitu Sayid Kutub, Sayid

1:09:58

Naqib Al-Attas dan Malik bin Nabi.

1:10:04

Malik bin Nabi pernah kita bahas.

1:10:09

Jadi tiga orang ini kegelisahannya sama,

1:10:13

yaitu Gazwul Fikr.

1:10:17

Umat Islam yang

1:10:19

pontang-panting diserang oleh

1:10:21

pikiran-pikiran Barat.

1:10:26

Ambil nafas sebentar.

1:10:28

Ini kalian harus agak mikir kali ini

1:10:32

belajar tiga tokoh ini.

1:10:42

Kita lihat ya. [tertawa] Pertama kita

1:10:45

belajar dari Sayid Kutub.

1:10:47

Beliau melihat

1:10:49

ada masalah yang beliau sebut jahiliah

1:10:53

modern.

1:10:57

Jahiliah modern itu pikiran-pikiran,

1:11:01

gagasan-gagasan

1:11:02

Barat

1:11:04

itu yang menormalisasi

1:11:07

hal-hal yang sebenarnya

1:11:10

antimoral,

1:11:12

immoral, hal-hal yang anti Tuhan.

1:11:17

hal-hal yang merusak hati nurani

1:11:21

kemanusiaan

1:11:23

itu yang beliau sebut sebagai jahiliah

1:11:26

modern.

1:11:31

Bentuknya apa? serangan pikiran terhadap

1:11:35

Islam itu beliau melihat mereka itu

1:11:39

kalau melihat Islam direduksi

1:11:43

Islam itu hanya di ritual-ritual

1:11:46

privat.

1:11:50

Sementara hukum, pendidikan, budaya dan

1:11:53

lain sebagainya diposisikan sebagai

1:11:55

bukan kajian

1:11:58

Islam.

1:12:00

Jadi serangannya seperti itu membuat

1:12:03

orang Islam sendiri kemudian terpengaruh

1:12:06

lebih sibuk dengan halal haramnya fikih

1:12:09

daripada isu-isu pendidikan,

1:12:13

kemiskinan,

1:12:15

perdamaian, dan lain sebagainya.

1:12:19

Jadi kita itu ee ingin dibentuk kembali

1:12:24

seperti zaman jahiliah.

1:12:27

Parameter-parameter hidup kita itu yo

1:12:30

kesuksesan, keberhasilan, tapi duniawi.

1:12:36

Nah, ruang serangannya perang gusul

1:12:41

fikir itu ya politik, ya hukum ya budaya

1:12:44

ya pendidikan dan lain sebagainya.

1:12:47

Efeknya apa?

1:12:51

Kita kehilangan identitas,

1:12:54

penciri keislaman.

1:12:57

Terputus dari orientasi beragama.

1:13:01

Kita menganggap agama itu privat saja.

1:13:06

Masyarakatnya juga begitu. Masyarakat

1:13:09

yang kehilangan arah moral

1:13:11

transendentalnya.

1:13:14

masyarakat yang ambisius tapi target

1:13:18

duniawi saja.

1:13:21

Nah, ini serangannya ke situ ya.

1:13:24

Terkenal sekali diksi dari beliau

1:13:27

jahiliah modern.

1:13:30

Kita ini sudah modern tapi masih

1:13:32

jahiliah.

1:13:34

Nah, itu istilah dari Sayid Kutub.

1:13:39

Terus Sayid Naqib Al-Attas.

1:13:43

Beliau

1:13:45

terkenal sekali dengan diksinya ya,

1:13:47

lenyapnya adab.

1:13:52

Kalau ini nanti beliau punya proyek

1:13:54

terkenal sekali namanya islamisasi ilmu.

1:13:59

Di barat ilmu tinggi tapi kehilangan

1:14:03

hikmah.

1:14:06

Ilmu secara ilmiah, secara sains itu

1:14:10

memang luar biasa.

1:14:12

Tapi kehidupan sosial, kehidupan budaya,

1:14:15

kehidupan kemanusiaan memprihatinkan.

1:14:20

Dan sain yang seperti ini yang masuk ke

1:14:23

kita.

1:14:26

Pendidikan pun tidak ada visi rohani di

1:14:29

situ.

1:14:32

Pendidikan itu ya kayak tadi kita bahas,

1:14:35

pendidikan ternyata diorientasikan hanya

1:14:37

untuk kerja.

1:14:41

Keberhasilan ekonomi,

1:14:45

kiblat utamanya ekonomi ternyata. Nah,

1:14:49

ini ilmu yang kehilangan hikmahnya.

1:14:53

Kualitas hidup tidak naik meskipun

1:14:55

kekayaan mungkin naik.

1:15:00

Nah, umat Islam kehilangan komitmen pada

1:15:03

nilai,

1:15:05

kemudian krisis makna, orientasi hidup

1:15:09

tidak jelas,

1:15:12

rusaknya kepemimpinan intelektual,

1:15:15

degradasi adab sosial dan lain

1:15:18

sebagainya.

1:15:21

Beliau menawarkan, "Yuk, memulihkan lagi

1:15:24

adab." Adab itu mungkin sisi human, sisi

1:15:28

manusiawi dalam hidup ini. Termasuk yang

1:15:32

spiritual, yang moral, yang religius,

1:15:35

yang itu terlewatkan oleh sains Barat

1:15:40

itu Syekh Naqib Al-Attos.

1:15:44

Kemudian Malik bin Nabi.

