Di Balik Literatur Anak dan Remaja — IPK Talks Ep. 02
Asalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh. Halo teman-teman semua,
kembali lagi di IPK Talk, Sumber Valid
Obrolang Solid.
Nah, di episode 2 ini kita akan membahas
mengenai literatur anak dan remaja. Nah,
dalam hal ini tentunya aku enggak cuman
sendirian aja. Di sini aku sudah
ditemani oleh salah satu dosen hebat
yang ada di Universitas Negeri Padang.
dan sekaligus e beliau merupakan pemilik
penerbitan yang ada di Jogja yang mana
nama penerbitannya adalah penerbit
Gorga. Halo, Ibu. Ini di sini kita sudah
ada Ibu Dr. Yona Primadevi, MHum. Halo,
Ibu. Apa kabar? Selamat siang.
Halo, selamat siang.
Gimana kabarnya, Bu?
Baik.
FI, Ibu Yona ini adalah salah satu dosen
tersibuk yang ada di IPK, Teman-teman.
Karena kalau misalnya kita sekarang bisa
lihat Ibu Yona ada di sini, nanti malam
bisa jadi ibunya sudah di Malaysia, di
Dubai atau di mana pun itu. Karena
memang sesibuk itu dan sesusah itu untuk
mencari waktu untuk ketemu oleh sama Ibu
Yona sendiri. Nah, sekarang kesibukannya
apa nih, Bu?
Karena nampaknya kayak sibuk banget gitu
ya, Bu ya.
Eh, enggak ada sibuk di sini. Sibuk
ngajar.
Eh, sibuk kelarin naskah untuk buku? M
sibuk ngurus anak. Ah, itu doang.
Sesibuk yang kamu ceritain. Tenang aja.
Hiperbolis itu.
Jadi ragu nih, Bu. Takut nanti
mengganggu ya, Bu ya.
Oke. Kita di sini kan kita membahas
tentang literatur anak dan remaja, Bu.
Nah, di IPK ini kan ada juga ee mata
kuliah literatur anak dan remaja. Nah,
kenapa kok di jurusan informasi
perpustakaan dan kearsipan ini harus ada
mata kuliah literatur anak dan
remembaja, Bu?
Oke. Ee itu pertanyaan yang sangat
menarik sekali sebenarnya ya. Kita di
jurusan prodi ya, prodi informasi
Perpustakaan dan Kearsipan. Tapi ada
mata kuliah judulnya literatur anak dan
remaja. Nah, apa sih bedanya eh kenapa
harus ada dan apa sih bedanya dengan
sastra ee anak gitu ya
dan apa sih pentingnya mahasiswa untuk
belajar itu mata kuliah itu kalau saya
tidak salah pertama kali hadir di
kurikulum informasi perpustakaan dan
kearsipan itu sekitar tahun
2011.
Oh, jadi sudah cukup lama ya 2011 mata
kuliah itu dimunculkan. Jadi kalau
misalnya kita lihat nih ketika kita
bicara literatur anak dan remaja,
berarti kita tidak hanya bicara mengenai
ee literaturnya, medianya, kita juga ee
bicara mengenai anak dan remaja. Nah,
kita tahu anak dan remaja itu menurut
undang-undang usia 18 tahun kurang 1
hari. Ya, kalau kita tengok ke data ee
data dari ee Badan Pusat Statistik
Indonesia ya di tahun 2024
jumlah anak dan remaja usia 17 tahun itu
itu sekitar 80 juta jiwa. Itu yang
pertama
ya cukup besar ya. Nah, yang kedua kita
tahu ee
akses mereka terhadap ee sumber-sumber
bacaan bahan ee sumber informasi selain
dari keluarga sudah pasti dari sekolah,
perpustakaan sekolah. Nah, kalau
perpustakaan sekolah berarti kita lihat
data perpustakaan sekolah. Kalau
perpustakaan eh kalau SD itu jumlahnya
Indonesia ada sekitar 149.000.
Oh,
SMP itu sekitar 43 atau 44.000 Ibu dan
SMA itu sekitar 14.000 sekolah. Artinya
setiap sekolah kan harusnya punya
perpustakaan.
Iya, benar sekali.
Nah, berarti sekian banyak perpustakaan
