PIKIRAN NEGATIF & Teman TOXIC Ternyata Bisa Membunuh Banyak Mimpimu? | SUARA BERKELAS #130
become addicted to constant and
neverending self improvement. Dan
kata-kata itu selalu aku ingat-ingat
sehingga setiap hari aku harus improve,
aku harus belajar ada hal yang baru.
Nah, ketika aku ada di zona nyaman, aku
enggak menemukan hal yang baru lagi.
Karena 2025 itu, oh my god, it was very
tough. 2024 it was very tough also,
gitu. Dan tahun 2026 ini aku merasakan
sing-singilah bahwa oke, it's gonna be
better. It's going to be better. Jangan
biarkan kamu termakan oleh ketakutan
kamu sendiri, Bil. Itu mindset penting
banget ketika kita misalnya pengin
melakukan apapun. Merantau memberikan
aku bekal bahwa Rori, lu enggak punya
pilihan lain selain harus berhasil dan
Merant membuat aku tidak manja. I rely
on myself. Aku lebih suka dikelilingi
oleh orang-orang yang aku percaya.
Sedikit aja tapi berkualitas. Dan
menurutku itu telah membawaku ke level
yang sekarang yang I value quality more
than quantity. Aku menghargai
orang-orang yang memang benar-benar
tulus dan aku bisa membedakan orang yang
utentik dengan orang yang enggak
utentik.
Halo semuanya, kembali lagi di podcast
Suara Berkelas. Hari ini aku happy
sekali karena ketemu dengan podcaster
lainnya, ada Rori Asyari.
Hai Bil.
Terima kasih sudah datang ke suara
berkelas. Terima kasih sudah mengundang
Rori Asari yaitu host dari Room for
Improvement dan aku sarankan kalian juga
bisa ke channel Rori untuk belajar lebih
detail banyak hal tentang pengembangan
diri. Bro Rori,
aku udah lama sebenarnya ngikutin Mas
Rori itu dari BOV nonton di TV gitu ya
di dunia brcasting sejak lama gitu ya.
Tapi aku sadar orang-orang yang bertahan
lama yang konsisten itu karena dia
sebenarnya suka ngerjain hal itu gitu.
Heeh.
Tapi aku masuk ke seorang Rodi Asyari.
Apakah interviewer atau nanya sama
orang, ngobrol sama orang itu memang
passion yang dicreate?
Heeh.
Atau enjoy sejak lama terus digali lebih
detail gitu.
Heeh. Thank you, Bill. Aku pikir passion
itu sesuatu yang orang bentuk along the
way. Kita kadang-kadang disuruh untuk
mencari passion kita apa dan kita kadang
enggak ngerti passion kita apa, Bill.
Dan to me, that's ok. Karena passion itu
adalah sebenarnya kita bertanya pada
diri kita sendiri, merasakan
sinyal-sinyal kecil yang kita ikuti.
Kadang-kadang kita kebentur tembok,
kadang-kadang kita penyok. Ternyata
passion ini justru malah bukan passion
aku, tapi sesuatu yang menciptakan
trauma. Ternyata yang aku suka ini not
financially viable. Sehingga tidak aku
bisa jadikan passion. Hingga akhirnya
sinyal-sinyal yang kecil ini kita
dengarkan terus dan kita ikuti, kita
kembangkan, kita total, kita konsisten
hingga akhirnya nemu this is my passion.
Dan secara PD aku bisa mengatakan this
is my passion.
Nah, balik ke pertanyaan lo tadi, apakah
interviewing, apakah journalism, apakah
nyari berita, jadi reporter itu my
passion? I have to say no. Awalnya aku
terinspirasi
dari obrolanku dengan ayah ketika dulu
nonton seputar Indonesia RCTI.
Kita kenal banget yang namanya Sasa
Yusar Yahya Dana Iswara. Ayah
memperkenalkan itu. Tapi apakah aku suka
eventually e pada saat itu? Enggak. But
eventually aku mencoba untuk
mempelajari, mencoba untuk menanyai
diriku sendiri dan ternyata eh ada
ketertarikan ya. Hingga akhirnya, Bil,
setelah lulus kuliah, aku punya cuman
punya dua tujuan. Aku pengin satu ke
Metro TV atau ke The Jakarta Post, which
is where you used to work. Right? Kalau
dua itu enggak berarti enggak. Aku
enggak mau tempat selain dua tempat ini.
H.
Dan akhirnya takdir membawaku ke Metro
TV menjadi seorang reporter dan
eventually news anchor di sana. Dan
apakah aku suka dan apakah aku bisa
mengatakan itu passion aku? Yes, that's
my passion.
Dan aku jalani selama kurang lebih 10 11
tahun.
Dan sampai sekarang ketika kamu tanya
aku, apakah passionmu masih sama? Masih
sama, tapi passion juga ada adjustment.
So nowadays, my passion is my adjusted
wow.
One gitu.
Wow. Itu bagus. Passion juga ada
adjustment gitu.
Bagaimana cara beradaptasi? Bagaimana
cara cara bisa adjust dengan dunia yang
semakin berkembang sprit ini gitu? kayak
R yang dulunya sangat-sangat TV
sekarang move on ke YouTube, move on ke
short form.
Bagaimana di fase itu dan enggak semua
orang kemudian bisa openmed kayak
seorang Rori gitu?
Aku pikir yang paling penting adalah
soal mindset sih, Bil. Mindset bahwa
satu kita harus menekankan pada diri
kita untuk merasa tidak nyaman di zona
nyaman.
Iya.
Tidak nyaman di zona nyaman. Karena
gini, kalau misalnya gue bertahan di
posisi gue yang terlebih yang dulu, Bil,
udah enak banget, Bil. Gua udah jadi
host untuk Prime Talk. Ini adalah
flagship program jam . malam buat TV.
Itu adalah semua orang nonton.
That's a flagship program. He.
Em, alhamdulillah seorang Rori dulu
dikenal di Metro TV. Em, jadi em
ibaratnya pun internally pun eksternally
juga di ya dikenal lah gitu dan
dipercaya untuk membawakan program itu.
Tapi di momen itu, di momen yang nyaman
aku justru bertanya-tanya, kok gua
enggak ngerasa nyaman ya di zona nyaman?
Kok gue ngerasa
gue enggak berubah jadi lebih baik ya di
zona nyaman. Ingat bahwa di zona nyaman
itu there's no growth
in a comfort zone.
Gue terus bertanya-tanya hingga akhirnya
nampaknya gua harus keluar deh dari zona
nyaman ini dan mencoba untuk belajar hal
yang baru. Kebetulan prinsip aku adalah
ada satu penulis namanya Michael Day eh
Michael Jay. Angelo
dia selalu bilang, "Be addicted to
constant and neverending self
improvement." Dan kata-kata itu selalu
aku ingat-ingat sehingga setiap hari aku
harus improve,
aku harus belajar ada hal yang baru.
Nah, ketika aku ada di zona nyaman, aku
enggak menemukan hal yang baru lagi. Di
situlah aku memutuskan, "Oke, saatnya
untuk keluar dan
mengadjust passion kita."
He dari POV yang become adapted to
constant improvement, aku bisa melihat
dari kacamata ini orang nih
sangat-sangat adaptif gitu loh. Kayak
kamu bisa beradaptasi pada perubahan
zaman.
Mungkin sekarang kita punya podcast,
siapa tahu 5 tahun lagi Roni itu punya
sesuatu yang enggak bisa ditebak dari
sekarang gitu ya.
I ya.
Apa mindset yang harus kita gali bagi
teman-teman di sini yang takut sekali
untuk mencoba, takut sekali untuk quid,
takut sekali untuk mencoba hal baru
karena di di depan sana dunia enggak
pasti gitu. Mindset apa? pegangan apa
yang Rori itu punya gitu.
Emm, aku juga harus melihat bahwa
posisiku ketika keluar aku single dan
tidak berkeluarga, Bil. Mungkin mereka
yang berkeluarga mereka akan lebih punya
em apa ya ee
ee threat atau ketakutan atau
kekhawatiran yang lebih besar gitu. Tapi
yang jelas menurut aku agar kita berani
keluar emm ini nih makanya pentingnya
untuk di usia 20 sampai 35 menurut aku
explore sebesar-besarnya,
seluas-luasnya pun kalau misalnya nanti
kita gagal, kita masih di usia yang
cukup muda, relatif muda 20-an, 30-an
awal, that's still ok gitu. Banyak kok
orang-orang sukses yang justru malah
memulai kesuksesannya di usia 40 bahkan
45 tahun 50 tahun. That's ok. Kita
enggak balapan dengan siapapun gitu.
