Kisah MISTIS Pendakian Gunung SEMERU - HAMPIR MATI | Pendakian Horrormu #26
Jantungnya langsung berdetak cukup kencang Ternyata 3 orang yang lagi tidur itu Sudah tidak ada Assalamualaikum teman-teman Balik lagi sama gue J...
Apa kabar kalian semua? Semoga kalian semua yang menonton video ini diberikan kesehatan selalu dilancarkan di zikinya dan dimudahkan segala urusan-urusannya. Nih, gue mau nanya nih sama kalian. Kalian pernah gak sih mendaki gunung tanpa izin orang tua? Atau izin tapi bilangnya tuh buat ke tempat lain. Katakanlah misalnya kita bilang mau ke pantai atau nginap di rumah temen.
pernah nggak kalau pernah coba tulis di kolom komentar ya balik lagi di segmen pendakian horormu dimana di segmen ini gua akan menceritakan kisah-kisah horror pendakian yang bersumber dari kalian dan cerita kali ini gue dikirimin oleh seseorang yang sebut saja namanya Putra dimana dia dan teman-temannya mendaki ke Gunung Semeru jadi ketika Putra mendaki ke Gunung Semeru ini dia yang sedikit
mendapatkan banyak sekali gangguan apakah mungkin itu karena kesalahan yang dibuatnya atau hal lain? tonton video ini sampai habis ya sebelum kita mulai jangan lupa kalian like video ini dan bagi yang belum subscribe ayo subscribe sekarang ke channel ini supaya kalian gak ketinggalan cerita-cerita horror pendakian selanjutnya udah siap ya?
Cerita ini berawal pada tahun 2014, sewaktu Putra masih SMA. Seperti biasanya, malam itu Putra dan teman-temannya kumpul. Di sela-sela obrolan mereka, Putra mengusulkan kepada temannya yaitu Dani untuk naik gunung. Dan gimana kalau kita muncak lagi? Boleh juga, tapi mau muncak kemana? Gimana kalau kita ke Semeru? Emang keburu waktunya?
kita kan gak libur panjang nah gimana kalau kita nyeselin waktu aja kalau waktu cukup buat ke puncak ya kita ke puncak kalau gak cukup ya kita samperan hukum bola aja gak kem disana oke deh setuju gua gimana dengan yang lain siapa aja yang mau ikut waktu itu mereka kumpul berenam yaitu Putra, Dani, Arik, Fikri, Akil, dan Wahyu semuanya setuju untuk ikut ke Semeru
Kecuali si Wahyu, karena kondisi fisiknya sedang tidak fit. Akhil setuju buat ikut, tapi masih ragu-ragu. Karena dia harus nanya orang tuanya dulu, apakah diizinkan atau tidak. Singkat cerita, mereka jadi mendaki ke Gunung Semeru dengan jumlah 6 orang. Yaitu Putra, Dani, Fikri, Arik, dan...
Desi dan Imam Desi adalah kekasihnya Dani Dan Imam ikut karena diajak oleh Arik Sedangkan Akil tidak jadi ikut Karena tidak diizinkan oleh orang tuanya Pada saat itu adalah pendakian pertama Bagi Desi dan Imam Sementara putra Dani dan Arik Sebelumnya sudah pernah mendaki bersama Terakhir mereka mendaki ke Gunung Lawu
Kita akan majukan waktunya beberapa jam. Putra terbangun pada pukul 3 pagi di rumahnya. Ia pun langsung bersiap-siap karena mereka berencana untuk berangkat jam 5 pagi. Dan semua janjian untuk kumpul di rumah Dani dulu. Sebelum berangkat, Putra coba menelpon Dani untuk memastikan apakah sudah siap.
Putra sudah mencoba menelpon beberapa kali. Tapi tidak diangkat juga. Akhirnya ia memutuskan untuk tetap berangkat ke rumah Dani. Dan tidak lupa minta izin kepada orang tuanya. Nah, menurut Putra, disini ia melakukan kesalahan. Setiap kali Putra naik gunung, ia tidak pernah bilang kalau dia itu naik gunung. Dia hanya bilang kalau dia itu mau liburan. Dia tidak bilang ke orang tuanya kalau dia mau naik gunung.
