Full Transcript

·YouTLDR

Di Balik Literatur Anak dan Remaja — IPK Talks Ep. 02

21:53IndonesianTranscribed Jul 21, 2026
0:01

Asalamualaikum warahmatullahi

0:02

wabarakatuh. Halo teman-teman semua,

0:04

kembali lagi di IPK Talk, Sumber Valid

0:07

Obrolang Solid.

0:14

Nah, di episode 2 ini kita akan membahas

0:17

mengenai literatur anak dan remaja. Nah,

0:20

dalam hal ini tentunya aku enggak cuman

0:21

sendirian aja. Di sini aku sudah

0:23

ditemani oleh salah satu dosen hebat

0:27

yang ada di Universitas Negeri Padang.

0:29

dan sekaligus e beliau merupakan pemilik

0:33

penerbitan yang ada di Jogja yang mana

0:36

nama penerbitannya adalah penerbit

0:38

Gorga. Halo, Ibu. Ini di sini kita sudah

0:42

ada Ibu Dr. Yona Primadevi, MHum. Halo,

0:45

Ibu. Apa kabar? Selamat siang.

0:47

Halo, selamat siang.

0:49

Gimana kabarnya, Bu?

0:51

Baik.

0:53

FI, Ibu Yona ini adalah salah satu dosen

0:56

tersibuk yang ada di IPK, Teman-teman.

0:59

Karena kalau misalnya kita sekarang bisa

1:01

lihat Ibu Yona ada di sini, nanti malam

1:03

bisa jadi ibunya sudah di Malaysia, di

1:06

Dubai atau di mana pun itu. Karena

1:07

memang sesibuk itu dan sesusah itu untuk

1:10

mencari waktu untuk ketemu oleh sama Ibu

1:13

Yona sendiri. Nah, sekarang kesibukannya

1:17

apa nih, Bu?

1:21

Karena nampaknya kayak sibuk banget gitu

1:22

ya, Bu ya.

1:24

Eh, enggak ada sibuk di sini. Sibuk

1:26

ngajar.

1:28

Eh, sibuk kelarin naskah untuk buku? M

1:33

sibuk ngurus anak. Ah, itu doang.

1:35

Sesibuk yang kamu ceritain. Tenang aja.

1:38

Hiperbolis itu.

1:40

Jadi ragu nih, Bu. Takut nanti

1:41

mengganggu ya, Bu ya.

1:45

Oke. Kita di sini kan kita membahas

1:47

tentang literatur anak dan remaja, Bu.

1:50

Nah, di IPK ini kan ada juga ee mata

1:53

kuliah literatur anak dan remaja. Nah,

1:56

kenapa kok di jurusan informasi

1:58

perpustakaan dan kearsipan ini harus ada

2:02

mata kuliah literatur anak dan

2:03

remembaja, Bu?

2:04

Oke. Ee itu pertanyaan yang sangat

2:07

menarik sekali sebenarnya ya. Kita di

2:09

jurusan prodi ya, prodi informasi

2:12

Perpustakaan dan Kearsipan. Tapi ada

2:14

mata kuliah judulnya literatur anak dan

2:16

remaja. Nah, apa sih bedanya eh kenapa

2:18

harus ada dan apa sih bedanya dengan

2:20

sastra ee anak gitu ya

2:23

dan apa sih pentingnya mahasiswa untuk

2:24

belajar itu mata kuliah itu kalau saya

2:27

tidak salah pertama kali hadir di

2:29

kurikulum informasi perpustakaan dan

2:31

kearsipan itu sekitar tahun

2:34

2011.

