Full Transcript

·YouTLDR

VIRAL‼️ K*RB4N PON-P3S DI LOMBOK, INI KEJADIAN YG SEBENARNYA…

1:18:35IndonesianTranscribed Jul 14, 2026
0:12

Jadi kemarin tuh ada kasus dugaan korban

0:15

aniaya di Ponpes Rosidatu

0:19

Sauliah Lombok.

0:22

Jadi kebetulan waktu kemarin itu ketika

0:26

dari salah seorang content creator yang

0:29

membantu itu namanya si

0:31

Adit.

0:32

Adit itu ngubungin saya dan kita udah

0:36

okekan untuk berangkat ke Jakarta.

0:38

Ternyata mereka diop atau dihentikan di

0:41

bandara itu juga kita belum tahu tuh.

0:44

Nah, kebetulan sudah ada di sini semua.

0:46

Iya kan? Hai, apa kabar?

0:48

Sehat?

0:48

Baik ya.

0:49

I

0:49

kamu Al ya?

0:51

Engih. Kamu Devin ya? Ibu

0:53

ibunya Devin.

0:54

Ibunya Devin. Ibu

0:56

Saril Sabirin

0:57

yang meninggal dunia turut berdukaita

1:00

ya, Bu ya. Dan Mbak Putri yang ngawal

1:05

mendampingi

1:05

mendampingiampingi

1:07

Mas Joko yang ngedampingi

1:09

Al

1:10

Al dan Yin.

1:11

Aku mau nanya dulu nih sebenarnya yang

1:13

waktu di bandara kalian mau berangkat

1:15

kan Ibu ada di sana ya?

1:16

Iya.

1:17

Itu kenapa diop Bu? Karena alasannya

1:19

karena Deven masih dirawat di rumah

1:21

sakit.

1:21

Alasan dari siapa?

1:23

Dari Ibu Polda.

1:24

Oke. Terus kemudian kalau dia masih

1:26

dirawat, Ibu kan bisa berangkat.

1:28

Iya.

1:29

Tetap ibu enggak boleh berangkat juga?

1:30

Kan kita itu disuruhnya bertiga. Gak

1:34

pernah disuruh sendiri.

1:35

Sama siapa?

1:36

Sama Adi sama Bang Kobel. Itu kan kita

1:39

berangkatnya berempat.

1:41

Oh gitu.

1:41

Iya. Gak pernah disuruh pergi tanpa

1:44

Devin gitu. Nah, Devin masih dirawat.

1:46

Apanya yang masih dirawat?

1:48

Katanya itu persiapan operasi.

1:51

Persiapan operasi.

1:52

Iya. Jadi gizinya.

1:54

Jadi harus balik ke rumah sakit.

1:56

Iya.

1:56

Nah, waktu kalian pergi dari rumah

1:58

sakit, kalian minta izin enggak?

1:59

Minta izin.

2:00

Minta izin ke siapa?

2:02

Bang Adinya minta izin ke dokter.

2:04

Dokternya kasih izin.

2:05

Iya, kasih izin.

2:06

Di Rumah Sakit Bayangkara itu ada

2:09

petugas polisi juga yang jaga atau

2:11

enggak

2:11

ada.

2:12

Oke. Minta izin enggak ke petugasnya?

2:14

Gak tahu.

2:15

Enggak tahu.

2:16

Oke. Tapi intinya yang Ibu tahu itu

2:18

sudah diizinkan.

2:19

Iya, diizinkan sama Pak Dokter.

2:21

Oke. Makanya pada saat hari itu kalian

2:23

mau berangkat ke Jakarta ke tempat saya

2:24

gitu kan ya.

2:25

Tapi tahu-tahu dihentikan.

2:26

Iya. Iya.

2:27

Ibu enggak bingung waktu itu kenapa

2:29

dihentikan?

2:30

Bingung.

2:30

Bingung. Penjelasannya cuman itu.

2:32

Iya.

2:32

Jadi akhirnya baliklah semua.

2:34

Iya.

2:35

Ibu ke mana? Ke rumah sakit.

2:36

Iya. Ke rumah sakit Bayangkara.

2:38

Devin ke rumah sakit.

2:40

Al

2:40

ke rumah sakit juga. Oke. [berdehem] Di

2:42

rumah sakit kalian ee diapain?

2:46

Dirawet.

2:47

Dirawat apanya yang dirawat?

2:48

Kakinya.

2:49

Ee diganti perban gitu-gitu.

2:51

Iya.

2:52

Kalian panas atau apa gitu? Ada

2:54

enggak?

2:55

Enggak ada.

2:56

Iya.

2:56

Oh. Jadi cuma istirahat aja?

2:58

Iya.

2:59

Oke. Terus habis itu katanya kalian

3:01

sempat diajak ke mall.

3:04

Gak ikut saya. Devinnya yang ke mall,

3:06

Pak.

3:06

Devin ke mall?

3:07

Devin pergi ke mall sama siapa? Bapak

3:09

Joko.

3:10

Bapak

3:11

Joko.

3:12

Joko.

3:13

Bapak Joko.

3:14

Oh. Kenapa ke mall? Ee itu itu jadi

3:17

omongan juga tuh. Kenapa ke mall, Pak?

3:18

Mas Joko?

3:19

Iya. Jadi waktu itu si apa saya

3:21

ditelepon sama apa ee keluarga

3:25

sama keluarga bapaknya Al

3:28

bahwa ee si siapa?

3:31

Devin.

3:31

Devin tantrum. bahwa dia pengin ada apa

3:35

istilahnya agak apa istilahnya

3:39

pengin keluarlah kira-kira begitu. Nah,

3:41

kemudian

3:42

waktu itu saya temukan sudah di bawah ya

3:44

di di parkiran. Kenapa? Dia bilang saya

3:47

ke ibunya

3:49

ini deh, Pak. Ini si apa awalnya minta

3:52

mie.

3:53

Iya.

3:53

Di bawah tapi kemudian ee tutup itu apa?

3:57

Kantin.

3:58

Iya.

3:59

Nah, terus ya sudah ayo kita jalan-jalan

4:00

aja. Saya bilang. Tapi saya minta izin

4:02

di rumah sakit ini kayaknya anak apa ee

4:05

tantrum mungkin juga karena

4:07

dihibur terus kemudian

4:08

boleh enggak saya ajak anaknya untuk

4:11

keluar dulu? Saya bilang supaya tenang

4:14

tenang karena daripada tantrum gini dan

4:16

memang dari pagi awalnya

4:18

udah ngambul nih sama ibunya.

4:21

Heeh.

4:21

Karena dimandiin

4:23

ee akumulasi

4:25

ee itulah yang kemudian ee malamnya itu

4:28

tantruk. intinya dia enggak [berdehem]

4:30

beta di rumah sakit.

4:32

Devin enggak beta ya waktu itu di rumah

4:34

sakit

4:36

[berdehem]

4:37

kamu ee kalau takut ee bilang saya takut

4:41

ngomong. Kalau kamu enggak berani

4:43

ngomong, kamu bilang kamu enggak berani

4:44

ngomong. Ngomong aja apa adanya.

4:46

Cerita aja, Vin.

4:47

Heeh. Aman kok. Kamu waktu di rumah

4:49

sakit pas habis dibawa balik ke rumah

4:52

sakit, kamu bosan?

4:54

Bosan.

4:55

Bosan. Kenapa kamu bosan? Karena enggak

4:58

bisa lihat keluar.

5:01

Enggak bisa keluar.

5:02

Nah, pas di rumah sakit itu kamu cuman

5:05

tiduran aja atau gimana?

5:07

Tidur.

5:07

Tidur aja.

5:08

Nonton juga.

5:10

Nonton gitu. Terus tidak ada

5:12

tindakan-tindakan

5:13

yang kamu dapat?

5:15

Karena dirawat luka aja.

5:18

Dirawat luka aja.

5:19

Iya.

5:19

Ya, masih basah.

5:20

Iya.

5:20

Ibu waktu itu ada di rumah sakit juga

5:22

enggak?

5:22

Iya. Oke. Waktu itu di rumah sakit

5:24

Devinnya diobatin atau apa yang Ibu

5:27

lihat?

5:27

Saya lihat nih sih dia itu terapi juga

5:31

di sana.

5:32

Heeh.

5:33

Terus lukanya juga dirawat.

5:35

Oke. Terus ee si Devin sempat bilang ke

5:38

Ibu mau pulang.

5:39

Iya.

5:39

Terus Ibu ee bilang apa ke Devin? Enggak

5:42

boleh pulang.

5:43

Iya. Enggak boleh pulang.

5:44

Oh. Kenapa Ibu enggak bawa pulang aja?

5:46

Kan kata Pak Dokter sama perawat-perawat

5:50

di sana juga itu kan mau dipersiapin

5:54

untuk operasi dan juga biar gizinya

5:58

dipenuhi.

5:59

Oke. Tanggal berapa rencananya

6:00

operasinya?

6:01

Setelah pulang dari Jogja.

6:03

Hah?

6:04

Setelah pulang dari sini.

6:05

Setelah pulang dari sini.

6:07

Iya.

6:07

Kalau saya lihat kemarin itu, Mas. Jadi

6:09

memang kondisinya [berdehem]

6:10

karena

6:11

ee proses itu tidak ada koordinasi.

6:14

Heeh.

6:14

Jadi pagi ketika

6:18

apa ibunya ke dari rumah sakit itu dari

6:21

Rumah Sakit Bayangkara.

6:22

Heeh.

6:23

Itu berangkatnya itu ke rumah sakit

6:25

provinsi untuk kontrol dan kemudian

6:29

balik harusnya. Nah, di rumah sakit

6:31

provinsi itu sepertinya kemudian

6:34

ee mau dibawa

6:36

sudah malah sudah dibawa ke bandara.

6:37

Nah. Heeh.

6:39

Ee dari rumah sakit ini tidak tahu,

6:42

tidak ada tidak ada ee koordinasi. Dia

6:46

enggak tahu kalau kemudian dia dibawa ke

6:48

bandara itu.

6:48

Oke. Saya mau tanya dulu mengenai

6:51

kejadian. Kejadiannya itu sebenarnya

6:54

bulan apa kejadian yang mereka alami?

6:57

Akhir Desember.

6:58

Akhir Desember ya.

6:59

Iya. Oke, Al sama Devin waktu kejadian

7:03

itu, waktu kalian tangannya terbakar dan

7:05

segala macam, ceritanya kalian lagi

7:08

ngapain?

7:09

Si Devin lagi benerin kipas.

7:12

Eh, siapa aja yang di situ yang lagi

7:14

benerin?

7:15

Eh, Devin sama almarhum.

7:17

Oke. Ada ada Devin, ada almarhum,

7:22

ada Al, terus ada siapa lagi?

7:25

Yus.

7:26

Yus. Gak gak cuma bertiga itu.

7:28

Cuma bertiga.

7:29

Oh cuma bertiga.

7:30

Oke. Benerin kipas nih.

7:32

Iya.

7:32

Setelah lagi dibenerin ini kenapa bisa

7:35

akhirnya kalian terbakar?

7:37

Ee apa namanya? Ada plastik dikumpulin

7:41

sama Rehan.

7:43

Rehan?

7:43

Iya.

7:44

Rehan ini ee

7:45

kakak kelas.

7:46

Kakak kelas yang diduga.

7:47

Iya.

7:48

Oke.

7:48

Kakak kelas.

7:49

Oh. Terus ada siapa lagi?

7:52

Ada Yus.

7:54

Yus. Oh, berarti kalian berlima ya?

7:57

Berlima ya, bukan bertiga ya?

7:59

Lagi benerin kipas begituak

8:01

gak enggak. Oke.

8:03

Jadi yang aja yang ber

8:05

yang ada benerin kipas awalnya Devin.

8:07

Devin.

8:08

Heeh. Kemudian baru masuk yang lain ya.

8:11

Iya.

8:11

Nah, Devin tadi bilang gak tahu karena

8:13

dia sibuk dengan

8:15

kipasnya.

8:15

Benerin kipasnya.

8:16

Oke. Masuk yang lain.

8:18

Masuk yang lain.

8:19

Jadi totalnya berlima.

8:20

Berlima

8:20

di dalam ruangan.

8:22

Dalam ruangan.

8:23

Dalam ruangan. Al. itu kamar.

8:26

Iya, bekas kamer ustaz.

8:28

Bekas bekas

8:29

bekas kamar ustaz.

8:31

Kemudian kenapa bisa ada bensin? Kenapa

8:33

bisa ada kebakaran? Coba cerita.

8:36

Sebenarnya Rehan yang suruh Sabirin beli

8:40

bensin.

8:40

Oke. Jadi Rehan nih suruh Sabirin

8:43

anaknya Ibu beli bensin. Buat apa?

8:47

Katanya dia mau buat ketapel.

8:49

Katanya dia mau buat ketapel. Oke.

8:53

Memangnya kalau buat ketapel harus pakai

8:55

bensin?

8:56

Gak tahu. Saya baru

8:59

saya tumben itu buat ketapel pakai

9:01

bensin.

9:02

Kenapa

9:03

baru tumben dia dengar buat

9:06

baru kali itu aja dia tahu kalau mau

9:08

buat ketapel pakai bensin. Oke.

9:11

Setelah itu Sobirin pergi beli bensin.

9:14

Iya.

9:14

Oke. Kalian masih di kamar tuh?

9:16

Gak. Saya pergi saya di saya pergi sama

9:20

Rehan sama Yus. Saya diajak sama Rehan

9:24

cari kayu.

9:25

Oke berarti kamu Rehan Yus pergi cari

9:29

kayu ranting kayu.

9:31

Sobirin pergi beli bensin.

9:33

I Devin perbaiki kipas

9:35

perbaiki kipas. Betul.

9:37

Oke. Udah nih bensin udah dibeli sama

9:39

Sobirin. Terus Sobirin nyamperin kalian

9:42

yang lagi nyari kayu

9:44

ya. Saya dari depan kemer terus sayain

9:48

udah datang yang membawa bensin.

9:50

Terus bensinnya itu dibawa ke mana? Ke

9:53

kamar atau di tempat lain? Di bawah ke

9:56

kamar saya botol.

9:58

Oke. Dibawa ke kamar yang tadi tempat

10:00

beresin kipas angin ya? Bekasnya kamar

10:03

ustaz ya. Iya.

10:04

Oke. Di dalam kamar nih bensinnya itu

10:07

diapain?

10:07

Pertama dia ditereh ke

10:11

Mika. Mika.

10:12

Mika.

10:12

Ke Mika. Oh, dia siram ke Mika. Mika itu

10:15

Mika itu loh, Mas, yang untuk Mika

10:18

tempat jajan yang diplom kayak bekas

10:20

bekas agar-agar gitu loh.

