FASE Keuangan 20an ke 40an Yang Jarang Orang Bahas! | SUARA BERKELAS #86
Jadi kalau ada yang bilang di usia 20-an
tuh yang penting cari kenyamanan hidup
dulu. Kalau bisa jangan. Karena di usia
30-an percayalah sama perita Gozi yang
udah mengalaminya dan banyak orang lain.
Rata-rata orang di umur 30-an itu beban
hidupnya akan naik saat dia udah mulai
bisa punya rumah nih Bilal. Titik
kesalahannya adalah wah ini rumah yang
udah gue idam-idamin. Gue udah frugal
efek banget. Jadi sekarang gua mau ngisi
rumah gue gila-gilaan. Salah.
Jangan lakukan itu. Si anak ini itu
nanti akan menghasilkan kayak trauma
generasi.
Dia akan nurunin lagi ke anaknya.
Oh
kalau dia enggak berhenti di situ.
Karena yang dia pahami adalah inilah
cara mendidik anak. Logikanya
mirip-mirip sama orang yang UMR, tapi
tanggungannya ada beberapa dan dia gak
bisa saving. Jadi, penghasilan si suami
ini yang memang buat hidup aja, tapi
penghasilan si istri inilah yang memang
buat save, buat darurat, buat ini, buat
itu segala macam. Terlepas kamu mau
ngontrak, kamu mau punya sendiri,
terserah deh. Tapi kalau kamu mau
ngontrak, kamu harus punya uang buat
ngontrak sampai usia berapa. Jadi,
enggak berdasarkan oh ya gaji gua
segini, gua ngontrak beginilah. Dan
kalau emang udah ada gaji segini, kita
tuh juga tahu bahwa kita tuh mampunya
ngontraknya di kontrakan yang harganya
berapa.
Halo semuanya, kembali lagi di podcast
suara berkelas. Hari ini aku kedatangan
tamu spesial, ada Mbak Prita Gozi.
Halo,
akhirnya suara berkelas.
Yes.
Prita Gozi adalah dosen dari FBUI,
Fakultas Ekonomi dan Bisnis dan juga CEO
dari ZFinance dan principal dari Z
Finance. Yes.
Terima kasih, Pak. Welcome to the show.
Thank you. Thank you sudah ngundang.
Aku penasaran karena aku sering nonton
atau lihat konten-kontennya.
He.
Ada konten yang aku save.
Heeh.
Yaitu tentang ngelewatin tiga financial
journey.
Hm.
20-an, 30-an, 40-an.
Heeh.
Dan aku rasa kayak 20-an, 30-an itu sama
aja. Tapi Mbak Prita malah nge-breakdown
itu dengan jurnia yang berbeda atau step
by step yang berbeda gitu. Boleh cerita
aku penasaran. Boleh. Jadi di konten itu
tuh aku share kalau financial journey
itu basically tuh kita bisa bagi tiga.
Di usia 20-an tuh sebenarnya adalah masa
kita surviving.
Nah, aku e istilah nuanginnya tuh dengan
kerja-kerja living. Nah, terus nah usia
20 e 30-an naik lagi itu adalah usia di
mana kita tuh mulai stabil biasanya tuh
gitu. Nah, aku nuanginnya dengan
kerja-kerja saving.
Oke.
Nah, di usia 40-an hopefully everything
udah mulai sustain dan kita akhirnya
bisa grow gitu kan. Nah, di situ aku
menuangkannya menjadi em
saving, playing, playing.
Aku bilang gitu ya. Bukan enggak kerja
lagi sih, masih kerja tapi ada saving
dan ada playing juga lah. Nah,
sebenarnya aku tuh mesti balikin dulu
nih dengan istilah living, saving,
playing itu.
Yes.
Itu adalah istilah yang sering banget
aku pakai sejak aku pertama kali e mulai
sering ngajar atau bikin dulu materi
konten. Tadi kita sempat ngobrol konten
zaman dulu tuh masih artikel gitu kan,
jadi agak panjang. So, aku berusaha
mencari apa ya pengganti dari ini adalah
kebutuhan, ini adalah apa, something
yang lebih em apa simpel dan
mudah-mudahan catchy gitu. Aku akhirnya
nemu waktu itu tiba-tiba pas sebelum mau
naik panggung living, saving, playing
kayak ada yang ngebisikin aja gitu.
Entah gimana. Akhirnya aku jadi sering
pakai itu. Living adalah berbagai
pengeluaran yang memang harus kita
lakuin, Bilal.
Karena tanpa itu hidup kita enggak bisa
berjalan. Contohnya makan, minum, rumah
tinggal. Meskipun kos ya enggak apa-apa,
tapi kita tetap butuh rumah tinggal,
transportasi. Itu semua masuknya ke
living. And then kita punya playing.
Nah, playing ini adalah pengeluaran yang
bisa jadi keinginan, bisa jadi kebutuhan
kita. Intinya dia membuat hidup kita
lebih nyaman. H.
Jadi, kalau itu enggak ada, kita masih
enggak apa-apa tapi enggak nyaman aja.
Nah, itu adalah playing. Dan yang
terakhir adalah saving. Nah, saving itu
sebenarnya bahasa Inggrisnya kan to
save.
To save itu kan sebenarnya bukan nabung,
tetapi kayak menyisihkan,
mengalokasikan, apapun itulah namanya.
Saving itu sebenarnya lebih general
karena saving ini bisa terus kita
aplikasikan jadi tabungan, bisa juga
jadi investasi atau apapun. intinya
terbagi menjadi tiga itu. Nah, aku
ngelihat di usia 20-an
biasanya tuh kita akan fokus tuh adalah
kerja.
Oke.
Dan lebih banyak orang yang memang kerja
buat surviving.
Hanya sedikit orang yang kerja tuh untuk
passion
apa istilahnya apa ini diri itu
aktualisasi. Karena enggak semua orang
seberuntung itu.
Yang aku lihat adalah di usia 20-an,
akhirnya kita hampir kerjain ya udahlah
apa aja yang penting kita bisa survive.
Nah, tapi jangan berhenti di situ.
Kenapa? Karena di usia 20-an ini pada
saat kita tahu ini adalah momen kita
survive, sebenarnya di sini tuh harus
kita benar-benar pikirin yang buat
living itu jangan porsinya terlalu
besar. Kenapa? Karena pada saat kita
udah membiasakan diri, punya
pengendalian diri di umur 30 tuh lebih
gampang biasanya. Hopefully di umur
30-an penghasilan kita meningkat,
akhirnya kita punya nih alokasi buat
bisa kita sisihin yang mana mungkin di
umur 20-an ada yang bisa, ada yang
enggak. Kira-kira tuh gitu. That's why I
call it eh kerja-kerja mulai saving.
Nah, dengan saving ini sebenarnya kita
lagi berusaha membentuk yang namanya
triangle of income.
Triangle of income ini itu adalah eh
satu struktur di mana orang kalau bisa
dapat penghasilan itu dari kerja aktif
dia. Kayak misalnya sekarang kita kerja
aktif
and then terus dia harapin juga dia
dapat penghasilan dari portfolio income.
Artinya kan harus ada save-nya dulu
dong. H
yang itu nantinya bisa menghasilkan
income. Dan jangan lupa ada juga mungkin
pekerjaan atau aset yang memang juga
bisa kasih penghasilan. Sebagai contoh
misalnya kayak penulis, dia nulisnya
sekali ya, hopefully dia dapat royalty.
I
nah itu adalah income yang terakhir yang
kita sebut productive income. Nah, kalau
kita bisa build itu di usia 30-an dengan
jumlah berapapun itu, hopefully di usia
40 kita kerjanya tuh lebih enak, lebih
bisa memilih mau ngerjain apa karena
kita udah bisa masuk ke fase playing
yang mana membuat hidup kita lebih
nyaman. Hm.
Jadi kalau ada yang bilang di usia 20-an
tuh yang penting cari kenyamanan hidup
dulu. Kalau bisa jangan. Karena di usia
30-an, percayalah sama perita Gozi yang
udah mengalaminya dan banyak orang lain,
rata-rata orang di umur 30-an itu beban
hidupnya akan naik karena mungkin dia
menikah,
dia punya tanggungan, dan lain-lain. Dan
di umur 40-an itu sebenarnya menurut
data statistik adalah generasi sandwich
yang mungkin sesungguhnya
40-an.
40-an. Jadi from the beginning generasi
sandwich itu termsnya dulu diciptakan ya
waktu tahun -an dari Amerika Serikat itu
sebenarnya adalah untuk mereka yang
usianya 40-an 50-an.
Kenapa? Karena pada saat orang ini umur
4050 dan kalau dia punya orang tua
biasanya orang tuanya tuh udah lansia
banget.
Hm. He.
Tapi kalau kamu misalnya masih mungkin
orang tua kamu mungkin udah kerja atau
baru mau pensiun tapi masih di 50an lah.
Misalnya kita ajak kerja tuh masih
mungkin tapi mungkin enggak bisa terlalu
produktif gitu loh. Paling-paling
mungkin kita nanggung adik atau apa.
Tapi kan adik ini juga bakal lulus.
I
benar enggak?
Dan adik itu pada lulus ya harusnya dia
bisa ini sendiri kan. Jadi memang
titiknya itu sebenarnya di 30 supaya di
umur 40 ini akhirnya tuh dia benar-benar
bisa mulai playing dan nyaman. Hm.
Dan ngejar di 50 itu sudah financially
independent.
He he. Di titik survive tadi aku masuk
ke
kacamata anak 20-an kali ya.
Karena ketika kita survive kita juga
harus punya
alokasi dana untuk
He
playing tadi gitu.
Healing lah lebih tepatnya.
He.
Apakah itu salah Pak Berita? Kalau di
kacamata Pak Berita sendiri.
Oke. Itu enggak salah. He. Aku selalu
bilang
saving, tiga-tiganya penuhin.
Tapi prioritasnya yang mana itu adalah
living duluan to be honest. Karena itu
fakta hidup. Apalagi kita hidup di zaman
sekarang di mana biaya-biaya mungkin
banyak yang naik, inflasi dan
sebagainya. So, itu adalah fakta hidup.
So, what you need to do adalah you need
to understand what makes you really
happy supaya playing-nya itu benar-benar
tepat sasaran, Bilal. Hm.
For example, I know exactly apa yang
membuat aku happy. Makanan enggak
terlalu. That's why kalau aku ditanya
makanan, makan apa aja gua mah hayo aja
terserah.
Oke.