2:36

Oh, jadi sudah cukup lama ya 2011 mata

2:39

kuliah itu dimunculkan. Jadi kalau

2:41

misalnya kita lihat nih ketika kita

2:43

bicara literatur anak dan remaja,

2:46

berarti kita tidak hanya bicara mengenai

2:48

ee literaturnya, medianya, kita juga ee

2:52

bicara mengenai anak dan remaja. Nah,

2:54

kita tahu anak dan remaja itu menurut

2:56

undang-undang usia 18 tahun kurang 1

2:59

hari. Ya, kalau kita tengok ke data ee

3:04

data dari ee Badan Pusat Statistik

3:06

Indonesia ya di tahun 2024

3:10

jumlah anak dan remaja usia 17 tahun itu

3:14

itu sekitar 80 juta jiwa. Itu yang

3:17

pertama

3:18

ya cukup besar ya. Nah, yang kedua kita

3:21

tahu ee

3:23

akses mereka terhadap ee sumber-sumber

3:26

bacaan bahan ee sumber informasi selain

3:29

dari keluarga sudah pasti dari sekolah,

3:32

perpustakaan sekolah. Nah, kalau

3:34

perpustakaan sekolah berarti kita lihat

3:35

data perpustakaan sekolah. Kalau

3:37

perpustakaan eh kalau SD itu jumlahnya

3:39

Indonesia ada sekitar 149.000.

3:42

Oh,

3:43

SMP itu sekitar 43 atau 44.000 Ibu dan

3:48

SMA itu sekitar 14.000 sekolah. Artinya

3:53

setiap sekolah kan harusnya punya

3:54

perpustakaan.

3:55

Iya, benar sekali.

3:55

Nah, berarti sekian banyak perpustakaan

3:58

sekolah yang ada di Indonesia,

4:00

perpustakaan sekolah dikelola oleh

4:01

siapa? Tenaga perpustakaan atau

4:02

pustakawan?

4:04

Iya.

4:05

Siapa itu?

4:06

ya kalian-kalian nanti di prodi. Nah,

4:09

otomatis karena targetnya berbeda anak

4:12

dan remaja, otomatis cara penanganannya

4:15

juga berbeda dengan perpustakaan umum

4:17

misalnya atau perpustakaan khusus.

4:19

sehingga kemudian kita perlu ada nih

4:22

satu mata kuliah dalam kurikulum

4:25

yang memberikan luaran kompetensi

4:28

mahasiswa bahwa nanti mereka akan mampu

4:31

untuk menghadapi anak dan remaja. Mereka

4:34

akan tahu bagaimana perkembangan anak

4:36

dan remaja, bagaimana cara belajar, pola

4:39

belajar, literatur apa yang harus ee

4:43

diberikan kepada mereka untuk

4:44

peningkatan kompetensi. Makanya alasan

4:47

mata kuliah itu muncul kira-kira se

4:50

untuk memberikan layanan ya Bu ya agar

4:52

tepat sasaran bagaimana pen

4:55

betul dan perbedaan antara ee literatur

5:00

anak dan maaji dengan sastra

5:02

Oh iya tadi ya itu berbeda gitu. Jadi di

5:07

Prodi Informasi Perpustakaan dan

5:09

Kearsipan itu kan namanya literatur anak

5:10

dan remaja, bukan hasanak ya.

5:13

Karena benar-benar sama sekali tidak ee

5:15

menyinggung konsep teori, konsep dan

5:18

keilmuan sastra gitu.

5:20

I

5:21

jadi kita bicara mengenai bagaimana

5:24

sumber-sumber informasi yang harus

5:27

dimanajerial oleh pusat-pusat informasi

5:30

dan perpustakaan untuk anak dan remaja.

5:33

Jadi targetnya ke sana. Jadi kita akan

5:35

bahas ee bagaimana sih perkembangan buku

5:38

anak dan remaja baik itu di Indonesia

5:41

maupun itu di luar gitu ya. Terus

5:43

kemudian bagaimana sih ee penggunaan dan

5:47

pemanfaatan karena apalagi kita

5:49

vokasional ya, penggunaan dan

5:51

pemanfaatan buku anak dan remaja itu

5:53

oleh anak dan remaja. Layanan di

5:57

perpustakaan mulai dari perpustakaan

5:59

sekolah, perpustakaan desa, perpustakaan

6:02

umum, perpustakaan khusus yang punya

6:04

layanan anak dan remaja itu seharusnya

6:06

seperti apa gitu. Nah, ini juga

6:08

berhubungan dengan bagaimana peningkatan

6:11

kompetensi literasi anak dan remaja.