Karena dia tahu kalau orang tuanya tidak akan mengizinkannya untuk naik gunung Singkat cerita, sampailah Putra di rumah Dani Ternyata masih sepi Dan juga Putra adalah orang pertama yang datang Putra lalu mengetok pintu rumah Dani
Woy bangun, udah jam berapa sekarang? Uhhh...
Emang jam berapa sekarang? Sekarang udah jam 5. Itu kemarin yang ngingetin buat tepat waktu, malah lo sendiri yang molor. Hahaha, sorry lah. Semalam gue pulang nongkrong lorot malem soalnya.
Kampret lah kau, mana belum siap-siap sama sekali pula Beberapa saat setelah itu, teman-teman yang lain pun datang dan tim mereka sudah lengkap Setelah selesai mengecek ulang perlengkapan dan logistik Berangkatlah mereka ke Malang dari Bojonegoro, kota asal mereka Mereka berangkat dengan menggunakan motor dan saling berboncengan
Putra dengan Imam, Arik dengan Fikri, Dani dengan kekasihnya, Desi. Putra memimpin perjalanan, karena dia yang tahu jalannya. Di perjalanan, entah karena melamun atau apa, Putra sempat mengambil jalan yang salah. Imam mengingatkan sambil menepuk dadanya Putra. Emang jalannya udah bener? Sontak.
Putra kaget dan ia baru sadar kalau salah jalan. Putra bilang kalau dia itu seperti ngeblank sampai si imam mengingatkannya. Ia coba menengok ke belakang dan ternyata teman-teman yang lain sudah tidak ada. Padahal mereka saling beriringan dan berjarak tidak jauh. Paniklah putra melihat teman yang gak ada kan? Kondisi jalan yang mereka lewati itu sepenuhnya.
Dan di kanan kirinya itu adalah hutan dengan pohon-pohon yang banyak. Ada beberapa rumah warga yang jarak satu dengan lainnya itu berjauhan. Ketika ia memutar balik, terdengar suara seperti ada masalah di motornya. Putra pun bertanya kepada imang tentang suara itu.
Dan imam juga mendengarnya, takut motornya kenapa-napa. Ia pun mampir ke bengkel yang tidak jauh dari situ. Putra was-was untuk melanjutkan perjalanan tanpa mengecek kondisi kendaraan. Karena jalan dari pasar tumpang ke base camp Ranupane itu lumayan menanjak dan berliku. Sambil menunggu motor selesai diperbaiki, putra pun mengajak ngobrol bapak montir tersebut.
Baik, teruskan.
Terima kasih pak, karena motor sudah selesai diperbaiki, saya lanjut perjalanan lagi ya. Sama-sama mas, hati-hati sampai tujuan. Lalu bergegaslah mereka mengemudikan motor sesuai dengan arah yang ditunjukkan oleh bapak tadi. Sudah sekitar satu jam, mereka belum juga keluar dari daerah hutan tersebut. Putra sempat berbicara dengan mengumpat ke imam. Sialan mam, kita sudah lama tapi belum juga keluar dari daerah hutan ini.
Lo sih goblok Kok bisa kesasar sampe sini Kan katanya lo udah hafal betul jalannya Gue juga bingung mam
Kok gue bisa sampai nyasar begini? Diselah-selah frustasi dan capek Akhirnya mereka bertemu dengan jalan utama ke arah batu Sialan Udah lama perjalanan kita buat keluar dari hutan ini Ketemu jalan utama masih di daerah yang sama juga Harapan Putra ketika mereka keluar dari jalanan hutan tersebut adalah Mereka akan bertemu jalan utama tidak jauh dari pintu masuk batu
Tapi ternyata mereka masih berada di daerah Pare, Kediri. Imam menyuruh putra untuk membawa motornya dengan lebih cepat lagi supaya cepat sampai Malang. Karena yang lain sudah menelpon Imam terus-terusan. Setelah 2 jam berjalanan, akhirnya mereka bertemu lagi dengan teman-teman lainnya yang sedang menunggu di pom bensin yang berada di kawasan salah satu universitas ternama di Malang.
