Full Transcript

·YouTLDR

FASE Keuangan 20an ke 40an Yang Jarang Orang Bahas! | SUARA BERKELAS #86

1:08:06IndonesianTranscribed Jul 20, 2026
0:00

Jadi kalau ada yang bilang di usia 20-an

0:02

tuh yang penting cari kenyamanan hidup

0:03

dulu. Kalau bisa jangan. Karena di usia

0:07

30-an percayalah sama perita Gozi yang

0:09

udah mengalaminya dan banyak orang lain.

0:12

Rata-rata orang di umur 30-an itu beban

0:15

hidupnya akan naik saat dia udah mulai

0:18

bisa punya rumah nih Bilal. Titik

0:19

kesalahannya adalah wah ini rumah yang

0:22

udah gue idam-idamin. Gue udah frugal

0:24

efek banget. Jadi sekarang gua mau ngisi

0:26

rumah gue gila-gilaan. Salah.

0:29

Jangan lakukan itu. Si anak ini itu

0:32

nanti akan menghasilkan kayak trauma

0:35

generasi.

0:37

Dia akan nurunin lagi ke anaknya.

0:39

Oh

0:39

kalau dia enggak berhenti di situ.

0:41

Karena yang dia pahami adalah inilah

0:43

cara mendidik anak. Logikanya

0:45

mirip-mirip sama orang yang UMR, tapi

0:48

tanggungannya ada beberapa dan dia gak

0:49

bisa saving. Jadi, penghasilan si suami

0:51

ini yang memang buat hidup aja, tapi

0:54

penghasilan si istri inilah yang memang

0:56

buat save, buat darurat, buat ini, buat

0:58

itu segala macam. Terlepas kamu mau

1:00

ngontrak, kamu mau punya sendiri,

1:03

terserah deh. Tapi kalau kamu mau

1:05

ngontrak, kamu harus punya uang buat

1:07

ngontrak sampai usia berapa. Jadi,

1:10

enggak berdasarkan oh ya gaji gua

1:11

segini, gua ngontrak beginilah. Dan

1:13

kalau emang udah ada gaji segini, kita

1:15

tuh juga tahu bahwa kita tuh mampunya

1:17

ngontraknya di kontrakan yang harganya

1:19

berapa.

1:21

Halo semuanya, kembali lagi di podcast

1:23

suara berkelas. Hari ini aku kedatangan

1:26

tamu spesial, ada Mbak Prita Gozi.

1:29

Halo,

1:30

akhirnya suara berkelas.

1:31

Yes.

1:32

Prita Gozi adalah dosen dari FBUI,

1:35

Fakultas Ekonomi dan Bisnis dan juga CEO

1:39

dari ZFinance dan principal dari Z

1:41

Finance. Yes.

1:42

Terima kasih, Pak. Welcome to the show.

1:44

Thank you. Thank you sudah ngundang.

1:46

Aku penasaran karena aku sering nonton

1:48

atau lihat konten-kontennya.

1:50

He.

1:51

Ada konten yang aku save.

1:52

Heeh.

1:53

Yaitu tentang ngelewatin tiga financial

1:56

journey.

1:57

Hm.

1:58

20-an, 30-an, 40-an.

2:00

Heeh.

2:01

Dan aku rasa kayak 20-an, 30-an itu sama

2:03

aja. Tapi Mbak Prita malah nge-breakdown

2:05

itu dengan jurnia yang berbeda atau step

2:08

by step yang berbeda gitu. Boleh cerita

2:10

aku penasaran. Boleh. Jadi di konten itu

2:12

tuh aku share kalau financial journey

2:14

itu basically tuh kita bisa bagi tiga.

2:17

Di usia 20-an tuh sebenarnya adalah masa

2:20

kita surviving.

2:22

Nah, aku e istilah nuanginnya tuh dengan

2:24

kerja-kerja living. Nah, terus nah usia

2:27

20 e 30-an naik lagi itu adalah usia di

2:30

mana kita tuh mulai stabil biasanya tuh

2:32

gitu. Nah, aku nuanginnya dengan

2:35

kerja-kerja saving.

2:37

Oke.

2:37

Nah, di usia 40-an hopefully everything

2:41

udah mulai sustain dan kita akhirnya

2:42

bisa grow gitu kan. Nah, di situ aku

2:45

menuangkannya menjadi em

2:48

saving, playing, playing.

2:50

Aku bilang gitu ya. Bukan enggak kerja

2:52

lagi sih, masih kerja tapi ada saving

2:55

dan ada playing juga lah. Nah,

2:57

sebenarnya aku tuh mesti balikin dulu

2:59

nih dengan istilah living, saving,

3:01

playing itu.

3:02

Yes.

3:02

Itu adalah istilah yang sering banget

3:04

aku pakai sejak aku pertama kali e mulai

3:07

sering ngajar atau bikin dulu materi

3:10

konten. Tadi kita sempat ngobrol konten

3:12

zaman dulu tuh masih artikel gitu kan,

3:14

jadi agak panjang. So, aku berusaha

3:17

mencari apa ya pengganti dari ini adalah

3:20

kebutuhan, ini adalah apa, something

3:22

yang lebih em apa simpel dan

3:25

mudah-mudahan catchy gitu. Aku akhirnya

3:27

nemu waktu itu tiba-tiba pas sebelum mau

3:29

naik panggung living, saving, playing

3:31

kayak ada yang ngebisikin aja gitu.

3:33

Entah gimana. Akhirnya aku jadi sering

3:34

pakai itu. Living adalah berbagai

3:37

pengeluaran yang memang harus kita

3:39

lakuin, Bilal.

3:41

Karena tanpa itu hidup kita enggak bisa

3:43

berjalan. Contohnya makan, minum, rumah

3:47

tinggal. Meskipun kos ya enggak apa-apa,

3:49

tapi kita tetap butuh rumah tinggal,

3:50

transportasi. Itu semua masuknya ke

3:52

living. And then kita punya playing.

3:55

Nah, playing ini adalah pengeluaran yang

3:57

bisa jadi keinginan, bisa jadi kebutuhan

4:00

kita. Intinya dia membuat hidup kita

4:03

lebih nyaman. H.

4:04

Jadi, kalau itu enggak ada, kita masih

4:07

enggak apa-apa tapi enggak nyaman aja.

4:09

Nah, itu adalah playing. Dan yang

4:11

terakhir adalah saving. Nah, saving itu

4:13

sebenarnya bahasa Inggrisnya kan to

4:15

save.

4:15

To save itu kan sebenarnya bukan nabung,

4:18

tetapi kayak menyisihkan,

4:20

mengalokasikan, apapun itulah namanya.

4:22

Saving itu sebenarnya lebih general

4:24

karena saving ini bisa terus kita

4:26

aplikasikan jadi tabungan, bisa juga

4:29

jadi investasi atau apapun. intinya

4:31

terbagi menjadi tiga itu. Nah, aku

4:33

ngelihat di usia 20-an

4:36

biasanya tuh kita akan fokus tuh adalah

4:38

kerja.

4:39

Oke.

4:39

Dan lebih banyak orang yang memang kerja

4:42

buat surviving.

4:44

Hanya sedikit orang yang kerja tuh untuk

4:47

passion

4:49

apa istilahnya apa ini diri itu

4:51

aktualisasi. Karena enggak semua orang

4:53

seberuntung itu.

4:55

Yang aku lihat adalah di usia 20-an,

4:57

akhirnya kita hampir kerjain ya udahlah

4:59

apa aja yang penting kita bisa survive.

5:01

Nah, tapi jangan berhenti di situ.

5:04

Kenapa? Karena di usia 20-an ini pada

5:06

saat kita tahu ini adalah momen kita

5:08

survive, sebenarnya di sini tuh harus

5:11

kita benar-benar pikirin yang buat

5:13

living itu jangan porsinya terlalu

5:14

besar. Kenapa? Karena pada saat kita

5:18

udah membiasakan diri, punya

5:19

pengendalian diri di umur 30 tuh lebih

5:21

gampang biasanya. Hopefully di umur

5:23

30-an penghasilan kita meningkat,

5:26

akhirnya kita punya nih alokasi buat

5:28

bisa kita sisihin yang mana mungkin di

5:30

umur 20-an ada yang bisa, ada yang

5:32

enggak. Kira-kira tuh gitu. That's why I

5:34

call it eh kerja-kerja mulai saving.

5:36

Nah, dengan saving ini sebenarnya kita

5:39

lagi berusaha membentuk yang namanya

5:42

triangle of income.

5:44

Triangle of income ini itu adalah eh

5:47

satu struktur di mana orang kalau bisa

5:50

dapat penghasilan itu dari kerja aktif

5:52

dia. Kayak misalnya sekarang kita kerja

5:54

aktif

5:55

and then terus dia harapin juga dia

5:57

dapat penghasilan dari portfolio income.

6:00

Artinya kan harus ada save-nya dulu

6:01

dong. H

6:02

yang itu nantinya bisa menghasilkan

6:04

income. Dan jangan lupa ada juga mungkin

6:07

pekerjaan atau aset yang memang juga

6:11

bisa kasih penghasilan. Sebagai contoh

6:13

misalnya kayak penulis, dia nulisnya

6:15

sekali ya, hopefully dia dapat royalty.

6:19

I

6:19

nah itu adalah income yang terakhir yang

6:22

kita sebut productive income. Nah, kalau

6:25

kita bisa build itu di usia 30-an dengan

6:28

jumlah berapapun itu, hopefully di usia

6:31

40 kita kerjanya tuh lebih enak, lebih

6:35

bisa memilih mau ngerjain apa karena

6:38

kita udah bisa masuk ke fase playing

6:40

yang mana membuat hidup kita lebih

6:41

nyaman. Hm.

6:43

Jadi kalau ada yang bilang di usia 20-an

6:45

tuh yang penting cari kenyamanan hidup

6:47

dulu. Kalau bisa jangan. Karena di usia

6:50

30-an, percayalah sama perita Gozi yang

6:53

udah mengalaminya dan banyak orang lain,

6:55

rata-rata orang di umur 30-an itu beban

6:58

hidupnya akan naik karena mungkin dia

7:01

menikah,

7:02

dia punya tanggungan, dan lain-lain. Dan

7:05

di umur 40-an itu sebenarnya menurut

7:07

data statistik adalah generasi sandwich

7:11

yang mungkin sesungguhnya

7:13

40-an.

7:13

40-an. Jadi from the beginning generasi

7:16

sandwich itu termsnya dulu diciptakan ya

7:18

waktu tahun -an dari Amerika Serikat itu

7:21

sebenarnya adalah untuk mereka yang

7:22

usianya 40-an 50-an.

7:24

Kenapa? Karena pada saat orang ini umur

7:27

4050 dan kalau dia punya orang tua

7:29

biasanya orang tuanya tuh udah lansia

7:31

banget.

7:32

Hm. He.

7:32

Tapi kalau kamu misalnya masih mungkin

7:34

orang tua kamu mungkin udah kerja atau

7:36

baru mau pensiun tapi masih di 50an lah.