10:22

Alas agar-agar itu. Nah, itu ee

10:26

ditumpahin sedikit apa ditumpahinlah di

10:28

di mika itu

10:29

ya. Kemudian sisanya ditaruh masih tetap

10:31

dipotong.

10:32

Oke.

10:33

Nah, terus kemudian

10:34

langsung bakar kertas.

10:35

Dibakar.

10:36

Dibakar. Mika itu dibakar. Itu mika itu

10:38

dibakar buat apa?

10:40

E, buat ketapel.

10:41

Oh, buat panasin ketapel.

10:43

panasin kayu.

10:44

Panasin kayu untuk ngelurusin.

10:46

Ngelurusin.

10:47

Heh.

10:47

Iya.

10:48

Kamu biasa bikin ketapel?

10:50

Biasa.

10:51

Biasanya pakai itu enggak?

10:52

Gek.

10:53

Pakai apa biasanya? A biasanya pakai

10:55

apa?

10:55

Pakai api biasa

10:56

gak. Engak pakai ap

10:57

pakai yang langsung aja.

10:58

Langsung.

10:58

Heeh. Aku juga baru tahu kalau bikin

11:00

ketapel pakai api soalnya.

11:02

Iya. Saya juga baru baru tahu juga.

11:04

Soalnya kan kita waktu kecil bikin

11:06

ketapel ya diserut-serut aja cari batang

11:08

gitu. Kayu ya apinya buat apa ya?

11:11

katanya untuk melurusin kayu. Jadi kayu

11:14

dipanasin

11:15

biar lurus katanya.

11:16

Biar lurus katanya begitu.

11:18

Tapi kan kebakar dong pasti kayu.

11:19

Oke.

11:20

Jadi habis udah dinyalain mika itu pakai

11:23

api ee kayunya ditaruh di atas itu api

11:28

lagi mau dilurusin

11:30

enggak?

11:31

Enggak.

11:32

Ee terus kalau di apa namanya?

11:36

Ee

11:38

dia sudah nyala apinya.

11:40

Heeh. Apinya nyala nih kan.

11:42

Iya.

11:42

Terus

11:43

langsung ke apinya ke bensin yang pakai

11:47

botol itu.

11:48

Oh, jadi apinya nyala dia nyambar di ke

11:50

bensin jadi gede.

11:52

Iya.

11:52

Ah, oke. Jadi gede nih. Nah, pada saat

11:55

apinya besar itu panik dong.

11:58

Panik

11:59

panik. Oke. Kamu ngapain waktu itu?

12:01

Saya mau keluar tapi

12:04

sama Yesus bisa keluar.

12:07

Kamu mau keluar nih? Iya, tapi apinya

12:10

udah membesar dari depan pintu.

12:12

Oh, jadi apinya ada di depan pintu

12:13

keluar. Kamu enggak bisa ke sana. Oke.

12:16

Rehannya di mana?

12:17

Dia langsung keluar.

12:18

Udah keluar duluan. Oh, jadi begitu

12:20

apinya menyambar ke bensin

12:23

gitu

12:23

dia lari.

12:24

Dia langsung lari.

12:25

Iya.

12:25

Sama si Yus.

12:26

Yus

12:27

berdua.

12:28

Iya.

12:28

Dia enggak bilang kalian, "Eh, ayo lari

12:30

gitu

12:31

gak."

12:31

Oh, dia langsung lari.

12:32

Iya.

12:33

Jadi tinggal kamu,

12:36

Devin sama Sobirin di dalam. Heeh.

12:38

Begitu ya.

12:39

Iya.

12:40

Ada enggak yang berusaha tetap buka itu

12:42

pintu?

12:42

Ada.

12:43

Ada.

12:44

Ada. Siapa?

12:45

Saya.

12:46

Kamu sama Devin. Makanya terbakar.

12:48

Terus casernya kebakar juga membesar.

12:52

Semakin membesar casernya.

12:53

Oke. Nah, kamu berusaha buka itu pintu.

12:56

Iya.

12:56

Iya. Walaupun ada apinya.

12:57

Iya.

12:58

Kebuka enggak pintunya?

12:59

Gak.

12:59

Kenapa enggak kebuka?

13:01

Karena

13:02

keras.

13:03

Ada keras karena ada yang diganjal.

13:07

Oh.

13:08

keganj

13:09

kalian dobrak

13:10

gak

13:11

tarik

13:12

saya

13:12

enggak bisa tarik

13:13

tidak bisa tarik saya teriak

13:15

oh tapi kalian sudah coba tarik

13:17

iya enggak ada

13:20

engselnya itu gak ada dagangnya enggak

13:22

ada

13:22

gagangnya ke mana

13:24

memang pintu itu katanya tidak ada

13:26

gagangnya

13:26

iya

13:27

enggak ada

13:28

waktu kalian masuk ke dalam kamar itu

13:30

pintu itu ada gagangnya enggak

13:32

di luarnya ada gagangnya enggak

13:34

enggak

13:35

berarti bukanya tinggal dorong sama

13:37

tarik

13:38

gitu kan ya. Ada kuncinya enggak?

13:40

Enggak.

13:41

Oke berarti ketika pintu itu Rehan

13:44

keluar pintu itu kan harusnya terbuka

13:46

ya. Betul

13:49

betul betul.

13:50

Nah pada saat kali Rehan lari pintunya

13:52

ketutup.

13:53

Iya

13:53

iya

13:53

ditutup.

13:54

Iya gak

13:56

apa namanya sudah dibuka keras sekali

13:59

sama Rehan dia balik lagi pintunya

14:01

ketutup

14:03

ketutup sendiri. Jadi kalau ceritanya

14:05

yang saya dengar awalnya katanya pas

14:08

Rehan keluar, Yus juga keluar sambil

14:11

buka keras gitu. Pas dia keluar pintu

14:15

itu langsung ketutup.

14:16

Ketutup bukan ditutup sama ditarik sama

14:19

Rehan sama itu. Bukan. Dia ketutup

14:21

sendiri.

14:23

Iya.

14:23

Yang jelas dia pas di anu ketutup cuman

14:25

dia gak tahu apakah itu ditarik atau

14:28

Iya. Pokoknya intinya kamu lihat enggak

14:31

pintunya ketutup sendiri atau kamu

14:33

lihatnya pintunya sudah ketutup?

14:35

Ketutup sendiri.

14:36

Kamu lihat pintu itu ketutup sendiri.

14:38

Jadi ini kan pintu nih gini kan dia

14:41

ketutup sendiri begitu.

14:42

Iya.

14:43

Bukan ada yang narik

14:44

bukan.

14:45

Oke. Kamu teriak-teriak minta tolong.

14:47

Oke.

14:48

Ada enggak suara Rehan di depan yang Oh,

14:50

bentar kami cari bantuan. Gitu-gitu

14:53

gak tahu.

14:54

Tidak ada. Oke. Api besar.

14:57

Iya. Kalian panik?

14:59

Panik.

15:00

Ah, Sobirin posisinya di mana?

15:02

Gak tahu. Karena di kamar itu gelap.

15:06

Karena api kasernya

15:08

asap sama api.

15:09

Oh, sama asap.

15:11

Jadi kalian ee berusaha keluar atau

15:14

kalian cuma diam saja? Saya mau

15:17

teri ya.

15:18

Berusaha keluar.

15:20

Berusaha keluar lewat mana? Akhirnya kan

15:22

pintunya enggak bisa kebuka.

15:24

Iya. Terus pasrah aja. Kalau udah enggak

15:27

bisa itu kita pasrah.

15:29

Oh. Eh pasrah.

15:31

Pasrah.

15:31

Jadi kebakar.

15:32

Iya. Kayaknya saya mau meninggal aja.

15:36

Saya pasrah.

15:36

Oh. Oh. Kamu udah rasa kamu akan

15:39

meninggal di situ.

15:39

Iya.

15:40

Nangis

15:41

ya? Nangis.

15:42

Kamu kebakar tangannya pada saat posisi

15:44

itu. Kaki kamu kebakar. Api semuanya

15:47

ini.

15:47

Iya. Api

15:48

baju

15:49

gak sedikit dari bajunya. sedikit baju.

15:52

Kamu enggak berusaha matikan api itu?

15:54

Udah enak yang saya keluar itu udah mati

15:57

apinya.

15:58

Oh, pada saat sudah keluar.

15:59

Iya. Diseburin sama air.

16:01

Oh, setelah sudah keluar. Kalau Devin,

16:03

maaf tangannya yang kanan

16:05

karena berusaha membuka pintu itu.

16:07

Oh, coba saya lihat sayang. Ini jadi

16:09

pada saat kamu berusaha buka pintu itu

16:11

api sudah bakar di sini.

16:13

Jadi tangan kamu posisinya ee kebakar

16:15

itu.

16:17

Oh,

16:18

mencoba membuka pintu kan ya? mencoba

16:20

membuka pintu ber tapi badan ini sudah

16:23

kebakar-bakar ibaratnya begitu ya dan

16:25

itu gelap asap

16:26

di di dekat situ juga ada ee apa

16:32

bekas itu kasur

16:33

plastik kalau yang ada apa kasur itu

16:35

juga nempel terus ada rak plastik yang

16:38

kemudian juga nempel

16:39

oh nempel ke badan mereka

16:41

iya

16:42

karena dia awalnya kayak ada peritnya

16:44

menggosok-gosokkan gitu supaya mati tapi

16:47

malah kena ke

16:48

api ke plastik itu.

16:50

plastik yang terbakar yang nempel ke

16:52

badan mereka. Jadi ini nyatu semuanya

16:55

nih. Rak plastik apa? Rak plastik.

16:57

Iya. Paham. Setelah itu pintu kebuka

17:01

gak didobrakin sama teman?

17:03

Oh. Siapa yang dobrak itu? Nanang.

17:05

Nanang namanya. Satu orang.

17:07

Iya.

17:08

Dia dobrak dari luar.

17:09

Iya. Ada yang ada teman saya ambil air

17:13

ada yang dobrakin.

17:14

Oke, akhirnya kalian bisa keluar.

17:16

I. Oke, Devin sama Al keluar nih disiram

17:20

air langsung gitu kan. Sobirin di mana?

17:23

H

17:24

Sobirin

17:24

samaan enggak waktu keluaran

17:26

keluar juga dia berhasil keluar. Oke.

17:29

Semuanya disiram air. Habis itu baru

17:33

datang siapa aja?

17:35

Ee

17:35

pimpinan PPES datang enggak?

17:37

Udah keluar saya. Dia datang

17:39

apa?

17:39

Saya dari saya sudah keluar.

17:42

Oh. Setelah sudah keluar dari kamar yang

17:45

penuh api.

17:45

Iya. yang dua orang teman tadi tolong

17:48

siram air dan lain-lain. Pimpinan Ponpes

17:50

datang. Oh, rame

17:52

ya. Ramai.

17:53

Ee murid-murid santri semuanya datang

17:55

semuanya. Tolong kalian.

17:58

Si Rehan sama Yus

18:01

enggak tahu.

18:02

Enggak lihat.

18:03

Iya.

18:04

Setelah itu akhirnya ibu baru tahu.

18:06

Gak

18:07

gak

18:08

ada bapaknya.

18:09

Oke. Bagaimana ceritanya akhirnya

18:11

setelah dari kejadian itu ke Ibu? Saya

18:13

tahu kejadian sebenarnya itu setelah 5

18:16

hari di Rumah Sakit Praya.

18:18

Baru 5 hari kemudian.

18:19

Iya.

18:19

Kenapa Ibu baru tahu 5 hari kemudian?

18:22

Anak-anak baru bisa bicara setelah 5

18:24

hari dirawat di rumah sakit peraya.

18:26

Pihak Kompes hubungi Ibu enggak? Apa ibu

18:28

tahu maksudnya?

18:30

Ibu tahu bahwa anaknya terbakar itu hari

18:33

itu atau setelah

18:35

hari itu. Tapi sudah sore, sudah mau

18:37

menjelang magrib.

18:38

Oke. Siapa yang memberitahu? Anak saya

18:40

yang pulang memberitahu. Kakaknya Deven

18:42

sekolah di sana juga. Oh, oke. Kakaknya

18:45

kasih tahu Ibu. Setelah itu ibu langsung

18:47

ke rumah sakit

18:48

lihat anak Ibu.

18:49

Iya.

18:50

Oke. Setelah itu 5 hari kemudian baru

18:52

Ibu tahu ceritanya nih.

18:53

Iya.

18:54

Karena baru bisa bicara. Oke. Sobirin

18:56

ada juga di situ.

18:57

Ada.

18:58

Oke. [mendengus]

18:59

Ibu kapan tahu anak Ibu di rumah sakit?

19:04

Kapan si tahu pertama kali anak rumah

19:08

sakit? Prayum itu

19:11

hari itu juga

19:11

hari itu juga sore siang malam i asar

19:15

asar

19:17

siapa yang ngasih tahu siapa yang

19:19

telepon atau ngasih tahu tutut kentang

19:22

hah

19:22

kakakut kakak tutut tutup

19:25

ustaz tutup diuk tuh

19:27

ustaz yang datang ke ke rumah

19:29

ustaz dari Ponpes

19:30

dari Ponpes karena kalau dari ceritanya

19:33

yang paling terakhir datang adalah

19:35

keluarganya Sahril Sabirin nggih

19:37

he

19:38

hm

19:38

paling Paling telat.

19:40

Iya. Terakhirlah.

19:41

Paling terakhir.

19:41

Nah, Harisirin meninggalnya di hari ke

19:44

berapa?

19:45

2 bulan kemudian.

19:46

Oh, 2 bulan

19:47

pas menjelang Ramadan.

19:50

Iya. Enggak.

19:51

Coba tanyain bagaimana perasaannya dia

19:53

lihat anaknya pada saat itu terus

19:55

meninggal?

19:56

Gimana Side waktu lihat si Sahril?

20:00

Karena ini salir Sobir itu yang paling

20:03

paling parah memang dia luka bakarnya

20:07

sudah ada fotonya

20:07

hanya sedikit aja yang kelihatan yang

20:10

masih ut

20:10

80% lah ya

20:12

gimana

20:16

aneh baang

20:19

dia sampai apa sangat sedih sampai

20:21

hampir gila

20:22

ngelihat anaknya apa se terbakar

20:26

terbakar

20:27

terus ibu pastikan berharap anaknya

20:29

sembuh ya Hm.

20:30

Nah, tapi ternyata anaknya tidak sembuh.

20:34

Ibu kecewa

20:36

sama siapa?

20:38

Pontpes.

20:39

Pompes. Pompes.

20:40

Pompes. Karena ibu titip anak di situ.

20:43

Heeh.

20:44

Itu anak satu-satu atau anak ke berapa?

20:47

Terakhir terakhir.

20:49

Terakhir.

20:49

Dan itu, Bang. Jadi, ada pernyataan yang

20:54

kami juga seringkiali apa mempersoalkan

20:57

itu ya. Jadi anak yang masuk di

21:00

pondok itu bahasa di sana adalah

21:04

menyerahkan laksana mayung sebungkul.

