ANAK SEKOLAH STUDI TOUR KAN NGIKUTIN PEJABAT JALAN2 PAKE UANG 💸 ITU TUH.. KANG DEDI MULYADI
Kang saya mau laporan kang, ada orang namanya Timothy Ronald bilang kalau orang nge-gym tuh goblok Tapi sayangnya nggak lapor ke saya ya? Iya Kalau saya lapor ke saya, saya bawa ke barak tuh Anak yang memaksa orang tuanya beli HP, anak yang memaksa orang tuanya beli motor, hari ini terbalik orang tua dibawah kendali anak
5 4 3 2 1 dan tutup pintunya
Kang Deddy Mulyadi, ini incaran saya dari dulu, sudah lama sekali. Apa kabar Kang? Baik-baik, mohon maaf ya kita agak lama kesininya. Memang saya kalau ngeliatin abang kan di berita-berita wajar lah lama. Kang saya mau laporan Kang, ada orang namanya Timothy Ronald bilang kalau orang nge-gym tuh goblok. Tau gak itu? Tau gak? Gak tau ya?
Dengar juga. Tapi Akang ini sekarang jadi pusat laporan orang-orang. Udah gitu? Berarti, tapi sayangnya nggak lapor ke saya. Iya. Kalau saya lapor ke saya, saya bawa ke barak tuh. Timothy Ronald mau dibawa ke barak.
Ya tapi Kang gini Kang, kan sekarang kan saya tuh kan ngikutin, kita kan kenal udah lama ya Kang ya. Terus kan akan memang dari zaman dulu kan memang sikap sifat perilakunya emang kayak begini nih. Ya nggak berubah lah. Ya mungkin banyak orang kaget nih ya kan. Sebenarnya ketika melakukan ini kan pasti banyak yang nggak suka.
Memimpin itu kan bukan untuk disukai dan tidak disukai. Memimpin itu kan meletakkan kerangka dasar tentang visi kepemimpinan yang kita miliki. Sehingga pemimpin itu kan bukan follower, dia transenter. Bukan follower? Iya dong, transenter. Karena transenter maka seluruh tindakan dan kebijakannya itu harus bisa mempengaruhi publik. Mengarahkan publik. Nah kita pertanyaannya adalah publik kita atau rakyat kita hari ini bagaimana sih? Hmm.
Dikat dari sisi mananya Kang? Dari sisi apapun. Apapun? Rakyat kita ini apakah rakyat secara umum ya? Yang dalam setiap waktu dipandu menuju arah visi yang sama. Apakah dipandu menuju kesejahteraan? Apakah dipandu menuju kebahagiaan? Apakah rakyat kita ini dipandu untuk menjadi subjek atau menjadi objek? Nah kalau saya menganalisi dalam setiap waktu...
Masyarakat kita hari ini dari mulai pelajar sampai ibu-ibu sampai emak-emak sampai teteh-teteh itu kan bukan diarahkan menuju sebuah tujuan yang sesuai dengan pikiran dia.
Tetapi kan diarahkan pada sebuah tujuan sesuai dengan pikiran yang mengarahkannya. Betul. Kan ini eranya era digital ya. Era digital dan saya katakan bahwa secara umum kan masyarakat kita ini hari ini diarahkan untuk menjadi objek eksploitasi dari berbagai kebutuhan dan kepentingan. Yang ada didigitalkan.
Ya baik yang ada di digital maupun yang ada di kehidupan. Betul. Tapi kan era digital dan sosial media ini mempengaruhi pola pikir mereka. Ya karena itu mempengaruhi pola pikir mereka. Maka saya dari awal dari nol bermedia sosial itu saya ingin media sosial saya itu mengajarkan orang untuk membangun paradigma baru tentang arah kehidupan. Arah kehidupan. Walaupun arah kehidupan yang saya arahkan adalah
mengembalikan kembali masa lalu menjadi masa depan dengan pola pendekatan teknologi. Oke, saya setuju dengan itunya Kang. Tapi gimana dengan perilaku Kang Deddy yang dianggap radikal? You know what I mean radikal ya. Radikal dalam pengertian contoh yang paling sederhana misalnya tidak boleh ada, ya dikirim ke barak salah satu. Terus yang ini deh, yang misalnya anak-anak tidak boleh ada wisudaan. Nah itu kan radikal, yang sudah terjadi lama. Iya.
Tindakan radikal diperlukan karena problemnya akut dan menimbulkan kemiskinan permanen. Kemiskinan permanen? Kemiskinan permanen. Loh? Saya ini punya pengalaman dalam setiap hari kan saya bertemu dengan mereka. Karena dalam setiap hari dalam bertemu dengan mereka, apa sih problem orang tua itu? Problem orang tua itu adalah menyekolahkan anaknya.
Yang anaknya ketika disekolahkan Itu menjadi orang yang mengambil kekayaan Dan menghilangkan kekayaan orang tuanya Mengambil kekayaan dan menghilangkan kekayaan orang tuanya Iya Ya ini saya pernah mengatakan bahwa Gila ya sekolah-sekolah mahal-mahal Jadi dokter, kuliah jadi dokter Begitu jaga Saya tahu teman saya tuh jaga di UGD Surabaya Gajinya 3 juta Kayaknya untuk balikin biaya kuliahnya gak cukup Ini paling deket Banyak orang yang hari ini bertemu saya
Pasti ceritanya, kenapa Ibu kelihatan sangat susah? Kenapa kelihatan sedih ketemu saya? Ya anak saya itu harus ikut studi tur. Berapa biayanya? Ya ongkosnya 2,5. Terus nanti harus ada bekel. Ya total kalau ada bekel 2,5 juta. Kemudian harus ada bekel, bekelnya 1,5.
4 juta. Gede banget ya? Gede loh. Saya gak nyangka segini. Nah kemudian dari mana ibu dapat? Ya saya lagi mau minjem. Namanya Bank Emok. Bank Emok itu adalah bank yang ada di desa rentenir. Yang terorganisir dengan baik, terkelola dengan baik. Bahkan ada...
Legal? Tidak. Tapi berkeliar bebas. Kalau pinjemnya hari ini 1 juta, maka besok itu harus mulai bayar nyici lagi dan uangnya diterima 900 dan bunganya itu 10%. Lintah darat dong? Iya sama, tapi kan atas nama kooperasi. Kooperasi simpan pinjem. Dan itu negara luginya double. Sudah tidak bayar pajak, dia ngambil bunga tinggi.
