Full Transcript

·YouTLDR

AYAHKU PULANG - Teater Dza 'Izza 2019

49:17IndonesianTranscribed Jul 26, 2026
0:01

Birul Walidah ini Ihsana adalah dasar terciptanya proses pertunjukan ini. Naskah Ayahku pulang bukan sekedar naskah. Ada nilai-nilai yang perlu kita ketahui bersama. Ada renungan yang perlu kita resapi bersama. Ada marah yang perlu kita pelajari bagaimana cara menerdamkannya. Ada rasa sakit, benci, luka, dan segala rasa yang berkecamuk dalam dada yang perlu kita taklukan dengan cinta. Apapun yang terjadi,

0:35

Ayah tetaplah ayah, kapanpun dan dimanapun, bahkan selama-lamanya. Inilah pertunjukan ketujuh Tia Terza Iza dengan lakon Ayahku Pulang, karya Usmar Ismail. Pertunjukan ini murni lahir dari tangan-tangan santri, tentu dengan dampingan asatis yang kita cintai. Sebagai bukti bahwa Dar El Kolam 3, excellent process. Mereka membutuhkan waktu tiga bulan untuk sebuah pertunjukan yang mungkin bisa dibilang pendek.

1:08

komposer musik oleh Ustadz Reza Maulana dan Ustadz Cucu Sudiana, penata suara oleh Ustadz Abdul Qadir, penata artistik panggung oleh Ustadz Tarmin Alamsyah, make up dan kostum oleh Ustadz Zawula dan Ustadz Zafini. Semua ini dikemas dengan apik oleh sutradara kita, Al Ustadz Ahmad Mudur Al Farisi. Mari kita saksikan pertunjukan ketujuh teater Zaiza dengan lakon

1:38

Hai Ayahku pulang selamat menyaksikan Oh Akbar Oh Akbar Oh Akbar Oh Akbar Oh Akbar Oh Akbar Oh Akbar Oh Akbar Oh Akbar Oh Akbar Oh Akbar Oh Akbar Oh Akbar Oh Akbar Oh Akbar Oh Akbar Oh Akbar Oh Akbar Oh Akbar Oh Akbar Oh Akbar Oh Akbar Oh Akbar Oh Akbar Oh Akbar Oh Akbar Oh Akbar Oh Akbar Oh Akbar Oh Akbar Oh Akbar Oh Akbar Oh Akbar Oh Akbar Oh Akbar Oh Akbar Oh Akbar Oh Akbar Oh Akbar Oh Akbar Oh Akbar Oh Akbar Oh Akbar Oh Akbar Oh Akbar Oh Akbar Oh Akbar Oh Akbar Oh Akbar Oh Akbar Oh Akbar Oh Akbar Oh Akbar Oh Akbar Oh Akbar Oh Akbar Oh Akbar Oh Akbar Oh Akbar Oh Akbar Oh Akbar Oh Akbar Oh Akbar Oh Akbar Oh Akbar Oh Akbar Oh Akbar Oh Akbar Oh Akbar Oh Akbar Oh Akbar Oh Akbar Oh Akbar Oh Akbar Oh Akbar Oh Akbar Oh Akbar Oh Akbar Oh Akbar Oh Akbar Oh Akbar Oh Akbar Oh Akbar Oh Akbar Oh Akbar Oh Akbar Oh Akbar Oh Akbar Oh Akbar Oh Akbar Oh Akbar Oh Akbar Oh Akbar Oh Akbar Oh Akbar Oh Akbar Oh Akbar Oh Akbar Oh Akbar Oh Akbar Oh Akbar Oh Akbar Oh Akbar Oh Akbar Oh Akbar Oh Akbar Oh Akbar Oh Akbar Oh Akbar Oh Akbar Oh Akbar Oh Akbar Oh Akbar Oh Akbar Oh Akbar Oh Akbar Oh Akbar Oh Akbar Oh Akbar Oh Akbar Oh Akbar Oh Akbar Oh Akbar Oh Akbar Oh Akbar Oh Akbar Oh Akbar Oh Akbar Oh Akbar Oh Akbar Oh Akbar Oh Akbar Oh Akbar Oh Akbar Oh Akbar Oh Akbar Oh Akbar Oh Akbar Oh Akbar Oh Akbar Oh Akbar Oh Akbar Oh Akbar Oh Akbar Oh Akbar Oh Akbar Oh Akbar Oh Akbar Oh Akbar Oh Akbar Oh Akbar Oh Akbar Oh Akbar Oh Akbar Oh Akbar Oh Akbar Oh Akbar Oh Akbar Oh Akbar Oh Akbar Oh Akbar Oh Akbar Oh Akbar Oh Akbar Oh Akbar Oh Akbar Oh Akbar Oh Akbar Oh Akbar Oh Akbar Oh Akbar Oh Akbar Oh Akbar Oh Akbar Oh Akbar Oh Akbar Oh Akbar Oh Akbar Oh Akbar Oh Akbar Oh Akbar Oh Akbar Oh Akbar Oh Akbar Oh Akbar Oh Akbar Oh Akbar Oh b-Bah-Bah-Bah-Bah-Bah-Bah-Bah-Bah-Bah-Bah-b-b-b-b-b-b-b-b-b-b-b-b-b-