21:07

Apa itu?

21:07

Mayung sebungkul itu.

21:08

Jadi kalau nyerahin anak ke pondok itu

21:10

seperti menyerahkan rusa satu ekor utuh.

21:14

Mau diapain aja terserah.

21:15

Mau diapain aja terserah.

21:17

Itu persyaratan dari mana? itu ada per

21:19

ada ada di di tata tertib itu

21:22

bahwa ketika menyerahkan anak itu

21:24

ibaratlah

21:26

ee menyerahkan

21:27

ee tadi rusa seekor utuh

21:31

ada tulisan begitu rusa seekor mayung

21:33

sebungkul. Terus dengan kondisi anak Ibu

21:37

yang ee sudah ee akhirnya berpulang,

21:41

Ibu sempat ee

21:45

apa hubungi Ponpes enggak untuk tanggung

21:47

jawab?

21:49

Dindang jawab.

21:50

Mungkin aku jelasin sedikit, Bang.

21:51

Monggo.

21:52

Jadi, waktu pertama kejadian menurut

21:54

kakak korban

21:56

itu [berdehem] kakak kandungnya itu

21:58

berusaha untuk membuat laporan

21:59

kepolisian.

22:00

Oke.

22:01

Oke.

22:01

Di Desember nih ya?

22:02

Iya. Tetapi karena kakak tirinya

22:06

bekerja di situ atau masih ada hubungan

22:07

saudara dengan si pemilik Ponpes lah ya,

22:11

mereka tidak enak mau laporan gitu.

22:13

Ditambah ada janji dari si Ponpes-nya

22:15

ini mau membantu

22:18

biaya pengobatan mereka.

22:19

Oke.

22:20

Jadi kayak pecahlah gitu di keluarga ini

22:23

antara yang kakak tiri dengan kakak

22:25

kandung gitu. Akhirnya karena menunggu

22:28

begitu juga dengan yang lain ini

22:29

dijanjikan.

22:30

Heeh. He.

22:31

Dengan si pemilik Ponpes bahwa nanti

22:33

mereka akan melakukan ee pengobatanlah,

22:36

bantuan ternyata sampai

22:39

saat ini juga tidak ada gitu. Bahkan

22:41

sesen pun tidak ada.

22:42

Tidak ada. Bahkan

22:43

ada hanya enggak seberapa.

22:45

Iya hanya jadi

22:46

Oh, ada tapi tak seberapa

22:47

cuma Rp200.000

22:48

500

22:49

200 500

22:50

500

22:51

terus

22:54

saya telu kalian 100

22:57

100 150 begitu gitu. Nah, jadi arak 6

23:03

berapa total?

23:04

Ara 6

23:07

R1.650.

23:09

Oh, totalnya yang Ibu dapat. E kalau Ibu

23:11

ini

23:12

ya sama

23:13

sama hampir sama

23:13

segituan. Mereka sempat bilang ada angka

23:16

berapa yang mereka mau kasih? Enggak.

23:18

Enggak.

23:19

Enggak. Oke, lanjut Mbak Put.

23:21

Ee mungkin gini, Bang. Tadi kan saya

23:23

dengar kan langsung ke pokoknya karena

23:24

kenapa dibakar.

23:26

Sebenarnya kan cerita ini setelah kami

23:27

telusuri kan ada terjadi kejadian

23:30

sebelumnya lah.

23:31

Heeh.

23:32

Kejadian sebelum terjadinya pembakaran

23:34

terjadinya kebakaran ini

23:35

itu aku dengar juga.

23:36

Nah,

23:37

mungkin itu yang harus kita buka juga

23:39

bahwa di sini tuh ada pihak ada pelaku

23:42

lain lah gitu selain si

23:43

Raihan.

23:44

Raihan ini

23:45

sama Yus nih.

23:45

Iya. Oke.

23:46

Kalau kita kan enggak tahu nih Yus nih

23:48

apakah pelaku ataukah dia juga tidak

23:50

tahu diajakin kan kita gak tahu ya.

23:52

Iya. Tapi ada Yusuf namanya itu anak

23:54

pemilik Ponpes.

23:55

Oke. Yusuf anak pemilik Ponpesan

23:58

ngertianin. Benar.

23:59

Jadi gini

24:00

yang suka

24:01

anak-anak yang kelas 1 kelas 1 itu

24:05

menurut ceritanya itu sering

24:08

menjadi korban bully.

24:09

He.

24:10

Oleh dua orang.

24:11

Oke. Si

24:12

R sama Y.

24:14

R sama si Y.

24:15

Y. Bukan Y yang

24:16

bukan Yus ya.

24:17

Bukan Yus tapi Y. Si

24:19

Yusuf

24:20

anak. Nah, itu memang sering sering

24:23

dipukul bahkan

24:25

kalian sering dipukul sama Yusuf.

24:27

Iya.

24:27

Iya. R siapa namanya?

24:29

Rhan.

24:30

Rehan. Rehan suka pukul kalian juga

24:32

enggak?

24:33

Rehan enggak suka pukul kalian.

24:34

Iya. Kalau saya tidur malam saya

24:36

dicoret-coretin badannya.

24:38

Dicoret sama Rehan tapi gak pukulak.

24:40

Dia dia jahat enggak sama kalian Rehan?

24:43

Kadang-kadang jahat.

24:44

Oke.

24:45

Kadang tidak.

24:46

Jahatnya apa itu yang kadang-kadang

24:48

nyoret-nyet nih.

24:49

Oh, cuma itu aja.

24:50

Coret-coret badan. Salat badan pakai

24:52

pensilan. Kalau si yusuf

24:55

sering pukul saya.

24:57

Pukul kamu.

24:58

Pukul apanya?

24:59

Badan.

25:00

Perut. Heeh. Tangan. Pakai apa dia

25:02

pukul?

25:04

Tangan.

25:04

Pakai tangan. Kalau Devin sering dipukul

25:07

sama Yusuf. Siapa ini?

25:09

Apanya yang dipukul?

25:10

Dia lagi tidur. Dia di ditendang sama

25:13

Yusuf.

25:14

Ditendang sama Yusuf. Gara-gara apa

25:15

ditendang?

25:16

Enggak tahu.

25:16

Enggak tahu. Devin sering dipukul sama

25:19

Rehan. Gak mau ditelanjangin dipelorotin

25:23

yaotin ya sarungnya.

25:24

Oh dipelorotin sarungnya di dikerjain

25:28

sebelumnya penganj.

25:30

Jadi pada saat kejadian apa sebelum

25:32

kejadian memang

25:34

si Devin sekitar 3 hari lah itu sempat

25:38

diorotin.

25:39

Iya

25:39

atau apakah dilihat atau lapor yang

25:41

jelas

25:43

si Rehan itu sempat dikasih hukuman?

25:45

Enggak dikasih hukuman.

25:46

Gak dikasih hukuman. Enggak dikasih

25:47

hukuman Rehannya.

25:48

Rehan mengancam.

25:50

Rehan mengancam.

25:51

Ceritain aja. Rehan mengancam ya. Mau

25:53

Rehan mengancam mengancam kalian.

25:55

Enggak.

25:56

Enggak. Devin diancam Rehan. Enggak.

25:58

Enggak.

25:59

Iya. Dibilang dibilang apa?

26:01

Enggak.

26:02

Enggak. Oh enggak. Enggak diancam.

26:04

Enggak.

26:04

Betul. Gak diancam Vin.

26:06

Kalau saya enggak

26:07

gak

26:08

enggak diancam sama Rehan?

26:09

Enggak.

26:10

Al diancam enggak sama Rehan?

26:12

Enggak. Terus ada enggak yang ancam

26:14

kalian? Nanti kalau kamu begini saya

26:17

bakar kamu. Ada enggak?

26:18

Kalau saya diancam mungkin enggak

26:20

berteman sama dia. Oh

26:22

gak ketemu

26:22

mbak. Enggak berteman. Tidak berteman.

26:24

Oh diancam. Kalau kamu ngadu tidak

26:27

berteman sama Rehan.

26:29

Maksudnya Devin itu tidak pernah

26:30

diancam. Kalau dia diancam mungkin saya

26:32

tidak berteman sama dia. Dia

26:34

maksudnya begitu.

26:36

Dari mana informasi

26:38

bahwa kalau mereka tuh diancam mau

26:41

dibakar? Kalau saya dapat informasinya

26:43

dari almarhum yang bercerita kepada

26:45

ibunya.

26:46

Oh,in

26:49

cerita

26:49

sabirin cerita ke ibu.

26:51

Iya. Kalau dia mau dibakar kalau gak

26:53

salah 3 hari sebelumnya atau 2 hari

26:54

sebelumnya gitu

26:55

oleh

26:56

oleh si Rehan.

26:57

Rehan Rehan gara-gara

26:59

kalau dia enggak mau karena dia enggak

27:01

mau suruh beli bensin.

27:02

Oh, jadi sudah ada obrolan mau beli

27:05

bensin.

27:06

Iya. Ibu ee Sobirin cerita almarhum

27:09

kalau dulu

27:09

dipaksa untuk beli bensin mau nurut dia

27:12

lah. Heeh.

27:14

Beli bensin kend milih jagur.

27:17

Heeh. Pas

27:18

pas di minggu lalu

27:19

pas waktu mau disuruh beli bensin. Kalau

27:22

gak mau beli bensin nanti dijanggur di

27:25

dipukul.

27:27

Oh berarti tadinya sabirin yang disuruh

27:29

mau beli bensin itu.

27:31

Betul. Aku lalu beli bensin ngaku kaku

27:34

lina kepu kepengin

27:37

oh berarti uangnya uangnya sobirin

27:39

uangnya rehan uangnya rehan milih

27:43

artinya jag

27:44

dia enggak mau tapi dipaksa dipaksa

27:47

pakai uangnya rehan tapi kalau kamu

27:49

enggak mau saya jagur saya pukul jag

27:52

iya pukul gitu berarti sudah ada

27:55

pengancamanlah

27:56

iya ibaratnya begitu kan ya pas hari

27:59

itu.

28:00

Iya. Nah, si Sobirin itu dipaksa beli ee

28:05

bensin sama Rehan. E Sobirin cerita

28:07

enggak buat apa?

28:08

Apa yang anu bakar bunuh e kayu lastik

28:13

nih

28:14

ketapel?

28:14

Oh, ketapel lagi. Kayu untuk lastik.

28:17

Lastik tuh kalau ketap

28:18

ketapel. Iya, ketapel lagi nih.

28:20

Devin, kamu biasa bikin ketapel enggak?

28:23

H

28:24

main ketapel?

28:25

Enggak.

28:25

Enggak. Al yang main ya?

28:27

Saya diajak buat ketapel sama saya.

28:29

Iya. Tapi kalau bikin ketapel pakai api

28:31

enggak, Devin?

28:32

Hah? Enggak tahu.

28:34

Enggak tahu. Hal kalau bikin ketapel

28:36

pakai api enggak?

28:36

Enggak.

28:37

Enggak.

28:37

Kamu sering bikin ketapel?

28:39

Sering tapi enggak pakai api.

28:40

Enggak pakai api? Bisa enggak pakai api?

28:43

Oke. Berarti sudah ada nih sebuah unsur

28:46

di awal gitu kan ya. Itu yang membuat

28:48

kecurigaan itu terjadi gitu.

28:50

Oke. Tapi kan aku dengar dari Mas Joko

28:53

kalau kemarin kita teleponan bahwa ini

28:54

ada unsur ketidaksengajaan. Jadi ee yang

28:57

dilihat dari teman-teman di kepolisian

29:00

kemarin itu kan kita sebenarnya kan awal

29:01

kan yang kita

29:04

apa masukkan kan undang-undang

29:05

perlindungan anak ini nomor satu.

29:07

Tetapi kemudian ya tadi karena

29:10

yang di awal ini saksi-saksi yang

29:12

kemudian anak-anak ini semuanya yang

29:15

disampaikan adalah bahwa ini mau buat

29:18

ketapel itu. Itu aja. Oh, jadi dari situ

29:22

ada

29:22

berarti kan polisi tidak detail

29:24

memeriksa keterangan

29:27

dulu sebentar. Waktu awal kejadian itu

29:30

di Ponpes Desember itu polisi tidak ada

29:33

yang datang.

29:34

Ada Babin. Babin ya, Bu? Ya, Babin.

29:37

Babin.

29:37

Babin. Babin kan enggak masuk penyidik

29:39

dong.

29:40

Tapi kan dia mengetahui, Bang.

29:41

Iya. Paling enggak kan dia

29:42

menginformasikan.

29:43

Nah, dia sudah. Kalau kemarin kita dapat

29:45

cerita dari kakaknya kan kami telusuri

29:47

dulu tuh, Bang. He. Coba cerita dulu

29:49

versi dari Mbak Putri. sebelum ee kami

29:52

ee sebelum kami pegang perkara ini kan

29:54

pasti kami telusuri dulu kenapa tidak

29:56

laporan, kenapa kalian tidak melanjutkan

29:59

ini gitu kan. Ya tadi yang pertama

30:01

karena masih ada hubungan keluarga yang

30:04

pertama. Terus yang kedua

30:06

menunggu itikat baiklah.

30:07

Heeh. Menunggu terus yang kedua saya

30:09

tanya kira-kira kepala desa tahu enggak

30:11

nih

30:11

iya

30:12

dengan kejadian ini gitu. Mereka bilang

30:15

ee tahu tapi enggak lapor. Oke.

30:17

Gitu. Jadi kayak kecelakaan biasa aja

30:20

lah gitu.

30:21

Nah, kemudian polisi ada enggak Babin

30:24

yang tahu gitu? Ada. Nah, Babin waktu

30:26

itu katanya sudah pernah menyampaikan

30:28

laporan aja gitu. Laporan?

30:31

Oh, dia suruh lapor.

30:32

Heeh. Tapi karena pihak keluarga ini

30:34

merasa

30:36

ee masih ada itikat baik dari Ponpes,

30:38

maka mereka tidak lapor,

30:40

nunggu

30:40

nunggu. Tapi kan seharusnya

30:43

polisi kan sudah tahu nih ada kejadian

30:45

ini

30:46

tentunya kan harus Babin lapor dong

30:49

kepada pimpinannya. SOP-nya kan begitu.

30:52

Kenapa harus nunggu korban dulu atau

30:54

dari pihak polsek kunjungan dong ke

30:56

rumah?

30:57

Karena kalau biasanya ada kejadian kayak

30:58

gini polisi bisa langsung melakukan

31:00

investigasi

31:01

secara mandiri.

31:02

Iya harus tidak karena ini kan bukan

31:04

delik khusus. Ini kan delik umum.

