Full Transcript

·YouTLDR

Belajar Strategi Merintis Bisnis Fashion - Wildan Salim Fadkhera - Dapur Ngebul - Yufid.TV

18:26IndonesianTranscribed Jul 29, 2026
0:00

Ketika kita berada di dalam sebuah komunitas ya dan kita merasa bahwa kita paling bodoh disitulah sebenarnya kita berada di tempat yang tepat. Sementara dunia bisnis itu dinamis dan saya menyenang sesuatu yang dinamis, banyak pengalaman.

0:29

Dan saya sempat minta izin ibu waktu itu. 5 menit sebelum saya dipanggil tanda tangan kontrak, saya telepon orang tua. Bisa dibayangkan lah suasananya, emosionalnya seperti apa. Tapi alhamdulillah ibu menyerahkan keputusan ke saya. Akhirnya singkat cerita baliklah saya lagi ke Jogja.

1:05

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Nama saya Wildan Salim. Saya founder dari Fathera, salah satu brand fashion muslim yang sedang berkembang insya Allah di Indonesia. Mungkin bagi sebagian orang berpikir bahwa dunia yang saya kuliti sekarang tidak berhubungan langsung dengan pendidikan yang saya tempuh dulu. Ada sebuah jokes juga sih bahwa dulu kuliahnya teknik mesin, sekarang ngurusin mesin jahit.

1:38

Di sekitar kampus dulu banyak sekali majelis, salah satunya adalah di wilayah Pogung, di wilayah utaranya kampus teknik UGM. Di situ saya mengenal salah satu wadah belajar yang Alhamdulillah punya kurikulum belajar agama di luar kampus dan punya kurikulum. Buat saya ini kesempatan istimewa, namanya Mahat Ilmi. Di situ saya mengenal lebih dalam belajar tentang akidah, tawhid, bahkan sampai kepada ilmu usul fikih.

2:14

Mengenal Majelis Ilmu ini, di mana dampaknya pada perjalanan bisnis yang saya lalui dari 2015 sampai dengan sekarang 2023. Alhamdulillah saya tidak pernah bersentuhan dengan perbankan misalnya. Dan ini bagi saya seperti memotong jalur, di mana banyak pengalaman teman-teman yang terjerat ribawi, mereka harus mengalami naik turun yang dahsyat dalam perjalanan bisnis.

2:48

Sebagai anak, saya coba untuk memenuhi harapan orang tua, mengambil opsi antara memenuhi keinginan saya, akan keyakinan bahwa terjun di dunia bisnis adalah jalan hidup saya. Maka saya pun tetap melamar ke beberapa perusahaan, sempat saya lewati sekitar setengah tahun dan

3:09

Sempat berujung dari sekian proses yang saya lewati di salah satu BUMN di Indonesia. Ada sekitar enam tahap waktu itu. Dan saya juga selalu update ke orang tua. Alhamdulillah saya lolos. Namun mungkin pertama karena memang saya merasa kurang cocok untuk terjun di dunia kerja. Saya menganggap bahwa dunia kerja

3:31

Rasanya bagi saya, ini persepsi saya pribadi tentunya, saya merasa bahwa dunia kerja itu kaku. Sementara dunia bisnis itu dinamis. Dan saya menyenangkan sesuatu yang dinamis. Banyak pengalaman. Dan saya sempat minta izin ibu waktu itu. Lima menit sebelum saya dipanggil tanda tangan kontrak, saya telepon orang tua. Bisa dibayangkan suasananya, emosionalnya seperti apa. Tapi alhamdulillah...

3:58

Ibu menyerahkan keputusan ke saya ya. Akhirnya singkat cerita baliklah saya lagi ke Jogja gitu ya. Salah satu titik yang penting adalah di tahun 2014 ketika Allah mengamanahi saya anak pertama saya terlahir dengan Down Syndrome ya.

4:20

Dia terlahir sebagai anak berkebutuhan khusus dan ini menjadi titik tolak, menjadi energi terbesar saya untuk berfikir ulang. Apakah saya akan tetap di sini atau akan membangun babak baru? Karena di sini ada tanggung jawab lebih bukan serta-merta diri saya, bukan serta-merta istri saya. Namun ada titipan dan saya akhirnya mantap jalur bisnis.