7:38

Misalnya kita ajak kerja tuh masih

7:40

mungkin tapi mungkin enggak bisa terlalu

7:41

produktif gitu loh. Paling-paling

7:43

mungkin kita nanggung adik atau apa.

7:45

Tapi kan adik ini juga bakal lulus.

7:47

I

7:48

benar enggak?

7:49

Dan adik itu pada lulus ya harusnya dia

7:51

bisa ini sendiri kan. Jadi memang

7:52

titiknya itu sebenarnya di 30 supaya di

7:55

umur 40 ini akhirnya tuh dia benar-benar

7:57

bisa mulai playing dan nyaman. Hm.

7:59

Dan ngejar di 50 itu sudah financially

8:02

independent.

8:02

He he. Di titik survive tadi aku masuk

8:05

ke

8:07

kacamata anak 20-an kali ya.

8:09

Karena ketika kita survive kita juga

8:13

harus punya

8:15

alokasi dana untuk

8:16

He

8:17

playing tadi gitu.

8:18

Healing lah lebih tepatnya.

8:19

He.

8:20

Apakah itu salah Pak Berita? Kalau di

8:22

kacamata Pak Berita sendiri.

8:23

Oke. Itu enggak salah. He. Aku selalu

8:25

bilang

8:27

saving, tiga-tiganya penuhin.

8:30

Tapi prioritasnya yang mana itu adalah

8:33

living duluan to be honest. Karena itu

8:35

fakta hidup. Apalagi kita hidup di zaman

8:38

sekarang di mana biaya-biaya mungkin

8:40

banyak yang naik, inflasi dan

8:41

sebagainya. So, itu adalah fakta hidup.

8:44

So, what you need to do adalah you need

8:45

to understand what makes you really

8:48

happy supaya playing-nya itu benar-benar

8:53

tepat sasaran, Bilal. Hm.

8:55

For example, I know exactly apa yang

8:58

membuat aku happy. Makanan enggak

9:01

terlalu. That's why kalau aku ditanya

9:03

makanan, makan apa aja gua mah hayo aja

9:05

terserah.

9:06

Oke.

9:06

Karena buat aku ngejar harus yang

9:08

seperti ini tuh biasa aja. Tapi aku

9:11

punya kesukaan lain yaitu aku suka

9:13

banget kayak di rumah tuh nonton e

9:16

streaming. Terus aku suka banget em

9:19

kalau misalnya aku lagi traveling aku

9:20

tuh enggak mau susah. Kenapa? Karena

9:23

kerjaan aku sehari-hari aku dinas tuh

9:25

udah sering susah gitu. Jadi kalau gua

9:27

lagi traveling yang for myself, aduh

9:30

sorry banget gua gak bisa tuh yang kayak

9:32

bawa abon kering kentang gitu ya, nasi

9:34

gitu gua enggak mau. Jadi kalau emang

9:36

itu belum dapat, gua kumpulin uangnya.

9:37

Kira-kira tuh kayak gitu.

9:38

So you need to understand exactly what

9:40

makes you happy. Supaya saat kita

9:43

mengeluarkan playing itu, Bilal, itu

9:45

benar-benar efeknya tuh long last.

9:47

Hm.

9:49

Pada saat kita sudah ngerti itu,

9:50

percayalah playing kita itu akan tepat

9:53

sasaran dan akhirnya kita bisa mengatur

9:56

keuangan kita tanpa kebablasan.

9:58

He. Kalau dari pengalaman Mbak Berita

10:01

sendiri yang

10:02

sudah melewati fase 20-an, 30-an ya,

10:06

apa kesalahan yang harus dihindari oleh

10:08

orang 20-an dan 30-an? Mungkin boleh

10:10

tiga kesalahan karena baik dari kita

10:13

sekarang mungkin tidak bisa melihat dari

10:14

sudut pandang

10:16

usia 40-an. Kalau aku masih 20an kayak

10:19

aman

10:19

masih aman deh. Masih aman aku bisa

10:21

saving gitu ya.

10:22

Apa yang harus aku hindari dari

10:23

sekarang?

10:24

Ya itu pertanyaan bagus banget. Di

10:26

konten itu aku juga bilang kesalahan

10:27

pertama yang harus kamu hindari adalah

10:29

biasanya di umur 20-an tuh orang

10:31

kepingin e aktualisasi pencapaian dia

10:34

dan paling gampang aktualisasi

10:36

pencapaian itu adalah membeli kendaraan.

10:38

I

10:39

ya kenapa kelihatan?

10:41

Benar.

10:42

Kalau rumah ya masal lu selfie-selfie

10:43

gitu kan di depan rumah gitu atau depan

10:45

apa kan orang juga malas lihat ya. Tapi

10:46

kalau mobil tuh kayak ketok gitu loh.

10:48

Orang Jawa bilang tuh gitu kelihatan.

10:50

Nah, yang paling bahaya adalah kamu beli

10:53

kendaraan dengan bantuan cicilan di atas

10:56

5 tahun. Itu bahaya banget.

10:58

Oke.

10:59

Logikanya kendaraan itu kan akan

11:01

depresiasi. Makanya kalau sampai kamu

11:04

beli dengan bantuan cicilan itu

11:06

sebenarnya maksimal secara teori

11:08

Foundation planning itu cuman 2 tahun.

11:10

Hm. pertanyaannya kalau 2 tahun ya

11:14

mobilnya LCC dong gitu kan istilahnya

11:16

kayak gitu ya apa tuh yang yang low cost

11:18

apa itulah gitu kan terus akhirnya e

11:21

kita jadi naikin dikit ah gitu padahal

11:24

itu titik kesalahan pertama karena once

11:26

cicilan kita agak naik di area aset yang

11:30

depresiatif seperti itu, maka kemampuan

11:33

saving kita nurun.

11:36

Benar

11:37

ya dong

11:38

ya

11:39

ya kan. dan kamu udah kebiasaan ada di

11:41

situ gitu loh titiknya. Itu biasanya

11:42

kesalahan yang pertama. Next-nya adalah

11:44

saat dia udah mulai bisa punya rumah

11:46

nih, Bilal. He.

11:47

Saat dia udah mulai punya rumah, titik

11:50

kesalahannya adalah wah ini rumah yang

11:52

udah gue idam-idamin. Gue udah frugal

11:55

efek banget. Jadi sekarang gua mau ngisi

11:57

rumah gue gila-gilaan. Salah. Jangan

12:00

lakukan itu. Sabar. Lihat aja. Masuk

12:03

dulu ke rumahnya. Understand your own

12:06

lifestyle kebutuhan kita. Karena sering

12:09

banget ini kayak ibu-ibu baru melahirkan

12:11

anak, segala perintilan dibeliin gitu

12:13

ya,

12:14

enggak tahunya enggak kepakai.

12:16

Tanya deh sama ibu-ibu baru ngelahirin

12:17

anak pertamanya, dia beli sendok ini apa

12:19

segala macam buntutnya enggak dipakai

12:20

buntut akhirnya dia dapetin tuh yang

12:23

enak buat dia sama bayinya. Itu sama

12:25

dengan rumah Bilal.

12:28

kita sebenarnya kita tu apa sih? Apa

12:31

kita orang yang lebih sering di depan

12:32

sofa atau kita orang yang memang butuh

12:35

ada ruang tamu, ruang ini atau semua

12:37

malah bisa mix apa gimana itu akhirnya

12:39

kita understand apa yang memang kita

12:41

butuhin.

12:42

Nah,

12:42

kalau itu bisa kita redam biasanya

12:46

kredit renovasi kita tuh enggak ada. H

12:49

karena godaan kita adalah misalnya kita

12:52

beli rumah yang memang dari developer,

12:54

kita pengin ngrenov nih sesuai dong wah

12:56

impian kita. Nah, itu letak kesalahan

12:58

yang kedua.

12:59

H.

12:59

Nah, yang terakhir letak kesalahannya

13:01

adalah menganggap again pensiun terlalu

13:04

lama.

13:05

Oke, menganggap pensiun terlalu lama.

13:07

Yes. Karena kan logikanya gini ya, gila

13:09

gua baru umur 20 ngapain gua mikirin

13:11

pensiun? Itu exactly apa yang di otak

13:13

aku juga dulu.

13:13

Aku really juga

13:15

i kan kayak emang gua udah setua itu

13:17

gitu kan. Gampangnya kayak gitu.

13:20

Ini bukan ngomongin setua itu, tapi ini

13:22

ngomongin habit. Kenapa? Karena saat

13:25

kita tidak memaksakan diri kita untuk

13:29

mencoba menyisihkan untuk our own

13:32

retirement life, it would be too late

13:34

saat kita udah sadar. Dan pada saat udah

13:37

late, kita jadi terpaksa bikin eh

13:40

saving-nya tuh harus agak lebih besar.

13:42

Jadi kita tiba-tiba kayak kok tiba-tiba

13:44

gua kayak frugal apa segala macam.

13:46

Padahal kalau kita punya kebiasaan itu,

13:49

itu bisa lebih bagus. Nah, itu

13:50

sebenarnya yang dulu aku tuh enggak

13:52

ngerti ya. Waktu dulu ibu mertuaku tuh

13:54

pernah nasihatin aku pada saat aku

13:56

pertama kali fres grade, kamu kurang ya

13:59

kalau cuma 10% buat retirement. Gue

14:01

kayak, "Hah? Kalau 10% kurang emang

14:04

berapa?" "30% gitu kan."

14:06

Terus dia bilang, "Sebisa mungkin 50%."

14:09

buat aku saat itu tuh kayak absurd

14:10

banget gitu loh. Gimana ceritanya sih

14:13

50% gitu ya bisa gua ini dan kenapa

14:15

masih 50%? Ternyata then I understand

14:18

bahwa dalam hidup tuh plots-nya banyak

14:20

banget.

14:20

H.

14:21

Jadi kalau enggak pada saat the moment

14:22

kita bisa 50% kita kerjain nanti enggak

14:25

akan terjadi tuh momen itu lagi gitu loh

14:27

Bilal. Karena kayak so many things

14:28

happen in our life gitu. Plotw-nya

14:30

banyak banget gitu ya. Or saat misalnya

14:32

kita beneran ada duitnya kita enggak

14:34

kurang kebayang bahwa target kita tuh

14:35

50%. Jadi kita pakai buat yang lain.

14:37

Iya. Iya enggak sih? Iya.

14:39

Nah, sekarang ya coba lu pikir baik-baik

14:41

ya.

14:43

Kalau misalnya kita nyisihin income kita

14:45

sekarang, let's say ambil setengah lah

14:47

gitu ya, 50% untuk retirement.

14:49

Logikanya itu aja ya. Kita tuh udah

14:52

nurunin taraf hidup loh.

14:53

Hm.

14:54

Kan taraf hidup kita 100%.

14:57

Iya.

14:57

Terus sudah lu turunin gitu loh.

14:59

Istilahnya kalau kita bilang tua juga

15:02

belum tentu susah ya understand gitu.