31:06

Iya ini delik umum. Betul

31:07

gitu kan. Jadi harusnya pihak kepolisian

31:10

seperti babinnya lapor nih ke

31:12

pimpinannya bahwa ada kecelakaan seperti

31:15

bentuknya apapun ya mau kecelakaan kek

31:17

atau mau sengaja dibakar kek kan tapi

31:19

ada korban jiwa gitu loh saat itu.

31:21

Berarti intinya ini babinnya juga ee

31:25

menunggu dari merekanya karena merekanya

31:27

menunggu dari pompes punya tingkat baik

31:29

jadi miscomnya di situ kan.

31:31

Berarti polisi juga bisa aja kita anggap

31:33

dia tidak mengetahui gitu kan karena

31:35

tidak terinformasikan begitu. Kalau yang

31:37

di pondok harusnya tahu ya, Mas.

31:40

Harusnya tahu. Oke. Tetapi karena memang

31:43

sepertinya apa ee dari awal itu dibuat

31:47

seolah-olah bahwa ini kecelakaan itu

31:50

sehingga kemudian laporannya itu ya

31:52

kecelakaan. Sampai di kepolisian eh

31:55

sampai di rumah sakit pun kan itu

31:57

kecelakaan. Mas,

31:58

BPJS-nya juga pakai dasar itu

32:01

kan

32:02

dibuat bahwa seolah-olah bahwa dari awal

32:05

pondok pesantren itu membuat bahwa ini

32:07

adalah

32:09

makanya bisa pakai BPJS awalnya. Tapi

32:12

setelah akhirnya keblow up ini ketahuan

32:15

ini bukan kecelakaan, ada unsur yang

32:17

lain BPJS-nya diop begitu. Begitu ya.

32:21

Nah, BPJS-nya katanya sudah enggak bisa

32:23

pakai sekarang ya. Terus katanya kalian

32:26

disuruh bayarkan uang BPJS yang selama

32:29

ini sudah mereka ee BPJS keluarkan

32:32

karena ini bukan kecelakaan. Betul.

32:34

Betul.

32:34

Berapa banyak itu?

32:35

Sekitar 19 atau 20 lah.

32:38

Oh. Jadi uang pengobatan yang selama ini

32:39

ditanggung BPJS itu kalian disuruh

32:41

balikin?

32:42

Disuruh denda. Denda. Denda.

32:44

Denda.

32:44

Iya.

32:45

Karena ada pernyataan awalnya.

32:47

Iya. Paham. Paham. Paham. Paham.

32:49

Ya. Tapi kan bukan kesalahan mereka

32:50

juga, Pak.

32:51

Iya. Karena ini ada kes-nya juga di sini

32:53

posisinya. Oke,

32:54

PPES kan 40 hari. Jadi gini, Bang, tadi

32:56

belum saya selesaikan, ya. Jadi 40 hari

33:00

ini yang yang kurang ajar saya bilang

33:01

Ponpesnya sudah gak berizin, izinnya

33:04

mati.

33:05

Oh, tak ada izin ya.

33:06

Iya.

33:06

Ujian operasionalnya sudah mati.

33:07

40 hari almarhum meninggal tidak pernah

33:10

datang. Bahkan meninggal pun tidak

33:12

datang. 40 hari datang buatin surat

33:15

perdamaian.

33:17

Jadi, ada surat perdamaian yang

33:18

menyatakan bahwa

33:19

tapi tidak ditandatanganin sama mereka.

33:21

Jadi tidak ditandatangani. Ada satu yang

33:23

tanda tangan. Ada satu siapa? Jadi

33:25

bapaknya

33:25

salat dulu sebentar.

33:27

Masalah ketua pompes yang anu itu

33:30

saat melayat itu dia datang pas ke hari

33:33

kematian sabirin pulang dari rumah sakit

33:35

datang

33:36

besoknya pas dia dikuburin itu juga

33:39

datang.

33:40

Oh datang ketua POPESnya datang.

33:43

Ketua PPESnya datang.

33:44

Oke ini baru enak nih. Jadi clear ya

33:46

ketua POMPES ada datang waktu penguburan

33:49

Haris. I. Oke. Tetapi

33:51

itu juga tadi, Pak. Bentar dulu. Masalah

33:53

Ibu Polda itu nanti biar enggak jadi

33:55

masalah juga.

33:56

Heeh.

33:56

Bukannya Ibu Polda itu bilang tidak

33:59

kasih izin buat pergi ke

34:01

sini ke Jakarta.

34:02

Iya. Ke Jakarta. Ibunya itu bilang kasih

34:06

apa namanya?

34:09

Pertimbanganlah gitu.

34:10

Pertimbangan.

34:11

Pertimbangan.

34:12

Lebih baik ibu pergi

34:14

apa namanya itu poskes atau lebih baik

34:17

depennya dirawat di rumah sakit atau

34:19

bagaimana? Oke.

34:20

Kan saya bilang kalau demi kesehatan

34:22

Devin saya gak boleh pergi ya saya gak

34:25

pergi. Saya bilang iya untuk larangan

34:28

untuk sengaja melarang itu enggak ada,

34:30

Pak.

34:30

Oke. Jadi dia sebenarnya kasih

34:32

pertimbangan waktu di bandara.

34:34

Di rumah sakit.

34:35

Waktu di rumah sakit bandara di

34:36

rumah sakit itu setelah dari bandara

34:38

gak? Sebelum dari bandara.

34:40

Oh sebelum dari bandara. Nah sebelum

34:42

dari bandara ibu polisi ini bilang mau

34:46

pilih podcast atau berobat begitu kan?

34:49

Iya. Iya.

34:49

Tapi setelah itu kalian berangkat

34:51

podcast, mau podcast kan ke bandara kan.

34:54

Tapi habis

34:54

ke anu dulu

34:55

itu kan di Rumah Sakit Payangkara.

34:57

Iya.

34:58

Nah, mereka berangkat ke rumah sakit

35:00

provinsi dulu.

35:00

Provinsi dulu. Habis itu baru ke

35:02

bandara.

35:03

Ya, jadi kalau dari ceritanya ya ini

35:07

hanya cerita karena saya juga enggak ada

35:08

di lokasi. Jadi

35:09

pagi itu ketemu sama Ibu Kapolda

35:13

karena menjenguk karena dia yang bawa ke

35:15

rumah sakit. He.

35:16

Kemudian ketika

35:18

apa tadi ketemu ada pertimbangan itu ya?

35:20

Saya [berdehem] ini saya ini saya baru

35:21

dengar.

35:22

Saya juga baru dengar kalau pagi itu

35:23

ketemu Bu Ibu Bapak dir PPN.

35:28

Ibu sama bapak juga

35:29

mereka itu sebenarnya sudah tahu kalian

35:30

mau ke Jakarta berarti.

35:32

Iya gak? Jadi dia kan mungkin dia jenguk

35:36

pagi pagi jenguk jenguk gitu kan untuk

35:39

memastikan karena dia ada di

35:40

ini sebelum mau ke Jakarta ya.

35:42

Iya. Heeh.

35:42

Nah, mungkin ketemu pagi itu kemudian

35:44

dikasih tadi.

35:46

Iya. Pertimbangan.

35:46

Pertimbangan itu. Betul.

35:48

Iya, betul.

35:48

Nah, setelah itu setelah itu kan mereka

35:50

pergi ke di

35:52

rumah sakit

35:52

di

35:53

rumah [berdehem] sakit Bayangkara pakai

35:54

ambulans.

35:54

Heeh.

35:54

Iya.

35:55

Ke rumah sakit provinsi.

35:57

Iya.

35:57

Kemudian masuk pertama adalah

36:01

Devin. Devin. [berdehem]

36:02

Itu rumah sakit provinsi tujuannya untuk

36:04

apa?

36:04

Kontrol.

36:05

Kontrol.

36:06

Iya. Karena ini kan ada komunikasi

36:08

sebelumnya antara direktur rumah sakit

36:10

provinsi setahu saya. Karena kami pun

36:12

waktu dibawa ke Bayangkara kami juga

36:14

tidak tahu. Terus akhirnya kami

36:15

klarifikasi ini kenapa dibawa ke Rumah

36:17

Sakit Bayangkara.

36:18

Oh ternyata ada komunikasi antara Pak

36:20

Kapolda dengan direktur rumah apa dengan

36:22

rumah sakit provinsi

36:24

untuk mempercepat proses penyembuhannya.

36:26

Oke.

36:26

Anak dibawa ke Rumah Sakit Bayangkara

36:28

dirawat nanti komunikasi. Nah waktu itu

36:31

hari itu

36:33

dibawa ke rumah sakit provinsi untuk

36:35

kontrol. Nah

36:37

Devin masuk duluan.

36:38

Iya. Setelah Devin ee keluar langsung ke

36:43

bandara.

36:44

Oh, begitu.

36:45

Iya

36:45

ceritanya. Nah, kan kemarin dikasih

36:47

pertimbang kan dikasih pertimbangan tuh.

36:49

Tapi akhirnya kalian memilih untuk tetap

36:52

ke Jakarta.

36:53

Iya, karena dokternya bilang boleh.

36:56

Oh, boleh.

36:58

Jadi berangkat tiba-tiba di bandara

37:00

diop.

37:01

Iya. Iya. Seperti itulah.

37:02

Siapa yang stop itu?

37:04

Pokoknya bilang gak boleh pergi. Sudah.

37:06

Oh, enggak boleh pergi. Keterangan

37:08

lainnya apa?

37:10

Belum ada laporan sama atasan gitu.

37:13

Oh, jadi jangan pergi.

37:16

Makanya waktu

37:17

pertimbangan kenapa saya waktu itu kan

37:20

enggak tahu waktu dibawa dari

37:22

dari gak ini waktu dia dibawa dari rumah

37:26

ke bayangkara pun waktu itu hanya dulu

37:28

Pak ini kita mau dibawa ke rumah

37:29

bayangkara.

37:30

Terus sampai di Rumah Sat Bayangkara

37:31

saya juga tahu datang kan.

37:33

Kenapa ini dibawa ke Rumah Sat Bayara

37:35

ini Mas? ini ada perlu katanya untuk ee

37:38

pemulihan tadi

37:40

mempercepat dan kasihan ibunya karena

37:42

ibunya juga hamil.

37:44

Oh, lagi hamil. Ibu lagi hamil.

37:45

Maaf. E kandungan berapa bulan?

37:47

5 bulan.

37:48

Oke. Terus itu jadi

37:50

pas kejadian itu memang sekali lagi

37:52

sayaang kita enggak ada di situ karena

37:54

kami hanya memastikan karena waktu itu

37:55

kan jadwal kontrol.

37:57

Biasanya saya lihat

37:59

tanya kalau pas kontrol gitu tadi di

38:02

rumah sakit gimana?

38:03

Iya.

38:04

E disuruh bayar enggak? Karena

38:06

seringkiali ada aja masih kan

38:08

awalnya nanti Pak tadi disuruh gini tapi

38:10

setelah

38:11

disuruh bayar

38:12

iya

38:13

ya

38:13

sama sama rumah sakit

38:15

yang di provinsi Mas yang kontrol itui

38:18

kan tadi yang jaminan BPJS sudah habis

38:21

kan ee kami awalnya kan nanya lewat

38:23

telepon tolong jangan

38:26

apa bebankan ke anak-anak atau korban

38:29

bebankan aja ke

38:30

I

38:30

katanya sudah koordinasi sama Kapolda

38:31

kalau misalnya dibawa dari Bayangkara ke

38:33

provinsi

38:34

enggak sebelum itu biasanya maksud saya

38:36

sebelum biasanya kalau soal kontrol sama

38:39

rumah sakit sebelum saya hanya

38:40

memastikan itu sudah jalan gitu. Pada

38:43

hari H itu pagi itu saya hanya

38:45

memastikan

38:46

karena sudah ada di Rumah Sakit

38:47

Bayangkara kan saya pikir sudah aman nih

38:49

untuk diantar ke rumah sakit provinsi

38:51

sudah aman.

38:52

Sehingga kemudian saya telepon sudah

38:54

berangkat ke rumah sakit provinsi untuk

38:55

kontrol belum gak? Oh, sudah, Pak. Ya,

38:57

sudah. Saya pikir ini sudah clear, gitu

39:00

loh.

39:01

Jadi, dari tim LPA itu memang tidak ada

39:05

di baik di Rumah Sakit Bayangkara,

39:08

di rumah sakit provinsi, maupun di

39:11

bandara itu kami enggak tahu.

39:13

Kita tahunya baru sore hari.

39:14

Intinya, Pak, saya mau bilang Ibu Polda

39:16

dan Bapak Polda itu tidak melarang saya.

39:18

Sudah gitu. Sekarang saya mau tanya, Ibu

39:21

waktu mau berangkat ke Jakarta, Ibu mau

39:23

ee mau ke podcast saya itu Ibu tahu?

39:26

Iya, tahu.

39:27

Ibu kenapa mau ke Jakarta?

39:29

Kan kata Adi itu kalau kamu ke Jakarta

39:32

itu siapa tahu ada yang ngusulin buat

39:35

Devinnya berobat lebih baiklah seperti

39:37

itu.

39:38

Oh, untuk cari pertolongan.

39:39

Iya.

39:40

Oke. Terus untuk cari apa lagi?

39:43

Keadilan.

39:44

Iya. supaya ada yang bertanggung jawab

39:46

terhadap apa yang dilakukan sama Devin

39:48

sama Al begitu ya. Sudah semangat

39:50

berangkat tapi tidak jadi

39:52

balik lagi. Nah, pas balik lagi di rumah

39:54

sakit

39:56

cuma diobati tapi tidak ada apa-apa

39:59

lagi. Cuma begitu aja.

40:00

Oke. Sekarang kenapa Ibu bisa sampai di

40:03

Jakarta sekarang?

40:04

Jadi ee saya itu, Bang tahu perkara ini

40:09

tuh sebenarnya sudah dari bulan lalu.

40:10

Heeh.

40:11

Banyak sekali yang ngetag-ngetag kita

40:13

gitu. Coba. Nah,

40:15

akhirnya begitu kita mau telusurin, kita

40:17

sudah dapat berita bahwa Kapolda sudah

40:19

turun. Berarti kita agak lega dong.

40:21

Iya, saya juga dapat berita itu. Saya

40:22

pikir, "Oh, ya udah beres."

40:24

Udah beres kan gitu kan. Berarti ada

40:26

udah ada pertolongan lah gitu. Nah,

40:28

cuman ee dari beberapa investigasi yang

40:31

kami lakukan ada something nih yang kami

40:33

dapatin gitu loh, Bang. Kenapa kok

40:36

sekian bulan baru bisa terungkap ini

40:39

perkara gitu? Kenapa baru bisa ee

40:43

ditemui oleh teman-teman gitu, baik dari

40:45

LPA gitu kan, dari kepolisian. Nah, ini

40:48

kan yang menjadi tanda tanya kita kan.