4:57

Ibu masih berpikir lagi Malam hari raya Narto Dengarlah suara bedung itu bersaut-sautan Pada malam hari raya seperti inilah Ayahmu pergi meninggalkan ibu Dengan tanpa sepatah kata pun Ayah Keesokan harinya Setelah selesai sholat hari raya Kumaafkan segala kesalahan ayahmu Kenapa ibu masih mengingat masa yang lampau itu?

5:44

mengingat orang yang sudah tidak ingat lagi kepada kita ibu merasa ayahmu masih ingat kepada kita narto mintarsi kemana bu? mintarsi sedang keluar mengantarkan jahitan ia masih juga mengambil lupa jahitan bukankah seharusnya ia tidak usah lagi berjuang sekarang biarlah narto karena kalau ia sudah kahwin nanti kepandainya itu tidak akan sia-sia

6:22

Sebenarnya ibu mau mengatakan kalau gajiku tidak cukup untuk sekeluarga kan bu? Bagaimana dengan lamaran Mintarsi bu? Mintarsi nampaknya belum mau bersuami Narto. Tapi dari pihak orang tua anak lelaki itu terus saja mendesak ibu. Apa salahnya bu? Mereka kan uangnya banyak. Uang, uang Narto. Maaf bu, bukan maksud aku ingin menjual adik sendiri.

7:04

Aku jadi mata duitan bu, mungkin karena hidup yang penuh dengan penderitaan ini Ayahmu seorang hartawan yang mempunyai tanah dan kekayaan yang sangat banyak Kaya di waktu kami kawin dulu, tetapi hubungan kami bagaikan pokok yang ditiup angin kencang Gugur semua buahnya, itu semua karena uang Narto

7:45

Ibu tidak mau adikmu mintarsi merasakan apa yang ibu rasakan. Biarlah mintarsi menjadi gadis sederhana. Mintarsi mestilah bersuamikan orang yang berbudi tinggi. Mesti itu mesti. Tapi ibu kalau bisa kedua-duanya ada harta ada budi. Mau dimana dicari Narto, Narto. Adik kau mintarsi itu hanya gadis biasa. Apalagi

8:20

Keadaan kita ini sedang susah, di rumah pun sudah tidak ada uang. Sebentar lagi pula tabungan ibu yang terakhir akan habis. Ini semua salah ayah bu, sehingga Mintarsi harus sikit menderita. Sejak kecil, ia telah merasakan pahit getirnya kehidupan. Tapi bu, kita harus mengatasi semua ini, harus. Aku sebagai abangnya harus lebih keras lagi dalam berjuang.