Karena buat aku ngejar harus yang
seperti ini tuh biasa aja. Tapi aku
punya kesukaan lain yaitu aku suka
banget kayak di rumah tuh nonton e
streaming. Terus aku suka banget em
kalau misalnya aku lagi traveling aku
tuh enggak mau susah. Kenapa? Karena
kerjaan aku sehari-hari aku dinas tuh
udah sering susah gitu. Jadi kalau gua
lagi traveling yang for myself, aduh
sorry banget gua gak bisa tuh yang kayak
bawa abon kering kentang gitu ya, nasi
gitu gua enggak mau. Jadi kalau emang
itu belum dapat, gua kumpulin uangnya.
Kira-kira tuh kayak gitu.
So you need to understand exactly what
makes you happy. Supaya saat kita
mengeluarkan playing itu, Bilal, itu
benar-benar efeknya tuh long last.
Hm.
Pada saat kita sudah ngerti itu,
percayalah playing kita itu akan tepat
sasaran dan akhirnya kita bisa mengatur
keuangan kita tanpa kebablasan.
He. Kalau dari pengalaman Mbak Berita
sendiri yang
sudah melewati fase 20-an, 30-an ya,
apa kesalahan yang harus dihindari oleh
orang 20-an dan 30-an? Mungkin boleh
tiga kesalahan karena baik dari kita
sekarang mungkin tidak bisa melihat dari
sudut pandang
usia 40-an. Kalau aku masih 20an kayak
aman
masih aman deh. Masih aman aku bisa
saving gitu ya.
Apa yang harus aku hindari dari
sekarang?
Ya itu pertanyaan bagus banget. Di
konten itu aku juga bilang kesalahan
pertama yang harus kamu hindari adalah
biasanya di umur 20-an tuh orang
kepingin e aktualisasi pencapaian dia
dan paling gampang aktualisasi
pencapaian itu adalah membeli kendaraan.
I
ya kenapa kelihatan?
Benar.
Kalau rumah ya masal lu selfie-selfie
gitu kan di depan rumah gitu atau depan
apa kan orang juga malas lihat ya. Tapi
kalau mobil tuh kayak ketok gitu loh.
Orang Jawa bilang tuh gitu kelihatan.
Nah, yang paling bahaya adalah kamu beli
kendaraan dengan bantuan cicilan di atas
5 tahun. Itu bahaya banget.
Oke.
Logikanya kendaraan itu kan akan
depresiasi. Makanya kalau sampai kamu
beli dengan bantuan cicilan itu
sebenarnya maksimal secara teori
Foundation planning itu cuman 2 tahun.
Hm. pertanyaannya kalau 2 tahun ya
mobilnya LCC dong gitu kan istilahnya
kayak gitu ya apa tuh yang yang low cost
apa itulah gitu kan terus akhirnya e
kita jadi naikin dikit ah gitu padahal
itu titik kesalahan pertama karena once
cicilan kita agak naik di area aset yang
depresiatif seperti itu, maka kemampuan
saving kita nurun.
Benar
ya dong
ya
ya kan. dan kamu udah kebiasaan ada di
situ gitu loh titiknya. Itu biasanya
kesalahan yang pertama. Next-nya adalah
saat dia udah mulai bisa punya rumah
nih, Bilal. He.
Saat dia udah mulai punya rumah, titik
kesalahannya adalah wah ini rumah yang
udah gue idam-idamin. Gue udah frugal
efek banget. Jadi sekarang gua mau ngisi
rumah gue gila-gilaan. Salah. Jangan
lakukan itu. Sabar. Lihat aja. Masuk
dulu ke rumahnya. Understand your own
lifestyle kebutuhan kita. Karena sering
banget ini kayak ibu-ibu baru melahirkan
anak, segala perintilan dibeliin gitu
ya,
enggak tahunya enggak kepakai.
Tanya deh sama ibu-ibu baru ngelahirin
anak pertamanya, dia beli sendok ini apa
segala macam buntutnya enggak dipakai
buntut akhirnya dia dapetin tuh yang
enak buat dia sama bayinya. Itu sama
dengan rumah Bilal.
kita sebenarnya kita tu apa sih? Apa
kita orang yang lebih sering di depan
sofa atau kita orang yang memang butuh
ada ruang tamu, ruang ini atau semua
malah bisa mix apa gimana itu akhirnya
kita understand apa yang memang kita
butuhin.
Nah,
kalau itu bisa kita redam biasanya
kredit renovasi kita tuh enggak ada. H
karena godaan kita adalah misalnya kita
beli rumah yang memang dari developer,
kita pengin ngrenov nih sesuai dong wah
impian kita. Nah, itu letak kesalahan
yang kedua.
H.
Nah, yang terakhir letak kesalahannya
adalah menganggap again pensiun terlalu
lama.
Oke, menganggap pensiun terlalu lama.
Yes. Karena kan logikanya gini ya, gila
gua baru umur 20 ngapain gua mikirin
pensiun? Itu exactly apa yang di otak
aku juga dulu.
Aku really juga
i kan kayak emang gua udah setua itu
gitu kan. Gampangnya kayak gitu.
Ini bukan ngomongin setua itu, tapi ini
ngomongin habit. Kenapa? Karena saat
kita tidak memaksakan diri kita untuk
mencoba menyisihkan untuk our own
retirement life, it would be too late
saat kita udah sadar. Dan pada saat udah
late, kita jadi terpaksa bikin eh
saving-nya tuh harus agak lebih besar.
Jadi kita tiba-tiba kayak kok tiba-tiba
gua kayak frugal apa segala macam.
Padahal kalau kita punya kebiasaan itu,
itu bisa lebih bagus. Nah, itu
sebenarnya yang dulu aku tuh enggak
ngerti ya. Waktu dulu ibu mertuaku tuh
pernah nasihatin aku pada saat aku
pertama kali fres grade, kamu kurang ya
kalau cuma 10% buat retirement. Gue
kayak, "Hah? Kalau 10% kurang emang
berapa?" "30% gitu kan."
Terus dia bilang, "Sebisa mungkin 50%."
buat aku saat itu tuh kayak absurd
banget gitu loh. Gimana ceritanya sih
50% gitu ya bisa gua ini dan kenapa
masih 50%? Ternyata then I understand
bahwa dalam hidup tuh plots-nya banyak
banget.
H.
Jadi kalau enggak pada saat the moment
kita bisa 50% kita kerjain nanti enggak
akan terjadi tuh momen itu lagi gitu loh
Bilal. Karena kayak so many things
happen in our life gitu. Plotw-nya
banyak banget gitu ya. Or saat misalnya
kita beneran ada duitnya kita enggak
kurang kebayang bahwa target kita tuh
50%. Jadi kita pakai buat yang lain.
Iya. Iya enggak sih? Iya.
Nah, sekarang ya coba lu pikir baik-baik
ya.
Kalau misalnya kita nyisihin income kita
sekarang, let's say ambil setengah lah
gitu ya, 50% untuk retirement.
Logikanya itu aja ya. Kita tuh udah
nurunin taraf hidup loh.
Hm.
Kan taraf hidup kita 100%.
Iya.
Terus sudah lu turunin gitu loh.
Istilahnya kalau kita bilang tua juga
belum tentu susah ya understand gitu.
Tapi kalau sampai plot twist-nya
ternyata jadi susah kan kita kan
ngerepotin orang istilahnya gitu. So,
kenapa enggak ya udah kita sisihin kalau
ternyata nanti oh ini ternyata bisa kita
pakai nih misalnya buat dana pendidikan
anak lah atau apa ini itu kan jadi bagus
banget gitu loh.
Benar. Benar.
Tapi mindsetnya tuh harus ke situ.
Perkara udah bisa dikerjain apa enggak
itu adalah hal yang berbeda gitu.
Iya aku setuju.
Heeh. Coba bayangkan kamu yang masih
menonton ini punya tempat kerja yang
keren, kantor yang super nyaman, yang
bikin kamu kerjanya lebih produktif.
Yup, enggak semua orang punya kantornya
sendiri, tapi sekarang kamu bisa sewa
kantor keren di VO. Harganya mulai dari
Rp150.000-an per bulan. Enggak percaya?
bisa cek langsung V Office. Tadi pas
ngomongin tentang ketika punya rumah
baru, pengin ngisi sebanyak mungkin, itu
persis banget sama cerita temanku yang
kayak dia orangnya suka olahraga gitu.
Dan ketika punya rumah baru, "Tenang,
Bil, gua akan ada gym di rumah gitu."
Oh, gitu, gitu. Terus
3 bulan berjalan karena aku juga member
salah satu gym, terus kayaknya di rumah
bosan dia, bilang
akhirnya ke gym juga.
Akhirnya ambil member juga di gym di
luar gitu loh. Itu itu rilis sih
maksudnya kadang kita merasa kita punya
kemampuan.
Heeh. Tapi kita belum belajar atau
memahami lingkungan kita atau kita punya
feel seperti apa di rumah baru mungkin.
Jadi
ingin terlihat sukses juga ada tuh di
situ tuh kayak dengan beli barang, beli
mobil segala macam.
He.
Kalau Mbak Perita sendiri yang mungkin
sudah lama di industri keuangan seperti
ini,
Heh.
Bisa mencium enggak sih aroma orang yang
memang ingin terlihat sukses ya
atau benerang sukses atau benerang kaya
tapi tidak ingin terlihat gitu atau
pernah mengalami hal itu gitu?
Oh ya sering dong.
Gimana? Aku penasaran sih,
sering banget. Karena gini, kita tuh
sebenarnya manusia itu ya aku juga
mempelajari baru-baru beberapa tahun
terakhir sih sejak pandemi itu kita tuh
ternyata kebagi jadi beberapa tipe
kepribadian. Oke. Yang pertama tuh
namanya money avoiders. Buat dia, Heeh.
buat dia tuh kayak ada uang enggak ada
uang sama aja lah. Terus katanya uang
akan datang dengan sendirinya saat kita
perlu kepercayaannya tuh gitu
gitu ya. Makanya biasanya kalau diajak
ngumpulin duit buat dana pendidikan anak
jawabannya selalu tiap anak sudah ada
rezekinya.
Reekinya. Nah, yang kedua adalah tipe
yang namanya money vigilance. Ini
biasanya terlalu berhati-hati nih. Nah,
orang yang terlalu berhati-hati ini
biasanya masa lalunya itu suka ada ee
hal-hal yang enggak enak kejadian sama
dirinya dia.
