Full Transcript

·YouTLDR

eLearning Mental Health and Its Impact on the Future Among Awardee - Episode 1

32:14IndonesianTranscribed Jul 24, 2026
0:35

[Musik]

1:15

Where do you think

1:19

you have been

1:24

defeat

1:25

[Musik]

1:32

[Musik]

1:38

[Musik]

1:44

[Musik]

1:46

H

1:52

[Musik]

2:14

[Musik]

2:18

Selamat datang di e-learning mental

2:20

health and impact in the future amongst

2:22

awardy. Halo, perkenalkan aku Kasandra

2:25

tim LPDP dan hari ini kita akan membahas

2:28

topik yang sudah sangat populer yaitu

2:30

kesehatan mental. Teman-teman akan

2:33

mengetahui bagaimana kesehatan mental

2:35

mempengaruhi masa depan teman-teman

2:37

sebagai ORDI dan secara khusus tantangan

2:40

yang dihadapi oleh para LPDP.

2:43

Kesehatan mental bukan hanya tentang

2:45

ketiadaan gangguan mental, tetapi juga

2:48

tentang kesejahteraan emosional,

2:50

psikologis, dan sosial.

2:53

ini mempengaruhi cara kita berpikir,

2:55

merasa, dan juga bertindak. Kesehatan

2:58

mental itu kayak hidden super power atau

3:01

hidden jam yang sering dilupakan atau

3:03

disepelekan. Padahal kesehatan mental

3:06

ini yang bikin kita kuat loh hadapin

3:08

dunia. Apabila jiwa kita sehat, kita

3:11

bisa lebih produktif, fokus, kita juga

3:14

bisa lebih mikir kritis, lebih inovatif,

3:17

dan pastinya kontribusi kita buat

3:19

masyarakat jadi lebih maksimal.

3:22

Di era yang perubahannya serba cepat dan

3:24

penuh tekanan ini, kesehatan mental

3:27

menjadi semakin penting, terutama saat

3:30

LPD Pren sedang studi dan jauh dari

3:32

rumah atau tanah kelahiran.

3:35

Untuk membahas tentang ini, kita sudah

3:37

kedatangan seorang narasumber yang akan

3:40

bantu teman-teman memahami konsep dasar

3:42

kesehatan mental. di mana dampaknya

3:45

kehidupan penerima beasiswa dan gimana

3:48

sebagai penerima beasiswa bisa lebih

3:51

aware sehingga teman-teman bisa saling

3:53

peduli dan mendukung jika ada yang

3:55

mengalaminya.

3:56

Kalau begitu langsung aja kita sambut

3:59

narasumber kita pada hari ini yaitu Kak

4:01

Rikza. Halo Kak Rikza, apa kabar?

4:04

Halo Kak Sandra, alhamdulillah baik.

4:07

Oke, terima kasih sudah join kita hari

4:08

ini dan kita langsung aja nih ya Kak

4:10

bahas tentang gangguan mental dan

4:12

kesehatan mental.

4:14

Oke, jadi sebelum kita masuk lebih dalam

4:16

ya sebagai pembuka supaya teman-teman

4:18

juga lebih paham konteksnya, bisa tolong

4:20

enggak, Kak dijelasin dulu sebenarnya

4:22

apa sih gangguan kesehatan mental atau

4:25

kesehatan mental itu dan sejauh mana

4:27

gangguan mental bisa mempengaruhi

4:29

kehidupan seseorang khususnya untuk para

4:31

penerima beasiswa. Oke.

4:34

Jadi, kesehatan mental itu lebih dari

4:37

sekedar tidak mengalami gangguan gitu

4:39

ya, tetapi juga seseorang itu harus bisa

4:42

mengelola emosinya dengan baik, kemudian

4:44

berpikir jernih, beradaptasi dengan

4:46

tantangan, dan juga dapat menjalani

4:49

kehidupan dengan seimbang.

4:51

Tantangan, kegagalan, dan tekanan itu

4:54

sebenarnya hal yang lumrah ya, wajar ya,

4:57

karena itu merupakan bagian alami dari

4:59

kehidupan. Semua orang pasti

5:00

mengalaminya. Nah, kesehatan mental yang

5:03

baik membantu seseorang menghadapi hal

5:06

tersebut secara lebih efektif. Manfaat

5:09

kesehatan mental yang baik adalah

5:11

meningkatkan ketahanan terhadap stres,

5:13

membantu menjaga hubungan sosial yang

5:16

sehat, dan juga meningkatkan

5:18

produktivitas serta fokus terutama pada

5:21

studi karena ee konteksnya adalah

5:23

penerima beasiswa, ya.

5:25

Nah, jika seseorang mengalami gangguan

5:28

kesehatan mental seperti kecemasan,

5:30

depresi, dan juga burn out, maka dapat

5:33

menghambat kehidupan sehari-hari.