9:01

Andai saja aku punya uang sejuta bu. Kalau untuk perkawinan mintarsi, 500 ribu rupiah saja sudah cukup Narto. Setelah mintarsi nanti, datanglah giliranmu. Aku? Kawin bu? Belum sempat aku memikirkan kebahagiaan untuk diriku sendiri. Sebelum saudara-saudaraku senang dan ibu pun mengecap kebahagiaan atas jeripayaku nanti.

9:32

Ibu sudah merasa bahagia kalau kau bahagia Narto Nasibku bersuami tidak baik benar Malam hari raya waktu ayahmu pergi dulu Tak tahu apa yang harus aku lakukan Tetapi Maimun kemana bu? Maimun mungkin banyak kerjaan Soalnya katanya bulan depan dia bakal naik gaji Naik gaji? Maimun memang pintar bu

10:49

otaknya juga encer tapi sayang kita tidak bisa menyekolahkannya lebih tinggi lagi tapi bu aku yakin kalau ia mau berusaha pasti ia bisa menjadi orang yang berharga di masyarakat Narto siapa gadis yang sering kulihat bersepeda bersamamu itu ah ibu bisa aja dia mah cuma temanku bu tapi ibu rasa dia pantas untuk kau Narto

11:25

Ya meskipun ibu tau, derajatnya tidak sama seperti kita. Tapi kan kalau kau suka... Sudahlah bu, buat apa aku memikirkan kawin sekarang? Mungkin 10 tahun lagi. Itu pun kalau semua sudah beres. Aku juga harus kawin, Narto. Masa sudah tua tidak kawin-kawin? Waktu ayahmu pergi malam hari raya itu, aku peluk kalian anak-anakku. Hilang akalku.

12:04

Sudahlah Bu, buat apa kita mengulang kajian lama itu? Assalamualaikum, lama menunggu Bu, Bang Waalaikumsalam Dari mana saja Mun, kau sudah berbuka puasa? Kerja lembur Bu, Alhamdulillah Tadi aku berbuka puasa bersama teman di kantor Oh iya Bu, buat perkawinan mintarsi nanti Eh Bang, mintarsi mana Bang? Bu, mintarsi mana ya Bu?

12:51

Mintar sih sedang keluar mengantarkan jahitan Bang, ada kabar aneh nih bang Tadi pagi aku bertemu dengan bapak-bapak tua Yang mirip sekali dengan ayah Waktu Pak Tirto berbelanja di sentral tadi Tiba-tiba ia berhadapan dengan bapak-bapak tua itu bang Pak Tirto kaget Karena bapak tua itu seperti yang pernah ayah kenal Katanya sih bapak-bapak tua itu Serupa sekali dengan Radin Saleh bang Tapi setelah itu

14:09

Bapak tua itu menjegerkah diri lalu menghilang begitu saja di kerumunan orang banyak bang Mana mungkin dia ada disini Aku kira juga dia sudah meninggal dunia atau pergi ke luar negeri Sudah 20 tahun yang lalu semenjak ia pergi malam hari raya itu Tapi bu ada yang mengatakan jika ia ada di Singapura bu Tapi itu sudah 10 tahun yang lalu kata orang yang pernah melihatnya

14:43

Ia mempunyai toko yang sangat besar disana dan hidupnya pun sangat mewah Hidupnya memang mewah tapi anaknya makan lumpur Tapi setelah itu tak ada lagi kabar dari ayahmu Apalagi semenjak perang seperti saat ini dimana lagi kita dapat bertanya Bu emangnya karakter ayah bagaimana sih bu? Waktu ayahmu muda dulu ia tak suka belajar

15:22

Tidak seperti kau Maimun, ia hanya suka berfoya-foya. Pada masa itu ayahmu sangat disegani banyak orang. Ia suka meminjamkan uang kesana kemari dan seperti itulah ayahmu. Maimun, selama hari raya ini berapa hari kau libur? Dua hari bang. Oh iya, ada makanan yang belum ibu taruh di meja. Pak Tirto, bertemu dengan orang tua itu kapan?