40:49

Akhirnya kami komunikasi ee dengan

40:52

relawan-relawan. Nah, dapatlah informasi

40:54

yang seperti ini gitu bahwa

40:57

adik-adik ini dilakukan e tidak

40:59

diberikan pertolonganlah atau pengobatan

41:01

oleh Ponpes. E mereka ini dibakar secara

41:03

hidup-hidup. Itu yang awalnya kita

41:05

dapatkan. Oke.

41:07

Nah, kami kan mendengar dibakar secara

41:09

hidup-hidup ini kan

41:10

waduh ini kok bisa gitu kenapa. Nah,

41:13

singkat ceritanya saya mendapat

41:15

informasi lagi dari rekan-rekan media

41:16

juga memberikan informasi itu ke Pak

41:18

Hotman langsung.

41:19

Oke.

41:20

Akhirnya saya diperintah Pak Hotman hari

41:21

Kamis kemarin saya ee Rabu saya

41:24

berangkat

41:25

saya komunikasi nih

41:26

iya

41:26

gimana saya mau besuk nih adik-adik ini

41:29

bisa enggak nih?

41:30

Nah, dari pihak keluarga bilang enggak

41:33

boleh dibesuk begitu.

41:36

Kenapa ya kami dijaga ketat bahkan mau

41:38

besuk pun harus ngisi buku tamu.

41:41

Oke.

41:41

Nah, terus kita kan mikir loh kok kenapa

41:43

sih sampai segitu ketatnya? Apakah

41:45

karena kejadian kemarin nih yang mereka

41:47

pergi ke bandara eh mau pergi ke poes

41:49

tiba-tiba ke bandara.

41:50

Heeh. Nah, kan di sini nih yang

41:52

something wrong-nya kita enggak tahu

41:53

kenapa gitu. Akhirnya saya menunggu nih,

41:56

Bang. Saya menunggu kenapa kok kita

41:58

enggak boleh besuk gitu kan.

41:59

Iya.

42:00

Terus ah ribet Bu. Dipersulitlah enggak

42:02

bolehlah segala macam. Nah, saya coba

42:04

cari tahu nih LPA-nya mana nih. Saya mau

42:06

coba ngomong gitu.

42:06

Ketemu sama Mas Joko.

42:08

Nah, baru kemarin kita ketemu sama Mas

42:10

Joko tuh baru kemarin. Nah,

42:11

akhirnya hari ee Jumat saya ditelepon

42:15

sama Pak Habib. Eh, Pak Hotman telepon

42:18

saya bilang,

42:18

"Neh, Pak Habib Komisi 3 kan?"

42:19

"Iya, Pak Habib Burrahman ketua komisi 3

42:22

telepon saya,

42:23

"Lu datang cepat pokoknya enggak mau

42:25

tahu harus bisa lihat itu anak-anak gitu

42:27

kan."

42:28

Iya. Iya. Saya bilang, "Bang, saya ini

42:30

dari kemarin mau besuk tapi enggak

42:32

boleh." Katanya mereka ini tidak

42:34

diperbolehkan ada media, ada orang lain

42:37

selain orang tuanya yang menjaga di

42:39

situ, gitu.

42:41

Ken kenapa itu pertanyaannya? Ya, tapi

42:44

[berdehem] saya meluruskan sebenarnya

42:45

ketika

42:46

Bentar aku cerita dulu cerita dulu nanti

42:48

Pak Joko baru jawab. Ini kan ini yang

42:50

saya ketahui biar nanti Pak Joko ada

42:52

waktunya.

42:53

Ah, wajar dong kita bertanya-tanya

42:54

kenapa kok enggak boleh gitu kan. Nah,

42:56

saya tunggulah. Akhirnya Pak Habib

42:57

telepon saya ee Putri ee pokoknya ee

43:00

kamu besok ke Jakarta bawa ini korban

43:03

dan keluarganya. Terus saya bilang ee

43:05

Bang, saya bilang kan ini sudah ada LPA.

43:07

Enggak bisa. Pokoknya tetap harus ini

43:09

LPA-nya juga enggak komunikasi. Coba

43:11

hubungin LPA-nya siapa gitu kan. Saya

43:13

enggak tahu nih kalau misalkan sudah ada

43:15

komunikasi juga kan kemarin itu ya.

43:16

Bapak. Heeh. Ini dari versi Bapu

43:18

he nah. Terus akhirnya akhirnya kemarin

43:20

hari Jumat ya eh Sabtu. Sabtu, Sabtu

43:24

saya paksakan untuk datang gitu, saya

43:26

komunikasi ya. Faktanya juga di situ

43:27

saya memang ada beberapa tahapan yang

43:30

harus saya lalui.

43:31

Aku ada lihat videonya tuh.

43:32

Iya, gitu. Saya juga sempat,

43:34

mohon maaf ini ya, saya enggak tahu apa

43:36

maksud dan tujuannya karena biasa Abang

43:38

kan tahu kami juga biasa ngurusin

43:39

kasus-kasus kayak gini gitu kan.

43:41

Gak enggak ada protap yang sampai se

43:43

seketat ini menurut kami gitu kan ya.

43:46

Iya.

43:46

Ya biasa aja. Ini kan korban.

43:48

Apalagi ini kan korban, apalagi kayak

43:50

kami ini juga kan penggiat sosial, terus

43:52

kami juga Iya. Kami ini juga ee advokat

43:55

gitu kan, advokasi untuk anak-anak juga.

43:57

Nah,

43:58

saya sempat kesal sih kemarin, kenapa

44:00

sih kok ribet banget mau besuk doang

44:01

gitu kan. Saya sampaikan saya ini utusan

44:03

dari Pak Otman dan

44:05

utusan dari Pak Habib gitu. Saya ingin

44:07

bertemu dengan pihak

44:09

korban dan keluarganya gitu karena saya

44:11

diminta untuk membawa mereka dan

44:13

mengadvokasi mereka gitu. untuk apa?

44:17

Untuk memberikan bantuan hukum dan

44:19

memberikan keadilan, perlindungan

44:21

hukumlah untuk mereka gitu kan. Nah,

44:23

akhirnya saya menunggu dulu itu, Bang.

44:25

Ini jujur sejujur-jujurnya saya

44:27

sampaikan dan

44:28

kami merasakan juga memang dipersulit

44:31

masuk ya. Biasa kalau kita mau besuk ya

44:33

sudah langsung aja masuk bes

44:35

tapi kami harus menunggu dulu. Izin dulu

44:38

yang jaga itu. Sebentar Bu, saya izin

44:40

dulu. Itu yang di depan pertama.

44:42

Kemudian yang kedua saya masuk ke ruang

44:43

tengah. izin lagi nunggu lagi. Saya

44:46

sempat komunikasi saya bilang, "Ada apa

44:48

sih, Pak? Kok kami enggak boleh?" gitu

44:49

kan. Ee saya harus dapat izin dulu, Bu.

44:52

Kan dari pimpinan. Oh, kenapa harus

44:53

izin? Saya bilang, "Kan ini kami kan

44:55

orang jelas gitu kan, bukan juga kami

44:57

media. Kami ini membawa perintah loh,

45:00

gitu. Bawa amanah dari pimpinan gitu

45:02

kan. Saya tunjukkanlah isi WA-nya Pak

45:04

Habib ke saya, ke ee penyidik yang

45:07

kemarin ya, eh polisi yang jaga kemarin.

45:09

Iya. Heeh. Lalu beliau berkomunikasi

45:12

entah dengan siapa saya enggak tahu. Ee

45:14

akhirnya menunggu lagi. Menunggu katanya

45:17

pendamping yang memberikan izin.

45:19

Oke.

45:20

Terus saya tanya, "Emang pendampingnya

45:21

siapa?" LPA katanya gitu.

45:24

Lah saya bilang kalau kalau LPA kan

45:26

tentunya

45:27

ee bisa kolaborasi dong dengan kita gitu

45:31

kan. Kenapa kok

45:32

ya udahlah kita tunggu aja kami menunggu

45:34

itu.

45:34

Oh baru ketemu Mas Joko.

45:36

Belum ketemunya sih Bang Ian ya kalau

45:38

enggak salah ya.

45:38

Oh Bang Ian. ee satu timnya. Heeh. Nah,

45:41

Bang Ian pun menunggu dulu.

45:43

Oh, sama juga menunggu juga.

45:45

Jadi, Bang Ian turun kita ngobrol. Saya

45:48

tanya ee Bang ee kita boleh besuk? Iya,

45:51

saya ini ee menunggu dulu kan gitu. Saya

45:54

enggak tahu apa izin dulu atau gimana

45:55

saya enggak ngerti gitu kan. Heeh.

45:57

Intinya singkat ceritanya adalah

45:58

akhirnya kami diperbolehkan masuk.

46:00

Iya. Begitu kami masuk juga ke atas, itu

46:03

pun kami katanya disampaikan, "Bu, maaf

46:06

ya, nanti ee apa korban dibawa keluar

46:10

aja." Saya tambah bingung nih awalnya

46:12

nih ya, "Loh, kok dibawa keluar? Kan ini

46:14

sakit katanya gitu kan. Ini kan sakit

46:16

gitu kan, kenapa kami harus di depan

46:19

pintu gitu loh." Nanti mereka dibawa

46:21

keluar dengan alasan ruangan kamarnya

46:23

berantakan dan enggak enak. Loh, ya

46:25

enggak apa-apa namanya juga rumah sakit

46:27

gitu kan ruangan enak. Tapi akhirnya

46:28

mungkin ee dengan beberapa pertimbangan

46:31

akhirnya, "Oh, ya sudah masuk aja, Bu."

46:33

Tapi Ibu lihat dulu berkenan atau tidak.

46:35

Ya kan rumah sakit dong. Enggak mungkin

46:37

kami meminta tolong dirapikan, tolong di

46:39

kan enggak mungkin juga gitu.

46:40

Mungkin dia takutnya lu enggak suka

46:41

kotor-kotor mungkin [tertawa]

46:43

kita berpikir positif.

46:45

Iya. Tapi kan tapi kan ini rumah sakit

46:47

bukan rumah gitu loh yang. Dan saya juga

46:49

bukan siapa-siapa. Saya hanya saya saya

46:52

hanya dapat perintah dan saya memang ee

46:55

penggiat sosial juga, penggiat anak-anak

46:57

juga gitu kan. Ya udah kita tahu itu

46:58

kondisinya rumah sakit gitu mau dia

47:01

busuk, mau dia bau mereka tuh ya kita

47:03

harus terima dong gitu karena kita

47:04

datangnya ke rumah sakit.

47:06

Akhirnya begitu kami masuk ya saya lihat

47:08

kondisi anak-anak ini happy-happy aja

47:11

gitu loh.

47:11

Lagi ditanganin apa gitu. Eh, enggak.

47:14

Kalau si Devin malah lompat dari tempat

47:17

tidur ya kemarin [tertawa] ngelihat

47:19

ketawa-ketawa gitu.

47:21

Saya bilang, "Loh, ini sehat nih Devi

47:22

enggak ngapa-ngapain gitu kan."

47:24

Enggak gitu kan. Malu-maluah dia bicara.

47:27

Nah, kalau Al memang saya lihat lagi

47:29

masih ada terpasang infus dan lagi

47:30

dibersihkan kayaknya lukanya gitu. Nah,

47:32

dari situlah

47:33

oke

47:34

ya jujur kata sih, Bang ya. Saya

47:36

merasakan ada sedikit kejanggalan

47:40

menurut kami ya, karena bukan saya

47:41

sendiri gitu yang melihat. Kenapa harus

47:44

melalui ee lapis berlapis gitu loh

47:46

pemeriksaan ini? Kan ini korban loh

47:48

gitu. Dan

47:49

kalau dikatakan harus mendapatkan

47:52

perawatan intensif ya kenapa juga

47:53

malamnya pergi ke mall gitu kan. Kita

47:55

kan jadi kita nih kan dapat

47:57

Iya. Paham paham orang bisa berburuk

47:59

sangka jadinya.

47:59

Nah, akhirnya kan kita bisa berburuk

48:01

sangka. Akhirnya kita tahu informasi

48:03

bahwa si itu nangis pengin pulang lagi.

48:06

Mungkin jenuh dia di rumah sakit seperti

48:08

tadi yang dia sudah konfirmasi jenuh di

48:10

rumah sakit. Cuman kan ini tadi yang

48:11

saya katakan kenapa mesti dibawa ke mall

48:14

ini kan masyarakat ini kan ini berita

48:16

lagi viral nih

48:17

habis di akhirnya kan enggak keru-keru

48:20

jadi simpang siur.

48:21

Nah simpang siur kan. Jadi akhirnya

48:23

orang berasumsi

48:24

agak ketat sama Polda itu

48:27

1 2 3 4

48:32

Coba saya diluruskan coba

48:34

begini pertama sebenarnya ee kaitannya

48:38

dengan kenapa dia dibawa ya tadi sudah

48:40

saya sampaikan ada niat baik dari Pak

48:43

Kapulah sebenarnya kita juga kalau

48:44

berbicara terhadap kesnya gitu ya ini

48:49

bukan pesantren besar

48:50

iya

48:50

ya

48:51

pesantren yang ya maaf ya kalaupun

48:55

standarnya itu sangat sangat rendah,

48:57

Mas. Saya tanya ke anak-anak ini kalau

48:59

malam tidurnya gimana?

49:01

Di mana ada tikar di situ

49:03

tempat tidur.

49:04

Tempat tidur.

49:05

Heeh.

49:06

Heeh. Pesantren bagus.

49:07

Kemudian anak-anak di situ ya memang

49:10

rata-rata dari keluarga yang tidak

49:12

mampu termasuk keluar si

49:15

maaf ya si Rehan itu. Jadi

49:19

itu dari sisi dari sisi pondoknya. Jadi

49:22

ini pondok yang sebenarnya kalau

49:23

dibilang ada segala macam insyaallah

49:25

enggak ada.

49:25

Iya.

49:25

Heeh. Kemudian yang kedua pada

49:27

berarti tidak ada isu kan ada isu

49:29

katanya ada backingan gubernur lah, ada

49:31

backingan bupati lah, ada backingan

49:33

apalah.

49:35

Saya meyakini itu enggak dan

49:36

yakin itu tidak ada.

49:37

Saya yakin enggak karena memang dari

49:39

sisi tadi ini pondok pesantren, pondok

49:42

pesantren kecil di Lombok itu sangat

49:45

kecil. Jumlah santrinya pun enggak

49:47

nyampai

49:48

50-an.

49:49

40 orang. 40 orang

49:50

40. Bentar sebelum dilanjut, tapi pernah

49:52

diancam enggak?

49:53

Maksudnya

49:54

diancam sama Ponpes atau diancam sama

49:56

orang supaya jangan panjangin kasus ini?

49:59

Gak pernah.