Nah ini kan terjadi ya Ini terjadi dan ini masif Karena ini terjadi masif Sehingga saya berkata
Apa sih studi turnya ternyata? Karena studi turnya ternyata kan piknik biasa. Menunjungi tempat-tempat wisata. Ya dari zaman dulu gitu. Ya kan kemudian itu bisa dibuktikan dengan yang demo. Di gedung sate itu adalah pelaku jasa keparwisataan. Dari mulai operator bis sampai travel. Yang dirogikan dong. Ya makanya kan menjadi aneh.
Saya dituduh pihak yang membuat mereka menjadi susah Padahal menurut saya tidak ada Yang saya larang itu adalah studi tur bukan piknik Bukan piknik Nah ini kan terjadi nih Nah kemudian bayangin loh Tingkatannya problematikanya adalah logika berpikir Kenapa logika berpikir? Kan judulnya studi tur Studinya mana gitu ya? Studi ya? Studi kan gak usah jauh-jauh pak
Sampah di sekolahnya gak terurus. Selokan di belakang sekolahnya hitam pekat.
Masuk ke sekolah gak bisa berbaris. Lu pergi jauh-jauh gitu ya? Ngapain jauh-jauh? Jangankan di tingkat SDSMP, di kampus aja yang daerah kampus yang itu tertata. Di lingkungannya kan berantakan. Guru saya dulu gitu ya? Study tour keliling kampus gitu ya? Kenapa? Study tour dimulai saja dari situ. Kemudian dia makan jajanan di depan sekolah. Kemudian minyak gorengnya sudah hitam.
pekat, dan dikonsumsi oleh anak-anak kita, kemudian es yang dia minum itu warnanya sangat menyala ini bukan ya lagu lama kasih terusak kalau gurunya pinter kenapa gak itu diorganisir, dibawa ke lab kemudian dipaparin setelah itu akan menimbulkan penyakit apa yang dikonsumsi anak-anak dibawa ke rumah sakit liatin orang yang menderita itu yang sakit-sakit karena apa
kan jelas arah negara itu kayaknya gak sampai segitu deh mikirnya kamu ya harus dibawa mikir anda kalau mikirnya begitu kejauhan gak sih? loh harus dibawa mikir begitu harus dibawa mikir kayak gitu kita kan harus dibawa jauh gitu ya walaupun orang tidak siap nih
Tugas pemimpin membuat rakyatnya menjadi Ya tapi kan tidak semua orang Tidak semua orang siap dengan pemikiran seperti itu Tidak ada masalah Tidak ada masalah, bagaimana orang-orang protes intinya Kalau protes berarti gagasan pemimpinnya mendapat perhatian Kan lebih baik jadi pemimpin yang gagasannya diprotes Daripada pemimpin yang tidak punya gagasan Oke, oke, oke Nah sekarang bagaimana dengan orang-orang yang merasa bahwa
Gini ya, saya setuju sama Kang. Tapi kan saya harus. Saya harus. Diva advocate nih kan. Maksudnya kan banyak orang kan gini. Gimana dengan orang-orang, anak-anak yang. Ih gila gue udah nungguin study tour. Pengen jalan-jalan sama teman-teman. Ini kan memori indah yang saya dapatkan.
enak yang main-main dapet nih gara-gara Kang Deddy tidak ada study tour karena ada anak-anak begitu ada orang-orang tua juga yang mampu untuk bayar study tour kalau orang tua mampu bayar study tour ya orang tuanya aja ngajak piknik anaknya kan dia maunya anak-anak teman-teman sekolahnya ya gampang teman-teman sekolahnya diajakin sama orang tuanya diorganisir jalan pergi pikniknya
Jangan melibatkan intutisi sekolah. Di intutisi sekolah nggak ada kurikulum studi tur. Kalau kita balik ke basicnya, tidak ada kurikulumnya. Berarti itu adalah pilihan sekolah. Pilihan sekolah. Jadi artinya bahwa guru jangan didegradasi. Seluruh kewibawaan dirinya diomongin oleh orang tua siswanya gara-gara kasus studi tur. Kan nggak enak. Misalnya orang tua bikin komen.
Wah itu mah guru dan keluarganya bisa gratis dong naik bus Guru itu harus dijaga kewibawaannya Nggak boleh begini Jadi secara tidak langsung Anda juga menjaga Kewibawaan guru Karena guru itu dalam perspektif
Pendidikan kebudayaan Itu kan tingkatan yang sangat tinggi Dalam strata sosial Gak boleh dong guru Kemudian menjadi Direndahkan gara-gara urusan Study tour Akhirnya nama gurunya berantakan Harus berwibawa Gimana dengan kasus fasektomi Nanti saya minum dulu deh Oke
kasus vasectomy ini kan agak-agak berat juga untuk terima bansos harus vasectomy berarti kan untuk terima bansos di vasectomy itu istilahnya di apa namanya? di unfertile kan? minum dulu aja unfertile lah berarti kan yaudah minum dulu oke oke
Jadi sebenarnya begini, itu kalimat penerima bansos harus pas sektomi itu gak ada. Gak ada? Gak ada kalimat itu. Yang buat siapa? Yang buat media, bukan saya. Oh gitu? Kan ada pidato lengkapnya ada. Itulah enaknya jadi gubernur ngonten. Gak.
Karena seluruh ucapan saya terekam dengan baik. Jadi ada bukti nih ngomongnya. Dan lengkap kan. 30 menit. 25 menit. Nggak sepotong-sepotong. Dan yang ngambilinnya nggak orang gitu loh. Bukan konten kreator yang ngambilin. Iya, iya, iya. Ya kan kalau orang lain mungkin. Apa pemimpinnya menjadi objek konten kreator. Iya.
Kalau saya bukan gubernurnya ngajakin Untuk jadi konten kreator Jadi apapun yang Anda omongkan ada buktinya Ada buktinya Oke, Mas Ektomi, berarti nggak pernah ada? Nggak pernah ada, jadi begini ceritanya Ini pengalaman saya Pengalaman saya ini bukan sekarang ketika jadi gubernur Ketika masih anggota DVR, ketika jadi bupati Saya gini loh, nemuin warga Anaknya 24 bayangin
Serius Di Purwakarta tuh ada Saya ajakin mudah-mudahan masih ada si ibunya Serius ini om 24 tuh satu keluar Satu ibu Satu suami, satu bapak Ada di pleret
Itu kalau nggak salah itu 24 deh. Itu kurang hiburan. Justru hiburannya itu. Ya itu. Gimana sih? Oh Dede gimana sih hiburannya itu? Karena dikurang hiburan itu yang dilakukan. Ah Dede flared. Saya pokoknya angkanya 22 atau 24. Pokoknya di angka itu. 20 lah ya pokoknya nih ya. Yang pokoknya di atas 20. Ibu-ibunya pernah ada di cek. Ada di...