Entah itu pernah ketipu, ngelihat orang
tuanya bisnisnya bangkrut. Jadi, dia tuh
lebih kayak hati-hati banget pada saat
mengeluarkan uang. Nah, pada saat dia
hati-hati banget mengeluarkan uang, bisa
jadi sebenarnya dia tuh udah
kemampuannya di atas, tapi dia jadi
kayak kelihatan kok agak pelit ya, orang
lain mungkin menilai gitu. Buat dia
enggak. Buat dia adalah saya pokoknya
mau ngejaga apa yang udah saya dapetin
dengan susah payah. Itu yang kedua tuh
namanya money vigilance. Yang ketiga,
money status. Nah, kalau ini yang
seperti tadi tuh yang emang dia pengin
semua orang ngelihat eh gua levelnya
udah ada di sini loh. Gitu. kadang
menidas
dari lingkungan
apa yang orang ngomong tentang dia.
Gimana tuh?
Misal is gila si Bilal keren banget
sekarang podcastnya berkelas banget gila
datangin artis-artis gitu kan.
Heeh.
Tapi aslinya lu gimana juga buat dan lu
buat lu tuh kayak wah ini nih yang gua
cari gitu. Tapi aslinya lu lagi gimana?
apa misalnya lu lagi kesusahan nyicil
duit apa segala macam orang enggak ada
yang tahu gitu loh. Pokoknya orang
lihatnya Bilal sukses dah gitu
dari luar
dari luar dan lu happy with that gitu
loh.
Dan lu enjoy di apa diseru-seruin kayak
gitu.
He
itu adalah orang-orang yang tadi lu
bilang tuh dia sebenarnya enggak mampu
segitu tapi dia pengin kelihatan kaya.
Hm.
Yaah ada yang paling terakhir nih
namanya money focus. Kalau orang yang m
fokus ini pokoknya dia motivasinya
adalah kalau gua pengin dapetin itu gua
pasti bisa. Jadi pokoknya apapun itu gua
pasti bisa tanpa dia ngelihat kemampuan
dirinya dia dalam hal misalnya dia
sebenarnya udah capek, udah burn out,
udah ini buat itu, tapi wah dia kejar
banget. Pokoknya mang fokus. Biasanya
orang-orang kayak gini juga suka banget
sama cicilan.
Oh gitu.
Hm. Karena buat dia cicilan itu katanya
ee semangat hidup
dalam konteks.
Dalam konteks ya dia kerjanya rajin.
Oke.
Katanya kalau enggak ada cicilan kayak
apa nih yang dikejar katanya gitu.
Oke.
Ya buat lu mungkin enggak, tapi kalau
orang lain ada yang banyak yang kayak
gitu.
Oke.
Jadi katanya kalau enggak ada cicilan
tuh kayak kerja enggak semangat nih apa
nih yang dikejar nih kalau ada enggak
ada deadline gitu loh kira-kira tuh
kayak gitu. Aku juga pernah dengar yang
nomor empat tadi itu dari temanku
sendiri yang di mana dia bilang kayak lu
bil ada hutang enggak? Enggak ada gitu
kan.
Heeh.
Lu harus ada hutang. Kalau lu enggak ada
hutang itu enggak ada yang nge-push lu
untuk working harder atau smarter gitu
loh.
Heeh.
Terus mikir satu sisi
oke iya juga. Tapi satu sisi lain
emang karena enggak ada pressure-nya
gitu loh. Makanya dia mungkin pakai
mindset itu gitu.
Bisa jadi dia masuk yang money focus.
Oke,
itu sebab em memang orang itu akan
terbelah jadi empat itu dan akhirnya
ends up dengan yang kita lihat nih, oh
nih orang tuh sebenarnya bisa ya dia
sebenarnya well off banget tapi enggak
kelihatan. Ada juga yang well off dan
kelihatan. Ada yang juga misalnya
sebenarnya enggak well off tapi
kelihatannya seperti well off gitu kan.
Nah, itu sebenarnya hasil dari gimana
kita dibesarkan,
lingkungan kita seperti apa gitu. terus
gimana kita ee kebiasaan mengambil
keputusan finansial. Jadi kalau aku
bilang sebenarnya itu bukan perkara satu
salah satu benar, enggak. Tapi once kita
misalnya milih gaya hidup atau ee cara
hidup seperti itu, itu pasti ada plus
minusnya.
Iya.
Orang yang misalnya milih, "Gua pengin
kelihatan nih kalau gue ini ya plusnya
mungkin dia dihargai orang, dia dapat
tuh maksudnya kayak orang tuh ngelihat
dia tuh hormat apa segala macam. ini itu
exactly atau networking atau apa ini itu
kan mungkin-mungkin aja tapi bahayanya
mungkin itu enggak sustainable gitu loh.
Jadi e bisa jadi sekarang bagus nanti
tiba-tiba jatuh jadi hidupnya tuh roller
coaster banget gitu loh.
Itu kan plus minus ya. Mungkin buat dia
I'm ok with this tapi mungkin untuk
orang lain enggak. Jadi kalau aku bilang
kuncinya tuh kita mesti understand our
untuk kita tahu yang seperti apa sih
cara mengelola uang atau cara
mengendalikan diri atau cara menjalani
hidup yang memang bisa membuat kita
sejahtera gitu loh.
He he. Aku ingin masuk ke dunia Mbak
Prita ya.
Relasi Mita dengan uang
transisinya dari 20-an, 30-an, 40-an
sekarang seperti apa? Karena kadang aku
sendiri
kadang agak sedikit emosional dengan
uang. tiba-tiba aku udah udah udah
mengelola sebaik mungkin
ada hal tak terduga.
Heeh.
Kayak misalnya ada teman datang dari
luar negeri terus ke sini ke Jakartaus
aku harus bantuin mereka tuh kayak wah
ternyata luar keluar dari bajar aku itu
ada ada sih emosional kayak
hem tapi barberita sendiri gimana
sekarang hubungannya sama uang?
Jadi ini menurut aku juga ada kaitannya
dengan generasi. He
aku tuh bisa dibilang dulu tuh gua pikir
gua milenial awal ya karena dibilang
katanya milenial paling awal tuh 80-an.
Terus tiba-tiba sekarang dibilang 80
berapa baru milenial. Jadi gua generasi
X. Gua rada bingung sih gua generasi
mana nih. Kayak gua agak-agak lost di
tengah-tengah.
Intinya kita adalah generasi yang pernah
merasakan krisis moneter. Itu kuncinya.
Nah
itu menurut aku tuh pembeda banget loh
Bilal dengan mungkin mereka yang enggak
pernah tahu Krismon tuh seperti apa.
H. Nah, untuk aku ya dan suami aku yang
ngerasain itu dan pada saat itu suami
aku tuh lagi sekolah di luar negeri itu
berat banget. Dia bilang itu beratnya
luar biasa. I don't think that e orang e
punya kapasitas untuk belah melakukan
seperti itu. Enggak semua orang bisa
begitu. Orang ngelihatnya mewah e apa
keren gitu sekolah di luar negeri. Yang
mereka enggak lihat adalah dia tuh
benar-benar enggak ada rumah di sana.
Nah, jadi numpang, saling numpang,
saling numpang aja gitu loh. Tinggal di
rumah apa, ruang tamu,
enggak ada heaternya. Jadi tidur tuh
pakai apa sih? Kayak di gunung gitu loh,
pakai ini segala macam. Nah,
hal-hal seperti itu terus kayak aku juga
ngalamin, tapi aku di Jakarta kan
itu emm apa namanya? Membuat kita tuh
lebih aware aja.
Jadi pada saat akhirnya kita punya uang,
kita tuh enggak take it
h
karena kita tahu ada masa-masanya itu
enggak dapat gitu loh.
Hm. He.
Tapi gue juga bersyukur jadi orang bukan
yang pelit-pelit amat.
Jadi kayak seimbang gitu loh. Kayak
understand that ini juga tetap harus
dikeluarin. Bukannya disimpan terus
tetapi harus ada yang bisa disimpan. Itu
yang shapes me up di usia 20-an.
He.
Dan gue mesti cerita ee kita tuh aku
sama suami aku tuh nikah muda karena
kita dulu sekolah.
Iya.
Jadi di usia 24 tahun aku sudah punya
anak pertama.
Hm. He.
Dan itu momennya saat aku pekerjaan
pertama yang berbayar di Jakarta. Jadi
aku kerja kantoran di Teh Company, aku
punya anak. Oke. Itu rasanya tuh berat,
Bilal. Kenapa? Karena aku ngelihatin
orang-orang pada bisa ngejar karir. Aku
enggak. Karena aku ada anak di rumah.
Jadi aku startnya sama suami aku. Kita
sama-sama masuk kayak management trainy
gitu. Dia tuh bisa begini, "Gua di sini
aja gitu." Wah, itu rasanya tuh kayak
gimana banget. Jadi pada saat itu sempat
kayak ah gua pengin shopping, ah belanja
apa segala macam. Itu relasi gua sama
uang di usia 20-an. Tapi terus ya itu
ibu mertua kan ngomong gini-gini gua
ngerasa ah gua udah save 10% sisanya gua
shopping ah gitu kan ya. Apalagi kan
katanya uang istri uang istri gitu kan.
Terus dia bilang kayak gitu gua diam
gitu ya. Gimana caranya ya 50% gini gini
gini gini. Oh ternyata caranya adalah
gua enggak shopping udah gitu aja.
Karena kalau digabung penghasilan suami
dan istri ini kan jadi kayak hampir
setengah-setengah lah gitu ya. Ya. Jadi
kalau dia bilang disuruh setengah, oh
berarti simpelnya adalah penghasilan itu
yang disave semua. Sesimpel itu
sebenarnya.
Sesimpel itu. Karena yang penghasilan
suami ini yang buat hidup. Gimana deh
caranya penghasilan suaminya itu mesti
bisa buat hidup. Ini kan sebenarnya
logikanya mirip-mirip sama orang yang
UMR tapi tanggungannya ada beberapa dan
dia gak bisa saving. Jadi penghasilan si
suami ini yang memang buat hidup aja,
tapi penghasilan si istri inilah yang
memang buat save, buat tanda darurat,
buat ini, buat itu, segala macam.
Akhirnya itu yang gua kerjain di usia
20-an.
Hm.
Nah, di usia 30-an lebih berat lagi.
Kenapa? Karena di akhir usia 20-an
aku enggak punya pekerjaan.
Hm. Jadi di tech company itu role aku
hilang. Kasarnya nih either lo kena
layof atau lo mesti downgrade ke role
yang lain. Kira-kira seperti itu.
Aku pilih keluar. Jadi di umur mau 30
aku enggak punya kerjaan Bilal. Padahal
anak udah dua itu baru punya anak yang
kedua. Itu beratnya luar biasa. Akhirnya
apa yang aku kerjain? Ya udah, aku lihat
skill apa yang bisa kerjain. Pokoknya
semua penghasilan dari skill itu gua
kumpulin habis-habisan karena gua tahu,
wah ternyata bisa juga ya gua kena lay
kayak begini. Istilahnya tuh kayak gitu.