50:00

Gak pernah. Ibuak

50:02

pernah diancam? Enggak

50:04

pernah.

50:04

Ancaman sih enggak ada, Pak. Cuman

50:06

larangannya aja itu.

50:07

Larangan. Ibu ada. Ibu pernah diancam?

50:10

Iya, pernah.

50:10

Pernah.

50:11

Pernah diancam apa?

50:14

Jangan lapor.

50:15

Jangan lapor.

50:16

Sama siapa?

50:18

Ketua POMPES.

50:19

Ketua PPESnya. Ketua Pompes kalau ibu

50:22

lapor kenapa emang dia bilang apa?

50:25

Pokoknya ngelapor

50:28

pokoknya kalau dia enggak mau ngobatin

50:30

gak mau tanggung jawab jangan ngelapor

50:34

kalau ibu ngelaporin lapor wah ngelapur

50:36

lagi. Wah diin mati muka laporan.

50:39

Heeh. Ya ngelapor.

50:41

Kalau ibu ngelapor kakak kan

50:45

ngelapor

50:46

apa?

50:47

Kata ibunya kakaknya juga itu yang

50:49

larang dia yang lapor.

50:50

Iya. Iya. Yang pertama yang kakak tiri.

50:52

Kakak tiri. Kakak tiri si Sobirin.

50:54

Sobirin.

50:54

Oke. Oke. Jadi itu

50:56

clear tuh ya. Lanjut.

50:58

Iya. Jadi kalau ada backingan kok saya

51:02

tidak meyakini itu.

51:03

Iya.

51:03

Karena ini saya juga sebenarnya kalau

51:05

kesosu pesantren saya tadi sudah sempat

51:06

cerita.

51:07

Heeh. 4 tahun terakhir ini ada sekitar

51:10

20-an pondok pesantren.

51:11

Itu yang kekerasan seksual aja.

51:13

Oh, yang Bapak tanganin.

51:14

Iya. Nah, tapi ini adalah salah satu

51:18

pondok pesantren yang paling kecil yang

51:19

saya tangani dalam artian ee sisi dari

51:22

sisi apa

51:23

maksudnya kemungkinan kalau ada orang di

51:26

belakangnya itu kecil

51:27

kecil gitu dibandingkan yang lain gitu

51:29

ya. Kemudian yang kedua, ketika kemudian

51:32

ini penanganan sudah akhirnya viral ya

51:35

itu kan kemudian

51:36

kepolisian yang memang duluan ke

51:40

pada saat dibuat laporan

51:42

di bulan Juni

51:43

Heeh.

51:43

tanggal 11 tanggal

51:45

tanggal tanggal 4 [berdehem]

51:47

itu bukan dari keluarga korban yang

51:50

lapor ke polisi,

51:52

tetapi memang polisi yang

51:54

datang tanggal 3

51:56

karena sudah viral

51:57

karena sudah viral. viral di awal ya.

51:59

Viral yang awal yang di awal Juni itu.

52:01

Nah,

52:02

iya iya.

52:03

Kami kemudian memang surat kuasa itu di

52:05

tanggal 11 Juni.

52:07

11 Juni ya.

52:07

Meskipun sebelumnya kami sudah datang

52:10

dulu ketika awal-awal belum banyak yang

52:12

datang ke Devin karena semua waktu itu

52:15

ada di Al.

52:16

Iya.

52:17

Yang viral itu adalah Al.

52:18

Oh, Al yang viral awalnya.

52:20

Al Devin

52:21

belum nongol?

52:22

Belum. Jadi orang yang datang itu

52:23

rata-rata ke tempatnya

52:25

Al, tidak ke tempatnya Devin. Padahal

52:27

saya lihat memang wah ini Devin

52:29

iya lebih parah karena kalau yang al

52:33

waktu itu karena belum sembuh masih

52:36

basah semua

52:38

waktu pertama kali saya datangah

52:41

untuk pergi ke mana-mana pakai arco.

52:43

He.

52:44

Karena gak ada kursi

52:45

roda

52:46

roda. Kemudian tambah dia ee viral kan

52:51

ini kemudian

52:53

al dibiayai oleh Bupati Lombok Tengah.

52:56

Oh dibiayain

52:59

untuk operasi sekali

53:01

tapi hanya operasinya saja.

53:03

Sekali oke

53:03

kontrolnya enggak

53:06

itu tanggung jawab bupati enggak

53:07

harusnya. harusnya. Oke. Kan

53:10

undang-undang kesehatan sebenarnya

53:11

ngatur ya bahwa rehabilitasi medis

53:14

korban tindak pidana menjadi tanggung

53:15

jawab pemerintah psikologi semua

53:17

pemerintah daerah gitu loh. Tapi ini

53:19

enggak terjadi

53:20

sampai selesai.

53:21

Harusnya harusnya kalau negara hadir.

53:23

Kalau negara hadir.

53:25

Nah, ketika kemudian ini kontrol dua

53:27

kali kalau enggak salah R00.000 bayar

53:29

R500.000.

53:31

Oke. Itu semua kemudian kami tutup di

53:34

apa? Penjaminan.

53:35

Heeh. termasuk kami sudah mengingatkan,

53:38

oke nanti soal yang biaya yang awal yang

53:40

mau ditanggih oleh BPJS jangan

53:42

ditagihkan ke

53:44

korban. Nah, tagihkanlah kami di

53:47

LPA. Heeh.

53:49

Kasus berjalan masih tetap viral.

53:51

Kemudian tadi masuklah Pak Kapolda

53:54

karena lihat kok lakukannya ini kok

53:55

enggak beres-beres

53:56

sungguh-sungguh. Akhirnya

53:59

dibawalah dia ke Rumah Sakit

54:01

Bayangkara.

54:01

Bayangkara.

54:02

Oh, itu yang Kapolda datang ke tempat

54:04

kalian. Iya, ibu ini untuk bawa ke

54:07

rumah. Berarti Kapolda ini punya

54:09

inisiatif yang baik sebenarnya.

54:11

Inisiatif untuk

54:12

Heeh.

54:13

mengobati.

54:13

Mengobati.

54:14

Mengobati.

54:16

Masuk di sana. Kemudian

54:19

terjadilah pertama kalau dibilang ini

54:22

menghalangi pada saat ibu ini masuk saya

54:25

masih lihat ada yang buat konten juga

54:27

kok enggak ada masalah.

54:28

Heeh.

54:29

Nanti bisa ditanyakan. Iya.

54:31

Artinya yang memvideokan di di dalam

54:34

bangsal itu ada.

54:35

Iya. Awalnya fine-fine aja.

54:37

Iya. Baik-baik saja. Enggak ada masalah.

54:40

Semua masuk juga enggak ada yang

54:42

melarang.

54:43

Dilarang.

54:44

Enggak ada.

54:44

Iya.

54:45

Sampai kemudian

54:46

mau ke Jakarta

54:47

besoknya mau Jakarta ke tempat saya

54:49

ke tempatnya Mas

54:51

ke podcast kemudian baru

54:53

baru berubah. Berubahnya dalam artian

54:56

kok begini. Nah, kita ditanya mau tetap

54:59

di sini atau

55:01

gimana?

55:02

Nah, itu pertanyaannya kenapa itu yang

55:04

tidak terjawab gitu loh. Gimana Mbak

55:06

Put? [tertawa]

55:07

Kalau kami kan melihat apa yang

55:09

dilakukan oleh pihak kepolisian ini kan

55:11

sudah baik sebenarnya niatnya kan juga

55:13

baik. Cuman kan yang menjadi pertanyaan

55:16

kami

55:17

kenapa harus melalui beberapa tahapan

55:21

SOP dan lain sebagainya ya. Itu tadi

55:23

kata Pak Joko kan karena untuk ee izin

55:25

berobat dan lain sebagainya. Tapi kan

55:27

faktanya yang kami lihat sampai hari ini

55:29

pun belum ada upaya lainnya.

55:32

Okeah kan gitu.

55:33

Saya ingin cerita kenapa kemudian

55:34

akhirnya datang ke sini

55:36

malam setelah kejadian saya telepon Mas

55:39

apa di apa kontekan kemudian teleponan.

55:41

Iya. Oh teleponan Mas.

55:43

Iya saya sampaikan enggak ada maksud

55:45

kita untuk me

55:46

menghentikan

55:47

menghentikan. Bahkan kalau umpamanya

55:48

memang betul kita tahu bahwa mau datang

55:52

ke Mas Hensu, saya juga akan memberikan

55:55

enggak ada masalah. Tapi kami juga tidak

55:57

terkomunikasikan sebagai kuasa hukum.

56:00

Nah, saya ngelihatnya di kasus ini

56:02

sebenarnya adalah miskomunikasi soal

56:04

koordinasi ini gitu loh.

56:06

Kami sebagai kuasa hukum pun tidak tahu

56:08

kalau mau pergi ke

56:09

mungkin mungkin gini. Kita juga enggak

56:13

boleh mengenyampingkan para teman-teman

56:15

contonten kreator. Kalau tidak ada

56:16

mereka ini tidak terup loh.

56:18

I itu setuju.

56:19

Itu yang pertama ya. Kita juga enggak

56:20

boleh sejak awal juga mereka loh yang

56:23

mengantarkan ini ke dokter ya pakai itu.

56:26

Nah, itu yang harus juga

56:27

itu ada si Adi

56:29

Iya. Adi itu yang selalu membantu.

56:31

Adi selalu membantu sama ada satu lagi

56:33

gak tahu kalau Devin cuman

56:36

kalau Devin tahunya hanya Adi

56:38

gitu. itu baru

56:40

tapi si Adi itu betul-betul dia bantu.

56:42

Iya. He.

56:42

Oke.

56:43

Nah, saya enggak tahu apakah dari

56:46

teman-teman kepolisian ini merasa ada

56:49

berita yang mungkin kurang enak

56:51

seolah-olah mereka tidak cepat tangga

56:54

terhadap adanya kejadian ini gitu.

56:56

Nanti kesannya mereka lagi yang salah.

56:58

I mungkin mereka lalai dan lain

57:00

sebagainya. Kan itu yang ada asumsinya

57:01

di tengah masyarakat. Jadi mungkin

57:03

mereka tidak memberikan izin ya karena

57:06

itu tadi gitu.

57:06

Menghindari

57:07

ah mungkin menghindari asumsi-asumsi

57:10

buruk di luar.

57:11

Iya. Padahal sebenarnya kalau kita

57:12

runut, maaf aku potong dikit. Ini kan

57:14

laporan ternyata baru masuk di Juni,

57:17

bukan dari Desember.

57:18

Berarti tidak ada waktu ee pembiaran.

57:22

Cuman memang investigasinya harusnya

57:24

bisa dari awal itu tidak terjadi. Oke.

57:26

Tahan dulu. Betul. Juni ke Juli ini

57:29

langsung Kapolda turun nih

57:31

ya kan karena sudah viral Kapolda turun

57:33

dia langsung bawa ke rumah sakit

57:35

atas ee arahan beliau berarti kan ada

57:38

ada niat baiknya ini semuanya oke. Nah

57:41

setelah itu mereka mau berangkat ke

57:44

Jakarta. Menurut aku yang menjadi

57:46

miskomnya hanya di bandara itu kenapa

57:48

diop?

57:49

Jadi kalau saya ngelihatnya memang

57:51

karena ini tidak terkomunikasi tadi.

57:53

Kami pun sebagai [berdehem]

57:55

apa ee kuasa hukum

57:57

Iya. juga enggak tahu. Sehingga akhirnya

57:59

kemudian komunikasi ini buntu. Ketika

58:01

semua buntu tadi semua saling berasumsi.

58:04

Iya. Jadi jelan berasumsi begini mungkin

58:07

dari apa teman-teman content kreator

58:10

asumsinya juga begini. Mas

58:11

Deng juga mungkin asumsinya juga lain.

58:14

Kalau saya sih waktu itu lebih saya

58:16

tidak berasumsi saya lebih bingung

58:18

bukannya sudah diokekan tapi kenapa

58:20

tidak jadi?

58:21

Itu yang saya bingung karena

58:23

tiket sudah dibeli kan.

58:24

Iya. Karena kalau saya pribadi waktu itu

58:26

kan ee sudah belikan semua tiket.

58:28

Menurut saya kalau memang enggak mau

58:30

meninggal uang ya saya kasih ke mereka.

58:32

Heeh.

58:32

Betul.

58:32

Daripada hangus tiket dan akomodasinya.

58:34

Ngerti kan maksudnya?

58:35

Saya tanya ke Ibu ini, Pak.

58:36

Heeh.

58:37

Ibu tahu enggak sudah dibeliin tiket?

58:39

Tahunya sudah ketika di bandara apa di

58:41

rumah sakit katanya.

58:42

Gak dikasih tahu juga sama Adi itu waktu

58:44

di Bayangkara itu. Tapi kan sayanya yang

58:47

bingung. Seperti kata tadi adinya bilang

58:50

udah diizin terus paginya ibu dan bapak

58:53

Polda itu kasih pertimbangan

58:55

ya seperti itu.

58:56

Tiba-tiba diop di bandara. [tertawa]

58:58

Jadi penjelasan ke Ibu ini juga tidak

59:01

tuntas sehingga kemudian ibu ini juga

59:03

bingung ini mau ke sini gimana, mau ke

59:05

sana juga gimana.

59:06

Iya. Iya.

59:07

Dan sampai hari ini

59:09

penyesalannya ibu ini ada di situ. Jadi

59:12

paham. Paham.

59:13

Iya kan? Jadi dihujat-hujat itu sama

59:15

kontennya Adi juga itu saya. Iya. Saya

59:19

kan bilang tidak bukannya saya bilang

59:21

tidak pernah dikasih tahu. Cuma saya

59:24

bilang saya pikir setelah Ibu Polda

59:28

kasih pertimbangan jadi gak boleh itu

59:31

adinya dikasih tahu

59:34

komunikasi antara siapa yang berhak dan

59:36

tidak berhak memberikan izin dan segala

59:37

macamnya. Ini sebenarnya kalau menurut

59:40

saya ee enggak pantas sih kalau

59:43

seandainya Bapak dan Ibu Kapolda

59:45

memberikan pertimbangan lebih memikirkan

59:47

kesehatan

59:49

Devin atau pergi ke Jakarta. Ini

59:51

konteksnya apa? Itu loh pertanyaan saya.

59:54

Kan mereka ini orang yang tidak mengerti

59:57

loh, Bang. Orang yang tidak mengerti

59:58

mana langkah yang harus mereka ambil ya

1:00:01

kan. Tah harusnya dijelaskan dulu nih

1:00:05

kepentingannya pergi untuk ke Densu apa

1:00:07

itu dulu. Apakah memang kan sudah dapat

1:00:11

nih keadilan nih misalkan kepolisian

1:00:12

sudah mengambil alih

1:00:14

kasus ini toh

1:00:16

gitu. Nah, pertanyaan saya lebih dulu

1:00:18

mana yang menghubunginya? Apakah

1:00:20

Kapoldanya lebih dulu ataukah adinya

1:00:22

dulu yang sudah komunikasi lebih dulu

1:00:24

nih dengan Bang Densu?