5:36

Gangguan mental itu dapat mempengaruhi

5:38

cara seseorang berpikir, bertindak,

5:40

merasa gitu ya. Nah, ini juga akhirnya

5:43

akan berdampak pada kondisi fisiknya

5:46

seperti misalkan sulit tidur, ee

5:49

kelelahan yang terus-menerus dan juga

5:52

mengubah nafsu makan. Ada yang sampai

5:54

makannya tiba-tiba banyak banget. Ada

5:57

juga yang malas makan sampai enggak

5:59

makan sama sekali gitu ya.

6:02

Heeh.

6:04

Wah, berarti berpengaruh banget ya bagi

6:05

kehidupan sehari-hari. Apalagi kalau

6:07

tidur enggak berkualitas tuh tesnya

6:09

seharian capek.

6:10

Betul. Betul.

6:11

Padahal kalau lagi studi tuh pasti butuh

6:13

banget fokus.

6:14

Heeh.

6:14

Nah, kita sering lihat nih gimana

6:16

penyakit fisik itu bisa nyebabin

6:18

seseorang kehilangan kemampuan untuk

6:20

beraktivitas. Contohnya tuh kan demam,

6:22

harus beristirahat. Betul.

6:24

Nah, kalau dibandingin dengan penyakit

6:25

fisik, apa sih dampak gangguan kesehatan

6:28

mental terhadap kehidupan seseorang? Dan

6:30

benar enggak sih sampai bisa nyebabin

6:32

disabilitas kayak penyakit fisik, Kak?

6:34

Heeh. Itu sangat bisa ya, Teman-teman.

6:37

Nah, gangguan kesehatan mental itu kan

6:39

bukan hanya sekedar masalah pikiran,

6:41

tetapi bisa mempengaruhi seseorang untuk

6:44

berpikir, merasakan, dan bertindak. Nah,

6:46

dampaknya itu bisa ke aspek ee

6:49

emosional, bisa juga sosial, akademik,

6:52

finansial, dan juga terutama di fisik.

6:55

Seperti penyakit fisik lainnya, gangun

6:58

kesehatan mental itu bisa menyebabkan

7:00

penurunan produktivitas dan kesulitan

7:02

menjalani aktivitas sehari-hari.

7:05

terutama untuk penerima beasiswa yang

7:07

lagi studi. Ee misalkan juga ketika

7:10

mereka lagi bimbingan kalau misalkan

7:13

lagi enggak fokus kan enggak bisa dong

7:15

berdiskusi dengan nyaman dengan dosen

7:17

pembimbing ataupun misalkan ee sedang

7:20

penelitian kalau misalkan lagi dalam

7:22

kondisi down lagi stres akhirnya malas

7:24

untuk turun ke lapangan seperti itu

7:27

contohnya. Nah, ee organisasi kesehatan

7:30

dunia atau WHO mengakui bahwa beberapa

7:34

gangguan kesehatan mental berat seperti

7:36

skizofrenia, depresi berat, gangguan

7:39

bipolar, dan PTSD atau postraumatic

7:42

stress disorder itu bisa dikategorikan

7:44

sebagai disabilitas mental jika

7:47

menghambat seseorang dalam menjalani

7:49

kehidupan normal.

7:51

Nah, dampaknya bisa menurunkan fungsi

7:54

belajar, interaksi sosial, bekerja, dan

7:57

lain-lain. Pun secara fisik pada kasus

8:00

stres dan kecemasan itu bisa menyebabkan

8:03

seseorang mengalami gangguan tidur,

8:06

kemudian penyakit jantung karena ee

8:09

jantungnya berdebar terus, kemudian juga

8:12

melemahkan sistem imun seperti itu.

8:15

Oh, ternyata gangguan mental itu bisa

8:17

berpengaruh ke fisik dan juga kehidupan

8:19

sehari-hari ya, Kak?

8:20

Heeh.

8:21

ee jadinya performa penerima beasiswa

8:24

itu pasti turun

8:26

enggak fokus juga nih Kak masih banyak

8:29

banget orang yang menganggap bahwa

8:31

gangguan mental itu cuma di kepala

8:33

dan bisa disembuh bisa disembuhin dengan

8:35

positive thinking it benar enggak sih

8:37

Kak?

8:38

Nah, gangguan kesehatan mental itu kan

8:40

tidak hanya di pikiran ya atau di

8:41

mindset aja tapi ada faktor-faktor

8:44

biologis, faktor-faktor psikologis dan

8:46

sosial yang mempengaruhinya.

8:49

Tudi itu menunjukkan bahwa

8:50

ketidakseimbangan neotransmitter dan

8:53

hormon bisa berperan dalam kondisi

8:55

seperti depresi dan kecemasan.

8:58

Berpikir positif itu memang membantu,

9:01

namun bukan solusi utama atau solusi

9:04

tunggal. Seperti penyakit fisik,

9:06

gangguan kesehatan mental itu juga butuh

9:08

penanganan yang tepat seperti konseling,

9:11

psikoterapi, perubahan gaya hidup,

9:13

dukungan sosial, dan bahkan obat jika

9:15

perlu. Namun perlu digaris bawahi bahwa

9:18

satu orang dengan orang lainnya itu em

9:21

akan berbeda ya treatmentnya akan

9:23

berbeda. Jadi butuh treatmen yang ee

9:26

satu dan lain itu akan mungkin sangat ee

9:30

berbeda penanganannya atau juga mirip

9:32

tapi ee ketika dijalani perasaannya atau

9:35

kondisinya akan jauh berbeda gitu.