Di umur 20-an jelang 30 yang mana
harusnya katanya kan menjelang 30 tuh
sukses itu mulai di depan mata gitu.
Ternyata kita malah penghasilan
berkurang gitu kan ya.
Tapi hari itu momen itu tidak ada
cicilan, tidak ada hutang.
Ada dong. Oke, semakin berat ya,
semakin berat banget itu ada cicilan
rumah apa segala macam. Makanya itu yang
membuat aku akhirnya oh I have to make
this happen. Apa itu? Yaitu merintis si
financial planning consultancy ini. Dan
itu enggak mudah karena enggak kayak
sekarang yang aksesnya tuh kayak
everyone can just bukan just ya, tapi
kalau kita bagus, kita bisa make konten
apa segala macam, kita bisa make on our
own. Kalau masa itu tuh enggak. kita tuh
harus kerja sama sama media besar dan
lain-lain dan orang ngelihat siapa sih
peritazi gitu kayak anak pitik kayak
begini gitu ngapain kita percaya sama
dia ibaratnya gitu itu susahnya luar
biasa
which is itu sebelum 2010
itu sebelum 2010
h
ya udah akhirnya pada saat 2010 dan itu
akhirnya wah gila itu apapun uang yang
kita punya itu gua kumpulin apapun uang
yang suami gua hasilkan, suami gua
alhamdulillahnya karirnya mah bagus
banget gitu ya
itu kita kumpulin buat apa ngelunasin
rumah lebih cepat
nah ini bilal kuncinya di 30-an Kan
mindsetnya udah tadi tuh kata ibu mertua
sebisa mungkin 50%.
Enggak bisa dong. Namanya juga
penghasilan udah kurang apa segala
macam. Pada saat itu cicilan rumah lunas
ternyata jadi bisa.
Oke.
Karena cicilan tuh kan gede banget ya
ternyata ya.
Jadi saat dia gone itu langsung gua
gantikan dengan saving itu gua kejar
tuh.
Hm.
Itu baru bisa kejadian di 35 apa 36 lah
umur gue.
Hm.
Gue kejar cepat banget 2 tahun. Dana
kuliah anak pertama dapat.
He.
2 tahun. Setahun kemudian dana kuliah
anak kedua dapat. Beberapa tahun
kemudian mungkin baru kayak 2 tahun 3
tahun yang lalu gah itu yang suka
orang-orang ngeributin 4% rule 4% rule.
Akhirnya gua dapat juga angka itu gitu
loh.
Kira-kira tuh gitu. Tapi lu bayangin ya
gua start di usia 24 gua baru dapetin
itu mungkin di usia 43 kali.
Itu berapa tahun?
Hampir 20 kan.
Artinya enggak ada yang instan. Mungkin
untuk sebagian orang ada kali yang
instannya kripto atau apa gua gak tahu.
Tapi jalur gua enggak gitu.
Jalur gua tuh karyawan ini segala macam.
Ya udah nikmatin aja. Emang ini rezeki
gua begini. Tapi kan at the end dapat
juga.
Hm.
Gitu.
Realistis ya.
Exactly.
Menarik banget. Tadi Mbak Prita juga
mention
Heeh.
tentang dana pendidikan anak ya.
Yes.
Dan aku juga sempat baca tulisan Mbak
Prita.
Heeh. yang di mana komitmen terpanjang
di financial planning itu bukan cicilan
rumah, melainkan pembayaran dana
penyidikan anak.
Satu anak sama dengan 18 tahun bayar
penyidikan mereka.
Heeh.
Kalau pakai topi antagonis,
ada juga orang tua yang melihat itu
sebagai investasi masa depan. Anakku
investasi.
Ini mungkin agak tertampar bagi sebagian
orang. Tapi aku mau masuk ke cara
pandangnya Mbak Berita. Bagaimana yang
sebenarnya atau seharusnya
kita melihat dana pendidikan anak?
Pertama, I feel so sorry untuk anak yang
mungkin orang tuanya masih berpikir
seperti itu.
Nak, I understand what you feel. Jadi,
sabar ya,
sabar sabar ya, sabar,
sabar sabar gitu.
Alhamdulillah aku dan suami aku sama
sekali tidak berpikiran seperti itu.
Pertama, kita tuh percaya bahwa ee kita
tuh menikah tuh sadar. Aku dan suami aku
menikah secara sadar, kita punya anak
juga sadar ya, bikinnya juga sadar kan
gitu. Artinya pada saat kita sadar ya,
kita ngerti bahwa anak itu adalah amanah
dan tanggung jawab orang tua. Aku
sedikit religius, sedikit belok. Emang
begitu juga ajaran di agama aku gitu kan
di e sebagai muslim tuh seperti itu.
Enggak ada tuh yang bilang bahwa anak
tuh berutang atas apapun yang orang
tuanya sudah keluarin tuh enggak ada.
Iya. Tapi aku memang bertanggung jawab
mendidik anak juga baik secara segala
ilmu termasuk agama. Hopefully kalau dia
juga jadi anak yang saleh dan salehah
kan orang tuanya juga yang kebagian.
Benar
kan sebenarnya kayak gitu aja gitu loh.
Tapi bukan dengan cara aku nunjuk ke
anak eh lihat ya apa yang bunda sama
ayah udah kerjain nih nih tagihan dari
kamu dulu nih. Kamu lagian sih dulu
lahirnya caesar pakai sungsang segala
gitu kan. Mesti kalau kamu udah ini
segala macam, kamu lahir normal aja
lebih murah apalagi gitu gitu gini. Kamu
sih lagian kurang pintar enggak dapat
beasiswa. Itu ada istilahnya loh.
Hm.
Namanya financial unmeshment.
Financialment.
itu adalah sikap hidup orang tua di mana
dia itu menekan anak dari sisi finansial
dalam artian kamu itu ngutang sama saya
karena saya sudah ngerjain segini banyak
untuk kamu dan itu bahaya banget karena
penelitian di Amerika Serikat juga
menunjukkan bahwa 80%
kualitas anak itu ditentukan oleh orang
tua yang berkualitas.
Hm.
Jadi orang tua tuh emang harus berkelas.
Sorry banget.
Yap. Yap.
Karena orang tua enggak berkelas itu
menghasilkan anak yang juga enggak
berkelas.
Heeh.
Itu akan turun-temurunnya seperti itu.
Meskipun ada, tapi secara data sangat
kecil.
Tapi itu ada.
He
gini ya. Kalau kita ngomong
financialment,
anak itu bukan masalah siapa yang di
masa tuanya bisa ngebayar balik orang
tuanya dengan duit. Tetapi siapa yang di
masa dewasanya itu bisa bahagia,
sejahtera, dan bertanggung jawab penuh
terhadap dirinya dia.
Itu anak yang berbakti tuh begitu. Dia
enggak nyusahin orang tua, dia enggak
ini, enggak itu segala macam, gitu kan.
Jadi, jadi mindsetnya yuk kita balik.
Kenapa? Karena bahayanya gini, satu,
kalau kita enggak nyiapin itu nih,
Bilal, pertama anak akan ngerasa
hubungan anak orang tua tuh
transactional. Artinya nih kalau
misalnya ini kan ayah sama bunda udah
ngerjain gini ya. Jadi kalau kamu enggak
balikin nih misal contoh ya anak aku tuh
sekarang baru e kuliah itu ke eh
University of Melbourne. Lihat aja deh
search up eh sumber-sumber itu berapalah
angkanya. Ketebak sih ya
ya even dapat beasiswa pun itu tetap ada
living expenses yang mana silakan lihat
di Melbourne seperti apa.
Tapi tidak sekalipun kita bilang sama
dia balikin ya nanti dengan pekerjaan
yang gajinya segitu juga gitu loh.
Kenapa? karena itu adalah hak dia, itu
amanah kita sebagai orang tua. Oke. Yang
kedua, bahayanya apa? Kalau orang tua
ngelakuin gitu terus, anak tuh enggak
bakal mandiri, Bilal. Kenapa? Karena the
way dia mengambil keputusan itu semuanya
adalah apa nih yang bisa gua kasih balik
ke orang tua? Apa nih yang bisa gua
kasih balik ke orang tua? Itu
macam-macam loh. Dari sekolah aja bisa
kayak gitu. Contoh ikut lomba-lomba.
Heeh. Kadang-kadang ikut lomba-lomba itu
anak bukan karena dia pengin, dia pengin
aja orang tuanya tuh kayak, "Wah, aku
bangga banget kamu dapat medali." gitu
kan. Iya.
Kira-kira kayak gitu. Jadi belum tentu
karena dianya mau. Kalau dianya mau juga
bagus, tapi kalau enggak itu yang
bahaya. Nah, ini yang terakhir nih yang
juga bahaya banget menurut aku itu
adalah si anak ini itu nanti akan
menghasilkan kayak trauma generasi.
Dia akan nurunin lagi ke anaknya.
Oh. Kalau dia enggak berhenti di situ,
karena yang dia pahami adalah inilah
cara mendidik anak.
Hm.
Yang dia pelajari seperti itu. Dulu dia
digituin sama orang tuanya, katanya
orang tuanya juga dulu digituin sama
kakek neneknya dan seterusnya. Nah, itu
jadi enggak kelar-kelar. Nah, itu bahaya
banget karena anak ini sulit untuk
bahagia. Kamu pernah enggak dengar
banyak orang ya yang bilang gen apa
generasi sandwich apa daya? Mau bahagia
juga enggak mungkin. Karena kalau kita
bahagia misalnya kayak kamu nih
traveling ke mana terus ngelihat yang di
rumah pada gak traveling tuh kayak ada
rasa guilty gitu.
I ya ya.
Itu sebenarnya efek financial unmes
h
karena kalau kamu misalnya traveling nih
gitu ya nanti keluarga ngelihat banyak
duit nih gitu ya. Bisa pergi ke sini
bisa gini gini segala macam. Terus
oleh-olehnya mana gitu.
Wow semakin beban ya.
Semakin beban kan orang jadi kayak udah
deh enggak jadi deh masa gua mau pergi
apa gua lagi mau shopping trip nih emang
gua jastip atau apa sih? Kayak gitu kan
kira-kira kayak gitu. Nah, itu bahaya
banget. Nah, karena aku dan suami aku
tidak mau seperti itu,
jadi kita mengusahakan yang namanya dana
pendidikan.