Di wawancara saya, di ngobrolin saya, di obrolan saya ada. Di Youtube saya ada. Ini dengan orang dengan 22 anak. Ini bapak pernah bikin video itu ya waktu itu ya? Ada. Dengan 22 anak. Kalau orang dengan 22 anak itu harus kaya sekali. Kaya banget. Harus kaya. Kalau tidak kaya. Si ibunya jualan gorengan. Bapaknya narik beca.
Artinya gini loh, dia punya keunggulan yang lebih orang lain bikin anak bayi tabung. Ini kan nempel jadi. Iya bener, bener, bener. Ada lagi yang 16.
16, gak tau 16 atau 14, pokoknya segitu Kang Deddy ini mengatakan, ini adalah masyarakat menengah ke bawah ya? Iya Semua menengah ke bawah ya? Iya Oke, ya kalau dikaya kan gak peduli kita kan Kemudian kan ada lagi yang anaknya disuruh jadi pengamen, pengemis Itu banyak Banyak, nah kemudian kan saya temui bapaknya sama istrinya, apa ibunya sama bapaknya Kalau itu kan udah selesai Nah yang muda-muda, saya katakan
Anak banyak begini tanggung jawabnya bagaimana? Habis istri sayanya jebol terus. Ya saya bilang kalau istri saya jebol terus gitu loh. Mau nggak sih gitu loh. Gini kalau gitu bapaknya aja yang KB. Kan dari obrolan sederhana. Bapaknya KB. Gimana cara KB-nya? Yaudah yuk. Dan saya udah banyak ngajak dari lu sejak saya anggota DPR.
Tapi kata-kata kalau tidak KB tidak Bansos? Bukan, itu setelah jadi gubernur ceritanya beda lagi. Nah setelah jadi gubernur kan PMD provinsi banyak program nih. Ada program listrik free untuk warga. Jabar itu yang nggak punya listriknya hampir 157 ribu.
Berarti kalau pakai apa? Ya ada yang pakai masih cempor adalah. Nah sekarang saya target kan selaya mimpin tahun ini harus sudah pasang semuanya. Kemudian kan ada program bantuan pembangunan rumah. Ya kan 40 juta lumayan. Terus ada beasiswa pendidikan sampai perguruan tinggi gitu loh. Nah dari seluruh rangkaian ini. Nah kan ini kan dana negara.
Terus kemudian saya sering dijumpai juga, ngetok ke rumah. Kenapa? Istri saya masih di rumah sakit, belum bisa pulang. Kenapa? Melahirkan. Berapa biayanya? Saya sarpa 14 juta. Ada yang 23 juta, 24 juta ada. Itu dari PJS kan? Nggak punya.
Atau BPJS-nya kaprengan bisa semuanya. Nah, kemudian ada yang nggak punya juga. Kan tadinya pakai BPJS personal dia. Aranya sopir, segala macam. Saya kan suka canda. Kamu ini gimana sih? Giliran kamu bikin aku nggak pernah dikabar. Giliran melahirkan aku dikabar. Iya, benar-benar. Nah, saya kan. Loh, saya bilang kalau anak keberapa ini? Anak keempat.
Anak keberapa ini? Anak kelima. Loh, saya bilang Anda ini diberikan tugas oleh Allah untuk menjadi ayah. Karena untuk menjadi ayah, Anda ini bertanggung jawab terhadap kelahiran. Bertanggung jawab terhadap biaya hidupnya. Pendidikan. Nah sekarang jangan ingin ngomong pendidikan. Ngomong kelahiran aja udah gak bisa nanganin. Nah, maka saya menyampaikan kalau begitu, bagaimana kalau nanti
Ikut program KB deh Dan jangan selalu istri saya bilang Karena kan anda sebagai laki-laki yang bertanggung jawab Anda ikut dong program Pasektomi Dan rata-rata ikut itu Bansusnya? Lah?
Rumah sakitnya saya bayarin 25 juta. Besoknya saya kasih kerjaan. Banyak yang begitu. Di podcast saya banyak. Berarti kata-kata vasectomy untuk bansos tidak ada? Tidak ada. Nah yang saya sampaikan di Fidato itu adalah penerima bantuan sosial diharapkan. Diharapkan. Itu bisa mengikuti program keluarga berencana. Karena tidak ada artinya dibangunin rumah.
Kalau kemudian anaknya terus bertambah. Karena saya nemuin satu petak begini isinya 14. Karena kemudian saya nemuin juga satu keluarga di Majalengka. Seluruh anaknya nggak sekolah. Sementara dulu terusin dulu. Ya maaf, maaf. Saya yang wawancara ini. Ya maaf, maaf, maaf. Kan gue diomelin kan. Nah saya nemuin anak-anak di alun-alun Majalengka jualan.
Habis itu datang lagi kakaknya, datang lagi kakaknya. Jumlahnya ada 6, ada 7. Kemudian, rumahmu di mana? Ternyata ibu bapaknya ngontrak. Di kontrakannya ibu bapaknya lagi tidur. Ternyata setelah 7 itu, di rumahnya ada 3, 10. Ibunya itu lagi hamil lagi yang ke-11. Bayangin loh, rumah tidak punya anak 11. Saya katakan, Bapak bisa nggak sih Bapak ikut program pasektomi, Pak?
Jadi orang kalau nggak ngerti lapangan susah. Tapi kan banyak anak banyak rejeki. Ya kalau banyak anak banyak rejeki jangan ngontrak terus. Saya ini anak yang ke sembilan loh Pak. Sembilan? Sembilan dari sembilan bersaudara. Coba kalau tidak ada anak ke sembilan ya. Coba kalau berhenti. Coba kalau orang tua Anda berhenti di anak ke delapan. Tidak ada Kang Dedy Mulia.
