Full Transcript

·YouTLDR

PIKIRAN NEGATIF & Teman TOXIC Ternyata Bisa Membunuh Banyak Mimpimu? | SUARA BERKELAS #130

56:56IndonesianTranscribed Jul 29, 2026
0:00

become addicted to constant and

0:02

neverending self improvement. Dan

0:05

kata-kata itu selalu aku ingat-ingat

0:07

sehingga setiap hari aku harus improve,

0:10

aku harus belajar ada hal yang baru.

0:12

Nah, ketika aku ada di zona nyaman, aku

0:15

enggak menemukan hal yang baru lagi.

0:17

Karena 2025 itu, oh my god, it was very

0:19

tough. 2024 it was very tough also,

0:22

gitu. Dan tahun 2026 ini aku merasakan

0:24

sing-singilah bahwa oke, it's gonna be

0:27

better. It's going to be better. Jangan

0:28

biarkan kamu termakan oleh ketakutan

0:31

kamu sendiri, Bil. Itu mindset penting

0:33

banget ketika kita misalnya pengin

0:34

melakukan apapun. Merantau memberikan

0:37

aku bekal bahwa Rori, lu enggak punya

0:40

pilihan lain selain harus berhasil dan

0:42

Merant membuat aku tidak manja. I rely

0:44

on myself. Aku lebih suka dikelilingi

0:47

oleh orang-orang yang aku percaya.

0:48

Sedikit aja tapi berkualitas. Dan

0:50

menurutku itu telah membawaku ke level

0:54

yang sekarang yang I value quality more

0:57

than quantity. Aku menghargai

0:59

orang-orang yang memang benar-benar

1:00

tulus dan aku bisa membedakan orang yang

1:01

utentik dengan orang yang enggak

1:02

utentik.

1:04

Halo semuanya, kembali lagi di podcast

1:06

Suara Berkelas. Hari ini aku happy

1:09

sekali karena ketemu dengan podcaster

1:11

lainnya, ada Rori Asyari.

1:14

Hai Bil.

1:16

Terima kasih sudah datang ke suara

1:17

berkelas. Terima kasih sudah mengundang

1:19

Rori Asari yaitu host dari Room for

1:22

Improvement dan aku sarankan kalian juga

1:23

bisa ke channel Rori untuk belajar lebih

1:25

detail banyak hal tentang pengembangan

1:27

diri. Bro Rori,

1:30

aku udah lama sebenarnya ngikutin Mas

1:32

Rori itu dari BOV nonton di TV gitu ya

1:35

di dunia brcasting sejak lama gitu ya.

1:38

Tapi aku sadar orang-orang yang bertahan

1:40

lama yang konsisten itu karena dia

1:42

sebenarnya suka ngerjain hal itu gitu.

1:44

Heeh.

1:45

Tapi aku masuk ke seorang Rodi Asyari.

1:47

Apakah interviewer atau nanya sama

1:50

orang, ngobrol sama orang itu memang

1:52

passion yang dicreate?

1:53

Heeh.

1:54

Atau enjoy sejak lama terus digali lebih

1:56

detail gitu.

1:56

Heeh. Thank you, Bill. Aku pikir passion

1:59

itu sesuatu yang orang bentuk along the

2:02

way. Kita kadang-kadang disuruh untuk

2:05

mencari passion kita apa dan kita kadang

2:08

enggak ngerti passion kita apa, Bill.

2:09

Dan to me, that's ok. Karena passion itu

2:12

adalah sebenarnya kita bertanya pada

2:13

diri kita sendiri, merasakan

2:15

sinyal-sinyal kecil yang kita ikuti.

2:18

Kadang-kadang kita kebentur tembok,

2:20

kadang-kadang kita penyok. Ternyata

2:22

passion ini justru malah bukan passion

2:24

aku, tapi sesuatu yang menciptakan

2:25

trauma. Ternyata yang aku suka ini not

2:29

financially viable. Sehingga tidak aku

2:31

bisa jadikan passion. Hingga akhirnya

2:34

sinyal-sinyal yang kecil ini kita

2:36

dengarkan terus dan kita ikuti, kita

2:38

kembangkan, kita total, kita konsisten

2:41

hingga akhirnya nemu this is my passion.

2:46

Dan secara PD aku bisa mengatakan this

2:48

is my passion.

2:49

Nah, balik ke pertanyaan lo tadi, apakah

2:51

interviewing, apakah journalism, apakah

2:53

nyari berita, jadi reporter itu my

2:56

passion? I have to say no. Awalnya aku

3:00

terinspirasi

3:02

dari obrolanku dengan ayah ketika dulu

3:04

nonton seputar Indonesia RCTI.

3:07

Kita kenal banget yang namanya Sasa

3:08

Yusar Yahya Dana Iswara. Ayah

3:10

memperkenalkan itu. Tapi apakah aku suka

3:12

eventually e pada saat itu? Enggak. But

3:15

eventually aku mencoba untuk

3:17

mempelajari, mencoba untuk menanyai

3:20

diriku sendiri dan ternyata eh ada

3:21

ketertarikan ya. Hingga akhirnya, Bil,

3:23

setelah lulus kuliah, aku punya cuman

3:26

punya dua tujuan. Aku pengin satu ke

3:29

Metro TV atau ke The Jakarta Post, which

3:32

is where you used to work. Right? Kalau

3:34

dua itu enggak berarti enggak. Aku

3:37

enggak mau tempat selain dua tempat ini.

3:40

H.

3:40

Dan akhirnya takdir membawaku ke Metro

3:42

TV menjadi seorang reporter dan

3:44

eventually news anchor di sana. Dan

3:46

apakah aku suka dan apakah aku bisa

3:48

mengatakan itu passion aku? Yes, that's

3:50

my passion.

3:51

Dan aku jalani selama kurang lebih 10 11

3:54

tahun.

3:55

Dan sampai sekarang ketika kamu tanya

3:56

aku, apakah passionmu masih sama? Masih

3:59

sama, tapi passion juga ada adjustment.

4:02

So nowadays, my passion is my adjusted

4:06

wow.

4:06

One gitu.

4:07

Wow. Itu bagus. Passion juga ada

4:09

adjustment gitu.

4:11

Bagaimana cara beradaptasi? Bagaimana

4:13

cara cara bisa adjust dengan dunia yang

4:16

semakin berkembang sprit ini gitu? kayak

4:18

R yang dulunya sangat-sangat TV

4:21

sekarang move on ke YouTube, move on ke

4:23

short form.

4:24

Bagaimana di fase itu dan enggak semua

4:25

orang kemudian bisa openmed kayak

4:27

seorang Rori gitu?

4:28

Aku pikir yang paling penting adalah

4:30

soal mindset sih, Bil. Mindset bahwa

4:33

satu kita harus menekankan pada diri

4:35

kita untuk merasa tidak nyaman di zona

4:37

nyaman.

4:39

Iya.

4:40

Tidak nyaman di zona nyaman. Karena

4:41

gini, kalau misalnya gue bertahan di

4:43

posisi gue yang terlebih yang dulu, Bil,

4:45

udah enak banget, Bil. Gua udah jadi

4:47

host untuk Prime Talk. Ini adalah

4:49

flagship program jam . malam buat TV.

4:51

Itu adalah semua orang nonton.

4:53

That's a flagship program. He.

4:55

Em, alhamdulillah seorang Rori dulu

4:57

dikenal di Metro TV. Em, jadi em

5:00

ibaratnya pun internally pun eksternally

5:02

juga di ya dikenal lah gitu dan

5:04

dipercaya untuk membawakan program itu.

5:07

Tapi di momen itu, di momen yang nyaman

5:09

aku justru bertanya-tanya, kok gua

5:11

enggak ngerasa nyaman ya di zona nyaman?

5:14

Kok gue ngerasa

5:16

gue enggak berubah jadi lebih baik ya di

5:19

zona nyaman. Ingat bahwa di zona nyaman

5:21

itu there's no growth

5:24

in a comfort zone.

5:25

Gue terus bertanya-tanya hingga akhirnya

5:28

nampaknya gua harus keluar deh dari zona

5:30

nyaman ini dan mencoba untuk belajar hal

5:32

yang baru. Kebetulan prinsip aku adalah

5:35

ada satu penulis namanya Michael Day eh

5:39

Michael Jay. Angelo

5:41

dia selalu bilang, "Be addicted to

5:44

constant and neverending self

5:46

improvement." Dan kata-kata itu selalu

5:48

aku ingat-ingat sehingga setiap hari aku

5:51

harus improve,

5:52

aku harus belajar ada hal yang baru.

5:55

Nah, ketika aku ada di zona nyaman, aku

5:57

enggak menemukan hal yang baru lagi. Di

5:59

situlah aku memutuskan, "Oke, saatnya

6:01

untuk keluar dan

6:04

mengadjust passion kita."

6:06

He dari POV yang become adapted to

6:09

constant improvement, aku bisa melihat

6:11

dari kacamata ini orang nih

6:12

sangat-sangat adaptif gitu loh. Kayak

6:14

kamu bisa beradaptasi pada perubahan

6:16

zaman.

6:16

Mungkin sekarang kita punya podcast,

6:18

siapa tahu 5 tahun lagi Roni itu punya

6:19

sesuatu yang enggak bisa ditebak dari

6:20

sekarang gitu ya.

6:21

I ya.

6:22

Apa mindset yang harus kita gali bagi

6:24

teman-teman di sini yang takut sekali

6:26

untuk mencoba, takut sekali untuk quid,

6:28

takut sekali untuk mencoba hal baru

6:30

karena di di depan sana dunia enggak

6:32

pasti gitu. Mindset apa? pegangan apa

6:34

yang Rori itu punya gitu.