Nah, merasalah tidak nyaman justru di
zona nyaman. Karena siapa tahu justru
malah di zona nyaman itu kita akan di
posisi itu terus sampai tua dan kita
enggak akan bisa menjadi orang yang emm
lebih baik gitu.
Hm. He.
Dan kalau misalnya kita keluar bil,
Heeh.
It is to try pun. Kalau misalnya gagal,
ya,
kita akan bisa eh recover karena usia
kita masih muda. Kita pun juga ketika
keluar tabungan kita juga sudah cukup.
Makanya jangan keluar dengan keadaan
[tertawa]
ee miskin atau ee tidak berilmu gitu.
Tapi keluarnya pun juga strategis gitu.
He.
Tapi kalau misalnya berhasil, bagaimana
kalau berhasil?
Kita selalu berpikir bahwa gimana ya
kalau gagal.
Hm.
Tapi pernah enggak kita nyoba gimana
kalau berhasil?
H. He.
Eh, lah kok ternyata berhasil.
Heeh. Heeh.
Dan justru ketika kita merasa eh lah kok
malah berhasil, itu adalah keputusan
yang paling tepat yang kita bikin.
Keluar dari zona nyaman.
Aku setuju ketika kita ngelihat POV, ada
orang yang nyaman sekali dan mereka
merasa bahwa oh ini memang takdirku di
sini, aku sukses di sini sampai dia tua
bahwa
ceritanya udah kayak bisa ditebak gitu
loh.
Nah, orang-orang yang keluar dari nyaman
justru tadi mereka mematahkan takdirnya
gitu. Kayak aku mau coba hal baru, hal
yang mungkin di mata orang itu kok aneh
banget ya. Rori tiba-tiba quid kerjaan
yang sangat nyaman gitu ya di TV tadi
ya.
Nah, kalau memang di fase itu sukses di
meta Rori atau gua tahu ini sukses, ini
pencapaian gua kemudian kok gua enggak
happy ya. Nah, sekarang versi sukses
Rori yang di usia kamu sekarang gitu apa
yang yang apakah masih sama mungkin 5
tahun yang sebelumnya atau ada versi
suksesmu sendiri gitu
sangat berbeda. Dulu mungkin 5 10 tahun
yang lalu aku mungkin seperti kebanyakan
orang. sukses adalah punya rumah besar,
punya mobil mewah, punya tabungan banyak
gitu. Emm, tapi sekarang menurut aku
sukses adalah kita merasa tenang, Bil.
Kita merasa cukup, kita merasa secure
dalam berbagai bidang. Sukses itu
holistik menurutku,
ya.
Secure dalam hal finansial. Kita enggak
khawatir akhir bulan kita mau e hidup
seperti apa, besok kita mau makan apa,
aku mau beli, aku mau sekolah lagi atau
aku mau beli barang yang aku butuhkan
untuk pengembangan diriku. Kita enggak
takut kekurangan, secure secara
finansial. Sukses itu juga aku ngerasa
aku dikelilingi oleh orang-orang yang
sefrekuensi dan ada untuk mendukungku.
Bukan orang-orang yang menjatuhkanku,
bukan orang-orang yang justru malah drag
me down. itu juga sukses secara ee
pertemanan lingkungan. Sukses adalah aku
bisa mengangkat derajat
karyawan-karyawanku dan orang lain.
Aku menjadi orang yang selfless. Aku
memberikan dampak positif kepada
orang-orang di sekitarku dan orang-orang
yang misalnya terpapar oleh kontenku.
Itu dalam sisi impact. So menurutku
sukses itu adalah holistik. He.
Tapi yang membuatku berbeda dengan dulu
dan sekarang lebih ke ketenangan,
fulfillment, dan impact itu sukses buat
gua hari ini.
Berarti enggak cuma kata-katanya aku
Rori, tapi Rori bersama kita gitu.
Bersama kita semua. Yes. Eventually
kalau misalnya cuma ngejar aku, aku, aku
enggak akan ada habisnya sih di dunia
ini. Dan em oke kita dapat duit
banyak gitu. misalnya
kita ee eventually kita misalnya
dipercaya untuk ee jadi orang-orang
melakukan pencanan uang misalnya di
dunia banyak banget gitu,
tapi Bro sampai kapan kita akan mikir
aku aku terus gitu. Eventually justru
malah yang membuat kita merasa
fulfilled, kita merasa menjadi manusia
yang utuh adalah ketika kita bisa
bermanfaat buat orang lain.
He he.
Aku ngelihat sosok R ini kayak lu fit
sekali gitu ya.
Lu sehat, lu bugar gitu
secara fisik dan secara mental. Let's
say apa yang kita makan, apa yang kita
konsumsi, apapun yang masuk ke tubuh
kita itu sangat menentukan bagaimana
kita hari ini kan.
He he.
Kalau di ditarik 1 sampai 10, versi kamu
hari ini itu di angka berapa dan kenapa
kamu percaya diri bilang kamu di angka
itu dan bisa share ke kita enggak studi
kasus proses kamu yang mungkin pernah di
fase
down sekali dengan fisik dan mentalmu
kemudian sekarang di fase kamu prima
gitu?
Mungkin gua akan breakdown dulu ya. Emm,
ada di gue lihat pertanyaannya
ada makanan, ada secara mental, terus
ada mungkin pola tidur, ada olahraga dan
mungkin kayak hidup kali. Nah, ee aku
akan mulai dulu dari makanan.
Aku menjalankan pola hidup sehat, at
least mindful eating bill, itu
sebenarnya sejak mahasiswa, sejak
kuliah.
Walaupun aku harus mengakui bahwa dulu
kuliah aku masih ngerokok, bahkan
awal-awal kerja sebagai jurnalis kita
liputan ke lapangan itu satu hari bisa
satu pak rokok. H
tapi kalau dari ee makanan aku bisa
bilang bahwa aku mindful dari dulu.
Mindful tu artinya apa? Aku enggak akan
makan yang terlalu manis-manis, aku
enggak akan makan yang transfat. Aku
enggak akan makan yang makan-makanan
tepung-tepungan yang kekinian. Aku akan
mindful. So, dari segi makanan aku bisa
katakan aku saat ini di angka
dari segi makanan karena aku cukup
disiplin untuk itu. Mungkin kopinya aja
yang kadang-kadang kebanyakan. [tertawa]
Dari sisi kesehatan mental.
Ini work in progress menurutku. Saat ini
aku bisa bilang my kesehatan mental ada
di angka 8,5. Karena dari sisi kesehatan
mental itu kan juga holistik ya,
pekerjaan,
kehidupan pribadi,
lingkungan itu kan mempengaruhi. Aku
bisa katakan 8,5. Kenapa? Nah, karena
dari pekerjaan I feel fulfilled. Aku
ngerasa aku memberikan manfaat buat
orang lain. Dari segi eh hubungan
misalnya dengan keluarga, dengan
pasangan, dengan teman-teman, aku
ngerasa hubungannya positif, empowering,
saling mendukung. Terus misalnya soal
kondisi yang lain, kondisi keuangan,
kondisi kesehatan, ini kan juga
mempengaruhi mental health.
Aku ngerasa ya aman-aman aja,
alhamdulillah happy-happy aja. So, saat
ini my mental health adalah 8,5. Berbeda
even dengan tahun lalu.
Hm.
Aku aku enggak tahu kamu percayai
horoskop atau enggak ya, tapi tahun 2026
diprediksi e Taurus ini akan menjadi
moment of awakening buat Taurus. Dan aku
merasakan itu karena 2025 itu oh my god
it was very tough. 2024 it was very
tough also gitu. Dan tahun 2026 ini aku
merasakan sing-singah bahwa okay, it's
gonna be better. It's gonna be better.
Jadi, my mental health is going better
gitu. Dulu enggak 8,5, sekarang 8,5.
Tidur, tidur PR-ku masih aku
kadang-kadang tidur di atas jam 12.
Malam dan menurutku itu enggak sehat.
He.
Emm, aku masih ada di posisi 730 untuk
tidur
gitu sih, Bil.
He.
Kalau untuk physical health aku bisa
bilang katakan emm 8,5 karena aku juga
rajin olahraga. Aku em mindful banget
soal kesehatan.
