VIRAL‼️ K*RB4N PON-P3S DI LOMBOK, INI KEJADIAN YG SEBENARNYA…
Jadi kemarin tuh ada kasus dugaan korban
aniaya di Ponpes Rosidatu
Sauliah Lombok.
Jadi kebetulan waktu kemarin itu ketika
dari salah seorang content creator yang
membantu itu namanya si
Adit.
Adit itu ngubungin saya dan kita udah
okekan untuk berangkat ke Jakarta.
Ternyata mereka diop atau dihentikan di
bandara itu juga kita belum tahu tuh.
Nah, kebetulan sudah ada di sini semua.
Iya kan? Hai, apa kabar?
Sehat?
Baik ya.
I
kamu Al ya?
Engih. Kamu Devin ya? Ibu
ibunya Devin.
Ibunya Devin. Ibu
Saril Sabirin
yang meninggal dunia turut berdukaita
ya, Bu ya. Dan Mbak Putri yang ngawal
mendampingi
mendampingiampingi
Mas Joko yang ngedampingi
Al
Al dan Yin.
Aku mau nanya dulu nih sebenarnya yang
waktu di bandara kalian mau berangkat
kan Ibu ada di sana ya?
Iya.
Itu kenapa diop Bu? Karena alasannya
karena Deven masih dirawat di rumah
sakit.
Alasan dari siapa?
Dari Ibu Polda.
Oke. Terus kemudian kalau dia masih
dirawat, Ibu kan bisa berangkat.
Iya.
Tetap ibu enggak boleh berangkat juga?
Kan kita itu disuruhnya bertiga. Gak
pernah disuruh sendiri.
Sama siapa?
Sama Adi sama Bang Kobel. Itu kan kita
berangkatnya berempat.
Oh gitu.
Iya. Gak pernah disuruh pergi tanpa
Devin gitu. Nah, Devin masih dirawat.
Apanya yang masih dirawat?
Katanya itu persiapan operasi.
Persiapan operasi.
Iya. Jadi gizinya.
Jadi harus balik ke rumah sakit.
Iya.
Nah, waktu kalian pergi dari rumah
sakit, kalian minta izin enggak?
Minta izin.
Minta izin ke siapa?
Bang Adinya minta izin ke dokter.
Dokternya kasih izin.
Iya, kasih izin.
Di Rumah Sakit Bayangkara itu ada
petugas polisi juga yang jaga atau
enggak
ada.
Oke. Minta izin enggak ke petugasnya?
Gak tahu.
Enggak tahu.
Oke. Tapi intinya yang Ibu tahu itu
sudah diizinkan.
Iya, diizinkan sama Pak Dokter.
Oke. Makanya pada saat hari itu kalian
mau berangkat ke Jakarta ke tempat saya
gitu kan ya.
Tapi tahu-tahu dihentikan.
Iya. Iya.
Ibu enggak bingung waktu itu kenapa
dihentikan?
Bingung.
Bingung. Penjelasannya cuman itu.
Iya.
Jadi akhirnya baliklah semua.
Iya.
Ibu ke mana? Ke rumah sakit.
Iya. Ke rumah sakit Bayangkara.
Devin ke rumah sakit.
Al
ke rumah sakit juga. Oke. [berdehem] Di
rumah sakit kalian ee diapain?
Dirawet.
Dirawat apanya yang dirawat?
Kakinya.
Ee diganti perban gitu-gitu.
Iya.
Kalian panas atau apa gitu? Ada
enggak?
Enggak ada.
Iya.
Oh. Jadi cuma istirahat aja?
Iya.
Oke. Terus habis itu katanya kalian
sempat diajak ke mall.
Gak ikut saya. Devinnya yang ke mall,
Pak.
Devin ke mall?
Devin pergi ke mall sama siapa? Bapak
Joko.
Bapak
Joko.
Joko.
Bapak Joko.
Oh. Kenapa ke mall? Ee itu itu jadi
omongan juga tuh. Kenapa ke mall, Pak?
Mas Joko?
Iya. Jadi waktu itu si apa saya
ditelepon sama apa ee keluarga
sama keluarga bapaknya Al
bahwa ee si siapa?
Devin.
Devin tantrum. bahwa dia pengin ada apa
istilahnya agak apa istilahnya
pengin keluarlah kira-kira begitu. Nah,
kemudian
waktu itu saya temukan sudah di bawah ya
di di parkiran. Kenapa? Dia bilang saya
ke ibunya
ini deh, Pak. Ini si apa awalnya minta
mie.
Iya.
Di bawah tapi kemudian ee tutup itu apa?
Kantin.
Iya.
Nah, terus ya sudah ayo kita jalan-jalan
aja. Saya bilang. Tapi saya minta izin
di rumah sakit ini kayaknya anak apa ee
tantrum mungkin juga karena
dihibur terus kemudian
boleh enggak saya ajak anaknya untuk
keluar dulu? Saya bilang supaya tenang
tenang karena daripada tantrum gini dan
memang dari pagi awalnya
udah ngambul nih sama ibunya.
Heeh.
Karena dimandiin
ee akumulasi
ee itulah yang kemudian ee malamnya itu
tantruk. intinya dia enggak [berdehem]
beta di rumah sakit.
Devin enggak beta ya waktu itu di rumah
sakit
[berdehem]
kamu ee kalau takut ee bilang saya takut
ngomong. Kalau kamu enggak berani
ngomong, kamu bilang kamu enggak berani
ngomong. Ngomong aja apa adanya.
Cerita aja, Vin.
Heeh. Aman kok. Kamu waktu di rumah
sakit pas habis dibawa balik ke rumah
sakit, kamu bosan?
Bosan.
Bosan. Kenapa kamu bosan? Karena enggak
bisa lihat keluar.
Enggak bisa keluar.
Nah, pas di rumah sakit itu kamu cuman
tiduran aja atau gimana?
Tidur.
Tidur aja.
Nonton juga.
Nonton gitu. Terus tidak ada
tindakan-tindakan
yang kamu dapat?
Karena dirawat luka aja.
Dirawat luka aja.
Iya.
Ya, masih basah.
Iya.
Ibu waktu itu ada di rumah sakit juga
enggak?
Iya. Oke. Waktu itu di rumah sakit
Devinnya diobatin atau apa yang Ibu
lihat?
Saya lihat nih sih dia itu terapi juga
di sana.
Heeh.
Terus lukanya juga dirawat.
Oke. Terus ee si Devin sempat bilang ke
Ibu mau pulang.
Iya.
Terus Ibu ee bilang apa ke Devin? Enggak
boleh pulang.
Iya. Enggak boleh pulang.
Oh. Kenapa Ibu enggak bawa pulang aja?
Kan kata Pak Dokter sama perawat-perawat
di sana juga itu kan mau dipersiapin
untuk operasi dan juga biar gizinya
dipenuhi.
Oke. Tanggal berapa rencananya
operasinya?
Setelah pulang dari Jogja.
Hah?
Setelah pulang dari sini.
Setelah pulang dari sini.
Iya.
Kalau saya lihat kemarin itu, Mas. Jadi
memang kondisinya [berdehem]
karena
ee proses itu tidak ada koordinasi.
Heeh.
Jadi pagi ketika
apa ibunya ke dari rumah sakit itu dari
Rumah Sakit Bayangkara.
Heeh.
Itu berangkatnya itu ke rumah sakit
provinsi untuk kontrol dan kemudian
balik harusnya. Nah, di rumah sakit
provinsi itu sepertinya kemudian
ee mau dibawa
sudah malah sudah dibawa ke bandara.
Nah. Heeh.
Ee dari rumah sakit ini tidak tahu,
tidak ada tidak ada ee koordinasi. Dia
enggak tahu kalau kemudian dia dibawa ke
bandara itu.
Oke. Saya mau tanya dulu mengenai
kejadian. Kejadiannya itu sebenarnya
bulan apa kejadian yang mereka alami?
Akhir Desember.
Akhir Desember ya.
Iya. Oke, Al sama Devin waktu kejadian
itu, waktu kalian tangannya terbakar dan
segala macam, ceritanya kalian lagi
ngapain?
Si Devin lagi benerin kipas.
Eh, siapa aja yang di situ yang lagi
benerin?
Eh, Devin sama almarhum.
Oke. Ada ada Devin, ada almarhum,
ada Al, terus ada siapa lagi?
Yus.
Yus. Gak gak cuma bertiga itu.
Cuma bertiga.
Oh cuma bertiga.
Oke. Benerin kipas nih.
Iya.
Setelah lagi dibenerin ini kenapa bisa
akhirnya kalian terbakar?
Ee apa namanya? Ada plastik dikumpulin
sama Rehan.
Rehan?
Iya.
Rehan ini ee
kakak kelas.
Kakak kelas yang diduga.
Iya.
Oke.
Kakak kelas.
Oh. Terus ada siapa lagi?
Ada Yus.
Yus. Oh, berarti kalian berlima ya?
Berlima ya, bukan bertiga ya?
Lagi benerin kipas begituak
gak enggak. Oke.
Jadi yang aja yang ber
yang ada benerin kipas awalnya Devin.
Devin.
Heeh. Kemudian baru masuk yang lain ya.
Iya.
Nah, Devin tadi bilang gak tahu karena
dia sibuk dengan
kipasnya.
Benerin kipasnya.
Oke. Masuk yang lain.
Masuk yang lain.
Jadi totalnya berlima.
Berlima
di dalam ruangan.
Dalam ruangan.
Dalam ruangan. Al. itu kamar.
Iya, bekas kamer ustaz.
Bekas bekas
bekas kamar ustaz.
Kemudian kenapa bisa ada bensin? Kenapa
bisa ada kebakaran? Coba cerita.
Sebenarnya Rehan yang suruh Sabirin beli
bensin.
Oke. Jadi Rehan nih suruh Sabirin
anaknya Ibu beli bensin. Buat apa?
Katanya dia mau buat ketapel.
Katanya dia mau buat ketapel. Oke.
Memangnya kalau buat ketapel harus pakai
bensin?
Gak tahu. Saya baru
saya tumben itu buat ketapel pakai
bensin.
Kenapa
baru tumben dia dengar buat
baru kali itu aja dia tahu kalau mau
buat ketapel pakai bensin. Oke.
Setelah itu Sobirin pergi beli bensin.
Iya.
Oke. Kalian masih di kamar tuh?
Gak. Saya pergi saya di saya pergi sama
Rehan sama Yus. Saya diajak sama Rehan
cari kayu.
Oke berarti kamu Rehan Yus pergi cari
kayu ranting kayu.
Sobirin pergi beli bensin.
I Devin perbaiki kipas
perbaiki kipas. Betul.
Oke. Udah nih bensin udah dibeli sama
Sobirin. Terus Sobirin nyamperin kalian
yang lagi nyari kayu
ya. Saya dari depan kemer terus sayain
udah datang yang membawa bensin.
Terus bensinnya itu dibawa ke mana? Ke
kamar atau di tempat lain? Di bawah ke
kamar saya botol.
Oke. Dibawa ke kamar yang tadi tempat
beresin kipas angin ya? Bekasnya kamar
ustaz ya. Iya.
Oke. Di dalam kamar nih bensinnya itu
diapain?
Pertama dia ditereh ke
Mika. Mika.
Mika.
Ke Mika. Oh, dia siram ke Mika. Mika itu
Mika itu loh, Mas, yang untuk Mika
tempat jajan yang diplom kayak bekas
bekas agar-agar gitu loh.
Alas agar-agar itu. Nah, itu ee
ditumpahin sedikit apa ditumpahinlah di
di mika itu
ya. Kemudian sisanya ditaruh masih tetap
dipotong.