6:36

Emm, aku juga harus melihat bahwa

6:38

posisiku ketika keluar aku single dan

6:42

tidak berkeluarga, Bil. Mungkin mereka

6:44

yang berkeluarga mereka akan lebih punya

6:46

em apa ya ee

6:49

ee threat atau ketakutan atau

6:51

kekhawatiran yang lebih besar gitu. Tapi

6:53

yang jelas menurut aku agar kita berani

6:56

keluar emm ini nih makanya pentingnya

7:00

untuk di usia 20 sampai 35 menurut aku

7:05

explore sebesar-besarnya,

7:08

seluas-luasnya pun kalau misalnya nanti

7:10

kita gagal, kita masih di usia yang

7:13

cukup muda, relatif muda 20-an, 30-an

7:16

awal, that's still ok gitu. Banyak kok

7:19

orang-orang sukses yang justru malah

7:20

memulai kesuksesannya di usia 40 bahkan

7:22

45 tahun 50 tahun. That's ok. Kita

7:24

enggak balapan dengan siapapun gitu.

7:26

Nah, merasalah tidak nyaman justru di

7:30

zona nyaman. Karena siapa tahu justru

7:32

malah di zona nyaman itu kita akan di

7:34

posisi itu terus sampai tua dan kita

7:36

enggak akan bisa menjadi orang yang emm

7:38

lebih baik gitu.

7:39

Hm. He.

7:40

Dan kalau misalnya kita keluar bil,

7:42

Heeh.

7:43

It is to try pun. Kalau misalnya gagal,

7:45

ya,

7:45

kita akan bisa eh recover karena usia

7:48

kita masih muda. Kita pun juga ketika

7:50

keluar tabungan kita juga sudah cukup.

7:52

Makanya jangan keluar dengan keadaan

7:53

[tertawa]

7:54

ee miskin atau ee tidak berilmu gitu.

7:57

Tapi keluarnya pun juga strategis gitu.

7:59

He.

8:00

Tapi kalau misalnya berhasil, bagaimana

8:02

kalau berhasil?

8:03

Kita selalu berpikir bahwa gimana ya

8:04

kalau gagal.

8:05

Hm.

8:06

Tapi pernah enggak kita nyoba gimana

8:07

kalau berhasil?

8:08

H. He.

8:09

Eh, lah kok ternyata berhasil.

8:10

Heeh. Heeh.

8:12

Dan justru ketika kita merasa eh lah kok

8:14

malah berhasil, itu adalah keputusan

8:16

yang paling tepat yang kita bikin.

8:18

Keluar dari zona nyaman.

8:19

Aku setuju ketika kita ngelihat POV, ada

8:21

orang yang nyaman sekali dan mereka

8:23

merasa bahwa oh ini memang takdirku di

8:25

sini, aku sukses di sini sampai dia tua

8:27

bahwa

8:28

ceritanya udah kayak bisa ditebak gitu

8:29

loh.

8:30

Nah, orang-orang yang keluar dari nyaman

8:32

justru tadi mereka mematahkan takdirnya

8:34

gitu. Kayak aku mau coba hal baru, hal

8:35

yang mungkin di mata orang itu kok aneh

8:37

banget ya. Rori tiba-tiba quid kerjaan

8:40

yang sangat nyaman gitu ya di TV tadi

8:42

ya.

8:42

Nah, kalau memang di fase itu sukses di

8:46

meta Rori atau gua tahu ini sukses, ini

8:48

pencapaian gua kemudian kok gua enggak

8:50

happy ya. Nah, sekarang versi sukses

8:53

Rori yang di usia kamu sekarang gitu apa

8:56

yang yang apakah masih sama mungkin 5

8:58

tahun yang sebelumnya atau ada versi

8:59

suksesmu sendiri gitu

9:00

sangat berbeda. Dulu mungkin 5 10 tahun

9:03

yang lalu aku mungkin seperti kebanyakan

9:05

orang. sukses adalah punya rumah besar,

9:07

punya mobil mewah, punya tabungan banyak

9:10

gitu. Emm, tapi sekarang menurut aku

9:14

sukses adalah kita merasa tenang, Bil.

9:16

Kita merasa cukup, kita merasa secure

9:20

dalam berbagai bidang. Sukses itu

9:22

holistik menurutku,

9:23

ya.

9:23

Secure dalam hal finansial. Kita enggak

9:25

khawatir akhir bulan kita mau e hidup

9:29

seperti apa, besok kita mau makan apa,

9:31

aku mau beli, aku mau sekolah lagi atau

9:34

aku mau beli barang yang aku butuhkan

9:36

untuk pengembangan diriku. Kita enggak

9:37

takut kekurangan, secure secara

9:39

finansial. Sukses itu juga aku ngerasa

9:42

aku dikelilingi oleh orang-orang yang

9:44

sefrekuensi dan ada untuk mendukungku.

9:47

Bukan orang-orang yang menjatuhkanku,

9:49

bukan orang-orang yang justru malah drag

9:50

me down. itu juga sukses secara ee

9:54

pertemanan lingkungan. Sukses adalah aku

9:56

bisa mengangkat derajat

9:58

karyawan-karyawanku dan orang lain.

10:00

Aku menjadi orang yang selfless. Aku

10:03

memberikan dampak positif kepada

10:05

orang-orang di sekitarku dan orang-orang

10:07

yang misalnya terpapar oleh kontenku.

10:10

Itu dalam sisi impact. So menurutku

10:12

sukses itu adalah holistik. He.

10:14

Tapi yang membuatku berbeda dengan dulu

10:16

dan sekarang lebih ke ketenangan,

10:20

fulfillment, dan impact itu sukses buat

10:23

gua hari ini.

10:24

Berarti enggak cuma kata-katanya aku

10:26

Rori, tapi Rori bersama kita gitu.

10:29

Bersama kita semua. Yes. Eventually

10:32

kalau misalnya cuma ngejar aku, aku, aku

10:34

enggak akan ada habisnya sih di dunia

10:35

ini. Dan em oke kita dapat duit

10:39

banyak gitu. misalnya

10:41

kita ee eventually kita misalnya

10:43

dipercaya untuk ee jadi orang-orang

10:45

melakukan pencanan uang misalnya di

10:46

dunia banyak banget gitu,

10:48

tapi Bro sampai kapan kita akan mikir

10:51

aku aku terus gitu. Eventually justru

10:53

malah yang membuat kita merasa

10:54

fulfilled, kita merasa menjadi manusia

10:56

yang utuh adalah ketika kita bisa

10:57

bermanfaat buat orang lain.

10:59

He he.

11:01

Aku ngelihat sosok R ini kayak lu fit

11:04

sekali gitu ya.

11:05

Lu sehat, lu bugar gitu

11:07

secara fisik dan secara mental. Let's

11:09

say apa yang kita makan, apa yang kita

11:11

konsumsi, apapun yang masuk ke tubuh

11:12

kita itu sangat menentukan bagaimana

11:14

kita hari ini kan.

11:15

He he.

11:16

Kalau di ditarik 1 sampai 10, versi kamu

11:20

hari ini itu di angka berapa dan kenapa

11:22

kamu percaya diri bilang kamu di angka

11:24

itu dan bisa share ke kita enggak studi

11:26

kasus proses kamu yang mungkin pernah di

11:28

fase

11:28

down sekali dengan fisik dan mentalmu

11:30

kemudian sekarang di fase kamu prima

11:33

gitu?

11:33

Mungkin gua akan breakdown dulu ya. Emm,

11:35

ada di gue lihat pertanyaannya

11:38

ada makanan, ada secara mental, terus

11:40

ada mungkin pola tidur, ada olahraga dan

11:43

mungkin kayak hidup kali. Nah, ee aku

11:45

akan mulai dulu dari makanan.

11:48

Aku menjalankan pola hidup sehat, at

11:51

least mindful eating bill, itu

11:53

sebenarnya sejak mahasiswa, sejak

11:55

kuliah.

11:56

Walaupun aku harus mengakui bahwa dulu

11:57

kuliah aku masih ngerokok, bahkan

11:59

awal-awal kerja sebagai jurnalis kita

12:01

liputan ke lapangan itu satu hari bisa

12:03

satu pak rokok. H

12:05

tapi kalau dari ee makanan aku bisa

12:07

bilang bahwa aku mindful dari dulu.

12:09

Mindful tu artinya apa? Aku enggak akan

12:11

makan yang terlalu manis-manis, aku

12:12

enggak akan makan yang transfat. Aku

12:14

enggak akan makan yang makan-makanan

12:16

tepung-tepungan yang kekinian. Aku akan

12:18

mindful. So, dari segi makanan aku bisa

12:21

katakan aku saat ini di angka

12:25

dari segi makanan karena aku cukup

12:26

disiplin untuk itu. Mungkin kopinya aja

12:28

yang kadang-kadang kebanyakan. [tertawa]

12:31

Dari sisi kesehatan mental.

12:35

Ini work in progress menurutku. Saat ini

12:37

aku bisa bilang my kesehatan mental ada

12:40

di angka 8,5. Karena dari sisi kesehatan

12:44

mental itu kan juga holistik ya,

12:45

pekerjaan,

12:46

kehidupan pribadi,

12:48

lingkungan itu kan mempengaruhi. Aku

12:49

bisa katakan 8,5. Kenapa? Nah, karena

12:51

dari pekerjaan I feel fulfilled. Aku

12:53

ngerasa aku memberikan manfaat buat

12:55

orang lain. Dari segi eh hubungan

12:58

misalnya dengan keluarga, dengan

12:59

pasangan, dengan teman-teman, aku

13:02

ngerasa hubungannya positif, empowering,

13:05

saling mendukung. Terus misalnya soal

13:09

kondisi yang lain, kondisi keuangan,

13:11

kondisi kesehatan, ini kan juga

13:12

mempengaruhi mental health.

13:14

Aku ngerasa ya aman-aman aja,

13:16

alhamdulillah happy-happy aja. So, saat

13:18

ini my mental health adalah 8,5. Berbeda

13:21

even dengan tahun lalu.

13:23

Hm.

13:24

Aku aku enggak tahu kamu percayai

13:25

horoskop atau enggak ya, tapi tahun 2026

13:28

diprediksi e Taurus ini akan menjadi

13:30

moment of awakening buat Taurus. Dan aku

13:35

merasakan itu karena 2025 itu oh my god

13:37

it was very tough. 2024 it was very

13:40

tough also gitu. Dan tahun 2026 ini aku

13:43

merasakan sing-singah bahwa okay, it's

13:45

gonna be better. It's gonna be better.

13:46

Jadi, my mental health is going better

13:49

gitu. Dulu enggak 8,5, sekarang 8,5.