H. dari berbagai aspek itu. Bagi
teman-teman di sini yang sangat ragu,
sangat bimbang kayak aku susah tidur,
aku susah makan segala macam gitu, mulai
dari mana dulu untuk mereka nge-fix
hidup mereka atau hari mereka mulai
tahun 2026 versi kamu?
Kupikir mulai dari perbaiki pola makan
dulu. We are what we eat.
H
ketika kita salah pola makan,
menjalarnya ke mana-mana. Menjalarnya ke
tidur, menjalarnya ke hormon. Apalagi
kalau kamu perempuan dan memasuki masa
perimenopause which is 35 plus itu akan
menjalar ke mana-mana. Dengan
memperbaiki pola makan kita akan
memperbaiki hidup. Gimana cara
memperbaiki pola makan? Makan real food.
Makan pola gizi berimbang, Bil. Kalau
misalnya ada karbo, ada lemak, ada
protein, karbonya karboompleks.
Singkong, kentang, ubi.
Proteinnya protein yang diolah secara
sehat, bukan sosis, bukan nugget. That's
UPF, that's not protein. That's protein
eventually, but ultra processed, which
we don't want. Kita pengin yang real
food, sup ayam, supan, ikan bakar, ikan
panggang, dan lemak sehat. Ada lemak
jahat, ada lemak baik sehat. Dari mana
lemak sehat? Apukat, kacang-kacangan.
Mulai itu lupakan dulu mie instan,
lupakan topoki, lupakan seblak dan lain
sebagainya. No. Semakin kita bertambah
umur 30 plus kita sudah harus menjauhi
makanan-makanan ini. Boleh, tapi sebulan
sekali aja.
H
gitu. Perbaiki dulu pola makan. Dari
situ kita pelan-pelan olahraga kita
perbaiki, pola tidur kita perbaiki, pola
hubungan dengan keluarga, teman-teman
kita kita perbaiki sambil juga kita
memperbaiki pola pikir kita, mindset
kita pelan-pelan gitu sih. Itu
sebenarnya terdengar sangat sederhana
ya.
Terdengar sangat [tertawa] dilakuinnya
ya. Terdengar sangat sederhana kayak itu
even kakek nenek moyang kita udah udah
ngebahas itu tentang real food, tentang
olahraga, tentang waktu segala macam.
Tapi di dunia sangat terdistraksi ini
yang sangat bising ini, justru itu salah
satu hal yang langka untuk dilakukan
oleh banyak orang. Dan that's why
orang-orang langka ini justru dia
gampang sekali outstanding gitu, gampang
sekali muncul gitu.
Betul. Betul. Tapi gini ya em kenapa aku
menyebut pola makan dulu em sebelum
pola-pola yang lain?
Karena em memang susah apalagi di
Jakarta di daerah tuh lebih gampang
untuk makan real food tuh. Di daerah
lebih gampang, Bilal. setuju.
Di Jakarta ini susah banget untuk makan
real food karena hal-hal yang instan ada
di mana-mana. He.
Dan menurutku secara fisik pola makan
ini adalah ibu. Tapi of course secara
mental yang perlu kita perbaiki dulu
adalah mindset. Dan menurutku mindset
sama pola makan itu punya keterikatan.
Ketika kita disiplin makan, mindful
makan, kita akan disiplin dan mindful
untuk hal-hal yang lain
gitu. Tidur, olahraga, pertemanan,
pekerjaan, itu akan merembet ke
mana-mana. Starts with your tummy.
Di zaman kreators ekonomi kayak
sekarang, semua orang berlomba-lomba
untuk hasilin cuan dari dunia digital.
Tapi faktanya enggak semua orang tahu
bahwa kita bisa menghasilkan uang dari
satu website builder doang. kita bisa
jualan kelas, bikin digital produk, book
konsultasi, sampai bikin ebook, bikin
tulisan-tulisan atau karya-karya kita
dijual langsung dan orang semuanya bisa
ke sana untuk langsung check out di
sana. Jadi kita bisa sambil tiduran 24
jam kita tidak harus mengontrol website
builder tersebut, tapi uang bisa tetap
masuk dari karya kita. Aku bakal kasih
solusinya. Solusinya ada di Link ID atau
Linkit. Dan aku udah pakai linkit sejak
tahun 2022. Dan itu memudahkan sekali
kalau kita sebagai kreator menghasilkan
uang dan semua orang bisa akses karya
kamu di sana. Misalnya kamu penulis
kayak aku, kamu bisa bikin ebook, even
orang-orang bisa konsultasi sama kamu
dengan bikin appointment di sana dan
mereka bisa menentukan jadwalnya
menyesuaikan dengan jadwal kita sebagai
penulis. Bahkan yang menariknya meskipun
kamu belum punya produk digitalmu
sendiri, kamu bisa affiliate produk
orang di Linkit dan itu luar biasa
banget. Banyak kreator-kreator di luar
sana enggak punya produk sendiri, tapi
bisa hasilin 2 digit, 3 digit per bulan
di linkin. So, bagi teman-teman yang
belum bikin link kit-nya, tunggu apaagi?
Langsung bikin sekarang. He, seminful
apa fashir rori hari ini gitu. Apakah
aku harus makan jam segini, jam segini,
jam segini, aku harus puasa hari ini,
puasa hari ini, seminful apa kalau aku
bisa masuk ke dunia kamu gitu?
Enggak ada batasan harus makan jam
segini. Cuman aku akan makan hanya
ketika aku merasa lapar. Ketika aku
enggak lapar, aku enggak akan sarapan.
Aku hanya cukup kopi dan air putih yang
banyak.
Kadang-kadang pun kalau misalnya makan
sarapan aku hanya telur rebus atau telur
dadar sedikit minyak, makan siang, aku
akan lebih banyak makan eh of course
real food pun nasi sedikit, sayur, ikan,
em mungkin buah-buahan. Makan malam aku
enggak pakai nasi, hanya lauk-lauk aja,
high protein
dan high serat. gitu sipil. So, enggak
ada yang resep aneh-aneh. Cuman apakah
Rori masih makan mie instan? Apakah
masakan
snack chiki-chikian gitu? Masih. Cuman
mindful aja dibatasin. Mie instan aku
terakhir makan sekitar 2 bulan yang
lalu, Bil. Sampai enggak ingat.
Chiki-chiki mungkin aku makan terakhir
em seminggu yang lalu aku jajan keripik
kentang. He
karena udah pengin banget seminggu yang
lalu. Terus ee kebetulan aku juga punya
snack sehat
ee namanya TBites. Itu pun aku juga
enggak terlalu banyak karena memang
anaknya enggak terlalu suka ngemil.
Aku enggak terlalu ee sering juga. So,
ya gitu. Makanlah untuk hidup bukan
hidup untuk makan. H. [tertawa]
Kalau aku bisa menarik ke versi
ngomongin tentang
procrastinate, ngomongin tentang rasa
takut, overthinking, dan lain-lain gitu
ya.
He.
Apa hal-hal yang kalau aku ibaratkan
pajak ya, pajak yang harus dibayar untuk
menjadi hari ini, apa yang sudah kamu
korbankan gitu. Apakah kamu sudah
melewati fase overthinking yang banyak
sekali? Mungkin mengorbankan pertemanan,
mengorbankan waktu dengan keluarga
segala macam, apa harga yang harus
dibayar?
Mm harga yang harus dibayar. Ya, mungkin
aku ee bisa katakan bahwa dari dulu aku
tipikal orang yang enggak
enggak punya banyak teman.
Aku tipikal orang yang merasa aman,
secure. Mungkin ini juga aku karena em
I'm very introverted ya. I'm an
introverted person.
Jadi, aku lebih suka em dikelilingi oleh
orang-orang yang aku percaya sedikit aja
tapi berkualitas gitu. Dan menurutku itu
telah membawaku ke level yang sekarang
yang eh I value quality more than
quantity. Aku menghargai orang-orang
yang memang benar-benar tulus dan aku
bisa membedakan orang yang otentik
dengan orang yang enggak utentik. Emm
itu menurut aku salah satu hari yang
harus dibayar yakni tidak punya banyak
teman. Tapi ya gue nyaman kayak begini
gitu loh. Gue nyaman punya close circle
aja yang orang-orang yang aku percaya
sehingga drama-drama pertaman tuh jarang
banget buat aku. Itu termasuk pajak
enggak sih? Gue pengin tanya sama lu
deh.