Sialan lu, lama bener nyampainya? Apa lu ketiduran di jalan? Fikri memarahi Putra habis-habisan karena katanya dia sudah menunggu di tempat itu selama kurang lebih 3 jam. Singkat cerita, setelah Putra dan Imam melaksanakan sholat subuh yang sempat tertinggal, mereka melanjutkan perjalanan ke Base Camp Ranupane dan sampai sana sudah menjelang sore hari.
Lalu dengan cepat, Fikri dan Dani mengurus si Maksi. Sementara Putra dan Arik mengambil tenda di rental yang tidak jauh dari base camp. Setelah briefing dan berdoa, tepat.
Tepat pukul 16.45, akhirnya mereka memulai pendakian. Beruntung mereka masih bisa start pendakian pada saat itu juga. Karena mereka termasuk rombongan terakhir. Jika terlambat sedikit saja, mereka mungkin harus menunggu sampai keesokan harinya. Karena jam pendakian pasti sudah ditutup. Yang mendaki pada saat itu cukup ramai.
Setelah melakukan pendakian sekitar 90 menit, sampailah mereka di pos 1. Mereka pun istirahat sebentar. Sebelum melanjutkan pendakian, Desi merasa ingin buang air kecil. Lalu diantarlah Desi untuk pipis oleh Fikri. Teman-teman menyarankan agar pipisnya itu agak masuk ke semak-semak. Tapi Desi disitu takut.
Akhirnya ia pipis tak jauh di samping kanan jalur pendakian Yang dirasa hal itu kurang sopan ya Tapi ya sudahlah Karena waktu itu situasi sekitar lagi sepi Desi pun buang air kecil disitu Selesai Desi pipis Mereka pun melanjutkan perjalanan
Terus mereka berjalan dan sampailah mereka di pos 3. Disitu ada shelter yang didalamnya itu ada sekitar 5 pendaki lain. Pendaki-pendaki itu lalu mengajak Putra dan teman-temannya untuk bergabung. Putra dan yang lainnya pun mengiakan ajakan pendaki-pendaki itu.
Pendaki-pendaki yang sedang memasak itu lalu menawarkan masakannya kepada Putra dan teman-temannya. Mereka pun mengobrol dan bercanda ria. Diketahui kalau rombongan pendaki itu adalah pendaki asal Surabaya. Setelah beberapa saat bercengkrama, akhirnya para pendaki asal Surabaya itu pamit untuk melanjutkan perjalanan. Putra dan teman-temannya melanjutkan perjalanan selang lima menit kemudian. Formasi barisan adalah...
Arik sebagai leader. Ganti-gantian dengan Putra. Di belakang diikuti dengan yang lainnya. Dan Fikri sebagai sweeper. Terus mereka berjalan sampai tiba di atas bukit. Pandangan Putra mengarah ke sisi kiri bawah yang tidak tertutup pepohonan. Dia bilang, Guys!
coba lihat di kiri sebentar lagi sampai Ranu Kumbolo terlihat terang tenda para pendaki yang nge-camp di Ranu Kumbolo dari kejauhan disinilah hal yang tidak mengenakan terjadi setelah melihat Ranu Kumbolo yang sudah tidak jauh lagi putra yang tadinya lelah menjadi bugar kembali Dani lalu ngomong ke teman-temannya agar jalan lebih cepat lagi
Supaya mereka bisa segera mendirikan tenda Disini posisi putra berada di paling depan Kakinya melangkah semakin cepat Terasa ringan sekali sampai ia tak sadar Kalau ternyata teman-teman yang lain sudah jauh tertinggal di belakang
Hanya terlihat Fikri yang berada beberapa meter tidak jauh di belakang Putra. Ia lalu beristirahat sebentar untuk menunggu teman-temannya. Setelah teman-temannya menyusul, mereka pun jalan lagi. Dan kali ini, Putra melangkah lebih cepat dari sebelumnya. Sampai-sampai semua temannya tertinggal jauh dan tidak terlihat sama sekali. Putra lalu memutuskan berhenti lagi untuk berjalan.
menunggu teman-temannya. Ia menunggu sambil jongkok di tempat yang kanan-kirinya itu dipenuhi oleh rumput ilalang yang tinggi. Tiba-tiba, dari belakang ia sempat mendengar ada suara. Ssss... Ssss... Ssss...