13:52

Tidur, tidur PR-ku masih aku

13:56

kadang-kadang tidur di atas jam 12.

13:59

Malam dan menurutku itu enggak sehat.

14:00

He.

14:01

Emm, aku masih ada di posisi 730 untuk

14:04

tidur

14:05

gitu sih, Bil.

14:06

He.

14:06

Kalau untuk physical health aku bisa

14:09

bilang katakan emm 8,5 karena aku juga

14:12

rajin olahraga. Aku em mindful banget

14:14

soal kesehatan.

14:15

H. dari berbagai aspek itu. Bagi

14:19

teman-teman di sini yang sangat ragu,

14:20

sangat bimbang kayak aku susah tidur,

14:23

aku susah makan segala macam gitu, mulai

14:26

dari mana dulu untuk mereka nge-fix

14:28

hidup mereka atau hari mereka mulai

14:30

tahun 2026 versi kamu?

14:32

Kupikir mulai dari perbaiki pola makan

14:36

dulu. We are what we eat.

14:38

H

14:38

ketika kita salah pola makan,

14:40

menjalarnya ke mana-mana. Menjalarnya ke

14:42

tidur, menjalarnya ke hormon. Apalagi

14:44

kalau kamu perempuan dan memasuki masa

14:46

perimenopause which is 35 plus itu akan

14:49

menjalar ke mana-mana. Dengan

14:51

memperbaiki pola makan kita akan

14:54

memperbaiki hidup. Gimana cara

14:55

memperbaiki pola makan? Makan real food.

14:58

Makan pola gizi berimbang, Bil. Kalau

15:01

misalnya ada karbo, ada lemak, ada

15:03

protein, karbonya karboompleks.

15:06

Singkong, kentang, ubi.

15:09

Proteinnya protein yang diolah secara

15:11

sehat, bukan sosis, bukan nugget. That's

15:14

UPF, that's not protein. That's protein

15:15

eventually, but ultra processed, which

15:18

we don't want. Kita pengin yang real

15:20

food, sup ayam, supan, ikan bakar, ikan

15:23

panggang, dan lemak sehat. Ada lemak

15:26

jahat, ada lemak baik sehat. Dari mana

15:28

lemak sehat? Apukat, kacang-kacangan.

15:31

Mulai itu lupakan dulu mie instan,

15:33

lupakan topoki, lupakan seblak dan lain

15:35

sebagainya. No. Semakin kita bertambah

15:37

umur 30 plus kita sudah harus menjauhi

15:40

makanan-makanan ini. Boleh, tapi sebulan

15:42

sekali aja.

15:43

H

15:43

gitu. Perbaiki dulu pola makan. Dari

15:46

situ kita pelan-pelan olahraga kita

15:48

perbaiki, pola tidur kita perbaiki, pola

15:51

hubungan dengan keluarga, teman-teman

15:53

kita kita perbaiki sambil juga kita

15:55

memperbaiki pola pikir kita, mindset

15:57

kita pelan-pelan gitu sih. Itu

15:59

sebenarnya terdengar sangat sederhana

16:00

ya.

16:01

Terdengar sangat [tertawa] dilakuinnya

16:03

ya. Terdengar sangat sederhana kayak itu

16:05

even kakek nenek moyang kita udah udah

16:07

ngebahas itu tentang real food, tentang

16:09

olahraga, tentang waktu segala macam.

16:11

Tapi di dunia sangat terdistraksi ini

16:13

yang sangat bising ini, justru itu salah

16:15

satu hal yang langka untuk dilakukan

16:17

oleh banyak orang. Dan that's why

16:19

orang-orang langka ini justru dia

16:21

gampang sekali outstanding gitu, gampang

16:22

sekali muncul gitu.

16:23

Betul. Betul. Tapi gini ya em kenapa aku

16:26

menyebut pola makan dulu em sebelum

16:29

pola-pola yang lain?

16:31

Karena em memang susah apalagi di

16:34

Jakarta di daerah tuh lebih gampang

16:36

untuk makan real food tuh. Di daerah

16:38

lebih gampang, Bilal. setuju.

16:41

Di Jakarta ini susah banget untuk makan

16:43

real food karena hal-hal yang instan ada

16:46

di mana-mana. He.

16:47

Dan menurutku secara fisik pola makan

16:50

ini adalah ibu. Tapi of course secara

16:54

mental yang perlu kita perbaiki dulu

16:56

adalah mindset. Dan menurutku mindset

16:58

sama pola makan itu punya keterikatan.

17:02

Ketika kita disiplin makan, mindful

17:06

makan, kita akan disiplin dan mindful

17:08

untuk hal-hal yang lain

17:10

gitu. Tidur, olahraga, pertemanan,

17:13

pekerjaan, itu akan merembet ke

17:15

mana-mana. Starts with your tummy.

17:18

Di zaman kreators ekonomi kayak

17:19

sekarang, semua orang berlomba-lomba

17:21

untuk hasilin cuan dari dunia digital.

17:23

Tapi faktanya enggak semua orang tahu

17:25

bahwa kita bisa menghasilkan uang dari

17:27

satu website builder doang. kita bisa

17:29

jualan kelas, bikin digital produk, book

17:32

konsultasi, sampai bikin ebook, bikin

17:35

tulisan-tulisan atau karya-karya kita

17:37

dijual langsung dan orang semuanya bisa

17:39

ke sana untuk langsung check out di

17:41

sana. Jadi kita bisa sambil tiduran 24

17:44

jam kita tidak harus mengontrol website

17:46

builder tersebut, tapi uang bisa tetap

17:47

masuk dari karya kita. Aku bakal kasih

17:49

solusinya. Solusinya ada di Link ID atau

17:52

Linkit. Dan aku udah pakai linkit sejak

17:53

tahun 2022. Dan itu memudahkan sekali

17:56

kalau kita sebagai kreator menghasilkan

17:59

uang dan semua orang bisa akses karya

18:01

kamu di sana. Misalnya kamu penulis

18:03

kayak aku, kamu bisa bikin ebook, even

18:05

orang-orang bisa konsultasi sama kamu

18:07

dengan bikin appointment di sana dan

18:09

mereka bisa menentukan jadwalnya

18:10

menyesuaikan dengan jadwal kita sebagai

18:12

penulis. Bahkan yang menariknya meskipun

18:14

kamu belum punya produk digitalmu

18:15

sendiri, kamu bisa affiliate produk

18:17

orang di Linkit dan itu luar biasa

18:19

banget. Banyak kreator-kreator di luar

18:21

sana enggak punya produk sendiri, tapi

18:22

bisa hasilin 2 digit, 3 digit per bulan

18:25

di linkin. So, bagi teman-teman yang

18:27

belum bikin link kit-nya, tunggu apaagi?

18:30

Langsung bikin sekarang. He, seminful

18:33

apa fashir rori hari ini gitu. Apakah

18:36

aku harus makan jam segini, jam segini,

18:38

jam segini, aku harus puasa hari ini,

18:40

puasa hari ini, seminful apa kalau aku

18:41

bisa masuk ke dunia kamu gitu?

18:43

Enggak ada batasan harus makan jam

18:44

segini. Cuman aku akan makan hanya

18:46

ketika aku merasa lapar. Ketika aku

18:49

enggak lapar, aku enggak akan sarapan.

18:51

Aku hanya cukup kopi dan air putih yang

18:53

banyak.

18:54

Kadang-kadang pun kalau misalnya makan

18:56

sarapan aku hanya telur rebus atau telur

18:58

dadar sedikit minyak, makan siang, aku

19:03

akan lebih banyak makan eh of course

19:05

real food pun nasi sedikit, sayur, ikan,

19:09

em mungkin buah-buahan. Makan malam aku

19:12

enggak pakai nasi, hanya lauk-lauk aja,

19:15

high protein

19:16

dan high serat. gitu sipil. So, enggak

19:19

ada yang resep aneh-aneh. Cuman apakah

19:21

Rori masih makan mie instan? Apakah

19:23

masakan

19:25

snack chiki-chikian gitu? Masih. Cuman

19:28

mindful aja dibatasin. Mie instan aku

19:30

terakhir makan sekitar 2 bulan yang

19:31

lalu, Bil. Sampai enggak ingat.

19:33

Chiki-chiki mungkin aku makan terakhir

19:35

em seminggu yang lalu aku jajan keripik

19:38

kentang. He

19:39

karena udah pengin banget seminggu yang

19:40

lalu. Terus ee kebetulan aku juga punya

19:44

snack sehat

19:45

ee namanya TBites. Itu pun aku juga

19:47

enggak terlalu banyak karena memang

19:49

anaknya enggak terlalu suka ngemil.

19:50

Aku enggak terlalu ee sering juga. So,

19:55

ya gitu. Makanlah untuk hidup bukan

19:57

hidup untuk makan. H. [tertawa]

20:00

Kalau aku bisa menarik ke versi

20:02

ngomongin tentang

20:04

procrastinate, ngomongin tentang rasa

20:08

takut, overthinking, dan lain-lain gitu

20:09

ya.

20:09

He.

20:10

Apa hal-hal yang kalau aku ibaratkan

20:13

pajak ya, pajak yang harus dibayar untuk

20:16

menjadi hari ini, apa yang sudah kamu

20:18

korbankan gitu. Apakah kamu sudah

20:20

melewati fase overthinking yang banyak

20:21

sekali? Mungkin mengorbankan pertemanan,

20:24

mengorbankan waktu dengan keluarga

20:25

segala macam, apa harga yang harus

20:27

dibayar?

20:29

Mm harga yang harus dibayar. Ya, mungkin

20:31

aku ee bisa katakan bahwa dari dulu aku

20:35

tipikal orang yang enggak

20:38

enggak punya banyak teman.

20:41

Aku tipikal orang yang merasa aman,

20:43

secure. Mungkin ini juga aku karena em

20:46

I'm very introverted ya. I'm an

20:48

introverted person.