sekolah yang ada di Indonesia,
perpustakaan sekolah dikelola oleh
siapa? Tenaga perpustakaan atau
pustakawan?
Iya.
Siapa itu?
ya kalian-kalian nanti di prodi. Nah,
otomatis karena targetnya berbeda anak
dan remaja, otomatis cara penanganannya
juga berbeda dengan perpustakaan umum
misalnya atau perpustakaan khusus.
sehingga kemudian kita perlu ada nih
satu mata kuliah dalam kurikulum
yang memberikan luaran kompetensi
mahasiswa bahwa nanti mereka akan mampu
untuk menghadapi anak dan remaja. Mereka
akan tahu bagaimana perkembangan anak
dan remaja, bagaimana cara belajar, pola
belajar, literatur apa yang harus ee
diberikan kepada mereka untuk
peningkatan kompetensi. Makanya alasan
mata kuliah itu muncul kira-kira se
untuk memberikan layanan ya Bu ya agar
tepat sasaran bagaimana pen
betul dan perbedaan antara ee literatur
anak dan maaji dengan sastra
Oh iya tadi ya itu berbeda gitu. Jadi di
Prodi Informasi Perpustakaan dan
Kearsipan itu kan namanya literatur anak
dan remaja, bukan hasanak ya.
Karena benar-benar sama sekali tidak ee
menyinggung konsep teori, konsep dan
keilmuan sastra gitu.
I
jadi kita bicara mengenai bagaimana
sumber-sumber informasi yang harus
dimanajerial oleh pusat-pusat informasi
dan perpustakaan untuk anak dan remaja.
Jadi targetnya ke sana. Jadi kita akan
bahas ee bagaimana sih perkembangan buku
anak dan remaja baik itu di Indonesia
maupun itu di luar gitu ya. Terus
kemudian bagaimana sih ee penggunaan dan
pemanfaatan karena apalagi kita
vokasional ya, penggunaan dan
pemanfaatan buku anak dan remaja itu
oleh anak dan remaja. Layanan di
perpustakaan mulai dari perpustakaan
sekolah, perpustakaan desa, perpustakaan
umum, perpustakaan khusus yang punya
layanan anak dan remaja itu seharusnya
seperti apa gitu. Nah, ini juga
berhubungan dengan bagaimana peningkatan
kompetensi literasi anak dan remaja.
Jadi, kita membahasnya di koridor itu
kita tidak membahas teori dan konsep ee
sastra dalam koridor sastra anak gitu.
Oke, Ibu tadi sedikit menyinggung
tentang perkembangan buku anak Indonesia
dan di luar gitu. Nah, bagaimana sih Bu
perkembangan buku anak di Indonesia dan
di luar? Apakah ada perbedaan atau ada
impact yang lebih baik gitu, Bu?
Mm kalau bicara buku anak, kita enggak
ngomongin anak doang ya, anak dan
remaja. Karena itu tadi
ee pengkategorian buku anak dan remaja
itu yang pertama sebenarnya sebaiknya
bukan berdasarkan usia,
tapi berdasarkan kemampuan membaca.
mulai dari pra membaca gitu ya ee
membaca awal, membaca lancar sampai
kemudian membaca kritis. Jadi enggak
berdasarkan usia. Karena bisa saja anak
usia 7 tahun pas 1 SD tapi kemampuan
membacanya sudah sampai kemampuan
membaca mahir.
Atau sebaliknya sudah SMP nih kelas 1
atau kelas 2, tapi justru kemampuan
membacanya masih sama dengan ee di tahap
anak ee membaca awal. Bisa jadi seperti
itu. Itu yang pertama. Lalu bagaimana
sih perkembangan? Nah, ini perlu
diperhatikan ya ee dan ini perlu menjadi
perhatian tanpa kita sadari gerakan
literasi yang ada di Indonesia ee itu
kan ee apa secara tidak langsung
berdampak terhadap bagaimana
ketersediaan akses terhadap bahan bacaan