Putra kira itu Fikri. Ternyata bukan. Di belakang terlihat sepi sekali dan tidak menunjukkan kalau ada tanda-tanda orang yang sedang berjalan. Suara itu berulang tiga kali sampai-sampai membuat bulu kuduk putra merinding. Dalam hati putra bilang, kalau itu bukan orang melainkan makhluk halus, tunjukin aja lah daripada bikin gue penasaran. Lalu putra mulai mencari sumber suara tersebut.
Dengan teliti ia melihat ke kanan, ke kiri, ke depan, ke belakang. Tapi tidak ada siapapun yang terlihat. Sedikit tentang Putra. Dia itu tipikalnya penasaran dengan hal-hal begituan. Dan sedikit nantangin. Gangguan-gangguan seperti itu bukannya membuat dia takut. Malah membuatnya penasaran. Dia tidak takut selama tidak melihat langsung. Jadi waktu kecil Putra itu agak pekak.
dengan kehadiran mereka bahkan sampai bisa melihat mereka tiap malam ia sering menangis karena dia sering melihat sosok kepala tanpa tubuh di atas lemarinya tapi karena terlalu sering melihat makhluk itu bahkan sampai menemani ia tidur ia jadi terbiasa melihat makhluk dari alam lain tersebut
Kembali ke cerita. Tiba-tiba Putra kaget. Ia melihat seperti ada kain putih yang terbang di sisi kanan atas yang agak jauh jaraknya. Dia sempat terpaku melihat itu selama 5 detik. Sampai akhirnya ia ketakutan dan dia berjalan balik lagi ke belakang sambil sedikit berlari. Maklum, itu adalah penampakan pertamanya.
Terima kasih telah menonton
Wah, ada yang gak beres dan...
Udah diem, gak usah dibahas. Kita lanjut jalan. Mereka pun melanjutkan perjalanan. Dan terjadi lagi. Putra kembali berada di depan. Dan kali ini ia melangkah secara perlahan. Tapi...
Teman-temannya di belakang, tertinggal lagi sampai tidak terlihat Putra pun memutuskan untuk tetap lanjut jalan dengan pelan Sampai ia sadar, perasaan udah lewatin sini Tapi kok ketemu lagi? Kan putra sempet balik lagi tuh kan? Ingat yang tempat pas si putra ngeliat kain putih? Nah itu udah mereka lewatin Tempat yang putra ngerasa tadi udah pernah lewatin itu
Udah jauh di depan dari tempat dia balik tadi Putra pun sempat memendam amarah Karena dia pikir Kok lama sekali samperan hukum bolo Dan rasanya dia cuma diputer-puter di tempat yang sama Sampai tiga kali Setelah beberapa lama
Pada akhirnya ia sampai juga di ranung kumbolo. Di dalam pos yang ada di sana, putra melihat kalau ada tiga orang yang lagi tidur. Tubuh orang-orang itu tidak terlihat sama sekali karena sedang berada di sleeping bag yang tertutup rapat dari ujung kepala sampai ujung kaki. Dalam hati putra bilang, enak banget ya tuh orang bisa tidur pulas sampai gak gerak sama sekali. Apa?