20:50

Jadi, aku lebih suka em dikelilingi oleh

20:53

orang-orang yang aku percaya sedikit aja

20:55

tapi berkualitas gitu. Dan menurutku itu

20:59

telah membawaku ke level yang sekarang

21:02

yang eh I value quality more than

21:06

quantity. Aku menghargai orang-orang

21:08

yang memang benar-benar tulus dan aku

21:09

bisa membedakan orang yang otentik

21:10

dengan orang yang enggak utentik. Emm

21:12

itu menurut aku salah satu hari yang

21:13

harus dibayar yakni tidak punya banyak

21:15

teman. Tapi ya gue nyaman kayak begini

21:18

gitu loh. Gue nyaman punya close circle

21:20

aja yang orang-orang yang aku percaya

21:22

sehingga drama-drama pertaman tuh jarang

21:24

banget buat aku. Itu termasuk pajak

21:26

enggak sih? Gue pengin tanya sama lu

21:27

deh.

21:28

Itu mungkin karena udah udah diambil

21:29

dari awal kali ya kusan udah diambil

21:31

dari awal gitu.

21:32

Iya betul. Dan ya udah aku I follow apa

21:34

yang ada di hatiku aja dan aku nyaman

21:36

seperti itu gitu.

21:38

Terus mungkin apa ya aku mengorbankan

21:40

waktu of course banyak banget

21:42

weekend-wekend yang

21:44

akhirnya harus bekerja banting tulang.

21:46

Banyak banget

21:48

sleepless nights.

21:49

Hm.

21:50

Karena kita kerja atau karena kita

21:52

kepikiran gitu. Emm.

21:56

uang

21:57

anaknya suka belajar.

21:59

H

21:59

bahkan sekarang aku ambil MBA di saat

22:02

beberapa temanku bilang, "What the hell

22:03

are you doing?" Dan kadang-kadang juga

22:05

berpikir, "What the hell am I throwing

22:06

myself into?"

22:08

Di tengah kesibukan ini masih tetap

22:09

ambil MBA.

22:10

He.

22:11

Apa yang lu cari sih? Gitu.

22:12

Kadang-kadang juga bingung apa yang gua

22:13

cari sih gitu. Tapi

22:15

itu pengorbanan uang. Tapi aku percaya

22:17

bahwa eventually it will be worth it.

22:19

H

22:19

one day. Dan aku misalnya bil aku

22:22

mengambil MBA saat ini

22:24

em karena memang aku butuh fondasi

22:27

bisnis, I treat my podcast as.

22:31

He.

22:31

Sama seperti beberapa bisnis yang aku

22:34

saat ini run dan aku dirikan sama

22:36

beberapa bisnis partner. Aku enggak

22:38

punya fondasi bisnis, Bil. Makanya aku

22:40

harus melengkapi fondasi bisnis,

22:42

memperkuat fondasi bisnis dengan sekolah

22:44

lagi. Ya udah enggak apa-apa kehilangan

22:45

uang. He.

22:50

Dan itu adalah investasi sih gitu.

22:51

Iya iya ya. Itu itu benar itu justru

22:53

harga harus dibayar ketika keluar ruang

22:55

juga

22:56

keluar ruang juga untuk memperbaiki

22:57

fondasi-fondasi yang selama ini gua

22:59

punya bisnis kok kayak ada yang missing

23:01

yang dari Iya. I ya

23:02

iya iya.

23:03

Dan itu yang aku maksud tadi orang-orang

23:04

berkelas harusnya orang-orang yang

23:06

kemudian tahu konsekuensinya kenapa dia

23:08

ngambil ini, kenapa dia mengejar hal ini

23:10

gitu.

23:11

Dan balik lagi ke sisi mindset kali ya.

23:13

Tapi apakah ada fase-fase di mana kamu

23:15

mengambil satu keputusan kemudian kamu

23:17

pikir bahwa I wish I knew this earlier

23:20

aku enggak ambil keputusan ini. Dan

23:23

aku bisa bilang ini regret kamu kali ya

23:26

di fase yang 20-an ke 30-an.

23:29

Emm bohong kalau misalnya gua akan

23:31

bilang enggak ada hal yang gue sesali.

23:36

Emm gua akan menyesal

23:38

kenapa gua enggak investasi dari awal.

23:41

Hm. H

23:41

di periode usia 20 sampai 30-an gue

23:45

terlalu memanjakan Rori kecil, Bil.

23:48

Karena ibaratnya gue kayak balas dendam.

23:50

Gue hidup

23:51

em bisa dikatakan dulu masa kecil gue

23:53

kekurangan. He.

23:55

Terus akhirnya gue harus bekerja

23:57

sendiri, banting tulang, ee cari duit

23:59

sendiri. Dan itu memang proses yang

24:01

sangat menyakitkan dan sangat

24:02

melelahkan. Dan akhirnya ketika gue

24:04

merasa gue bisa mencari duit sendiri,

24:07

gue

24:08

memanjakan inner child gue.

24:10

Hm. di awal-awal usia 20-an. Tapi itu

24:13

kelamaan Bil sampai usia 30-an. Dari di

24:16

situ aha momennya baru rori lu harus

24:18

nabung, lu harus mulai invest. Terlalu

24:20

lama memenjakan rori kecil. Dan bahkan

24:23

even sampai beberapa tahun yang lalu aku

24:25

masih merasa insecure dan membandingkan

24:27

dengan orang lain sampai beberapa tahun

24:30

yang lalu belt.

24:31

Di mana

24:34

aku harus punya yang mereka punya agar

24:37

aku diterima.

24:39

So, to me, it's a learning process. Aku

24:41

harus punya yang mereka punya agar aku

24:42

diterima. Mereka punya jam bagus, aku

24:45

harus punya jam bagus biar aku diterima.

24:46

Mereka punya tas bagus, aku harus punya

24:48

tas bagus biar aku diterima. Mereka

24:50

punya uh sepatu mereka Italian brand,

24:52

aku harus punya biar aku diterima.

24:54

Sekarang

24:56

I don't give a damn.

24:58

Mereka mau pakai apa, aku mau pakai apa.

25:00

Ya udah, this is me. Tapi untuk sampai

25:02

ke sana butuh proses. Dan aku pengin

25:04

titip banget pesan sama teman-teman.

25:05

Ketika kamu masih ada di fase kamu ee

25:09

seolah-olah mengikuti standar sosial

25:11

untuk agar kamu ngerasa diterima, orang

25:14

akan bilang, "Jangan ikutin standar

25:15

sosial." Tapi menurut aku

25:18

nikmatin dulu aja, resapin dulu.

25:21

Tapi menurutku ini hal yang enggak baik.

25:22

I

25:23

tapi kadang-kadang orang keras kepala

25:25

atau orang ngeyel sampai dia terbentur

25:27

tembok sendiri dan itu adalah aku Bil.

25:29

Heeh. So, ketika teman-teman merasakan

25:32

adalah tipe-tipe kayak aku yang kalau

25:34

belum kebentur tembok belum kapok, coba

25:36

aja ikutin dulu aja. Ketika your society

25:39

dictates your lifestyle, dictates who

25:42

you are, not your authentic self, ikutin

25:44

aja dulu.

25:45

Hingga akhirnya kamu tersadar sendiri

25:49

dan dari situ kamu melihat diri ke

25:50

belakang, "Oh, aku enggak mau kembali

25:52

lagi ke sana."

25:53

H.

25:54

So, ada orang yang kita bilangin, "Udah,

25:56

jangan ikutin standar sosial." Ada

25:58

mereka yang ngikut, Bil. Iya,

25:59

is good. Alhamdulillah kalau kayak

26:01

begitu. Cuman kalau tipikalnya kayak aku

26:03

Taurus yang keras kepala ini susah harus

26:06

ngerasain dulu. Buat mereka yang susah

26:08

dan keras kepala ikutin aja dulu. Hingga

26:11

akhirnya you find that thick wall and

26:14

you hit that thick wall.

26:16

He.

26:17

Dan lu berubah dan lu akan ngelihat ke

26:18

belakang. Gua enggak mau ada di tik sana

26:20

lagi. No, I've changed. Gitu sih.

26:23

Aku setuju sekali sih. Banyak hal di

26:25

hidup ini yang memang itu enggak bisa

26:27

disarankan, enggak bisa kita arahkan.

26:29

Mereka tuh harus nabrak tembok itu

26:31

sendiri gitu. Baru mereka menyadari

26:32

bahwa

26:32

betul

26:33

oke ternyata seperti ini ya. Oh, benar

26:35

juga kata Rori dulu ya. Oh, benar juga

26:36

kata Bilal dulu ya. Benar. Benar.

26:38

Kita mau berbusa-busa podcast kayak

26:39

gimanapun kalau ada orang keras kepala

26:41

ya enggak akan berubah sih.

26:42

Benar benar. dia mere mereka harus

26:43

mendalami peran itu sendiri baru mereka

26:45

menyadari bahwa

26:46

betul betul

26:46

oh iya ini kehidupanah itu yang benar

26:48

aku pahami sebagai lesson ya

26:50

tapi kapan dan di mana kalau boleh

26:52

terbuka di sini momen kamu nabrak tembok

26:55

itu gitu kayak waduh ternyata seperti

26:57

ini ya waduh ternyata harusnya enggak

26:59

beli jam mahal ini ya kapan kapan itu

27:01

3 tahun yang lalu

27:02

menurut aku ya Bil gini

27:04

mindset itu kadang-kadang ya kita ada

27:06

surutnya ada naiknya kan ya kita

27:08

kadang-kadang ketika kita sudah di level

27:11

tertentu kita kan akan naik naik level,

27:13

jabatan aja naik level, ekspektasi kita

27:16

naik level,

27:18

penghasilan kita juga naik level. Dan

27:20

kadang-kadang ketika penghasilan kita

27:21

naik level, kita tergoda untuk bisa

27:23

masuk ke komunitas-komunitas atau

27:25

kelompok-kelompok tertentu yang memang

27:27

levelnya lebih lebih tinggi gitu.

27:29

Dan kita lihat di level sana, oh mereka

27:32

secara superficial nih, mereka pakai

27:34

handphone ini, mereka pakai jam itu,

27:36

mereka pakai sepatu ini gitu. Dan

27:38

kadang-kadang kita me apa ya memenuhi

27:41

rasa penasaran kita, ya udah deh gue

27:43

coba deh gue beli. Gue jadi obses, gue

27:44

juga mau beli. Biar diterima aja di

27:46

mereka dan tidak dianggap remeh gitu.