1:15:47

Ini namanya unik ya, Malik bin Nabi,

1:15:53

putranya Nabi. [mendengus]

1:15:57

Nah, beliau punya gagasan

1:16:01

yo antara lain beliau punya istilah

1:16:03

namanya kolonisability.

1:16:07

Colonisability itu kondisi

1:16:11

apa ya? Terjemahan letaknya itu layak

1:16:13

jajah.

1:16:15

Jadi umat Islam itu dijajah,

1:16:18

diinvasi itu bukan karena kok begitu

1:16:22

hebatnya yang menjajah, yang menginvasi,

1:16:25

tapi karena

1:16:27

umat Islam sendiri gayanya layak jajah.

1:16:33

Opo yo? layak itu pokoknya mancing orang

1:16:36

biar bully itu sederhananya [tertawa]

1:16:37

gitu ya.

1:16:39

Wajahmu kayak gitu pengin bully terus

1:16:41

aku kita k alasannya pembuli itu kan

1:16:44

gitu. Jadi apa sih gaya layak jajah itu?

1:16:49

Ya mereka pasrah

1:16:52

kemudian

1:16:54

taklid

1:16:56

lemah

1:16:58

pendidikannya

1:17:00

kemudian etos kerjanya juga rendah. etos

1:17:03

intelektualnya rendah, secara psikologi

1:17:07

inferior, kurang percaya diri. Ini

1:17:11

kondisi-kondisi layak jajah.

1:17:14

Orang ndak pengin jajah, tapi lihat

1:17:16

kayak gitu kesempatan

1:17:19

peluang untuk menjajah.

1:17:23

kita yang membuka diri sehingga gampang

1:17:25

dijajah itu colonisability

1:17:30

loh. Jadi terus kita mentalnya konsumen

1:17:34

yo mereka masuk untuk dikonsumsi.

1:17:37

Kita mentalnya penurut yo masuk untuk

1:17:40

dituruti. Itu colonisability namanya.

1:17:46

Jadi itu kalau digambarkan kayak tadi ya

1:17:49

kan saya lupa itu ada peristiwa

1:17:52

pembulian itu ada satu wawancara yang

1:17:56

isinya yo

1:17:58

tidak hanya mengkritik yang membully

1:18:00

tapi mengkritik yang dibully.

1:18:02

Yang dibully kok diam saja ya. Yang

1:18:05

dibully kok ndak lapor-lapor yang

1:18:07

dibully kok itu karena gaya seperti ini

1:18:10

itu terus gaya layak jajah

1:18:13

orang jadi gatal ingin membully dia.

1:18:17

Teman-temannya apalagi yang usil terus

1:18:19

pengin bully.

1:18:21

Bayangkan kalau kamu agak percaya diri,

1:18:23

agak tegas. orang dekat mau bule kamu

1:18:26

tinggal mendelik gitu aja minggir dia

1:18:28

gitu loh.

1:18:31

Nah, umat Islam itu colonisability tadi

1:18:35

mentalnya mental pasif, mental lemah

1:18:40

sehingga memancing orang untuk menjajah.

1:18:44

Ini kritiknya Malik bin Nabi. Terus

1:18:47

pikiran-pikiran dari luar masuk begitu

1:18:50

saja sehingga identitas kita terancam.

1:18:57

Ini contoh tiga gagasan besar yang

1:19:02

temanya adalah waswul fikr. Kalau

1:19:05

teman-teman ingin mendalam bolehlah

1:19:07

silakan dikaji tokoh-tokoh ini.

1:19:11

Baik.

1:19:13

Saya ingin masuk ke sini.

1:19:17

Itu tadi kan abad 1920.

1:19:21

Sekarang kita lihat gazwul fikr masa

1:19:25

kini itu lebih halus tapi lebih

1:19:29

mengerikan

1:19:32

karena didukung fasilitas digital.

1:19:38

Apa

1:19:40

bentuk ghazwul fikr masa kini?

1:19:44

Yang pertama adalah

1:19:48

naratif warfare. Narrative warfare itu

1:19:52

perang narasi.

1:19:57

Jadi hari ini

1:19:59

pertarungan itu tentang cerita siapa

1:20:02

yang dipercaya,

1:20:04

framing mana yang unggul.

1:20:07

Siapa penjahat, siapa musuh kan

1:20:09

tergantung frame-nya. Bukan soal

1:20:12

faktanya,

1:20:14

tapi bagaimana fakta itu disusun jadi

1:20:16

makna.

1:20:18

Yang menang tidak selalu yang benar,

1:20:20

tapi yang pintar nge-frame.

1:20:23

Itu yang disebut narrative warfare.

1:20:28

Itu kan yang dilakukan di perang Amerika

1:20:31

Iran hari ini. Itu kan berlomba-lomba

1:20:35

semuanya dari pihak Iran maupun Amerika

1:20:39

menceritakan frame-nya masing-masing

1:20:42

dan bertarung di situ. Siapa lebih

1:20:44

dipercaya, dialah yang menang.

1:20:47

itu naratif Warp

1:20:50

itu kan tergantung frame-nya melihatnya

1:20:53

di mana dulu

1:20:57

ngaji ini bisa saja kamu sebut ngaji

1:21:00

filsafat itu ngaji yang otoriter

1:21:03

Pak Faiz terus yang ngomong misalnya kan

1:21:05

bisa [tertawa] L itu frame tinggal

1:21:08

cerita siapa yang lebih unggul mungkin

1:21:11

ya bilang wong ngaji filsafat itu asik

1:21:13

kok buktinya apa ada kopi gratisnya

1:21:18

kapan lagi tinggal kamu frame sudut

1:21:20

mananya.