Kenapa gak kedinginan tidur di pos yang terbuka kayak gitu Putra pun menunggu disitu Sambil menyalakan sebatang rokok Sembari menunggu yang lain Tak berapa lama setelah itu Teman-temannya pun tiba Udah lama lu disini? Gak lama-lama amat sih Abis ngerokok sebatang Dan ini gue nyalain rokok lagi pas lu dateng
Gimana kalau kita masak aja di pos itu? Lalu tinggal di rintenda terus istirahat. Ya janganlah. Gak muat kalau kita masuk. Ntar ganggu orang juga yang lagi pada tidur di dalam. Mana ada orang. Itu kosong di dalam. Ketika Putra menoleh kembali ke dalam pos. Ia terkejut bukan main. Jantungnya langsung berdetak cukup keras.
kencang ternyata tiga orang yang lagi tidur itu sudah tidak ada dalam hati Putra bilang mana mungkin itu orang beneran kalau beneran orang nggak mungkin cabut secepet itu dan gak ada suara sama sekali kalau mereka cabut pasti ngelewatin gua lah karena gua tepat 4 m di depannya dan gak ada jalan keluar lain udah pasti itu bukan tiga orang yang tidur pakai sleeping bag
Tapi itu adalah pocong. Kampret lah. Jadi gue ada di deket mereka selama 15 menit. Setelah sempat bengong beberapa saat. Ia dan teman-temannya memutuskan untuk turun sampai di hadapan ranu kumbolo. Untuk menjadikan tenda dan masak di sana. Namun.
Putra kembali terkejut karena setelah ia mengecek jamnya ternyata jam sudah menunjukkan pukul setengah dua malam itu sama sekali tidak wajar dari base camp sampai Ranu Kumbolo sesantai-santainya paling 6 jam lah tapi mereka memakan waktu sampai 9 jam setelah tenda berdiri dan mereka selesai makan mereka pun langsung masuk tenda dan tidur
Di dalam tenda, Putra masih belum bisa tidur. Dikarenakan tempat ia berbaring itu tidak enak. Di bawah pantatnya ada tonjolan batu dan tanahnya tidak landai. Dia cuma bisa tidur-tidur ayam gitu lah. Tidak bisa benar-benar tidur. Dalam hati ia menggerutu. Sialan.
Udah diganggu mulu, ditampakin, dipisahin dari rombongan, diputer-puter, nyampe rakum sampe 9 jam Sekarang malah gak bisa tidur Karena frustasi tidak bisa tidur Akhirnya ia memutuskan untuk merokok di luar dan mencari teman ngobrol Karena ia mendengar suara pendaki yang masih ramai Putra duduk tepat di depan pintu tenda
Sambil memandangi Ranu Kumbolo yang indah Setelah sebatang rokok habis Ia baru teringat dengan niatnya Untuk mencari pendaki lain buat diajak ngobrol Tapi Sama sekali tidak ada pendaki lain di luar Dan jumlah tenda
Hanya ada lima Padahal tadi waktu mereka menirikan tenda Ada banyak sekali tenda Sampai mereka susah menghitungnya Putra yang panik Lalu dengan cepat masuk kembali ke tenda Dan berusaha untuk tidur Pada akhirnya ia bisa terlelap juga Satu jam putra tidur Ia pun dibangunkan oleh Arik Put bangun put
Udah sunrise Yuk foto-foto di luar Aduh gue masih ngantuk banget Baru bisa tidur puluh selama satu jaman Rick Lagian percuma keluar Kabutnya lagi tebel banget Gak keliatan apa-apa Bener juga Yaudah lanjut tidur lagi
Barulah sekitar jam 8 Mereka keluar tenda dan foto-foto Singkat cerita Setelah puas foto-foto dan sarapan Mereka memutuskan untuk Kembali turun ke base camp Karena waktu tidak mencukupi
Ditambah semalam saja untuk sampai ke Ranu Kumbolo memakan waktu sampai 9 jam. Di perjalanan turun, Dani, Desi, dan Imam banyak berhenti. Mereka berhenti bukan karena lelah, tapi karena sibuk foto-foto. Dani pun menyuruh yang lainnya untuk jalan duluan dengan santai. Nanti dia, Desi, dan Imam akan berhenti.