27:48

Hm.

27:49

Dan ternyata itu adalah ya tadi aku

27:51

bilang itu adalah penyesalan terbesar

27:53

karena enggak akan ada habisnya dan

27:55

eventually orang juga enggak akan

27:57

peduli. Dan sekarang aku ada di level di

27:59

mana ya udah kamu mau ngelihat aku kayak

28:02

gimana aku enggak peduli dan aku

28:04

kayaknya justru malah kelompok-kelompok

28:06

atau komunitas yang sesuperficial itu

28:08

itu berarti bukan kelompok yang baik

28:10

untuk dimasukin. Tapi kalau aku enggak

28:12

mengalami itu, aku enggak akan bisa

28:14

ngomong kayak begini nih, Bil.

28:16

Tip-tipe yang sekarang. So, ya sekitar 3

28:18

4 tahun yang lalu sih.

28:19

H. Apakah di situ momen ketika

28:23

akhirnya kamu menemukan sisi autentic

28:25

Rori yang sebenarnya gitu?

28:26

Yes, itu salah satunya. Salah satunya.

28:28

Tapi being authentic self itu menurut

28:30

aku sekali lagi banyak layernya. Tapi

28:32

dari sisi pertemanan, dari sisi ee

28:35

enggak butuh validasi orang, enggak

28:37

butuh pengakuan orang, itu momennya

28:40

gitu.

28:40

Bang Rori berarti bukan asli Jakarta

28:44

dari Solo. Cisana Rantau ya?

28:46

Heeh. Apa

28:49

yang menarik ketika kita ngomongin

28:50

tentang anak rantau gitu, berkarir di

28:52

kota orang dan kemudian merasakan bahwa

28:55

justru dengan merantau kita lebih punya

28:57

pikiran lebih terbuka, punya mindset

28:59

yang

29:00

tidak nyaman seperti tadi gitu.

29:02

Heeh. Menurut gue merantau itu cocok

29:05

banget karena

29:07

merasa tidak nyaman di zona nyaman salah

29:11

satu contohnya adalah merantau.

29:13

H

29:13

dengan merantau enggak ada yang nyaman,

29:15

Bil.

29:15

Iya. Lo datang ke kota besar yang kamu

29:20

enggak tahu siapa-siapa, kamu belum tahu

29:22

medannya kayak gimana, uang kamu ceka,

29:27

you make it or you fail. Pilihannya

29:30

hanya dua. Enggak ada yang di

29:31

tengah-tengah, aduh nanti kalau misalnya

29:32

aku gagal, aku akan ikut tanteku, akan

29:34

ikut budeku, aku akan ikut kakaku.

29:35

Enggak ada pilihan itu

29:36

ya. Either kamu berhasil atau kamu gagal

29:38

aja gitu. He.

29:40

Dan mindset dengan merantau adalah tidak

29:43

ada kenyamanan.

29:46

itu cocok banget dengan value yang aku

29:48

pegang. Makanya ketika aku dulu merantau

29:50

takut sih, tapi aku punya keyakinan

29:52

besar bahwa I will make it here gitu.

29:55

Dan yang aku lakukan memang benar-benar

29:57

aku orang yang sangat menikmati proses.

29:58

Jadi ketika di Metro TV aku mulai dari

30:01

liputan yang paling e paling brutal

30:03

kecelakaan ee pesawatlah, liputan

30:06

konflik, liputan demonstrasi yang sampai

30:09

ee rusuhlah, liputan di Papua lah,

30:13

kerusuhan dan lain sebagainya itu

30:15

mengajarkan aku untuk oh oke ini

30:17

ketidaknyamanan yang akan membawa aku ke

30:19

suatu tempat yang lebih baik gitu. So

30:21

ketidaknyamanan

30:23

akan selalu ada. Jangan berpikir bahwa

30:25

ketidaknyaman itu hanya ada di usia kita

30:27

awal-awal kerja noong.

30:28

I

30:29

setiap kali tahapan hidup bahkan mungkin

30:32

setiap tahun temukan ketidaknyamananmu.

30:35

H

30:35

aku percaya itu banget.

30:38

Merantau memberikan aku mindset bahwa

30:41

tidak ada yang nyaman.

30:43

He.

30:43

Merantau memberikan aku bekal bahwa Rori

30:46

lo enggak punya pilihan lain selain

30:48

harus berhasil. Dan merantau membuat aku

30:50

tidak manja. I rely on myself enggak ada

30:52

yang lain

30:53

gitu. Nah, orang-orang yang seperti ini

30:55

menurut aku, aku ngelihat juga dari

30:56

teman-teman yang berantau. Bukan berarti

30:58

orang-orang yang asli Jakarta enggak

31:00

bagi enggak baik. Enggak. Ini soal

31:03

mindset aja. Banyak juga orang-orang

31:05

Jakarta yang punya mindset petarung,

31:08

punya mindset aku harus berhasil. Dan my

31:11

privilege bukan harusnya menjadi my

31:13

obstacle, tapi my privilege sebagai

31:15

orang Jakarta harusnya menjadi fuel

31:17

untuk maju. Orang-orang yang kayak gitu

31:18

juga banyak banget, Bill. Gitu. So, it's

31:21

all about mindset. Kalau kamu misalnya

31:23

orang asli Jakarta dan mindset kamu

31:25

adalah petarung menganggap zona nyaman

31:27

itu seharusnya tidak nyaman,

31:30

he

31:30

kamu juga akan punya mindset seperti

31:32

perantau yang petarung ini gitu.

31:34

Tapi jadi merantau aku punya mindset

31:36

petarung sih.

31:37

He he. Seru ya ngomongin tentang

31:39

ketidaknyamanan ya.

31:41

Kamu sendiri gimana sekarang? Giliran

31:42

aku tanya dong. Kamu kan dari Aceh nih?

31:44

Iya kan? [tertawa]

31:45

Jangan dong. Salah podcast. Salah

31:46

podcast.

31:47

Salah podcast.

31:49

Iya. Tapi aku aku tadi sangat rileks

31:51

ketika ngomongin tidak kenyamanan karena

31:52

aku pikir bahwa selama ini aku pikir ee

31:55

justru kita harus mengejar kenyamanan

31:56

gitu. Aku pikir seperti itu ya. Faktanya

31:59

ketika kita tidak nyaman, kita lebih

32:01

punya mental yang kuat dan jangan

32:03

berharap hidup yang mudah kan justru

32:05

berharap karakter lebih kuat di jalan

32:07

yang enggak mudah gitu.

32:08

Betul. Tapi gini mungkin terus

32:09

teman-teman juga ada bertanya lah kalau

32:11

misalnya kita cari tidak nyaman terus

32:13

capek dong kapan habisnya? Kapan

32:15

nyamannya? Apa ujungnya? Jangan salah. H

32:18

ketidaknyamanan itu bisa dari aspek yang

32:21

lain. Tidak hanya serta-merta soal

32:23

finansial,

32:25

tidak hanya serta mererta soal kualitas

32:27

hidup. Kita boleh banget, Bil, cari

32:30

kualitas hidup nyaman. Cari financial

32:32

security sampai kita merasa nyaman. But

32:35

kita juga di sisi lain harus mencari

32:36

ketidaknyamanannya. Contohnya apa?

32:38

Contohnya aku harus belajar baru, yakni

32:41

bisnis, MBA. Ketidaknyamananku sekarang

32:43

aku harus membangun sesuatu yang baru.

32:46

Apa itu contohnya? podcast

32:48

ya.

32:49

Aku harus belajar skill yang baru.

32:51

Belajar suatu hal yang baru itu sangat

32:52

tidak nyaman. Tapi di sisi lain,

32:55

spektrum lain, alhamdulillah aku sudah

32:57

cukup nyaman. Dan ketika ini aku tidak

32:59

mencari ketidaknyamanan, aku akan stuck

33:01

di sini

33:03

dan aku akan bisa jatuh. Cuman ketika

33:04

aku terus berkembang dengan mencari

33:06

ketidaknyamanan, aku akan bisa

33:07

mempertahankan kenyamananku sambil aku

33:09

terus naik.

33:10

He

33:10

gitu. Dan itu yang aku harapkan

33:12

teman-teman yang dengar juga punya ee

33:14

semangat seperti itu sih.

33:15

He he. Tadi di awal sempat ngebahas

33:18

tentang punya slean yang kecil ya. Dan

33:20

aku pernah baca studi yang bilang kalau

33:23

semakin kecil sekel pertemanan, semakin

33:25

kita punya emotional intelligence itu

33:27

bagus gitu.

33:28

H. Tapi pernah enggak di fase anak

33:30

rantau ini tiba-tiba ke Jakarta dan dia

33:32

kemudian grow up, dia growing, dia

33:35

berkembang dan teman-temannya yang di

33:37

daerah ngelihat, "Wah, ini Roni udah

33:38

berkembang dan segala macam gitu." Dan

33:41

di titik itu ngerasa bahwa banyak orang

33:43

yang menjauh atau banyak orang yang

33:44

malah enggak suka sama kamu karena kamu

33:47

berani, kamu berbeda gitu. Apakah pernah

33:49

di fase het hometone hater course gitu?

33:53

Kalau iya bisa ceritakan ke kita. Dan

33:55

ini aku rasa sangat rel teman-teman di

33:57

luar sana yang mungkin kesepian karena

33:59

mereka menuju ke puncak itu lonely

34:01

chapter gitu.

34:01

Iya. Iya. Ini menarik banget dan aku

34:04

merasakan syndrom itu justru jauh

34:06

sebelum aku merantau karena aku ngerasa

34:08

berbeda.

34:09

Hmm.

34:10

Aku dari dulu sudah ngerasa berbeda

34:12

karena emm mungkin karena keadaan yang

34:16

keras ya, kondisi yang keras yang

34:18

mengharuskan aku harus kerja ekstra

34:20

dibanding teman-teman. Awal kuliah aku

34:22

kasih contoh teman-teman. pada ya udah

34:25

kuliah, habis itu main, habis itu

34:27

nongkrong. Aku harus bekerja jadi

34:28

seorang sales. Aku harus kerja di apotek

34:32

selama 9 jam untuk jualan sebuah

34:34

multivitamin.