15:03

Tapi kalau sampai plot twist-nya

15:05

ternyata jadi susah kan kita kan

15:06

ngerepotin orang istilahnya gitu. So,

15:09

kenapa enggak ya udah kita sisihin kalau

15:11

ternyata nanti oh ini ternyata bisa kita

15:13

pakai nih misalnya buat dana pendidikan

15:15

anak lah atau apa ini itu kan jadi bagus

15:17

banget gitu loh.

15:19

Benar. Benar.

15:19

Tapi mindsetnya tuh harus ke situ.

15:21

Perkara udah bisa dikerjain apa enggak

15:23

itu adalah hal yang berbeda gitu.

15:26

Iya aku setuju.

15:26

Heeh. Coba bayangkan kamu yang masih

15:29

menonton ini punya tempat kerja yang

15:32

keren, kantor yang super nyaman, yang

15:34

bikin kamu kerjanya lebih produktif.

15:37

Yup, enggak semua orang punya kantornya

15:38

sendiri, tapi sekarang kamu bisa sewa

15:41

kantor keren di VO. Harganya mulai dari

15:44

Rp150.000-an per bulan. Enggak percaya?

15:47

bisa cek langsung V Office. Tadi pas

15:51

ngomongin tentang ketika punya rumah

15:52

baru, pengin ngisi sebanyak mungkin, itu

15:54

persis banget sama cerita temanku yang

15:56

kayak dia orangnya suka olahraga gitu.

15:58

Dan ketika punya rumah baru, "Tenang,

16:00

Bil, gua akan ada gym di rumah gitu."

16:02

Oh, gitu, gitu. Terus

16:03

3 bulan berjalan karena aku juga member

16:05

salah satu gym, terus kayaknya di rumah

16:07

bosan dia, bilang

16:09

akhirnya ke gym juga.

16:09

Akhirnya ambil member juga di gym di

16:11

luar gitu loh. Itu itu rilis sih

16:12

maksudnya kadang kita merasa kita punya

16:15

kemampuan.

16:16

Heeh. Tapi kita belum belajar atau

16:18

memahami lingkungan kita atau kita punya

16:21

feel seperti apa di rumah baru mungkin.

16:23

Jadi

16:24

ingin terlihat sukses juga ada tuh di

16:25

situ tuh kayak dengan beli barang, beli

16:27

mobil segala macam.

16:28

He.

16:29

Kalau Mbak Perita sendiri yang mungkin

16:30

sudah lama di industri keuangan seperti

16:32

ini,

16:32

Heh.

16:33

Bisa mencium enggak sih aroma orang yang

16:35

memang ingin terlihat sukses ya

16:38

atau benerang sukses atau benerang kaya

16:40

tapi tidak ingin terlihat gitu atau

16:42

pernah mengalami hal itu gitu?

16:43

Oh ya sering dong.

16:44

Gimana? Aku penasaran sih,

16:46

sering banget. Karena gini, kita tuh

16:48

sebenarnya manusia itu ya aku juga

16:49

mempelajari baru-baru beberapa tahun

16:51

terakhir sih sejak pandemi itu kita tuh

16:53

ternyata kebagi jadi beberapa tipe

16:55

kepribadian. Oke. Yang pertama tuh

16:57

namanya money avoiders. Buat dia, Heeh.

17:00

buat dia tuh kayak ada uang enggak ada

17:01

uang sama aja lah. Terus katanya uang

17:03

akan datang dengan sendirinya saat kita

17:04

perlu kepercayaannya tuh gitu

17:06

gitu ya. Makanya biasanya kalau diajak

17:08

ngumpulin duit buat dana pendidikan anak

17:10

jawabannya selalu tiap anak sudah ada

17:12

rezekinya.

17:13

Reekinya. Nah, yang kedua adalah tipe

17:15

yang namanya money vigilance. Ini

17:17

biasanya terlalu berhati-hati nih. Nah,

17:19

orang yang terlalu berhati-hati ini

17:20

biasanya masa lalunya itu suka ada ee

17:23

hal-hal yang enggak enak kejadian sama

17:25

dirinya dia.

17:26

Entah itu pernah ketipu, ngelihat orang

17:28

tuanya bisnisnya bangkrut. Jadi, dia tuh

17:30

lebih kayak hati-hati banget pada saat

17:32

mengeluarkan uang. Nah, pada saat dia

17:34

hati-hati banget mengeluarkan uang, bisa

17:36

jadi sebenarnya dia tuh udah

17:38

kemampuannya di atas, tapi dia jadi

17:40

kayak kelihatan kok agak pelit ya, orang

17:43

lain mungkin menilai gitu. Buat dia

17:44

enggak. Buat dia adalah saya pokoknya

17:47

mau ngejaga apa yang udah saya dapetin

17:49

dengan susah payah. Itu yang kedua tuh

17:51

namanya money vigilance. Yang ketiga,

17:53

money status. Nah, kalau ini yang

17:55

seperti tadi tuh yang emang dia pengin

17:57

semua orang ngelihat eh gua levelnya

17:59

udah ada di sini loh. Gitu. kadang

18:02

menidas

18:04

dari lingkungan

18:07

apa yang orang ngomong tentang dia.

18:09

Gimana tuh?

18:10

Misal is gila si Bilal keren banget

18:13

sekarang podcastnya berkelas banget gila

18:16

datangin artis-artis gitu kan.

18:18

Heeh.

18:19

Tapi aslinya lu gimana juga buat dan lu

18:22

buat lu tuh kayak wah ini nih yang gua

18:24

cari gitu. Tapi aslinya lu lagi gimana?

18:26

apa misalnya lu lagi kesusahan nyicil

18:28

duit apa segala macam orang enggak ada

18:30

yang tahu gitu loh. Pokoknya orang

18:31

lihatnya Bilal sukses dah gitu

18:33

dari luar

18:33

dari luar dan lu happy with that gitu

18:35

loh.

18:36

Dan lu enjoy di apa diseru-seruin kayak

18:40

gitu.

18:40

He

18:41

itu adalah orang-orang yang tadi lu

18:43

bilang tuh dia sebenarnya enggak mampu

18:44

segitu tapi dia pengin kelihatan kaya.

18:46

Hm.

18:47

Yaah ada yang paling terakhir nih

18:49

namanya money focus. Kalau orang yang m

18:51

fokus ini pokoknya dia motivasinya

18:53

adalah kalau gua pengin dapetin itu gua

18:56

pasti bisa. Jadi pokoknya apapun itu gua

18:58

pasti bisa tanpa dia ngelihat kemampuan

19:00

dirinya dia dalam hal misalnya dia

19:03

sebenarnya udah capek, udah burn out,

19:05

udah ini buat itu, tapi wah dia kejar

19:07

banget. Pokoknya mang fokus. Biasanya

19:08

orang-orang kayak gini juga suka banget

19:10

sama cicilan.

19:11

Oh gitu.

19:11

Hm. Karena buat dia cicilan itu katanya

19:14

ee semangat hidup

19:16

dalam konteks.

19:17

Dalam konteks ya dia kerjanya rajin.

19:19

Oke.

19:20

Katanya kalau enggak ada cicilan kayak

19:21

apa nih yang dikejar katanya gitu.

19:23

Oke.

19:24

Ya buat lu mungkin enggak, tapi kalau

19:26

orang lain ada yang banyak yang kayak

19:27

gitu.

19:29

Oke.

19:29

Jadi katanya kalau enggak ada cicilan

19:31

tuh kayak kerja enggak semangat nih apa

19:32

nih yang dikejar nih kalau ada enggak

19:34

ada deadline gitu loh kira-kira tuh

19:35

kayak gitu. Aku juga pernah dengar yang

19:37

nomor empat tadi itu dari temanku

19:39

sendiri yang di mana dia bilang kayak lu

19:41

bil ada hutang enggak? Enggak ada gitu

19:43

kan.

19:43

Heeh.

19:43

Lu harus ada hutang. Kalau lu enggak ada

19:45

hutang itu enggak ada yang nge-push lu

19:46

untuk working harder atau smarter gitu

19:48

loh.

19:49

Heeh.

19:49

Terus mikir satu sisi

19:51

oke iya juga. Tapi satu sisi lain

19:54

emang karena enggak ada pressure-nya

19:55

gitu loh. Makanya dia mungkin pakai

19:57

mindset itu gitu.

19:58

Bisa jadi dia masuk yang money focus.

20:00

Oke,

20:00

itu sebab em memang orang itu akan

20:04

terbelah jadi empat itu dan akhirnya

20:06

ends up dengan yang kita lihat nih, oh

20:08

nih orang tuh sebenarnya bisa ya dia

20:10

sebenarnya well off banget tapi enggak

20:12

kelihatan. Ada juga yang well off dan

20:14

kelihatan. Ada yang juga misalnya

20:17

sebenarnya enggak well off tapi

20:18

kelihatannya seperti well off gitu kan.

20:20

Nah, itu sebenarnya hasil dari gimana

20:23

kita dibesarkan,

20:25

lingkungan kita seperti apa gitu. terus

20:28

gimana kita ee kebiasaan mengambil

20:30

keputusan finansial. Jadi kalau aku

20:33

bilang sebenarnya itu bukan perkara satu

20:35

salah satu benar, enggak. Tapi once kita

20:38

misalnya milih gaya hidup atau ee cara

20:41

hidup seperti itu, itu pasti ada plus

20:43

minusnya.

20:44

Iya.

20:44

Orang yang misalnya milih, "Gua pengin

20:46

kelihatan nih kalau gue ini ya plusnya

20:48

mungkin dia dihargai orang, dia dapat

20:50

tuh maksudnya kayak orang tuh ngelihat

20:52

dia tuh hormat apa segala macam. ini itu

20:55

exactly atau networking atau apa ini itu

20:57

kan mungkin-mungkin aja tapi bahayanya

20:59

mungkin itu enggak sustainable gitu loh.

21:01

Jadi e bisa jadi sekarang bagus nanti

21:04

tiba-tiba jatuh jadi hidupnya tuh roller

21:06

coaster banget gitu loh.

21:08

Itu kan plus minus ya. Mungkin buat dia

21:10

I'm ok with this tapi mungkin untuk

21:11

orang lain enggak. Jadi kalau aku bilang

21:14

kuncinya tuh kita mesti understand our

21:17

untuk kita tahu yang seperti apa sih

21:20

cara mengelola uang atau cara

21:22

mengendalikan diri atau cara menjalani

21:24

hidup yang memang bisa membuat kita

21:26

sejahtera gitu loh.

21:27

He he. Aku ingin masuk ke dunia Mbak

21:30

Prita ya.

21:31

Relasi Mita dengan uang

21:33

transisinya dari 20-an, 30-an, 40-an

21:36

sekarang seperti apa? Karena kadang aku

21:37

sendiri

21:38

kadang agak sedikit emosional dengan

21:40

uang. tiba-tiba aku udah udah udah

21:42

mengelola sebaik mungkin

21:44

ada hal tak terduga.

21:45

Heeh.

