0:00
Beberapa ulama itu saking tidak mau
0:02
waktunya terbuang. Kalau ada tamu apa
0:07
Dia suruh tamunya untuk serut-serut
0:11
Ya, dulu kan pensil kan kayu
0:15
diserut supaya tajam kayak pensil.
0:17
Kemudian nanti diculup dengan tinta
0:19
kemudian ditulis culup tinta lagi. Tulis
0:22
kering tintanya cup lagi seperti itu.
0:25
Jadi dia suruh dia dan tamunya supaya
0:27
gak buang-buang waktu daripada kosong
0:30
waktunya ngobrol tidak jelas lebih baik
0:38
Nah itu bagaimana waktu itu dijaga
0:39
betul-betul. Bagaimana waktu itu dijaga
0:44
kemarin ya. Ini saya cerita kenapa saya
0:47
bisa suka dengan membaca ya. Kenapa saya
0:54
Waktu di awal-awal S2 masuk S2 ya,
0:58
dosen saya bilang seperti ini.
1:02
Saya mau bikin gudang ilmu di kepalamu.
1:03
Usama asaka makunan ilmian. Saya mau
1:07
bikin kamu di kepalamu gudang.
1:10
Mumpung tesismu nanti berjudul
1:13
berjudulnya tentang NU Muhammadiyah ya.
1:16
Tesis saya tentang NU Muhammadiyah.
1:18
Jadi dia mau bikin makhzun makhz ilmi
1:21
filq Syafi'i. Jadi beliau suruh saya
1:23
baca kitab Albayan 10 jilid dalam 2
1:26
bulan ya. 10 jilid. Satu jilid itu
1:29
mungkin 400 halaman. 400 sampai 500.
1:34
Jadi saya paksa baca ya. Saya paksa
1:40
Dan lama-lama ketika selesai,
1:42
alhamdulillah selesainya 2 bulan lebih
1:44
ya karena gak bisa 2 bulan ya karena ada
1:50
Itu itu menurut saya ee masa
1:55
paling terpuruk saya waktu itu. Suruh
1:57
baca baca banyak halaman ya dalam
2:00
beberapa hari. Tapi setelah itu
2:12
baca 10 halaman saja dalam satu hari itu
2:13
bedmood ya. Biasa anak istri yang kena
2:17
kena apanya? Kena batunya ya. Tunggu
2:20
dulu jangan dukungkan saya mau dulu
2:22
membaca dulu biar sedikit ya.
2:28
Jadi membaca itu sebenarnya pertama
2:30
waktu Anda yang harus
2:36
Yang kedua mulai dengan dipaks
2:39
paksa ya. Ada ya permisalan yang
2:43
terkenal yairillahuna
2:49
illah. Ya saya awalnya menuntut ilmu
2:56
itu menuntut ilmu supaya
2:59
bisa masuk pesantren dulu ya.
3:02
Karena di pesantren makannya
3:05
gratis dulu ya, sekarang bayar juga ya.
3:09
Makanya ini makulah yang terkenal dari
3:14
Imam Ghazali itu dulu bersaudara ya dan
3:18
bapaknya itu seorang yang ee apa?
3:23
ee apa penun itu kain
3:27
bapaknya itu tidak bisa memberikan
3:29
nafkah kepada anaknya. Akhirnya disuruh
3:35
madrasah pesantren supaya bisa makan di
3:41
Tapi lama-lama jadi Imam Ghazali.
3:45
Makanya itu maquah yang terkenal ya,
3:47
perkataan yang terkenal.