khususnya untuk anak. Hanya saja
persoalannya selama ini ketika kita
bicara buku anak pertama itu pasti
ngomonginnya buku anak berilustrasi. I
benar banget.
Iya. Sehingga kadang-kadang kalau
misalnya kita berkunjung ke sekolah
dasar misalnya di pojok literasi ee
kelas 4 atau kelas 5 itu masih buku
berilustrasi.
He.
Padahal buku berilustrasi itu untuk ana
tahap membaca awal ee harusnya
diletakkan gitu. Jadi ketika kita bicara
buku anak sebagian besar dalam ekosistem
perbukuan di Indonesia itu masih bicara
mengenai buku anak berilustrasi. Itu
persoalan yang pertama. Yang kedua ee
persoalannya adalah ee buku anak di
Indonesia
itu secara
gen topik itu masih berada di ranah atau
koridor yang sama. Misal yang paling
banyak buku anak itu bicara mengenai
folklor, bicara mengenai legenda. Di
mana folklor yang awalnya lisan
iya,
kemudian dialih wahanakan menjadi buku
ya. Nah, itu di luar ee topik-topik
yang lagi hangat itu banyak sekali di
buku anak termasuk buku anak berustrasi.
misal ee bagaimana ee apa SDGS ya.
Kemudian ee teknologi yang ngomongin
soal AI misalnya yang ngomongin soal
perubahan iklim, yang ngomongin soal
feminis untuk buku anak berilustrasi itu
sudah banyak banget di luar dan
ranah-ranah seperti itu belum tersentuh
di buku anak di Indonesia.
Indonesia. Berarti
sangat tertinggal ya, Bu ya. ee
tertinggal. Mungkin saya enggak bilang
tertinggal karena bagaimanapun
perkembangan buku anak di Indonesia
sangat luar biasa sebenarnya. Akan
tetapi kita masih belum berani
mengekplore topik-topik yang barangkali
sesuai dengan perkembangan dan kebutuhan
anak di zaman itu, gitu. Karena kita
tahu bagaimanapun buku anak itu sifatnya
sangat politis ya.
Anak itu hanya sebagai target
ee sasaran dari bisnis atau industri
buku anak. Nah, itu yang kedua. Terus
yang ketiga yang membedakan
antara buku anak di Indonesia
perkembangan dengan di luar adalah
praktik
praktik ee dalam pemanfaatan buku anak.
Kita tahu gerakan literasi luar biasa.
Iya. Gencar sekali.
Gencar sekali. FBM tumbuh di mana-mana
ya. Taman masyarakat tumbuh di
mana-mana. sayangnya atau persoalannya
itu adalah ee gerakan kita hanya
berhenti di tahap anak mampu membaca,
anak suka membaca.
Iya.
Padahal kompetensi literasi dasar itu
yang paling tinggi adalah bagaimana
membangun empati dan simpati anak kita.
Kemudian ee belum mau, saya tidak tahu
apakah belum mau, belum mampu atau
mungkin tidak tahu bahwa gerakan
literasi untuk anak dan remaja itu
enggak hanya berhenti hanya sampai di
anak bisa membaca, anak suka membaca
gitu. Tapi bagaimana membangun empati
dan simpati anak itu PR yang cukup
besar. Makanya kemudian saya tidak suka
dengan istilah minat baca.
Minat baca itu sudah dari tahun kapan
gitu ya? Ee sudah dari sekian dekade
yang lalu. Kita harus bergeser dari
minat baca menjadi daya baca. Bagaimana
kemudian sebuah literatur bagi anak dan
remaja mampu memunculkan daya kritis
anak, mampu memunculkan inovasi dan
kreativitas dari anak. ee mampu anak
mampu untuk memecahkan persoalan
sehari-hari dari apa yang kemudian dia
baca atau dia akses. Kira-kira seperti
itu. Oke. Nah, Ibu tadi kan sedikit
berbicara mengenai gerakan literasi itu