6:13

Jadi, kita membahasnya di koridor itu

6:16

kita tidak membahas teori dan konsep ee

6:19

sastra dalam koridor sastra anak gitu.

6:23

Oke, Ibu tadi sedikit menyinggung

6:25

tentang perkembangan buku anak Indonesia

6:27

dan di luar gitu. Nah, bagaimana sih Bu

6:30

perkembangan buku anak di Indonesia dan

6:31

di luar? Apakah ada perbedaan atau ada

6:37

impact yang lebih baik gitu, Bu?

6:39

Mm kalau bicara buku anak, kita enggak

6:43

ngomongin anak doang ya, anak dan

6:44

remaja. Karena itu tadi

6:46

ee pengkategorian buku anak dan remaja

6:49

itu yang pertama sebenarnya sebaiknya

6:51

bukan berdasarkan usia,

6:53

tapi berdasarkan kemampuan membaca.

6:56

mulai dari pra membaca gitu ya ee

6:58

membaca awal, membaca lancar sampai

7:01

kemudian membaca kritis. Jadi enggak

7:03

berdasarkan usia. Karena bisa saja anak

7:05

usia 7 tahun pas 1 SD tapi kemampuan

7:08

membacanya sudah sampai kemampuan

7:09

membaca mahir.

7:10

Atau sebaliknya sudah SMP nih kelas 1

7:13

atau kelas 2, tapi justru kemampuan

7:15

membacanya masih sama dengan ee di tahap

7:18

anak ee membaca awal. Bisa jadi seperti

7:21

itu. Itu yang pertama. Lalu bagaimana

7:23

sih perkembangan? Nah, ini perlu

7:25

diperhatikan ya ee dan ini perlu menjadi

7:29

perhatian tanpa kita sadari gerakan

7:32

literasi yang ada di Indonesia ee itu

7:35

kan ee apa secara tidak langsung

7:39

berdampak terhadap bagaimana

7:41

ketersediaan akses terhadap bahan bacaan

7:43

khususnya untuk anak. Hanya saja

7:45

persoalannya selama ini ketika kita

7:47

bicara buku anak pertama itu pasti

7:50

ngomonginnya buku anak berilustrasi. I

7:53

benar banget.

7:54

Iya. Sehingga kadang-kadang kalau

7:56

misalnya kita berkunjung ke sekolah

7:57

dasar misalnya di pojok literasi ee

8:00

kelas 4 atau kelas 5 itu masih buku

8:02

berilustrasi.

8:04

He.

8:04

Padahal buku berilustrasi itu untuk ana

8:06

tahap membaca awal ee harusnya

8:09

diletakkan gitu. Jadi ketika kita bicara

8:11

buku anak sebagian besar dalam ekosistem

8:15

perbukuan di Indonesia itu masih bicara

8:16

mengenai buku anak berilustrasi. Itu

8:18

persoalan yang pertama. Yang kedua ee

8:21

persoalannya adalah ee buku anak di

8:24

Indonesia

8:26

itu secara

8:28

gen topik itu masih berada di ranah atau

8:31

koridor yang sama. Misal yang paling

8:34

banyak buku anak itu bicara mengenai

8:36

folklor, bicara mengenai legenda. Di

8:40

mana folklor yang awalnya lisan

8:43

iya,

8:43

kemudian dialih wahanakan menjadi buku

8:45

ya. Nah, itu di luar ee topik-topik

8:51

yang lagi hangat itu banyak sekali di

8:54

buku anak termasuk buku anak berustrasi.

8:57

misal ee bagaimana ee apa SDGS ya.

9:03

Kemudian ee teknologi yang ngomongin

9:07

soal AI misalnya yang ngomongin soal

9:10

perubahan iklim, yang ngomongin soal

9:12

feminis untuk buku anak berilustrasi itu

9:15

sudah banyak banget di luar dan

9:17

ranah-ranah seperti itu belum tersentuh

9:19

di buku anak di Indonesia.