Putra, Arik, dan Fikri melanjutkan perjalanan dengan santai. Arik tiba-tiba bilang, Mungkin karena sudah emosi diganggu terus, ia jadi enteng berbicara seperti itu. Beberapa langkah kemudian,
Terlihatlah jembatan Semakin dekat mereka dengan jembatan itu Tiba-tiba Samar-samar Putra melihat sosok wanita yang mengenakan pakaian putih Sosok itu perlahan-lahan menghilang Sontak Putra bilang Astagfirullah
Masih digangguin? Apa karena mulut sampah gue ya? Dalam hati Putra meminta maaf atas perkataan-perkataannya yang tidak enak. Tiba-tiba Arik dan Fikri menjadi diam ketika melewati jembatan itu.
Padahal sepanjang jalan mereka terus mengobrol dan Putra juga tidak cerita apa-apa kalau habis melihat sosok. Putra menduga kalau Arik dan Fikri juga melihat. Makanya tiba-tiba mereka diam dan mempercepat langkah.
Setelah melewati jembatan itu, tubuh Putra tiba-tiba terasa berat sekali. Imam pun juga minta tukaran karier karena ia merasa keberatan. Mereka bertiga jadinya saling bertukar-tukaran karier. Saat itu posisi Putra lagi-lagi berada di paling depan. Mereka terus berjalan sampai dari kejauhan sudah terlihat pintu gerbang pendakian. Putra pun merasa lega dan melangkah lebih cepat. Namun...
Tepatnya di bawah pintu gerbang pendakian yang bertuliskan selamat datang itu Kaki Putra mendadak keram dan tidak bisa digerakkan Dia lalu jongkok dan diam di tempat sampai akhirnya Arik mendahuluinya Putra langsung memanggil Arik dan bilang Kalau kakinya itu tidak bisa digerakkan Arik kembali dan menyuruh Putra untuk meluruskan kaki Putra mencoba untuk duduk
dan meluruskan kaki tapi tetap tidak bisa alhasil dia hanya bisa diam di tempat jongkok sambil menunggu teman-teman yang lain putra disitu mengerti kalau yang dia alami itu bukan keram karena kalau keram pasti terasa kayak ada otot-otot yang ketarik
Tapi ini ia tidak merasakan sakit sama sekali. Yang dia rasakan adalah kakinya lumpuh seperti ada yang megang dari bawah. Putra hanya pasrah dan tak henti-hentinya membaca doa. Sekitar 20 menitan dengan kondisi seperti itu,
Entah bagaimana caranya Alhamdulillah akhirnya ia bisa berjalan lagi Disitu dia lega Dan merasa kalau tidak akan ada gangguan-gangguan lagi Singkat cerita Teman-teman yang lain pun sudah menyusul Dan mereka pun bergegas untuk pulang Putra pergi mengambil motor di parkiran Dan segera beranjak dari tempat itu Itu
Di perjalanan pulang inilah, peristiwa yang hampir merenggut nyawanya terjadi. Di atas motor, badannya terasa sangat dingin dan ia menggigil hebat. Ditambah, ia harus menahan tubuh imam yang menyender di punggungnya.
Ia pun menyuruh imam untuk agak munduran. Imam ini punya postur tubuh yang agak gemuk. Jadi lumayan berat kalau dia menyender. Masih berada di kawasan TNBTS. Dengan trek turun yang curam dan berliku. Putra masih merasa kalau imam ini nyender di punggungnya. Alhasil tangannya menjadi sangat pegal. Karena harus menahan beban yang berat. Ditambah jalanan yang menurun. Di sini terjadi perdebatan ketiga.
Imam tetap bilang kalau dia itu tidak menyender. Tapi Putra tidak percaya. Sampai ia menengok ke belakang. Ternyata benar, imam itu tidak menyender. Tangannya pun memegang behel yang ada di belakang motor. Tapi anehnya, kok masih terasa berat? Seperti sedang boncengan bertiga. Imam pun menawarkan untuk berjalan.
Gantian bawa motornya Putra pun mengiakan Tapi imam minta agar gantian di agak depan sedikit Soalnya jalannya masih curam dan berliku Imam tidak berani Beberapa meter kemudian Tiba-tiba Ada seorang perempuan lewat Tepuk tangan
Di depan ada orang, mudah-mudahan orang. Di kiri jurang dan dari arah yang berlawanan.