3:49
Saya awalnya menuntut ilmu bukan karena
3:51
Allah. faaba yakuna. Maka ilmu itu
3:54
seakan ilmu itu mengatakan saya saya
3:59
kecuali atas demi Allah subhanahu wa
4:02
taala. Ya, ini memang teori ya. Semua
4:04
susah kita praktikkan ini semua teori
4:07
tapi nanti praktiknya akan antum lakukan
4:21
ya apaagi penyebab kedua ya tadi sudah
4:24
disebutkan sama ustaz
4:30
cepat bosan ya. Yang kedua coba saya
4:32
tunjuk-tunjuk ya atau ada yang bisa
4:35
angkat tangan sebab kedua
4:40
atau kita coba yang mahasiswa baru ini
4:41
atau siswa baru ini apa kira-kira
4:47
cepat bosan eh penyebab ee apa siswa
4:50
sekarang anak muda malas belajar ada
4:54
terlalu banyak main HP
4:56
terlalu banyak main HP i
4:59
ya bisa ya sama hampir sama dengan tadi
5:03
ya terlalu banyak main HP akhirnya
5:06
terbiasa main HP bukan terbiasa mem
5:09
betul ya ala bisa karena biasa ada
5:16
bergantung pada internet
5:18
bergantung pada internet betul ya
5:23
kalau di sini di teks saya ada sebut ada
5:25
ada saya sebutkan ee terbiasa dengan
5:30
Ya, ketika otak anda terbiasa dengan hal
5:33
instan ya gak bisa sulit untuk melakukan
5:36
proses yang sulit. Mana kita semangat
5:40
terbiasa hal kan misalnya contoh ya
5:43
orang yang terbiasa makan mie instan
5:45
tiap hari sulit memasak hal-hal yang
5:47
berat tidak mungkin dia bikin contoh
5:54
Apa itu contoh dari nol?
5:56
beli kacangnya ya, beli
5:58
rempah-rempahnya, disangrai kemudian
6:01
diblender. Kalau orang dulu ditumbuk ya
6:03
sampai halus, kemudian dimasak dan
6:05
sebagainya. Tapi karena dia terbiasa
6:07
dengan mie instan, akhirnya mini instan
6:10
terus yang dia masak itu terus itu terus
6:13
itu terus sampai akhirnya masuk rumah
6:23
cocok yang dibilang ustaz tadi ya.
6:24
terbiasa dengan halnya
6:28
ulama dulu para ikhwah sekalian untuk
6:31
satu hadis saja safar ya dari Baghdad ke
6:36
perjalanan 2 bulan cuma untuk memastikan
6:40
saja satu hadis ini hadisnya sudah dia
6:44
hadisnya sudah dia tahu cuma tapi
6:47
karena dia tahu ada perawi lain selain
6:52
Jadi dia meriwayatkan hadis
6:56
dan ada dia tahu di Mesir orang yang
6:57
meriwayatkan hadis yang sama.
7:02
Ini sudah kita ini sudah dia tahu tapi
7:04
dia untuk memastikan saja safar ke
7:08
Ini bagaimana semangatnya ini
7:10
orang-orang yang dulu ini belajar ya
7:12
sampai safar bukan naik pesawat, bukan
7:14
naik sepeda ya jalan kaki
7:17
naik unta ya pinjam dari
7:25
Ini lihat semangatnya ulama dulu ikhwan
7:28
sekalian ya. Bagaimana untuk satu hadis
7:31
saja mereka rela untuk bersyafar.
7:37
Dulu itu tidak ada namanya download PDF
7:40
ya, tidak ada namanya beli buku.
7:48
Menulis, menyalin buku. Jadi di sana
7:52
dulu ada namanya nusakh dulu ya. ada
8:00
Kalau sekarang bayar kan bukunya
8:03
Dulu tidak. Ada dua opsinya antum. Antum
8:10
salin itu semua dan menunggu
8:11
berhari-hari berbulan-bulan
8:15
salin. Dan banyak ulama dulu yang tidak
8:18
ada uang akhirnya menyalin sendiri.
8:23
Jadi dia sudah menyal masuk ilmunya di
8:29
Tapi kita sekarang ya nauzubillah ya
8:33
ingin ilmu yang instan dan cepat ini
8:37
alhamdulillah kita semua sudah ada buku.
8:40
Sudah ada buku dan sudah kita bisa
8:45
Dan insyaallah dengan adanya buku itu
8:47
kita bisa belajar ya. meskipun tidak ee
8:51
sesulit ulama dulu untuk mendapatkan
8:53
buku, tapi buku yang Anda pegang itu
8:56
lebih bagus daripada apa-apa yang Anda
8:59
baca di internet ya, ujungnya ke sana
9:04
ya. Ee apaagi kira-kira? Ada tambahan?
9:08
Ada tambahan? Ya, silakan.
9:10
Kurangnya rasa ingin tahu.
9:12
Kurangnya kurangnya rasa ingin tahu ya.
9:18
Jadi ilmu itu ada syahwatnya
9:22
ya. Ilmu itu ada syahwatnya.
9:26
Jadi ada ada disebutkan ya almalhumatan
9:30
labaan. Ada dua jenis orang yang tidak