21:46

Kayak misalnya ada teman datang dari

21:47

luar negeri terus ke sini ke Jakartaus

21:49

aku harus bantuin mereka tuh kayak wah

21:51

ternyata luar keluar dari bajar aku itu

21:53

ada ada sih emosional kayak

21:54

hem tapi barberita sendiri gimana

21:56

sekarang hubungannya sama uang?

21:58

Jadi ini menurut aku juga ada kaitannya

22:01

dengan generasi. He

22:02

aku tuh bisa dibilang dulu tuh gua pikir

22:04

gua milenial awal ya karena dibilang

22:06

katanya milenial paling awal tuh 80-an.

22:08

Terus tiba-tiba sekarang dibilang 80

22:10

berapa baru milenial. Jadi gua generasi

22:11

X. Gua rada bingung sih gua generasi

22:13

mana nih. Kayak gua agak-agak lost di

22:14

tengah-tengah.

22:15

Intinya kita adalah generasi yang pernah

22:18

merasakan krisis moneter. Itu kuncinya.

22:20

Nah

22:21

itu menurut aku tuh pembeda banget loh

22:23

Bilal dengan mungkin mereka yang enggak

22:25

pernah tahu Krismon tuh seperti apa.

22:27

H. Nah, untuk aku ya dan suami aku yang

22:30

ngerasain itu dan pada saat itu suami

22:32

aku tuh lagi sekolah di luar negeri itu

22:35

berat banget. Dia bilang itu beratnya

22:37

luar biasa. I don't think that e orang e

22:41

punya kapasitas untuk belah melakukan

22:43

seperti itu. Enggak semua orang bisa

22:45

begitu. Orang ngelihatnya mewah e apa

22:48

keren gitu sekolah di luar negeri. Yang

22:50

mereka enggak lihat adalah dia tuh

22:52

benar-benar enggak ada rumah di sana.

22:53

Nah, jadi numpang, saling numpang,

22:55

saling numpang aja gitu loh. Tinggal di

22:57

rumah apa, ruang tamu,

22:59

enggak ada heaternya. Jadi tidur tuh

23:01

pakai apa sih? Kayak di gunung gitu loh,

23:03

pakai ini segala macam. Nah,

23:04

hal-hal seperti itu terus kayak aku juga

23:07

ngalamin, tapi aku di Jakarta kan

23:09

itu emm apa namanya? Membuat kita tuh

23:11

lebih aware aja.

23:13

Jadi pada saat akhirnya kita punya uang,

23:15

kita tuh enggak take it

23:17

h

23:18

karena kita tahu ada masa-masanya itu

23:20

enggak dapat gitu loh.

23:22

Hm. He.

23:23

Tapi gue juga bersyukur jadi orang bukan

23:26

yang pelit-pelit amat.

23:28

Jadi kayak seimbang gitu loh. Kayak

23:30

understand that ini juga tetap harus

23:32

dikeluarin. Bukannya disimpan terus

23:33

tetapi harus ada yang bisa disimpan. Itu

23:36

yang shapes me up di usia 20-an.

23:39

He.

23:40

Dan gue mesti cerita ee kita tuh aku

23:42

sama suami aku tuh nikah muda karena

23:44

kita dulu sekolah.

23:45

Iya.

23:46

Jadi di usia 24 tahun aku sudah punya

23:48

anak pertama.

23:49

Hm. He.

23:50

Dan itu momennya saat aku pekerjaan

23:52

pertama yang berbayar di Jakarta. Jadi

23:55

aku kerja kantoran di Teh Company, aku

23:57

punya anak. Oke. Itu rasanya tuh berat,

24:01

Bilal. Kenapa? Karena aku ngelihatin

24:03

orang-orang pada bisa ngejar karir. Aku

24:05

enggak. Karena aku ada anak di rumah.

24:08

Jadi aku startnya sama suami aku. Kita

24:10

sama-sama masuk kayak management trainy

24:12

gitu. Dia tuh bisa begini, "Gua di sini

24:15

aja gitu." Wah, itu rasanya tuh kayak

24:17

gimana banget. Jadi pada saat itu sempat

24:19

kayak ah gua pengin shopping, ah belanja

24:22

apa segala macam. Itu relasi gua sama

24:24

uang di usia 20-an. Tapi terus ya itu

24:26

ibu mertua kan ngomong gini-gini gua

24:28

ngerasa ah gua udah save 10% sisanya gua

24:31

shopping ah gitu kan ya. Apalagi kan

24:33

katanya uang istri uang istri gitu kan.

24:35

Terus dia bilang kayak gitu gua diam

24:36

gitu ya. Gimana caranya ya 50% gini gini

24:39

gini gini. Oh ternyata caranya adalah

24:41

gua enggak shopping udah gitu aja.

24:43

Karena kalau digabung penghasilan suami

24:45

dan istri ini kan jadi kayak hampir

24:47

setengah-setengah lah gitu ya. Ya. Jadi

24:49

kalau dia bilang disuruh setengah, oh

24:50

berarti simpelnya adalah penghasilan itu

24:52

yang disave semua. Sesimpel itu

24:54

sebenarnya.

24:55

Sesimpel itu. Karena yang penghasilan

24:57

suami ini yang buat hidup. Gimana deh

24:58

caranya penghasilan suaminya itu mesti

25:00

bisa buat hidup. Ini kan sebenarnya

25:01

logikanya mirip-mirip sama orang yang

25:03

UMR tapi tanggungannya ada beberapa dan

25:06

dia gak bisa saving. Jadi penghasilan si

25:07

suami ini yang memang buat hidup aja,

25:10

tapi penghasilan si istri inilah yang

25:12

memang buat save, buat tanda darurat,

25:14

buat ini, buat itu, segala macam.

25:16

Akhirnya itu yang gua kerjain di usia

25:18

20-an.

25:19

Hm.

25:20

Nah, di usia 30-an lebih berat lagi.

25:23

Kenapa? Karena di akhir usia 20-an

25:26

aku enggak punya pekerjaan.

25:28

Hm. Jadi di tech company itu role aku

25:31

hilang. Kasarnya nih either lo kena

25:34

layof atau lo mesti downgrade ke role

25:36

yang lain. Kira-kira seperti itu.

25:39

Aku pilih keluar. Jadi di umur mau 30

25:43

aku enggak punya kerjaan Bilal. Padahal

25:45

anak udah dua itu baru punya anak yang

25:48

kedua. Itu beratnya luar biasa. Akhirnya

25:52

apa yang aku kerjain? Ya udah, aku lihat

25:56

skill apa yang bisa kerjain. Pokoknya

25:58

semua penghasilan dari skill itu gua

26:00

kumpulin habis-habisan karena gua tahu,

26:02

wah ternyata bisa juga ya gua kena lay

26:05

kayak begini. Istilahnya tuh kayak gitu.

26:07

Di umur 20-an jelang 30 yang mana

26:09

harusnya katanya kan menjelang 30 tuh

26:12

sukses itu mulai di depan mata gitu.

26:15

Ternyata kita malah penghasilan

26:17

berkurang gitu kan ya.

26:18

Tapi hari itu momen itu tidak ada

26:20

cicilan, tidak ada hutang.

26:21

Ada dong. Oke, semakin berat ya,

26:23

semakin berat banget itu ada cicilan

26:25

rumah apa segala macam. Makanya itu yang

26:27

membuat aku akhirnya oh I have to make

26:30

this happen. Apa itu? Yaitu merintis si

26:33

financial planning consultancy ini. Dan

26:36

itu enggak mudah karena enggak kayak

26:37

sekarang yang aksesnya tuh kayak

26:39

everyone can just bukan just ya, tapi

26:41

kalau kita bagus, kita bisa make konten

26:43

apa segala macam, kita bisa make on our

26:45

own. Kalau masa itu tuh enggak. kita tuh

26:47

harus kerja sama sama media besar dan

26:49

lain-lain dan orang ngelihat siapa sih

26:51

peritazi gitu kayak anak pitik kayak

26:53

begini gitu ngapain kita percaya sama

26:55

dia ibaratnya gitu itu susahnya luar

26:57

biasa

26:57

which is itu sebelum 2010

26:59

itu sebelum 2010

27:00

h

27:01

ya udah akhirnya pada saat 2010 dan itu

27:03

akhirnya wah gila itu apapun uang yang

27:05

kita punya itu gua kumpulin apapun uang

27:07

yang suami gua hasilkan, suami gua

27:08

alhamdulillahnya karirnya mah bagus

27:09

banget gitu ya

27:10

itu kita kumpulin buat apa ngelunasin

27:13

rumah lebih cepat

27:14

nah ini bilal kuncinya di 30-an Kan

27:17

mindsetnya udah tadi tuh kata ibu mertua

27:19

sebisa mungkin 50%.

27:21

Enggak bisa dong. Namanya juga

27:22

penghasilan udah kurang apa segala

27:23

macam. Pada saat itu cicilan rumah lunas

27:27

ternyata jadi bisa.

27:29

Oke.

27:30

Karena cicilan tuh kan gede banget ya

27:31

ternyata ya.

27:32

Jadi saat dia gone itu langsung gua

27:35

gantikan dengan saving itu gua kejar

27:37

tuh.

27:38

Hm.

27:38

Itu baru bisa kejadian di 35 apa 36 lah

27:41

umur gue.

27:42

Hm.

27:43

Gue kejar cepat banget 2 tahun. Dana

27:47

kuliah anak pertama dapat.

27:49

He.

27:49

2 tahun. Setahun kemudian dana kuliah

27:51

anak kedua dapat. Beberapa tahun

27:53

kemudian mungkin baru kayak 2 tahun 3

27:55

tahun yang lalu gah itu yang suka

27:56

orang-orang ngeributin 4% rule 4% rule.

27:59

Akhirnya gua dapat juga angka itu gitu

28:01

loh.

28:01

Kira-kira tuh gitu. Tapi lu bayangin ya

28:03

gua start di usia 24 gua baru dapetin

28:05

itu mungkin di usia 43 kali.

28:08

Itu berapa tahun?

28:10

Hampir 20 kan.

28:12

Artinya enggak ada yang instan. Mungkin

28:14

untuk sebagian orang ada kali yang

28:15

instannya kripto atau apa gua gak tahu.

28:17

Tapi jalur gua enggak gitu.

28:19

Jalur gua tuh karyawan ini segala macam.

28:21

Ya udah nikmatin aja. Emang ini rezeki

28:23

gua begini. Tapi kan at the end dapat

28:25

juga.

28:26

Hm.

28:26

Gitu.

28:27

Realistis ya.

28:28

Exactly.

28:30

Menarik banget. Tadi Mbak Prita juga

28:32

mention

28:33

Heeh.

28:33

tentang dana pendidikan anak ya.

28:35

Yes.

28:36

Dan aku juga sempat baca tulisan Mbak

28:38

Prita.

28:38

Heeh. yang di mana komitmen terpanjang

28:41

di financial planning itu bukan cicilan

28:43

rumah, melainkan pembayaran dana

28:45

penyidikan anak.

28:47

Satu anak sama dengan 18 tahun bayar

28:48

penyidikan mereka.