9:21

Indonesia. Berarti

9:22

sangat tertinggal ya, Bu ya. ee

9:24

tertinggal. Mungkin saya enggak bilang

9:25

tertinggal karena bagaimanapun

9:28

perkembangan buku anak di Indonesia

9:29

sangat luar biasa sebenarnya. Akan

9:31

tetapi kita masih belum berani

9:34

mengekplore topik-topik yang barangkali

9:37

sesuai dengan perkembangan dan kebutuhan

9:40

anak di zaman itu, gitu. Karena kita

9:42

tahu bagaimanapun buku anak itu sifatnya

9:44

sangat politis ya.

9:45

Anak itu hanya sebagai target

9:47

ee sasaran dari bisnis atau industri

9:50

buku anak. Nah, itu yang kedua. Terus

9:53

yang ketiga yang membedakan

9:56

antara buku anak di Indonesia

9:58

perkembangan dengan di luar adalah

10:00

praktik

10:02

praktik ee dalam pemanfaatan buku anak.

10:05

Kita tahu gerakan literasi luar biasa.

10:07

Iya. Gencar sekali.

10:08

Gencar sekali. FBM tumbuh di mana-mana

10:13

ya. Taman masyarakat tumbuh di

10:14

mana-mana. sayangnya atau persoalannya

10:18

itu adalah ee gerakan kita hanya

10:21

berhenti di tahap anak mampu membaca,

10:25

anak suka membaca.

10:27

Iya.

10:28

Padahal kompetensi literasi dasar itu

10:30

yang paling tinggi adalah bagaimana

10:32

membangun empati dan simpati anak kita.

10:35

Kemudian ee belum mau, saya tidak tahu

10:39

apakah belum mau, belum mampu atau

10:41

mungkin tidak tahu bahwa gerakan

10:43

literasi untuk anak dan remaja itu

10:45

enggak hanya berhenti hanya sampai di

10:47

anak bisa membaca, anak suka membaca

10:51

gitu. Tapi bagaimana membangun empati

10:53

dan simpati anak itu PR yang cukup

10:56

besar. Makanya kemudian saya tidak suka

10:59

dengan istilah minat baca.

11:01

Minat baca itu sudah dari tahun kapan

11:04

gitu ya? Ee sudah dari sekian dekade

11:06

yang lalu. Kita harus bergeser dari

11:09

minat baca menjadi daya baca. Bagaimana

11:12

kemudian sebuah literatur bagi anak dan

11:14

remaja mampu memunculkan daya kritis

11:18

anak, mampu memunculkan inovasi dan

11:22

kreativitas dari anak. ee mampu anak

11:25

mampu untuk memecahkan persoalan

11:27

sehari-hari dari apa yang kemudian dia

11:29

baca atau dia akses. Kira-kira seperti

11:32

itu. Oke. Nah, Ibu tadi kan sedikit

11:35

berbicara mengenai gerakan literasi itu

11:38

hanya sampai di suka membaca dan ee bisa

11:41

membaca. Nah, itu bagaimana sih, Bu,

11:44

cara membangun daya kritis pada anak dan

11:46

remaja dan apa yang harus dilakukan oleh

11:49

orang tua, guru, maupun perpustakawan,

11:52

Bu.

11:53

Oke, karena kita di prodi informasi

11:55

perpustakaan dan kearsipan, mungkin saya

11:57

lebih fokusnya ke ee perpustakaan ya,

12:00

pustakawan.

12:01

Selama ini di layanan anak dan remaja ee

12:05

di Indonesia khususnya ya ee kalau di

12:08

luar di beberapa perpustakaan yang

12:10

pernah saya kunjungi itu layanan anak

12:12

dan remajanya sudah ee sangat inovatif

12:16

sekali ya.

12:17

kita masih fokus pada kegiatan

12:20

mendongeng,

12:22

kegiatan menggambar, kegiatan mewarnai

12:26

gitu ya. Salah enggak sih? Enggak salah.