Itu mungkin karena udah udah diambil
dari awal kali ya kusan udah diambil
dari awal gitu.
Iya betul. Dan ya udah aku I follow apa
yang ada di hatiku aja dan aku nyaman
seperti itu gitu.
Terus mungkin apa ya aku mengorbankan
waktu of course banyak banget
weekend-wekend yang
akhirnya harus bekerja banting tulang.
Banyak banget
sleepless nights.
Hm.
Karena kita kerja atau karena kita
kepikiran gitu. Emm.
uang
anaknya suka belajar.
H
bahkan sekarang aku ambil MBA di saat
beberapa temanku bilang, "What the hell
are you doing?" Dan kadang-kadang juga
berpikir, "What the hell am I throwing
myself into?"
Di tengah kesibukan ini masih tetap
ambil MBA.
He.
Apa yang lu cari sih? Gitu.
Kadang-kadang juga bingung apa yang gua
cari sih gitu. Tapi
itu pengorbanan uang. Tapi aku percaya
bahwa eventually it will be worth it.
H
one day. Dan aku misalnya bil aku
mengambil MBA saat ini
em karena memang aku butuh fondasi
bisnis, I treat my podcast as.
He.
Sama seperti beberapa bisnis yang aku
saat ini run dan aku dirikan sama
beberapa bisnis partner. Aku enggak
punya fondasi bisnis, Bil. Makanya aku
harus melengkapi fondasi bisnis,
memperkuat fondasi bisnis dengan sekolah
lagi. Ya udah enggak apa-apa kehilangan
uang. He.
Dan itu adalah investasi sih gitu.
Iya iya ya. Itu itu benar itu justru
harga harus dibayar ketika keluar ruang
juga
keluar ruang juga untuk memperbaiki
fondasi-fondasi yang selama ini gua
punya bisnis kok kayak ada yang missing
yang dari Iya. I ya
iya iya.
Dan itu yang aku maksud tadi orang-orang
berkelas harusnya orang-orang yang
kemudian tahu konsekuensinya kenapa dia
ngambil ini, kenapa dia mengejar hal ini
gitu.
Dan balik lagi ke sisi mindset kali ya.
Tapi apakah ada fase-fase di mana kamu
mengambil satu keputusan kemudian kamu
pikir bahwa I wish I knew this earlier
aku enggak ambil keputusan ini. Dan
aku bisa bilang ini regret kamu kali ya
di fase yang 20-an ke 30-an.
Emm bohong kalau misalnya gua akan
bilang enggak ada hal yang gue sesali.
Emm gua akan menyesal
kenapa gua enggak investasi dari awal.
Hm. H
di periode usia 20 sampai 30-an gue
terlalu memanjakan Rori kecil, Bil.
Karena ibaratnya gue kayak balas dendam.
Gue hidup
em bisa dikatakan dulu masa kecil gue
kekurangan. He.
Terus akhirnya gue harus bekerja
sendiri, banting tulang, ee cari duit
sendiri. Dan itu memang proses yang
sangat menyakitkan dan sangat
melelahkan. Dan akhirnya ketika gue
merasa gue bisa mencari duit sendiri,
gue
memanjakan inner child gue.
Hm. di awal-awal usia 20-an. Tapi itu
kelamaan Bil sampai usia 30-an. Dari di
situ aha momennya baru rori lu harus
nabung, lu harus mulai invest. Terlalu
lama memenjakan rori kecil. Dan bahkan
even sampai beberapa tahun yang lalu aku
masih merasa insecure dan membandingkan
dengan orang lain sampai beberapa tahun
yang lalu belt.
Di mana
aku harus punya yang mereka punya agar
aku diterima.
So, to me, it's a learning process. Aku
harus punya yang mereka punya agar aku
diterima. Mereka punya jam bagus, aku
harus punya jam bagus biar aku diterima.
Mereka punya tas bagus, aku harus punya
tas bagus biar aku diterima. Mereka
punya uh sepatu mereka Italian brand,
aku harus punya biar aku diterima.
Sekarang
I don't give a damn.
Mereka mau pakai apa, aku mau pakai apa.
Ya udah, this is me. Tapi untuk sampai
ke sana butuh proses. Dan aku pengin
titip banget pesan sama teman-teman.
Ketika kamu masih ada di fase kamu ee
seolah-olah mengikuti standar sosial
untuk agar kamu ngerasa diterima, orang
akan bilang, "Jangan ikutin standar
sosial." Tapi menurut aku
nikmatin dulu aja, resapin dulu.
Tapi menurutku ini hal yang enggak baik.
I
tapi kadang-kadang orang keras kepala
atau orang ngeyel sampai dia terbentur
tembok sendiri dan itu adalah aku Bil.
Heeh. So, ketika teman-teman merasakan
adalah tipe-tipe kayak aku yang kalau
belum kebentur tembok belum kapok, coba
aja ikutin dulu aja. Ketika your society
dictates your lifestyle, dictates who
you are, not your authentic self, ikutin
aja dulu.
Hingga akhirnya kamu tersadar sendiri
dan dari situ kamu melihat diri ke
belakang, "Oh, aku enggak mau kembali
lagi ke sana."
H.
So, ada orang yang kita bilangin, "Udah,
jangan ikutin standar sosial." Ada
mereka yang ngikut, Bil. Iya,
is good. Alhamdulillah kalau kayak
begitu. Cuman kalau tipikalnya kayak aku
Taurus yang keras kepala ini susah harus
ngerasain dulu. Buat mereka yang susah
dan keras kepala ikutin aja dulu. Hingga
akhirnya you find that thick wall and
you hit that thick wall.
He.
Dan lu berubah dan lu akan ngelihat ke
belakang. Gua enggak mau ada di tik sana
lagi. No, I've changed. Gitu sih.
Aku setuju sekali sih. Banyak hal di
hidup ini yang memang itu enggak bisa
disarankan, enggak bisa kita arahkan.
Mereka tuh harus nabrak tembok itu
sendiri gitu. Baru mereka menyadari
bahwa
betul
oke ternyata seperti ini ya. Oh, benar
juga kata Rori dulu ya. Oh, benar juga
kata Bilal dulu ya. Benar. Benar.
Kita mau berbusa-busa podcast kayak
gimanapun kalau ada orang keras kepala
ya enggak akan berubah sih.
Benar benar. dia mere mereka harus
mendalami peran itu sendiri baru mereka
menyadari bahwa
betul betul
oh iya ini kehidupanah itu yang benar
aku pahami sebagai lesson ya
tapi kapan dan di mana kalau boleh
terbuka di sini momen kamu nabrak tembok
itu gitu kayak waduh ternyata seperti
ini ya waduh ternyata harusnya enggak
beli jam mahal ini ya kapan kapan itu
3 tahun yang lalu
menurut aku ya Bil gini
mindset itu kadang-kadang ya kita ada
surutnya ada naiknya kan ya kita
kadang-kadang ketika kita sudah di level
tertentu kita kan akan naik naik level,
jabatan aja naik level, ekspektasi kita
naik level,
penghasilan kita juga naik level. Dan
kadang-kadang ketika penghasilan kita
naik level, kita tergoda untuk bisa
masuk ke komunitas-komunitas atau
kelompok-kelompok tertentu yang memang
levelnya lebih lebih tinggi gitu.
Dan kita lihat di level sana, oh mereka
secara superficial nih, mereka pakai
handphone ini, mereka pakai jam itu,
mereka pakai sepatu ini gitu. Dan
kadang-kadang kita me apa ya memenuhi
rasa penasaran kita, ya udah deh gue
coba deh gue beli. Gue jadi obses, gue
juga mau beli. Biar diterima aja di
mereka dan tidak dianggap remeh gitu.
Hm.
Dan ternyata itu adalah ya tadi aku
bilang itu adalah penyesalan terbesar
karena enggak akan ada habisnya dan
eventually orang juga enggak akan
peduli. Dan sekarang aku ada di level di
mana ya udah kamu mau ngelihat aku kayak
gimana aku enggak peduli dan aku
kayaknya justru malah kelompok-kelompok
atau komunitas yang sesuperficial itu
itu berarti bukan kelompok yang baik
untuk dimasukin. Tapi kalau aku enggak
mengalami itu, aku enggak akan bisa
ngomong kayak begini nih, Bil.