Nah, kita nih udah ngalami nih, Bilal
karena anak kita udah di tingkat tiga.
Jadi, si 18 tahun itu tuh it's true.
He.
Dan zaman sekarang kadang sekolah aja
enggak cukup, lomba-lomba, les-les apa
segala macam, tutor ina itu, bimbel ina
itu, gitu. Mau masuk
kuliah aja bimbelnya setahun. Benar
enggak sih?
Benar, benar. Benar, benar. ya kan gitu
apa patn favorit atau apalah gitu. Jadi
kan artinya memang enggak main-main nih.
Nah, terus yang kedua aku lihat adalah
karena aku sebagai financial planner aku
kan sering membersamai mereka-mereka
yang mau pensiun.
Heeh.
Ini jadi masalah saat orang tuanya
pensiun, anaknya belum lulus. Oke.
Jadi kadang-kadang kan ada orang yang
istilahnya ee dapat anak udah usia
berapa gitu sehingga orang tuanya sudah
masuk 5556, anaknya masih SMP, anaknya
masih SMA. Itu kan sesuatu yang kalau
enggak dipikirin terus uangnya dari mana
kan jadi kayak gitu. Benar enggak?
Nah, yang ketiga yang aku pelajari
adalah orang tua itu sepengin-penginnya
ngasih pendidikan terbaik buat anak,
tapi dia harus paham kemampuan
finansialnya dia.
Hm. Karena kalau dia enggak paham
kemampuan finansialnya, biasanya yang
terjadi adalah kan karena ni dia punya
uang nih dari gaji dan sebagainya, dia
keluarin semua nih Bilal. Padahal dia
sendiri enggak nyiapin buat pensiun dia.
Jadi akhirnya uangnya habis semua buat
dana pendidikan anak. Di masa pensiun
dia enggak punya ee apa aset atau apapun
yang bisa menyokong hidup dia. Dan dia
percaya, "Oh, kan gua udah invest di
anak, anak gua sukses, gua dibayarin
sama anak." gitu loh.
Heeh.
Jadi itu kayak enggak kelar. That's why
itu kenapa buat aku dan suami dana
pendidikan tuh penting banget dan kita
nyekolahin anak setelah kita tahu
duitnya udah ada bukan ya udah deh
jalanin aja insyaallah dicukupkan enggak
tapi lihat dulu oh ini benar bisa nih
bismillah yuk kita masukin gitu.
Mm karena aku nanya gitu even aku dan
beberapa teman-temanku juga masih di
lingkupnya gitu ya kita tidak memungkiri
itu gitu.
Iya. Heeh. Tapi kayak kata Mbak Berita
bilang tadi, kita bisa selesaikan itu di
kita, memotong generasi itu di kita,
gitu. Nah, kalau Pak Berita sendiri itu
memang sudah memotong atau memang dari
dulu
parenting-nya berbeda memang memang
parentingnya itu sangat-sangat upgrade
gitu loh memahami tentang
sebenarnya sih aku tuh juga gimana ya
karena gini kadang kalau kayak di
podcast kayak gini kan sometimes orang
juga nonton mungkin sepotong atau gimana
gitu ya terus nanti bilang kayak oh si
perita ngomong gini nih tentang orang
tuanya gitu-gitu segala macam gitu kan
itu bisa menyinggung perasaan dan
sebagainya gitu
cuman kalau dibilang yang bahwa aku
benar-benar kayak bebas melakukan apa
yang aku mau sih sebenarnya enggak
enggak juga.
Aku tuh to be honest dulu tuh punya
cita-cita tuh pengin jadi penari.
Oke.
Kamu percaya enggak sih aku dulu penari
balet?
Enggak percaya karena enggak pernah
lihat ya.
Ya iyalah udah pakai jilbab tahunya
juga.
Dulu tuh aku nari balet dari usia 5
tahun dan aku baru selesai nari itu pada
saat aku menikah.
Which
is balet itu kan setahuku mahal ya.
Dulu sih biasa aja, tapi ee maksudnya
gini, em apa namanya? Aku memang
kepengin punya cita-cita jadi
profesional dancer. H
lalu berubah jadi pengin punya sekolah
balet.
Oke.
Jadi dulu tuh cita-cita aku kuliah di
London
yang mana akhirnya gugur gara-gara
Krism.
Jadi dari London beralih ke Depok.
He
gitu kan. Emang kamu pikir dulu aku
pengin kuliah akuntansi enggak lah.
Gitu. Tapi itu cuma best option yang aku
punya karena aku dapat jalur undangan
waktu itu.
Dan orang tua sangat mendukung untuk
masuk akuntansi.
Iya. Basically kan dulu ibu aku yellow
jacket juga. Jadi kayak biasalah kan
kalau kayak oh orang tua di sini kan
kebanggaan lah kalau nerusin legasy ya
gitu-gitulah gitu. Jadi aku ada tuh
kayak gitunya kayak ya udah deh aku
bikin bangga orang tuaku apalagi aku
bisa lolos tanpa tes apa segala macam.
Pada saat itu kan kayak enggak mudah
juga pilihannya soalnya enggak banyak
kan. Dulu kan cuman ada tes atau tanpa
tes udah enggak ada jalur-jalur banyak
kayak sekarang tuh enggak ada gitu. Jadi
ya udahlah aku bikin bangga orang tua
dan sebagainya gitu loh.
Walaupun pada akhirnya sih aku menyadari
bahwa oh ya mungkin ini sesuatu yang
memang baik untuk aku. Tapi aku enggak
bisa pungkirin aku tuh dulu sebenarnya
punya keinginan lain loh sebenarnya yang
enggak kesampaian kira-kira tuh gitu.
Nah kalau suami aku memang dia lebih
dibebasin. Jadi dia tuh kebalikannya
aku. Kalau aku tuh lebih kayak dijagain
banget. Kalau suami aku tuh kayak
benar-benar udah bebas gitu, kayak dia
nentuin sendiri aja segala macam.
He.
Jadi akhirnya kita sebagai orang tua nih
ketemu di tengah gitu loh antara aku
yang masih ada jaga-jagainnya. Sedangkan
suami aku juga sadar bahwa anak laki tuh
enggak boleh digituin apa segala macam.
Jadi parenting kita akhirnya jadi
jadi ya kalau tadi kamu bilang udah
lebih upgrade ya alhamdulillah ilmunya
juga udah lebih banyak kan gitu. Jadi
kita bisa nih enggak ngelakuin gitu ke
anak gitulah kira-kira. He he. Untuk
menentukan prioritas keuangan kita.
Heeh.
Kalau per hari ini mungkin aku melihat
Mbak Berita masih nomor satu anak gitu
ya.
Heeh.
Tranteta nomor dua, nomor 3, nomor 4,
nomor 5 seharusnya apa? Supaya menurut
kita tuh lebih rapi gitu.
Oke. Sebenarnya urutannya pertama tuh
bukan di anak tapi dana darurat.
Oke. Aku malah malah tidak ketebak. Aku
kirain dana darurat itu nomor dua gitu
loh.
No. Dana darurat itu harus selalu jadi
nomor satu. Yes.
Dan ini penelitiannya udah banyak. If
you have enough cash, you will be able
to make decisions logically. Artinya,
orang yang memiliki kas cukup akhirnya
enggak berlebih loh, dia akan cenderung
mampu mengambil keputusan secara logis
dan terstruktur
tanpa ada tekanan dari MSE keuangan
tadi.
Pertanyaannya jumlahnya berapa?
Penelitian terakhir di tahun ini oleh
Vangard dari Amerika Serikat ekivalen
3.000 US eh sori 2.000 US DO artinya
sekitar Rp30 juta kalau di Indonesiakan.
Tapi kan itu secara umum ya menurut aku
nanti harus disesuaikan lagi dengan kita
tinggalnya di kota apa dan sebagainya.
Benar.
Tapi ini tuh sebenarnya cash buffer bill
yang memang harus ada dalam bentuk cash
bukan cash ekivalen. Cash ekivalen tuh
kayak misalnya emas atau apalah
gitu-gitu liquid aset enggak. Ini cash.
Whenever you have that, percaya sama
aku. Itu berdasarkan penelitian dibilang
bahwa pertama kamu bisa mengambil
keputusan lebih terstruktur. Kedua, kamu
mengurangi bengong-bengong mikirin duit
itu 2 jam dalam seminggu.
Oke.
Ternyata kita tuh sering bengong mikirin
duit loh. Kayak misalnya kita kayak
hmm apa ya? Mendingan ini ngapain ya
gitu. Itu ternyata bisa diminimal bisa
dikurangin sampai 2 jam seminggu.
Artinya lu bisa lebih produktif atau lu
mau ngapain kek, nonton kek, whatever di
tempat lain gitu loh.
Ya kan artinya ini mesti dikejar.
Walaupun orang bilang praktiknya susah
ya praktik ya gimana kamulah. Tetapi kan
ini teorinya nih aku mau kasih tahu apa
yang baik gitu loh. Seperti orang
ngomong
dewasa itu tidur harus 8 jam sehari.
Pernah dengar gitu enggak
praktiknya? Emang orang beneran 8 jam.
He he he. 6 jam. 6 jam lah ya. Iya. Kan
artinya jangan jangan karena kita enggak
bisa ngerjain teorinya kita langsung
bilang itu salah. Enggak. Itu tetap
benar tapi mungkin kita susah aja
ngejalaninnya.
Nomor satu itu dana darurat.
Nomor dua.
Dana darurat. Oke.
Yes. Itu yang pertama. Nomor dua itu
sebenarnya adalah tempat tinggal.
Oke. Aku nebaknya tadi asuransi.
No. Tempat tinggal.
Tempat tinggal. Alr.
Karena tempat tinggal itu kan kebutuhan
dasar manusia.
H.
Terlepas kamu mau ngontrak, kamu mau
punya sendiri, terserah deh. Tapi kalau
kamu mau ngontrak, kamu harus punya uang
buat ngontrak sampai usia berapa. Jadi
enggak berdasarkan oh ya gaji gua
segini, gua ngontrak beginilah. Dan
kalau emang udah ada gaji segini, kita
tuh juga tahu bahwa kita tuh mampunya
ngontraknya di kontrakan yang harganya
berapa, bukan yang gua pokoknya maunya
kamar mandi dalam, maunya gini apa
segala macam, ya. Tetap disesuaikan
dengan penghasilan kita.
Yap. Nomor tiga itu pada saat kita udah
menikah itu berarti dana membesarkan
anak. Jadi ada masuk nih tiba-tiba. Tapi
kalau kita belum menikah itu enggak
masuk. Nah, dari dana membesarkan anak
ini baru yang terakhir itu adalah dana
pensiun.