1:21:23

Nah, nanti setipe orang nge-frame sesuai

1:21:25

dengan kepentingannya

1:21:27

terus dia posting. Yang lain dengan

1:21:30

kepentingannya posting. Itu yang disebut

1:21:32

narrative warfare. Cerita siapa yang

1:21:35

paling dipercaya.

1:21:38

Kadang-kadang kan kita ketipu,

1:21:40

sudah mati-matian mendukung, "Wah, saya

1:21:43

dukung kamu." Begitu pihak sana cerita,

1:21:45

"Ah, ndak jadi." Ternyata begitu toh

1:21:48

kenyataannya. Kita ketipu oleh

1:21:51

frame-frame.

1:21:53

Jadi, hari ini naratif warfare,

1:21:57

pertempurannya lebih ngeri lagi kan.

1:22:00

Pertempuran framing, frame siapa yang

1:22:03

paling menang?

1:22:06

Yang kedua,

1:22:07

informative warfare. Informative warfare

1:22:11

itu perang informasi.

1:22:14

Siapa punya informasi dia yang menang.

1:22:16

Siapa yang mengontrol informasi dia yang

1:22:20

menang.

1:22:22

Hari ini orang bahkan bisa saja bohong,

1:22:25

disinformasi,

1:22:27

misinformasi,

1:22:29

manipulasi persepsi.

1:22:31

Jangan dikira kalimat siapa punya

1:22:34

informasi dia menang. Itu maksudnya yang

1:22:37

ilmunya banyak gak. Tapi siapa yang bisa

1:22:40

mengontrol arus informasi dia menang?

1:22:46

Ini mungkin ada hubungannya dengan

1:22:48

naratif warfare tadi. Hari ini kan

1:22:50

instrumennya banyak.

1:22:52

Misalnya didukung oleh bot mesin,

1:22:56

kayak yang ngomong banyak tapi mesin

1:23:00

atau troll farm. Troll farm itu ya salah

1:23:02

satu contohnya buzer-bzer.

1:23:05

Deep fake, clickbait isinya apa,

1:23:09

gambarnya apa, yang penting orang

1:23:11

ngeklik semua atau micro targeting,

1:23:14

melihat target-target kecil. Oh, kalau

1:23:16

ini anak-anak filsafat dipancing saja

1:23:18

dengan pikiran-pikirannya Aristoteles

1:23:20

Plato dia masuk mesti oh kalau ini orang

1:23:23

apa dipancing dengan itu biar diklik.

1:23:27

Ini namanya information warfare.

1:23:30

Orang bohong

1:23:33

dan ketahuan bohong tapi gak masalah.

1:23:36

Karena kebohongan yang diulang-ulang

1:23:39

rasanya kok yo jadi kayak benar.

1:23:43

Ini bohong sih, tapi terus bazirnya

1:23:45

ribuan jutaan posting semua.

1:23:48

Jangan-jangan yang salah saya, kita yang

1:23:50

ragu-ragu. Akhirnya ini information

1:23:53

warfare. Tidak sekedar menang-menangan

1:23:56

informasi, tapi yang menguasai arus

1:23:59

informasi.

1:24:02

Kadang-kadang perang informasi itu tidak

1:24:04

hanya

1:24:07

kebohongan yang ingin dipercaya, tapi

1:24:09

kadang-kadang sekedar ingin menciptakan

1:24:12

kelelahan epistemik.

1:24:15

Kita digempur terus habis-habisan dengan

1:24:18

informasi sampai ke titik ah capek, ah

1:24:21

gitu-gitu terus sudahlah paling yo

1:24:24

semuanya bohong. Selesai. Ini bisa jadi

1:24:26

titik yang ditarget yang mengolah

1:24:29

informasi tadi. Begitu kamu kelelahan

1:24:32

dan nganggap alah semuanya bohong. Saat

1:24:34

itu juga mungkin salah satu pihak menang

1:24:36

sudah.

1:24:39

Tentang apa saja biasanya kasus yang

1:24:41

berlarut-larut kayak apao yo ijazah

1:24:45

misalnya kayak apa gitu ya.

1:24:49

Itu kan kadang-kadang berakhir dengan

1:24:51

kelelahan. Kamu capek terus. Ah,

1:24:55

sudahlah ini podo-podo orang ambisi

1:24:57

semua. Paling isinya yo bohong semua

1:25:00

sampai ke titik itu. Ini information

1:25:03

warfare namanya. Cuma kan kamu sulit

1:25:06

menghindari ini. Kamu selalu

1:25:08

terombang-ambing oleh komentar-komentar.

1:25:11

Sebanyak itu orang setuju berarti saya

1:25:14

harus setuju nih. Sebanyak itu orang

1:25:17

marah saya harus ikut marah nih.

1:25:20

Ini information warfare.

1:25:23

Nah. Nah, pikiranmu diam-diam

1:25:26

dikendalikan tapi kamu ndak sadar.

1:25:31

Yo, kalau basernya dapat bayaran tapi

1:25:34

kan kamu ndak dapat. Tapi kamu yo

1:25:35

ikut-ikutan jempol lah, nge-like lah,

1:25:37

komen lah gitu. Sampai kamu sendiri

1:25:40

kelelahan. Capek capek, Pak, ngikuti

1:25:43

beritanya. Yo, yang nyuruh ngikuti yo

1:25:45

siapa?