12:29

Hanya saja ee kegiatan itu lebih ke

12:35

melengkapi gitu ya. Ee sementara

12:38

praktik-praktik awal dalam proses ee

12:42

membangun kompetensi literasi anak itu

12:44

tidak ee di dicari solusinya. Misal yang

12:49

pertama,

12:52

bagaimana sih cara membangun minat? Kita

12:54

perlu membangun minat dulu kan ya.

12:55

Iya, benar.

12:56

Membangun minat.

12:58

Saya misal tiba-tiba saya saya lapar

13:01

terus saya disuguhi banyak makanan

13:04

tapi saya enggak suka. gitu. Mau banyak

13:07

makanan ketika saya tidak suka dan saya

13:09

lapar, saya pasti berpikir untuk bacanya

13:12

ya. Apalagi ketika saya tidak lapar

13:13

gitu. Nah, begitu juga dengan buku.

13:16

Bukunya kan banyak nih.

13:18

Mau satu rak itu buku, tapi kemudian

13:22

buku itu tidak ee membicarakan topik

13:26

yang saya minati

13:28

atau anak tidak punya minat sama sekali

13:30

untuk membaca itu pasti tidak akan

13:32

dibaca.

13:32

Benar banget, Bu. Jadi persoalannya

13:34

adalah internal di anak.

13:36

Iya.

13:36

Nah, yang bertanggung jawab untuk itu

13:38

yang pertama adalah orang tua. Bagaimana

13:41

kemudian orang tua mampu me

13:45

bangkitkan minat anak dan mengembangkan

13:47

minat itu menjadi kebiasaan membaca.

13:50

Nah, otomatis harus sesuatu yang

13:52

benar-benar disukai oleh anak. I kan apa

13:55

yang disukai anak? otomatis orang tua.

13:57

Bagaimana cara pendekatan agar anak suka

14:00

dengan bahan bacaan itu juga oleh orang

14:02

tua. Jadi ada yang namanya kerangka ORM

14:05

namanya opportunity ya. Kesempatan yang

14:09

diberikan, akses yang diberikan, reward

14:12

yang diberikan itu sangat berpengaruh

14:14

mencontoh anak butuh figur misalnya ya.

14:17

Maka jadilah orang tua yang tidak pegang

14:20

handphone tapi membaca buku di hadapan

14:22

anak.

14:24

Biasa kan itu dulu. Itu kan contoh ya.

14:26

He

14:27

anak lebih gampang menyerap dari sesuatu

14:29

yang dia lihat, yang dia dengar

14:30

ketimbang dari sesuatu yang di

14:32

diceramahin ke dia gitu.

14:34

Nah, ekosistem seperti itu perlu

14:36

dibangun. Jadi kalau misalnya hasil

14:39

disertasi saya ada satu model komunikasi

14:42

dalam praktik literasi anak namanya

14:44

Bona. Jadi, bona itu kita ngelihat

14:46

background-nya dari anak, melihat

14:49

originalitas anak, melihat negosiasi,

14:53

baru ee bagaimana e penerimaan anak.

14:56

Jadi, kita harus tahu dulu minat anaknya

14:58

apa. Sebagai contoh, kita enggak bisa

15:00

nih kasih buku, nih, kamu baca ini dong.

15:04

Apa sih, Bu? Pasti kamu bilang, "Kamu

15:05

aja ee mahasiswa pasti ngomong gitu."

15:07

Apa sih, Bu? Gitu ya. Tapi kemudian kita

15:10

bisa mencari pendekatan yang berbeda.

15:13

Enggak usah kita kasih buku. Ingat, anak

15:16

paling suka sesuatu yang di luar ee

15:19

batas kemampuan dia. Makanya dia suka

15:22

tutup hero.

15:23

I

15:23

makanya dia suka cerita cerita-cerita

15:25

dewa atau sesuatu yang tidak tersentuh

15:27

gitu kan. Karena itu wow dan luar biasa

15:30

buat dia. Nah, mulai dari situ anak suka

15:32

petualangan cerita.