Ya kan bisa jadi saya terlahir dari keluarga presiden. Kan itu urusan Tuhan. Lahir dulu kelahiran kita. Nah tetapi kan yang dari saya tahu betul ketika bapak saya anak sembilan itu bagaimana depresi bapak dan ibu. Maaf Kang boleh nggak saya nanya apakah jumlah anak berapa Kang?
orang tua sama orang tua? 9 karena itu terakhir ini pertanyaan personal gak apa-apakangnya apakah dari 9 anak itu jadi semua? jadi jadi semua? yang satu karena sakit gak jadi oke tapi maksudnya jadi semua? sekolah bapak saya semua anak-anaknya sekolah apakah orang tua akang dulu susah?
Pensiunan tentara. Para jurid. Palang tiga. Berarti masih bisa menafkahi? Masih bisa menafkahi. Tapi itu susah banget tuh. Ya karena ada gaji peninggal Bapak ya. Cukup juga kan sembilan. Ada sawah seperempat hektare. Oke. Dan pola pendidikan Bapak saya tuh bagus sama Ibu saya. Pekerja keras. Oke. Pertanyaannya adalah apakah semua orang kayak Bapak saya dan Ibu saya? Enggak. Iya, iya, iya.
Kalo abang mau nanya gitu, saya tadi mau bercanda waktu saya foto. Bukankah sebenernya lebih gampang ngasih tau mereka keluar di luar aja? Maksudnya kenapa harus? Suka kagok katanya. Gimana sih? Orang lagi enak-enaknya suruh dicabut.
oke lah, oke lah oke Kang kan ini yang peran dewasa kan di Youtube kita juga gak boleh anak-anak jadi ada ini dewasa udah aman oke Bapak dewasa? dewasa saya cabut Kang tapi gini Kang
Oke, saya setuju lah sama semua yang Kak ngomongnya saya setuju Nah, Kak merasa gimana sekarang dengan media yang ada sekarang? Either mainstream atau either potongan-potongan Apakah Kang Deddy dengan adanya sosial media sendiri dan sebagainya Apakah media yang lain ini membantu atau kadang-kadang menjerumuskan? Ya, kalau media sosial itu kan saya tuh gak punya yang namanya tim media
Kalau biasa pejabat lain kan ada tim media tuh Ini sendiri? Sendiri, gak punya Saya punya anak-anak yang tukang ngedit video saya aja Nah kemudian juga kan sampai saat ini ya Kan di Pemda Jawa Barat anggaran belanja medianya diepesienkan Dari 50 miliar jadi 3 miliar Artinya kan pasti banyak orang yang merasa kecewa dong
Nah sehingga saya menikmati nih sekarang ini Saya ini tidak punya juga orang kan suka kerahin tin badger tuh Saya tuh gak punya Nah memang rakyat Jabar ini kebijakan-kebijakan saya ini kan Mungkin banyak memberikan harapan pada mereka
Sehingga lahirlah kesadaran Nah kesadaran itu mereka yang aktif di media itu Mereka menyebar-nyebarkan Saya gak bicara itunya kan Saya bicara dengan media lain yang di luar Apakah kan sekarang banyak juga Kita gak usah sebut nama Tapi banyak juga media yang akhirnya Sorry kalau kita baca konteksnya menjatuhkan abang Oh iya banyak banget Karena marah kontraknya putus Ya aku ngomong aja Kontraknya putus Pokoknya kalau berita saya pasti dicari jeleknya
Dan saya baca tuh tiap hari. Baca? Dan saya nikmatin. Asik juga ya hidup dijelekin orang gitu loh. Saya tuh pernah lihat kontennya. Ah Kang ketika ngomong ya nih ada media yang ngomongin saya begini. Tapi coba buktikan dong. Coba begini, begini, begini. Oh iya tuh ada orang akademis. Ya akademis sih. Ada akademis sih yang ngomong saya apa artinya efisiensi anggaran di bidang media. Kalau akhirnya uangnya digunakan untuk bayar bajar.
Nah saya kan ngomong mbak, saya kata tes, saya bilang cari dong buktinya kalau saya bayar banjir pakai APBD. Ya itu yang kemudian...
Jadi rame karena Dinas Informasi Komunikasi Pasangin fotonya Padahal saya gak tau juga Dia pasang fotonya Kemudian ya jadi somasi terhadap Dinas Informasi Komunikasi Kalau sayanya gak disomasi karena saya kan gak pasangin foto Gak nyebut nama Gak nyebut nama Dan tetapi juga harus ada pembelajaran publik juga Hari ini kalau para Gini loh Sepengetahuan saya itu kan ada perbedaan Antara akademisi dengan prama Hahaha
Akademisi itu bicara berdasarkan riset Jadi dia bikin riset, paparkan risetnya Kemudian sampaikan ini loh temuan saya terhadap kebijakan Anda Bukan asumsi Saya juga jadi nanti saya juga bingung juga Membedakan mana akademisi Mana dukun Bukan tambahlah satu lagi Mana politisi
Ya kan akademisinya jadi berpolitik Menjadi partisan, arahnya ngedukung ke ini Arahnya ke sana, kan kita udah bisa baca Artinya apa yang akan lakukan Juga berpengaruh terhadap lawan politik Ya saya juga menjadi aneh Saya ini gubernur Jawa Barat Di kampung-kampung ngomongnya Sunda Tapi yang nyerangnya domisilinya Jakarta semua Waduh, kayaknya saya ini menarik Dan pada saat ini gak punya cita-cita jadi gubernur Jakarta Gak punya cita-cita Gak punya, gubernur Jawa Barat Tapi kan kalau suatu saat
Kesempatan dan dipilih oke dong Saya jabar lah Jabar? Jabar saya mencintai jabar Kan orang sekarang ngomongnya begini Sorry ya Misalnya Kang Dedy tuh katanya Gubernur konten Satu Wah ini pasti tujuannya nanti untuk Next lah Pemilulah apalah apalah Lagi mempersiapkan senjata untuk pemilu Setiap pemimpin kan ingin melahirkan yang terbaik dalam hidupnya Betul
Tuh. Bohong gak ada pemimpin yang tidak ingin baca market. Kan pasti ingin punya market. Market saya kan market Jabar. Yang jadi problem kan hari ini seluruh postingannya kan dibaca oleh warga se-Indonesia. Ya bukan salah saya. Ya tapi tadi kan akam mengatakan bahwa cita-citanya gak pengen jadi gubernur Jakarta. Enggak. Saya gubernur Jabar.
kan nantinya gimana? ya nanti gimana? nanti aja ya berarti ada kemungkinan setiap hidup kan ada kemungkinan artinya kan dari konten-konten abang itu bisa juga konten ini adalah sebuah kendaraan untuk kendaraan politik akang untuk ke arah sana dong konten itu, jangankan jadi kendaraan politik, kendaraan bisnis aja bisa iya itu saya lakukan
Jadi akan kalau ada orang ngomong gitu ya memang keadaannya begitu memang. Saya pokoknya hari ini saya berfokus pada menyelesaikan seluruh problematika jabar. Yang menjadi problem adalah bahwa konten yang saya sajikan ditonton orang dan disukai.