Oke.
Nah, terus kemudian
langsung bakar kertas.
Dibakar.
Dibakar. Mika itu dibakar. Itu mika itu
dibakar buat apa?
E, buat ketapel.
Oh, buat panasin ketapel.
panasin kayu.
Panasin kayu untuk ngelurusin.
Ngelurusin.
Heh.
Iya.
Kamu biasa bikin ketapel?
Biasa.
Biasanya pakai itu enggak?
Gek.
Pakai apa biasanya? A biasanya pakai
apa?
Pakai api biasa
gak. Engak pakai ap
pakai yang langsung aja.
Langsung.
Heeh. Aku juga baru tahu kalau bikin
ketapel pakai api soalnya.
Iya. Saya juga baru baru tahu juga.
Soalnya kan kita waktu kecil bikin
ketapel ya diserut-serut aja cari batang
gitu. Kayu ya apinya buat apa ya?
katanya untuk melurusin kayu. Jadi kayu
dipanasin
biar lurus katanya.
Biar lurus katanya begitu.
Tapi kan kebakar dong pasti kayu.
Oke.
Jadi habis udah dinyalain mika itu pakai
api ee kayunya ditaruh di atas itu api
lagi mau dilurusin
enggak?
Enggak.
Ee terus kalau di apa namanya?
Ee
dia sudah nyala apinya.
Heeh. Apinya nyala nih kan.
Iya.
Terus
langsung ke apinya ke bensin yang pakai
botol itu.
Oh, jadi apinya nyala dia nyambar di ke
bensin jadi gede.
Iya.
Ah, oke. Jadi gede nih. Nah, pada saat
apinya besar itu panik dong.
Panik
panik. Oke. Kamu ngapain waktu itu?
Saya mau keluar tapi
sama Yesus bisa keluar.
Kamu mau keluar nih? Iya, tapi apinya
udah membesar dari depan pintu.
Oh, jadi apinya ada di depan pintu
keluar. Kamu enggak bisa ke sana. Oke.
Rehannya di mana?
Dia langsung keluar.
Udah keluar duluan. Oh, jadi begitu
apinya menyambar ke bensin
gitu
dia lari.
Dia langsung lari.
Iya.
Sama si Yus.
Yus
berdua.
Iya.
Dia enggak bilang kalian, "Eh, ayo lari
gitu
gak."
Oh, dia langsung lari.
Iya.
Jadi tinggal kamu,
Devin sama Sobirin di dalam. Heeh.
Begitu ya.
Iya.
Ada enggak yang berusaha tetap buka itu
pintu?
Ada.
Ada.
Ada. Siapa?
Saya.
Kamu sama Devin. Makanya terbakar.
Terus casernya kebakar juga membesar.
Semakin membesar casernya.
Oke. Nah, kamu berusaha buka itu pintu.
Iya.
Iya. Walaupun ada apinya.
Iya.
Kebuka enggak pintunya?
Gak.
Kenapa enggak kebuka?
Karena
keras.
Ada keras karena ada yang diganjal.
Oh.
keganj
kalian dobrak
gak
tarik
saya
enggak bisa tarik
tidak bisa tarik saya teriak
oh tapi kalian sudah coba tarik
iya enggak ada
engselnya itu gak ada dagangnya enggak
ada
gagangnya ke mana
memang pintu itu katanya tidak ada
gagangnya
iya
enggak ada
waktu kalian masuk ke dalam kamar itu
pintu itu ada gagangnya enggak
di luarnya ada gagangnya enggak
enggak
berarti bukanya tinggal dorong sama
tarik
gitu kan ya. Ada kuncinya enggak?
Enggak.
Oke berarti ketika pintu itu Rehan
keluar pintu itu kan harusnya terbuka
ya. Betul
betul betul.
Nah pada saat kali Rehan lari pintunya
ketutup.
Iya
iya
ditutup.
Iya gak
apa namanya sudah dibuka keras sekali
sama Rehan dia balik lagi pintunya
ketutup
ketutup sendiri. Jadi kalau ceritanya
yang saya dengar awalnya katanya pas
Rehan keluar, Yus juga keluar sambil
buka keras gitu. Pas dia keluar pintu
itu langsung ketutup.
Ketutup bukan ditutup sama ditarik sama
Rehan sama itu. Bukan. Dia ketutup
sendiri.
Iya.
Yang jelas dia pas di anu ketutup cuman
dia gak tahu apakah itu ditarik atau
Iya. Pokoknya intinya kamu lihat enggak
pintunya ketutup sendiri atau kamu
lihatnya pintunya sudah ketutup?
Ketutup sendiri.
Kamu lihat pintu itu ketutup sendiri.
Jadi ini kan pintu nih gini kan dia
ketutup sendiri begitu.
Iya.
Bukan ada yang narik
bukan.
Oke. Kamu teriak-teriak minta tolong.
Oke.
Ada enggak suara Rehan di depan yang Oh,
bentar kami cari bantuan. Gitu-gitu
gak tahu.
Tidak ada. Oke. Api besar.
Iya. Kalian panik?
Panik.
Ah, Sobirin posisinya di mana?
Gak tahu. Karena di kamar itu gelap.
Karena api kasernya
asap sama api.
Oh, sama asap.
Jadi kalian ee berusaha keluar atau
kalian cuma diam saja? Saya mau
teri ya.
Berusaha keluar.
Berusaha keluar lewat mana? Akhirnya kan
pintunya enggak bisa kebuka.
Iya. Terus pasrah aja. Kalau udah enggak
bisa itu kita pasrah.
Oh. Eh pasrah.
Pasrah.
Jadi kebakar.
Iya. Kayaknya saya mau meninggal aja.
Saya pasrah.
Oh. Oh. Kamu udah rasa kamu akan
meninggal di situ.
Iya.
Nangis
ya? Nangis.
Kamu kebakar tangannya pada saat posisi
itu. Kaki kamu kebakar. Api semuanya
ini.
Iya. Api
baju
gak sedikit dari bajunya. sedikit baju.
Kamu enggak berusaha matikan api itu?
Udah enak yang saya keluar itu udah mati
apinya.
Oh, pada saat sudah keluar.
Iya. Diseburin sama air.
Oh, setelah sudah keluar. Kalau Devin,
maaf tangannya yang kanan
karena berusaha membuka pintu itu.
Oh, coba saya lihat sayang. Ini jadi
pada saat kamu berusaha buka pintu itu
api sudah bakar di sini.
Jadi tangan kamu posisinya ee kebakar
itu.
Oh,
mencoba membuka pintu kan ya? mencoba
membuka pintu ber tapi badan ini sudah
kebakar-bakar ibaratnya begitu ya dan
itu gelap asap
di di dekat situ juga ada ee apa
bekas itu kasur
plastik kalau yang ada apa kasur itu
juga nempel terus ada rak plastik yang
kemudian juga nempel
oh nempel ke badan mereka
iya
karena dia awalnya kayak ada peritnya
menggosok-gosokkan gitu supaya mati tapi
malah kena ke
api ke plastik itu.
plastik yang terbakar yang nempel ke
badan mereka. Jadi ini nyatu semuanya
nih. Rak plastik apa? Rak plastik.
Iya. Paham. Setelah itu pintu kebuka
gak didobrakin sama teman?
Oh. Siapa yang dobrak itu? Nanang.
Nanang namanya. Satu orang.
Iya.
Dia dobrak dari luar.
Iya. Ada yang ada teman saya ambil air
ada yang dobrakin.
Oke, akhirnya kalian bisa keluar.
I. Oke, Devin sama Al keluar nih disiram
air langsung gitu kan. Sobirin di mana?
H
Sobirin
samaan enggak waktu keluaran
keluar juga dia berhasil keluar. Oke.
Semuanya disiram air. Habis itu baru
datang siapa aja?
Ee
pimpinan PPES datang enggak?
Udah keluar saya. Dia datang
apa?
Saya dari saya sudah keluar.
Oh. Setelah sudah keluar dari kamar yang
penuh api.
Iya. yang dua orang teman tadi tolong
siram air dan lain-lain. Pimpinan Ponpes
datang. Oh, rame
ya. Ramai.
Ee murid-murid santri semuanya datang
semuanya. Tolong kalian.
Si Rehan sama Yus
enggak tahu.
Enggak lihat.
Iya.
Setelah itu akhirnya ibu baru tahu.
Gak
gak
ada bapaknya.
Oke. Bagaimana ceritanya akhirnya
setelah dari kejadian itu ke Ibu? Saya
tahu kejadian sebenarnya itu setelah 5
hari di Rumah Sakit Praya.
Baru 5 hari kemudian.
Iya.
Kenapa Ibu baru tahu 5 hari kemudian?
Anak-anak baru bisa bicara setelah 5
hari dirawat di rumah sakit peraya.
Pihak Kompes hubungi Ibu enggak? Apa ibu
tahu maksudnya?
Ibu tahu bahwa anaknya terbakar itu hari
itu atau setelah
hari itu. Tapi sudah sore, sudah mau
menjelang magrib.
Oke. Siapa yang memberitahu? Anak saya
yang pulang memberitahu. Kakaknya Deven
sekolah di sana juga. Oh, oke. Kakaknya
kasih tahu Ibu. Setelah itu ibu langsung
ke rumah sakit
lihat anak Ibu.
Iya.
Oke. Setelah itu 5 hari kemudian baru
Ibu tahu ceritanya nih.
Iya.
Karena baru bisa bicara. Oke. Sobirin
ada juga di situ.
Ada.
Oke. [mendengus]
Ibu kapan tahu anak Ibu di rumah sakit?
Kapan si tahu pertama kali anak rumah
sakit? Prayum itu
hari itu juga
hari itu juga sore siang malam i asar
asar
siapa yang ngasih tahu siapa yang
telepon atau ngasih tahu tutut kentang
hah
kakakut kakak tutut tutup
ustaz tutup diuk tuh
ustaz yang datang ke ke rumah
ustaz dari Ponpes
dari Ponpes karena kalau dari ceritanya
yang paling terakhir datang adalah
keluarganya Sahril Sabirin nggih
he
hm
paling Paling telat.
Iya. Terakhirlah.
Paling terakhir.
Nah, Harisirin meninggalnya di hari ke
berapa?
2 bulan kemudian.
Oh, 2 bulan
pas menjelang Ramadan.
Iya. Enggak.
Coba tanyain bagaimana perasaannya dia
lihat anaknya pada saat itu terus
meninggal?
Gimana Side waktu lihat si Sahril?
Karena ini salir Sobir itu yang paling
paling parah memang dia luka bakarnya
sudah ada fotonya
hanya sedikit aja yang kelihatan yang
masih ut
80% lah ya
gimana
aneh baang
dia sampai apa sangat sedih sampai
hampir gila
ngelihat anaknya apa se terbakar
terbakar
terus ibu pastikan berharap anaknya
sembuh ya Hm.
Nah, tapi ternyata anaknya tidak sembuh.
Ibu kecewa
sama siapa?
Pontpes.
Pompes. Pompes.
Pompes. Karena ibu titip anak di situ.
Heeh.
Itu anak satu-satu atau anak ke berapa?
Terakhir terakhir.
Terakhir.
Dan itu, Bang. Jadi, ada pernyataan yang
kami juga seringkiali apa mempersoalkan
itu ya. Jadi anak yang masuk di
pondok itu bahasa di sana adalah
menyerahkan laksana mayung sebungkul.
Apa itu?
Mayung sebungkul itu.
Jadi kalau nyerahin anak ke pondok itu
seperti menyerahkan rusa satu ekor utuh.
Mau diapain aja terserah.
Mau diapain aja terserah.