4:47

atau mungkin bahasa gaulnya dulu entrepreneur setelah bersolopreneur selama 2 tahun pasca lepas dari kerjasama bisnis tadi awal 2015 waktu itu bulan Maret adik angkatan saya, saya sebut namanya Gunawan dia nontak saya waktu itu saya pikir hanya sekedar mau liburan di Jogja atau bernostalgia lah karena bagi kita Jogja, Pohkung adalah

5:16

Romantisme tersendiri gitu ya, penuh kekangenan lah seperti itu Dan Alhamdulillah dari pertemuan itu tercetuslah Fathera Sebenarnya ide yang telah saya pikirkan selama kurang lebih 3 bulan ya di awal-awal 2015 Dan Alhamdulillah teman saya ini menyambut hangat gitu untuk segera mengeksekusinya ya

5:38

Dengan modal awal waktu itu disepakati 25 juta, walaupun pada pelaksanaannya saya tetap tidak langsung minta 25 juta, karena bagi saya 25 juta waktu itu adalah angka yang cukup besar dan ini adalah sebuah amanah. Maka waktu itu kurang lebih selama 3 bulan saya tarik secara bertahap. Juli 2015,

6:03

momen ramadhan waktu itu sebenarnya sudah sangat mepet karena memang kita menunggu selama 3 bulan seluruh baju kira-kira siap untuk dijual karena memang hanya satu penjahit di awal dan saya minta waktu itu ada sekitar 20 tipe baju dengan 85 piece bisa dibayangkan ya sebenarnya satu model baju itu hanya sekitar waktu itu kalau gak salah ada yang cuma 2 piece

6:30

atau paling banyak waktu itu 8 piece jadi ada yang cuma size M dan L ada yang MLXL tapi ini secara gimana ya sadar atau gak sadar sih sebenernya waktu itu ini justru menjadi trik marketing ya karena di awal jualan

6:51

produk terkesan banyak jadi lebih meriah dan cepat sold karena waktu itu saya hanya menjual via facebook saya up lewat akun pribadi saya dan Alhamdulillah dari 86 piece waktu itu tinggal tersisa sekitar 5 piece artinya 81 piece atau 90% lebih barang laku kesimpulan bagi saya bahwa Fathara

7:20

Insya Allah akan diterima ke depannya. Awal 2015, saya kembali ke toko langganan majalah bekas saya. Di Toko Merah. Toko Merah ini toko legend ya di Jogja. Ada edisi majalah Swap Agustus 2014 mengupas tentang middle class muslim ya. Secara umum gitu ya. Bagaimana potensi bisnis di kelas menengah muslim akan booming dalam 5 tahun, 10 tahun ke depan.

7:56

Saya lirik adalah fashion Kenapa fashion? Karena simple sih sebenarnya Waktu di Jogja ada salah satu toko ya Toko Ihya namanya Toko Ihya ini besar Jadi jualan buku, jualan baju gitu ya

8:12

Dan sebenarnya saya sendiri merasa agak skeptis sebenarnya dengan produk muslim sebelum melihat data-data tadi. Namun ketika melihat data di majalah tadi, saya cukup terbuka bahwa produk muslim akan merajai ke depannya. Dan terbuktilah di sekarang produk-produk, saya sebut merek nggak apa-apa kali ya, produk-produk Unilever misal sudah mulai membuat

8:41

Sabun cuci, haba tusauda, sikat gigi dengan siwak. Itu sudah diprediksi dari sebenarnya tahun 2014 tadi. Pas merintis di tahun 2015 sampai dengan 2018, 3 tahun, kadang saya berpikir, ini lama nggak sih ya?

9:03

Namun kembali lagi sih bahwa perjalanan bisnis setiap orang tidak bisa dibandingkan dengan perjalanan bisnis orang lain. Ini menjadi kunci penting sih supaya kita kemudian tidak ingin menjadi orang lain gitu. Karena memang karakter dari masing-masing owner suatu bisnis itu pasti berbeda gitu ya.