9:38

Karena manusia itu kompleks ya, Kak?

9:39

Betul. Sangat dinamis.

9:41

Betul. Dan itu namanya tadi toksik

9:43

positivity ya kalau enggak salah. Bisa

9:46

jadi itu merupakan toxic positivity

9:48

apabila kita merasa eh orang itu harus

9:53

dalam kondisi sehat terus atau harus

9:55

dalam kondisi ee mentalnya stabil terus

9:58

gitu. Kita itu tidak hanya ee harus

10:02

menjaga kesehatan fisik tapi juga

10:04

mental. Namun kalau kita dituntut untuk

10:06

selalu ee sehat mental tanpa adanya ee

10:10

kondisi-kondisi yang misalkan kita lagi

10:12

stres terus kemudian kita enggak boleh

10:14

nih ee mudah goyah gitu, enggak juga

10:17

kita enggak apa-apa kok goyah gitu.

10:18

Makanya jangan e ragu untuk mencari

10:20

bantuan profesional, bantuan ke

10:22

orang-orang sekitar ya.

10:24

Betul. Iya betul.

10:25

Nah, dari pengalaman atau riset biasanya

10:28

gangguan mental apa sih yang rawan

10:30

muncul waktu sebelum studi nih, Kak?

10:32

Bagi penerima beasiswa. Oke, ini ee

10:35

pengalaman yang pernah ditangani di LPDP

10:37

ya. Jadi ee di sebelum studi itu

10:41

biasanya penerima beasiswa merasa cemas

10:44

berlebih atau kalau secara medis eh

10:49

anxiety disorder gitu. Nah, kalau e

10:52

sebelum studi itu kekhawatirannya

10:54

biasanya di persiapannya ada perasaan

10:57

apakah mampu nanti mengikuti

10:59

perkuliahan, apakah mampu aku ee

11:02

mendapatkan beasiswa seperti itu. Nah,

11:04

kemudian ketika sudah ee memasuki

11:07

mungkin sudah CPB ya itu takut gagal

11:10

memenuhi ekspektasi diri sendiri ee

11:13

keluarga, rekan kerja, instansi mungkin

11:17

atau

11:17

atau bahkan

11:18

atau bahkan pemberi beasiswa. Betul

11:20

banget.

11:21

Nah, kemudian juga kadang-kadang ee

11:23

penerima beasiswa itu overthinking-nya

11:25

masalah visa. Kok visanya enggak

11:27

muncul-muncul, enggak terbit-terbit

11:29

gitu. Terus ada juga yang saat

11:31

keberangkatan itu sudah mulai merasakan

11:34

ee kecemasan dan juga adaptasi budaya di

11:37

sana seperti apa ya. Karena kan ini

11:39

mungkin pengalaman pertama kali penerima

11:41

beasiswa untuk ke luar negeri atau

11:43

tinggal lama di luar negeri gitu.

11:46

Nah, selanjutnya biasanya ada impostor

11:49

syndrome.

11:51

Di penerima beasiswa itu merasa bahwa

11:54

dirinya kadang-kadang ee tidak sesuai

11:58

dengan ekspektasi ya. Jadi, ada perasaan

12:01

takut, ketahuan bahwa dirinya itu

12:03

sebenarnya enggak cukup kompeten gitu.

12:05

Padahal sudah diterima menjadi penerima

12:07

beasiswa.

12:07

Betul. Dengan seleksi yang panjang.

12:09

Betul. Sudah panjang prosesnya,

12:12

melelahkan pula. Tapi ada perasaan bahwa

12:14

jangan-jangan aku enggak cukup baik

12:16

untuk menjadi penerima beasiswa.

12:19

Nah, selanjutnya burn out akibat

12:21

persiapan yang intensif. Karena kan saat

12:25

kita ee apply beasiswa itu banyak banget

12:28

yang harus diisi kan.

12:29

Nah, terus juga dokumen-dokumen yang

12:31

dikumpulkan juga sangat banyak. Kemudian

12:34

ee tes-tesnya juga harus bersaing dengan

12:37

berapa ribu, puluhan ribu orang ya untuk

12:41

ee bisa sampai ke tahap ee selanjutnya

12:45

sehingga itu sangat melelahkan. Kemudian

12:47

mungkin juga ada yang sudah mencoba

12:49

berkali-kali terus kok enggak ee

12:53

dapat-dapat ya beasiswanya sehingga

12:54

muncul rasa lelah dan jenuh ketika belum

12:57

mulai studi bahkan.

13:00

Nah, yang terakhir biasanya ee depresi

13:02

ringan. Jadi, ee munculnya itu karena

13:06

stres berkepanjangan akibat ee

13:08

persiapan. Ee gejalanya bisa berupa

13:11

kehilangan motivasi, ee mudah menangis,

13:14

dan menarik diri dari lingkungan seperti

13:17

itu.