Itu persyaratan dari mana? itu ada per
ada ada di di tata tertib itu
bahwa ketika menyerahkan anak itu
ibaratlah
ee menyerahkan
ee tadi rusa seekor utuh
ada tulisan begitu rusa seekor mayung
sebungkul. Terus dengan kondisi anak Ibu
yang ee sudah ee akhirnya berpulang,
Ibu sempat ee
apa hubungi Ponpes enggak untuk tanggung
jawab?
Dindang jawab.
Mungkin aku jelasin sedikit, Bang.
Monggo.
Jadi, waktu pertama kejadian menurut
kakak korban
itu [berdehem] kakak kandungnya itu
berusaha untuk membuat laporan
kepolisian.
Oke.
Oke.
Di Desember nih ya?
Iya. Tetapi karena kakak tirinya
bekerja di situ atau masih ada hubungan
saudara dengan si pemilik Ponpes lah ya,
mereka tidak enak mau laporan gitu.
Ditambah ada janji dari si Ponpes-nya
ini mau membantu
biaya pengobatan mereka.
Oke.
Jadi kayak pecahlah gitu di keluarga ini
antara yang kakak tiri dengan kakak
kandung gitu. Akhirnya karena menunggu
begitu juga dengan yang lain ini
dijanjikan.
Heeh. He.
Dengan si pemilik Ponpes bahwa nanti
mereka akan melakukan ee pengobatanlah,
bantuan ternyata sampai
saat ini juga tidak ada gitu. Bahkan
sesen pun tidak ada.
Tidak ada. Bahkan
ada hanya enggak seberapa.
Iya hanya jadi
Oh, ada tapi tak seberapa
cuma Rp200.000
500
200 500
500
terus
saya telu kalian 100
100 150 begitu gitu. Nah, jadi arak 6
berapa total?
Ara 6
R1.650.
Oh, totalnya yang Ibu dapat. E kalau Ibu
ini
ya sama
sama hampir sama
segituan. Mereka sempat bilang ada angka
berapa yang mereka mau kasih? Enggak.
Enggak.
Enggak. Oke, lanjut Mbak Put.
Ee mungkin gini, Bang. Tadi kan saya
dengar kan langsung ke pokoknya karena
kenapa dibakar.
Sebenarnya kan cerita ini setelah kami
telusuri kan ada terjadi kejadian
sebelumnya lah.
Heeh.
Kejadian sebelum terjadinya pembakaran
terjadinya kebakaran ini
itu aku dengar juga.
Nah,
mungkin itu yang harus kita buka juga
bahwa di sini tuh ada pihak ada pelaku
lain lah gitu selain si
Raihan.
Raihan ini
sama Yus nih.
Iya. Oke.
Kalau kita kan enggak tahu nih Yus nih
apakah pelaku ataukah dia juga tidak
tahu diajakin kan kita gak tahu ya.
Iya. Tapi ada Yusuf namanya itu anak
pemilik Ponpes.
Oke. Yusuf anak pemilik Ponpesan
ngertianin. Benar.
Jadi gini
yang suka
anak-anak yang kelas 1 kelas 1 itu
menurut ceritanya itu sering
menjadi korban bully.
He.
Oleh dua orang.
Oke. Si
R sama Y.
R sama si Y.
Y. Bukan Y yang
bukan Yus ya.
Bukan Yus tapi Y. Si
Yusuf
anak. Nah, itu memang sering sering
dipukul bahkan
kalian sering dipukul sama Yusuf.
Iya.
Iya. R siapa namanya?
Rhan.
Rehan. Rehan suka pukul kalian juga
enggak?
Rehan enggak suka pukul kalian.
Iya. Kalau saya tidur malam saya
dicoret-coretin badannya.
Dicoret sama Rehan tapi gak pukulak.
Dia dia jahat enggak sama kalian Rehan?
Kadang-kadang jahat.
Oke.
Kadang tidak.
Jahatnya apa itu yang kadang-kadang
nyoret-nyet nih.
Oh, cuma itu aja.
Coret-coret badan. Salat badan pakai
pensilan. Kalau si yusuf
sering pukul saya.
Pukul kamu.
Pukul apanya?
Badan.
Perut. Heeh. Tangan. Pakai apa dia
pukul?
Tangan.
Pakai tangan. Kalau Devin sering dipukul
sama Yusuf. Siapa ini?
Apanya yang dipukul?
Dia lagi tidur. Dia di ditendang sama
Yusuf.
Ditendang sama Yusuf. Gara-gara apa
ditendang?
Enggak tahu.
Enggak tahu. Devin sering dipukul sama
Rehan. Gak mau ditelanjangin dipelorotin
yaotin ya sarungnya.
Oh dipelorotin sarungnya di dikerjain
sebelumnya penganj.
Jadi pada saat kejadian apa sebelum
kejadian memang
si Devin sekitar 3 hari lah itu sempat
diorotin.
Iya
atau apakah dilihat atau lapor yang
jelas
si Rehan itu sempat dikasih hukuman?
Enggak dikasih hukuman.
Gak dikasih hukuman. Enggak dikasih
hukuman Rehannya.
Rehan mengancam.
Rehan mengancam.
Ceritain aja. Rehan mengancam ya. Mau
Rehan mengancam mengancam kalian.
Enggak.
Enggak. Devin diancam Rehan. Enggak.
Enggak.
Iya. Dibilang dibilang apa?
Enggak.
Enggak. Oh enggak. Enggak diancam.
Enggak.
Betul. Gak diancam Vin.
Kalau saya enggak
gak
enggak diancam sama Rehan?
Enggak.
Al diancam enggak sama Rehan?
Enggak. Terus ada enggak yang ancam
kalian? Nanti kalau kamu begini saya
bakar kamu. Ada enggak?
Kalau saya diancam mungkin enggak
berteman sama dia. Oh
gak ketemu
mbak. Enggak berteman. Tidak berteman.
Oh diancam. Kalau kamu ngadu tidak
berteman sama Rehan.
Maksudnya Devin itu tidak pernah
diancam. Kalau dia diancam mungkin saya
tidak berteman sama dia. Dia
maksudnya begitu.
Dari mana informasi
bahwa kalau mereka tuh diancam mau
dibakar? Kalau saya dapat informasinya
dari almarhum yang bercerita kepada
ibunya.
Oh,in
cerita
sabirin cerita ke ibu.
Iya. Kalau dia mau dibakar kalau gak
salah 3 hari sebelumnya atau 2 hari
sebelumnya gitu
oleh
oleh si Rehan.
Rehan Rehan gara-gara
kalau dia enggak mau karena dia enggak
mau suruh beli bensin.
Oh, jadi sudah ada obrolan mau beli
bensin.
Iya. Ibu ee Sobirin cerita almarhum
kalau dulu
dipaksa untuk beli bensin mau nurut dia
lah. Heeh.
Beli bensin kend milih jagur.
Heeh. Pas
pas di minggu lalu
pas waktu mau disuruh beli bensin. Kalau
gak mau beli bensin nanti dijanggur di
dipukul.
Oh berarti tadinya sabirin yang disuruh
mau beli bensin itu.
Betul. Aku lalu beli bensin ngaku kaku
lina kepu kepengin
oh berarti uangnya uangnya sobirin
uangnya rehan uangnya rehan milih
artinya jag
dia enggak mau tapi dipaksa dipaksa
pakai uangnya rehan tapi kalau kamu
enggak mau saya jagur saya pukul jag
iya pukul gitu berarti sudah ada
pengancamanlah
iya ibaratnya begitu kan ya pas hari
itu.
Iya. Nah, si Sobirin itu dipaksa beli ee
bensin sama Rehan. E Sobirin cerita
enggak buat apa?
Apa yang anu bakar bunuh e kayu lastik
nih
ketapel?
Oh, ketapel lagi. Kayu untuk lastik.
Lastik tuh kalau ketap
ketapel. Iya, ketapel lagi nih.
Devin, kamu biasa bikin ketapel enggak?
H
main ketapel?
Enggak.
Enggak. Al yang main ya?
Saya diajak buat ketapel sama saya.
Iya. Tapi kalau bikin ketapel pakai api
enggak, Devin?
Hah? Enggak tahu.
Enggak tahu. Hal kalau bikin ketapel
pakai api enggak?
Enggak.
Enggak.
Kamu sering bikin ketapel?
Sering tapi enggak pakai api.
Enggak pakai api? Bisa enggak pakai api?
Oke. Berarti sudah ada nih sebuah unsur
di awal gitu kan ya. Itu yang membuat
kecurigaan itu terjadi gitu.
Oke. Tapi kan aku dengar dari Mas Joko
kalau kemarin kita teleponan bahwa ini
ada unsur ketidaksengajaan. Jadi ee yang
dilihat dari teman-teman di kepolisian
kemarin itu kan kita sebenarnya kan awal
kan yang kita
apa masukkan kan undang-undang
perlindungan anak ini nomor satu.
Tetapi kemudian ya tadi karena
yang di awal ini saksi-saksi yang
kemudian anak-anak ini semuanya yang
disampaikan adalah bahwa ini mau buat
ketapel itu. Itu aja. Oh, jadi dari situ
ada
berarti kan polisi tidak detail
memeriksa keterangan
dulu sebentar. Waktu awal kejadian itu
di Ponpes Desember itu polisi tidak ada
yang datang.
Ada Babin. Babin ya, Bu? Ya, Babin.
Babin.
Babin. Babin kan enggak masuk penyidik
dong.
Tapi kan dia mengetahui, Bang.
Iya. Paling enggak kan dia
menginformasikan.
Nah, dia sudah. Kalau kemarin kita dapat
cerita dari kakaknya kan kami telusuri
dulu tuh, Bang. He. Coba cerita dulu
versi dari Mbak Putri. sebelum ee kami
ee sebelum kami pegang perkara ini kan
pasti kami telusuri dulu kenapa tidak
laporan, kenapa kalian tidak melanjutkan
ini gitu kan. Ya tadi yang pertama
karena masih ada hubungan keluarga yang
pertama. Terus yang kedua
menunggu itikat baiklah.
Heeh. Menunggu terus yang kedua saya
tanya kira-kira kepala desa tahu enggak
nih
iya
dengan kejadian ini gitu. Mereka bilang
ee tahu tapi enggak lapor. Oke.
Gitu. Jadi kayak kecelakaan biasa aja
lah gitu.
Nah, kemudian polisi ada enggak Babin
yang tahu gitu? Ada. Nah, Babin waktu
itu katanya sudah pernah menyampaikan
laporan aja gitu. Laporan?
Oh, dia suruh lapor.
Heeh. Tapi karena pihak keluarga ini
merasa
ee masih ada itikat baik dari Ponpes,
maka mereka tidak lapor,
nunggu
nunggu. Tapi kan seharusnya
polisi kan sudah tahu nih ada kejadian
ini
tentunya kan harus Babin lapor dong
kepada pimpinannya. SOP-nya kan begitu.
Kenapa harus nunggu korban dulu atau
dari pihak polsek kunjungan dong ke
rumah?
Karena kalau biasanya ada kejadian kayak
gini polisi bisa langsung melakukan
investigasi
secara mandiri.
Iya harus tidak karena ini kan bukan
delik khusus. Ini kan delik umum.
Iya ini delik umum. Betul
gitu kan. Jadi harusnya pihak kepolisian
seperti babinnya lapor nih ke
pimpinannya bahwa ada kecelakaan seperti
bentuknya apapun ya mau kecelakaan kek
atau mau sengaja dibakar kek kan tapi
ada korban jiwa gitu loh saat itu.