Oke, artinya bahwa semua politikus pun membuat konten kan? Semua menurut konten mereka menggunakan dinas informasi komunikasinya. Tinggal persoalannya ada yang nonton dan ada yang nggak nonton. Kalau nggak ada yang nonton, jangan marah ke saya dong. Marahin tuh dinas informasi komunikasinya. Kenapa kontennya tidak ada yang nonton? Semua kok. Bahkan kalau jujur-jujuran, saya tiap hari nggak pernah melibatkan dinas informasi komunikasi. Berarti saya bisa mengatakan Kang Deddy tidak butuh media.
Dari sisi aspek kepentingan, seluruh gagasan disampaikan pada masyarakat, media konten yang saya lahirkan itu sudah cukup. Dan kemudian hari ini media mainstream mengambil dari seluruh konten yang saya ajikan menjadi media, menjadi berita mereka. Ya alhamdulillah kita dibantu.
Ada yang bantu Ada yang menjerumuskan Tapi yang menjerumuskan juga kan Yang nontonnya tetap banyak Yang komennya banyak positifnya Iya sih Bener sih Nah Kang Deddy kalau dalam keadaan seperti ini Dengan kemampuan Kang Deddy bersosial media nih Saat ini Saya penasaran Kang Apakah Kang Deddy masih mau gitu Oke Diwawancara oleh media Oh masih Masih
Diundang ke TV. Saya kalau ketemu teman-teman wartawan kompensi pers. Oke diundang ke TV? Kemudian mereka juga secara personal saya tuh deket sama wartawan tuh. Deket dengan mereka? Kalau diundang ke TV talk show? Saya sampaikan dulu. Kalau saya tanya kamu ngapain beritain saya gitu? Kalau Dedy kayak nggak ngerti saja sih katanya gitu.
Ya udah, udah, udah. Nanti saatnya juga saya akan bertemu dan bicara, diskusi sebagai sahabat. Kan redaksi banyak sahabat saya lama. Ya kalau dicubitin dikit nggak apa-apa. Saya kan gubernur nakal. Nah kemudian diwawancara TV saya masih. Masih juga? Masih. Jadi tidak menutup dengan media ya? Nggak. Disuruh kesini saya malah. Lama.
ya kalau lama kan kita ngurusin orang 54 juta jabar nanti disebut lagi gubernur podcast lagi nanti Deddy kerjaannya dari podcast ke podcast nggak akan milih-milih kak kalau kita kan udah kenal lama kak iya kenal lama, cuma nasibnya udah beda nasibnya? ya Bang Deddy sudah ada pendampingnya saya belum oh
larinya kesana gimana sih tanya larinya kesana oke lah kang akang nih menemukan kasus-kasus seperti ini apakah karena laporan staff? gak keliling intuisi keliling jadi komplainan orang-orang ya kan tugas gubernur kan kok keliling
Iya, tapi kan nanti Anda dibilang, ya jalan-jalan doang. Jalan-jalan boleh. Tugas gubernur jalan-jalan di Jawa Barat. Lihat keadaan. Yang tidak boleh itu jalan-jalan ke luar negeri, menggunakan dana negara.
Study Tour maksudnya Study Tour. Ya, jadi Study Tour itu kan sebenernya anak sekolah itu Study Tour gara-gara ngikutin pejabat. Pejabatnya banyak studi banding. Saya anggota DPR dulu studi banding. Gimana gak banyak yang benci emang nih?
Jadi akang tuh masyarakat komplain, komplain, komplain. Oke, masalah terbesarnya apa? Ya sebenarnya bukan komplain ya. Jadi gini saya tuh gak tau ya dikasih sama Tuhan intuisi yang tinggi. Jadi kalau saya lawat, berhenti aja. Berhenti di sana. Ada apa Pak? Udah saya mau turun. Nah kemudian ketika turun saya kayak kemarin tuh. Saya mau ke acara IPDN, saya berhenti. Kemudian turun. Nah ada, ternyata ada. Bapak-bapak lagi nyangkul. Saya ajakin ngobrol.
Oh saya kulih disini Ternyata dia S1 teknik industri Tunggu tunggu tunggu Ini gak tau siapa ini? Gak tau Jadi mau turun tuh karena liat bapak-bapak Berhenti aja saya tuh gak pernah ada orang Ada riset rencana gak punya Tapi Kang Didi liat ada bapak-bapak dulu Ada bapak-bapak Kang Didi berhenti Nyamperin Untuk ngobrol Kenapa Kang Didi berhenti apa yang terjadi? Yang berhenti itu saya melihat Tanaman buah
Bukan karena bapak-bapak ini? Lihat bapak-bapak dulu sebenarnya. Karena lihat bapak-bapak kelihatan dalam pikiran saya, oh dia lagi jagain tanaman buah nih. Sekalian aja beli tanamannya. Habis itu ngobrol lah, dia cerita kan. Ditinggalin istri. Kemudian ngurus dua anak dan anaknya sekolah. Kemudian dia memilih pekerjaan menjadi kulinyangkul. Padahal S1? S1 teknik industri. Karena apa dia nyangkul?
Karena menurut saya ini adalah pilihan pekerjaan saya pada akhirnya. Karena? Agar dia tidak meninggal lagi anaknya. Karena dia kan sudah ditinggalkan sama istrinya. Anaknya nggak boleh jauh dari dia. Karena tidak ada lapangan pekerja? Bukan. Karena dia pernah kerja juga pernah. Nah kemudian akhirnya memelihara domba. Tapi bisa nyekolahin anak. Oh itu indah ya. Dan kemudian saya dombanya ada berapa. Ini kan domba orang saya urus. Nah itu kan kebiasaan saya. Kasih betina tiga.