28:49

Heeh.

28:50

Kalau pakai topi antagonis,

28:53

ada juga orang tua yang melihat itu

28:56

sebagai investasi masa depan. Anakku

28:59

investasi.

29:00

Ini mungkin agak tertampar bagi sebagian

29:02

orang. Tapi aku mau masuk ke cara

29:05

pandangnya Mbak Berita. Bagaimana yang

29:07

sebenarnya atau seharusnya

29:09

kita melihat dana pendidikan anak?

29:12

Pertama, I feel so sorry untuk anak yang

29:14

mungkin orang tuanya masih berpikir

29:16

seperti itu.

29:17

Nak, I understand what you feel. Jadi,

29:20

sabar ya,

29:20

sabar sabar ya, sabar,

29:22

sabar sabar gitu.

29:25

Alhamdulillah aku dan suami aku sama

29:27

sekali tidak berpikiran seperti itu.

29:29

Pertama, kita tuh percaya bahwa ee kita

29:33

tuh menikah tuh sadar. Aku dan suami aku

29:35

menikah secara sadar, kita punya anak

29:38

juga sadar ya, bikinnya juga sadar kan

29:40

gitu. Artinya pada saat kita sadar ya,

29:44

kita ngerti bahwa anak itu adalah amanah

29:46

dan tanggung jawab orang tua. Aku

29:48

sedikit religius, sedikit belok. Emang

29:51

begitu juga ajaran di agama aku gitu kan

29:54

di e sebagai muslim tuh seperti itu.

29:55

Enggak ada tuh yang bilang bahwa anak

29:57

tuh berutang atas apapun yang orang

30:00

tuanya sudah keluarin tuh enggak ada.

30:01

Iya. Tapi aku memang bertanggung jawab

30:03

mendidik anak juga baik secara segala

30:05

ilmu termasuk agama. Hopefully kalau dia

30:08

juga jadi anak yang saleh dan salehah

30:10

kan orang tuanya juga yang kebagian.

30:12

Benar

30:13

kan sebenarnya kayak gitu aja gitu loh.

30:15

Tapi bukan dengan cara aku nunjuk ke

30:18

anak eh lihat ya apa yang bunda sama

30:20

ayah udah kerjain nih nih tagihan dari

30:22

kamu dulu nih. Kamu lagian sih dulu

30:24

lahirnya caesar pakai sungsang segala

30:26

gitu kan. Mesti kalau kamu udah ini

30:28

segala macam, kamu lahir normal aja

30:29

lebih murah apalagi gitu gitu gini. Kamu

30:31

sih lagian kurang pintar enggak dapat

30:33

beasiswa. Itu ada istilahnya loh.

30:36

Hm.

30:36

Namanya financial unmeshment.

30:39

Financialment.

30:42

itu adalah sikap hidup orang tua di mana

30:45

dia itu menekan anak dari sisi finansial

30:49

dalam artian kamu itu ngutang sama saya

30:52

karena saya sudah ngerjain segini banyak

30:54

untuk kamu dan itu bahaya banget karena

30:58

penelitian di Amerika Serikat juga

31:00

menunjukkan bahwa 80%

31:05

kualitas anak itu ditentukan oleh orang

31:07

tua yang berkualitas.

31:09

Hm.

31:10

Jadi orang tua tuh emang harus berkelas.

31:12

Sorry banget.

31:13

Yap. Yap.

31:14

Karena orang tua enggak berkelas itu

31:16

menghasilkan anak yang juga enggak

31:17

berkelas.

31:18

Heeh.

31:18

Itu akan turun-temurunnya seperti itu.

31:20

Meskipun ada, tapi secara data sangat

31:22

kecil.

31:23

Tapi itu ada.

31:24

He

31:26

gini ya. Kalau kita ngomong

31:28

financialment,

31:30

anak itu bukan masalah siapa yang di

31:34

masa tuanya bisa ngebayar balik orang

31:36

tuanya dengan duit. Tetapi siapa yang di

31:39

masa dewasanya itu bisa bahagia,

31:42

sejahtera, dan bertanggung jawab penuh

31:43

terhadap dirinya dia.

31:45

Itu anak yang berbakti tuh begitu. Dia

31:49

enggak nyusahin orang tua, dia enggak

31:50

ini, enggak itu segala macam, gitu kan.

31:52

Jadi, jadi mindsetnya yuk kita balik.

31:55

Kenapa? Karena bahayanya gini, satu,

31:57

kalau kita enggak nyiapin itu nih,

31:59

Bilal, pertama anak akan ngerasa

32:01

hubungan anak orang tua tuh

32:03

transactional. Artinya nih kalau

32:05

misalnya ini kan ayah sama bunda udah

32:07

ngerjain gini ya. Jadi kalau kamu enggak

32:08

balikin nih misal contoh ya anak aku tuh

32:10

sekarang baru e kuliah itu ke eh

32:13

University of Melbourne. Lihat aja deh

32:15

search up eh sumber-sumber itu berapalah

32:18

angkanya. Ketebak sih ya

32:20

ya even dapat beasiswa pun itu tetap ada

32:22

living expenses yang mana silakan lihat

32:24

di Melbourne seperti apa.

32:26

Tapi tidak sekalipun kita bilang sama

32:28

dia balikin ya nanti dengan pekerjaan

32:30

yang gajinya segitu juga gitu loh.

32:32

Kenapa? karena itu adalah hak dia, itu

32:35

amanah kita sebagai orang tua. Oke. Yang

32:38

kedua, bahayanya apa? Kalau orang tua

32:39

ngelakuin gitu terus, anak tuh enggak

32:41

bakal mandiri, Bilal. Kenapa? Karena the

32:45

way dia mengambil keputusan itu semuanya

32:47

adalah apa nih yang bisa gua kasih balik

32:49

ke orang tua? Apa nih yang bisa gua

32:50

kasih balik ke orang tua? Itu

32:52

macam-macam loh. Dari sekolah aja bisa

32:53

kayak gitu. Contoh ikut lomba-lomba.

32:56

Heeh. Kadang-kadang ikut lomba-lomba itu

32:57

anak bukan karena dia pengin, dia pengin

33:00

aja orang tuanya tuh kayak, "Wah, aku

33:01

bangga banget kamu dapat medali." gitu

33:03

kan. Iya.

33:04

Kira-kira kayak gitu. Jadi belum tentu

33:06

karena dianya mau. Kalau dianya mau juga

33:07

bagus, tapi kalau enggak itu yang

33:09

bahaya. Nah, ini yang terakhir nih yang

33:11

juga bahaya banget menurut aku itu

33:13

adalah si anak ini itu nanti akan

33:17

menghasilkan kayak trauma generasi.

33:21

Dia akan nurunin lagi ke anaknya.

33:23

Oh. Kalau dia enggak berhenti di situ,

33:25

karena yang dia pahami adalah inilah

33:27

cara mendidik anak.

33:29

Hm.

33:29

Yang dia pelajari seperti itu. Dulu dia

33:31

digituin sama orang tuanya, katanya

33:33

orang tuanya juga dulu digituin sama

33:35

kakek neneknya dan seterusnya. Nah, itu

33:37

jadi enggak kelar-kelar. Nah, itu bahaya

33:39

banget karena anak ini sulit untuk

33:43

bahagia. Kamu pernah enggak dengar

33:45

banyak orang ya yang bilang gen apa

33:47

generasi sandwich apa daya? Mau bahagia

33:50

juga enggak mungkin. Karena kalau kita

33:53

bahagia misalnya kayak kamu nih

33:54

traveling ke mana terus ngelihat yang di

33:56

rumah pada gak traveling tuh kayak ada

33:57

rasa guilty gitu.

33:58

I ya ya.

34:00

Itu sebenarnya efek financial unmes

34:02

h

34:03

karena kalau kamu misalnya traveling nih

34:05

gitu ya nanti keluarga ngelihat banyak

34:07

duit nih gitu ya. Bisa pergi ke sini

34:09

bisa gini gini segala macam. Terus

34:11

oleh-olehnya mana gitu.

34:13

Wow semakin beban ya.

34:14

Semakin beban kan orang jadi kayak udah

34:16

deh enggak jadi deh masa gua mau pergi

34:17

apa gua lagi mau shopping trip nih emang

34:19

gua jastip atau apa sih? Kayak gitu kan

34:20

kira-kira kayak gitu. Nah, itu bahaya

34:22

banget. Nah, karena aku dan suami aku

34:24

tidak mau seperti itu,

34:26

jadi kita mengusahakan yang namanya dana

34:28

pendidikan.

34:29

Nah, kita nih udah ngalami nih, Bilal

34:31

karena anak kita udah di tingkat tiga.

34:34

Jadi, si 18 tahun itu tuh it's true.

34:37

He.

34:38

Dan zaman sekarang kadang sekolah aja

34:40

enggak cukup, lomba-lomba, les-les apa

34:43

segala macam, tutor ina itu, bimbel ina

34:45

itu, gitu. Mau masuk

34:47

kuliah aja bimbelnya setahun. Benar

34:49

enggak sih?

34:49

Benar, benar. Benar, benar. ya kan gitu

34:51

apa patn favorit atau apalah gitu. Jadi

34:54

kan artinya memang enggak main-main nih.

34:56

Nah, terus yang kedua aku lihat adalah

34:59

karena aku sebagai financial planner aku

35:01

kan sering membersamai mereka-mereka

35:02

yang mau pensiun.

35:04

Heeh.

35:05

Ini jadi masalah saat orang tuanya

35:07

pensiun, anaknya belum lulus. Oke.

35:11

Jadi kadang-kadang kan ada orang yang

35:12

istilahnya ee dapat anak udah usia

35:15

berapa gitu sehingga orang tuanya sudah

35:17

masuk 5556, anaknya masih SMP, anaknya

35:19

masih SMA. Itu kan sesuatu yang kalau

35:22

enggak dipikirin terus uangnya dari mana

35:25

kan jadi kayak gitu. Benar enggak?

35:27

Nah, yang ketiga yang aku pelajari

35:29

adalah orang tua itu sepengin-penginnya

35:32

ngasih pendidikan terbaik buat anak,

35:34

tapi dia harus paham kemampuan

35:35

finansialnya dia.

35:37

Hm. Karena kalau dia enggak paham

35:40

kemampuan finansialnya, biasanya yang

35:42

terjadi adalah kan karena ni dia punya

35:44

uang nih dari gaji dan sebagainya, dia

35:45

keluarin semua nih Bilal. Padahal dia

35:48

sendiri enggak nyiapin buat pensiun dia.

35:51

Jadi akhirnya uangnya habis semua buat

35:53

dana pendidikan anak. Di masa pensiun

35:55

dia enggak punya ee apa aset atau apapun

35:58

yang bisa menyokong hidup dia. Dan dia

36:00

percaya, "Oh, kan gua udah invest di

36:01

anak, anak gua sukses, gua dibayarin

36:03

sama anak." gitu loh.

36:04

Heeh.