34:35

He.

34:36

Atau sebelum itu aku jadi profesiku

34:37

sebagai badut, Bill.

34:39

Really?

34:39

Literally badut yang dibayar ee R30.000

34:43

untuk joget-joget pakai badut gede gitu

34:46

yang kayak sekarang badut gede di depan

34:48

em anak-anak TK.

34:50

di saat teman-teman yang lain mungkin

34:52

menikmati privilege karena orang tuanya

34:55

berpunya gitu.

34:56

Di situ aku sudah berbeda. Di situ aku

34:59

udah kehilangan teman,

35:02

tapi aku menemukan diriku sendiri dan

35:04

aku menemukan spirit bertarung itu

35:07

justru di situ di hal-hal sulit itu

35:09

gitu.

35:10

dari dulu memang sudah dianggap berbeda.

35:12

Jadi sekarang kalau misalnya dianggap

35:14

berbeda, aku akan melihatnya ini adalah

35:17

konsekuensi dari kerja keras dan

35:19

alhamdulillah aku berbeda untuk hal yang

35:21

positif.

35:21

He

35:22

bukan merendahkan yang lain, bukan. No,

35:24

bukan.

35:25

Tapi aku juga berprinsip bahwa ini

35:27

seperti yang ee Om Henry Manampiring

35:29

yang kamu juga harus undang

35:31

soal stoisme yang diajarkan

35:33

dikotomi kendali. Mel Robbins bilang,

35:35

"Let them." H

35:37

gitu. Ada hal yang bisa kita kontrol.

35:39

Ada yang enggak bisa kita kontrol. Yang

35:41

bisa kita kontrol ada diri kita. Kita

35:43

tetap being truthful to ourself, being

35:46

our authentic self. Yang tidak bisa kita

35:48

kontrol adalah pandangan orang,

35:50

bagaimana orang melihat kita, apakah

35:51

iri, apakah termotivasi, apakah

35:55

tertantang. Itu enggak bisa kita

35:56

kontrol. So, let them

35:58

h

35:58

let me focus on myself. Let me focus on

36:03

how to give positive things, positive

36:06

influence to others gitu. Let them let

36:09

me. Gu sih.

36:12

Kapan harusnya kita terbiasa untuk let

36:14

me gitu? Apakah itu selfish

36:16

kedengarannya?

36:17

Let me eh sangat berbeda dengan selfish

36:20

karena em kalau Mel Robbins itu

36:22

menjelaskan let them itu adalah kita let

36:26

hal-hal yang enggak bisa kita kontrol.

36:28

bagaimana orang melihat kita, bagaimana

36:31

orang bersikap pada pencapaian kita,

36:34

bagaimana orang melihat ee kita yang

36:37

kerja keras misalnya kita yang

36:38

berdedikasi, kita yang em fokus

36:41

mengembangkan diri, ya udah itu hal yang

36:43

enggak bisa kita kontrol.

36:45

Let them, tapi let me di sini adalah gue

36:48

sudah let them melakukan apapun yang

36:50

mereka mau, berpikiran apapun yang

36:51

mereka mau karena itu enggak bisa aku

36:52

kontrol. Let me di sini adalah lebih ke

36:55

biarkan aku melanjutkan kebaikan ini

36:56

karena kebaikan ini adalah untuk diriku

36:58

dan untuk orang-orang di sekitarku.

37:00

Biarkan aku terus melakukan hal-hal yang

37:03

aku bisa kontrol. Misalnya perkataanku,

37:06

perbuatanku,

37:08

dan pikiranku.

37:11

He

37:11

gitu. Jadi, Let me di sini enggak egois,

37:13

tapi let me di sini adalah aku

37:15

mengontrol hal-hal yang bisa aku

37:17

kontrol. Yakni ada tiga. Kalau Om Henri

37:19

Manampiring bilang, "He.

37:20

Apa yang aku pikirkan, apa yang aku

37:22

lakukan? apa yang aku ucapkan.

37:25

Let me berfokus pada tiga hal yang bisa

37:27

kita kontrol ini, gitu.

37:29

Karena ada fase di mana banyak orang

37:32

yang berkembang si kita berkembang nih,

37:34

kita ingin orang terdekat kita juga

37:35

berkembang gitu.

37:36

Heeh. He.

37:36

Tapi karena kita pasang ekspektasi dia

37:38

berkembang juga harusnya kayak kita,

37:40

kita malah kecewa sendiri kan. Kayak

37:42

kita enggak bisa ng-push kayak tadi

37:44

ee Mas Rori bilang, kita enggak bisa

37:46

menyarankan, kita enggak bisa memaksa

37:47

dia, dia harus ke bentur teman sendiri

37:49

gitu. Heeh.

37:49

Justru karena kita tahu dia orang

37:51

terdegar kita, kita takut dia gak bisa

37:53

kenapa-kenapa juga kan.

37:55

It's ok, Bill, untuk

37:59

akhirnya kita pada poin

38:03

let go things, termasuk teman, termasuk

38:07

tim.

38:08

Hm.

38:09

Kapal terus tetap harus terus berjalan.

38:12

Ada orang yang bisa mengikuti pace kapal

38:15

ini, ada orang yang enggak bisa

38:16

mengikuti page kapal ini. Ada yang

38:20

sekarang tetap searah, ada yang berbeda

38:22

arah. Dan it's ok to lose friends.

38:25

Ketika itu sudah tidak sefrekuensi dan

38:27

sudah tidak se eh arah pemahaman. It's

38:30

ok.

38:31

Karena orang juga akan berubah. Mungkin

38:33

dulu 10 tahun yang lalu dengan sekarang

38:36

aku kehilangan beberapa sahabat. It's

38:38

ok. Tapi aku menemukan sahabat-sahabat

38:40

dan teman-teman baru yang sefrekuensi

38:43

yang masih ee ada di ee apa ya jalur

38:47

yang sama gitu.

38:48

Kita juga tidak bisa memaksakan

38:49

pertemanan juga.

38:51

Demikian juga tim.

38:52

Ketika ada tim misalnya sudah tidak bisa

38:54

diajak untuk sefrekuensi searah lagi, ya

38:57

memang mungkin em tim itu sudah saatnya

39:01

mengembara di tempat yang lain.

39:03

Hm. Tapi yang jelas aku tahu ke mana aku

39:06

akan menuju dan aku akan attract some

39:09

but at the end of the day I will also

39:12

lose some. And that's ok.

39:14

H

39:15

gitu. Yang penting kita enggak

39:16

kehilangan jati diri kita sendiri dan

39:17

kita tahu pas titik mana yang akan kita

39:19

raih.

39:20

He

39:20

gitu sih.

39:21

He.

39:22

Aku mau di ke pertanyaan yang lebih

39:24

sederhana, lebih simpel based on

39:26

personal

39:27

yang mungkin sudah lama banget mengalami

39:29

hal ini gitu. Let's say Mas Rori dari

39:31

dulu udah terjun ke dunia publik gitu

39:33

walaupun introvert banget. Let's say

39:35

tadi aku kaget ketika ngomongin pernah

39:36

ngerasain jadi badut gitu.

39:37

I

39:38

itu hal yang sangat-sangat di luar

39:40

prediksi aku bahwa aku kirain bakal

39:42

linear sekali jurnalis segala macam.

39:44

Iya.

39:45

Justru pernah ditampil di publik seperti

39:47

itu kan memang ngelatih mental dari

39:49

kecil dan kamu berbeda gitu ya.

39:51

Nah, gimana caranya bagi

39:53

orang-orang yang nonton ini gitu? Mereka

39:54

yang mungkin sangat ragu dengan dirinya

39:56

sendiri. Mereka yang setiap hari

39:57

dibisikkan negatif self talk gitu. Heeh.

39:59

He.

39:59

Mereka yang tampil di depan publik

40:01

tiba-tiba entar dikatain orang apa ya

40:03

aku kereta bodoh segala macam yang di

40:05

mana Rori itu sudah ngejalanin belasan

40:06

tahun di sana gitu.

40:07

Heeh.

40:08

Gimana caranya supaya aku tetap aman

40:11

tampil di manapun

40:13

percaya dari versi kamu.

40:14

Hm. Kalau menurut aku emm satu yang

40:18

jelas

40:20

jangan biarkan kamu

40:22

termakan oleh ketakutan kamu sendiri

40:24

Bil. Itu mindset penting banget ketika

40:26

kita misalnya pengin melakukan apapun.

40:28

jadi public speaker.

40:31

Jadi eh kita melamar ke pekerjaan, kita

40:34

memulai suatu bisnis jangan sampai

40:36

kemakan ketakutan sendiri. Karena kita

40:39

selalu berpikir ya kayak tadi yang aku

40:41

bilang, "Gimana kalau gagal, tapi coba

40:43

pikirkan eh tapi gimana kalau berhasil

40:46

ya."

40:46

He

40:47

gitu. That's mindset

40:49

harus em kita tanamkan dulu. Yang kedua,

40:53

aku pengin lebih fokus ke soal public

40:54

speaking. Tidak ada orang yang lahir

40:57

ceprot langsung pintar ngomong sebagai

41:00

public speaker handal. No.

41:03

In fact, 75% orang di dunia ini

41:08

mengalami yang namanya glosofobia. Apa

41:10

itu glossofobia? Ketakutan untuk

41:13

berbicara di depan publik. Dan itu juga

41:16

terjadi pada seorang Rori.

41:18

Hm. He. He.

41:20

Glosofobia bisa dilawan. Gimana cara

41:23

ngelawan ketakutan pada public speaking?

41:26

Ada beberapa metode. Yang jelas of

41:28

course kita cari pelatihan public

41:32

speaking yang ee kita percaya bisa.

41:36

Karena dari pelatihan itu berarti

41:37

ngajarin kita hardware-nya, skill-nya.

41:39

I.

41:39

Terus yang kedua adalah shifting the

41:41

mindset. Ketika kita misalnya diminta

41:43

public speaking, kita kadang-kadang

41:45

terlalu memikirkan diri kita sendiri. M,

41:47

mi, mi. Gimana kalau aku jelek, gimana

41:49

kalau aku nanti enggak berhasil, gimana

41:50

kalau aku belibet, gimana kalau aku

41:51

nanti blank. He me.