Tip-tipe yang sekarang. So, ya sekitar 3
4 tahun yang lalu sih.
H. Apakah di situ momen ketika
akhirnya kamu menemukan sisi autentic
Rori yang sebenarnya gitu?
Yes, itu salah satunya. Salah satunya.
Tapi being authentic self itu menurut
aku sekali lagi banyak layernya. Tapi
dari sisi pertemanan, dari sisi ee
enggak butuh validasi orang, enggak
butuh pengakuan orang, itu momennya
gitu.
Bang Rori berarti bukan asli Jakarta
dari Solo. Cisana Rantau ya?
Heeh. Apa
yang menarik ketika kita ngomongin
tentang anak rantau gitu, berkarir di
kota orang dan kemudian merasakan bahwa
justru dengan merantau kita lebih punya
pikiran lebih terbuka, punya mindset
yang
tidak nyaman seperti tadi gitu.
Heeh. Menurut gue merantau itu cocok
banget karena
merasa tidak nyaman di zona nyaman salah
satu contohnya adalah merantau.
H
dengan merantau enggak ada yang nyaman,
Bil.
Iya. Lo datang ke kota besar yang kamu
enggak tahu siapa-siapa, kamu belum tahu
medannya kayak gimana, uang kamu ceka,
you make it or you fail. Pilihannya
hanya dua. Enggak ada yang di
tengah-tengah, aduh nanti kalau misalnya
aku gagal, aku akan ikut tanteku, akan
ikut budeku, aku akan ikut kakaku.
Enggak ada pilihan itu
ya. Either kamu berhasil atau kamu gagal
aja gitu. He.
Dan mindset dengan merantau adalah tidak
ada kenyamanan.
itu cocok banget dengan value yang aku
pegang. Makanya ketika aku dulu merantau
takut sih, tapi aku punya keyakinan
besar bahwa I will make it here gitu.
Dan yang aku lakukan memang benar-benar
aku orang yang sangat menikmati proses.
Jadi ketika di Metro TV aku mulai dari
liputan yang paling e paling brutal
kecelakaan ee pesawatlah, liputan
konflik, liputan demonstrasi yang sampai
ee rusuhlah, liputan di Papua lah,
kerusuhan dan lain sebagainya itu
mengajarkan aku untuk oh oke ini
ketidaknyamanan yang akan membawa aku ke
suatu tempat yang lebih baik gitu. So
ketidaknyamanan
akan selalu ada. Jangan berpikir bahwa
ketidaknyaman itu hanya ada di usia kita
awal-awal kerja noong.
I
setiap kali tahapan hidup bahkan mungkin
setiap tahun temukan ketidaknyamananmu.
H
aku percaya itu banget.
Merantau memberikan aku mindset bahwa
tidak ada yang nyaman.
He.
Merantau memberikan aku bekal bahwa Rori
lo enggak punya pilihan lain selain
harus berhasil. Dan merantau membuat aku
tidak manja. I rely on myself enggak ada
yang lain
gitu. Nah, orang-orang yang seperti ini
menurut aku, aku ngelihat juga dari
teman-teman yang berantau. Bukan berarti
orang-orang yang asli Jakarta enggak
bagi enggak baik. Enggak. Ini soal
mindset aja. Banyak juga orang-orang
Jakarta yang punya mindset petarung,
punya mindset aku harus berhasil. Dan my
privilege bukan harusnya menjadi my
obstacle, tapi my privilege sebagai
orang Jakarta harusnya menjadi fuel
untuk maju. Orang-orang yang kayak gitu
juga banyak banget, Bill. Gitu. So, it's
all about mindset. Kalau kamu misalnya
orang asli Jakarta dan mindset kamu
adalah petarung menganggap zona nyaman
itu seharusnya tidak nyaman,
he
kamu juga akan punya mindset seperti
perantau yang petarung ini gitu.
Tapi jadi merantau aku punya mindset
petarung sih.
He he. Seru ya ngomongin tentang
ketidaknyamanan ya.
Kamu sendiri gimana sekarang? Giliran
aku tanya dong. Kamu kan dari Aceh nih?
Iya kan? [tertawa]
Jangan dong. Salah podcast. Salah
podcast.
Salah podcast.
Iya. Tapi aku aku tadi sangat rileks
ketika ngomongin tidak kenyamanan karena
aku pikir bahwa selama ini aku pikir ee
justru kita harus mengejar kenyamanan
gitu. Aku pikir seperti itu ya. Faktanya
ketika kita tidak nyaman, kita lebih
punya mental yang kuat dan jangan
berharap hidup yang mudah kan justru
berharap karakter lebih kuat di jalan
yang enggak mudah gitu.
Betul. Tapi gini mungkin terus
teman-teman juga ada bertanya lah kalau
misalnya kita cari tidak nyaman terus
capek dong kapan habisnya? Kapan
nyamannya? Apa ujungnya? Jangan salah. H
ketidaknyamanan itu bisa dari aspek yang
lain. Tidak hanya serta-merta soal
finansial,
tidak hanya serta mererta soal kualitas
hidup. Kita boleh banget, Bil, cari
kualitas hidup nyaman. Cari financial
security sampai kita merasa nyaman. But
kita juga di sisi lain harus mencari
ketidaknyamanannya. Contohnya apa?
Contohnya aku harus belajar baru, yakni
bisnis, MBA. Ketidaknyamananku sekarang
aku harus membangun sesuatu yang baru.
Apa itu contohnya? podcast
ya.
Aku harus belajar skill yang baru.
Belajar suatu hal yang baru itu sangat
tidak nyaman. Tapi di sisi lain,
spektrum lain, alhamdulillah aku sudah
cukup nyaman. Dan ketika ini aku tidak
mencari ketidaknyamanan, aku akan stuck
di sini
dan aku akan bisa jatuh. Cuman ketika
aku terus berkembang dengan mencari
ketidaknyamanan, aku akan bisa
mempertahankan kenyamananku sambil aku
terus naik.
He
gitu. Dan itu yang aku harapkan
teman-teman yang dengar juga punya ee
semangat seperti itu sih.
He he. Tadi di awal sempat ngebahas
tentang punya slean yang kecil ya. Dan
aku pernah baca studi yang bilang kalau
semakin kecil sekel pertemanan, semakin
kita punya emotional intelligence itu
bagus gitu.
H. Tapi pernah enggak di fase anak
rantau ini tiba-tiba ke Jakarta dan dia
kemudian grow up, dia growing, dia
berkembang dan teman-temannya yang di
daerah ngelihat, "Wah, ini Roni udah
berkembang dan segala macam gitu." Dan
di titik itu ngerasa bahwa banyak orang
yang menjauh atau banyak orang yang
malah enggak suka sama kamu karena kamu
berani, kamu berbeda gitu. Apakah pernah
di fase het hometone hater course gitu?
Kalau iya bisa ceritakan ke kita. Dan
ini aku rasa sangat rel teman-teman di
luar sana yang mungkin kesepian karena
mereka menuju ke puncak itu lonely
chapter gitu.
Iya. Iya. Ini menarik banget dan aku
merasakan syndrom itu justru jauh
sebelum aku merantau karena aku ngerasa
berbeda.
Hmm.
Aku dari dulu sudah ngerasa berbeda
karena emm mungkin karena keadaan yang
keras ya, kondisi yang keras yang
mengharuskan aku harus kerja ekstra
dibanding teman-teman. Awal kuliah aku
kasih contoh teman-teman. pada ya udah
kuliah, habis itu main, habis itu
nongkrong. Aku harus bekerja jadi
seorang sales. Aku harus kerja di apotek
selama 9 jam untuk jualan sebuah
multivitamin.
He.
Atau sebelum itu aku jadi profesiku
sebagai badut, Bill.
Really?
Literally badut yang dibayar ee R30.000
untuk joget-joget pakai badut gede gitu
yang kayak sekarang badut gede di depan
em anak-anak TK.
di saat teman-teman yang lain mungkin
menikmati privilege karena orang tuanya
berpunya gitu.
Di situ aku sudah berbeda. Di situ aku
udah kehilangan teman,
tapi aku menemukan diriku sendiri dan
aku menemukan spirit bertarung itu
justru di situ di hal-hal sulit itu
gitu.
dari dulu memang sudah dianggap berbeda.
Jadi sekarang kalau misalnya dianggap
berbeda, aku akan melihatnya ini adalah
konsekuensi dari kerja keras dan
alhamdulillah aku berbeda untuk hal yang
positif.