1:00:25

Adiknya dulu sudah komunikasi.

1:00:26

Nah, kan itu nih yang itu menurut saya

1:00:28

ya.

1:00:28

Adiknya dulu sudah komunikasi sama kita.

1:00:30

Betul ya?

1:00:30

Iya. tadi itu ini kan yang menjadi

1:00:33

objeknya.

1:00:34

Aku tahu dikit aku buka dikit ya.

1:00:36

Adi itu sudah komunikasi sama kita

1:00:37

sebelum Kapoli datang menemui mereka.

1:00:39

He.

1:00:40

Jadi pada saat Adi komunikasi sama kita,

1:00:42

kita tuh lagi mempertimbangkan langkah

1:00:44

buat mereka ke Jakarta.

1:00:46

Hm.

1:00:46

Setelah itu berapa hari kemudian

1:00:48

Kapoldenanya datang.

1:00:49

Nah, setelah Kapolda datang, kita

1:00:51

mengurungkan niat kok untuk bawa mereka

1:00:53

ke Jakarta. Karena kami pikir itu sudah

1:00:55

ditangani oleh Kapolda.

1:00:57

Jadi kami tidak, kami pikir udah enggak

1:00:58

usah ke Jakarta. Kapolda sudah turun

1:01:00

tangan. Tapi berapa waktu Adi

1:01:02

menginformasikan kepada kita, mereka itu

1:01:03

di rumah sakit itu enggak ngapa-ngapain.

1:01:05

Enggak ngapa-ngapain. Benar. Ya, ini

1:01:08

yang direasikan itu karena memang itu

1:01:11

sedang kita sedang mempersiapkan awalnya

1:01:13

ini untuk kemudian operasi itu. Itu yang

1:01:16

sudah disampaikan bahwa ini persiapan

1:01:18

untuk operasinya Devin. [tertawa]

1:01:21

Nah, ini semuanya tadi saya ngelihatnya

1:01:23

gini semuanya punya niat baik tetapi

1:01:26

kemudian komunikasi teman-teman ini

1:01:29

enggak enggak sama gitu. Anggap saja

1:01:31

semuanya benar. Cuma kan permasalahannya

1:01:35

adalah yang membuat kita itu ee

1:01:39

tahu beritanya itu kan dari si content

1:01:42

creator dan kemudian dia yang ngawal

1:01:45

dari belum ada siapa-siapa ibaratnya

1:01:47

yang

1:01:48

polisi dan segala macam dan aku pun

1:01:49

belum ada gitu kan. LPA pun belum ada.

1:01:51

Oh enggak enggak LP saya sama Adi

1:01:54

mungkin duluan kita ya Bu ya.

1:01:56

Iya.

1:01:57

Nah iya Adi sama Bapak siapa yang

1:02:00

duluan? Oh, katanya Adi. Katanya

1:02:02

Don Adi. Don Adi.

1:02:04

Iya.

1:02:05

Saya bukan membela teman-teman konten

1:02:06

ya. Maksudnya gini kita kita maksudnya

1:02:08

kita meluruskan dulu supaya gini

1:02:11

teman-teman konten juga tidak berasumsi

1:02:13

buruk dengan pihak-pihak lain. Saya

1:02:15

datang sini meluruskan aja gitu ya. Nah,

1:02:17

maksud saya kalau memang Ibu tahu Adilah

1:02:21

yang duluan memberikan bantuan,

1:02:24

tentunya harusnya Ibu juga berpikir,

1:02:26

"Oh, ini loh Adi loh yang berperan lebih

1:02:28

awal membantu kami membawa bahkan

1:02:31

membawa Devin pakai apa tuh namanya tuh?

1:02:33

Ee gerobaklah gitu. Heeh.

1:02:35

I mendorong

1:02:36

enggak? Kalau Devin bisa jalan.

1:02:37

Eh, bukan Devin siapa?

1:02:38

Si A.

1:02:40

Oh, ya. Enggak tahulah pakai apalah itu.

1:02:41

Nah, nah maksud saya

1:02:43

mungkin niat dari teman-teman ini kan

1:02:45

baik nih menggalang menggalang berdana

1:02:48

karena dilihatnya tidak ada bantuan dari

1:02:51

pemerintah daerah. Itu dulu yang

1:02:52

pertama. Iya.

1:02:54

Terus yang kedua tidak ada bentuk

1:02:55

perhatian dari pondok pesantren.

1:02:58

Iya kan? Ketika mereka ini kan punya

1:03:01

hati berarti teman-teman ini bagaimana

1:03:03

caranya. Apalagi ibarat kata kita punya

1:03:06

LPA. LPA ini kan harusnya bisa membawahi

1:03:08

dan bisa mengecek dong.

1:03:10

Iya. LPA LPA sudah hadir. Sebelum itu LP

1:03:13

tapi dia tidak bisa menekan pemerintah

1:03:15

daerah.

1:03:15

Nah, enggak sebelumnya kan LP belum

1:03:16

hadir, Bang.

1:03:17

Heeh.

1:03:18

Kan ini kan naik dulu karena contonten

1:03:19

kreator.

1:03:20

Iya. Iya.

1:03:21

Iya. Kan mereka memvideokan, memviralkan

1:03:23

karena apa? Mencari bantuan bagaimana

1:03:25

anak ini bisa dapat keadilan.

1:03:26

LPA datang.

1:03:27

Nah, barulah LPA datang.

1:03:28

Enggak bisa disalahkan juga LPA kan

1:03:30

karena kan itu kan informasi informasi.

1:03:33

He

1:03:33

kan LPA juga hanya punya batasan dan

1:03:35

enggak bisa juga memerintahkan. Bupati

1:03:37

bantu dong operasi kan enggak bisa juga

1:03:39

gitu kan. Nah, maksud saya di sini ini

1:03:42

kan

1:03:43

mungkin tidak ada ada penyampaian tidak

1:03:46

pas antara teman-teman yang sudah lebih

1:03:48

dulu membantu dan di satu sisi ibu ini

1:03:51

juga tidak mengerti saya harus ikut yang

1:03:53

mana.

1:03:53

Betul

1:03:54

kan gitu. Iya.

1:03:56

Nah, tetapi seharusnya bagi bagi pihak

1:03:59

kepolisian kemudian Bapak apa Pak Joko

1:04:02

harusnya duduk bers panggillah si Adidi.

1:04:05

Ini kan sudah kami tanganin sudah terima

1:04:07

kasih banyak nih kita sudah di dibuka

1:04:10

lah gitu maksudnya

1:04:10

diberikan informasi diberikan informasi

1:04:14

kalau tidak begini kan kita tidak tahu

1:04:15

nih noal no justice kan gitu kan. Nah,

1:04:18

itu sih yang tidak terjalin dengan baik.

1:04:20

Akhirnya informasinya miss, ke mana-mana

1:04:22

miss.

1:04:23

Jadi kalau yang yang terjadi yang tadi

1:04:24

itu yang saya sampaikan. Jadi semua

1:04:27

punya niat baik tetapi kemudian tidak

1:04:29

terkomunikasikan.

1:04:31

He.

1:04:31

Dan yang bingung adalah

1:04:33

i

1:04:34

ibu ini.

1:04:35

Nah, ini yang sekarang terjadi.

1:04:36

Nah, ini baiknya podcast ini hari ini

1:04:38

kan jadi lurus. Jadi, jangan kusut.

1:04:40

Karena menurut aku, kalau aku pribadi

1:04:42

sebenarnya enggak masalah. Ketika mereka

1:04:43

enggak nyampai ke Jakarta. Timku kan

1:04:45

nanya ke aku, "Bang, ini enggak jadi

1:04:47

loh, enggak apa-apa. Kalau buat saya

1:04:49

pribadi sebagai pemilik podcast, saya

1:04:52

akan mendukung langkah-langkah polisi

1:04:55

untuk membantu mereka memperoleh

1:04:57

keadilan." Kayak kemarin sudah ada

1:04:58

penetapan tersangka dan lain-lain. Buat

1:05:00

saya itu keren banget. Yang kedua,

1:05:03

bagaimana penanganan untuk ee luka

1:05:05

mereka? Saya enggak peduli dia mau

1:05:07

datang ke podcast saya, hadir podcast

1:05:09

saya. saya enggak penting itu. Tapi

1:05:11

kalau itu ditanganin buat saya itu jauh

1:05:13

lebih penting.

1:05:14

Ya. I

1:05:14

kan gitu kan. Itu poinnya semua. Pasti

1:05:16

juga Mbak Putri juga gitu

1:05:18

ee Mas Joko juga gitu. Nah, sekarang

1:05:21

semua kita kembalikan kepada

1:05:23

Ibu. Ibu sekarang kan sudah duduk di

1:05:26

sini.

1:05:27

Iya.

1:05:27

Apa yang Ibu mau dari semua ini?

1:05:30

Yang saya mau anak saya dapat pengobatan

1:05:32

yang baik sudah mendapat

1:05:35

Iya. Dan mendapatkan mendapatkan juga

1:05:37

itu keadilan.

1:05:38

Keadilan.

1:05:38

Iya. Siapa yang Ibu menurut Ibu harus

1:05:40

bertanggung jawab keadilan ee dari

1:05:43

pelaku ini? Siapa?

1:05:44

Dua-duanya

1:05:45

siapa aja?

1:05:47

Ketua Pompe sama si Rehan.

1:05:50

Si Rehan.

1:05:51

Menurut Ibu mereka harus bertanggung

1:05:52

jawab.

1:05:53

Iya.

1:05:54

Rehan karena ada di lokasi seperti

1:05:56

cerita tadi ketua Ponpes karena

1:05:59

kelalaiannya.

1:05:59

Kelalaiannya

1:06:01

supaya orang lain belajar.

1:06:02

Iya.

1:06:03

Begitu ya.

1:06:04

Kalau Ibu

1:06:05

Ibu kan maaf ya

1:06:07

sudah kehilangan anak.

1:06:09

Maaf. Eh, mungkin ini waktunya

1:06:11

mencurahkan hatinya ibu di sini.

1:06:17

Siapa

1:06:19

ken

1:06:21

tuan guru.

1:06:26

Kurang layak sekolahan paselend

1:06:31

juta pak.

1:06:32

Tidak tahu ada denda. Ibu kalau masih

1:06:35

ada sesak di hati masih ada marah tidak?

1:06:38

Masih.

1:06:38

Masih ada

1:06:40

ke siapa?

1:06:41

Tuan guru.

1:06:43

Tuan guru. Guru

1:06:44

kenapa kayak berkeluarga tuan guru. I am

1:06:49

sak

1:06:51

lalapur jarin.

1:06:53

Dilarang melapor karena masih keluarga.

1:06:56

Tapi ya ibaratnya tadi bohongin gitulah

1:06:58

ya.

1:07:00

tapi ternyata enggak diobatin itu yang

1:07:02

bikin sampai anaknya meninggal akhirnya

1:07:05

begitu. Itu poinnya ya berarti ya sudah

1:07:08

jelas semua ya.

1:07:09

Oke. Kalau kamu

1:07:11

kamu mau apa sekarang? L

1:07:14

saya mau sembuh.

1:07:15

Pengin sembuh ya. Kamu susah jalan ya.

1:07:20

Kamu sedih enggak lihat kondisi kamu

1:07:21

sekarang?

1:07:22

Sedih.

1:07:22

Sedih. Ibu kan enggak ikut ya. Kamu

1:07:25

pengin ngomong apa sama ibu? Heeh.

1:07:29

Ibu kuat-kuat gitu. Heeh.

1:07:31

Pengin ngomong apa?

1:07:34

Ee

1:07:37

kuat-kuat ya, Ibu gitu.

1:07:39

Kuat.

1:07:41

Semoga Ibu dan Bapak sehat.

1:07:44

Sehat ya?

1:07:45

Iya.

1:07:46

E lagi berjuang ini ya?

1:07:47

Berjuang untuk saya pintaran.

1:07:50

Oke. Malu.

1:07:52

Kalau Devin, Devin maunya apa sekarang?

1:07:56

Maunya cepat-cepat sembuh.

1:07:58

Cepat-cepat sembuh. Ya.

1:07:59

Yang mana yang Devin pengin sembuh

1:08:01

duluan?

1:08:02

Tangan.

1:08:02

Yang mana itu?

1:08:04

Yang tangan sebelah mana?

1:08:05

Devin.

1:08:06

Yang kanan ini ya.

1:08:07

Devin malu ya?

1:08:10

Devin malu ya?

1:08:12

Siap.

1:08:12

Karena tadinya enggak kenapa-napa tapi

1:08:14

kondisinya begini ya.

1:08:17

Devin pengin sembuh ya. Ya udah kalau

1:08:19

gitu kita doakan semoga kalian bisa

1:08:22

dapat pengobatan secepatnya dengan

1:08:24

datang ke sini Tuhan bukakan semua jalan

1:08:26

buat kalian.

1:08:27

Amin.

1:08:27

Nanti juga akan dibantu sama Mas Joko

1:08:30

sama Mbak Putri.

1:08:32

Rencananya mau ke Komisi 3 ya.

1:08:34

Dibantu Pak Habibu di sana supaya kalian

1:08:37

bisa memperoleh ee keadilan itu nomor

1:08:40

satu. Terus kemudian ada yang bisa bantu

1:08:42

untuk biaya pengobatan kalian ini.

1:08:45

Nanti terang itu nanti akan datang.

1:08:47

Amin. Amin.

1:08:48

Ya,

1:08:49

itu aja ya.

1:08:50

Iya.

1:08:50

Ada yang mau ditambahkan?

1:08:51

Ee mungkin gini, [berdehem] pesan untuk

1:08:54

pihak kepolisian. Kami kan melihat ee

1:08:57

pasal itu yang diterapkan hanya pasal

1:08:59

kelalaian saja.

1:09:00

Heeh.

1:09:01

Tapi kemarin kami sudah pelajari bahwa

1:09:03

ada pasal yang dengan sengaja melakukan

1:09:05

atau menghidupkan membakar.

1:09:07

Heeh.

1:09:07

Nah, harusnya pasal itu diterapkan tidak

1:09:09

hanya berdasarkan pasal kelalaian saja

1:09:11

karena itu ancamannya hanya 5 tahun,

1:09:12

Bang.

1:09:13

Iya. Tapi kalau barang siapa dengan

1:09:15

sengaja menghidupkan api kemudian

1:09:17

menimbulkan luka dan menimbulkan

1:09:19

celakalah gitu ya, itu ancamannya sampai

1:09:21

9 tahun, Bang. Dan menurut kami kalau

1:09:24

hanya itu saja yang diberikan hukumannya

1:09:28

itu enggak [mendengus] setimpal untuk

1:09:29

satu yang meninggal, kemudian yang kedua

1:09:31

anak-anak ini sudah cacat permanen.