41:55

Coba shift that me me kind of mentality

41:58

ke aku public speaking ini, aku bekerja

42:03

ini, aku ada di depan panggung ini

42:05

adalah aku ingin membantu audiensu untuk

42:09

paham

42:10

apa yang ada di pikiranku, apa yang aku

42:12

experience, apa yang menurutku mereka

42:15

harus tahu dengan kita shifting mindset

42:18

dari aduh nanti kalau aku gagal gimana

42:20

ya? Kalau aku nanti memalukan gimana ya

42:22

ke aku di sini aku pengin membantu

42:25

audienceku untuk paham apa yang ingin

42:27

aku sampaikan itu secara feeling kita

42:29

tuh jadi lebih tenang, Bil.

42:31

Hm.

42:31

Karena kita pengin berbagi, kita pengin

42:33

sharing

42:35

gitu. Itu cara yang pertama. Cara yang

42:38

kedua adalah ini dari Simon Sack, salah

42:40

satu penulis dan podcaster yang aku juga

42:42

sangat kagumi

42:43

di Amerika. Simon Senek bilang, "Ketika

42:46

kamu ketakutan untuk melakukan sesuatu

42:49

atau ketakutan untuk spesifik melakukan

42:51

public speaking, stimulinya apa, Bil?"

42:54

Aku tanya ke Bilal, ketika kamu misalnya

42:57

deg-degan mau public speaking, apa yang

42:58

kamu rasakan di dalam diri kamu?

43:01

Mungkin

43:03

sangat degdegan dan tiba-tiba

43:04

berkeringat dan

43:07

ragu ngomong belibet gitu.

43:09

Ragu ngomong belibet. Iya kan? Itu

43:10

adalah stimuli yang ada.

43:13

Tapi ketika kamu excited, Bill, misalnya

43:17

kamu mau nembak ngelamar cewek kamu,

43:20

kamu mau ketemu sama orang tua mereka,

43:23

kamu tahu sudah dapat sinyal bahwa orang

43:25

tua akan setuju,

43:28

tapi kamu tetap harus meyakinkan mereka

43:30

eventually.

43:31

Stimulinya apa yang ada di dalam

43:33

tubuh kamu?

43:34

Energiku meningkat,

43:37

tiba-tiba ngomong lancar aja kali.

43:39

Tiba-tiba ngomong lancar. Tapi deg-degan

43:41

juga enggak, Bel? pasti

43:42

keringat dingin juga enggak?

43:43

Pasti. Tapi kita tahu bahwa hasilnya tuh

43:44

akan sangat positif gitu ya.

43:45

Iya. Karena kita sudah ada keyakinan

43:47

kan.

43:48

Tapi excitement dan nervousness ternyata

43:52

stimulinya sama.

43:53

Hm.

43:54

Sama-sama degdegan, sama-sama keringat

43:56

dingin, sama-sama kita kadang-kadang mau

43:59

kebelet tipis,

44:00

kadang-kadang kita ee nedek enggak jelas

44:03

campur aduk.

44:05

Coba kita shift mindset kita ketika kita

44:08

ingin berbicara di depan panggung dari

44:11

nervousness menjadi excitement. I'm very

44:14

excited. Aku excited banget nih untuk

44:17

aku presentasi ini di depan semua orang.

44:20

Aku excited banget untuk aku pitching

44:22

ide ini di depan bos-bosku. stimulinya

44:25

sama, mindsetnya yang kita pindah atau

44:28

shift

44:30

dari nervous menjadi excited. Itu akan

44:33

ngefek banget ke otak kita dan ke tubuh

44:36

kita.

44:37

He.

44:37

Sekali lagi ketika kamu ngerasa didikan

44:39

untuk melakukan sesuatu,

44:43

jangan pernah berpikir gimana kalau

44:45

gagal, tapi berpikirlah gimana kalau

44:46

berhasil. Satu. Yang kedua, shift

44:49

mindset dari aku nervous menjadi I'm so

44:52

excited. I'm so excited. Aku pasti akan

44:55

bisa. H

44:56

dengan catatan tentunya kita sudah

44:57

mengerjakan PR

44:59

persiapan materinya juga sudah matang.

45:01

Kita juga sudah tahu tekniknya. Kita

45:04

juga sudah craft presentasi kita, public

45:06

speaking kita seperti apa. Dari akhir

45:08

sampai dari awal sampai akhir akan kita

45:10

skenerikan gimana

45:13

PR harus kita kerjakan dulu gitu sih.

45:16

He.

45:19

Tiga pertanyaan dari teman-teman suara

45:21

berkelas. Pertanyaan pertama dari Nadila

45:24

KSS. Nel Luux

45:26

H

45:27

gimana caranya Kak Rori itu bisa

45:29

konsisten dan adakah tips untuk bisa

45:31

mewujudkan resolusiku di 2026?

45:34

Oke, aku harus jawab dulu bahwa terakhir

45:38

kali aku membuat resolusi itu di tahun

45:41

2019.

45:42

He.

45:43

Dan aku sekarang tidak pernah membuat

45:45

resolusi. Aku bukan orang yang hobi dan

45:49

bisa bikin resolusi. Yang aku bikin

45:52

vision board. Vision board adalah hal

45:54

yang ingin aku raih dan yang aku

45:57

bayangkan di masa depanku akan seperti

45:59

apa. Tidak terbatas pada tahun ini,

46:01

tidak terbatas pada tahun depan, tapi in

46:04

the long run.

46:06

Aku pengin financially independent. Aku

46:08

pengin misalnya tinggal di daerah

46:11

pedesaan entah itu di Indonesia ataupun

46:13

di luar negeri. Aku pengin tidak takut

46:17

menghadapi hari dari sisi finansial,

46:20

dari sisi companionship dengan eh orang

46:22

lain. Mungkin itu adalah pasanganku,

46:25

keluargaku, saudaraku, teman-temanku.

46:28

Itu yang aku bikin adalah vision board.

46:31

Nah, gimana biar konsisten? Aku adalah

46:34

orang yang sangat menikmati proses B dan

46:36

aku adalah orang yang sangat menyadari

46:37

bahwa ketika kita ingin ke sana,

46:40

consistency is a must. Enggak ada

46:42

pilihan yang lain. Enggak ada orang yang

46:44

sukses hanya dengan menjalankan setahun

46:46

dan boom udah selesai. Enggak. Harus

46:49

konsisten dilakuin. Dan konsistensi ini

46:53

menurut aku juga adalah bentuk dari itu

46:56

tadi mencari ketidaknyamanan di zona

46:59

nyaman. kita akan terus mencari hal yang

47:01

baru. Kita terus harus beradaptasi

47:03

terus-terus. Ini adalah konsisten.

47:05

Misalnya dengan Bilal dengan podcast

47:07

suara berkelas yang luar biasa.

47:10

Dengan Bilal melakukan ini adalah bentuk

47:12

konsistensi. Dengan Bilal membaca buku

47:15

itu adalah juga bentuk konsistensi untuk

47:17

suara berkelas. Dengan Bilal misalnya

47:19

sekarang mempelajari orang-orang yang

47:22

potensial untuk jadikan narsum itu juga

47:24

adalah konsistensi. So, semuanya

47:25

bermuara ke titik yang sama.

47:28

menjadikan suara berkelas, berpengaruh

47:31

dan berdampak. Misalnya ya, Bil

47:34

orientasinya sama. Ini juga aku juga

47:36

vision boardku, aku pengin kehidupan

47:38

seperti apa sehingga konsistensiku akan

47:40

mengikuti

47:42

mulai dari

47:43

ya

47:43

saat ini digital media yang aku bangun,

47:45

mulai dari my professionalism, kalau aku

47:47

kerja aku harus profesional, mulai dari

47:49

aku yang terbuka untuk membangun network

47:52

baru dan menjaga network lama,

47:55

konsistensku untuk investasi semua ini

47:56

bermuara. Jadi

48:00

untuk mencapai visionard ini.

48:03

Wow. Itu itu masuk akal sekali karena

48:05

orang selama ini cuma ngelihat

48:06

konsistensi dari satu sudut pandang

48:08

doang.

48:09

Aku harus konsisten olahraga pagi

48:12

bikin podcast setiap hari. Mereka enggak

48:13

sadar bahwa ini kombinasi dari apa yang

48:15

kamu makan, apa yang kamu konsumsi,

48:17

kemudian ng-create konsistensi dalam

48:19

long run tadi.

48:19

Betul. Exactly. Ketika vision board

48:21

kamu, kamu bilang kamu pengin di usia 80

48:24

tahun nanti aku tetap fit, mobilitasku

48:26

tidak terganggu. Artinya untuk bisa

48:28

konsisten mencapai di sini, kita akan

48:30

konsisten makan sehat, kita akan

48:32

konsisten tidur yang teratur, kita akan

48:34

konsisten tidak minum, kita akan

48:35

konsisten untuk tidak ngerokok atau at

48:38

least meminimize rokok. Kita akan

48:39

konsisten untuk olahraga, muaranya ke

48:41

sana. This is to me consistency.

48:45

Wow. Ya, ini aku rasa jawaban yang

48:48

dibutuhkan sekali oleh Nadilux. Kita ke

48:50

pertanyaan kedua. Pertanyaan kedua dari

48:53

Manur Ilma. He,

48:55

dia nanya, "Aku nonton podcastnya Mas

48:57

Rori." Tapi boleh enggak sih share di

48:59

sini podcast atau conversation

49:02

favoritnya Mas Rori?

49:04

Surprisingly, justru my favorite episode

49:07

adalah episode dengan Myother dengan Ibu

49:10

Bill.

49:11

Hmm.

49:11

Kenapa?

49:13

Karena

49:14

orang banyak bilang, "It is a hard

49:16

conversation." Dengan kita ngobrol

49:18

dengan orang tua kita sendiri itu is

49:20

conversation. Iya.

49:21

Tapi sebagai orang yang menjadi saksi

49:24

kehidupan, betapa kerasnya kehidupan

49:26

mamaku dan aku memposisikan diri sebagai

49:30

em pewawancara profesional

49:33

sekaligus anak. Pewawancara profesional

49:35

nomor satu, nomor duanya adalah anak.