Ada jeep, tapi naas. Motor mereka melaju cukup kencang di tepi jalan non-aspal yang bertaburkan batu-batu cukup besar. Lalu, bandepan meledak. Putra jatuh terlempar ke sisi kiri jalan dan ia pun pingsan seketika.
Putra pun tersadar seperti bangun tidur. Setelah terbangun, ia kaget karena tiba-tiba ia sudah ada di dalam mobil jeep ditemani oleh imam di sebelah kiri. Dia belum menyadari kalau habis kecelakaan. Putra baru ingat saat mengusap mata dan wajahnya. Saat ia usap wajahnya dengan agak kecewa,
Ia merasa perih. Lalu ia lihat tangannya yang digunakan untuk mengusap. Ternyata sudah penuh akan darah. Imam bertanya, Udah sadar lho? Putra tidak menjawab pertanyaan Imam. Dan langsung meminjam HP-nya. Ia pun melihat wajahnya dengan kamera depan HP itu. Alhasil ia terkejut. Ketika dilihat,
Ternyata sisi kiri wajahnya penuh luka yang lumayan parah Sontak ia teringat kalau habis kecelakaan Lalu putra bertanya ke imam Mam, udah berapa lama kira-kira gue pingsan tadi? Hah? Pingsan? Lo dari tadi gak pingsan sama sekali Waktu lo jatuh dari motor, gue kaget Karena tiba-tiba lo bisa bangun sendiri dan langsung ngamuk Marah-marah dan ngomong terus Pokoknya omongan lo kacau parah kayak orang mabok
Kejadian tadi kira-kira udah satu jam Alhamdulillah lah kalau lo udah normal Gue bener-bener deg-degan liat tingkah lo tadi Singkat cerita Sampailah Putra di puskesmas tumpang Setelah Putra selesai ditangani oleh dokter Seseorang yang ia tidak kenal Menghampirinya dan menanyakan keadaan Fikri menjelaskan Kalau orang itu adalah salah seorang dari rombongan Yang menolong Putra pas kecelakaan tadi Dan jeep yang hampir Putra tabrak
Adalah jeep yang membawa rombongan mereka Putra lalu menanyakan kondisi motornya Ternyata motornya ada di bengkel Dan yang membawanya adalah salah seorang dari rombongan itu Setelah orang yang membawa motornya Putra datang Rombongan itu pun pamit untuk melanjutkan perjalanan Dani bilang kalau yang membayar biaya perbaikan motornya Putra itu
adalah orang tersebut. Dan ketika Putra ingin mengganti biaya yang sudah dikeluarkan, orang itu menolak. Putra agak lupa rombongan itu dari mana. Kalau nggak salah dari Bogor. Pokoknya daerah Jawa Barat lah. Kalau masih menolong Putra nonton video ini, komen di bawah ya.
Lanjut cerita. Sekarang rombongan mereka terpisah. Dani, Desi, Imam, dan Arik memutuskan untuk stay di Malang dan menginap sehari di kontrakan salah satu teman mereka yang kuliah di Malang. Sementara Putra dan Fikri memutuskan untuk langsung pulang ke rumah. Yang ada di pikiran Fikri adalah, ia ingin cepat-cepat sampai rumah karena tadi mendapatkan
pesan dari bapak supir jeep yaitu untuk segera sampai rumah dan hati-hati serta jangan lupa untuk terus berdoa di perjalanan putra beberapa kali minta untuk istirahat sejenak karena lemas dan ngantuk tapi Fikri menolaknya dengan alasan yang tidak jelas Fikri terlihat parno dan takut tanpa tahu sebabnya
Sampainya di rumah, Putra menceritakan kejadian yang sebenarnya kepada orang tuanya dan dia pun kena marah cukup keras. Karena peristiwa itu, selama sebulan lebih Putra tidak keluar rumah sama sekali. Dia minder karena luka di wajahnya. Waktu itu, dia sendiri ngeri melihat luka di wajahnya, apalagi orang lain. Setelah dia rasa sudah lumayan sembuh, baru dia berani keluar dan kumpul dengan teman-temannya lagi.