15:35

Makanya anak butuh orang tua yang

15:38

pembual yang suka bercerita. Di

15:41

Minangkabau kita sudah punya itu. Di

15:42

Indonesia kita sudah punya tradisi itu,

15:44

gitu. Hanya saja kemudian karena

15:46

pergeseran budaya akibat kolonialisme

15:50

kita lebih ee terbiasa dengan menulis

15:52

gitu kan ya. Tapi that's oke. Nah, mulai

15:55

kenalkan begitu sehingga anak tertarik

15:58

nih. Oh, ternyata ada ya ee tokoh ini,

16:03

ada ya cerita tentang ini. Gali terus

16:06

rasa ingin tahu anak

16:08

kity-nya perlu. Nah, dari situ, oh ini

16:11

loh, ada loh ceritanya ini bukunya. Coba

16:14

kamu baca sama enggak?

16:16

Menarik enggak? Sama enggak seperti yang

16:18

aku ceritain atau jangan-jangan aku

16:19

terlalu hiperbolis nih cerita ke tamu

16:21

ternyata enggak sekeren itu ceritanya

16:23

gitu. Nah, menumbuhkan minat. Lalu minat

16:27

kalau hanya berminat tapi tidak ada

16:30

konsistensi itu akan menjadi masalah.

16:33

Jadi harus ada frekuensi membaca yang

16:35

rutin. Jadi kasih aja dulu apa yang dia

16:38

suka. Oh, dia suka misalnya superhero

16:41

kasih semua buku superhero. Ceritakan

16:43

semua tentang superhero sampai dia punya

16:45

konsistensi untuk membaca. Udah

16:47

kelihatan nih. Oh, ternyata dalam sehari

16:49

itu dia pasti ketika mau tidur dia baca.

16:51

Ketika dia lagi nunggu jemputan dia

16:53

baca. Berarti sudah ada konsistensi.

16:56

Ketika sudah ada konsistensi membaca

16:59

baru kemudian ditingkatkan kualitas

17:02

bacaannya. Maksudnya gimana?

17:04

Otak itu sama dengan tubuh.

17:06

Heeh.

17:07

Untuk otak sehat ee untuk tubuh sehat

17:09

kita butuh makanan yang sehat dan

17:11

bergizi.

17:11

Otak juga begitu. Kita butuh buku-buku

17:14

yang benar-benar memperkaya,

17:17

merangsang rasa ingin takut.

17:20

Artinya apa? Artinya level bacaan anak

17:22

itu juga harus naik karena otaknya butuh

17:24

itu, gitu. Makanya saya sangat heran

17:26

ketika di pojok literasi kelas 4 SD

17:29

masih ngomongin eh masih dikasih buku

17:31

anak berilustrasi

17:32

tanpa tahu anaknya butuh itu enggak

17:35

sebenarnya gitu. Nah, peningkatan level

17:39

kemudian juga didukung oleh ekosistem.

17:42

Contoh di keluarga atau di ee sekolah

17:45

misalnya, pernah enggak anak diajak

17:47

untuk mendiskusikan secara terbuka buku

17:50

yang dia baca selama ini? Contoh, misal

17:52

gerakan literasi sekolah, baca buku 15

17:54

menit, kamu pasti ngalamin kan? Ya,

17:55

ngalamin banget.

17:56

Terus evaluasinya apa? Kamu pasti

17:58

disuruh bikin room.

17:59

Iya.

18:00

Dibahas enggak? enggak sama sekali

18:02

enggak dibahas dan hasil tulisan kita

18:05

tuh ya sudah dibiarin cuma ditanda

18:07

tangan doang. Jadi kami tidak tertarik

18:09

untuk melakukan hal tersebut sebenarnya

18:10

Bu.

18:11

Nah, itu jadi perlu ada evaluasi yang

18:13

benar-benar ee interaktif, yang

18:15

benar-benar merangsa, merangsa rasa

18:18

ingin tahu dan keberlanjutan dari

18:20

kegiatan itu. Jadi ee ekosistem yang

18:24

seperti itu yang seharusnya dibangun.

18:26

Jadi bukan hanya perkara

18:29

suplly bahan bacaan gimana sih akses

18:32

bahan bacaan.