49:37

Aku bisa menggali.

49:40

Tujuannya apa? Menggali ini untuk

49:41

memberikan pembelajaran bagi sebanyak

49:43

mungkin orang yang mendengarkan. It's

49:45

meaningful because mamaku adalah tipikal

49:48

orang yang

49:50

dari mudanya

49:52

sudah banyak penderitaan. Bahkan dari

49:55

kehidupan perkawinannya, pernikahannya

49:57

sendiri dengan ayahku.

49:59

H

50:00

ee ibuku mempertahankan pernikahan 25

50:02

tahun untuk ibaratnya mengentaskan

50:06

anak-anaknya terlebih dahulu. Itu

50:07

pengorbanan yang sangat besar. Dan

50:09

bahkan ada di di episode itu ada satu

50:11

momen di mana dia harus commute. Kalau

50:14

kita di sini kan commute ya udah Bekasi,

50:16

Jakarta, Depok, Jakarta Pamaling berapa

50:19

sih, Bil? 1 jam gitu kan 1,5 jam.

50:22

Ibuku harus commute dari daerah yang

50:25

namanya Temanggung karena dia dosen di

50:27

Solo di UNS ke Solo yang jaraknya 3 jam,

50:31

berangkat 3 jam, pulang 3 jam setiap

50:34

hari selama 3 tahun. Seminggu 3 sampai

50:37

empat kali.

50:39

itu harus dia lakukan di ee selama 3

50:42

tahun. Ada kalanya ketika dia cerita

50:45

juga dia hamil besar 8 bulan berdiri di

50:48

bis di 2 jam pertama enggak ada orang

50:50

yang nawarin kursi. Ibu-ibu berdiri

50:54

hamil besar di bis.

50:58

Itu adalah cerita-cerita yang

51:00

menyedihkan. Tapi aku pengin

51:03

menceritakannya kepada sebanyak mungkin

51:05

orang bahwa perempuan yang menjadi ibuku

51:07

ini adalah perempuan yang tough. Dan

51:10

dari situlah

51:12

sikap petarung dan mentalitas toughness

51:15

dari diriku ini muncul karena

51:16

terinspirasi dari ibu. Itu sih. Jadi itu

51:20

sangat sangat apa namanya? sangat

51:22

membekas di aku. Dan eventually sekarang

51:24

Ibu akhirnya menikmati kebahagiaan

51:26

sejati Bill. Di mana beliau menikah di

51:30

usia 65 tahun dengan teman kuliahnya

51:32

dulu yang sudah terpisah 40 tahun.

51:36

Bilang

51:36

kayak di film ya.

51:37

Kayak [tertawa] di film. Kayak di film.

51:39

Kamu bayangin 40 tahun tidak bertemu

51:41

tapi akhirnya takdir mempertemukan

51:43

mereka. Dulu yang cowok ini, Pak Mariadi

51:47

suka sama mamaku, tapi mamaku sudah

51:49

pacaran sama papaku. Hingga akhirnya Pak

51:51

Maradi bahkan menyediakan kursi untuk

51:53

duduk di sampingnya. Tapi dia enggak

51:55

pernah said a single word bahwa dia suka

51:57

sama mama. Dia enggak pernah bilang.

51:59

Bahkan dia nganterin mamaku ke pacarnya,

52:01

yakni papaku. Diantarin. Betapa

52:04

hancurnya, cemburunya hati Pak Mari

52:06

waktu itu. Kemudian mereka ee ya sudah

52:09

menjalani kehidupan bersama-sama apa

52:11

berbeda. Nyokap menikah dengan bokap,

52:13

Pak Maridi menikah dengan e almarhumah

52:16

istrinya hingga 40 tahun kemudian

52:18

dipertemukan

52:20

dan kemudian mereka sekarang hidup

52:21

bersama. So, mamaku

52:25

di ujung hidupnya merasakan kebahagiaan

52:28

yang sejati setelah

52:31

berdekade-dekade melewati penderitaan

52:33

hidup siel.

52:33

Aku enggak tahu ini kenapa keteru ya.

52:35

[tertawa] Gokil sih ini bagus banget.

52:37

Oh, itu aku ketika wawancara nyokap aku

52:40

menahan air mata tuh

52:41

wah

52:42

berat banget. Dan sama produser akhirnya

52:45

we broke down. Kita

52:46

kita nangis tuh

52:47

besok ya. Kita nangis ketika kita

52:49

ngobrol tuh yang benar-benar aduh nangis

52:50

sejadi-jadinya. Tapi di episode itu aku

52:52

berusaha untuk tidak menangis karena aku

52:54

tidak pengin membuat showku menjadi

52:56

berdera air mata.

52:57

Tapi ya akhirnya enggak kuat juga.

52:58

Untung besoknya yang nangis.

53:00

Hm.

53:00

Gitu. Dan aku sampai sekarang masih

53:02

melihat banyak orang-orang yang komen

53:04

bahwa mereka sampai menangis dan mereka

53:06

memutar berkali-kali untuk menemani.

53:08

Mereka tetap kuat menjalani hidup sih

53:10

episode ini.

53:11

Aku harus nonton sih. Aku harus nonton.

53:13

Silakan.

53:15

Oke, kita ke pertanyaan ketiga.

53:18

Pertanyaan ketiga dari Liasa.

53:22

Apa yang harus kita lakukan ketika umur

53:25

kita menjelang 28 tahun agar di fase

53:29

30-an nanti aku bisa meminimalisir

53:32

penyesalan?

53:34

Explore sebanyak mungkin hal-hal yang

53:36

kita suka dan kita mau lakukan. Whatever

53:39

what you want to do as long as it's

53:41

positive for your growth, lakukan.

53:43

Investasilah di pengembangan diri. Kamu

53:47

misalnya aku suka traveling, explore.

53:50

Kamu suka belajar public speaking,

53:54

explore. Ada toast master,

53:56

ada TEDX.

53:58

He.

53:59

Kamu suka organisasi, explore, lakukan

54:01

sebanyak mungkin.

54:02

terbentur-terbenturlah,

54:03

bonyok-bonyoklah

54:05

ee di usia sebelum 28 ini. Sehingga

54:08

ketika nanti kita sudah memasuki usia 30

54:11

tahun, kita sudah merasakan ini dan

54:13

akhirnya oke dari sekian banyak

54:15

exploration ini aku sudah memilih jalur

54:18

yang akan aku ee daki dan aku titi,

54:21

yakni ini gitu.

54:22

He

54:23

ingat bahwa passion itu bisa adjusted,

54:25

passion itu bisa berubah. Kadang-kadang

54:28

yang kita percaya passion, ternyata

54:29

bukan passion kita. Jadi sampai usia 28

54:32

explore lah sebanyak mungkin asalkan itu

54:34

memberikan growth dan positive benefit

54:36

ke kita.

54:38

Hm.

54:38

He. Dan kamu ngomongin itu karena POV

54:41

sudah menjalani itu gitu.

54:42

Udah menjalani itu. [tertawa] Dan aku

54:44

yakin ya kayak tadi yang kita bilang

54:46

banyak orang yang enggak akan dengar

54:47

Allah ngomong apa sih ya. Kalau misalnya

54:48

kamu tipikal-tipikal kayak

54:50

aku yang harus kejedot dulu, enggak

54:52

apa-apa jalanin aja. Karena dari kejedot

54:54

itu kita jadi belajar gitu. He

54:59

bror, terima kasih sudah suar berkelas.

55:01

Sebelum aku tertutup, izinkan aku

55:03

menanyakan hal ini.

55:05

The worst advice yang pernah kamu

55:08

terima.

55:08

Hm. Ini menarik banget karena kejadian

55:10

nyata dan ee kejadian nyata ada

55:13

peristiwanya gitu.

55:15

Sebelum aku lulus S1, ada satu senior

55:17

tetangga yang bilang gini, "Udahlah

55:20

jangan cepat-cepat lulus nanti menambah

55:22

pengangguran di Indonesia."

55:24

Dan yang aku jawab pada waktu itu, aku

55:27

enggak akan menambah pengangguran di

55:29

Indonesia. Orang aku belum lulus aja aku

55:31

udah kerja.

55:32

Hmm.

55:33

Ekspresi dia langsung berubah.

55:36

Damn, I'm messing up with the wrong guy.

55:39

H.

55:40

Sebelum lulus aku udah kerja dan karena

55:44

keterpaksaan tapi juga karena semangat

55:46

juang untuk bertarung, Bill. So, kupikir

55:49

itu adalah the worst advice. If there is

55:51

someone who want to bring you down,

55:56

jangan biarkan orang itu bring you down.

56:00

Percayalah pada diri kamu bahwa kamu

56:03

bisa menjadi orang yang hebat, bisa

56:06

menjadi orang yang berguna buat sebanyak

56:08

mungkin orang.

56:10

Dan jangan dengarkan apa kata orang

56:11

lain. Orang lain itu ngomong kayak gitu

56:13

karena mereka insecure.

56:15

He.

56:15

Karena eventually orang ini yang memang

56:17

pada waktu itu belum bekerja, [tertawa]

56:19

tapi kamu messing up with the wrong guy.

56:21

He

56:22

gitu. So,

56:24

stop listening to other people's

56:25

opinion. Their opinions don't matter.

56:27

Kecuali kalau kamu dapat opinion dari

56:29

orang-orang yang memang kamu percaya dan

56:31

mereka ahli di bidang itu, kamu

56:33

dengarkan.

56:34

are listen to inner itu yang akan

56:39

menyelamatkan kamu di hidup.

56:40

Kalau kata Chris Williamson dia bilang

56:42

kalau mereka enggak punya apa yang kamu

56:43

inginkan, jangan dengarin mereka 100%.

56:46

Exactly.

56:47

Ya, terima kasih banyak Ri Asyari. Aku

56:49

senang sekali. Sehat terus, sehat terus.

56:51

Terima kasih semuanya.

56:53

Byebye.

More transcripts

Explore other videos transcribed with YouTLDR.

Get the TLDR of any YouTube video

Transcribe, summarize, and repurpose videos in 125+ languages — free, no signup required.

Try YouTLDR Free