Kan gitu loh Kasih betina tiga Nanti jadi domba sendiri nih Tapi hati-hati terhadap betinanya Jantannya harus tetap domba lagi saya bilang Ya kalau gak yang tadi 20 kan Oke Jadi tiba-tiba aja berhenti Iya saya biasa begitu Anda bisa lihat dong Dulu yang kasus orang meninggal di depan saya Iya Itu kan saya berhenti Itu saya udah masuk tol balik lagi Aku mau kesana deh jalan-jalan sini
jadi akang tuh kalau ngebantu anak kayak ini nih anak saya tuh waktu itu pernah podcast sama belum taing podcast sama itu RT Jensi dia kan nolak uang Kang Deddy kan / hebat dong dia nolak uang Kang Deddy tapi uangnya Gibran diterima sih ya bagus dong nolak dari saya / iya iya saya gak mengatakan jelek kan kan saya bilang bagus mungkin Kang Deddy lebih butuh uang
kan saya bisa kasihin sama yang lain sebenarnya problem kemiskinan yang ada disana tuh terbesarnya karena apa kan? pendidikan? kerjaan tidak ada? sebenarnya sih problem kemiskinan itu pada akhirnya ya pada akhirnya saya kan menganalisis ya pertama memang mungkin kesempatan yang agak terbatas itu yang pertama ya yang kedua perilaku perilaku? wah berat nih kalau perilaku itu yang ingin saya ubah itu
coba definisikan dulu perilaku jadi begini kan begini anak ke sekolah kan sudah tau sekolah sudah subsidi dong kan udah free tuh di Jawa Barat nah kalau sudah free berarti tugas negara memperikan pendidikan itu kan tujuannya agar orang tua tidak terbebani biaya pendidikan orang tua kita coba apa yang dilakukan anak-anaknya kan tetap jajan iya dong kan bisa gak jajan bikin di rumah gitu masak di rumah dong
Dan itu saya waktu jadi bupati Itu saya berlaku Itu bukan hal kecil Tapi itu bisa membangun karakter manusia ke depan Dia jajan loh 10 ribu, 15 ribu, 20 ribu Per hari Coba kalau uang itu Uang jajannya itu disimpanin di celengan Kemudian dibeliin kambing kalau dia di desa
Dibeliin ayam Ini kan pikiran bisnis Beternak Nah kan saya dulu itu Jadi kalau ditanya anak ke sembilan Kenapa anda sukses Karena saya Waktu disunat Sama ibu saya Saya bertarung sama ibu saya Ibu saya itu pengen Uang saya yang dari disunat itu Dibeliin cincin Saya ingin dibeliin sepeda-sepedaan pit-pitan Oke
Saya ngamuk di pasar, ibu saya bertahan. Akhirnya saya tetap beli cincin. Setengah gram, harga zaman itu, itu 750 rupiah. Tahun 76, 75. Cincin apa? Cincin buat akang atau cincin buat? Iya buat saya. Oke. Saya karena kecil. Oke. Tulisin A di sini. Nah waktu saya SD, SD. Teman-teman tuh pelihara kambing. Domba. Saya.
Saya ingin, kata bapak saya, uangnya dari mana? Beli dombanya. Ini cincin saya dijual. Investasi. Kemudian jadilah 7,5 juta dari 750 ribu. Itu mungkin harganya naik ya. Dan dari situlah saya punya domba. Dari situlah saya hidup mandiri. Kenapa? Saya punya produksi, punya peternakan. Waktu saya habis untuk nyabit. Artinya harus orang tua yang mengajari. Orang tua harus mendidik anaknya entrepreneur sejak itu. Ngotot-ngotot deh. Berkelahi ya berkelahi sama anaknya bahasa kasar ya. Tegas-tegasan sama anaknya. Tradisi.
Anak saya kan masuk sekolah setengah tujuh nih Udah di kelas Bukan jam enam loh Setengah tujuh Anak saya itu nih Yang itu kan punya kebiasaan Tidurnya bangun jam setengah lapan Kan merubah kan Hari pertama Dia kesiangan Hari kedua Dia telat setengah jam Hari ketiga Telat seperempat jam Hari keempat
Dia sudah bangun sendiri, pergi ke kamar mandi sendiri, gosok gigi sendiri, nyiapin sepatu dan siap berangkat setengah enam. Sekarang nih yang jam enam pagi sudah di sekolah. Kenapa? Karena bapaknya memaksa anaknya untuk bangun pagi. Nah, problem hari ini adalah anak yang memaksa orang tuanya. Anak yang memaksa orang tuanya beli HP, anak yang memaksa orang tuanya beli motor,
Anak yang memaksa uang tuanya harus ada uang jajan Kalau tidak ada jajan tidak sekolah Anak yang memaksa orang tuanya Mengikuti kegiatan-kegiatan Di luar dulu istilahnya outing kelas Hari ini terbalik Anak dibawah Orang tua dibawah kendali anak Karena kalau misalnya orang tuanya Kayak zaman dulu kena KPAI
Ya kan lebih baik ditegur oleh KPAI Ya kan lebih baik ditegur sama KPAI anaknya punya masa depan Daripada Ada guru Itu dipondokan pesantren Ada guru dilempar sandal Gurunya kesel lempar sandal Lampar anaknya di madrasa Kena ke polisi Zaman saya dulu dilempar penggaris Dilempar kayu saya Tidak bisa lapor
Di Jawa Barat hari ini untuk sekolah di bawah kewenangan gubernur. Seluruh orang tua siswa mendana tangani kesepakatan. Pernyataan di atas notaris. Tidak akan menuntut guru apabila ada tindakan guru dengan tujuan mendisiplinkan. Tujuan mendisiplinkan. Tapi harus ada batasan. Ada yang bukan perbuatan yang bersifat penyiksaan.
wah gila emang boleh ya? boleh dong kita nyiapin pas negara nyiapin fasilitas mereka sekolah masa kan negara harus wah gila ini serius kan? serius cek jawabannya
Saya detil loh ngurusin Sekarang saya mau bikin kebijakan lagi Setiap siswa nanti diketahui oleh orang tuanya Oleh walinya menanatangani Akan mentaati peraturan lalu lintas Kenapa? Anak-anak ke sekolah gak pake helm Ya naik motor, tiga Iya kan? Nah dari situ kan kita menjadi problem Kenapa problemnya? Mohon maaf ya Saya itu dicacimaki orang Gara-gara mengefesienkan anggaran Hanya untuk anak-anak bisa sekolah di Jawa Barat
Dengan berbagai daya yang saya miliki. Nah kemudian uang yang saya gunakan masa anak-anak yang dihasilkan. Menghabis-habiskan uang untuk merokok. Untuk balapan. Kan ini harus dirubah ini bangsa. Tetapi...