He
bukan merendahkan yang lain, bukan. No,
bukan.
Tapi aku juga berprinsip bahwa ini
seperti yang ee Om Henry Manampiring
yang kamu juga harus undang
soal stoisme yang diajarkan
dikotomi kendali. Mel Robbins bilang,
"Let them." H
gitu. Ada hal yang bisa kita kontrol.
Ada yang enggak bisa kita kontrol. Yang
bisa kita kontrol ada diri kita. Kita
tetap being truthful to ourself, being
our authentic self. Yang tidak bisa kita
kontrol adalah pandangan orang,
bagaimana orang melihat kita, apakah
iri, apakah termotivasi, apakah
tertantang. Itu enggak bisa kita
kontrol. So, let them
h
let me focus on myself. Let me focus on
how to give positive things, positive
influence to others gitu. Let them let
me. Gu sih.
Kapan harusnya kita terbiasa untuk let
me gitu? Apakah itu selfish
kedengarannya?
Let me eh sangat berbeda dengan selfish
karena em kalau Mel Robbins itu
menjelaskan let them itu adalah kita let
hal-hal yang enggak bisa kita kontrol.
bagaimana orang melihat kita, bagaimana
orang bersikap pada pencapaian kita,
bagaimana orang melihat ee kita yang
kerja keras misalnya kita yang
berdedikasi, kita yang em fokus
mengembangkan diri, ya udah itu hal yang
enggak bisa kita kontrol.
Let them, tapi let me di sini adalah gue
sudah let them melakukan apapun yang
mereka mau, berpikiran apapun yang
mereka mau karena itu enggak bisa aku
kontrol. Let me di sini adalah lebih ke
biarkan aku melanjutkan kebaikan ini
karena kebaikan ini adalah untuk diriku
dan untuk orang-orang di sekitarku.
Biarkan aku terus melakukan hal-hal yang
aku bisa kontrol. Misalnya perkataanku,
perbuatanku,
dan pikiranku.
He
gitu. Jadi, Let me di sini enggak egois,
tapi let me di sini adalah aku
mengontrol hal-hal yang bisa aku
kontrol. Yakni ada tiga. Kalau Om Henri
Manampiring bilang, "He.
Apa yang aku pikirkan, apa yang aku
lakukan? apa yang aku ucapkan.
Let me berfokus pada tiga hal yang bisa
kita kontrol ini, gitu.
Karena ada fase di mana banyak orang
yang berkembang si kita berkembang nih,
kita ingin orang terdekat kita juga
berkembang gitu.
Heeh. He.
Tapi karena kita pasang ekspektasi dia
berkembang juga harusnya kayak kita,
kita malah kecewa sendiri kan. Kayak
kita enggak bisa ng-push kayak tadi
ee Mas Rori bilang, kita enggak bisa
menyarankan, kita enggak bisa memaksa
dia, dia harus ke bentur teman sendiri
gitu. Heeh.
Justru karena kita tahu dia orang
terdegar kita, kita takut dia gak bisa
kenapa-kenapa juga kan.
It's ok, Bill, untuk
akhirnya kita pada poin
let go things, termasuk teman, termasuk
tim.
Hm.
Kapal terus tetap harus terus berjalan.
Ada orang yang bisa mengikuti pace kapal
ini, ada orang yang enggak bisa
mengikuti page kapal ini. Ada yang
sekarang tetap searah, ada yang berbeda
arah. Dan it's ok to lose friends.
Ketika itu sudah tidak sefrekuensi dan
sudah tidak se eh arah pemahaman. It's
ok.
Karena orang juga akan berubah. Mungkin
dulu 10 tahun yang lalu dengan sekarang
aku kehilangan beberapa sahabat. It's
ok. Tapi aku menemukan sahabat-sahabat
dan teman-teman baru yang sefrekuensi
yang masih ee ada di ee apa ya jalur
yang sama gitu.
Kita juga tidak bisa memaksakan
pertemanan juga.
Demikian juga tim.
Ketika ada tim misalnya sudah tidak bisa
diajak untuk sefrekuensi searah lagi, ya
memang mungkin em tim itu sudah saatnya
mengembara di tempat yang lain.
Hm. Tapi yang jelas aku tahu ke mana aku
akan menuju dan aku akan attract some
but at the end of the day I will also
lose some. And that's ok.
H
gitu. Yang penting kita enggak
kehilangan jati diri kita sendiri dan
kita tahu pas titik mana yang akan kita
raih.
He
gitu sih.
He.
Aku mau di ke pertanyaan yang lebih
sederhana, lebih simpel based on
personal
yang mungkin sudah lama banget mengalami
hal ini gitu. Let's say Mas Rori dari
dulu udah terjun ke dunia publik gitu
walaupun introvert banget. Let's say
tadi aku kaget ketika ngomongin pernah
ngerasain jadi badut gitu.
I
itu hal yang sangat-sangat di luar
prediksi aku bahwa aku kirain bakal
linear sekali jurnalis segala macam.
Iya.
Justru pernah ditampil di publik seperti
itu kan memang ngelatih mental dari
kecil dan kamu berbeda gitu ya.
Nah, gimana caranya bagi
orang-orang yang nonton ini gitu? Mereka
yang mungkin sangat ragu dengan dirinya
sendiri. Mereka yang setiap hari
dibisikkan negatif self talk gitu. Heeh.
He.
Mereka yang tampil di depan publik
tiba-tiba entar dikatain orang apa ya
aku kereta bodoh segala macam yang di
mana Rori itu sudah ngejalanin belasan
tahun di sana gitu.
Heeh.
Gimana caranya supaya aku tetap aman
tampil di manapun
percaya dari versi kamu.
Hm. Kalau menurut aku emm satu yang
jelas
jangan biarkan kamu
termakan oleh ketakutan kamu sendiri
Bil. Itu mindset penting banget ketika
kita misalnya pengin melakukan apapun.
jadi public speaker.
Jadi eh kita melamar ke pekerjaan, kita
memulai suatu bisnis jangan sampai
kemakan ketakutan sendiri. Karena kita
selalu berpikir ya kayak tadi yang aku
bilang, "Gimana kalau gagal, tapi coba
pikirkan eh tapi gimana kalau berhasil
ya."
He
gitu. That's mindset
harus em kita tanamkan dulu. Yang kedua,
aku pengin lebih fokus ke soal public
speaking. Tidak ada orang yang lahir
ceprot langsung pintar ngomong sebagai
public speaker handal. No.
In fact, 75% orang di dunia ini
mengalami yang namanya glosofobia. Apa
itu glossofobia? Ketakutan untuk
berbicara di depan publik. Dan itu juga
terjadi pada seorang Rori.
Hm. He. He.
Glosofobia bisa dilawan. Gimana cara
ngelawan ketakutan pada public speaking?
Ada beberapa metode. Yang jelas of
course kita cari pelatihan public
speaking yang ee kita percaya bisa.
Karena dari pelatihan itu berarti
ngajarin kita hardware-nya, skill-nya.
I.
Terus yang kedua adalah shifting the
mindset. Ketika kita misalnya diminta
public speaking, kita kadang-kadang
terlalu memikirkan diri kita sendiri. M,
mi, mi. Gimana kalau aku jelek, gimana
kalau aku nanti enggak berhasil, gimana
kalau aku belibet, gimana kalau aku
nanti blank. He me.
Coba shift that me me kind of mentality
ke aku public speaking ini, aku bekerja
ini, aku ada di depan panggung ini
adalah aku ingin membantu audiensu untuk
paham
apa yang ada di pikiranku, apa yang aku
experience, apa yang menurutku mereka
harus tahu dengan kita shifting mindset
dari aduh nanti kalau aku gagal gimana
ya? Kalau aku nanti memalukan gimana ya
ke aku di sini aku pengin membantu
audienceku untuk paham apa yang ingin
aku sampaikan itu secara feeling kita
tuh jadi lebih tenang, Bil.
Hm.
Karena kita pengin berbagi, kita pengin
sharing
gitu. Itu cara yang pertama. Cara yang
kedua adalah ini dari Simon Sack, salah
satu penulis dan podcaster yang aku juga
sangat kagumi
di Amerika. Simon Senek bilang, "Ketika
kamu ketakutan untuk melakukan sesuatu
atau ketakutan untuk spesifik melakukan
public speaking, stimulinya apa, Bil?"