16:08

Kemaren sore bang, kira-kira setengah lima. Bagaimana pakaiannya? Hmm, Pak Tirtau bilang pakaian yang bapak tua itu kenakan tak begitu bagus bang. Pakaiannya compang-camping. Kopianya pun sudah hampir memutih. Kau masih ingat bang dengan rupiah? Tidak ingat lagi aku. Semestinya kau ingat bang, karena umur abang pada waktu itu sudah delapan tahun. Aku saja masih ingat, walaupun samar-samar. Sudah kubilang.

16:41

tidak ingat lagi aku iya iya habisnya pak Tirto banyak tanya bang tentang ayah ayahmu orang yang baik hati jikalau ia berada disini di rumah ini besok hari raya pastilah ia bisa bersenang-senang dengan anak-anaknya jam berapa ini seharusnya Mintarsi sudah pulang sekarang oh iya bang ada kabarannya lagi nih bang

17:21

tadi pagi aku bertemu dengan orang india bang ia mengajarkanku bahasa urdu bang dan aku memberikannya pelajaran bahasa indonesia bang dan ia pun sempat mengajariku cara bernyanyi ala-ala india gitu bang yang kayak gini nih bang boleh curian boleh kanggana hai men hoga ii tere sajana ase tere binjenai ilag dame temargaya

17:52

Lecah-lecah Sonia lecah-lecah Iya terus Lecah-lecah Lagi-lagi Lecah-lecah Sonia lecah-lecah Lecah-lecah Mantap Mun Nanti kau ajarkan aku pula Apa tadi lecah-lecah itu Siap Bang Narto, Maimun Kalian ngapain sih Nyanyilah Bu Daripada mikirin orang yang sudah hilang Pusing palaku

18:22

Ya gak gitu juga kali Kalian itu laki-laki Jorok tau Terserah ibu Assalamualaikum sudah berbuka puasa semuanya Waalaikumsalam Dari tadi kami menunggumu Lama benar Maaf bu tadi disana memang agak lama Jadinya Minta sih pulang terlambat Oh ya sudah makan dulu

19:59

minta sih Iya Bu apa yang kau lihat di luar sana waktu minta selewat disitu tadi Bang Benato juga remitasi dulu malam lamun aku dengar ada orang tua di ujung jalan ini dari jebatan sana melihat-lihatkan rumah kita nampaknya seperti seorang pengemis orang tua bagaimana rupanya

21:07

hari agak gelap bang dia tidak begitu jelas kelihatannya tapi orangnya itu coba kulihat siapa bun? tak ada orang kelihatannya bang waktu kami masih sama-sama muda dulu kami sangat berkasih-kasihan sejelek-jeleknya ayahmu masih ada kenangan yang tak dapat ibu lupakan nak, mungkinkah ayahmu kembali lagi? bu, yang lalu biarlah berlalu

21:57

Jangan ibu ingat lagi masa yang lampau itu Assalamualaikum Assalamualaikum Apakah benar disini rumah nyanyonya Saleh Gunarto, Maimun, Mintarsi Apa kalian dengar? Itu seperti suara ayah kalian Tina, benarkah engkau Tina? Saleh? Kamu benar-benar Saleh?