Bang Deddy bisa lihat. Apakah saya di bencian mana sekolah? Enggak. Ya itu yang dikirim-kirim ke Barak awalnya. Eh ada yang mau pulang. Enggak mau pulang dari Barak itu problemnya adalah di rumah. Iya makanya. Mereka itu akhirnya. Kenapa? Karena orang tua saya begini, lingkungan saya begini. Jadi kalau saya simpulkan hari ini adalah ketika anak-anak pulang dari Barak. Lingkungan keluarga tidak mendukung. Lingkungan masyarakat hari ini sudah bukan lagi habitat yang layak untuk anak-anak tumbuh dengan baik.
Dan perlukan ketegasan Jam 9 harus tidur Jam malam turun tuh angka Kriminal dan kemudian Saya tuh monitor tiap hari begitu besok Misalnya ada kejadian pengoroyokan Langsung telepon Pak Kapolda Pak Kapolda itu biasanya saya butuh Waktu 1x24 jam Pak Gubernur Nah tiktok tuh Selesai Kan harus begitu It works sih
Harus ada aturan Di Indonesia ini negeri yang nyaris Jawabannya Yang seperti kehidupannya tanpa aturan Harus ada aturan Karena biar gimana pun setuju tidak setuju Saya setuju bahwa aturan keras itu harus ada Contohnya gini Saya selalu ngomong kenapa di Singapura buang sampahnya gak sembarangan Ya karena kalau buang sampah sembarangan Ketauan abis di Singapura Ada pertanyaan kenapa orang Indonesia
Kalau di luar negeri tak ada macam aturan. Buang rokok, bener buang rokok. Balik lagi ke airport, buang. Kenapa di dalam negerinya mereka seperti melanggar? Kenapa? Berarti penegakannya lemah. Orang luar negeri terbalik. Dia mabuk di kita. Iya.
Tanpa helm, nggak pakai baju. Tapi kan banyak orang mengatakan harusnya tidak boleh dengan gaya menakut-nakuti. Itu kan yang jadi masalah, Kang. Oh, nggak. Problemnya adalah bangsa Indonesia dari sisi aspek pikiran orang Jawa Barat tidak mengalami masa renaisan. Bayangin, pra-sejarah, abad sejarah, kerajaan, masa kolonial, takut sama kolonial tuh karena takut, kan? Setelah itu masa kemerdekaan, merdeka! Buyar! Buyar! Hahaha!
Nah kemudian habis itu tidak ada lagi penegakan. Kan gitu loh. Jadi ini problemnya. Jadi dari abad sejarah, abad kerajaan, abad kolonial. Terus abad orde lama, orde baru langsung ke teknologi. Kaget ya. Loncat. Tahapannya nggak dilewatin. Makanannya nggak dicerna, langsung ditelen. Iya sih.
Jadi kalau di luar negeri mengalami proses logika. Misalnya gini deh. Saya kan orang tradisi nih. Orang tradisi itu. Kalau ada pohon dulu. Eh pohonnya jangan ditebang. Karena disitu ada penunggunya. Betul. Datang kita. Oh kamu musyrik. Gitu loh kan.
langsung ditebang padahal bukan begitu harusnya penjelasan eh di pohon ini merupakan sumber air pusatnya ekologi ada ularnya segala macam itu ekologi dan ekosistem harus dijaga dan airnya kita nikmatin untuk itu yang nunggu di pohon itu adalah ural kobra gitu loh
Karena lebih baik dibohongin Langsung dilarang dibandingkan dijelaskan Kadang-kadang begitu Karena orang-orang yang dijelaskan kadang-kadang gak mau dan gak paham Dan yang terpenting adalah Kita lihat dong Kita ini orang aku modern Kan diaturnya oleh undang-undang Kan gak taat Coba kaum tradisi misalnya orang Baduy Dia hanya Menggunakan Keyakinan pada leluhurnya Lebih taat Hahaha
Jadi orang Indonesia tuh seneng ditakut-takutin, Pak. Ya tapi memang bener sih. Saya kejadian kemarin sama Aska, kan libur tuh. Niana kan libur kan, karena kuliah lagi libur kan. Waduh bangun jam, tidur jam berapa? Bangun jam 3 siang. Tidur bangun, saya jam 8 pagi bangun, saya nyalain lampu semua, saya tarik, itu, bangun lu, bilang gitu kan. Iya bangun. Tidur lagi. Hahaha.
besokannya gue gitu bangun gak lo tidur lagi besokan 3 hari dia ngambek ngambek kan yaudah ya saya gak akan bangunin kamu lagi gue gak peduli
Gue gak peduli sama lo itu Mulai itu, karena dibilang gak peduli mulai itu Besokannya Kang Yayan lagi ada disini kan Kang Yayan Ruhian lagi ada disini Bikin latihan sama Kang Yayan Jam 9 pagi, jam 8 pagi Yang ngontak dia Kang Yayan Ruhian Takut dia, bangun jam 7 Mampus Kemarin malem sama Kang Yayan Dibilang, kamu abis disini pergi renang Jam 8 malem, renang dia Gue ngomong gak didekat
Emang harus ada orang-orang kayak gini? Iya. Sekarang gini, dilalu lintas deh. Orang kenapa pakai helm? Takut. Takut polisi. Iya, bukan karena takut kecelakaan. Bukan takut kecelakaan. Ini problem kita. Artinya gini loh. Bahwa pendidikan. Edukasi ya. Pendidikan kita.
Tidak membentuk karakter manusia Pendidikan kita hanya melakukan proses pengajaran Tidak melakukan proses pembelajaran Guru dalam pikirannya Itu hanya dikejar bahwa dia harus menyampaikan seribu halaman Ya
Artinya kalau begitu yang harus dirubah juga pendidikan. Pendidikan bagi saya, guru tidak mesti menyampaikan seribu halaman. Cukup satu halaman, tetapi satu halaman itu dimaknai dan dipahami oleh siswanya. Betul, saya setuju. Saya setuju, itu terjadi di mana-mana. Terjadi di mana. Karena terlalu banyak informasi yang dimasukkan, kita nggak bisa jadi apa yang kita mau. Dan kalau saya juga kritik, pelajarannya kebanyakan. Jamnya kelamaan. Memang.