Aku tanya ke Bilal, ketika kamu misalnya
deg-degan mau public speaking, apa yang
kamu rasakan di dalam diri kamu?
Mungkin
sangat degdegan dan tiba-tiba
berkeringat dan
ragu ngomong belibet gitu.
Ragu ngomong belibet. Iya kan? Itu
adalah stimuli yang ada.
Tapi ketika kamu excited, Bill, misalnya
kamu mau nembak ngelamar cewek kamu,
kamu mau ketemu sama orang tua mereka,
kamu tahu sudah dapat sinyal bahwa orang
tua akan setuju,
tapi kamu tetap harus meyakinkan mereka
eventually.
Stimulinya apa yang ada di dalam
tubuh kamu?
Energiku meningkat,
tiba-tiba ngomong lancar aja kali.
Tiba-tiba ngomong lancar. Tapi deg-degan
juga enggak, Bel? pasti
keringat dingin juga enggak?
Pasti. Tapi kita tahu bahwa hasilnya tuh
akan sangat positif gitu ya.
Iya. Karena kita sudah ada keyakinan
kan.
Tapi excitement dan nervousness ternyata
stimulinya sama.
Hm.
Sama-sama degdegan, sama-sama keringat
dingin, sama-sama kita kadang-kadang mau
kebelet tipis,
kadang-kadang kita ee nedek enggak jelas
campur aduk.
Coba kita shift mindset kita ketika kita
ingin berbicara di depan panggung dari
nervousness menjadi excitement. I'm very
excited. Aku excited banget nih untuk
aku presentasi ini di depan semua orang.
Aku excited banget untuk aku pitching
ide ini di depan bos-bosku. stimulinya
sama, mindsetnya yang kita pindah atau
shift
dari nervous menjadi excited. Itu akan
ngefek banget ke otak kita dan ke tubuh
kita.
He.
Sekali lagi ketika kamu ngerasa didikan
untuk melakukan sesuatu,
jangan pernah berpikir gimana kalau
gagal, tapi berpikirlah gimana kalau
berhasil. Satu. Yang kedua, shift
mindset dari aku nervous menjadi I'm so
excited. I'm so excited. Aku pasti akan
bisa. H
dengan catatan tentunya kita sudah
mengerjakan PR
persiapan materinya juga sudah matang.
Kita juga sudah tahu tekniknya. Kita
juga sudah craft presentasi kita, public
speaking kita seperti apa. Dari akhir
sampai dari awal sampai akhir akan kita
skenerikan gimana
PR harus kita kerjakan dulu gitu sih.
He.
Tiga pertanyaan dari teman-teman suara
berkelas. Pertanyaan pertama dari Nadila
KSS. Nel Luux
H
gimana caranya Kak Rori itu bisa
konsisten dan adakah tips untuk bisa
mewujudkan resolusiku di 2026?
Oke, aku harus jawab dulu bahwa terakhir
kali aku membuat resolusi itu di tahun
2019.
He.
Dan aku sekarang tidak pernah membuat
resolusi. Aku bukan orang yang hobi dan
bisa bikin resolusi. Yang aku bikin
vision board. Vision board adalah hal
yang ingin aku raih dan yang aku
bayangkan di masa depanku akan seperti
apa. Tidak terbatas pada tahun ini,
tidak terbatas pada tahun depan, tapi in
the long run.
Aku pengin financially independent. Aku
pengin misalnya tinggal di daerah
pedesaan entah itu di Indonesia ataupun
di luar negeri. Aku pengin tidak takut
menghadapi hari dari sisi finansial,
dari sisi companionship dengan eh orang
lain. Mungkin itu adalah pasanganku,
keluargaku, saudaraku, teman-temanku.
Itu yang aku bikin adalah vision board.
Nah, gimana biar konsisten? Aku adalah
orang yang sangat menikmati proses B dan
aku adalah orang yang sangat menyadari
bahwa ketika kita ingin ke sana,
consistency is a must. Enggak ada
pilihan yang lain. Enggak ada orang yang
sukses hanya dengan menjalankan setahun
dan boom udah selesai. Enggak. Harus
konsisten dilakuin. Dan konsistensi ini
menurut aku juga adalah bentuk dari itu
tadi mencari ketidaknyamanan di zona
nyaman. kita akan terus mencari hal yang
baru. Kita terus harus beradaptasi
terus-terus. Ini adalah konsisten.
Misalnya dengan Bilal dengan podcast
suara berkelas yang luar biasa.
Dengan Bilal melakukan ini adalah bentuk
konsistensi. Dengan Bilal membaca buku
itu adalah juga bentuk konsistensi untuk
suara berkelas. Dengan Bilal misalnya
sekarang mempelajari orang-orang yang
potensial untuk jadikan narsum itu juga
adalah konsistensi. So, semuanya
bermuara ke titik yang sama.
menjadikan suara berkelas, berpengaruh
dan berdampak. Misalnya ya, Bil
orientasinya sama. Ini juga aku juga
vision boardku, aku pengin kehidupan
seperti apa sehingga konsistensiku akan
mengikuti
mulai dari
ya
saat ini digital media yang aku bangun,
mulai dari my professionalism, kalau aku
kerja aku harus profesional, mulai dari
aku yang terbuka untuk membangun network
baru dan menjaga network lama,
konsistensku untuk investasi semua ini
bermuara. Jadi
untuk mencapai visionard ini.
Wow. Itu itu masuk akal sekali karena
orang selama ini cuma ngelihat
konsistensi dari satu sudut pandang
doang.
Aku harus konsisten olahraga pagi
bikin podcast setiap hari. Mereka enggak
sadar bahwa ini kombinasi dari apa yang
kamu makan, apa yang kamu konsumsi,
kemudian ng-create konsistensi dalam
long run tadi.
Betul. Exactly. Ketika vision board
kamu, kamu bilang kamu pengin di usia 80
tahun nanti aku tetap fit, mobilitasku
tidak terganggu. Artinya untuk bisa
konsisten mencapai di sini, kita akan
konsisten makan sehat, kita akan
konsisten tidur yang teratur, kita akan
konsisten tidak minum, kita akan
konsisten untuk tidak ngerokok atau at
least meminimize rokok. Kita akan
konsisten untuk olahraga, muaranya ke
sana. This is to me consistency.
Wow. Ya, ini aku rasa jawaban yang
dibutuhkan sekali oleh Nadilux. Kita ke
pertanyaan kedua. Pertanyaan kedua dari
Manur Ilma. He,
dia nanya, "Aku nonton podcastnya Mas
Rori." Tapi boleh enggak sih share di
sini podcast atau conversation
favoritnya Mas Rori?
Surprisingly, justru my favorite episode
adalah episode dengan Myother dengan Ibu
Bill.
Hmm.
Kenapa?
Karena
orang banyak bilang, "It is a hard
conversation." Dengan kita ngobrol
dengan orang tua kita sendiri itu is
conversation. Iya.
Tapi sebagai orang yang menjadi saksi
kehidupan, betapa kerasnya kehidupan
mamaku dan aku memposisikan diri sebagai
em pewawancara profesional
sekaligus anak. Pewawancara profesional
nomor satu, nomor duanya adalah anak.
Aku bisa menggali.
Tujuannya apa? Menggali ini untuk
memberikan pembelajaran bagi sebanyak
mungkin orang yang mendengarkan. It's
meaningful because mamaku adalah tipikal
orang yang
dari mudanya
sudah banyak penderitaan. Bahkan dari
kehidupan perkawinannya, pernikahannya
sendiri dengan ayahku.
H
ee ibuku mempertahankan pernikahan 25
tahun untuk ibaratnya mengentaskan
anak-anaknya terlebih dahulu. Itu
pengorbanan yang sangat besar. Dan
bahkan ada di di episode itu ada satu
momen di mana dia harus commute. Kalau
kita di sini kan commute ya udah Bekasi,
Jakarta, Depok, Jakarta Pamaling berapa
sih, Bil? 1 jam gitu kan 1,5 jam.
Ibuku harus commute dari daerah yang
namanya Temanggung karena dia dosen di
Solo di UNS ke Solo yang jaraknya 3 jam,
berangkat 3 jam, pulang 3 jam setiap
hari selama 3 tahun. Seminggu 3 sampai
empat kali.
itu harus dia lakukan di ee selama 3
tahun. Ada kalanya ketika dia cerita
juga dia hamil besar 8 bulan berdiri di
bis di 2 jam pertama enggak ada orang
yang nawarin kursi. Ibu-ibu berdiri
hamil besar di bis.