36:04

Jadi itu kayak enggak kelar. That's why

36:06

itu kenapa buat aku dan suami dana

36:08

pendidikan tuh penting banget dan kita

36:10

nyekolahin anak setelah kita tahu

36:12

duitnya udah ada bukan ya udah deh

36:15

jalanin aja insyaallah dicukupkan enggak

36:18

tapi lihat dulu oh ini benar bisa nih

36:21

bismillah yuk kita masukin gitu.

36:23

Mm karena aku nanya gitu even aku dan

36:27

beberapa teman-temanku juga masih di

36:29

lingkupnya gitu ya kita tidak memungkiri

36:31

itu gitu.

36:31

Iya. Heeh. Tapi kayak kata Mbak Berita

36:34

bilang tadi, kita bisa selesaikan itu di

36:36

kita, memotong generasi itu di kita,

36:38

gitu. Nah, kalau Pak Berita sendiri itu

36:40

memang sudah memotong atau memang dari

36:43

dulu

36:44

parenting-nya berbeda memang memang

36:46

parentingnya itu sangat-sangat upgrade

36:49

gitu loh memahami tentang

36:51

sebenarnya sih aku tuh juga gimana ya

36:54

karena gini kadang kalau kayak di

36:56

podcast kayak gini kan sometimes orang

36:58

juga nonton mungkin sepotong atau gimana

37:00

gitu ya terus nanti bilang kayak oh si

37:02

perita ngomong gini nih tentang orang

37:03

tuanya gitu-gitu segala macam gitu kan

37:05

itu bisa menyinggung perasaan dan

37:06

sebagainya gitu

37:07

cuman kalau dibilang yang bahwa aku

37:09

benar-benar kayak bebas melakukan apa

37:11

yang aku mau sih sebenarnya enggak

37:12

enggak juga.

37:13

Aku tuh to be honest dulu tuh punya

37:14

cita-cita tuh pengin jadi penari.

37:17

Oke.

37:18

Kamu percaya enggak sih aku dulu penari

37:19

balet?

37:21

Enggak percaya karena enggak pernah

37:22

lihat ya.

37:22

Ya iyalah udah pakai jilbab tahunya

37:24

juga.

37:25

Dulu tuh aku nari balet dari usia 5

37:27

tahun dan aku baru selesai nari itu pada

37:29

saat aku menikah.

37:31

Which

37:31

is balet itu kan setahuku mahal ya.

37:33

Dulu sih biasa aja, tapi ee maksudnya

37:36

gini, em apa namanya? Aku memang

37:39

kepengin punya cita-cita jadi

37:40

profesional dancer. H

37:42

lalu berubah jadi pengin punya sekolah

37:45

balet.

37:45

Oke.

37:46

Jadi dulu tuh cita-cita aku kuliah di

37:48

London

37:49

yang mana akhirnya gugur gara-gara

37:52

Krism.

37:53

Jadi dari London beralih ke Depok.

37:56

He

37:56

gitu kan. Emang kamu pikir dulu aku

37:58

pengin kuliah akuntansi enggak lah.

38:02

Gitu. Tapi itu cuma best option yang aku

38:04

punya karena aku dapat jalur undangan

38:06

waktu itu.

38:06

Dan orang tua sangat mendukung untuk

38:08

masuk akuntansi.

38:09

Iya. Basically kan dulu ibu aku yellow

38:11

jacket juga. Jadi kayak biasalah kan

38:14

kalau kayak oh orang tua di sini kan

38:15

kebanggaan lah kalau nerusin legasy ya

38:18

gitu-gitulah gitu. Jadi aku ada tuh

38:20

kayak gitunya kayak ya udah deh aku

38:22

bikin bangga orang tuaku apalagi aku

38:23

bisa lolos tanpa tes apa segala macam.

38:26

Pada saat itu kan kayak enggak mudah

38:28

juga pilihannya soalnya enggak banyak

38:29

kan. Dulu kan cuman ada tes atau tanpa

38:31

tes udah enggak ada jalur-jalur banyak

38:33

kayak sekarang tuh enggak ada gitu. Jadi

38:35

ya udahlah aku bikin bangga orang tua

38:36

dan sebagainya gitu loh.

38:38

Walaupun pada akhirnya sih aku menyadari

38:39

bahwa oh ya mungkin ini sesuatu yang

38:41

memang baik untuk aku. Tapi aku enggak

38:43

bisa pungkirin aku tuh dulu sebenarnya

38:44

punya keinginan lain loh sebenarnya yang

38:46

enggak kesampaian kira-kira tuh gitu.

38:48

Nah kalau suami aku memang dia lebih

38:51

dibebasin. Jadi dia tuh kebalikannya

38:52

aku. Kalau aku tuh lebih kayak dijagain

38:54

banget. Kalau suami aku tuh kayak

38:56

benar-benar udah bebas gitu, kayak dia

38:59

nentuin sendiri aja segala macam.

39:01

He.

39:02

Jadi akhirnya kita sebagai orang tua nih

39:03

ketemu di tengah gitu loh antara aku

39:05

yang masih ada jaga-jagainnya. Sedangkan

39:08

suami aku juga sadar bahwa anak laki tuh

39:10

enggak boleh digituin apa segala macam.

39:12

Jadi parenting kita akhirnya jadi

39:14

jadi ya kalau tadi kamu bilang udah

39:16

lebih upgrade ya alhamdulillah ilmunya

39:17

juga udah lebih banyak kan gitu. Jadi

39:19

kita bisa nih enggak ngelakuin gitu ke

39:21

anak gitulah kira-kira. He he. Untuk

39:23

menentukan prioritas keuangan kita.

39:25

Heeh.

39:26

Kalau per hari ini mungkin aku melihat

39:28

Mbak Berita masih nomor satu anak gitu

39:30

ya.

39:30

Heeh.

39:32

Tranteta nomor dua, nomor 3, nomor 4,

39:34

nomor 5 seharusnya apa? Supaya menurut

39:36

kita tuh lebih rapi gitu.

39:37

Oke. Sebenarnya urutannya pertama tuh

39:39

bukan di anak tapi dana darurat.

39:41

Oke. Aku malah malah tidak ketebak. Aku

39:44

kirain dana darurat itu nomor dua gitu

39:45

loh.

39:46

No. Dana darurat itu harus selalu jadi

39:48

nomor satu. Yes.

39:49

Dan ini penelitiannya udah banyak. If

39:51

you have enough cash, you will be able

39:54

to make decisions logically. Artinya,

39:58

orang yang memiliki kas cukup akhirnya

40:01

enggak berlebih loh, dia akan cenderung

40:04

mampu mengambil keputusan secara logis

40:06

dan terstruktur

40:08

tanpa ada tekanan dari MSE keuangan

40:10

tadi.

40:12

Pertanyaannya jumlahnya berapa?

40:14

Penelitian terakhir di tahun ini oleh

40:17

Vangard dari Amerika Serikat ekivalen

40:20

3.000 US eh sori 2.000 US DO artinya

40:24

sekitar Rp30 juta kalau di Indonesiakan.

40:27

Tapi kan itu secara umum ya menurut aku

40:29

nanti harus disesuaikan lagi dengan kita

40:30

tinggalnya di kota apa dan sebagainya.

40:32

Benar.

40:32

Tapi ini tuh sebenarnya cash buffer bill

40:35

yang memang harus ada dalam bentuk cash

40:37

bukan cash ekivalen. Cash ekivalen tuh

40:40

kayak misalnya emas atau apalah

40:42

gitu-gitu liquid aset enggak. Ini cash.

40:44

Whenever you have that, percaya sama

40:46

aku. Itu berdasarkan penelitian dibilang

40:49

bahwa pertama kamu bisa mengambil

40:50

keputusan lebih terstruktur. Kedua, kamu

40:53

mengurangi bengong-bengong mikirin duit

40:56

itu 2 jam dalam seminggu.

40:58

Oke.

40:58

Ternyata kita tuh sering bengong mikirin

41:00

duit loh. Kayak misalnya kita kayak

41:02

hmm apa ya? Mendingan ini ngapain ya

41:04

gitu. Itu ternyata bisa diminimal bisa

41:06

dikurangin sampai 2 jam seminggu.

41:08

Artinya lu bisa lebih produktif atau lu

41:10

mau ngapain kek, nonton kek, whatever di

41:12

tempat lain gitu loh.

41:13

Ya kan artinya ini mesti dikejar.

41:16

Walaupun orang bilang praktiknya susah

41:17

ya praktik ya gimana kamulah. Tetapi kan

41:20

ini teorinya nih aku mau kasih tahu apa

41:22

yang baik gitu loh. Seperti orang

41:23

ngomong

41:25

dewasa itu tidur harus 8 jam sehari.

41:28

Pernah dengar gitu enggak

41:29

praktiknya? Emang orang beneran 8 jam.

41:31

He he he. 6 jam. 6 jam lah ya. Iya. Kan

41:34

artinya jangan jangan karena kita enggak

41:36

bisa ngerjain teorinya kita langsung

41:39

bilang itu salah. Enggak. Itu tetap

41:41

benar tapi mungkin kita susah aja

41:43

ngejalaninnya.

41:44

Nomor satu itu dana darurat.

41:46

Nomor dua.

41:46

Dana darurat. Oke.

41:47

Yes. Itu yang pertama. Nomor dua itu

41:49

sebenarnya adalah tempat tinggal.

41:53

Oke. Aku nebaknya tadi asuransi.

41:55

No. Tempat tinggal.

41:57

Tempat tinggal. Alr.

41:58

Karena tempat tinggal itu kan kebutuhan

41:59

dasar manusia.

42:00

H.

42:01

Terlepas kamu mau ngontrak, kamu mau

42:04

punya sendiri, terserah deh. Tapi kalau

42:06

kamu mau ngontrak, kamu harus punya uang

42:09

buat ngontrak sampai usia berapa. Jadi

42:12

enggak berdasarkan oh ya gaji gua

42:14

segini, gua ngontrak beginilah. Dan

42:15

kalau emang udah ada gaji segini, kita

42:17

tuh juga tahu bahwa kita tuh mampunya

42:19

ngontraknya di kontrakan yang harganya

42:21

berapa, bukan yang gua pokoknya maunya

42:24

kamar mandi dalam, maunya gini apa

42:26

segala macam, ya. Tetap disesuaikan

42:28

dengan penghasilan kita.

42:29

Yap. Nomor tiga itu pada saat kita udah

42:33

menikah itu berarti dana membesarkan

42:35

anak. Jadi ada masuk nih tiba-tiba. Tapi

42:38

kalau kita belum menikah itu enggak

42:40

masuk. Nah, dari dana membesarkan anak

42:43

ini baru yang terakhir itu adalah dana

42:46

pensiun.

42:48

Jadi empat ini nih sebenarnya

42:51

dana darurat.

42:52

Heeh.

42:53

Tempat tinggal kita. Kalau sampai sudah

42:55

nikah dan punya anak berarti ada anak

42:56

nih masuk membesarkan anak. terakhir

42:58

adalah dana pensiun.

43:00

He.