Memang Masuk setengah tujuh pulang setengah tiga Tapi kan dulu katanya supaya gak berkeliaran
ya kalau tujuannya untuk tidak berkeliaran, benar juga soalnya kalau anak sekolah kita, masuk setengah 7 pulang setengah 12, itu nggak balik ke rumah iya, makanya pergi ke tempat lain tapi berarti harus ketemu sistem yang benar ya harus ketemu sistem yang benar artinya bahwa circle dari rumah sampai ke sekolah itu satu circle nah sekarang kan, rumah ke sekolah circlenya beda-beda iya betul-betul
Jadi memang sulit Tapi intinya jangan stop kita nyerah ya Iya tapi kalau Bang Deddy sama saya satu circle Satu saya Oke Kang Deddy memang Saya setuju sih Maksudnya memang kita harus seperti itu Dan sekarang tuh Karena saya tuh ngalamin gini Kang Contohnya dulu waktu saya belajar sulap Oh pernah? Saya pernah Hahaha
Pernah jadi pesulap. Saya baru tahu. Dikira Bapak itu TNI aja. Ternyata Bapak pesulap asalnya. Tapi saya tuh merasa gini. Kenapa saya jadi bagus banget? Karena di zaman itu, Kang. Untuk dapetin satu buku aja, Kang. Susahnya sengamati. Buku dari, wah susah. Jadi fotokopia, minta orang, minjem. Akhirnya cuma punya satu buku.
Hatam. Dan sekarang dengan bajakan banyak, apa banyak, apa banyak, semuanya banyak. Akhirnya orang belajar itu setengah-setengah semua. Dan itu kayaknya memang di zaman kita itu dipaksa untuk, lu kalau nggak jadi, hancur. Kok Pak Deddy nggak ditangkep ya? Kenapa Pak? Bapak kan dulu kerjaannya bohongin orang. Saya ini, ngomongannya hilang. Hahaha.
- Oke, Kang Reddy. Terima kasih banget udah datang ke sini. - Tapi saya pernah lo ngikutin. Kan tuh Bapak suka tuh. Saya kan zaman nonton TV waktu itu kan. Bapak tuh ngajarin tuh. - Bengkok di Sendok. - Konsentrasi, Sendok di Bengkokin. Saya ngikutin. - Ketipu kan? - Iya, nggak boleh ngikutin. Saya bilang ini saya ditipu. - Kang, tapi terima kasih ya Kang udah mau mampir ke sini. - Terima kasih. Mungkin...
Tapi akan gak jerah dengan semua kritik, kata-kata, makian Kan ada pasti ya Atau serangan lah Entah dari mana, mau politik, mau media, mau apa Gak jerah kan? Enggak Tetap akan lanjut Terus aja Dengan gayanya Kang Dedy Dinikmati dan sepengetahuan saya Pemimpin yang banyak dicaci make Ketika saat memimpin Kemudian ketika dia nanti berhenti meninggalkan legasi Dia akan ditangisi Iya
Jadi tetap akan dengan kayak Kang Deddy? Kayak gini deh, kita punya bapak Galaknya minta ampun Tapi membentuk karakter kita menjadi orang hebat Begitu gak ada? Gak ada, aduh bapak, aku kalau gak ada bapak Baru tuh ya Saya kan ke ibu saya, kalau gak ada ibu saya dulu kok gak bisa beli domba Gitu kan, itu jadi kenangan Padahal waktu saat mau beli sepedanya ribut Ribut? Di Indonesia apa sih yang gak ribut? Kang boleh gak ini Kang? Apa? Pertanyaan bodoh buat nutup aja Pedoman hidup lah Kang, apa Kang?
Pedoman hidup ya? Untuk melakukan ini semua kan harus punya sebuah keyakinan gitu bahwa gue ya apa itu saya ingin tahu. Saya pedoman hidup saya itu adalah saya selalu meyakini apa yang saya lakukan itu pada akhirnya akan berhasil. Oke. Itu keyakinan saya. Dan tidak peduli dengan kata orang? Aku tidak pernah peduli pada siapapun. Aku hanya peduli sama kamu. Yang suka sama ayo. Hahaha.
Kang Deddy terima kasih banyak Terus membuat geberakan-geberakan baru Yang pasti Saya setuju dengan berbagai pola pikir Kang Deddy Memang kadang-kadang ya aturan harus ada Karena Indonesia kalau tidak ada aturan Berantakannya kemana-mana Kang Deddy terima kasih banyak Let's close this 5 4 3 2 1 And close the door
Lanjutkan dengan YouTLDR
Analisis video lain dengan Pro
Proses video baru, telusuri setiap timestamp, bandingkan sumber, dan simpan hasilnya di pustaka Anda.
More transcripts
Explore other videos transcribed with YouTLDR.

Leilão de Embriões Nelore PO DNA Genética Aditiva
LANCE RURAL OFICIAL · Portuguese (Portugal, Brazil)

Leilão Peso Pesado Rima Agropecuária
LANCE RURAL OFICIAL · Portuguese (Portugal, Brazil)

النبي .. جبران خليل جبران .. إقرا بودانك
اقرا بودانك · Arabic

Leilão Internacional CIA
LANCE RURAL OFICIAL · Portuguese (Portugal, Brazil)

23° Mega Leilão Genética Aditiva - 1ª Etapa Fêmeas Nelore PO
LANCE RURAL OFICIAL · Portuguese (Portugal, Brazil)

كتاب رسالة الغفران
كتابي المنقذ · Arabic

Erkenntnistheorie 7 Immanuel Kant II
Dominik Finkelde - Hochschule f. Philosophie · English

Schwarze Löcher Erklärt - Von der Geburt bis zum Tod
Dinge Erklärt – Kurzgesagt · German

Como construir uma esfera de Dyson – A Megaestrutura Suprema
Em Poucas Palavras – Kurzgesagt · Portuguese (Portugal, Brazil)

[Histoire des sciences] L’histoire de l’intelligence artificielle (IA)
CEA · French

ميكانيكا الكم│1│الواقع الوهمى - كيف بدأ الكم ؟!
Sharafestien - شرفشتــاين (Sharafestien) · Arabic

Mi niñez fue un fusil AK-47
Comisión de la Verdad · Spanish