1:09:32

Iya.

1:09:33

Kayak gitu ya. Terus yang kedua,

1:09:35

kepastian hukum terhadap ee pelaku.

1:09:39

Kenapa kami katakan kepastian hukum?

1:09:41

Statusnya apa? ditahankah

1:09:44

atau dibantarkankah atau apa?

1:09:47

Tadi saya dapat video

1:09:49

pimpinan Pompe sakit tidak ada alasan

1:09:53

dan sebelumnya dari kepolisian kan sudah

1:09:56

ada rilis bahwa tidak ditemukan alasan

1:09:59

apapun untuk menjadikan saya sebagai

1:10:03

tersangka. Ya, jadi ketidakadilan ini

1:10:08

harus kami lawan. ada videonya nih.

1:10:10

Tapi kan harus ada kejelasan dulu, Bang.

1:10:12

Beliau sakit dia.

1:10:13

Walaupun dia sakit, statusnya harus

1:10:15

jelas, Bang.

1:10:17

Kenapa jelas diatur di kuha baru, Bang?

1:10:21

Setiap yang tersangka itu harus

1:10:22

diperjelas dulu statusnya. Kalaupun dia

1:10:24

sakit, kalaupun dia sebagai tersangka,

1:10:27

ya ditahan dulu baru nanti dia

1:10:29

dibantarkan.

1:10:30

Hm.

1:10:31

Itu aturannya.

1:10:32

Tapi sakit tadi videonya.

1:10:33

Iya. Ya. Tapi si Rehannya itu gak sakit,

1:10:35

Pak.

1:10:35

I

1:10:35

Rehannya gak sakit. Ya, di mana

1:10:37

posisinya Rehan sekarang? Iya, justru

1:10:39

itu yang tidak ditek diitu kita belum

1:10:41

tahu kalau yang kan apa LP juga memantau

1:10:44

ya

1:10:44

ee anaknya masih di Lombok Tengah

1:10:46

masih ada.

1:10:47

Heeh. Cuman terbentur karena pasal tadi.

1:10:50

Pasalnya kan tempat itu kan hanya 5

1:10:52

tahun.

1:10:53

Undang-undang SPPA tidak membolehkan ada

1:10:55

penahanan. Ini yang jadi

1:10:56

tapi dia setidaknya bisa dititipkan.

1:10:58

Iya gitu.

1:10:59

Iya bisa dititipkan atau dikembalikan

1:11:00

[berdehem] pada orang tua kan nantinya.

1:11:02

Nah, tapi kan harusnya ada ruangan-ruang

1:11:04

dia untuk bisa. Saya enggak tahu ya

1:11:06

apakah Rehan ini sudah dicek

1:11:08

psikologisnya atau belum. Sekarang kita

1:11:09

belum tahu nih. Karena itu sangat

1:11:10

penting. Kita enggak tahu jiwanya Rehan

1:11:12

tuh apa, isinya seperti apa, kenapa dia

1:11:14

bisa berperilaku kasar kepada

1:11:16

teman-temannya. Kan kita enggak pernah

1:11:17

tahu, Pak. Itu sangat penting. Apalagi

1:11:19

dia masih anak-anak di bawah umur.

1:11:21

Karena walaupun dia anak di bawah umur,

1:11:23

tapi perilakunya lebih dari usianya.

1:11:25

Iya. Atau mungkin terpengaruh karena

1:11:27

lihat orang tuanya.

1:11:28

Nah, itu yang kita tahu gitu. Nah,

1:11:31

kemudian untuk satu orang tersangka yang

1:11:34

sudah ditetapkan

1:11:35

Heeh.

1:11:36

ee kepala Ponpes ya.

1:11:37

Iya.

1:11:38

ee ini harus diperjelas.

1:11:40

Kalau dia sakit harus diperiksa dulu

1:11:42

oleh dokter yang ada di kepolisian.

1:11:44

Ada videonya sakit.

1:11:45

Iya, betul. Beliau sakit tapi statusnya

1:11:47

harus jelas, Bang.

1:11:48

Heeh.

1:11:49

Enggak enggak boleh serta-merta dia

1:11:50

sakit terus dibiarin aja.

1:11:52

Iya, betul

1:11:52

gitu dong.

1:11:53

Heeh.

1:11:54

Supaya apa? Supaya ada kepastian.

1:11:55

Misalkan, "Oh, ya sudah jadi tersangka

1:11:57

dia ditahan. Ditahan diperiksa dunia."

1:11:58

Oh, sakit benar. Berarti kan harus

1:12:00

diperiksa dulu nih sama dokter.

1:12:01

Betul. Betul. SOP-nya

1:12:03

kan? Iya. SOP-nya kan seperti itu. Jadi

1:12:04

kalau misalkan dia sakit dibantarkan

1:12:06

dalam waktu berapa hari? 7 hari. Du 2

1:12:09

minggu, 1 bulan, setahun.

1:12:11

Nah, itu kan harus jal. Tapi kalau

1:12:12

misalkan oh dia sakit ngulur lagi dia

1:12:14

sakit. Tapi kan enggak ada kepastian

1:12:15

hukum, Bang.

1:12:16

Iya. Iya.

1:12:17

Gitu kan. Itu yang kami minta ee kepada

1:12:20

penyidik.

1:12:22

Bagaimana posisi si tersangka saat ini,

1:12:25

statusnya apa.

1:12:26

I

1:12:27

gitu. Jangan karena dia sakit, ya. Semua

1:12:28

orang juga bisa ngomong saya sakit. Dan

1:12:30

kita kan tahu emang

1:12:31

emang dokter kepolisi diperiksa sakitnya

1:12:33

apa. Itu yang paling penting.

1:12:35

Besok diperjelas di komisi

1:12:36

gitu. Besok saya

1:12:37

besok [tertawa] komisi

1:12:39

tapi memang ini adalah salah satu dilema

1:12:41

di masyarakat di mana maaf ya Ponpes itu

1:12:44

menurut saya tempat yang baik di mana

1:12:46

PPES itu tempat mencari ilmu, tempat

1:12:48

mencari ee disiplin dan lain-lain

1:12:51

hal-hal yang baik untuk menjadi bekal

1:12:53

untuk nanti ke masa depan. Tapi dengan

1:12:55

banyaknya PPES di Indonesia, ruang

1:12:57

kontrolnya jadi kecil sehingga banyak

1:13:00

sekali timbul hal-hal yang

1:13:02

berbau kriminal, pelecehan dan

1:13:04

lain-lain. Bapak cerita

1:13:07

diimana

1:13:07

yang pelecehan itu di di mana?

1:13:09

Di NTB selama 2000

1:13:12

ee 23 sampai 2026 ini kami menangani ada

1:13:15

20

1:13:17

yang kekerasan seksual saja. yang guru

1:13:19

besar yang Bapak cerita tadi

1:13:21

dari 20 itu 12 di antaranya sekarang

1:13:25

tuan gurunya yang sudah kita proses.

1:13:27

Nah, kan itu

1:13:28

saat sekarang ini ada empat tuan guru

1:13:31

yang sedang berproses di kepolisian

1:13:33

sampai di pengadilan.

1:13:35

Tuan tuan gurunya ngapain tadi J set

1:13:37

saya?

1:13:38

Iya banyak. Kalau yang ini kan

1:13:39

macam-macam

1:13:40

yang hafalan itu loh.

1:13:41

Oh, ada juga tuan guru yang

1:13:43

sedang hafalan setoran. Hafalan dia

1:13:47

ceritanya

1:13:48

nih lagi storfalan sambil store

1:13:52

pakai pakai ayat ayat. Iya. Stor setor.

1:13:56

Nah, ini ini setor hafalan

1:13:58

hafalan lagi. Stor

1:13:59

stor hafalan tapi kemudian sambilan di

1:14:02

apa?

1:14:03

Pegang-pegang gitu.

1:14:04

Mmm. [tertawa]

1:14:05

Di pegang-pegang

1:14:06

dipegang-pegang

1:14:08

kewannya.

1:14:08

Nanti tuan guru kejarkan juga.

1:14:10

Iya. Ini saya pikir ini kemudian menjadi

1:14:12

bahan pembelajaran. Iya. Ada ada dua hal

1:14:14

yang saya ee apa menjadi pembelajaran

1:14:18

bagi kita di kasusnya

1:14:20

Al sama Devi.

1:14:21

Yang pertama adalah tadi kita bicara

1:14:23

soal pondok pesantren angkat

1:14:26

perlu ada ini momentum untuk kemudian

1:14:28

mentransformasi pondok pesantren itu.

1:14:31

Betul.

1:14:32

Bagaimana pengawasan kelembagaan yang

1:14:35

saya pikir ini menjadi penting. Saya

1:14:36

dengar kasusnya si apa?

1:14:39

Sori saya potong. Sebenarnya, Bang,

1:14:41

tidak ada bentuk perhatian dari

1:14:43

pemerintah daerah.

1:14:44

Iya,

1:14:45

itu aja.

1:14:45

Iya. Tadi

1:14:46

karena tidak ada tekanan dari pusat

1:14:50

sebenarnya. Tanyakan lagi sama kepala

1:14:52

daerahnya, lu jadi kepala daerah mau

1:14:53

ngapain sih?

1:14:55

Persoalannya kewenangan di pondok

1:14:56

pesantren itu ada di Kementerian Agama,

1:14:59

Pak. terlepas apapun,

1:15:01

h

1:15:01

terlepas apapun yang namanya tempat

1:15:04

pendidikan itu harus ada kontrolnya

1:15:07

gitu loh. Apa gunanya kita gini, kenapa

1:15:11

kok kita yang masyarakat biasa bisa

1:15:14

jujur ya

1:15:15

saya menerima laporan tuh dari seluruh

1:15:17

Indonesia. Dia banyak bantu orang sudah

1:15:19

berapa kali di sini.

1:15:20

Maksud saya tadi

1:15:21

Bapak juga cuman

1:15:22

saya yang tadi Lombok sih.

1:15:23

Betul. [tertawa]

1:15:24

Saya ingin sampaikan ini momentum kita

1:15:27

untuk kemudian bagaimana Kemenak

1:15:29

memperhatikan pondok pesantren

1:15:32

kelembagaannya gimana. Kemudian sekarang

1:15:36

saya mau tanya pamanya soal berapa kamar

1:15:38

mandi dengan jumlah rasio jum apa kamar

1:15:40

mandi dengan jumlah santri itu enggak

1:15:42

ada aturannya. Iya. I

1:15:43

jumlah pengasuh dengan jumlah santri

1:15:45

enggak ada aturan standarnya. Jadi ini

1:15:48

momentum kita untuk memperbaiki pondok

1:15:50

pesantren.

1:15:50

Iya. Kembalikan pesantren pada fungsinya

1:15:54

dan kembalikan nama baik pesantren.

1:15:56

Betul.

1:15:56

Karena saya pribadi saya itu resah

1:15:59

sekali ketika saya banyak sekali

1:16:00

mendapat laporan pesantren dengan banyak

1:16:03

sekali pelecehan, kriminalitas,

1:16:05

pemukulan, kekerasan yang terjadi di

1:16:08

dalam sana. Jadi kembalikan itu kepada

1:16:11

fungsinya dan itu perlu pengawasan dan

1:16:13

mungkin ini menjadi titik baliklah

1:16:15

podcast ini

1:16:16

supaya siapa tahu Kemenak, pemerintah

1:16:19

pusat,

1:16:20

pemerintah daerah bisa

1:16:23

beres-beres

1:16:24

itu pembelajaran pertama dari King

1:16:26

karena sudah banyak podcast saya di sini

1:16:28

seputar convest

1:16:30

dan

1:16:31

masih belum ada whistle blower-nya gitu.

1:16:34

Betul. Itu aja sih.

1:16:35

Nah, yang kedua yang saya pikir juga ini

1:16:36

menjadi penting adalah kita tidak

1:16:38

berharap ke depan ada Devin, ada hal-hal

1:16:41

yang lain korban tindak pidana yang

1:16:44

kemudian dia tidak mendapatkan jaminan

1:16:47

rehabilitasi medis ketika dia menjadi

1:16:50

korban.

1:16:50

I.

1:16:51

Nah, ini yang perlu kita pikirkan ke

1:16:53

depan. Ya, ini bisa selesai satu ini,

1:16:55

tetapi masih banyak nanti Devin-Defin

1:16:57

dan al-hal yang lain yang mungkin akan

1:16:59

menjadi korban dan dia tidak bisa

1:17:01

mendapatkan akses terhadap layanan tadi.

1:17:04

Nah, ini yang menjadi PR kita yang saya

1:17:06

pikir ini pembelajaran dari dua kasus

1:17:08

ini yang ee harus kita harusnya ada

1:17:10

program dari pemerintah daerah untuk

1:17:12

sosialisasi ke sekolah. Tidak hanya

1:17:14

Ponpes ya, Bang. Tidak hanya Ponpes

1:17:16

karena banyak sekali

1:17:17

masyarakat-masyarakat yang tidak

1:17:19

mengerti hukum itu banyak terjadi

1:17:23

kasus-kasus seperti ini. Mulai dari KDRT

1:17:25

terhadap anak, pelecehan dari orang tua

1:17:27

kandung, bapak kandung memperkosa anak.

1:17:29

Sebenarnya lebih kepada pemerintah

1:17:31

daerah juga harus memperhatikan

1:17:33

bagaimana kehidupan di tengah

1:17:35

masyarakat. Itu yang paling penting.

1:17:37

I supaya supaya kurang-kurangin nikah

1:17:39

batin ya. [tertawa]

1:17:41

Iya. Nikah batin mulu. Kasihan yang

1:17:45

dinikahin. Batin. Batinnya bukannya

1:17:48

senang

1:17:48

terguncang batinnya orang.

1:17:51

Makasih ya. [menghela napas]

1:17:53

Tekanan 70/40 nadinya 140. Woi,

1:17:56

habisannya.

1:17:57

Kurang ajar kamu ya. Cakap mulutmu.

1:17:59

Kita harus stabilkan dia sekarang. Ready

1:18:02

to go down.

1:18:02

Fanny. Tangan pelannya Bu ya.

1:18:04

Fanny.

1:18:08

Kamu pengin kamu bisa bodoh-bodohahi

1:18:09

aku?

1:18:10

Pendarahan menikah. Dok sak sekarang

1:18:13

[musik]

1:18:20

sehidup sematih semati.

1:18:33

[musik]

More transcripts

Explore other videos transcribed with YouTLDR.

Get the TLDR of any YouTube video

Transcribe, summarize, and repurpose videos in 125+ languages — free, no signup required.

Try YouTLDR Free