13:18

Iya, sayang banget ya. Padahal ee

13:19

persiapan sebelum studi itu malah banyak

13:21

banget sih.

13:23

Heeh.

13:25

Betul. Bahkan sebelum studi tuh sudah

13:26

banyak banget ya hal-hal yang bisa buat

13:28

para awardi ini overthinking berujung

13:31

pada gangguan mental.

13:32

Heeh. Betul. Betul.

13:33

Kalau saat setelah kalau saat studi nih

13:36

ee gimana nih? Apakah karena sudah

13:39

dijalani jadinya bisa lebih santai atau

13:41

malahan semakin berpotensi mengalami

13:43

hal-hal yang bikin makin overthinking

13:45

gitu?

13:46

Oke. Nah, selama studi itu kan ee banyak

13:50

sekali variabel-variabel yang dihadapi

13:52

ya oleh penerima beasiswa. mungkin ee

13:55

Kak Sandra juga ketika studi dulu,

13:58

ketika kuliah dulu ngerasakan bagaimana

14:01

ee dinamika perkuliahan itu sangat

14:03

kompleks gitu. Nah, ini juga ee dihadapi

14:07

oleh penerima beasiswa.

14:09

awalnya itu biasanya yang paling banyak

14:12

muncul ya di awal-awal itu depresi

14:14

akademik karena ee lagi ee adaptasi sama

14:19

situasi yang baru. Nah, biasanya tuh

14:22

beban tugas karena riset mungkin yang di

14:25

awal-awal itu seperti ee penerima

14:27

beasiswa yang sudah S3 itu biasanya di

14:30

depan itu sudah langsung dihadapkan pada

14:32

riset-riset. Jadi mereka sudah mulai

14:36

harus fokus ke penelitian padahal itu

14:39

panjang sekali prosesnya gitu. Jadi itu

14:41

ee memunculkan depresi akademik.

14:44

Kemudian juga ketika sudah mulai studi

14:47

em ekspektasinya sebelum studi itu nanti

14:50

akan menemui berbagai macam hal baru dan

14:53

menyenangkan gitu. Namun tidak semua

14:56

orang mengalami experience yang

14:57

menyenangkan ternyata saat studi dan itu

15:00

menghancurkan ekspektasi sehingga ee

15:03

muncullah depresi akademik. Nah,

15:06

biasanya teman-teman yang mengalami

15:08

depresi akademik itu mulai kehilangan

15:10

minat dalam studinya. Seperti ketika mau

15:14

berangkat kuliah itu kayak malas banget.

15:17

Betul, berat banget. Terus kayak bangun

15:19

pagi juga udah mulai malas gitu. apalagi

15:21

mengerjakan tugas ataupun bertemu teman

15:24

tuh jadi kayak hal yang ee sulit dan

15:26

tidak lagi menyenangkan, tidak ada

15:28

excitement lagi gitu. Kemudian kesulitan

15:31

fokus hingga akhirnya ingin menyerah

15:34

saja gitu. Nah, ini terjadi di beberapa

15:37

penerima beasiswa saat mengalami depresi

15:39

akademik. Nah, selanjutnya ada

15:42

generalized anxiety disorder atau

15:45

disingkat menjadi GAD. Nah, di GAD ini

15:48

biasanya rasa cemasnya berlebihan.

15:52

Kalau penerima beasiswa ini biasanya

15:54

apa? Kalau lagi cemas tuh nghadapin apa

15:56

biasanya?

15:57

Ujian.

15:58

Ujian. Tugas. Betul. Jadi ujian, tugas,

16:02

deadline.

16:03

Terus ee mungkin nantinya harus ketemu

16:06

sama pembimbing yang killer.

16:09

Nah, betul. Itu menimbulkan rasa cemas

16:11

yang sangat tinggi di penerima beasiswa.

16:15

Nah, hal ini biasanya menyebab

16:17

menyebabkan penerima beasiswa itu sulit

16:19

tidur ee tubuhnya tegang gitu ya, terus

16:23

kepikiran terus gitu. Terus ada yang

16:26

sampaian pencernaan

16:28

gitu. Karena orang yang mengalami

16:31

kecemasan biasanya ee dirasakan oleh

16:35

tubuhnya sebagai semacam alarm gitu ya.

16:38

Tubuhnya itu ngasih sinyal di

16:40

bagian-bagian tubuh yang paling mudah

16:43

terserang penyakit.

16:44

Kalau aku pribadi sih di pencernaan juga

16:47

ya, jadi gitu sama langsung naik.

16:52

Betul. Heeh. Betul. Nah, ternyata enggak

16:56

cuman di pencernaan loh, Kak Sandra. Ada

16:58

juga orang-orang yang mengalami

17:00

kecemasan itu dia kulitnya jadi

17:03

gatal-gatal,

17:04

ruam-ruam,

17:05

ruam-ruam. Nah, itu juga merupakan salah

17:08

satu sinyal seseorang itu ee cemas yang

17:11

sangat berlebihan gitu. Jadi perlu di em

17:15

perhatikan perubahan-perubahan tubuh

17:16

ketika lagi cemas itu seperti apa ya.