Itu adalah cerita-cerita yang
menyedihkan. Tapi aku pengin
menceritakannya kepada sebanyak mungkin
orang bahwa perempuan yang menjadi ibuku
ini adalah perempuan yang tough. Dan
dari situlah
sikap petarung dan mentalitas toughness
dari diriku ini muncul karena
terinspirasi dari ibu. Itu sih. Jadi itu
sangat sangat apa namanya? sangat
membekas di aku. Dan eventually sekarang
Ibu akhirnya menikmati kebahagiaan
sejati Bill. Di mana beliau menikah di
usia 65 tahun dengan teman kuliahnya
dulu yang sudah terpisah 40 tahun.
Bilang
kayak di film ya.
Kayak [tertawa] di film. Kayak di film.
Kamu bayangin 40 tahun tidak bertemu
tapi akhirnya takdir mempertemukan
mereka. Dulu yang cowok ini, Pak Mariadi
suka sama mamaku, tapi mamaku sudah
pacaran sama papaku. Hingga akhirnya Pak
Maradi bahkan menyediakan kursi untuk
duduk di sampingnya. Tapi dia enggak
pernah said a single word bahwa dia suka
sama mama. Dia enggak pernah bilang.
Bahkan dia nganterin mamaku ke pacarnya,
yakni papaku. Diantarin. Betapa
hancurnya, cemburunya hati Pak Mari
waktu itu. Kemudian mereka ee ya sudah
menjalani kehidupan bersama-sama apa
berbeda. Nyokap menikah dengan bokap,
Pak Maridi menikah dengan e almarhumah
istrinya hingga 40 tahun kemudian
dipertemukan
dan kemudian mereka sekarang hidup
bersama. So, mamaku
di ujung hidupnya merasakan kebahagiaan
yang sejati setelah
berdekade-dekade melewati penderitaan
hidup siel.
Aku enggak tahu ini kenapa keteru ya.
[tertawa] Gokil sih ini bagus banget.
Oh, itu aku ketika wawancara nyokap aku
menahan air mata tuh
wah
berat banget. Dan sama produser akhirnya
we broke down. Kita
kita nangis tuh
besok ya. Kita nangis ketika kita
ngobrol tuh yang benar-benar aduh nangis
sejadi-jadinya. Tapi di episode itu aku
berusaha untuk tidak menangis karena aku
tidak pengin membuat showku menjadi
berdera air mata.
Tapi ya akhirnya enggak kuat juga.
Untung besoknya yang nangis.
Hm.
Gitu. Dan aku sampai sekarang masih
melihat banyak orang-orang yang komen
bahwa mereka sampai menangis dan mereka
memutar berkali-kali untuk menemani.
Mereka tetap kuat menjalani hidup sih
episode ini.
Aku harus nonton sih. Aku harus nonton.
Silakan.
Oke, kita ke pertanyaan ketiga.
Pertanyaan ketiga dari Liasa.
Apa yang harus kita lakukan ketika umur
kita menjelang 28 tahun agar di fase
30-an nanti aku bisa meminimalisir
penyesalan?
Explore sebanyak mungkin hal-hal yang
kita suka dan kita mau lakukan. Whatever
what you want to do as long as it's
positive for your growth, lakukan.
Investasilah di pengembangan diri. Kamu
misalnya aku suka traveling, explore.
Kamu suka belajar public speaking,
explore. Ada toast master,
ada TEDX.
He.
Kamu suka organisasi, explore, lakukan
sebanyak mungkin.
terbentur-terbenturlah,
bonyok-bonyoklah
ee di usia sebelum 28 ini. Sehingga
ketika nanti kita sudah memasuki usia 30
tahun, kita sudah merasakan ini dan
akhirnya oke dari sekian banyak
exploration ini aku sudah memilih jalur
yang akan aku ee daki dan aku titi,
yakni ini gitu.
He
ingat bahwa passion itu bisa adjusted,
passion itu bisa berubah. Kadang-kadang
yang kita percaya passion, ternyata
bukan passion kita. Jadi sampai usia 28
explore lah sebanyak mungkin asalkan itu
memberikan growth dan positive benefit
ke kita.
Hm.
He. Dan kamu ngomongin itu karena POV
sudah menjalani itu gitu.
Udah menjalani itu. [tertawa] Dan aku
yakin ya kayak tadi yang kita bilang
banyak orang yang enggak akan dengar
Allah ngomong apa sih ya. Kalau misalnya
kamu tipikal-tipikal kayak
aku yang harus kejedot dulu, enggak
apa-apa jalanin aja. Karena dari kejedot
itu kita jadi belajar gitu. He
bror, terima kasih sudah suar berkelas.
Sebelum aku tertutup, izinkan aku
menanyakan hal ini.
The worst advice yang pernah kamu
terima.
Hm. Ini menarik banget karena kejadian
nyata dan ee kejadian nyata ada
peristiwanya gitu.
Sebelum aku lulus S1, ada satu senior
tetangga yang bilang gini, "Udahlah
jangan cepat-cepat lulus nanti menambah
pengangguran di Indonesia."
Dan yang aku jawab pada waktu itu, aku
enggak akan menambah pengangguran di
Indonesia. Orang aku belum lulus aja aku
udah kerja.
Hmm.
Ekspresi dia langsung berubah.
Damn, I'm messing up with the wrong guy.
H.
Sebelum lulus aku udah kerja dan karena
keterpaksaan tapi juga karena semangat
juang untuk bertarung, Bill. So, kupikir
itu adalah the worst advice. If there is
someone who want to bring you down,
jangan biarkan orang itu bring you down.
Percayalah pada diri kamu bahwa kamu
bisa menjadi orang yang hebat, bisa
menjadi orang yang berguna buat sebanyak
mungkin orang.
Dan jangan dengarkan apa kata orang
lain. Orang lain itu ngomong kayak gitu
karena mereka insecure.
He.
Karena eventually orang ini yang memang
pada waktu itu belum bekerja, [tertawa]
tapi kamu messing up with the wrong guy.
He
gitu. So,
stop listening to other people's
opinion. Their opinions don't matter.
Kecuali kalau kamu dapat opinion dari
orang-orang yang memang kamu percaya dan
mereka ahli di bidang itu, kamu
dengarkan.
are listen to inner itu yang akan
menyelamatkan kamu di hidup.
Kalau kata Chris Williamson dia bilang
kalau mereka enggak punya apa yang kamu
inginkan, jangan dengarin mereka 100%.
Exactly.
Ya, terima kasih banyak Ri Asyari. Aku
senang sekali. Sehat terus, sehat terus.
Terima kasih semuanya.
Byebye.
More transcripts
Explore other videos transcribed with YouTLDR.

BAB 2 NIHONGO KIRA-KIRA
NUR AINIH · Indonesian

BAGAIMANA CARA GUNADHARMA MEMBANGUN CANDI BOROBUDUR?
Indonesia Insider · English

KEDATANGAN BANGSA BARAT KE INDONESIA - SEJARAH - MATERI UTBK SBMPTN DAN SIMAK UI
Edcent · Indonesian

ورشة لعبة المال ستحذف بعد ساعات
Safia Tahar - صفية طاهر · English

Nicolás Yerovi: "Celebramos la sobrevivencia" Entrevista21
Peru21TV · English

Transform Pain & Trauma Into Creative Expression | David Choe
Andrew Huberman · English

🚀✅DOMINE 300 EXPRESSÕES EM INGLÊS FÁCEIS E CURTAS PARA MELHORAR SUA FLUÊNCIA! 🚀🗽🔥
Fale inglês agora · English

Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia
Ginas Fatonah · Indonesian

9 TOKOH PENYEBAR ISLAM DI PULAU JAWA - WALI SONGO
Nadia Omara · Indonesian

🌏 Apa Itu Ilmu 'Geografi' dan Apa Pentingnya Bagi Hidup Kita? #BelajardiRumah
Kok Bisa? · English

AI in Health Care - Promises and Concerns of Artificial Intelligence and Health | UC Davis Health
UC Davis Health · Indonesian

Adobe After Effects Tutorial Dasar 2020
KOTAKVISUAL · Indonesian
Get the TLDR of any YouTube video
Transcribe, summarize, and repurpose videos in 125+ languages — free, no signup required.