1:25:49

Jadi ini dua jenis. Yang pertama.

1:25:54

Yang ketiga

1:25:56

ada istilah attention warfare,

1:26:02

perang perhatian.

1:26:06

Jadi di era hari ini yang kita sebut

1:26:10

ekonomi digital,

1:26:13

aset yang paling berharga itu perhatian.

1:26:17

Sumber daya yang paling dicari itu

1:26:19

perhatian. Semua platform itu rebutan

1:26:23

perhatianmu,

1:26:25

rebutan waktumu, fokusmu, emosimu.

1:26:29

Maka dia melakukan segala macam cara

1:26:32

biar kamu memperhatikannya.

1:26:35

Medan perangmu sekarang itu.

1:26:39

Jadi,

1:26:41

mereka memperebutkan screen timeu.

1:26:44

Screen time-mu itu yo waktumu di layar.

1:26:48

Mereka memperebutkan klikmu karena

1:26:50

sekali klik itu adsen. Mereka

1:26:53

memperebutkan engagementu.

1:26:57

Jadi pertarungan hari ini adalah juga

1:27:00

pertarungan perhatian.

1:27:05

Tentu saja kalau kamu kalah di sini

1:27:08

berarti perhatianmu keseret-seret terus

1:27:11

ke mana-mana.

1:27:14

Lagi enak-enaknya baca mungkin ebookmu

1:27:17

baru dapat satu baris tiba-tiba iklan

1:27:20

keluar. Kok bagus ya baju ini

1:27:22

kelihatannya bagus ya. Terus kamu

1:27:24

ngeklik masuklah kamu. Ini ini attention

1:27:28

warfare.

1:27:30

Jadi fokusmu sedang dicuri, perhatianmu

1:27:34

sedang direbut.

1:27:37

Jatuhnya apa? Pada akhirnya kamu ndak

1:27:40

sempat berefleksi.

1:27:43

kamu ndak sempat mikir panjang

1:27:47

karena isi hidupmu itu

1:27:49

notifikasi-notifikasi

1:27:51

untuk diklik

1:27:55

dengan kepentingannya masing-masing.

1:27:57

Jadi, siapa menguasai perhatian, dia

1:28:00

yang menguasai kesadaran kita.

1:28:04

Jadi hati-hati,

1:28:07

attention pun berada dalam peperangan

1:28:10

sekarang. attention warfare. Fokusmu itu

1:28:14

mahal, klikmu itu mahal. Jadi, kamu

1:28:17

boleh bangga sekarang, "Pak, jempol saya

1:28:19

ini mahal loh, Pak." gitu kan. Gak

1:28:21

apa-apa. Memang itu yang diperebutkan

1:28:22

oleh platform-platform itu hari ini.

1:28:27

Kemudian ada lagi algoritmic warfare,

1:28:32

perang algoritma.

1:28:35

Jadi perang algoritma itu algoritma kan

1:28:38

yang menentukan apa yang dilihat, apa

1:28:40

yang disembunyikan, apa yang diblow up

1:28:42

itu algoritma.

1:28:45

Sehingga nanti ada orang-orang agen-agen

1:28:48

yang bisa ngatur algoritma.

1:28:53

Misalnya

1:28:55

orang tertentu bisa ngatur, "Kamu harus

1:28:58

diberi berita baiknya pemerintah terus."

1:29:01

Jadi tampil terus baiknya perintah di

1:29:04

FYP-mu

1:29:06

atau sebaliknya jeleknya pemerintah itu

1:29:09

diatur FYP-mu itu jeleknya pemerintah.

1:29:12

Terus ini algoritmic warfare.

1:29:15

Kamu ndak ngeklik cuma dia tampil di

1:29:18

hadapanmu.

1:29:21

Ketika disuguhi itu terus lama-lama

1:29:23

mungkin salah satu salah duanya kamu

1:29:25

klik dan akan muncul terus konten yang

1:29:30

setara. itu algoritmic warfare.

1:29:36

Kemudian

1:29:39

ada lagi.

1:29:42

Kalau ini yo unik ya, tapi sekarang ada

1:29:44

kajian ini, ada buku tentang ini yang

1:29:47

nulis Richard Dawkins yang terkenal

1:29:49

sekali itu mementetic

1:29:52

warfare perang memikira

1:29:58

ee medsos itu tentang ujaran yang

1:30:02

kebencian atau pujian. Ini kadang-kadang

1:30:04

cuma mem,

1:30:07

cuma jempol, cuma gambar lucu,

1:30:10

formatnya mungkin template

1:30:14

innalillahi gambare podo g innalillahi

1:30:17

innalillahi podo kab kayak itu mim kan

1:30:20

atau gambar anak kecil ngapain ini itu

1:30:22

gambar potongan video pendek itu nyebar

1:30:24

itu memangan

1:30:27

dikira ini sederhana

1:30:29

memekannya

1:30:32

besar kata dok

1:30:34

Loh, pertarungan melalui unit-unit kecil

1:30:38

dan muda viral. Bukan argumentasi

1:30:40

panjang, simbolnya padat, punch line

1:30:43

ironi.

1:30:46

Kata Dokins kadang-kadang satu

1:30:48

memengaruh

1:30:50

daripada IC 20 halaman.