17:19

Selanjutnya loneliness and homesickness.

17:22

Biasanya ini untuk penerima beasiswa

17:25

yang lokasi studinya jauh dari rumah.

17:27

Misalkan yang lagi studi di luar negeri

17:30

atau yang dari ee luar pulau misalkan

17:33

studinya di Jawa. Nah, ee teman-teman

17:36

penerima beasiswa ini dari Sumatera,

17:39

dari Kalimantan, Sulawesi, Papua gitu

17:42

ya. Karena kan semua tersebar di seluruh

17:44

ee Indonesia ya. Nah, itu merasakan eh

17:48

loneliness dan homesickness.

17:50

Ini merupakan hal yang sebenarnya lumrah

17:52

ya ketika mungkin kita jauh dari rumah

17:54

dirasakan. Tapi jika berlarut-larut itu

17:57

tentu akan mengganggu studinya. He.

18:00

Ada perasaan kesepian, perasaan

18:02

terisolasi karena ee jauh dari

18:05

lingkungan yang familiar. Betul. Dan itu

18:09

adaptasinya pasti akan lebih sulit dan

18:11

lebih lama.

18:13

Kemudian ada juga burnout academic. Hal

18:15

ini dikarenakan mungkin jadwal studinya

18:18

terlalu padat ya sebelumnya mungkin

18:20

sebelum studi itu bekerja atau malah ee

18:24

belum bekerja ya ee mungkin kegiatannya

18:27

masih luang. Nah, ketika studi

18:29

kegiatannya langsung banyak nih. Harus

18:32

ketemu banyak orang tiba-tiba harus

18:35

masuk kelas, harus ketemu dosen

18:38

pembimbing, terus harus baca jurnal yang

18:41

sebanyak itu gitu.

18:43

Tugas yang sebanyak itu juga.

18:44

Tugas yang sebanyak itu juga gitu. Nah,

18:48

kemudian ee ada ekspektasi yang tinggi

18:51

gitu kan. Nah, itu juga menyebabkan

18:54

kelolahan fisik dan mental. Kemudian ada

18:58

ee karena bernart ini ee seseorang itu

19:00

bisa hilang motivasinya, kesulitan

19:04

mengatur waktu, mungkin karena terlalu

19:06

padat jadi bingung menentukan

19:07

prioritasnya yang seperti apa dan juga

19:11

merasa terjebak dalam situasi studi

19:13

gitu. Jadi ada beberapa orang yang

19:15

berpikiran bahwa apakah ini keputusan

19:17

yang tepat ketika sudah menjalaninya

19:19

gitu ya. Kadang kita memang suka begitu

19:21

ya ketika sudah mengambil keputusan yang

19:24

besar di hidup kita, kita jadi ee

19:26

wondering apakah ini worth italani

19:29

dengan mengorbankan segala hal yang

19:31

sudah dijalani sebelumnya gitu. Nah,

19:34

selanjutnya atau yang terakhir adalah

19:37

adjustment disorder, yaitu kesulitan

19:39

beradaptasi dengan lingkungan akademik,

19:42

budaya atau sistem pendidikan yang baru.

19:45

Misalkan ketika ee S1 di Indonesia,

19:48

kemudian S2-nya di UK. Nah,

19:52

culture shop ya. Jadi, culture shop-nya

19:55

enggak hanya ee mungkin lingkungan

19:57

tempat tinggal, tapi juga kurikulum

20:00

studinya

20:01

itu sangat berbeda sekali, ya kan? cara

20:04

belajarnya, mengajarnya,

20:07

menyampaikan materi juga.

20:08

Heeh. Heeh. Mungkin juga diskusi sama

20:11

teman gini ya, kalau kita ngobrol

20:13

mungkin sudah biasa ya menggunakan ee ya

20:16

budaya-budaya Indonesia gitu ya. Nah,

20:18

kemudian dengan budaya atau culture yang

20:20

di ee UK yang mungkin mereka sangat

20:24

terbuka blak-blakan itu tidak bisa

20:26

diterima oleh sifat-sifat ee

20:28

keindonesiaan kita. Ya, mungkin sebagai

20:31

orang Jawa aku sendiri ee sangat e

20:34

mengedepankan unggah-ungguh gitu ya.

20:37

Betul.

20:37

Nah, mungkin di UK tidak seperti itu.

20:39

Terlalu blak-bakan jadi ee sulit

20:41

diterima gitu. Nah, hal ini juga

20:45

menyebabkan seseorang ee stres

20:47

berkepanjangan, kemudian jadi sulit

20:50

bersosialisasi atau mungkin merasa asing

20:52

hingga ee menarik diri dari lingkungan.

20:56

Iya. Jadi, ada banyak kasus seperti itu,

20:58

Teman-teman.

20:59

Namun hal itu ee bisa jadi pelajaran

21:04

bagi kita untuk mempersiapkan diri

21:06

supaya nanti ketika studi kita lebih

21:09

siap menghadapi kira-kira apa sih

21:11

masalah yang ada ke depannya?