Berarti intinya ini babinnya juga ee
menunggu dari merekanya karena merekanya
menunggu dari pompes punya tingkat baik
jadi miscomnya di situ kan.
Berarti polisi juga bisa aja kita anggap
dia tidak mengetahui gitu kan karena
tidak terinformasikan begitu. Kalau yang
di pondok harusnya tahu ya, Mas.
Harusnya tahu. Oke. Tetapi karena memang
sepertinya apa ee dari awal itu dibuat
seolah-olah bahwa ini kecelakaan itu
sehingga kemudian laporannya itu ya
kecelakaan. Sampai di kepolisian eh
sampai di rumah sakit pun kan itu
kecelakaan. Mas,
BPJS-nya juga pakai dasar itu
kan
dibuat bahwa seolah-olah bahwa dari awal
pondok pesantren itu membuat bahwa ini
adalah
makanya bisa pakai BPJS awalnya. Tapi
setelah akhirnya keblow up ini ketahuan
ini bukan kecelakaan, ada unsur yang
lain BPJS-nya diop begitu. Begitu ya.
Nah, BPJS-nya katanya sudah enggak bisa
pakai sekarang ya. Terus katanya kalian
disuruh bayarkan uang BPJS yang selama
ini sudah mereka ee BPJS keluarkan
karena ini bukan kecelakaan. Betul.
Betul.
Berapa banyak itu?
Sekitar 19 atau 20 lah.
Oh. Jadi uang pengobatan yang selama ini
ditanggung BPJS itu kalian disuruh
balikin?
Disuruh denda. Denda. Denda.
Denda.
Iya.
Karena ada pernyataan awalnya.
Iya. Paham. Paham. Paham. Paham.
Ya. Tapi kan bukan kesalahan mereka
juga, Pak.
Iya. Karena ini ada kes-nya juga di sini
posisinya. Oke,
PPES kan 40 hari. Jadi gini, Bang, tadi
belum saya selesaikan, ya. Jadi 40 hari
ini yang yang kurang ajar saya bilang
Ponpesnya sudah gak berizin, izinnya
mati.
Oh, tak ada izin ya.
Iya.
Ujian operasionalnya sudah mati.
40 hari almarhum meninggal tidak pernah
datang. Bahkan meninggal pun tidak
datang. 40 hari datang buatin surat
perdamaian.
Jadi, ada surat perdamaian yang
menyatakan bahwa
tapi tidak ditandatanganin sama mereka.
Jadi tidak ditandatangani. Ada satu yang
tanda tangan. Ada satu siapa? Jadi
bapaknya
salat dulu sebentar.
Masalah ketua pompes yang anu itu
saat melayat itu dia datang pas ke hari
kematian sabirin pulang dari rumah sakit
datang
besoknya pas dia dikuburin itu juga
datang.
Oh datang ketua POPESnya datang.
Ketua PPESnya datang.
Oke ini baru enak nih. Jadi clear ya
ketua POMPES ada datang waktu penguburan
Haris. I. Oke. Tetapi
itu juga tadi, Pak. Bentar dulu. Masalah
Ibu Polda itu nanti biar enggak jadi
masalah juga.
Heeh.
Bukannya Ibu Polda itu bilang tidak
kasih izin buat pergi ke
sini ke Jakarta.
Iya. Ke Jakarta. Ibunya itu bilang kasih
apa namanya?
Pertimbanganlah gitu.
Pertimbangan.
Pertimbangan.
Lebih baik ibu pergi
apa namanya itu poskes atau lebih baik
depennya dirawat di rumah sakit atau
bagaimana? Oke.
Kan saya bilang kalau demi kesehatan
Devin saya gak boleh pergi ya saya gak
pergi. Saya bilang iya untuk larangan
untuk sengaja melarang itu enggak ada,
Pak.
Oke. Jadi dia sebenarnya kasih
pertimbangan waktu di bandara.
Di rumah sakit.
Waktu di rumah sakit bandara di
rumah sakit itu setelah dari bandara
gak? Sebelum dari bandara.
Oh sebelum dari bandara. Nah sebelum
dari bandara ibu polisi ini bilang mau
pilih podcast atau berobat begitu kan?
Iya. Iya.
Tapi setelah itu kalian berangkat
podcast, mau podcast kan ke bandara kan.
Tapi habis
ke anu dulu
itu kan di Rumah Sakit Payangkara.
Iya.
Nah, mereka berangkat ke rumah sakit
provinsi dulu.
Provinsi dulu. Habis itu baru ke
bandara.
Ya, jadi kalau dari ceritanya ya ini
hanya cerita karena saya juga enggak ada
di lokasi. Jadi
pagi itu ketemu sama Ibu Kapolda
karena menjenguk karena dia yang bawa ke
rumah sakit. He.
Kemudian ketika
apa tadi ketemu ada pertimbangan itu ya?
Saya [berdehem] ini saya ini saya baru
dengar.
Saya juga baru dengar kalau pagi itu
ketemu Bu Ibu Bapak dir PPN.
Ibu sama bapak juga
mereka itu sebenarnya sudah tahu kalian
mau ke Jakarta berarti.
Iya gak? Jadi dia kan mungkin dia jenguk
pagi pagi jenguk jenguk gitu kan untuk
memastikan karena dia ada di
ini sebelum mau ke Jakarta ya.
Iya. Heeh.
Nah, mungkin ketemu pagi itu kemudian
dikasih tadi.
Iya. Pertimbangan.
Pertimbangan itu. Betul.
Iya, betul.
Nah, setelah itu setelah itu kan mereka
pergi ke di
rumah sakit
di
rumah [berdehem] sakit Bayangkara pakai
ambulans.
Heeh.
Iya.
Ke rumah sakit provinsi.
Iya.
Kemudian masuk pertama adalah
Devin. Devin. [berdehem]
Itu rumah sakit provinsi tujuannya untuk
apa?
Kontrol.
Kontrol.
Iya. Karena ini kan ada komunikasi
sebelumnya antara direktur rumah sakit
provinsi setahu saya. Karena kami pun
waktu dibawa ke Bayangkara kami juga
tidak tahu. Terus akhirnya kami
klarifikasi ini kenapa dibawa ke Rumah
Sakit Bayangkara.
Oh ternyata ada komunikasi antara Pak
Kapolda dengan direktur rumah apa dengan
rumah sakit provinsi
untuk mempercepat proses penyembuhannya.
Oke.
Anak dibawa ke Rumah Sakit Bayangkara
dirawat nanti komunikasi. Nah waktu itu
hari itu
dibawa ke rumah sakit provinsi untuk
kontrol. Nah
Devin masuk duluan.
Iya. Setelah Devin ee keluar langsung ke
bandara.
Oh, begitu.
Iya
ceritanya. Nah, kan kemarin dikasih
pertimbang kan dikasih pertimbangan tuh.
Tapi akhirnya kalian memilih untuk tetap
ke Jakarta.
Iya, karena dokternya bilang boleh.
Oh, boleh.
Jadi berangkat tiba-tiba di bandara
diop.
Iya. Iya. Seperti itulah.
Siapa yang stop itu?
Pokoknya bilang gak boleh pergi. Sudah.
Oh, enggak boleh pergi. Keterangan
lainnya apa?
Belum ada laporan sama atasan gitu.
Oh, jadi jangan pergi.
Makanya waktu
pertimbangan kenapa saya waktu itu kan
enggak tahu waktu dibawa dari
dari gak ini waktu dia dibawa dari rumah
ke bayangkara pun waktu itu hanya dulu
Pak ini kita mau dibawa ke rumah
bayangkara.
Terus sampai di Rumah Sat Bayangkara
saya juga tahu datang kan.
Kenapa ini dibawa ke Rumah Sat Bayara
ini Mas? ini ada perlu katanya untuk ee
pemulihan tadi
mempercepat dan kasihan ibunya karena
ibunya juga hamil.
Oh, lagi hamil. Ibu lagi hamil.
Maaf. E kandungan berapa bulan?
5 bulan.
Oke. Terus itu jadi
pas kejadian itu memang sekali lagi
sayaang kita enggak ada di situ karena
kami hanya memastikan karena waktu itu
kan jadwal kontrol.
Biasanya saya lihat
tanya kalau pas kontrol gitu tadi di
rumah sakit gimana?
Iya.
E disuruh bayar enggak? Karena
seringkiali ada aja masih kan
awalnya nanti Pak tadi disuruh gini tapi
setelah
disuruh bayar
iya
ya
sama sama rumah sakit
yang di provinsi Mas yang kontrol itui
kan tadi yang jaminan BPJS sudah habis
kan ee kami awalnya kan nanya lewat
telepon tolong jangan
apa bebankan ke anak-anak atau korban
bebankan aja ke
I
katanya sudah koordinasi sama Kapolda
kalau misalnya dibawa dari Bayangkara ke
provinsi
enggak sebelum itu biasanya maksud saya
sebelum biasanya kalau soal kontrol sama
rumah sakit sebelum saya hanya
memastikan itu sudah jalan gitu. Pada
hari H itu pagi itu saya hanya
memastikan
karena sudah ada di Rumah Sakit
Bayangkara kan saya pikir sudah aman nih
untuk diantar ke rumah sakit provinsi
sudah aman.
Sehingga kemudian saya telepon sudah
berangkat ke rumah sakit provinsi untuk
kontrol belum gak? Oh, sudah, Pak. Ya,
sudah. Saya pikir ini sudah clear, gitu
loh.
Jadi, dari tim LPA itu memang tidak ada
di baik di Rumah Sakit Bayangkara,
di rumah sakit provinsi, maupun di
bandara itu kami enggak tahu.
Kita tahunya baru sore hari.
Intinya, Pak, saya mau bilang Ibu Polda
dan Bapak Polda itu tidak melarang saya.
Sudah gitu. Sekarang saya mau tanya, Ibu
waktu mau berangkat ke Jakarta, Ibu mau
ee mau ke podcast saya itu Ibu tahu?
Iya, tahu.
Ibu kenapa mau ke Jakarta?
Kan kata Adi itu kalau kamu ke Jakarta
itu siapa tahu ada yang ngusulin buat
Devinnya berobat lebih baiklah seperti
itu.
Oh, untuk cari pertolongan.
Iya.
Oke. Terus untuk cari apa lagi?
Keadilan.
Iya. supaya ada yang bertanggung jawab
terhadap apa yang dilakukan sama Devin
sama Al begitu ya. Sudah semangat
berangkat tapi tidak jadi
balik lagi. Nah, pas balik lagi di rumah
sakit
cuma diobati tapi tidak ada apa-apa
lagi. Cuma begitu aja.
Oke. Sekarang kenapa Ibu bisa sampai di
Jakarta sekarang?
Jadi ee saya itu, Bang tahu perkara ini
tuh sebenarnya sudah dari bulan lalu.
Heeh.
Banyak sekali yang ngetag-ngetag kita
gitu. Coba. Nah,
akhirnya begitu kita mau telusurin, kita
sudah dapat berita bahwa Kapolda sudah
turun. Berarti kita agak lega dong.
Iya, saya juga dapat berita itu. Saya
pikir, "Oh, ya udah beres."
Udah beres kan gitu kan. Berarti ada
udah ada pertolongan lah gitu. Nah,
cuman ee dari beberapa investigasi yang
kami lakukan ada something nih yang kami
dapatin gitu loh, Bang. Kenapa kok
sekian bulan baru bisa terungkap ini
perkara gitu? Kenapa baru bisa ee
ditemui oleh teman-teman gitu, baik dari
LPA gitu kan, dari kepolisian. Nah, ini
kan yang menjadi tanda tanya kita kan.