18:34

Tapi setelah itu selesai dan saya rasa

18:37

urusan supply dan akses itu sudah clear,

18:40

baru kemudian membangun kompetensi yang

18:42

lain. Nah, kompetensi yang lain ini yang

18:44

seringki ee terabaikan atau belum

18:48

tersentuh oleh banyak kegiatan literasi

18:51

di Indonesia. Itu sebabnya kenapa ketika

18:54

tes PISA yang terakhir 2022 ya itu nilai

18:59

terendah paling rendah itu 500.

19:01

Indonesia kalau saya tidak salah itu

19:02

diangka 371.

19:05

Kalau misalnya kita lihat rapor

19:07

pendidikan yang dikeluarkan oleh

19:09

Kementerian Pendidikan Dasar dan

19:10

Menengah gitu ya. Yang paling tinggi

19:13

memang lapor pendidikan di S ting SD itu

19:16

61% kalau saya tidak salah. Tapi SMP,

19:19

SMA itu SMP kalau tidak salah 59% dan

19:23

SMA itu hanya 47 apa 46%.

19:28

Mengkhawatirkan? Iya. Dan itu PR kita

19:30

bersama termasuk salah satunya calon

19:32

pustakawan dan calon tenaga

19:33

perpustakaan. Makanya perlu untuk

19:36

belajar literatur anak dan remaja gitu.

19:40

Oke, berarti literatur anak remaja dan

19:44

remaja ini sangat penting banget ya, Bu,

19:45

untuk dikuasai oleh setiap orang tua,

19:48

guru, dan juga perpustakawan.

19:51

Nah, ini sudah di akhir

19:54

ee podcast saja, Bu. Jadi, kami minta

19:56

untuk Ibu agar bisa memberikan kata-kata

19:59

quote atau kata motivasi terkait dengan

20:02

anak dan remaja. Bu, sudah siap belum

20:07

jalan-jalan? Oke.

20:10

Eh,

20:12

apa ya kata motivasi ya? Saya paling

20:14

susah kalau kasih kata motivasi

20:16

apapun Bu.

20:17

Apapun. Oke. Ee untuk anak remaja ya,

20:21

bukan untuk mahasiswa nih ya. Kami juga

20:23

masih kami kan juga anak-anak Bu. Udah

20:27

udah enggak 18 tahun enggak masuk anak

20:28

dan remaja dong.

20:29

Maksudnya kami juga anak dari orang tua

20:32

gitu, Bu. Oke. Ee ketika kita bicara

20:35

mengenai anak ee literatur anak dan

20:37

remaja, kita tidak hanya bicara mengenai

20:40

koleksinya, kita tidak hanya bicara

20:41

mengenai bukunya, tapi kita juga bicara

20:44

mengenai anak. Jadi ketika kita membahas

20:47

literatur anak dan remaja, kita juga

20:49

harus paham anak itu seperti apa. Kita

20:52

jangan menempatkan anak hanya sebagai

20:54

target sasaran.

20:55

Heeh.

20:56

Gitu ya. Jadi kita harus tahu

20:57

perkembangannya, minatnya,

21:00

ee cara belajarnya. ee pola belajarnya

21:04

seperti apa gitu. Jadi ee anak dalam

21:08

banyak kegiatan terutama kebijakan itu

21:11

tidak hanya menjadi objek aja gitu sih.

21:16

Oke, terima kasih banyak Bu atas waktu

21:18

dan kesempatannya untuk dapat hadir di

21:20

podcast IPK ini Bu. Nah, Teman-teman

21:24

mungkin hanya sekian podcast kali ini.

21:26

Semoga bermanfaat dan jangan lupain

21:29

podcast IPK di channel YouTube IPK

21:34

IPK TA.

21:37

Nah, mungkin sekian dari aku.

21:38

Asalamualaikum warahmatullahi

21:40

wabarakatuh.

21:51

Yeah.

More transcripts

Explore other videos transcribed with YouTLDR.

Get the TLDR of any YouTube video

Transcribe, summarize, and repurpose videos in 125+ languages — free, no signup required.

Try YouTLDR Free