hanya sampai di suka membaca dan ee bisa
membaca. Nah, itu bagaimana sih, Bu,
cara membangun daya kritis pada anak dan
remaja dan apa yang harus dilakukan oleh
orang tua, guru, maupun perpustakawan,
Bu.
Oke, karena kita di prodi informasi
perpustakaan dan kearsipan, mungkin saya
lebih fokusnya ke ee perpustakaan ya,
pustakawan.
Selama ini di layanan anak dan remaja ee
di Indonesia khususnya ya ee kalau di
luar di beberapa perpustakaan yang
pernah saya kunjungi itu layanan anak
dan remajanya sudah ee sangat inovatif
sekali ya.
kita masih fokus pada kegiatan
mendongeng,
kegiatan menggambar, kegiatan mewarnai
gitu ya. Salah enggak sih? Enggak salah.
Hanya saja ee kegiatan itu lebih ke
melengkapi gitu ya. Ee sementara
praktik-praktik awal dalam proses ee
membangun kompetensi literasi anak itu
tidak ee di dicari solusinya. Misal yang
pertama,
bagaimana sih cara membangun minat? Kita
perlu membangun minat dulu kan ya.
Iya, benar.
Membangun minat.
Saya misal tiba-tiba saya saya lapar
terus saya disuguhi banyak makanan
tapi saya enggak suka. gitu. Mau banyak
makanan ketika saya tidak suka dan saya
lapar, saya pasti berpikir untuk bacanya
ya. Apalagi ketika saya tidak lapar
gitu. Nah, begitu juga dengan buku.
Bukunya kan banyak nih.
Mau satu rak itu buku, tapi kemudian
buku itu tidak ee membicarakan topik
yang saya minati
atau anak tidak punya minat sama sekali
untuk membaca itu pasti tidak akan
dibaca.
Benar banget, Bu. Jadi persoalannya
adalah internal di anak.
Iya.
Nah, yang bertanggung jawab untuk itu
yang pertama adalah orang tua. Bagaimana
kemudian orang tua mampu me
bangkitkan minat anak dan mengembangkan
minat itu menjadi kebiasaan membaca.
Nah, otomatis harus sesuatu yang
benar-benar disukai oleh anak. I kan apa
yang disukai anak? otomatis orang tua.
Bagaimana cara pendekatan agar anak suka
dengan bahan bacaan itu juga oleh orang
tua. Jadi ada yang namanya kerangka ORM
namanya opportunity ya. Kesempatan yang
diberikan, akses yang diberikan, reward
yang diberikan itu sangat berpengaruh
mencontoh anak butuh figur misalnya ya.
Maka jadilah orang tua yang tidak pegang
handphone tapi membaca buku di hadapan
anak.
Biasa kan itu dulu. Itu kan contoh ya.
He
anak lebih gampang menyerap dari sesuatu
yang dia lihat, yang dia dengar
ketimbang dari sesuatu yang di
diceramahin ke dia gitu.
Nah, ekosistem seperti itu perlu
dibangun. Jadi kalau misalnya hasil
disertasi saya ada satu model komunikasi
dalam praktik literasi anak namanya
Bona. Jadi, bona itu kita ngelihat
background-nya dari anak, melihat
originalitas anak, melihat negosiasi,
baru ee bagaimana e penerimaan anak.
Jadi, kita harus tahu dulu minat anaknya
apa. Sebagai contoh, kita enggak bisa
nih kasih buku, nih, kamu baca ini dong.
Apa sih, Bu? Pasti kamu bilang, "Kamu
aja ee mahasiswa pasti ngomong gitu."
Apa sih, Bu? Gitu ya. Tapi kemudian kita
bisa mencari pendekatan yang berbeda.
Enggak usah kita kasih buku. Ingat, anak
paling suka sesuatu yang di luar ee
batas kemampuan dia. Makanya dia suka
tutup hero.
I
makanya dia suka cerita cerita-cerita
dewa atau sesuatu yang tidak tersentuh
gitu kan. Karena itu wow dan luar biasa