23:17

Iya Tina, benar aku Saleh Saleh, mari kita masuk dulu Apa? Bolehkah aku masuk Tina? Tentu saja boleh, mari masuk duduk Mari ayah Saleh, banyak berubah ya Saleh Iya Tina, 20 tahun perceraian kita

24:13

telah banyak merubah wajahku Tina mereka semua anak-anak kita iya benar mereka semua ini anak-anakmu Saleh pandangilah mereka ternyata mereka dapat tumbuh dewasa walaupun tidak didampingi dengan ayahnya siapa namamu nak? saya Maimunayah

24:55

Oh iya Maimun, waktu aku pergi engkau masih kecil nak, kakimu masih lemah, belum dapat berdiri. Nona yang satu ini siapa namamu nak? Saya Mintarsi ayah. Oh Mintarsi, aku dengar dari kejauhan bahwa aku mendapatkan seorang anak lagi.

25:33

Seorang putri, engkau cantik Mintarsi. Sama seperti ibumu di masa muda. Sekarang tak tahu apa yang harus kulakukan. Aku pun tak tahu apa yang harus aku lakukan. Anak-anak semuanya sudah besar. Sudah menjadi orang pandai. Gunarto, dia sudah bekerja di perusahaan tenun.

26:15

Dan Maimun ini, ia tak pernah absen selama masuk kelas. Selalu menjadi juara satu. Mereka sudah mempunyai penghasilannya masing-masing. Dan mintar si itulah. Dia yang selalu membantuku menjahit. Ah, ibu. Bisa saja. Sepuluh tahun, aku menjadi saudagar besar di Singapura. Aku...

26:52

Ayah Ayah Aku menjadi kepala perusahaan Dengan pegawai berpuluh-puluh orang banyaknya Namun malang bagiku Toko itu telah habis terbakar Lalu seolah-olah masih belum puas menyeretku ke lembah kesengsaraan Saham-saham yang kubeli merosot semua nilainya

27:33

Sementara aku sudah mulai tua Tak tahu apa yang harus kulakukan Lalu keluarga ku, anak dan istri ku Tergambar kembali di depan mata dan jiwaku Kalian seperti mengharapkan cinta dan kasihku Sorry Gunarto

28:13

Maukah kau mengambilkan aku segelas air minum? Hanya engkau lah yang tidak. Ayahmu yang sedang berbicara itu. Semestinya engkau bahagia nak. Sudah sepantasnya ayahmu bertemu kembali dengan anak-anaknya. Yang sudah lama tidak bertemu. Tak apalah Tina. Bila Gunarto tak mau. Engkau lah Maimun. Maukah kau?

28:52

Memberikan aku segelas air minum Baik ayah Maimun! Kapan kau mempunyai seorang ayah? Gunarto Kami tidak mempunyai seorang ayah bu Kapan kami mempunyai seorang ayah? Gunarto, apa katamu? Kami tidak mempunyai seorang ayah Kalau kami mempunyai seorang ayah Kenapa kami harus hidup sengsara seperti ini? Jadi budak orang Saat aku berumur 8 tahun

29:34

Aku dan ibu hampir saja terjun ke dalam lautan Untung saja ibu cepat sadar Dan kalau kami mempunyai seorang ayah Kenapa aku harus menjadi budak orang saat aku berumur 10 tahun Kami tidak mempunyai seorang ayah Kami besar dalam kesengsaraan Tidak ada kebahagiaan dalam hati ini Dan kau Maimun Apakah engkau lupa Saat engkau SD engkau pergi ke sekolah Dengan pakaian yang robek

30:17

serta tambalan sana sini itu semua terjadi karena kita tidak mempunyai seorang ayah kalian dengar itu semua terjadi karena kita tidak mempunyai seorang ayah kalau kita mempunyai seorang ayah mana mungkin kita harus hidup sengsara seperti ini tapi bang ibu saja sudah maafkannya kenapa kita tidak?