43:00

Nah, dana darurat ini kadang bergabung

43:04

dengan asuransi.

43:05

Iya. Ya,

43:05

karena ada orang-orang yang kesulitan

43:08

misalnya untuk ngumpulin cash sebanyak

43:10

itu atau dana sebanyak itu. Solusinya

43:13

mungkin ya udah beli asuransi kesehatan,

43:15

kamu bayar premi segini. Jadi kalau

43:17

sampai karena sakit bisa digantiin lah.

43:19

Tapi empat ini tuh ceklis yang setiap

43:22

orang tuh harusnya akan kejadian gitu

43:23

loh bilang. He.

43:24

Nah, di luar itu gua sukan

43:28

gua sukanya ini, gua sukanya itu.

43:30

Seralah bebas.

43:31

H.

43:32

Kemarin nih aku waktu seminar nih, aku

43:34

cerita dikit ya. Waktu seminar ada Genzi

43:36

nanya sama aku.

43:37

He.

43:37

Karena di seminar itu tuh pesertanya

43:39

dari Genzi sampai udah mau pensiun.

43:41

Waduh, kalau udah dapat peserta yang

43:43

terlalu range-nya jauh gitu tuh kayak

43:45

oke deh gitu kan. Nah, terus dia nanya

43:47

gini, "Boleh enggak sih, Mbak Prita,

43:49

kalau aku kan Genzi nih, umur baru 25

43:52

tahun, boleh enggak kalau aku enggak

43:54

mikirin pensiun sekarang? Jadi aku 2

43:56

tahun ini aku mau happy-happy aja,

43:58

menyenangkan diriku sendiri dan lalu

44:01

nanti 2 tahun lagi baru aku mikirin

44:03

pensiun."

44:04

Hm.

44:05

Aku bilang sama dia, aku tanya balik,

44:07

"Terus kamu kalau kamu mau save atau

44:09

invest, kamu save atau investnya buat

44:12

apa?" Ya enggak tahu sih, pokoknya yang

44:13

penting punya tabungan aja. Enggak bisa.

44:16

Gua bilang gitu. Itu kesalahan Genzi

44:19

adalah kamu ngumpulin uang tanpa tahu

44:21

buat apa uangnya.

44:22

Heeh.

44:23

Itu salah besar. Dan aku akhirnya kasih

44:25

tuh si ee empat ceklist itu. Aku tanya

44:28

sama dia, "Dari empat ini kamu yang

44:30

belum punya yang mana?" Ternyata belum

44:32

punya semua. Akhirnya aku bilang, "Ya

44:34

jelaslah berarti kamu dana darurat kan."

44:36

Iya.

44:37

Jadi kamu sudah jelas sekarang kamu

44:38

nabung buat apa?

44:40

Dana darurat. Pada saat kamu tahu kamu

44:42

nabung buat dana darurat, apa impactnya?

44:44

Kamu tahu persis kamu nabungnya di mana?

44:46

Hmm. Harusnya dia nabung di mana?

44:49

Yes. Dia udah enggak nanya-nanya lagi

44:51

harusnya kan orang banyak juga Gensi

44:53

aduh pengin nabung, pengin investasi di

44:55

mana yang paling bagus ya kan gitu-gitu

44:56

kan segala macam kayak kebingungan.

44:58

Kebingungan itu enggak akan terjadi

44:59

kalau kita tahu tujuannya apa.

45:01

Hmm.

45:02

Akhirnya dia gini, "Jadi aku sebenarnya

45:04

boleh senang-senang. Siapa yang

45:05

ngelarang? Kan ada living saving

45:06

playing. Tapi savingnya kamu enggak

45:08

boleh tinggalin. Dana darurat kamu harus

45:10

kumpulin. Dan kalau kamu belum punya

45:12

tiga kali pengeluar rutin bulanan, I'm

45:13

so sorry.

45:14

Kamu belum bisa tuh healing-healingnya

45:15

seperti kamu mau. Aku bilang gitu. Kamu

45:17

carilah cara gimana kamu tetap bisa

45:19

healing, tapi kamu kekumpul itu semua.

45:21

Akhirnya dia baru ngerti gitu loh.

45:23

Karena kalau enggak gitu Bilal itu bakal

45:25

berantakan banget nanti ke depannya.

45:27

Aku sempat baca juga tapi aku lupa

45:29

spesifik berapa persen.

45:30

Heeh.

45:31

Tapi mostly Jenzy Indonesia itu

45:33

sebenarnya tidak punya dana darurat.

45:35

Mungkin sih. He.

45:36

Heeh.

45:37

Dan menurut Pak Berita kayak tadi kan

45:39

mungkin tiga kali pengeluaran per bulan

45:41

gitu ya.

45:41

Heeh.

45:43

Tapi secara pendapatan juga belum tentu

45:44

bisa nge-cover. Apalagi kayak tadi

45:46

mungkin ada yang sandwich generation

45:47

juga kayak harus bantu orang tua tutup

45:50

sana tutup sini gitu.

45:51

Heeh.

45:52

Kalau Mbak Berita masuk ke dunia mereka

45:53

Heeh.

45:55

harus ngapain?

45:56

Oke. Aku sebenarnya punya solusinya tapi

45:58

orang banyak yang enggak suka.

45:59

Enggak apa-apa. Silakan. Enggak apa-apa.

46:01

Solusinya jual barang.

46:03

Hmm. dan enggak malu jualan. Ya,

46:05

contoh ya. Aku lihat nih ke kamu sendiri

46:07

nih. Misal kamu bilang, "Mbak berita,

46:08

aku enggak punya dana darurat nih

46:10

sekarang." gitu. Aku lihat kamu, aku

46:11

scanning jam tangan jual.

46:14

Kenapa kamu pakai jam tangan? Buat lihat

46:17

waktu, Mbak Prita. Emang enggak bisa

46:18

lihat dari handphone? Aku yakin kamu

46:19

bisa.

46:21

Tapi kamu mau enggak ngelakuin itu?

46:22

Belum tentu.

46:23

Tapi kalau kamu nanya sama aku, gimana

46:26

caranya gue gini? Lu lihat aja di badan

46:28

lu sendiri lah, apa yang bisa lu jual?

46:30

Apa yang bisa lu kecilin? Misalnya

46:32

handphone, lu pakai yang kayak apa?

46:34

Handphone itu kan inti sarinya apa sih?

46:35

Biasanya kita chat gitu-gitu. Yang

46:37

lainnya tuh kan tambahan-tambahan ya.

46:39

Dan sekarang kan kita udah beruntung

46:41

banget punya opsi tuh beragam gitu loh.

46:44

Dari yang HP mungkin R juta sampai 20-an

46:46

juta ada semua Bilal.

46:48

Benar enggak?

46:48

Benar

46:49

ya. Kalau emang kita butuh dana darurat

46:51

kenapa lu punya handphone R-an juta? Itu

46:53

dana darurat lu.

46:54

Hm.

46:56

Sesimpel itu.

46:56

Sesimpel itu. Ya, benar.

46:59

Ada juga data yang aku kumpulin nih.

47:01

Katanya

47:02

banyak Jenzi itu menunda pernikahan

47:05

karena ingin fokus karir dan khawatir

47:07

soal keuangan.

47:08

Paham.

47:10

Mbak Birta juga sering nulis tentang

47:11

ini.

47:11

Paham.

47:13

Ada pendapat atau ilmu baru yang har

47:16

ingin kita pelajarin enggak? Soalnya aku

47:19

tadi ketika ada empat step tadi

47:22

itu di nomor tiga ketika dana pendidikan

47:23

anak ada juga orang memilih untuk tidak

47:25

punya anak.

47:26

Hm. Paham. Paham. Gimana menurut Pak

47:28

Pita?

47:29

Oke. Kita enggak bisa pungkiri bahwa di

47:31

Indonesia memang biaya pendidikan itu

47:34

adalah satu aspek yang cukup

47:37

challenging, if not brat, challenging

47:39

for so many people.

47:40

Oke.

47:42

However, aku kan juga dosen ya, aku

47:44

melihat bahwa sekarang sebenarnya the

47:49

education itu banyak. Oke. Nah,

47:52

pertanyaannya adalah kita sebagai orang

47:54

tua nyiapin bekal buat anak kita sejauh

47:57

mana? Makanya orang tua banyak yang

47:59

ragu-ragu akhirnya punya anak karena

48:01

enggak yakin bisa melakukan itu. Era aku

48:04

kemarin sempat share nih ada enam. Kamu

48:07

bisa dibilang siap finansial di level 1

48:10

untuk punya anak kalau pertama kamu udah

48:12

punya dana darurat dulu

48:14

karena itu penting. Enggak bisa itu.

48:15

Kalau itu enggak ada tuh agak bahaya

48:16

memang. Jadi tolong ya buat semua

48:19

calon-calon suami yang pada mau bikin

48:21

anak gitu ya, ngotot minta ke istrinya

48:24

atau yang anaknya udah dua tapi laki

48:26

semua ngotot pengin cewek gitu misalnya

48:28

ya, kamu lihat dulu dana darurat kamu

48:30

udah cukup atau belum sebelum kamu minta

48:32

istri kamu buat ya udah sama-sama

48:34

istilahnya untuk punya keturunan. Yang

48:37

kedua adalah kamu punya penghasilan yang

48:39

stabil. Karena tanpa penghasilan yang

48:41

stabil gimana mau punya dana darurat kan

48:42

logikanya gitu.

48:43

Benar. Oke, yang ketiga, kamu harus bisa

48:47

bayar premi asuransi kesehatan minimal

48:49

BPJS.

48:51

Minimal itu aja enggak apa-apa. Tapi itu

48:53

harus ada karena BPJS juga cover

48:55

melahirkan kan. Terus sudah gitu kamu

48:58

sudah bisa punya budgeting dan kamu mau

49:01

untuk menabung untuk urusan anak kamu.

49:03

Karena kadang ada orang tua juga yang ah

49:05

enggak mau banget gitu kan. Orang tua

49:07

juga berhak bahagia katanya gitu. Jadi

49:10

ee enggak semuanya tentang anak paham.

49:12

Tapi once kamu berani punya anak, itu

49:13

amanah. Kamu harus mau tuh nabung buat

49:15

itu. Yang keelima, kamu harus bisa punya

49:19

gaya hidup sederhana. Emang mau enggak

49:21

mau begitu sih. Jadi sederhana itu

49:23

artinya kalau kemampuan kita di sini,

49:25

kita hidupnya tuh di sini. Bukan berarti

49:27

kita juga jadi kayak frugal banget.

49:29

Belum tentu sih, tapi lebih sederhana

49:31

aja. Dan yang terakhir, kamu bisa

49:33

korbanin gaya hidup demi prioritas

49:35

keluarga. Ini yang biasa orang tua

49:37

berat.

49:37

Itu yang berat. Benar.

49:38

Itu yang berat. Nah, enam ini kalau jadi

49:41

ceklist kita, I think banyak sebenarnya

49:44

Genzi yang sudah siap punya anak

49:46

gitu. Karena bebannya itu kan sebenarnya

49:49

digengsi orang tua tuh juga penting ya.