9:22

Fase merintis adalah fase yang melelahkan. Seperti Fathara di tahun pertama, saya hanya bisa menjual tiga kali waktu itu. Kenapa? Karena satu, saya hanya punya satu penjahit. Jadi saya harus menunggu tiga bulan untuk mengumpulkan sejumlah pis baju untuk bisa dijual.

9:41

kalau jual satu persatu kan gak mungkin gitu ya jadi ya per tiga bulan tadi pas ramadhan bulan Juli jualan lagi bulan Oktober jualan lagi bulan Februari dan jualan lagi bulan Juni waktu itu dimana di satu tahun usia kvatera saya memberanikan diri untuk mengikuti pameran dan Alhamdulillah memang efeknya ketika saya angkat ke online ya dan izin Allah

10:09

Fathira makin dikenal oleh banyak orang gitu ya. Ketika pelajaran pertama adalah tentang tawakal, yang kedua tentang daya tahan ya. Karena di fase awal merintis ya, bisa dibilang kita belum punya bukti yang kuat gitu ya. Untuk pasangan kita, untuk keluarga kita, untuk orang tua kita gitu. Apakah jalan yang kita tempuh ini akan berhasil gitu ya.

10:38

Namun memang perjalanan fase awal merintis ini cukup menyita waktu ya. Bahkan mungkin kita itu seperti memforsir tenaga kita, pikiran kita, bahkan waktu kita. Karena bisa dibilang mungkin ketika orang kantoran bekerja jam 5 selesai, kita masih harus lanjut sampai ya bisa dibilang 24 jam gitu bisa dibilang gitu ya. Makanya ketahanan kita kembali kepada

11:05

Niat kita membangun bisnis ini untuk menjadi kaya atau untuk tujuan yang lebih mulia tadi.

11:16

Perjalanan dari 2015 sampai dengan 2018 tadi begitu banyak step yang harus dilalui dari mulai kesabaran menjual produk per 3 bulan di 1 tahun pertama terus kemudian membangun brand lewat pameran kemudian mulai membangun jaringan marketer reseller sampai akhirnya pada 2018 membangun sistem keagenan

11:45

Ini menjadi sebuah tantangan yang mungkin pada saat pandemi kemarin sangat familiar kita dengan istilah agile. Sebenarnya agile ini juga dibutuhkan oleh para pengusaha pemula di awal-awal fase merintisnya. Artinya sebenarnya di belakang itu banyak keruatan yang memang mau tidak mau pengusaha

12:10

pemula harus melalui itu namun itu tidak boleh bertahan terus menerus gitu ya

12:17

Maka saya sebut di fase pertumbuhan ini diawali dengan membangun professional skill lah boleh saya sebut itu. Kenapa professional skill? Karena mau tidak mau perusahaan kecil harus membangun bisnisnya dengan serius. Dengan serius itu seperti apa? Kita harus bisa membangun bisnis ini walaupun dari kecil namun kita punya mimpi bisnis ini menjadi besar.

12:44

Ada istilahnya corporate mindset seperti itu.

12:48

Waktu itu 2018, saya belajar salah satu formula bisnis dari Pak Budi Isman. Beliau adalah profesional yang sekarang terjun mendidik para pengusaha UKM agar bisa menjalankan bisnisnya secara profesional. Belajar tentang konsep bisnis, belajar tentang manajerial kepada Pak Armala waktu itu. Walaupun di awal-awal belajar itu, bisa dibilang mungkin...

13:18

shock ya karena materinya adalah materi-materi yang bisa dibilang belum pernah kita menjumpainya sebelumnya kita tidak pernah belajar itu di kuliah namun ada satu quote dari salah satu pengusaha di Indonesia yang saya pernah membacanya di sosial medianya ketika kita berada di dalam sebuah komunitas dan kita merasa bahwa kita paling bodoh disitulah sebenarnya kita berada di tempat yang tepat

13:48

Karena disitulah sebenarnya ada kesempatan bahwa kita akan punya peluang bisa belajar dari orang-orang yang ada disitu. Kita akan bisa mencapai level orang-orang yang kita pandang dia lebih baik dari kita di saat itu. 2023 dan selanjutnya akan menjadi episode baru insya Allah dari Koko Modern.