30:52

Ibu seorang wanita, saat aku kecil, aku pernah menangis di pangkuan ibu. Dan ibu selalu berkata, ini semua salah ayahmu. Ayahmu yang harus disalahkan. Lalu, aku menjadi budak orang. Dan ibu menjadi babu mencuci pakaian orang lain. Aku buktikan,

31:20

bahwa aku bisa memberi makan keluarga aku tanpa seorang ayah dan aku berteriak kepada dunia aku tidak butuh bantuan orang yang telah meninggalkan keluarganya dalam keadaan sengsara saat umurku 18 tahun yang ada di otakku hanyalah gambaran ayah yang telah sesat

31:48

Ia kabur bersama wanita yang telah membawanya ke dalam lembah keturjanaan. Lupa ia kepada keluarganya, anaknya, istrinya, bahkan kewajibannya. Hartanya yang ditinggalkan bertumpuk-tumpuk. Sampai-sampai tabunganku sendiri hilang bersama ayah yang tidak tahu diri itu. Jikalau aku memang mempunyai seorang ayah,

32:20

Maka ayah itulah musuh besar gue. Gunarto. Bang. Bang. Lihatlah ayah bang. Ayah sudah tua bang. Ayah sudah tua. Sering benar kau ucapkan kata ayah kepada orang yang tak berguna ini. Hanya karena ia seorang tua yang datang ke rumah kita. Dan menyebut dirinya ayah kita. Lalu kau sebut pula ya ayah kita. Padahal ia tidak kita kenal.

32:47

Sama sekali tidak. Bang Narto, kita adalah darah dagingnya bang. Bagaimanapun buruknya ayah kita, kita tetap anaknya bang. Yang harus merawatnya. Jadi maksudmu ini kewajiban kita? Setelah ia melepaskan hawa nafsunya di mana-mana. Dan sekarang ia kembali dalam keadaan tua. Dan kita harus merawatnya.

33:11

aku tidak sudi sama sekali tidak Narto... seganya kau berbicara seperti ini kepada ayahmu ayah kandungmu ayah kandung? memang Gunarto dulu mempunyai seorang ayah tapi sudah meninggal 20 tahun yang lalu dan Gunarto yang sekarang adalah Gunarto yang dibangun oleh diri Gunarto sendiri

33:45

Aku merdeka. Semerdeka-merdekanya orangmu. Memang. Aku telah melakukan banyak kesalahan dan dosa kepada kalian. Aku mengakui itu. Dan sebab itulah. Aku datang pada hari ini.

34:15

Pada hari itu aku... Untuk memperbaiki... Segala kesalahan dan dosa terhadap kalian. Tapi... Memang benar katamu, Benarto. Aku... Aku hanyalah seorang... Yang tak harus diperdulikan. Aku...

34:50

Hanyalah orang miskin dan aku tidak berkehendak mendorong-dorongkan diri agar diterima di mana tempat yang tidak aku kehendaki. Baiklah, aku akan pergi sekarang. Tapi tahukah kau, Narto, betapa rasa sakitnya hatiku?

35:28

Aku orang yang pernah dihormati Aku orang yang pernah memiliki uang berjuta-juta banyaknya Sekarang aku diusir oleh anak kandungku sendiri Tapi biarlah dalam apapun aku terjerumus ke dalam kelembah sengsaraan Aku tidak akan kembali lagi

36:06

Ayah, tunggu dulu ayah. Jika Bang Narto tidak ingin menerima ayah, aku yang akan menerima ayah. Aku tidak peduli apa yang akan terjadi. Maimun, apa pernah kau menerima pertolongan darinya? Dulu aku memang pernah menerima tamparan, tendangan, bahkan pukulan darinya. Tapi sepijik zarah pun, aku tidak pernah menerima kebahagiaan darinya.

36:41

Tak apalah Maimun, biarlah aku pergi sekarang. Jika aku kembali, aku hanya mengganggu kebahagiaan dan ketenangan kalian saja. Memang inilah jalan terbaik untukku. Tidak ada jalan untukku kembali.