Jadi empat ini nih sebenarnya
dana darurat.
Heeh.
Tempat tinggal kita. Kalau sampai sudah
nikah dan punya anak berarti ada anak
nih masuk membesarkan anak. terakhir
adalah dana pensiun.
He.
Nah, dana darurat ini kadang bergabung
dengan asuransi.
Iya. Ya,
karena ada orang-orang yang kesulitan
misalnya untuk ngumpulin cash sebanyak
itu atau dana sebanyak itu. Solusinya
mungkin ya udah beli asuransi kesehatan,
kamu bayar premi segini. Jadi kalau
sampai karena sakit bisa digantiin lah.
Tapi empat ini tuh ceklis yang setiap
orang tuh harusnya akan kejadian gitu
loh bilang. He.
Nah, di luar itu gua sukan
gua sukanya ini, gua sukanya itu.
Seralah bebas.
H.
Kemarin nih aku waktu seminar nih, aku
cerita dikit ya. Waktu seminar ada Genzi
nanya sama aku.
He.
Karena di seminar itu tuh pesertanya
dari Genzi sampai udah mau pensiun.
Waduh, kalau udah dapat peserta yang
terlalu range-nya jauh gitu tuh kayak
oke deh gitu kan. Nah, terus dia nanya
gini, "Boleh enggak sih, Mbak Prita,
kalau aku kan Genzi nih, umur baru 25
tahun, boleh enggak kalau aku enggak
mikirin pensiun sekarang? Jadi aku 2
tahun ini aku mau happy-happy aja,
menyenangkan diriku sendiri dan lalu
nanti 2 tahun lagi baru aku mikirin
pensiun."
Hm.
Aku bilang sama dia, aku tanya balik,
"Terus kamu kalau kamu mau save atau
invest, kamu save atau investnya buat
apa?" Ya enggak tahu sih, pokoknya yang
penting punya tabungan aja. Enggak bisa.
Gua bilang gitu. Itu kesalahan Genzi
adalah kamu ngumpulin uang tanpa tahu
buat apa uangnya.
Heeh.
Itu salah besar. Dan aku akhirnya kasih
tuh si ee empat ceklist itu. Aku tanya
sama dia, "Dari empat ini kamu yang
belum punya yang mana?" Ternyata belum
punya semua. Akhirnya aku bilang, "Ya
jelaslah berarti kamu dana darurat kan."
Iya.
Jadi kamu sudah jelas sekarang kamu
nabung buat apa?
Dana darurat. Pada saat kamu tahu kamu
nabung buat dana darurat, apa impactnya?
Kamu tahu persis kamu nabungnya di mana?
Hmm. Harusnya dia nabung di mana?
Yes. Dia udah enggak nanya-nanya lagi
harusnya kan orang banyak juga Gensi
aduh pengin nabung, pengin investasi di
mana yang paling bagus ya kan gitu-gitu
kan segala macam kayak kebingungan.
Kebingungan itu enggak akan terjadi
kalau kita tahu tujuannya apa.
Hmm.
Akhirnya dia gini, "Jadi aku sebenarnya
boleh senang-senang. Siapa yang
ngelarang? Kan ada living saving
playing. Tapi savingnya kamu enggak
boleh tinggalin. Dana darurat kamu harus
kumpulin. Dan kalau kamu belum punya
tiga kali pengeluar rutin bulanan, I'm
so sorry.
Kamu belum bisa tuh healing-healingnya
seperti kamu mau. Aku bilang gitu. Kamu
carilah cara gimana kamu tetap bisa
healing, tapi kamu kekumpul itu semua.
Akhirnya dia baru ngerti gitu loh.
Karena kalau enggak gitu Bilal itu bakal
berantakan banget nanti ke depannya.
Aku sempat baca juga tapi aku lupa
spesifik berapa persen.
Heeh.
Tapi mostly Jenzy Indonesia itu
sebenarnya tidak punya dana darurat.
Mungkin sih. He.
Heeh.
Dan menurut Pak Berita kayak tadi kan
mungkin tiga kali pengeluaran per bulan
gitu ya.
Heeh.
Tapi secara pendapatan juga belum tentu
bisa nge-cover. Apalagi kayak tadi
mungkin ada yang sandwich generation
juga kayak harus bantu orang tua tutup
sana tutup sini gitu.
Heeh.
Kalau Mbak Berita masuk ke dunia mereka
Heeh.
harus ngapain?
Oke. Aku sebenarnya punya solusinya tapi
orang banyak yang enggak suka.
Enggak apa-apa. Silakan. Enggak apa-apa.
Solusinya jual barang.
Hmm. dan enggak malu jualan. Ya,
contoh ya. Aku lihat nih ke kamu sendiri
nih. Misal kamu bilang, "Mbak berita,
aku enggak punya dana darurat nih
sekarang." gitu. Aku lihat kamu, aku
scanning jam tangan jual.
Kenapa kamu pakai jam tangan? Buat lihat
waktu, Mbak Prita. Emang enggak bisa
lihat dari handphone? Aku yakin kamu
bisa.
Tapi kamu mau enggak ngelakuin itu?
Belum tentu.
Tapi kalau kamu nanya sama aku, gimana
caranya gue gini? Lu lihat aja di badan
lu sendiri lah, apa yang bisa lu jual?
Apa yang bisa lu kecilin? Misalnya
handphone, lu pakai yang kayak apa?
Handphone itu kan inti sarinya apa sih?
Biasanya kita chat gitu-gitu. Yang
lainnya tuh kan tambahan-tambahan ya.
Dan sekarang kan kita udah beruntung
banget punya opsi tuh beragam gitu loh.
Dari yang HP mungkin R juta sampai 20-an
juta ada semua Bilal.
Benar enggak?
Benar
ya. Kalau emang kita butuh dana darurat
kenapa lu punya handphone R-an juta? Itu
dana darurat lu.
Hm.
Sesimpel itu.
Sesimpel itu. Ya, benar.
Ada juga data yang aku kumpulin nih.
Katanya
banyak Jenzi itu menunda pernikahan
karena ingin fokus karir dan khawatir
soal keuangan.
Paham.
Mbak Birta juga sering nulis tentang
ini.
Paham.
Ada pendapat atau ilmu baru yang har
ingin kita pelajarin enggak? Soalnya aku
tadi ketika ada empat step tadi
itu di nomor tiga ketika dana pendidikan
anak ada juga orang memilih untuk tidak
punya anak.
Hm. Paham. Paham. Gimana menurut Pak
Pita?
Oke. Kita enggak bisa pungkiri bahwa di
Indonesia memang biaya pendidikan itu
adalah satu aspek yang cukup
challenging, if not brat, challenging
for so many people.
Oke.
However, aku kan juga dosen ya, aku
melihat bahwa sekarang sebenarnya the
education itu banyak. Oke. Nah,
pertanyaannya adalah kita sebagai orang
tua nyiapin bekal buat anak kita sejauh
mana? Makanya orang tua banyak yang
ragu-ragu akhirnya punya anak karena
enggak yakin bisa melakukan itu. Era aku
kemarin sempat share nih ada enam. Kamu
bisa dibilang siap finansial di level 1
untuk punya anak kalau pertama kamu udah
punya dana darurat dulu
karena itu penting. Enggak bisa itu.
Kalau itu enggak ada tuh agak bahaya
memang. Jadi tolong ya buat semua
calon-calon suami yang pada mau bikin
anak gitu ya, ngotot minta ke istrinya
atau yang anaknya udah dua tapi laki
semua ngotot pengin cewek gitu misalnya
ya, kamu lihat dulu dana darurat kamu
udah cukup atau belum sebelum kamu minta
istri kamu buat ya udah sama-sama
istilahnya untuk punya keturunan. Yang
kedua adalah kamu punya penghasilan yang
stabil. Karena tanpa penghasilan yang
stabil gimana mau punya dana darurat kan
logikanya gitu.
Benar. Oke, yang ketiga, kamu harus bisa
bayar premi asuransi kesehatan minimal
BPJS.
Minimal itu aja enggak apa-apa. Tapi itu
harus ada karena BPJS juga cover
melahirkan kan. Terus sudah gitu kamu
sudah bisa punya budgeting dan kamu mau
untuk menabung untuk urusan anak kamu.
Karena kadang ada orang tua juga yang ah
enggak mau banget gitu kan. Orang tua
juga berhak bahagia katanya gitu. Jadi
ee enggak semuanya tentang anak paham.
Tapi once kamu berani punya anak, itu
amanah. Kamu harus mau tuh nabung buat
itu. Yang keelima, kamu harus bisa punya
gaya hidup sederhana. Emang mau enggak
mau begitu sih. Jadi sederhana itu
artinya kalau kemampuan kita di sini,
kita hidupnya tuh di sini. Bukan berarti
kita juga jadi kayak frugal banget.
Belum tentu sih, tapi lebih sederhana
aja. Dan yang terakhir, kamu bisa
korbanin gaya hidup demi prioritas
keluarga. Ini yang biasa orang tua
berat.
Itu yang berat. Benar.
Itu yang berat. Nah, enam ini kalau jadi
ceklist kita, I think banyak sebenarnya
Genzi yang sudah siap punya anak
gitu. Karena bebannya itu kan sebenarnya
digengsi orang tua tuh juga penting ya.
Kayak gini, ah masukin anak di sekolah
SD yang kayak gini, "Ih, malas banget,
malu misalnya gitu." Padahal ya itu
kemampuan kita gitu ya. Orang tua itu
kan juga pintar,
kamu pintar. Orang-orang Gensi banyak
yang udah sekolah ya ajarin aja anaknya
sendiri juga di rumah lengkapi. Misalnya
enggak bisa sekolah berbahasa Inggris ya
orang tuanya aja ajak ngomong bahasa
Inggris kayak gitu-gitu loh. Sesimpel
itu. Heeh. Walaupun dipangkas kecil
kecil-kecil tapi dalam konteks mungkin
long term 5 tahun itu
ada hal yang lebih positif kalau mau
disaving ke darurat dan lain-lain. Ya.
Iya. Iya. Emang enggak kerasa sih.
Betul.
Sebelum kita masuk ke aku ada pertanyaan
simpel ke Mbak Berita ya.
dari Mbak Berita sendiri kira-kira ada
enggak pengalaman menarik dari klien ya?
Heeh. Heeh.
Tentang hutang, tentang apapun problem
yang mungkin bisa di-share ke kita dan
Mbak Berita itu ada solusi yang menarik
gitu.
Heeh.