Akhirnya kami komunikasi ee dengan
relawan-relawan. Nah, dapatlah informasi
yang seperti ini gitu bahwa
adik-adik ini dilakukan e tidak
diberikan pertolonganlah atau pengobatan
oleh Ponpes. E mereka ini dibakar secara
hidup-hidup. Itu yang awalnya kita
dapatkan. Oke.
Nah, kami kan mendengar dibakar secara
hidup-hidup ini kan
waduh ini kok bisa gitu kenapa. Nah,
singkat ceritanya saya mendapat
informasi lagi dari rekan-rekan media
juga memberikan informasi itu ke Pak
Hotman langsung.
Oke.
Akhirnya saya diperintah Pak Hotman hari
Kamis kemarin saya ee Rabu saya
berangkat
saya komunikasi nih
iya
gimana saya mau besuk nih adik-adik ini
bisa enggak nih?
Nah, dari pihak keluarga bilang enggak
boleh dibesuk begitu.
Kenapa ya kami dijaga ketat bahkan mau
besuk pun harus ngisi buku tamu.
Oke.
Nah, terus kita kan mikir loh kok kenapa
sih sampai segitu ketatnya? Apakah
karena kejadian kemarin nih yang mereka
pergi ke bandara eh mau pergi ke poes
tiba-tiba ke bandara.
Heeh. Nah, kan di sini nih yang
something wrong-nya kita enggak tahu
kenapa gitu. Akhirnya saya menunggu nih,
Bang. Saya menunggu kenapa kok kita
enggak boleh besuk gitu kan.
Iya.
Terus ah ribet Bu. Dipersulitlah enggak
bolehlah segala macam. Nah, saya coba
cari tahu nih LPA-nya mana nih. Saya mau
coba ngomong gitu.
Ketemu sama Mas Joko.
Nah, baru kemarin kita ketemu sama Mas
Joko tuh baru kemarin. Nah,
akhirnya hari ee Jumat saya ditelepon
sama Pak Habib. Eh, Pak Hotman telepon
saya bilang,
"Neh, Pak Habib Komisi 3 kan?"
"Iya, Pak Habib Burrahman ketua komisi 3
telepon saya,
"Lu datang cepat pokoknya enggak mau
tahu harus bisa lihat itu anak-anak gitu
kan."
Iya. Iya. Saya bilang, "Bang, saya ini
dari kemarin mau besuk tapi enggak
boleh." Katanya mereka ini tidak
diperbolehkan ada media, ada orang lain
selain orang tuanya yang menjaga di
situ, gitu.
Ken kenapa itu pertanyaannya? Ya, tapi
[berdehem] saya meluruskan sebenarnya
ketika
Bentar aku cerita dulu cerita dulu nanti
Pak Joko baru jawab. Ini kan ini yang
saya ketahui biar nanti Pak Joko ada
waktunya.
Ah, wajar dong kita bertanya-tanya
kenapa kok enggak boleh gitu kan. Nah,
saya tunggulah. Akhirnya Pak Habib
telepon saya ee Putri ee pokoknya ee
kamu besok ke Jakarta bawa ini korban
dan keluarganya. Terus saya bilang ee
Bang, saya bilang kan ini sudah ada LPA.
Enggak bisa. Pokoknya tetap harus ini
LPA-nya juga enggak komunikasi. Coba
hubungin LPA-nya siapa gitu kan. Saya
enggak tahu nih kalau misalkan sudah ada
komunikasi juga kan kemarin itu ya.
Bapak. Heeh. Ini dari versi Bapu
he nah. Terus akhirnya akhirnya kemarin
hari Jumat ya eh Sabtu. Sabtu, Sabtu
saya paksakan untuk datang gitu, saya
komunikasi ya. Faktanya juga di situ
saya memang ada beberapa tahapan yang
harus saya lalui.
Aku ada lihat videonya tuh.
Iya, gitu. Saya juga sempat,
mohon maaf ini ya, saya enggak tahu apa
maksud dan tujuannya karena biasa Abang
kan tahu kami juga biasa ngurusin
kasus-kasus kayak gini gitu kan.
Gak enggak ada protap yang sampai se
seketat ini menurut kami gitu kan ya.
Iya.
Ya biasa aja. Ini kan korban.
Apalagi ini kan korban, apalagi kayak
kami ini juga kan penggiat sosial, terus
kami juga Iya. Kami ini juga ee advokat
gitu kan, advokasi untuk anak-anak juga.
Nah,
saya sempat kesal sih kemarin, kenapa
sih kok ribet banget mau besuk doang
gitu kan. Saya sampaikan saya ini utusan
dari Pak Otman dan
utusan dari Pak Habib gitu. Saya ingin
bertemu dengan pihak
korban dan keluarganya gitu karena saya
diminta untuk membawa mereka dan
mengadvokasi mereka gitu. untuk apa?
Untuk memberikan bantuan hukum dan
memberikan keadilan, perlindungan
hukumlah untuk mereka gitu kan. Nah,
akhirnya saya menunggu dulu itu, Bang.
Ini jujur sejujur-jujurnya saya
sampaikan dan
kami merasakan juga memang dipersulit
masuk ya. Biasa kalau kita mau besuk ya
sudah langsung aja masuk bes
tapi kami harus menunggu dulu. Izin dulu
yang jaga itu. Sebentar Bu, saya izin
dulu. Itu yang di depan pertama.
Kemudian yang kedua saya masuk ke ruang
tengah. izin lagi nunggu lagi. Saya
sempat komunikasi saya bilang, "Ada apa
sih, Pak? Kok kami enggak boleh?" gitu
kan. Ee saya harus dapat izin dulu, Bu.
Kan dari pimpinan. Oh, kenapa harus
izin? Saya bilang, "Kan ini kami kan
orang jelas gitu kan, bukan juga kami
media. Kami ini membawa perintah loh,
gitu. Bawa amanah dari pimpinan gitu
kan. Saya tunjukkanlah isi WA-nya Pak
Habib ke saya, ke ee penyidik yang
kemarin ya, eh polisi yang jaga kemarin.
Iya. Heeh. Lalu beliau berkomunikasi
entah dengan siapa saya enggak tahu. Ee
akhirnya menunggu lagi. Menunggu katanya
pendamping yang memberikan izin.
Oke.
Terus saya tanya, "Emang pendampingnya
siapa?" LPA katanya gitu.
Lah saya bilang kalau kalau LPA kan
tentunya
ee bisa kolaborasi dong dengan kita gitu
kan. Kenapa kok
ya udahlah kita tunggu aja kami menunggu
itu.
Oh baru ketemu Mas Joko.
Belum ketemunya sih Bang Ian ya kalau
enggak salah ya.
Oh Bang Ian. ee satu timnya. Heeh. Nah,
Bang Ian pun menunggu dulu.
Oh, sama juga menunggu juga.
Jadi, Bang Ian turun kita ngobrol. Saya
tanya ee Bang ee kita boleh besuk? Iya,
saya ini ee menunggu dulu kan gitu. Saya
enggak tahu apa izin dulu atau gimana
saya enggak ngerti gitu kan. Heeh.
Intinya singkat ceritanya adalah
akhirnya kami diperbolehkan masuk.
Iya. Begitu kami masuk juga ke atas, itu
pun kami katanya disampaikan, "Bu, maaf
ya, nanti ee apa korban dibawa keluar
aja." Saya tambah bingung nih awalnya
nih ya, "Loh, kok dibawa keluar? Kan ini
sakit katanya gitu kan. Ini kan sakit
gitu kan, kenapa kami harus di depan
pintu gitu loh." Nanti mereka dibawa
keluar dengan alasan ruangan kamarnya
berantakan dan enggak enak. Loh, ya
enggak apa-apa namanya juga rumah sakit
gitu kan ruangan enak. Tapi akhirnya
mungkin ee dengan beberapa pertimbangan
akhirnya, "Oh, ya sudah masuk aja, Bu."
Tapi Ibu lihat dulu berkenan atau tidak.
Ya kan rumah sakit dong. Enggak mungkin
kami meminta tolong dirapikan, tolong di
kan enggak mungkin juga gitu.
Mungkin dia takutnya lu enggak suka
kotor-kotor mungkin [tertawa]
kita berpikir positif.
Iya. Tapi kan tapi kan ini rumah sakit
bukan rumah gitu loh yang. Dan saya juga
bukan siapa-siapa. Saya hanya saya saya
hanya dapat perintah dan saya memang ee
penggiat sosial juga, penggiat anak-anak
juga gitu kan. Ya udah kita tahu itu
kondisinya rumah sakit gitu mau dia
busuk, mau dia bau mereka tuh ya kita
harus terima dong gitu karena kita
datangnya ke rumah sakit.
Akhirnya begitu kami masuk ya saya lihat
kondisi anak-anak ini happy-happy aja
gitu loh.
Lagi ditanganin apa gitu. Eh, enggak.
Kalau si Devin malah lompat dari tempat
tidur ya kemarin [tertawa] ngelihat
ketawa-ketawa gitu.
Saya bilang, "Loh, ini sehat nih Devi
enggak ngapa-ngapain gitu kan."
Enggak gitu kan. Malu-maluah dia bicara.
Nah, kalau Al memang saya lihat lagi
masih ada terpasang infus dan lagi
dibersihkan kayaknya lukanya gitu. Nah,
dari situlah
oke
ya jujur kata sih, Bang ya. Saya
merasakan ada sedikit kejanggalan
menurut kami ya, karena bukan saya
sendiri gitu yang melihat. Kenapa harus
melalui ee lapis berlapis gitu loh
pemeriksaan ini? Kan ini korban loh
gitu. Dan
kalau dikatakan harus mendapatkan
perawatan intensif ya kenapa juga
malamnya pergi ke mall gitu kan. Kita
kan jadi kita nih kan dapat
Iya. Paham paham orang bisa berburuk
sangka jadinya.
Nah, akhirnya kan kita bisa berburuk
sangka. Akhirnya kita tahu informasi
bahwa si itu nangis pengin pulang lagi.
Mungkin jenuh dia di rumah sakit seperti
tadi yang dia sudah konfirmasi jenuh di
rumah sakit. Cuman kan ini tadi yang
saya katakan kenapa mesti dibawa ke mall
ini kan masyarakat ini kan ini berita
lagi viral nih
habis di akhirnya kan enggak keru-keru
jadi simpang siur.
Nah simpang siur kan. Jadi akhirnya
orang berasumsi
agak ketat sama Polda itu
1 2 3 4
Coba saya diluruskan coba
begini pertama sebenarnya ee kaitannya
dengan kenapa dia dibawa ya tadi sudah
saya sampaikan ada niat baik dari Pak
Kapulah sebenarnya kita juga kalau
berbicara terhadap kesnya gitu ya ini
bukan pesantren besar
iya
ya
pesantren yang ya maaf ya kalaupun
standarnya itu sangat sangat rendah,
Mas. Saya tanya ke anak-anak ini kalau
malam tidurnya gimana?
Di mana ada tikar di situ
tempat tidur.
Tempat tidur.
Heeh.
Heeh. Pesantren bagus.
Kemudian anak-anak di situ ya memang
rata-rata dari keluarga yang tidak
mampu termasuk keluar si
maaf ya si Rehan itu. Jadi
itu dari sisi dari sisi pondoknya. Jadi
ini pondok yang sebenarnya kalau
dibilang ada segala macam insyaallah
enggak ada.
Iya.
Heeh. Kemudian yang kedua pada
berarti tidak ada isu kan ada isu
katanya ada backingan gubernur lah, ada
backingan bupati lah, ada backingan
apalah.
Saya meyakini itu enggak dan
yakin itu tidak ada.