37:09

ayah ayah tunggu dulu ayah apa ya sudah makan apa ya punya uang tepi jalan atau dalam sungai hanya seorang pengemis sekarang memang sudah tiga hari aku berdiri di depan jalan sana memang seharusnya aku malu untuk masuk ke dalam rumah ini lagi

37:47

Yang dulu pernah aku tinggalkan Aku Sudah mulai tua Lemah dan sadar Langkahku Terayun kembali Aku Sudah tua dan Sawir Ayah Ayah Ayah

38:22

Ayah. Malam hari raya yang lalu ia pergi. Ia datang untuk pergi kembali. Bagaikan oba kering mainkan angin kencang. Seperti inilah nasib ibu. Bang.

39:07

Bang Narta! Bang bagaimana ini bang? Tidak bisa ke Abang maafkan Ayah Esok hari raya bang Hari raya Sudah sebatasnya bang kita saling maafkan Abang tidak merasa kasihan Kemana dia akan pergi selain itu bang?

39:42

Bang, sudah puas kamu? Setelah apa yang telah kamu lakukan kepada ayah? Tidak ada rasa kasihan kamu, Bang. Tidak ada rasa tanggung jawab terhadap adik-adikmu ini yang tidak memiliki ayah lagi. Janganlah kamu jalan lepas seperti ini. Abang suruh dia pergi. Dia itu ayah kita, Bang. Ayah kandung kita sendiri. Ayah kandung kita sendiri.

40:17

Jangan kalian lihat aku sebagai terdakwa Sudah lama aku mencoba untuk menghilangkan rasa itu Dan sekarang Kalian tinggal pilih

40:51

Aku atau dia? Tidak. Tidak, Bang. Aku akan panggil ayahku kembali. Aku tidak peduli, Bang, apa yang akan Abang lakukan kepada aku. Kalau perlu, Bang, bunuh saja aku, Bang. Ayahku harus pulang, Bang. Ayahku harus pulang. Ayahku pulang. Maimun. Ayahku.

41:26

Ibu, ayahmu nabuh. Ibu, ayahmu nabuh.

42:19

Ayah Ayah Ayah Ayah Ayah Ayah Ayah Ayah

43:07

Ibu, minta arsih. Bang Arto. Ayah, Bu. Ayah. Bang. Ibu. Di mana, Bang? Ayah mana? Di mana ayahmu? Tidak, aku dapat lagi, Bu. Di mana ayah berada?

43:45

Hai Maimun Bang ayah Bang Ayah dimana kau dapatkan sarung dan kopi ini dengan jembatan Bang lalu ayah Bagaimana dengan ayah aku tidak tahu lagi Bang dimana berada aku tidak tahu lagi Bang jadi ayahmu langsung

44:12

Ayah! Dia yang biasa diorbanin Dia yang amin Amin seperti diriku

44:29

Aku telah membunuh ayahku sendiri. Ayah. Maafkan aku, ayah. Maafkan aku. Ayahku harus pulang. Ayahku harus pulang. Ayah.

44:59

Ayah Ayahku pulang Hidupku Aku semuanya

46:23

Terima kasih.

48:07

Mari kita panggil aktor-aktor kita. Inilah mereka, Alamanda Mutiara Pardian, kelas 5 IPA sebagai Tina. Nisa Kuroto Ayun, kelas 4 Biologi sebagai Bintarsi. Gibran Willy, kelas 5 Bisnis sebagai Maimun. Maulana Syahrin Al-Gifari, kelas 3 Bisnis sebagai Salen.

48:37

dan inilah aktor utama kita, Dorip Asraf, 4 bisnis sebagai kudarto. Dorip adalah sang pria yang kita kembangkan sebagai bintang kelas 3, keajaran 2018-2019. Berikan tepuk tangan yang beriah kepada mereka. Sampai jumpa pada pertunjukan berikutnya. Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

More transcripts

Explore other videos transcribed with YouTLDR.

Get the TLDR of any YouTube video

Transcribe, summarize, and repurpose videos in 125+ languages — free, no signup required.

Try YouTLDR Free