1:30:56

Sedikit tragis tapi kata dia internet

1:30:59

memang kadang-kadang memperlakukan

1:31:01

filsafat itu seperti cemilan saja.

1:31:04

Gak terlalu penting.

1:31:07

Coba kamu tampilkan video pendek apa

1:31:09

gitu. Oh, itu bisa heboh seluruh

1:31:11

Indonesia.

1:31:14

Itu kuatnya M.

1:31:17

Kita semakin terfragmentasi.

1:31:19

Kenapa? Yo, karena kita sekarang ndak

1:31:22

tahan lama baca panjang, ndak tahan lama

1:31:25

lihat video panjang.

1:31:29

Jadi apalagi kayak ngaji filsafat ini

1:31:32

rong jam

1:31:35

2 jam itu yo lumayan loh satu film utuh

1:31:40

yang bisa nyaingi cuma drama CEO itu.

1:31:48

Iya. Tapi yo kan kamu kalau nonton drama

1:31:51

CEO kan kerasan ngaji filsafat berat.

1:31:54

Makanya ngaji ini kan terus

1:31:55

dipotong-potong di mana-mana. Karena

1:31:58

kita gak tahan lama, kita lebih tahan

1:32:00

nonton M.

1:32:03

Nah, perjuangan kita hari ini adalah

1:32:09

tidak terpengaruh oleh konten-konten

1:32:12

pendek yang menjebak.

1:32:16

Karena konten pendek itu bisa

1:32:17

multitafsir, bisa dipakai diarahkan ke

1:32:20

mana saja sesuai kepentingan yang

1:32:23

nafsir.

1:32:25

Kadang-kadang

1:32:26

foto-foto kendolong

1:32:29

fotonya siapa pejabat lagi ketiduran. Oh

1:32:32

itu kan narasinya panjang

1:32:35

gitu.

1:32:37

Mahasiswa pacaran di taman difoto terus

1:32:41

diposting caption-nya

1:32:43

Gensi hari ini. Itu itu saja itu

1:32:47

pikiranmu berkecamuk macam-macam sudah

1:32:51

itu the power of mem

1:32:54

jadi mimetic warfare perang mim

1:33:00

sekarang lebih ngeri lagi.

1:33:03

mediated cognitive warfare namanya.

1:33:08

Perang dengan dasar AI. Kalau ini sudah

1:33:11

ngeri bisa produksi informasi, simulasi

1:33:15

opini, sintetik media. Saya yang ndak

1:33:19

ngomong tiba-tiba bisa ada di video

1:33:21

ngomong ada gambar saya. Ai sudah.

1:33:26

Oh, ini pertarungannya lebih ngeri hari

1:33:28

ini. Bisa terjadi manipulasi skala

1:33:31

besar,

1:33:32

fabrikasi realitas. Dari tidak ada bisa

1:33:36

jadi ada.

1:33:38

Kebenaran bukan fakta yang kita kemas,

1:33:42

tapi fakta yang kita buat.

1:33:48

Kalau ingin kita benar, ayo dibuatkan

1:33:51

buktinya.

1:33:53

Jadi

1:33:55

persepsi kita dulu, pandangan kita dulu,

1:33:58

faktanya kita buat belakangan, bisa

1:34:00

dibantu oleh AI.

1:34:05

Oke, ini harus dibahas khusus

1:34:08

kapan-kapan ya tentang AI ini agak

1:34:10

panjang.

1:34:14

Yang terakhir ada lagi yang terkenal

1:34:17

yaitu soft power competition.

1:34:22

Kalau ini skalanya agak besar.

1:34:25

Negara-negara dan peradaban-peradaban

1:34:27

yang saling bersaing

1:34:32

melalui tidak melalui militer tapi

1:34:34

melalui budaya, melalui film, melalui

1:34:37

universitas, melalui teknologi, melalui

1:34:40

lifestyle,

1:34:44

film-film K-pop yang kalian kemari.

1:34:48

Hollywood, Bollywood juga

1:34:52

platform-platform global pendidikan

1:34:55

internasional.

1:34:57

Kalian diberi beasiswa-beasiswa

1:34:59

itu bagian dari pertarungan ini.

1:35:04

Jadi soft power competition tidak

1:35:08

dipaksa

1:35:09

bebas kok. Kamu beasiswa mau apa dak

1:35:12

suka-suka kamu. Tapi kan kamu

1:35:14

ngejar-ngejar itu. K-pop juga ndak maksa

1:35:17

kok. Drama Korea kamu ndak dipaksa

1:35:19

nonton tapi kan kamu senang sendiri.

1:35:23

Competition

1:35:27

bahkan termasuk

1:35:29

sepak bola

1:35:31

itu kan juga ada di sini. Jadi

1:35:34

pertarungan peradaban kita hari ini

1:35:37

lebih mengerikan sebenarnya. tidak to

1:35:40

the point seperti zaman dulu

1:35:43

ketika pikiran kita tiba-tiba ingin

1:35:45

dikuasai kita dijajah tapi lebih halus

1:35:49

karena dimediasi oleh

1:35:53

fasilitas digital.

1:35:59

Baik.

1:36:01

Ah, ternyata lebih mengerikan perang

1:36:04

pikiran ini dibandingkan perang

1:36:07

langsung.

1:36:15

Masih ada waktu kita belajar sebentar

1:36:19

tentang

1:36:21

cari selamatnya bagaimana

1:36:24

jalan agar kita

1:36:27

tetap bertahan bila perlu yo menang

1:36:32

dalam guzwik

1:36:34

apa yang harus kita lakukan.