14:22

menjadi esensial modern muslimwear. Artinya apa? Fathara dari dulunya hanya berfokus pada satu produk, ke depan akan mengembangkan produk kebutuhan fashion pria muslim sehari-hari atau daily muslimwear. Beberapa poin yang menurut saya perlu digarisbawahi bagi pengusaha pemula atau teman-teman yang ingin merintis bisnis ya. Satu adalah tentang pengelolaan keuangan ya.

14:55

Ketika sudah komitmen memulai bisnis, maka satu hal yang harus dilakukan adalah memisahkan uang bisnis dengan uang pribadi. Ini menjadi penting supaya kita tidak terlena bahkan ketika kita di awal tahap merintis bisnis gitu. Di awal-awal saya sarankan bisnis owner itu menikmati profit sewajarnya saja ya.

15:17

Kalau boleh dibilang malah justru sebagian besar mungkin 80% 70% itu masih diputar untuk menjalankan bisnisnya lebih besar lagi dan lebih besar lagi.

15:32

Poin yang kedua adalah tentang inovasi. Business owner bertanggung jawab penuh di tahap awal merintis agar produk bisa terus relevan dengan kebutuhan customer dan dengan perkembangan zaman. Semakin zaman berkembang, perilaku customer akan berubah dan ini menuntut inovasi pada sebuah produk. Poin yang ketiga adalah terkait dengan membangun tim. Membangun tim ini bisa dibilang gampang-gampang susah gitu ya.

16:02

Banyak paradigma yang harus kita runtuhkan ya. Dimana kebanyakan pengusaha pemula takut merekrut orang baru untuk dijadikan tim yang sejatinya dia akan membantu banyak memudahkan aktivitas bisnisnya. Ketika merekrut orang, jangan-jangan nanti dia akan keluar. Jangan-jangan nanti dia bisa lebih pintar dari saya dan akan membuat brand kompetitor.

16:29

Apa kunci dari membangun tim yang bagus? Menurut saya ada 3 poin yang perlu diprioritaskan. Yang pertama adalah

16:39

Cukupi kebutuhannya, artinya apa? Penuhi salary-nya, penuhi gajinya, di mana gaji itu bisa memenuhi kebutuhannya. Tim bisa berpikir dengan baik, bisa bekerja dengan baik, jika kebutuhan di rumahnya atau di balik kantornya sudah terpenuhi terlebih dahulu. Poin yang kedua, ciptakan lingkungan kerja yang kondusif.

17:02

Kondusif bagi seorang muslim artinya tempat kerjanya bisa menjadi tempat untuk mencari nafkah atau bekerja, namun sekaligus juga untuk beribadah. Poin yang ketiga adalah terkait dengan memberi kesempatan tim kita untuk bertumbuh. Jangan sampai kita bisnis owner takut bahwa tim kita jauh lebih pintar daripada kita.

17:31

Justru disitulah ketika kita bisa mencapai titik menumbuhkan, memberi kesempatan belajar kepada tim kita untuk bisa lebih pintar dalam hal marketing daripada kita, lebih pintar tentang penjualan daripada kita, lebih pintar melayani customer daripada kita. Justru disitu kita akan semakin tidak disibukan dengan dunia, semakin tidak disibukan dengan bisnis. Karena apa? Karena kita dibantu oleh tim-tim kita.

18:00

Dan sebagai timbal balik, kita bisnis owner semakin bisnis kita bertumbuh bisa memberikan benefit, bisa memberikan timbal balik yang jauh lebih baik, memenuhi kebutuhan fisiknya, memenuhi kebutuhan nafkahnya, bahkan jika memungkinkan membantu mereka mencapai mimpi-mimpi ketaatan kepada Allah SWT.

More transcripts

Explore other videos transcribed with YouTLDR.

Get the TLDR of any YouTube video

Transcribe, summarize, and repurpose videos in 125+ languages — free, no signup required.

Try YouTLDR Free