21:13

Jadi pasti nih ya

21:15

kisi-kisi

21:15

kisi-kisi contoh-contoh. Jadi ee kalau

21:18

misalnya memang butuh bantuan sekali

21:20

lagi bisa ke profesional atau ke orang

21:22

terdekat. Memang tanggung jawab Wordi

21:25

itu banyak banget ya K ya. Bah kalau

21:27

keluar pulau atau ke luar negeri itu

21:29

pasti dia merasa kesepian dan sedih.

21:31

Heeh.

21:32

Bisa lebih stres dan cemas.

21:34

Betul.

21:35

Nah, ngomong-ngomong stres nih, Kak.

21:37

Tadi kan kakak sudah bahas nih tentang

21:38

stres dan cemas. Bedanya apa sih stres

21:40

dan cemas itu?

21:41

He. Oke. Ee stres dan kecemasan itu ee

21:45

memang sangat berbeda ya kalau di

21:47

psikologi. Tapi mungkin orang lain di

21:49

luar sana merasanya kayaknya sama gitu,

21:52

stres dan cemas gitu. Memang sebenarnya

21:55

itu saling berhubungan satu sama lain.

21:57

Namun kalau ee stres itu tidak dikelola

22:01

dengan baik, maka bisa menyempatkan

22:03

kecemasan. Stres dan kecemasan itu

22:05

berbeda. Tapi mungkin ee orang-orang itu

22:08

tahunya stres dan cemas itu sama.

22:11

Sebenarnya memang ee mereka ini saling

22:13

berhubungan stres dan cemas ini. Ketika

22:16

stres yang tidak dikelola dengan baik,

22:18

maka itu bisa berkembang menjadi

22:20

kecemasan yang lebih serius. Stimas itu

22:23

sebenarnya kondisi yang wajar dirasakan

22:25

oleh setiap manusia karena itu merupakan

22:28

sinyal-sinyal bahwa diri kita sedang ee

22:31

melakukan defense mechanism atau

22:34

mempertahankan diri dari situasi yang

22:36

sulit.

22:38

Nah, stres itu merupakan respon tubuh

22:41

terhadap tekanan atau tuntutan. Biasanya

22:44

karena faktor eksternal. Kalau penerima

22:46

beasiswa sih biasanya deadline gitu ya.

22:48

Terus ada tuntutan akademik. tuntutan

22:51

akademik ini bisa dari eh supervisor

22:54

gitu ya, kadang-kadang mintanya lebih

22:57

spesifik gitu di dalam penelitiannya

22:59

harus ee menuliskan apa atau menambahkan

23:01

jurnal apa gitu ya. Jadi kayak kok

23:03

enggak dapat-dapat sih? Nah, itu bikin

23:05

stres. Nah, kalau kecemasan itu

23:08

berkaitan dengan rasa khawatir atau

23:11

gelisah yang berlebihan. Dan biasanya

23:13

sih objeknya tidak nyata ya, itu

23:15

dicreate oleh otak kita sendiri

23:17

biasanya.

23:18

Oh, pertingking itu ya.

23:19

Iya. Nah, itu bisa jadi karena kamu lagi

23:22

cemas

23:23

seperti itu.

23:25

Nah, orang juga kadang-kadang kesulitan

23:27

membedakan takut, rasa takut, dan rasa

23:29

cemas.

23:30

Kalau rasa takut itu objeknya nyata.

23:33

Misalkan kita takut ular,

23:36

takut kecoa, itu kan nyata ya. Nah, tapi

23:39

kalau cemas itu biasanya objeknya tidak

23:42

nyata atau masih jauh di depan gitu.

23:46

seperti gimana ya nanti respon orang

23:48

ketika aku ee melakukan A B C gitu atau

23:52

kalau di situasi studi gimana ya ee

23:55

nanti ketika aku ketemu sama

23:56

pembimbingku kalau orangnya enggak puas

23:59

dengan hasil tulisanku gimana ya gitu

24:02

yang dibuat sendiri

24:03

betul itu sangat sangat overthinking kan

24:07

belum tentu terjadi tapi sudah menjadi

24:10

ee PR di kepala gitu yang harus ee

24:12

dipecahkan.

24:15

Nah, ee

24:17

si stres itu biasanya sifatnya sementara

24:20

dan akan mereda jika pemicunya sudah

24:22

teratasi. Misalnya kalau udah lewat

24:24

deadline ya udah lebih tenang, lebih

24:26

rileks. Namun kalau kecemasan itu

24:29

biasanya menetap dan lebih lama, lebih

24:31

panjang ee dirasakan oleh seseorang

24:35

karena ee itu dibuat-buat oleh pikiran

24:39

kita sendiri. Kalau kita enggak berhasil

24:41

untuk mengelola pikiran kita atau

24:43

menguasai pikiran kita, maka itu akan

24:46

menetap dan bisa jadi berkembang menjadi

24:50

anxiety disorder yang mengganggu

24:52

kehidupan sehari-hari. Seperti itu. Nah,

24:55

stres itu bisa saja meningkatkan energi

24:58

dan fokus dalam jangka pendek karena

25:00

kadang-kadang kita butuh pemicu untuk

25:02

melakukan sesuatu, kan. He.