Saya yakin enggak karena memang dari
sisi tadi ini pondok pesantren, pondok
pesantren kecil di Lombok itu sangat
kecil. Jumlah santrinya pun enggak
nyampai
50-an.
40 orang. 40 orang
40. Bentar sebelum dilanjut, tapi pernah
diancam enggak?
Maksudnya
diancam sama Ponpes atau diancam sama
orang supaya jangan panjangin kasus ini?
Gak pernah.
Gak pernah. Ibuak
pernah diancam? Enggak
pernah.
Ancaman sih enggak ada, Pak. Cuman
larangannya aja itu.
Larangan. Ibu ada. Ibu pernah diancam?
Iya, pernah.
Pernah.
Pernah diancam apa?
Jangan lapor.
Jangan lapor.
Sama siapa?
Ketua POMPES.
Ketua PPESnya. Ketua Pompes kalau ibu
lapor kenapa emang dia bilang apa?
Pokoknya ngelapor
pokoknya kalau dia enggak mau ngobatin
gak mau tanggung jawab jangan ngelapor
kalau ibu ngelaporin lapor wah ngelapur
lagi. Wah diin mati muka laporan.
Heeh. Ya ngelapor.
Kalau ibu ngelapor kakak kan
ngelapor
apa?
Kata ibunya kakaknya juga itu yang
larang dia yang lapor.
Iya. Iya. Yang pertama yang kakak tiri.
Kakak tiri. Kakak tiri si Sobirin.
Sobirin.
Oke. Oke. Jadi itu
clear tuh ya. Lanjut.
Iya. Jadi kalau ada backingan kok saya
tidak meyakini itu.
Iya.
Karena ini saya juga sebenarnya kalau
kesosu pesantren saya tadi sudah sempat
cerita.
Heeh. 4 tahun terakhir ini ada sekitar
20-an pondok pesantren.
Itu yang kekerasan seksual aja.
Oh, yang Bapak tanganin.
Iya. Nah, tapi ini adalah salah satu
pondok pesantren yang paling kecil yang
saya tangani dalam artian ee sisi dari
sisi apa
maksudnya kemungkinan kalau ada orang di
belakangnya itu kecil
kecil gitu dibandingkan yang lain gitu
ya. Kemudian yang kedua, ketika kemudian
ini penanganan sudah akhirnya viral ya
itu kan kemudian
kepolisian yang memang duluan ke
pada saat dibuat laporan
di bulan Juni
Heeh.
tanggal 11 tanggal
tanggal tanggal 4 [berdehem]
itu bukan dari keluarga korban yang
lapor ke polisi,
tetapi memang polisi yang
datang tanggal 3
karena sudah viral
karena sudah viral. viral di awal ya.
Viral yang awal yang di awal Juni itu.
Nah,
iya iya.
Kami kemudian memang surat kuasa itu di
tanggal 11 Juni.
11 Juni ya.
Meskipun sebelumnya kami sudah datang
dulu ketika awal-awal belum banyak yang
datang ke Devin karena semua waktu itu
ada di Al.
Iya.
Yang viral itu adalah Al.
Oh, Al yang viral awalnya.
Al Devin
belum nongol?
Belum. Jadi orang yang datang itu
rata-rata ke tempatnya
Al, tidak ke tempatnya Devin. Padahal
saya lihat memang wah ini Devin
iya lebih parah karena kalau yang al
waktu itu karena belum sembuh masih
basah semua
waktu pertama kali saya datangah
untuk pergi ke mana-mana pakai arco.
He.
Karena gak ada kursi
roda
roda. Kemudian tambah dia ee viral kan
ini kemudian
al dibiayai oleh Bupati Lombok Tengah.
Oh dibiayain
untuk operasi sekali
tapi hanya operasinya saja.
Sekali oke
kontrolnya enggak
itu tanggung jawab bupati enggak
harusnya. harusnya. Oke. Kan
undang-undang kesehatan sebenarnya
ngatur ya bahwa rehabilitasi medis
korban tindak pidana menjadi tanggung
jawab pemerintah psikologi semua
pemerintah daerah gitu loh. Tapi ini
enggak terjadi
sampai selesai.
Harusnya harusnya kalau negara hadir.
Kalau negara hadir.
Nah, ketika kemudian ini kontrol dua
kali kalau enggak salah R00.000 bayar
R500.000.
Oke. Itu semua kemudian kami tutup di
apa? Penjaminan.
Heeh. termasuk kami sudah mengingatkan,
oke nanti soal yang biaya yang awal yang
mau ditanggih oleh BPJS jangan
ditagihkan ke
korban. Nah, tagihkanlah kami di
LPA. Heeh.
Kasus berjalan masih tetap viral.
Kemudian tadi masuklah Pak Kapolda
karena lihat kok lakukannya ini kok
enggak beres-beres
sungguh-sungguh. Akhirnya
dibawalah dia ke Rumah Sakit
Bayangkara.
Bayangkara.
Oh, itu yang Kapolda datang ke tempat
kalian. Iya, ibu ini untuk bawa ke
rumah. Berarti Kapolda ini punya
inisiatif yang baik sebenarnya.
Inisiatif untuk
Heeh.
mengobati.
Mengobati.
Mengobati.
Masuk di sana. Kemudian
terjadilah pertama kalau dibilang ini
menghalangi pada saat ibu ini masuk saya
masih lihat ada yang buat konten juga
kok enggak ada masalah.
Heeh.
Nanti bisa ditanyakan. Iya.
Artinya yang memvideokan di di dalam
bangsal itu ada.
Iya. Awalnya fine-fine aja.
Iya. Baik-baik saja. Enggak ada masalah.
Semua masuk juga enggak ada yang
melarang.
Dilarang.
Enggak ada.
Iya.
Sampai kemudian
mau ke Jakarta
besoknya mau Jakarta ke tempat saya
ke tempatnya Mas
ke podcast kemudian baru
baru berubah. Berubahnya dalam artian
kok begini. Nah, kita ditanya mau tetap
di sini atau
gimana?
Nah, itu pertanyaannya kenapa itu yang
tidak terjawab gitu loh. Gimana Mbak
Put? [tertawa]
Kalau kami kan melihat apa yang
dilakukan oleh pihak kepolisian ini kan
sudah baik sebenarnya niatnya kan juga
baik. Cuman kan yang menjadi pertanyaan
kami
kenapa harus melalui beberapa tahapan
SOP dan lain sebagainya ya. Itu tadi
kata Pak Joko kan karena untuk ee izin
berobat dan lain sebagainya. Tapi kan
faktanya yang kami lihat sampai hari ini
pun belum ada upaya lainnya.
Okeah kan gitu.
Saya ingin cerita kenapa kemudian
akhirnya datang ke sini
malam setelah kejadian saya telepon Mas
apa di apa kontekan kemudian teleponan.
Iya. Oh teleponan Mas.
Iya saya sampaikan enggak ada maksud
kita untuk me
menghentikan
menghentikan. Bahkan kalau umpamanya
memang betul kita tahu bahwa mau datang
ke Mas Hensu, saya juga akan memberikan
enggak ada masalah. Tapi kami juga tidak
terkomunikasikan sebagai kuasa hukum.
Nah, saya ngelihatnya di kasus ini
sebenarnya adalah miskomunikasi soal
koordinasi ini gitu loh.
Kami sebagai kuasa hukum pun tidak tahu
kalau mau pergi ke
mungkin mungkin gini. Kita juga enggak
boleh mengenyampingkan para teman-teman
contonten kreator. Kalau tidak ada
mereka ini tidak terup loh.
I itu setuju.
Itu yang pertama ya. Kita juga enggak
boleh sejak awal juga mereka loh yang
mengantarkan ini ke dokter ya pakai itu.
Nah, itu yang harus juga
itu ada si Adi
Iya. Adi itu yang selalu membantu.
Adi selalu membantu sama ada satu lagi
gak tahu kalau Devin cuman
kalau Devin tahunya hanya Adi
gitu. itu baru
tapi si Adi itu betul-betul dia bantu.
Iya. He.
Oke.
Nah, saya enggak tahu apakah dari
teman-teman kepolisian ini merasa ada
berita yang mungkin kurang enak
seolah-olah mereka tidak cepat tangga
terhadap adanya kejadian ini gitu.
Nanti kesannya mereka lagi yang salah.
I mungkin mereka lalai dan lain
sebagainya. Kan itu yang ada asumsinya
di tengah masyarakat. Jadi mungkin
mereka tidak memberikan izin ya karena
itu tadi gitu.
Menghindari
ah mungkin menghindari asumsi-asumsi
buruk di luar.
Iya. Padahal sebenarnya kalau kita
runut, maaf aku potong dikit. Ini kan
laporan ternyata baru masuk di Juni,
bukan dari Desember.
Berarti tidak ada waktu ee pembiaran.
Cuman memang investigasinya harusnya
bisa dari awal itu tidak terjadi. Oke.
Tahan dulu. Betul. Juni ke Juli ini
langsung Kapolda turun nih
ya kan karena sudah viral Kapolda turun
dia langsung bawa ke rumah sakit
atas ee arahan beliau berarti kan ada
ada niat baiknya ini semuanya oke. Nah
setelah itu mereka mau berangkat ke
Jakarta. Menurut aku yang menjadi
miskomnya hanya di bandara itu kenapa
diop?
Jadi kalau saya ngelihatnya memang
karena ini tidak terkomunikasi tadi.
Kami pun sebagai [berdehem]
apa ee kuasa hukum
Iya. juga enggak tahu. Sehingga akhirnya
kemudian komunikasi ini buntu. Ketika
semua buntu tadi semua saling berasumsi.
Iya. Jadi jelan berasumsi begini mungkin
dari apa teman-teman content kreator
asumsinya juga begini. Mas
Deng juga mungkin asumsinya juga lain.
Kalau saya sih waktu itu lebih saya
tidak berasumsi saya lebih bingung
bukannya sudah diokekan tapi kenapa
tidak jadi?
Itu yang saya bingung karena
tiket sudah dibeli kan.
Iya. Karena kalau saya pribadi waktu itu
kan ee sudah belikan semua tiket.
Menurut saya kalau memang enggak mau
meninggal uang ya saya kasih ke mereka.
Heeh.
Betul.
Daripada hangus tiket dan akomodasinya.
Ngerti kan maksudnya?
Saya tanya ke Ibu ini, Pak.
Heeh.
Ibu tahu enggak sudah dibeliin tiket?
Tahunya sudah ketika di bandara apa di
rumah sakit katanya.
Gak dikasih tahu juga sama Adi itu waktu
di Bayangkara itu. Tapi kan sayanya yang
bingung. Seperti kata tadi adinya bilang
udah diizin terus paginya ibu dan bapak
Polda itu kasih pertimbangan
ya seperti itu.
Tiba-tiba diop di bandara. [tertawa]
Jadi penjelasan ke Ibu ini juga tidak
tuntas sehingga kemudian ibu ini juga
bingung ini mau ke sini gimana, mau ke
sana juga gimana.
Iya. Iya.
Dan sampai hari ini
penyesalannya ibu ini ada di situ. Jadi
paham. Paham.
Iya kan? Jadi dihujat-hujat itu sama
kontennya Adi juga itu saya. Iya. Saya
kan bilang tidak bukannya saya bilang
tidak pernah dikasih tahu. Cuma saya
bilang saya pikir setelah Ibu Polda
kasih pertimbangan jadi gak boleh itu
adinya dikasih tahu
komunikasi antara siapa yang berhak dan
tidak berhak memberikan izin dan segala
macamnya. Ini sebenarnya kalau menurut
saya ee enggak pantas sih kalau
seandainya Bapak dan Ibu Kapolda
memberikan pertimbangan lebih memikirkan
kesehatan
Devin atau pergi ke Jakarta. Ini
konteksnya apa? Itu loh pertanyaan saya.