Aku tuh sebenarnya encounter ada dua nih
ya dua yang e pernah aku temui dan
akhirnya kita handle langsung. Jadi
sebenarnya kan to be honest aku udah
enggak banyak handle klien personal gitu
ya karena aku ee kesulitan gitu. Tapi
masih ada dua yang pernah aku handle
langsung. Yang pertama nih kaitannya
dengan utang. Jadi ee penghasilannya
UMR, istrinya juga bekerja, pinjaman
online-nya 12 platform.
12 platform.
Heeh.
Wadaw.
Pertanyaan pertama aku kalau orang punya
utang yang lilitannya sampai seperti ini
adalah
ceritain ke saya dari yang tadinya kamu
enggak punya utang akhirnya kamu jadi
begini ceritain dari awal.
Itu harus diceritain. Karena di titik
itulah seorang financial consultant akan
paham ini masalahnya kenapa. He.
Karena ada orang yang memang pinjol itu
karena dirinya dia. Ada yang karena
keluarga, ada yang karena sakit,
macam-macam lah. Jadi pada saat dia
cerita, kita akan tahu sebenarnya ini
kira-kira solusinya yang mana.
H.
Nah, akhirnya dia udah cerita, akhirnya
ketahuan bahwa oh gaya hidup. Dia
sendiri mengakui kegoda pengin upgrade
handphone padahal enggak mampu. Dan pada
saat itu ternyata enggak lama pandemi
kena cut.
Hm. punya penghasilan. Tapi kan pada
saat pandemi banyak yang tunjangan
berkurang kan.
Karena tunjangan itu melekat pada
kedinasan, sedangkan gaji melekat pada
orang. Biasanya gaji enggak dipotong
Bilal, tapi kayak misal waktu pandemi
enggak ada perjalanan dinas, enggak ada
apa kan tunjangannya berkurang jauh.
Iya.
Jadi kalau orang menghadapi seperti itu
pakai tunjangan, pantesan bahaya.
Pertanyaan kedua,
he
pasangan kamu gimana? Kamu mau keluar
dari sini apa enggak? Karena kalau
pasangannya juga enggak bareng, enggak
akan bisa. Percuma dia mau. Oke,
akhirnya kita bikinin nih skema gitu ya.
Gimana menyelamatkan cash flow dia. Itu
ada ee metodenya teknis banget sih
namanya ee metode bola salju. Nanti
kapan-kapan bisa cerita deh. Tapi
kira-kira
dengan metode itu
dalam 10 bulan itu platform udah
berkurang sisanya tinggal dua.
Hm.
tinggal dua dan akhirnya pelan-pelan.
Katanya sih bulan kemarin baru lunas
setelah berapa tahun?
1 seteng.
Tapi itu memang harus ada effort luar
biasa.
Y
artinya apa? Masih ada secerca harapan.
Hm.
Indonesia cerahlah gitu. Kalau memang
dari kita dari kita memang ee mau untuk
melakukan itu.
Nah, on the other hand, yang satu lagi
case yang pernah aku tangani adalah ini
malah high networ individual.
Wow.
Ya, mungkin orang enggak akan nyangka,
"Hah, masa iya sih orang kalau udah
kayak gitu bakal kesulitan." Ternyata
kejadiannya adalah pasangannya yang
berpenghasilan itu kena stroke.
Pasangan yang berpenghasilan which is
suaminya. Yes. Kena stroke di usia muda.
Hmm.
Oke. Padahal asetnya di mana-mana. di
luar negeri, di Indonesia apa segala
macam ini itu mungkin orang ngelihatnya
kayak masa udah punya aset sebanyak itu
ini. Karena rupanya pengeluarannya tiap
bulan itu sekitar 300 sampai R00 juta.
Terus emang kamu pikir it's very easy
untuk ya udah Mbak gitu tinggal turunin
aja ini kamu. Enggak bisa. Karena gaya
hidup yang orang udah ada di porsi itu
emang either kamu turun dan kamu keluar
dari pergaulan atau ya kamu jual-jual
barang sesimpel itu.
Mm
keluar dari pergaulan ya berarti memang
ada bukan subscription bukan atau
berlanganan apapun tapi memang ada hal
yang bikin dia terikat sama satu
komunitas gitu ya dan mereka harus ada
pengeluaran yang sama di tingkat itu
kan. Iya dong. Kayak misal kamu ikut
komunitas motor apa gitu kan pasti ada
pengeluaran. Kamu ada komunitas ini,
kamu pasti ada pengeluaran segitu. Itu
kayak udah ada be minimum yang harus
kita punya lah kira-kira gitu. Nah,
kenapa sih bisa sampai pengeluaran
sebesar itu? Biasanya pengusaha.
He.
Nah, pengusaha itu kan emm kadang suka
bikin perjanjian bisnis atau apa yang
pasangannya enggak tahu.
Nah, itu masalah dia juga di situ.
Tiba-tiba suaminya stroke juga enggak
bisa ngapa-ngapain. Tiba-tiba datang
nih. Gitu kan. Maksudnya orang-orang
bilang, "Nih suaminya ee kemarin ada
utang gini begini kan bingung nih
istrinya." gitu kan segala macam gitu.
Ya udah akhirnya aku cuman bisa bantu
kalau itu aku jujur enggak bisa
nyelesaiin. Kenapa? Karena tidak ada
kemauan dari ee mungkin bukan tidak
kemauan tapi sulit kali ya gitu ya. Jadi
aku akhirnya cuman bisa bantu bikinin
kalau masih bisa dikerjain kayak gini.
Iya.
Tapi aku enggak bisa paksa orang
ngerjain itu gitu loh.
He he
gitu. Jadi menarik ya, yang malahan kita
pikir udah enggak punya harapan malah
bisa selesai. Malah yang kita pikir
harusnya kamu udah wah function of
freedom lah lah malah jadi begitu gitu
loh.
Iya. Iya. Karena emang orang lupa bahwa
pemasukan gede kalau pengeluaran lebih
gede bakal bang.
Exactly. Ya, Teman-teman berkelas,
sebelum kita lanjut podcast ini, aku
cuma mau bilang info spesial khusus
untuk kamu. Mulai hari ini, kamu sudah
bisa join membership resmi Suara
berkelas. Kamu bisa dapetin exclusive
summarize dari episode-episode favorit
aku di Suara berkelas. Dan setiap
bulannya bakal ada akses eksklusif buat
kamu ngelihat behind the scen podcast
suara berkelas seperti obrolan aku
dengan narasumber off the record dan hal
menarik lainnya yang bakal aku share
khusus untuk membership ini. Jadi kalau
kamu merasa podcast suara berkelas
mengubah cara pandang kamu melihat
dunia, feel free untuk join membership
suara berkelas atau klik link di
deskripsi. Sampai jumpa dan jadilah
bagian dari perjuangan dan perkembangan
suara berkelas.
Mbak Prita, tiga pertanyaan dari
teman-teman. suara berkelas.
Pertanyaan pertama dari HDR
236. Heeh.
Mbak Prita, jujur saya sering ngerasa
gagal sebagai anak karena belum bisa
membantu keuangan orang tua saya.
Gimana cara simpelnya untuk bisa
berdamai dengan perasaan ini ya sambil
tetap bermimpi untuk masa depan saya
sendiri?
Oke. Pertama, kamu tidak gagal. Oke. Ee
kamu bisa dibilang gagal kalau kamu
melakukan hal-hal yang bertentangan
dengan agama. Kalau itu buat aku seperti
itu.
I.
So, as long as kamu enggak seperti itu
dan kamu tetap berusaha, kamu mesti
percaya bahwa ya memang porsi kamu saat
ini seperti itu.
Dan orang tua kamu kalau dia adalah
orang tua yang baik, dia akan bisa
menerima itu. Karena sebenarnya ya ada
istilah anak katanya durhaka, tapi orang
suka lupa orang tua tuh juga bisa
durhaka loh sebetulnya.
Tapi jarang terekspose kali ya.
Exactly. Jadi, em tolong hindari dan
keluarin pikiran bahwa saya gagal, tapi
usaha terus. Dan yang namanya
membanggakan orang tua itu enggak melulu
dari sisi finansial atau pencapaian
hidup.
Hm. Heeh. Kalau dari sisi
gagal itu kan orang-orang emang ngelihat
dari materialistisnya gitu kayak
He.
Ada barangnya bisa bawa orang tua umrah
gitu ya.
Itu kan yang ditunjulkan dimunculkan
juga di sosial media ya.
Tapi aku sangat-sangat relate sama
kata-kata di awal tadi ya sebelum Q&A
ketika ketika kita tidak membani orang
tua kita.
He.
Ketika kita bisa fulfill kita punya
dream sendiri dengan uang kita, itu
sebenarnya sudah konteks yang sukses ya
untuk seorang anak ya.
Karena kan logikanya tugas orang tua itu
adalah dititipi dapat amanah untuk
membesarkan, mendidik, men-urture,
meng-guide supaya akhirnya mereka bisa
mandiri dong. He.
Jadi sebetulnya kalau akhirnya anak itu
bisa bertanggung jawab sama dirinya
sendiri dan keluarganya dia dan kalau
aku tambahannya dalam koridor agama yang
aku anut, ya itu anakku ya alhamdulillah
udah sukses gitu loh.
Yap, yap.
Aku ke petang kedua ya dari Layla Utami.
Kak izin nanya kalau kita terlil hutang
dan kita ngerasa bahwa tidak ada jalan
keluarnya,
Heeh.
aku harus melakukan aksi apa? ya untuk
aku bisa melihat harapan itu masih ada.
Oke.
Angka tidak pernah berbohong. Jadi aku
akan selalu bilang, "Kamu ambil kertas
dan ambil pen. Jangan tulis di laptop
atau ketik-ketik. Karena journaling
dengan tangan itu efeknya beda dengan
ketikan."
Hm. ambil kertas, bikin tabel utang saya
di platform apa aja atau institusi apa
aja, bank atau apapun itu. Berikutnya
adalah berapa jumlah cicilan saya.
Berikutnya adalah berapa sisa utang yang
masih harus saya bayar. Jadi totalnya
nih. Terakhir adalah berapa bunganya.
Oke, kamu urutin dari yang cicilannya
ya, yang di mana sisa utang itu paling
kecil.
Jadi kalau sisa utang paling kecil itu
utang yang mana? Terlepas dia cicilannya
berapa besar atau bunganya berapa besar,
itu duluan yang kamu selesaikan. Teori
ini bilang kalau kamu bisa menghilangkan
satu ee list dalam daftar itu akan
sparks eh kepercayaan diri bahwa aku
ternyata bisa loh melakukan ini.