buat dia. Nah, mulai dari situ anak suka
petualangan cerita.
Makanya anak butuh orang tua yang
pembual yang suka bercerita. Di
Minangkabau kita sudah punya itu. Di
Indonesia kita sudah punya tradisi itu,
gitu. Hanya saja kemudian karena
pergeseran budaya akibat kolonialisme
kita lebih ee terbiasa dengan menulis
gitu kan ya. Tapi that's oke. Nah, mulai
kenalkan begitu sehingga anak tertarik
nih. Oh, ternyata ada ya ee tokoh ini,
ada ya cerita tentang ini. Gali terus
rasa ingin tahu anak
kity-nya perlu. Nah, dari situ, oh ini
loh, ada loh ceritanya ini bukunya. Coba
kamu baca sama enggak?
Menarik enggak? Sama enggak seperti yang
aku ceritain atau jangan-jangan aku
terlalu hiperbolis nih cerita ke tamu
ternyata enggak sekeren itu ceritanya
gitu. Nah, menumbuhkan minat. Lalu minat
kalau hanya berminat tapi tidak ada
konsistensi itu akan menjadi masalah.
Jadi harus ada frekuensi membaca yang
rutin. Jadi kasih aja dulu apa yang dia
suka. Oh, dia suka misalnya superhero
kasih semua buku superhero. Ceritakan
semua tentang superhero sampai dia punya
konsistensi untuk membaca. Udah
kelihatan nih. Oh, ternyata dalam sehari
itu dia pasti ketika mau tidur dia baca.
Ketika dia lagi nunggu jemputan dia
baca. Berarti sudah ada konsistensi.
Ketika sudah ada konsistensi membaca
baru kemudian ditingkatkan kualitas
bacaannya. Maksudnya gimana?
Otak itu sama dengan tubuh.
Heeh.
Untuk otak sehat ee untuk tubuh sehat
kita butuh makanan yang sehat dan
bergizi.
Otak juga begitu. Kita butuh buku-buku
yang benar-benar memperkaya,
merangsang rasa ingin takut.
Artinya apa? Artinya level bacaan anak
itu juga harus naik karena otaknya butuh
itu, gitu. Makanya saya sangat heran
ketika di pojok literasi kelas 4 SD
masih ngomongin eh masih dikasih buku
anak berilustrasi
tanpa tahu anaknya butuh itu enggak
sebenarnya gitu. Nah, peningkatan level
kemudian juga didukung oleh ekosistem.
Contoh di keluarga atau di ee sekolah
misalnya, pernah enggak anak diajak
untuk mendiskusikan secara terbuka buku
yang dia baca selama ini? Contoh, misal
gerakan literasi sekolah, baca buku 15
menit, kamu pasti ngalamin kan? Ya,
ngalamin banget.
Terus evaluasinya apa? Kamu pasti
disuruh bikin room.
Iya.
Dibahas enggak? enggak sama sekali
enggak dibahas dan hasil tulisan kita
tuh ya sudah dibiarin cuma ditanda
tangan doang. Jadi kami tidak tertarik
untuk melakukan hal tersebut sebenarnya
Bu.
Nah, itu jadi perlu ada evaluasi yang
benar-benar ee interaktif, yang
benar-benar merangsa, merangsa rasa
ingin tahu dan keberlanjutan dari
kegiatan itu. Jadi ee ekosistem yang
seperti itu yang seharusnya dibangun.
Jadi bukan hanya perkara
suplly bahan bacaan gimana sih akses
bahan bacaan.
Tapi setelah itu selesai dan saya rasa
urusan supply dan akses itu sudah clear,
baru kemudian membangun kompetensi yang
lain. Nah, kompetensi yang lain ini yang
seringki ee terabaikan atau belum
tersentuh oleh banyak kegiatan literasi
di Indonesia. Itu sebabnya kenapa ketika
tes PISA yang terakhir 2022 ya itu nilai
terendah paling rendah itu 500.
Indonesia kalau saya tidak salah itu
diangka 371.
Kalau misalnya kita lihat rapor
pendidikan yang dikeluarkan oleh