1:36:38

Yang pertama tentu saja kalau bahasa

1:36:42

saya itu tahu diri,

1:36:47

kenali siapa diri kita, kenali word

1:36:50

kita.

1:36:53

Yo, orang yang tidak kenal dirinya, yo,

1:36:56

dia akan mudah ditarik ke mana-mana,

1:36:59

diseret ke mana-mana. pikiran kita

1:37:01

dipengaruhi ini, dipengaruhi itu.

1:37:05

Jadi, ayo kita perkuat word kita. Kita

1:37:09

sadari orientasi hidup kita. saya itu

1:37:13

tujuan hidup saya ke mana dan

1:37:16

nilai-nilai saya yang ini jangan sampai

1:37:20

luntur

1:37:22

kita sadari itu.

1:37:25

Jadi kalau kita ndak punya ini hari ini

1:37:29

kita akan kelelahan karena akan diseret

1:37:31

ke utara, diseret ke selatan, diseret ke

1:37:33

barat.

1:37:35

Oke.

1:37:39

Yang kedua,

1:37:41

kita punya budaya, kita punya tradisi.

1:37:45

Kalau tidak ingin tradisi kita hanyut

1:37:48

habis,

1:37:50

ayo kita jalankan tradisi itu secara

1:37:54

substantif, tidak hanya simbolik.

1:38:00

substantif itu kita ngerti maknanya,

1:38:03

kita sadar tujuannya, kita paham

1:38:06

sejarahnya, nilainya, itu substantif.

1:38:09

Kalau simbolik itu sekedar

1:38:12

mengimitasi materinya.

1:38:17

kayak salat kayak entah tradisi apa yo

1:38:21

fisiknya saja kita jalan cuma kita ndak

1:38:23

paham maknanya ndak paham maksudnya ndak

1:38:26

paham arah dan tujuannya ini berarti

1:38:29

hanya simbolik

1:38:32

ada sih slogan-slogan kembali pada

1:38:35

tradisi. Kalau agama kembali pada

1:38:37

Al-Qur'an dan hadis, tapi yo kembalinya

1:38:40

jangan hanya simbolik, harus substantif

1:38:44

dengan cara ngerti sampai dalam, ngerti

1:38:49

maknanya, ngerti maksudnya, filosofinya,

1:38:53

dan lain sebagainya. Itu yang disebut

1:38:56

menguasai tradisi secara substantif.

1:39:02

Kemudian yang ketiga,

1:39:06

pertarungan-pertarungan

1:39:08

digital tadi. Tentu saja kita harus

1:39:12

terliterasi

1:39:14

secara kritis.

1:39:18

Ayo latihan literasi yang kritis.

1:39:21

Kita harus bisa membedakan ini fakta,

1:39:25

ini opini, ini propaganda, ini framing,

1:39:29

ini manipulasi.

1:39:33

Ada konten apapun kita tanyakan siapa

1:39:36

sih yang bicara itu? Apa kepentingannya,

1:39:40

asumsi dia? Apa kira-kira apa yang dia

1:39:44

tidak katakan? Siapa yang untung dari

1:39:48

konten ini? Ini penting hari ini. Kalau

1:39:52

tidak kita akan tertipu.

1:39:55

Ini yang disebut

1:39:57

literasi kritis.

1:40:02

Kemudian

1:40:04

lawanlah budaya instan. Yang sering jadi

1:40:07

masalah itu kamu penginnya opo-opo cepat

1:40:10

instan.

1:40:12

Ayo latihan hidup yang lebih dalam.

1:40:16

Boleh kamu latih misalnya membaca yang

1:40:19

agak panjang, berpikir yang lebih dalam,

1:40:23

diskusi yang mendalam, refleksi yang

1:40:25

mendalam.

1:40:27

Kalau ada potongan-potongan pendek,

1:40:29

real, quote, headline, meme, jangan

1:40:32

berhenti di situ.

1:40:35

Kalau belum ngerti benar, jangan

1:40:36

komentar.

1:40:38

Jangan diiyakan dulu atau ditidakkan

1:40:41

sebelum kamu pikir agak dalam, agak

1:40:43

panjang. Nyari rujukan, nyari bahan,

1:40:46

baru kemudian disimpulkan.

1:40:50

Karena kalau ingin instan terus,

1:40:53

kemungkinan kita nanti kehilangan

1:40:55

konteks. Kehilangan konteks itu

1:40:58

kehilangan ruang pemahaman yang utuh.

1:41:03

kita sudah ndak suka seseorang, kita

1:41:06

sudah maki-maki seseorang, kita sudah

1:41:08

benci seseorang, ternyata salah konteks.

1:41:12

Kenapa kita kurang dalam membacanya?

1:41:16

Jadi bukan berarti, "Wah, berarti gak

1:41:19

boleh ya, Pak YouTube gak boleh ya, Pak,

1:41:21

TikTok gak boleh ya, Pak." Boleh. Tapi

1:41:24

yo hidupmu jangan tergantung pada

1:41:28

media-media pendek tadi.

1:41:31

Hiduplah yang lebih dalam.

1:41:35

Kemudian tadi saya sebut perhatian itu

1:41:39

asetmu yang berharga maka kelolalah

1:41:42

dengan efektif.