Kan mereka ini orang yang tidak mengerti
loh, Bang. Orang yang tidak mengerti
mana langkah yang harus mereka ambil ya
kan. Tah harusnya dijelaskan dulu nih
kepentingannya pergi untuk ke Densu apa
itu dulu. Apakah memang kan sudah dapat
nih keadilan nih misalkan kepolisian
sudah mengambil alih
kasus ini toh
gitu. Nah, pertanyaan saya lebih dulu
mana yang menghubunginya? Apakah
Kapoldanya lebih dulu ataukah adinya
dulu yang sudah komunikasi lebih dulu
nih dengan Bang Densu?
Adiknya dulu sudah komunikasi.
Nah, kan itu nih yang itu menurut saya
ya.
Adiknya dulu sudah komunikasi sama kita.
Betul ya?
Iya. tadi itu ini kan yang menjadi
objeknya.
Aku tahu dikit aku buka dikit ya.
Adi itu sudah komunikasi sama kita
sebelum Kapoli datang menemui mereka.
He.
Jadi pada saat Adi komunikasi sama kita,
kita tuh lagi mempertimbangkan langkah
buat mereka ke Jakarta.
Hm.
Setelah itu berapa hari kemudian
Kapoldenanya datang.
Nah, setelah Kapolda datang, kita
mengurungkan niat kok untuk bawa mereka
ke Jakarta. Karena kami pikir itu sudah
ditangani oleh Kapolda.
Jadi kami tidak, kami pikir udah enggak
usah ke Jakarta. Kapolda sudah turun
tangan. Tapi berapa waktu Adi
menginformasikan kepada kita, mereka itu
di rumah sakit itu enggak ngapa-ngapain.
Enggak ngapa-ngapain. Benar. Ya, ini
yang direasikan itu karena memang itu
sedang kita sedang mempersiapkan awalnya
ini untuk kemudian operasi itu. Itu yang
sudah disampaikan bahwa ini persiapan
untuk operasinya Devin. [tertawa]
Nah, ini semuanya tadi saya ngelihatnya
gini semuanya punya niat baik tetapi
kemudian komunikasi teman-teman ini
enggak enggak sama gitu. Anggap saja
semuanya benar. Cuma kan permasalahannya
adalah yang membuat kita itu ee
tahu beritanya itu kan dari si content
creator dan kemudian dia yang ngawal
dari belum ada siapa-siapa ibaratnya
yang
polisi dan segala macam dan aku pun
belum ada gitu kan. LPA pun belum ada.
Oh enggak enggak LP saya sama Adi
mungkin duluan kita ya Bu ya.
Iya.
Nah iya Adi sama Bapak siapa yang
duluan? Oh, katanya Adi. Katanya
Don Adi. Don Adi.
Iya.
Saya bukan membela teman-teman konten
ya. Maksudnya gini kita kita maksudnya
kita meluruskan dulu supaya gini
teman-teman konten juga tidak berasumsi
buruk dengan pihak-pihak lain. Saya
datang sini meluruskan aja gitu ya. Nah,
maksud saya kalau memang Ibu tahu Adilah
yang duluan memberikan bantuan,
tentunya harusnya Ibu juga berpikir,
"Oh, ini loh Adi loh yang berperan lebih
awal membantu kami membawa bahkan
membawa Devin pakai apa tuh namanya tuh?
Ee gerobaklah gitu. Heeh.
I mendorong
enggak? Kalau Devin bisa jalan.
Eh, bukan Devin siapa?
Si A.
Oh, ya. Enggak tahulah pakai apalah itu.
Nah, nah maksud saya
mungkin niat dari teman-teman ini kan
baik nih menggalang menggalang berdana
karena dilihatnya tidak ada bantuan dari
pemerintah daerah. Itu dulu yang
pertama. Iya.
Terus yang kedua tidak ada bentuk
perhatian dari pondok pesantren.
Iya kan? Ketika mereka ini kan punya
hati berarti teman-teman ini bagaimana
caranya. Apalagi ibarat kata kita punya
LPA. LPA ini kan harusnya bisa membawahi
dan bisa mengecek dong.
Iya. LPA LPA sudah hadir. Sebelum itu LP
tapi dia tidak bisa menekan pemerintah
daerah.
Nah, enggak sebelumnya kan LP belum
hadir, Bang.
Heeh.
Kan ini kan naik dulu karena contonten
kreator.
Iya. Iya.
Iya. Kan mereka memvideokan, memviralkan
karena apa? Mencari bantuan bagaimana
anak ini bisa dapat keadilan.
LPA datang.
Nah, barulah LPA datang.
Enggak bisa disalahkan juga LPA kan
karena kan itu kan informasi informasi.
He
kan LPA juga hanya punya batasan dan
enggak bisa juga memerintahkan. Bupati
bantu dong operasi kan enggak bisa juga
gitu kan. Nah, maksud saya di sini ini
kan
mungkin tidak ada ada penyampaian tidak
pas antara teman-teman yang sudah lebih
dulu membantu dan di satu sisi ibu ini
juga tidak mengerti saya harus ikut yang
mana.
Betul
kan gitu. Iya.
Nah, tetapi seharusnya bagi bagi pihak
kepolisian kemudian Bapak apa Pak Joko
harusnya duduk bers panggillah si Adidi.
Ini kan sudah kami tanganin sudah terima
kasih banyak nih kita sudah di dibuka
lah gitu maksudnya
diberikan informasi diberikan informasi
kalau tidak begini kan kita tidak tahu
nih noal no justice kan gitu kan. Nah,
itu sih yang tidak terjalin dengan baik.
Akhirnya informasinya miss, ke mana-mana
miss.
Jadi kalau yang yang terjadi yang tadi
itu yang saya sampaikan. Jadi semua
punya niat baik tetapi kemudian tidak
terkomunikasikan.
He.
Dan yang bingung adalah
i
ibu ini.
Nah, ini yang sekarang terjadi.
Nah, ini baiknya podcast ini hari ini
kan jadi lurus. Jadi, jangan kusut.
Karena menurut aku, kalau aku pribadi
sebenarnya enggak masalah. Ketika mereka
enggak nyampai ke Jakarta. Timku kan
nanya ke aku, "Bang, ini enggak jadi
loh, enggak apa-apa. Kalau buat saya
pribadi sebagai pemilik podcast, saya
akan mendukung langkah-langkah polisi
untuk membantu mereka memperoleh
keadilan." Kayak kemarin sudah ada
penetapan tersangka dan lain-lain. Buat
saya itu keren banget. Yang kedua,
bagaimana penanganan untuk ee luka
mereka? Saya enggak peduli dia mau
datang ke podcast saya, hadir podcast
saya. saya enggak penting itu. Tapi
kalau itu ditanganin buat saya itu jauh
lebih penting.
Ya. I
kan gitu kan. Itu poinnya semua. Pasti
juga Mbak Putri juga gitu
ee Mas Joko juga gitu. Nah, sekarang
semua kita kembalikan kepada
Ibu. Ibu sekarang kan sudah duduk di
sini.
Iya.
Apa yang Ibu mau dari semua ini?
Yang saya mau anak saya dapat pengobatan
yang baik sudah mendapat
Iya. Dan mendapatkan mendapatkan juga
itu keadilan.
Keadilan.
Iya. Siapa yang Ibu menurut Ibu harus
bertanggung jawab keadilan ee dari
pelaku ini? Siapa?
Dua-duanya
siapa aja?
Ketua Pompe sama si Rehan.
Si Rehan.
Menurut Ibu mereka harus bertanggung
jawab.
Iya.
Rehan karena ada di lokasi seperti
cerita tadi ketua Ponpes karena
kelalaiannya.
Kelalaiannya
supaya orang lain belajar.
Iya.
Begitu ya.
Kalau Ibu
Ibu kan maaf ya
sudah kehilangan anak.
Maaf. Eh, mungkin ini waktunya
mencurahkan hatinya ibu di sini.
Siapa
ken
tuan guru.
Kurang layak sekolahan paselend
juta pak.
Tidak tahu ada denda. Ibu kalau masih
ada sesak di hati masih ada marah tidak?
Masih.
Masih ada
ke siapa?
Tuan guru.
Tuan guru. Guru
kenapa kayak berkeluarga tuan guru. I am
sak
lalapur jarin.
Dilarang melapor karena masih keluarga.
Tapi ya ibaratnya tadi bohongin gitulah
ya.
tapi ternyata enggak diobatin itu yang
bikin sampai anaknya meninggal akhirnya
begitu. Itu poinnya ya berarti ya sudah
jelas semua ya.
Oke. Kalau kamu
kamu mau apa sekarang? L
saya mau sembuh.
Pengin sembuh ya. Kamu susah jalan ya.
Kamu sedih enggak lihat kondisi kamu
sekarang?
Sedih.
Sedih. Ibu kan enggak ikut ya. Kamu
pengin ngomong apa sama ibu? Heeh.
Ibu kuat-kuat gitu. Heeh.
Pengin ngomong apa?
Ee
kuat-kuat ya, Ibu gitu.
Kuat.
Semoga Ibu dan Bapak sehat.
Sehat ya?
Iya.
E lagi berjuang ini ya?
Berjuang untuk saya pintaran.
Oke. Malu.
Kalau Devin, Devin maunya apa sekarang?
Maunya cepat-cepat sembuh.
Cepat-cepat sembuh. Ya.
Yang mana yang Devin pengin sembuh
duluan?
Tangan.
Yang mana itu?
Yang tangan sebelah mana?
Devin.
Yang kanan ini ya.
Devin malu ya?
Devin malu ya?
Siap.
Karena tadinya enggak kenapa-napa tapi
kondisinya begini ya.
Devin pengin sembuh ya. Ya udah kalau
gitu kita doakan semoga kalian bisa
dapat pengobatan secepatnya dengan
datang ke sini Tuhan bukakan semua jalan
buat kalian.
Amin.
Nanti juga akan dibantu sama Mas Joko
sama Mbak Putri.
Rencananya mau ke Komisi 3 ya.
Dibantu Pak Habibu di sana supaya kalian
bisa memperoleh ee keadilan itu nomor
satu. Terus kemudian ada yang bisa bantu
untuk biaya pengobatan kalian ini.
Nanti terang itu nanti akan datang.
Amin. Amin.
Ya,
itu aja ya.
Iya.
Ada yang mau ditambahkan?
Ee mungkin gini, [berdehem] pesan untuk
pihak kepolisian. Kami kan melihat ee
pasal itu yang diterapkan hanya pasal
kelalaian saja.
Heeh.
Tapi kemarin kami sudah pelajari bahwa
ada pasal yang dengan sengaja melakukan
atau menghidupkan membakar.
Heeh.
Nah, harusnya pasal itu diterapkan tidak
hanya berdasarkan pasal kelalaian saja
karena itu ancamannya hanya 5 tahun,
Bang.
Iya. Tapi kalau barang siapa dengan
sengaja menghidupkan api kemudian
menimbulkan luka dan menimbulkan
celakalah gitu ya, itu ancamannya sampai
9 tahun, Bang. Dan menurut kami kalau
hanya itu saja yang diberikan hukumannya
itu enggak [mendengus] setimpal untuk
satu yang meninggal, kemudian yang kedua
anak-anak ini sudah cacat permanen.
Iya.
Kayak gitu ya. Terus yang kedua,
kepastian hukum terhadap ee pelaku.
Kenapa kami katakan kepastian hukum?
Statusnya apa? ditahankah
atau dibantarkankah atau apa?