Setelah kecelakaan itu, Putra merasa aneh. Karena tubuhnya tidak ada luka sama sekali. Hanya wajahnya saja. Lebih bingung lagi. Ternyata kondisi helm yang ia pakai waktu itu keadaannya baik-baik saja. Tidak ada goresan sama sekali. Nah, kok bisa mukanya itu luka sampai separah itu? Padahal kaca helm juga ditutup. Di kelas waktu sekolah, Dani bilang kalau Putra sangat-sangat beruntung.
Karena posisi dia terjatuh hanya beberapa sentimeter dari jurang Untunglah sebelum jatuh, imam dengan sigap loncat duluan Kalau tidak, mungkin lain cerita Yang dia merasa seperti bangun dari pingsan itu Ternyata benar, dia bukan pingsan Melainkan kesurupan Dia baru ingat, kalau sekitar dua minggu sebelum mendaki ke Semeru Kebetulan ia dan keluarganya lagi liburan ke Bromo via Tumpang
Dan tidak jauh dari lokasi dia kecelakaan itu, ada mobil jatuh ke jurang yang kedalamannya bisa mencapai ratusan meter. Dan naas, semua penumpang tewas. Putra juga masih penasaran dengan kata-kata bapak sopir jeep yang bilang kalau dia itu dijaga oleh Simbah.
Sampai sekarang Putra tidak membahas kehororan waktu mendaki itu dengan yang lainnya. Mungkin saja teman-teman yang lain juga merasakan gangguan-gangguan, tapi tidak diceritakan. Ada sedikit pesan dari Putra. Satu, tetaplah jaga sopan santun dan etika dimanapun kita berada, walaupun tidak ada orang sama sekali. Karena percayalah, sesungguhnya kita hidup saling berdampingan dengan makhluk lainnya. Dua,
Pastikan dapat restu dari orang tua sebelum mendaki Jangan berbohong kalau tidak mau kualat Oke teman-teman gimana tuh tadi ceritanya
Kalau kalian punya pengalaman yang sama Tulis ya di kolom komentar Siapa yuk yang naik gunung gak izin orang tua Ngaku Sebelum kita berpisah Jangan lupa kalian like video ini Dan bagi yang belum bergabung Ayo subscribe sekarang ke channel ini Supaya kalian gak ketinggalan Cerita-cerita horror selanjutnya Gua Jos Sampai ketemu di cerita selanjutnya
More transcripts
Explore other videos transcribed with YouTLDR.

I Found Her Love In The Richest City In America!
Nick Nayersina · English

Apa Benar Pembangunan Ekonomi di Indonesia Era Jokowi Sudah Merata? | PERSPEKTIF
BINUSTV Channel · English

Kapuas Tabligh Akbar 2026
Pemkab Kapuas · English

Orang Ini Kerjanya Meneliti Generasi
Raditya Dika · English

#65 A Purificação da Prata
Palavra de Deus · Portuguese (Portugal, Brazil)

THE PRESSURE IN YOUR LIFE - Motivational Speech
Ben Lionel Scott · English

KUPAS TUNTAS BATERAI/AKI MOTOR/MOBIL DAN CARA KERJANYA
ZONA BELAJAR · Indonesian

KILL THE DISTRACTIONS - Motivational Speech
Ben Lionel Scott · English

ASAL MUASAL ADA KOTABARU RETEH DAN ADA KOTABARU SEBERIDA --- DUA KOTABARU DI KERITANG
LENGGOK PIKIRAN (JON KOTENG) · English

TATA CARA SHOLAT MAGHRIB LENGKAP-DENGAN TEKS DAN PERAGA
IRSSAT Official · English

Film Pendidikan Kisah Dini Hari
Jogjabelajar · Indonesian

Pourquoi Trump s'attaque à Pix, une application brésilienne ?
Les Echos · English
Get the TLDR of any YouTube video
Transcribe, summarize, and repurpose videos in 125+ languages — free, no signup required.