1:41:46

Jadi kalau perhatianmu ke mana-mana yo

1:41:49

hidupmu bingung ke mana-mana.

1:41:52

Kalian harus disiplin,

1:41:55

punya batas, ngerti durasi,

1:42:00

bisa mengatur waktu, bisa memilih

1:42:03

sumber. Itu namanya mengelola ekologi

1:42:06

perhatian.

1:42:08

Ini istilah baru ya kalau di dunia

1:42:12

ilmiah hari ini kamu ngertinya ekologi

1:42:14

itu kan berhubungan dengan sampah,

1:42:16

sungai, gunung, laut. Sekarang ekologi

1:42:20

perhatian.

1:42:22

Jadi ruang lingkungan

1:42:26

perhatianmu ke mana saja.

1:42:29

Jadi harus sudah mulai kalian kalau

1:42:33

orang Jawa itu ada istilah nyapih.

1:42:37

Disapih gadgetmu disapih itu bukan

1:42:40

berarti ndak dimanfaatkan sama sekali.

1:42:44

Sama seperti bayi itu kalau disappear

1:42:46

nak boleh minum lagi. Tapi sekarang dia

1:42:49

bisa ngatur waktu minumnya. Nak bisa

1:42:53

suka-suka lagi.

1:42:56

Minum yang dengan cara yang berbeda khas

1:42:59

orang yang lebih dewasa.

1:43:02

Kamu tahu batasnya, kamu bisa ngatur

1:43:05

waktunya.

1:43:07

Milih yang sesuai kapan. Oh, ini gak

1:43:09

cocok. Ini cocok. Ah, ini cukup setengah

1:43:12

jam saja. eman-eman waktu saya ini

1:43:15

ekologi perhatian.

1:43:18

Kemudian tentu saja tetap kamu harus

1:43:22

punya ruang untuk batinmu.

1:43:28

Jadi

1:43:30

banyak orang yang kuat secara informasi,

1:43:34

wawasannya luas tapi rapuh secara

1:43:37

eksistensial.

1:43:38

hidupnya cemas, sepi, perlu validasi,

1:43:43

kosong makna. Ini urusan batin.

1:43:47

Maka jangan lupakan kehidupan batinmu.

1:43:52

Kalau batinmu ndak tenang, pikiran akan

1:43:55

mudah dipengaruhi.

1:43:58

Jadi, seperti di banyak sesi spiritual

1:44:01

ya saya sampaikan, hati batin itu justru

1:44:06

rajanya. Kalau kamu galau, kalau gelisah

1:44:09

yo pikiran akan sulit fokus dan mudah

1:44:11

diinvasi.

1:44:16

Terus

1:44:18

tentu saja kita tetap harus belajar dari

1:44:23

luar-luar, dari mana-mana, tapi tanpa

1:44:27

inferioritas, tanpa superioritas.

1:44:31

Kita belajar yo belajar sambil kritis,

1:44:35

terbuka tapi selektif, percaya diri,

1:44:40

rendah hati dan tidak sombong.

1:44:43

Hm. Orang baik itu.

1:44:47

Kemudian yang terakhir,

1:44:51

cari komunitas epistemik yang sehat.

1:44:56

Manusia itu banyak dipengaruhi oleh

1:45:00

orang-orang di sekitarnya.

1:45:04

Jadi cari komunitas yang cocok ya, yang

1:45:08

sesuai, yang bisa diajak dialog, yang

1:45:12

mendalam, yang punya integritas

1:45:14

intelektual, yang berani berpikir.

1:45:17

Kalau sircelmu ccle yang hanya cari

1:45:20

sensasi, yo sulit kamu hidup secara

1:45:23

dalam. Kalau sircelmu nyari

1:45:25

senang-senang hedon saja sulit kalau

1:45:28

kamu ajak tirakat.

1:45:31

Jadi ya nyari ccle yang cocok. Wah saya

1:45:33

pengin tirakat ini. Pengin puasa Senin

1:45:36

Kamis ini. Tapi sircelmu masih pagi. Yuk

1:45:39

nongkrong yuk gafe yuk apa yuk. Yo sulit

1:45:42

kamu jadi tirakat. Maka cari ccle yang

1:45:46

cocok yang sesuai. Ini kalau memang ini

1:45:50

peperangan, kamu kan harus punya sekutu

1:45:52

yang mendukungmu dalam peperangan.

1:45:57

Kalau kamu lemah, ndak punya sekutu, yo

1:45:59

kamu mudah kalah.

1:46:03

Kemudian, ayo kita mulai lebih kreatif

1:46:09

memproduksi gagasan. Jangan hanya

1:46:12

konsumsi

1:46:14

gagasan.

1:46:16

Masyarakat yang tangguh itu tidak hanya

1:46:18

mengimpor teori, mengomentari tren,

1:46:22

meniru model luar, tapi juga menulis,

1:46:25

meneliti, membangun konsep, menawarkan

1:46:28

solusi. Dari situlah nanti kedaulatan

1:46:32

intelektual kita terbentuk.

1:46:36

Kalau kita berdaulat secara intelektual

1:46:39

tidak akan kalah dalam

1:46:43

huzwul fikr,

1:46:45

pertarungan

1:46:48

pikiran.

1:46:51

Jadi, Teman-teman

1:46:54

itu beberapa tips ya. Saya uraikan

1:46:56

cepat. Insyaallah tetap kalian pahamlah

1:46:58

maksudnya.