25:04

Jadi kalau stres itu bisa membuat kita

25:07

oke aku harus memperbaiki diri, aku

25:09

harus membuat deadline yang ee sori aku

25:12

harus membuat ee susunan jadwal gitu ya,

25:15

prioritasnya seperti apa gitu. Nah,

25:17

stres itu ee ke arah sana. Namun kalau

25:20

ee tidak diatasi itu juga bisa jadi burn

25:24

out dan kecemasan.

25:25

Nah, kalau kecemasan sendiri itu

25:27

seringkiali disertai dengan

25:29

gejala-gejala overthinking seperti yang

25:31

tadi Kak Sandra bilang. Kemudian juga

25:34

detak jantungnya berdegup lebih kencang.

25:38

Ee ada juga yang sampai keringat dingin,

25:40

sakit perut tadi yang seperti kita

25:42

bahas. Ada yang sampai gatal ruang-ruam,

25:44

ada yang sampai sesak nafas hingga dia

25:47

ngerasa kayak em enggak sanggup lagi

25:50

untuk berdiri atau mungkin ee ketemu

25:52

sama orang gitu.

25:55

Nah, stres itu bisa kal kalau kita bisa

25:59

mengelola manajemen waktu dengan baik,

26:00

maka itu akan ee cukup efektif meredakan

26:05

stresnya. Disertai juga dengan olahraga

26:08

yang cukup dan istirahat yang cukup.

26:10

Sedangkan kalau kecemasan itu biasanya

26:13

butuh pendekatan yang lebih luas dan

26:14

lebih kompleks dan biasanya melibatkan

26:18

profesional untuk membantu merendakan

26:20

rasa cemasnya. ataupun kalau misalkan

26:23

belum sempat ke profesional ee

26:26

teman-teman bisa melakukan teknik

26:28

relaksasi atau mungkin bisa ngobrol sama

26:30

orang terdekat tentang apa sih yang lagi

26:32

dipikirkan, lagi overthinking ini apa

26:35

gitu. Kalau

26:36

kayaknya kalau diutarakan itu lebih

26:38

ringan yaul

26:41

nambah-nambahin nanti ada pertanyaan

26:43

baru gitu.

26:44

Heeh. membicarakan masalah kita itu

26:46

memang betul kata Kak Sandra ee akan

26:49

membuat kita lega karena itu kayak kita

26:51

lagi ngelihat masalah itu di depan mata

26:55

kita daripada kita ee membayangkan di

26:58

otak kita sendirian itu akan membuat

27:00

kita jauh lebih ee cemas lagi karena

27:02

kayak enggak keluar nih masalahnya

27:05

enggak keluar dari diri kita gitu.

27:07

Betul. Memang ternyata manusiawi ya

27:09

stres sama cemas itu cuma kadarnya.

27:12

Kalau enggak baik sesuatu yang

27:14

berlebihan tuh emang enggak baik.

27:15

Betul.

27:17

Nah, ee aku tuh pernah ya kalau mau ITS

27:21

itu tuh benar-benar bikin aku

27:22

overthinking.

27:23

Takut bandnya enggak sesuai e dengan

27:25

yang aku inginkan.

27:27

Udah mana-mahal kanu

27:29

tuh sampai asam lambungnya naik di ujung

27:32

Gert dan Mikrain juga. Heeh.

27:34

Nah, kalau aku search di Google sih itu

27:35

namanya psikosomasis ya.

27:38

Nah, dengar dari penjelasan kakak tadi

27:40

apa ternyata aku cuma cemas aja atau

27:41

gimana sih, Kak? Apa aku harus luri

27:43

terhadap kondisiku? Aku udah kayak gitu

27:46

aku harus gimana sih, Kak? Gitu.

27:47

He. Heeh. Heeh. Oke. Sebenarnya ini hal

27:50

yang ee kebanyakan orang merasakan ya,

27:53

bukan sesuatu yang kita wajarkan atau

27:55

normalkan karena kan memang kondisi

27:57

tubuh kita itu ee lagi sakit. Namun ini

28:01

ee lumrah terjadi kepada orang-orang

28:03

yang lagi e stres atau cemas gitu. Nah,

28:07

tubuh kita itu memang sangat pintar nih,

28:08

Kak Sandra. Jadi, dia itu akan ngasih

28:11

sinyal-sinyal ke kita kalau kita lagi

28:13

enggak baik-baik aja.

28:15

Makanya ketika kita lagi menghadapi hal

28:17

yang kita rasa sulit, hal yang kita rasa

28:20

itu akan menentukan masa depan kita, ee

28:23

tubuh kita itu butuh persiapan gitu.

28:26

Nah, dengan persiapan yang cukup kita

28:28

biasanya akan rileks. Tapi kalau kita

28:30

terlalu tegang atau mungkin saja kita

28:33

persiapannya kurang, itu bikin kita

28:35

menjadi lebih cemas sehingga muncullah

28:38

pertahanan diri. Nah, pertahanan dirinya

28:41

berupa sinyal itu tadi psikosomatis.