Kementerian Pendidikan Dasar dan
Menengah gitu ya. Yang paling tinggi
memang lapor pendidikan di S ting SD itu
61% kalau saya tidak salah. Tapi SMP,
SMA itu SMP kalau tidak salah 59% dan
SMA itu hanya 47 apa 46%.
Mengkhawatirkan? Iya. Dan itu PR kita
bersama termasuk salah satunya calon
pustakawan dan calon tenaga
perpustakaan. Makanya perlu untuk
belajar literatur anak dan remaja gitu.
Oke, berarti literatur anak remaja dan
remaja ini sangat penting banget ya, Bu,
untuk dikuasai oleh setiap orang tua,
guru, dan juga perpustakawan.
Nah, ini sudah di akhir
ee podcast saja, Bu. Jadi, kami minta
untuk Ibu agar bisa memberikan kata-kata
quote atau kata motivasi terkait dengan
anak dan remaja. Bu, sudah siap belum
jalan-jalan? Oke.
Eh,
apa ya kata motivasi ya? Saya paling
susah kalau kasih kata motivasi
apapun Bu.
Apapun. Oke. Ee untuk anak remaja ya,
bukan untuk mahasiswa nih ya. Kami juga
masih kami kan juga anak-anak Bu. Udah
udah enggak 18 tahun enggak masuk anak
dan remaja dong.
Maksudnya kami juga anak dari orang tua
gitu, Bu. Oke. Ee ketika kita bicara
mengenai anak ee literatur anak dan
remaja, kita tidak hanya bicara mengenai
koleksinya, kita tidak hanya bicara
mengenai bukunya, tapi kita juga bicara
mengenai anak. Jadi ketika kita membahas
literatur anak dan remaja, kita juga
harus paham anak itu seperti apa. Kita
jangan menempatkan anak hanya sebagai
target sasaran.
Heeh.
Gitu ya. Jadi kita harus tahu
perkembangannya, minatnya,
ee cara belajarnya. ee pola belajarnya
seperti apa gitu. Jadi ee anak dalam
banyak kegiatan terutama kebijakan itu
tidak hanya menjadi objek aja gitu sih.
Oke, terima kasih banyak Bu atas waktu
dan kesempatannya untuk dapat hadir di
podcast IPK ini Bu. Nah, Teman-teman
mungkin hanya sekian podcast kali ini.
Semoga bermanfaat dan jangan lupain
podcast IPK di channel YouTube IPK
IPK TA.
Nah, mungkin sekian dari aku.
Asalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh.
Yeah.
More transcripts
Explore other videos transcribed with YouTLDR.

Nouvelle loi : vaccin obligatoire en France !
FLORIAN PHILIPPOT · French

Qué legislación ambiental debe ir en la matriz legal🌎
Gestión & Formación · Spanish

Liderazgo organizacional 07.02 - 023
Instituto de Formación del MPF de Córdoba · Spanish

Scientists Found A Warning Sign Before Civil Wars
Michael Button | Patterns of History · English

Indonesia under New Order ("Orde Baru") Dictatorship
Paul S · English

YMCA Health & Wellbeing Network Friday 26 June 2026
YMCA England & Wales · English

America Has Been Demoted (Full Lecture)
Shahid King Bolsen · English

Summoning Ghosts Prank At College
Family Friendly · English

Konsep Vektor Fisika [LENGKAP] - Part 1 : Vektor Fisika Kelas 10
Justin Leonardo · English

Tate Drops Bomb on Barron Trump
Adam Mockler · English

106 Kewarganegaraan Pertemuan 11
Universitas Bina Sarana Informatika · English

Remove Sex... Would They Still Love You? ❤️ #relationshipadvice #Relationship #growth #selfworth
Sails Of Success · English
Get the TLDR of any YouTube video
Transcribe, summarize, and repurpose videos in 125+ languages — free, no signup required.