1:47:00

materi-materi terakhir yang solusi itu

1:47:02

ya tentu saja untuk dipertimbangkan dan

1:47:05

dijalankan.

1:47:07

Gak ada gunanya saya ngomong

1:47:08

panjang-panjang toh kalian ndak berubah.

1:47:13

Oo ini sudah bolak-balik. Saya pengin

1:47:16

nyender dengan quot-nya Tagor.

1:47:20

You can cross the sea merely by standing

1:47:24

and staring at the water.

1:47:29

Kamu ndak akan bisa menyeberangi laut

1:47:32

hanya dengan berdiri dan menatap air.

1:47:39

Jadi mungkin di awal tadi saya

1:47:41

menjelaskan kamu mantuk-manduk saja. Oh

1:47:44

iya, Pak. Pak, begitu, Pak. Ah, memang

1:47:46

begitu Pak, tapi terus kamu diam saja

1:47:50

ya ndak ada yang berubah dalam hidupmu.

1:47:54

Jadi dikritik oleh Tagur, engkau ndak

1:47:57

akan bisa menyeberangi laut hanya dengan

1:48:02

berdiri dan menatap air.

1:48:07

Kemudian ini ada quote terakhir.

1:48:10

Tiba-tiba saya itu teringat presiden

1:48:13

kita pertama, Pak Soekarno. Bukan

1:48:15

apa-apa,

1:48:17

karena pertarungan pikiran ini tadi kan

1:48:19

ilustrasinya barat yang ke Islam atau

1:48:23

barat yang ke timur. Zaman dulu begitu.

1:48:26

Tapi jangan-jangan hari ini pertarungan

1:48:29

pikiran kita itu melawan saudara-saudara

1:48:32

kita sendiri.

1:48:34

Jadi yang ingin menjajah kita itu bukan

1:48:37

orang lain, orang dekat kita sendiri.

1:48:42

Maka kata Pak Karno, "Perjuanganku lebih

1:48:45

mudah karena mengusir penjajah,

1:48:49

tapi perjuanganmu akan lebih sulit

1:48:52

karena melawan bangsamu sendiri."

1:48:56

Jadi kita ini hari ini lebih banyak

1:48:59

gegeran dengan saudara-saudara kita

1:49:02

sendiri, bangsa-bangsa kita sendiri yang

1:49:06

ingin

1:49:08

menghegemoni kita, yang ingin

1:49:10

menaklukkan pikiran kita, yang ngotot

1:49:13

bahwa kita harus ikut mereka.

1:49:17

Mungkin ya tentu saja dengan sesama

1:49:19

saudara, sesama anak bangsa bukan perang

1:49:22

yang bunuh-bunuhan tapi jenis perangnya

1:49:25

pasti jenis waswul fikr. Ini

1:49:29

ideologiku yang harus dimenangkan,

1:49:31

kelompokku yang harus diunggulkan,

1:49:34

yang lain harus ikut saja, partaiku yang

1:49:37

harus nomor satu dan kita harus patuh

1:49:40

saja.

1:49:42

Dan ini bahasa lain dari gazwul fikr

1:49:45

tadi, tapi bukan melawan luar yang mana

1:49:50

tapi melawan saudara-saudara

1:49:53

bangsa kita sendiri.

1:49:56

Maka penting kita punya resiliensi yang

1:50:01

lebih kuat, daya tahan yang lebih

1:50:03

tangguh. Karena melawan saudara itu

1:50:06

gampang-gampang susah.

1:50:09

Kita mau balas sedemikian rupa wong

1:50:12

saudara sendiri ndak balas gimana wong

1:50:15

dia usil terus itu kan gak enak. Maka

1:50:20

ayo ya tadi tips-tips yang terakhir tadi

1:50:23

itu bagian dari meningkatkan daya tahan

1:50:26

atau resiliensi kita

1:50:30

biar tidak kalah dalam guzwik,

1:50:34

pertarungan antar pikiran.

1:50:39

Baik, [menghela napas] saya kira itu ya

1:50:42

teman-teman malam hari ini tentang

1:50:44

gazwul fikir. Materinya agak banyak

1:50:47

mungkin agak meloncat-loncat. Silakan

1:50:49

didengarkan ulang bolak-balik untuk

1:50:52

diwaspadai. Karena mungkin ini

1:50:54

pertarungan kita yang sebenarnya hari

1:50:57

ini. Goswul fikr.

1:51:01

Minggu depan kita lanjutkan dengan

1:51:03

pertarungan yang paling sulit dan paling

1:51:06

besar yaitu kalau ini kan masih melawan

1:51:09

saudara kita meskipun dekat tapi minggu

1:51:12

depan pertarungan melawan diri kita

1:51:15

sendiri.

1:51:18

Dan ini katanya paling berat jihadun

1:51:21

nafas.

1:51:24

Baik ya, kita tunggu minggu depan

1:51:26

perangnya ya. Insyaallah

1:51:29

saya akhiri. Sekian kurang lebihnya

1:51:32

mohon dimaafkan. Wallahul muwafiq.

1:51:36

Wallahu aamu bisawab. Wasalamualaikum

1:51:40

warahmatullah wabarakatuh.

1:51:43

Waalaikumsalam warahmatullahi

1:51:45

wabarakatuh.

More transcripts

Explore other videos transcribed with YouTLDR.

Get the TLDR of any YouTube video

Transcribe, summarize, and repurpose videos in 125+ languages — free, no signup required.

Try YouTLDR Free