28:45

Nah, kalau kita lagi dalam kondisi yang

28:48

stres atau cemas atau dalam kondisi

28:49

terdesak memang tubuh kita ngasih sinyal

28:52

sakit di tubuh. Nah, itu yang disebut

28:54

dengan psikosomatik.

28:56

Jadinya ee kayak kepikiran sendiri gitu.

29:00

Heeh. Heeh.

29:01

Jadi kayak kalau aku search di Google

29:04

itu boleh enggak sih, Kak?

29:06

Heeh.

29:06

Untuk ee kayak aku cari tahu kenapa

29:09

tentang diriku gitu?

29:10

Oke. Boleh banget kalau kita mau cari

29:12

tahu apa yang terjadi dengan diri kita?

29:15

Ya, ini sebagai baseline aja sih bahwa

29:18

ee ada sesuatu dari diriku yang lagi

29:21

enggak baik-baik aja. Apalagi penerima

29:23

beasiswa itu kan ee mahasiswa-mahasiswa

29:27

yang lagi studi pasti punya kekepoan

29:29

yang besar ya terhadap dirinya. Namun

29:32

yang tidak ee boleh atau yang harus jadi

29:35

perhatian adalah jangan sampai

29:37

teman-teman self diagnos

29:40

atau mendiagnosa diri sendiri ee

29:43

penyakitnya apa nih atau lagi gangguan

29:46

apa nih. Nah, itu jangan sampai ini di

29:48

kondisi fisik maupun mental ya, enggak

29:51

hanya di kondisi mental aja. Jadi kalau

29:53

mau kepo tentang dirinya itu boleh

29:55

banget, tapi jangan langsung nge-judge

29:57

ya teman-teman ya. Teman-teman bisa cari

30:00

ee profesional yang tahu mengenai apa

30:04

yang teman-teman rasakan. Misalkan kalau

30:06

memang kondisinya fisik ee kerasa banget

30:10

di fisik ya berarti langsung ke dokter

30:12

aja dulu gitu. Nanti dokter akan

30:14

mengarahkan teman-teman harus periksa ke

30:15

mana. Entah itu ke si ke psikiater atau

30:18

ke psikolog. Namun kalau misalkan

30:20

teman-teman lagi burn out banget gitu ya

30:23

dan teman-teman ngerasa apakah aku sudah

30:26

mulai ke arah G

30:29

atau apa nih gitu. Nah, itu teman-teman

30:32

ee boleh kalau mau baca-baca tapi untuk

30:34

penegakan diagnosanya teman-teman perlu

30:37

datang ke profesional seperti itu.

30:40

Oke, memang harus ke profesional jangan

30:42

sampai sof diagnos jadi salah nantinya

30:44

ya. He.

30:45

Nah, jadi itu dia, Kak. Terima kasih

30:47

untuk episode 1 ini dan eh itu dia

30:49

terkait mental heart dan bagaimana

30:51

mental heart ini mempengaruhi

30:53

keberlanjutan studi teman-teman sebagai

30:55

worbi dan mulai dari persiapan terus

30:57

tadi juga saat studi dan kebanyakan

31:00

adalah stres dan cemas dan juga

31:01

overthinking dan berakibat pada burn out

31:04

juga yang akan eh merusak fokus

31:07

teman-teman. Jadi teman-teman tuh enggak

31:08

fokus. Nah, dan teman-teman disarankan

31:11

untuk mulai aware nih dengan gangguan

31:13

mental dan teman-teman bisa mulai dari

31:15

diri sendiri dan nanti juga akhirnya

31:16

bisa membantu orang-orang di sekitar ya,

31:18

Kak ya.

31:20

Hopefully teman-teman juga bisa untuk

31:22

spread keess tentang gangguan mental ini

31:24

ee karena gangguan mental ini bisa

31:27

berpengaruh ke kehidupan sehari-hari

31:29

sehingga performa teman-teman itu akan

31:31

turun dan studinya juga nanti akan

31:33

enggak maksimal. Sayang ya.

31:34

He. Heeh. ee nantinya juga akan ada efek

31:37

snowball nih dan bisa jadi makin besar

31:39

dan kondisinya juga makin parah. Ingat

31:42

ya teman-teman eh sangat tidak

31:44

disarankan untuk self diagnose. Jadi

31:46

teman-teman jangan ragu untuk mencari

31:48

bantuan profesional. Eh dan di episode

31:51

ini kita sudah selesai. Episode

31:54

selanjutnya kita akan membahas how to

31:56

overcome with it. Gimana kalau misalkan

31:57

teman-teman nanti menghadapi situasinya

32:00

itu nanti Kak Riza akan kasih tips and

32:02

triknya. Jadi stay tune terus ya UPD PR.

32:05

Terima kasih dan sampai jumpa di episode

32:07

selanjutnya.

32:10

[Musik]

More transcripts

Explore other videos transcribed with YouTLDR.

Get the TLDR of any YouTube video

Transcribe, summarize, and repurpose videos in 125+ languages — free, no signup required.

Try YouTLDR Free