H.
Nah, caranya gimana? Maka kamu harus
lihat nih oke dari penghasilan kamu itu
emang kurang atau tidak? Kalau misalnya
memang ada faktor kurang, kamu lihat
masih mungkin enggak kamu lebih fruga
lagi. Kalau emang tidak bisa ya memang
tidak ada jalan lain selain kamu harus
mencari cara menambah income mungkin
untuk sementara waktu. Di mana sekarang
opsinya itu ee cukup banyak ya, baik
dari ee online, commerce, macam-macam
lah. Tapi itu bukan yang harus
terus-terusan. Hanya sampai batas kita
mulai bisa ngilangin daftarnya satu
persatu.
Hmm. Ya, ya. Ya, aku aku setuju sama
itu.
Heeh.
Dan masuk akal masih bisa realistis
untuk kita kerjain.
Betul.
Pertanyaan ketiga dari Safira Khaila.
Mbak, izin nanya. Saya sering
menghindari ngobrol keuangan karena
takut memicu konflik dengan keluarga
saya.
Hm.
Padahal di satu sisi saya ingin membantu
adik saya kuliah dan sisi lain orang tua
juga banyak banget hutangnya gitu. He.
Saya sendiri belum mapan dan saya ingin
mengatur keuangan saya dengan sehat tapi
susah
sebagai tulang punggung keluarga. Ada
solusi.
Oke. Again, angka tidak berbohong.
Ada satu tools yang jarang banget
dipakai sama orang, tapi ini penting.
Oke,
namanya tools
balance, kekayaan bersih pribadi. Jadi,
basically kita bikin di sebelah kiri itu
semua harta yang kita punya, di sebelah
kanan itu adalah semua pinjaman yang
masih harus dibayar, bukan cicilan
pinjamannya.
Pinjaman. Dalam hal ini kan tadi dia
share ini orang tua yang banyak hutang.
Berarti hartanya itu termasuk harta
orang tua. H.
Oke.
Y.
Dari sini sebenarnya akan kelihatan
Bilal orang tuanya sebenarnya punya
harta enggak sih buat bayar pinjaman
tersebut? Kalau misalnya iya contoh
misalnya jual rumah ya maka mungkin itu
perlu dilakukan. Tapi ingat pada saat
jual rumah artinya dia harus menyisihkan
sejumlah uang untuk bisa ngontrak untuk
sekian lama. Kira-kira gitu. Karena kan
dia tetap harus punya rumah tinggal.
Nah, itu sebenarnya adalah kuncian. Ada
orang yang pernah nih cerita anaknya tuh
kayak sedih sedih sedih sedih sedih gitu
karena ini kayaknya my parents tuh broke
deh. Dia enggak nyiapin tabungan buat
aku kuliah. Jadi kayaknya aku mesti cari
beasiswa. Lala la.
Tapi terus dia sempat cerita juga bahwa
iya dia tuh gimana sih enggak nyiapin
tabungan gini gini gini tapi dia masih
ada rumah tiga
sama masih punya mobil satu.
Artinya apa? dia pikir tabungan itu
harus berbentuk tunai cash. Padahal
berarti si rumah yang tiga itu ya harus
dijual. Benar enggak?
Mungkin pada saat itu cita-citanya punya
rumah mau dikontrakin atau apa, tapi
ternyata enggak bisa karena ada tanggung
jawab ini. Nah, dengan begini aku pengin
ee pendengar kita ini itu tuh ngobrol
sama orang tuanya sama-sama duduk bareng
dan cari solusi untuk utang tersebut.
Baru berikutnya ini soal si kuliah adik
itu.
Iya. Karena kuliah adik itu juga adiknya
harus diajak ngobrol. Kakak mampunya
segini. Kalau kakak mampunya segini,
opsi ee kuliahnya tuh di sini, sini
sini. Ya, adiknya juga memang perlu
untuk memahami kakaknya kemampuannya
gimana. Tapi kadang-kadang yang kejadian
adalah si kakaknya kan diteror gitu kan,
dibilang, "Kamu tuh ya dulu semua
uangnya bapak ibu tuh buat muliahin kamu
gitu. Giliran kamu sukses, kamu enggak
mau lagi bantu adik-adik apa segala
macam." Ah, balik lagi tuh financial
unmasment. Iya dong.
Sekarang tinggal pilihan di si kakak.
Si kakak ini mau ngikutin semua yang
diomong itu atau dia berani untuk
ngomong? Nah, ini kan titik pilihan nih,
Bilal.
Kalau Kakak bilang kayak tadi, dia
bilang, "Aku enggak berani berkonflik."
Berarti itu pilihan hidupnya dia.
Artinya kamu mesti sadar penuh bahwa
this life itu akan menggeluti kamu for
the next berapa gitu loh ke depan. Dan
itu pilihan sadar kamu loh karena kamu
tidak mau berkonflik.
Yang tadi aku sering bilang bahwa kamu
memilih loh untuk enggak apa-apa deh gue
diginiin daripada gue diomongin orang,
gue dibilang anak durhaka, gue dibilang
apa enggak apa-apa deh. Ya berarti itu
yuk
secara sadar kamu mau melakukan itu.
Maka kalau udah itu yang kamu pilih, aku
cuman punya satu saran. Ih kelas.
Iya. ikhlas dalam kesedihan.
Mau gimana lagi? You choose that. Dan
kalau kamu bilang, "Aku enggak punya
pilihan," manusia itu selalu punya
pilihan.
Tapi pilihan seperti apa yang berani
kita ambil dan sanggup mungkin kita
ambil? Kan kadang ya omongan orang kan
emang suka nyelekit banget. Tapi kan
faktanya ada juga yang cuek banget,
enggak peduli, ada juga yang aduh gitu
kan. Ya sudah, kamu yang paling tahu
diri kamu. Kalau kamu enggak sanggup, ya
udah berarti ini harus kamu jalanin,
gitu aja.
Iya. What you're not changing, you're
choosing, katanya. Yes.
Karena itu pilihan hidup. Ya,
betul.
Terakhir, Mbak Prita, aku penasaran, ada
enggak the worst advice yang pernah
Kakak dengar?
Ada.
Ini tuh menarik ya, karena aku enggak
tahu sebenarnya ini potongan aja atau
ini tuh lengkap. Karena sometimes
nasihat keuangan itu suka
dipotong-potong. Tapi kayaknya sih yang
ini aku dengarnya tuh udah komplit,
yaitu
orang dibilang enggak perlu kamu bikin
budget. Itu 50, 30, 20 living, saving,
playing tuh bikin kamu malah enggak bisa
achieve apa-apa. Udahlah jalanin aja lu
duit punya berapa, ya udah
pengeluarannya berapa. Yang penting
katanya gitu yang penting enggak minus
itu
bahaya banget karena penelitiannya sudah
banyak sekali bahwa budgeting helps us
to make
logical decision.
Hm.
Karena dengan budgeting itu ada di
mental kita tahu bahwa saya memang hanya
boleh pakainya segini. Jadi kalau
misalnya ini lewat, saya sadar penuh ini
tuh lewat dan saya tahu bahwa saya
harusnya balikin ke sini suatu hari
nanti. H
mungkin enggak sekarang. Tapi aku tuh
selalu yakin akan ada masa-masanya
Tuhan kasih kita rezeki lebih, Bilal.
Enggak mungkin enggak.
Benar. Benar.
Aku yakin banget itu. Dan pada saat itu
terjadi dan kamu enggak punya budget
akan bablas aja. Aku sering bercanda
sama bapak-bapak di seminar. Aku bilang
gini, "Coba Bapak-bapak ingat-ingat.
Kalau sekarang Bapak-bapak sudah mau
pensiun, belum punya dana pendidikan
anak, terus Bapak-bapak bilang, "Udahlah
entar insyaallah dicukupkan." Enggak
boleh begitu. Jangan-jangan dulu
rezekinya udah turun, tapi terus
Bapak-Bapak pergi ke dealer mobil jadi
DP dia tuh.
Hm.
Bukan malah jadi dana pendidikan anak.
Pilih DP mobil instead of dana
pendidikan anak. Coba jujur sama aku,
STNK udah ganti berapa kali baru pada
ketawa.
There goes your dana pendidikan anak.
Aku bilang gitu. Dan itu alasannya
karena enggak punya budget.
Hm.
Nah, kalau kamu belum bisa ngejalanin
budgeting living 50%, saving 30%,
playing 20%, jangan salahkan teorinya.
Tapi kita adjust. Oke, saat ini mungkin
kita UMR, yang penting kita enggak
payat, yang penting kita enggak pinjol
gitu ya. Tetapi we know bahwa nanti saat
kita udah semakin baik kondisinya itu
yang kita kejar.
Y.
Jadi itu menurut aku penting banget
untuk semua orang punya budget supaya
mereka bisa create hidup yang memang
lebih indah dan sejahtera.
Wow sekali. Thank you Pak Rita atas hari
ini. Aku sangat banyak belajar hal baru.
Thank you juga.
Thank you. Sehat terus. Terima kasih
semuanya. Sampai jumpa. Yeah.
More transcripts
Explore other videos transcribed with YouTLDR.

Mi niñez fue un fusil AK-47
Comisión de la Verdad · Spanish

7. Un Remanente Fiel - Pr. Esteban Bohr || Verdades Para Este Tiempo
SUMtv Latino · Spanish

PENGERTIAN RELASI, FUNGSI, DOMAIN,KODOMAIN DAN RANGE
Utak Atik Otak · English

ساعة الأثرياء | الدحيح
New Media Academy Life · Arabic

You Won't Believe How Easy AlpineQuest Software Makes Geological Field Work | Offline Mapping
MOoDY 4 knOwledge · English

Mundos Olvidados
Cinematix · English

🎨 Apa Itu Sebenarnya Pelajaran Seni? #BelajardiRumah
Kok Bisa? · English

Bab-I: Teks Laporan Hasil Observasi kelas 10 SMA/SMK ~ Bahasa Indonesia
Belajar Prestasi · Indonesian

KONSEP BUDAYA| PENGERTIAN BUDAYA DAN SENI
BU APRIL · Indonesian

العقيدة الطحاوية (٤٠) | شرح أ.د. صالح سندي
أ.د. صالح سندي · English

Living the Change: Inspiring Stories for a Sustainable Future (Free Full Documentary)
Happen Films · Indonesian

SENI BUDAYA (SENI TARI) "ELEMEN DASAR TARI"
Budianing DNA · English
Get the TLDR of any YouTube video
Transcribe, summarize, and repurpose videos in 125+ languages — free, no signup required.