Tadi saya dapat video
pimpinan Pompe sakit tidak ada alasan
dan sebelumnya dari kepolisian kan sudah
ada rilis bahwa tidak ditemukan alasan
apapun untuk menjadikan saya sebagai
tersangka. Ya, jadi ketidakadilan ini
harus kami lawan. ada videonya nih.
Tapi kan harus ada kejelasan dulu, Bang.
Beliau sakit dia.
Walaupun dia sakit, statusnya harus
jelas, Bang.
Kenapa jelas diatur di kuha baru, Bang?
Setiap yang tersangka itu harus
diperjelas dulu statusnya. Kalaupun dia
sakit, kalaupun dia sebagai tersangka,
ya ditahan dulu baru nanti dia
dibantarkan.
Hm.
Itu aturannya.
Tapi sakit tadi videonya.
Iya. Ya. Tapi si Rehannya itu gak sakit,
Pak.
I
Rehannya gak sakit. Ya, di mana
posisinya Rehan sekarang? Iya, justru
itu yang tidak ditek diitu kita belum
tahu kalau yang kan apa LP juga memantau
ya
ee anaknya masih di Lombok Tengah
masih ada.
Heeh. Cuman terbentur karena pasal tadi.
Pasalnya kan tempat itu kan hanya 5
tahun.
Undang-undang SPPA tidak membolehkan ada
penahanan. Ini yang jadi
tapi dia setidaknya bisa dititipkan.
Iya gitu.
Iya bisa dititipkan atau dikembalikan
[berdehem] pada orang tua kan nantinya.
Nah, tapi kan harusnya ada ruangan-ruang
dia untuk bisa. Saya enggak tahu ya
apakah Rehan ini sudah dicek
psikologisnya atau belum. Sekarang kita
belum tahu nih. Karena itu sangat
penting. Kita enggak tahu jiwanya Rehan
tuh apa, isinya seperti apa, kenapa dia
bisa berperilaku kasar kepada
teman-temannya. Kan kita enggak pernah
tahu, Pak. Itu sangat penting. Apalagi
dia masih anak-anak di bawah umur.
Karena walaupun dia anak di bawah umur,
tapi perilakunya lebih dari usianya.
Iya. Atau mungkin terpengaruh karena
lihat orang tuanya.
Nah, itu yang kita tahu gitu. Nah,
kemudian untuk satu orang tersangka yang
sudah ditetapkan
Heeh.
ee kepala Ponpes ya.
Iya.
ee ini harus diperjelas.
Kalau dia sakit harus diperiksa dulu
oleh dokter yang ada di kepolisian.
Ada videonya sakit.
Iya, betul. Beliau sakit tapi statusnya
harus jelas, Bang.
Heeh.
Enggak enggak boleh serta-merta dia
sakit terus dibiarin aja.
Iya, betul
gitu dong.
Heeh.
Supaya apa? Supaya ada kepastian.
Misalkan, "Oh, ya sudah jadi tersangka
dia ditahan. Ditahan diperiksa dunia."
Oh, sakit benar. Berarti kan harus
diperiksa dulu nih sama dokter.
Betul. Betul. SOP-nya
kan? Iya. SOP-nya kan seperti itu. Jadi
kalau misalkan dia sakit dibantarkan
dalam waktu berapa hari? 7 hari. Du 2
minggu, 1 bulan, setahun.
Nah, itu kan harus jal. Tapi kalau
misalkan oh dia sakit ngulur lagi dia
sakit. Tapi kan enggak ada kepastian
hukum, Bang.
Iya. Iya.
Gitu kan. Itu yang kami minta ee kepada
penyidik.
Bagaimana posisi si tersangka saat ini,
statusnya apa.
I
gitu. Jangan karena dia sakit, ya. Semua
orang juga bisa ngomong saya sakit. Dan
kita kan tahu emang
emang dokter kepolisi diperiksa sakitnya
apa. Itu yang paling penting.
Besok diperjelas di komisi
gitu. Besok saya
besok [tertawa] komisi
tapi memang ini adalah salah satu dilema
di masyarakat di mana maaf ya Ponpes itu
menurut saya tempat yang baik di mana
PPES itu tempat mencari ilmu, tempat
mencari ee disiplin dan lain-lain
hal-hal yang baik untuk menjadi bekal
untuk nanti ke masa depan. Tapi dengan
banyaknya PPES di Indonesia, ruang
kontrolnya jadi kecil sehingga banyak
sekali timbul hal-hal yang
berbau kriminal, pelecehan dan
lain-lain. Bapak cerita
diimana
yang pelecehan itu di di mana?
Di NTB selama 2000
ee 23 sampai 2026 ini kami menangani ada
20
yang kekerasan seksual saja. yang guru
besar yang Bapak cerita tadi
dari 20 itu 12 di antaranya sekarang
tuan gurunya yang sudah kita proses.
Nah, kan itu
saat sekarang ini ada empat tuan guru
yang sedang berproses di kepolisian
sampai di pengadilan.
Tuan tuan gurunya ngapain tadi J set
saya?
Iya banyak. Kalau yang ini kan
macam-macam
yang hafalan itu loh.
Oh, ada juga tuan guru yang
sedang hafalan setoran. Hafalan dia
ceritanya
nih lagi storfalan sambil store
pakai pakai ayat ayat. Iya. Stor setor.
Nah, ini ini setor hafalan
hafalan lagi. Stor
stor hafalan tapi kemudian sambilan di
apa?
Pegang-pegang gitu.
Mmm. [tertawa]
Di pegang-pegang
dipegang-pegang
kewannya.
Nanti tuan guru kejarkan juga.
Iya. Ini saya pikir ini kemudian menjadi
bahan pembelajaran. Iya. Ada ada dua hal
yang saya ee apa menjadi pembelajaran
bagi kita di kasusnya
Al sama Devi.
Yang pertama adalah tadi kita bicara
soal pondok pesantren angkat
perlu ada ini momentum untuk kemudian
mentransformasi pondok pesantren itu.
Betul.
Bagaimana pengawasan kelembagaan yang
saya pikir ini menjadi penting. Saya
dengar kasusnya si apa?
Sori saya potong. Sebenarnya, Bang,
tidak ada bentuk perhatian dari
pemerintah daerah.
Iya,
itu aja.
Iya. Tadi
karena tidak ada tekanan dari pusat
sebenarnya. Tanyakan lagi sama kepala
daerahnya, lu jadi kepala daerah mau
ngapain sih?
Persoalannya kewenangan di pondok
pesantren itu ada di Kementerian Agama,
Pak. terlepas apapun,
h
terlepas apapun yang namanya tempat
pendidikan itu harus ada kontrolnya
gitu loh. Apa gunanya kita gini, kenapa
kok kita yang masyarakat biasa bisa
jujur ya
saya menerima laporan tuh dari seluruh
Indonesia. Dia banyak bantu orang sudah
berapa kali di sini.
Maksud saya tadi
Bapak juga cuman
saya yang tadi Lombok sih.
Betul. [tertawa]
Saya ingin sampaikan ini momentum kita
untuk kemudian bagaimana Kemenak
memperhatikan pondok pesantren
kelembagaannya gimana. Kemudian sekarang
saya mau tanya pamanya soal berapa kamar
mandi dengan jumlah rasio jum apa kamar
mandi dengan jumlah santri itu enggak
ada aturannya. Iya. I
jumlah pengasuh dengan jumlah santri
enggak ada aturan standarnya. Jadi ini
momentum kita untuk memperbaiki pondok
pesantren.
Iya. Kembalikan pesantren pada fungsinya
dan kembalikan nama baik pesantren.
Betul.
Karena saya pribadi saya itu resah
sekali ketika saya banyak sekali
mendapat laporan pesantren dengan banyak
sekali pelecehan, kriminalitas,
pemukulan, kekerasan yang terjadi di
dalam sana. Jadi kembalikan itu kepada
fungsinya dan itu perlu pengawasan dan
mungkin ini menjadi titik baliklah
podcast ini
supaya siapa tahu Kemenak, pemerintah
pusat,
pemerintah daerah bisa
beres-beres
itu pembelajaran pertama dari King
karena sudah banyak podcast saya di sini
seputar convest
dan
masih belum ada whistle blower-nya gitu.
Betul. Itu aja sih.
Nah, yang kedua yang saya pikir juga ini
menjadi penting adalah kita tidak
berharap ke depan ada Devin, ada hal-hal
yang lain korban tindak pidana yang
kemudian dia tidak mendapatkan jaminan
rehabilitasi medis ketika dia menjadi
korban.
I.
Nah, ini yang perlu kita pikirkan ke
depan. Ya, ini bisa selesai satu ini,
tetapi masih banyak nanti Devin-Defin
dan al-hal yang lain yang mungkin akan
menjadi korban dan dia tidak bisa
mendapatkan akses terhadap layanan tadi.
Nah, ini yang menjadi PR kita yang saya
pikir ini pembelajaran dari dua kasus
ini yang ee harus kita harusnya ada
program dari pemerintah daerah untuk
sosialisasi ke sekolah. Tidak hanya
Ponpes ya, Bang. Tidak hanya Ponpes
karena banyak sekali
masyarakat-masyarakat yang tidak
mengerti hukum itu banyak terjadi
kasus-kasus seperti ini. Mulai dari KDRT
terhadap anak, pelecehan dari orang tua
kandung, bapak kandung memperkosa anak.
Sebenarnya lebih kepada pemerintah
daerah juga harus memperhatikan
bagaimana kehidupan di tengah
masyarakat. Itu yang paling penting.
I supaya supaya kurang-kurangin nikah
batin ya. [tertawa]
Iya. Nikah batin mulu. Kasihan yang
dinikahin. Batin. Batinnya bukannya
senang
terguncang batinnya orang.
Makasih ya. [menghela napas]
Tekanan 70/40 nadinya 140. Woi,
habisannya.
Kurang ajar kamu ya. Cakap mulutmu.
Kita harus stabilkan dia sekarang. Ready
to go down.
Fanny. Tangan pelannya Bu ya.
Fanny.
Kamu pengin kamu bisa bodoh-bodohahi
aku?
Pendarahan menikah. Dok sak sekarang
[musik]
sehidup sematih semati.
[musik]
More transcripts
Explore other videos transcribed with YouTLDR.

在家工作的軟體工程師都在幹嘛?
Terry Chen 泰瑞 · ZH

【早餐很重要】工程師早上吃什麼
Terry Chen 泰瑞 · ZH

ANALISIS BUTIR SOAL (DAYA PEMBEDA)
EVASTA · Indonesian

北美工程師週末耍廢Vlog |流下男人珍貴的眼淚
Terry Chen 泰瑞 · ZH

讓我拿到FAANG面試的履歷
Terry Chen 泰瑞 · ZH

WFH工程師一整天開銷Vlog
Terry Chen 泰瑞 · ZH

工程師在山上工作的一天
Terry Chen 泰瑞 · ZH

工程師幕後週末的一天
Terry Chen 泰瑞 · ZH

Final Lomba Cerdas Cermat Empat Pilar MPR RI 2026 - Provinsi Nusa Tenggara Timur
MPRGOID · Indonesian

UPWORK PARA INICIANTES: Como Começar em 2026 *Passo a Passo*
Mundo Freelancer · Portuguese (Portugal, Brazil)

公開我被裁員前的年薪
Terry Chen 泰瑞 · ZH

年薪70萬美金是矽谷貧困線?
Terry Chen 泰瑞 · ZH
Get the TLDR of any YouTube video
Transcribe, summarize, and repurpose videos in 125+ languages — free, no signup required.