49:51

Kayak gini, ah masukin anak di sekolah

49:54

SD yang kayak gini, "Ih, malas banget,

49:56

malu misalnya gitu." Padahal ya itu

49:58

kemampuan kita gitu ya. Orang tua itu

50:01

kan juga pintar,

50:02

kamu pintar. Orang-orang Gensi banyak

50:04

yang udah sekolah ya ajarin aja anaknya

50:06

sendiri juga di rumah lengkapi. Misalnya

50:09

enggak bisa sekolah berbahasa Inggris ya

50:10

orang tuanya aja ajak ngomong bahasa

50:12

Inggris kayak gitu-gitu loh. Sesimpel

50:14

itu. Heeh. Walaupun dipangkas kecil

50:16

kecil-kecil tapi dalam konteks mungkin

50:18

long term 5 tahun itu

50:20

ada hal yang lebih positif kalau mau

50:21

disaving ke darurat dan lain-lain. Ya.

50:23

Iya. Iya. Emang enggak kerasa sih.

50:25

Betul.

50:26

Sebelum kita masuk ke aku ada pertanyaan

50:28

simpel ke Mbak Berita ya.

50:32

dari Mbak Berita sendiri kira-kira ada

50:34

enggak pengalaman menarik dari klien ya?

50:38

Heeh. Heeh.

50:39

Tentang hutang, tentang apapun problem

50:41

yang mungkin bisa di-share ke kita dan

50:43

Mbak Berita itu ada solusi yang menarik

50:44

gitu.

50:45

Heeh.

50:46

Aku tuh sebenarnya encounter ada dua nih

50:49

ya dua yang e pernah aku temui dan

50:52

akhirnya kita handle langsung. Jadi

50:53

sebenarnya kan to be honest aku udah

50:55

enggak banyak handle klien personal gitu

50:56

ya karena aku ee kesulitan gitu. Tapi

50:59

masih ada dua yang pernah aku handle

51:01

langsung. Yang pertama nih kaitannya

51:03

dengan utang. Jadi ee penghasilannya

51:06

UMR, istrinya juga bekerja, pinjaman

51:10

online-nya 12 platform.

51:12

12 platform.

51:13

Heeh.

51:15

Wadaw.

51:17

Pertanyaan pertama aku kalau orang punya

51:20

utang yang lilitannya sampai seperti ini

51:23

adalah

51:24

ceritain ke saya dari yang tadinya kamu

51:27

enggak punya utang akhirnya kamu jadi

51:29

begini ceritain dari awal.

51:33

Itu harus diceritain. Karena di titik

51:35

itulah seorang financial consultant akan

51:38

paham ini masalahnya kenapa. He.

51:41

Karena ada orang yang memang pinjol itu

51:44

karena dirinya dia. Ada yang karena

51:46

keluarga, ada yang karena sakit,

51:47

macam-macam lah. Jadi pada saat dia

51:48

cerita, kita akan tahu sebenarnya ini

51:50

kira-kira solusinya yang mana.

51:52

H.

51:53

Nah, akhirnya dia udah cerita, akhirnya

51:55

ketahuan bahwa oh gaya hidup. Dia

51:57

sendiri mengakui kegoda pengin upgrade

52:00

handphone padahal enggak mampu. Dan pada

52:02

saat itu ternyata enggak lama pandemi

52:05

kena cut.

52:06

Hm. punya penghasilan. Tapi kan pada

52:08

saat pandemi banyak yang tunjangan

52:09

berkurang kan.

52:11

Karena tunjangan itu melekat pada

52:14

kedinasan, sedangkan gaji melekat pada

52:16

orang. Biasanya gaji enggak dipotong

52:18

Bilal, tapi kayak misal waktu pandemi

52:20

enggak ada perjalanan dinas, enggak ada

52:21

apa kan tunjangannya berkurang jauh.

52:23

Iya.

52:23

Jadi kalau orang menghadapi seperti itu

52:25

pakai tunjangan, pantesan bahaya.

52:27

Pertanyaan kedua,

52:28

he

52:29

pasangan kamu gimana? Kamu mau keluar

52:32

dari sini apa enggak? Karena kalau

52:34

pasangannya juga enggak bareng, enggak

52:35

akan bisa. Percuma dia mau. Oke,

52:38

akhirnya kita bikinin nih skema gitu ya.

52:41

Gimana menyelamatkan cash flow dia. Itu

52:43

ada ee metodenya teknis banget sih

52:45

namanya ee metode bola salju. Nanti

52:48

kapan-kapan bisa cerita deh. Tapi

52:50

kira-kira

52:51

dengan metode itu

52:54

dalam 10 bulan itu platform udah

52:57

berkurang sisanya tinggal dua.

53:00

Hm.

53:01

tinggal dua dan akhirnya pelan-pelan.

53:05

Katanya sih bulan kemarin baru lunas

53:09

setelah berapa tahun?

53:10

1 seteng.

53:12

Tapi itu memang harus ada effort luar

53:15

biasa.

53:15

Y

53:16

artinya apa? Masih ada secerca harapan.

53:20

Hm.

53:21

Indonesia cerahlah gitu. Kalau memang

53:23

dari kita dari kita memang ee mau untuk

53:26

melakukan itu.

53:27

Nah, on the other hand, yang satu lagi

53:29

case yang pernah aku tangani adalah ini

53:30

malah high networ individual.

53:33

Wow.

53:34

Ya, mungkin orang enggak akan nyangka,

53:36

"Hah, masa iya sih orang kalau udah

53:38

kayak gitu bakal kesulitan." Ternyata

53:40

kejadiannya adalah pasangannya yang

53:43

berpenghasilan itu kena stroke.

53:46

Pasangan yang berpenghasilan which is

53:48

suaminya. Yes. Kena stroke di usia muda.

53:51

Hmm.

53:52

Oke. Padahal asetnya di mana-mana. di

53:55

luar negeri, di Indonesia apa segala

53:56

macam ini itu mungkin orang ngelihatnya

53:58

kayak masa udah punya aset sebanyak itu

54:00

ini. Karena rupanya pengeluarannya tiap

54:02

bulan itu sekitar 300 sampai R00 juta.

54:09

Terus emang kamu pikir it's very easy

54:11

untuk ya udah Mbak gitu tinggal turunin

54:14

aja ini kamu. Enggak bisa. Karena gaya

54:17

hidup yang orang udah ada di porsi itu

54:21

emang either kamu turun dan kamu keluar

54:23

dari pergaulan atau ya kamu jual-jual

54:26

barang sesimpel itu.

54:27

Mm

54:30

keluar dari pergaulan ya berarti memang

54:32

ada bukan subscription bukan atau

54:34

berlanganan apapun tapi memang ada hal

54:37

yang bikin dia terikat sama satu

54:39

komunitas gitu ya dan mereka harus ada

54:40

pengeluaran yang sama di tingkat itu

54:42

kan. Iya dong. Kayak misal kamu ikut

54:44

komunitas motor apa gitu kan pasti ada

54:46

pengeluaran. Kamu ada komunitas ini,

54:48

kamu pasti ada pengeluaran segitu. Itu

54:49

kayak udah ada be minimum yang harus

54:51

kita punya lah kira-kira gitu. Nah,

54:54

kenapa sih bisa sampai pengeluaran

54:55

sebesar itu? Biasanya pengusaha.

54:57

He.

54:57

Nah, pengusaha itu kan emm kadang suka

55:01

bikin perjanjian bisnis atau apa yang

55:03

pasangannya enggak tahu.

55:05

Nah, itu masalah dia juga di situ.

55:07

Tiba-tiba suaminya stroke juga enggak

55:08

bisa ngapa-ngapain. Tiba-tiba datang

55:10

nih. Gitu kan. Maksudnya orang-orang

55:11

bilang, "Nih suaminya ee kemarin ada

55:13

utang gini begini kan bingung nih

55:15

istrinya." gitu kan segala macam gitu.

55:17

Ya udah akhirnya aku cuman bisa bantu

55:19

kalau itu aku jujur enggak bisa

55:21

nyelesaiin. Kenapa? Karena tidak ada

55:24

kemauan dari ee mungkin bukan tidak

55:26

kemauan tapi sulit kali ya gitu ya. Jadi

55:29

aku akhirnya cuman bisa bantu bikinin

55:32

kalau masih bisa dikerjain kayak gini.

55:34

Iya.

55:34

Tapi aku enggak bisa paksa orang

55:35

ngerjain itu gitu loh.

55:37

He he

55:37

gitu. Jadi menarik ya, yang malahan kita

55:40

pikir udah enggak punya harapan malah

55:43

bisa selesai. Malah yang kita pikir

55:45

harusnya kamu udah wah function of

55:47

freedom lah lah malah jadi begitu gitu

55:49

loh.

55:50

Iya. Iya. Karena emang orang lupa bahwa

55:52

pemasukan gede kalau pengeluaran lebih

55:54

gede bakal bang.

55:56

Exactly. Ya, Teman-teman berkelas,

55:59

sebelum kita lanjut podcast ini, aku

56:01

cuma mau bilang info spesial khusus

56:03

untuk kamu. Mulai hari ini, kamu sudah

56:06

bisa join membership resmi Suara

56:08

berkelas. Kamu bisa dapetin exclusive

56:10

summarize dari episode-episode favorit

56:12

aku di Suara berkelas. Dan setiap

56:14

bulannya bakal ada akses eksklusif buat

56:16

kamu ngelihat behind the scen podcast

56:18

suara berkelas seperti obrolan aku

56:20

dengan narasumber off the record dan hal

56:22

menarik lainnya yang bakal aku share

56:24

khusus untuk membership ini. Jadi kalau

56:26

kamu merasa podcast suara berkelas

56:28

mengubah cara pandang kamu melihat

56:29

dunia, feel free untuk join membership

56:31

suara berkelas atau klik link di

56:33

deskripsi. Sampai jumpa dan jadilah

56:35

bagian dari perjuangan dan perkembangan

56:38

suara berkelas.

56:41

Mbak Prita, tiga pertanyaan dari

56:42

teman-teman. suara berkelas.

56:45

Pertanyaan pertama dari HDR

56:49

236. Heeh.

56:51

Mbak Prita, jujur saya sering ngerasa

56:52

gagal sebagai anak karena belum bisa

56:54

membantu keuangan orang tua saya.

56:57

Gimana cara simpelnya untuk bisa

56:58

berdamai dengan perasaan ini ya sambil

57:00

tetap bermimpi untuk masa depan saya

57:03

sendiri?

57:03

Oke. Pertama, kamu tidak gagal. Oke. Ee

57:07

kamu bisa dibilang gagal kalau kamu

57:09

melakukan hal-hal yang bertentangan

57:11

dengan agama. Kalau itu buat aku seperti

57:12

itu.

57:13

I.

57:13

So, as long as kamu enggak seperti itu

57:15

dan kamu tetap berusaha, kamu mesti

57:17

percaya bahwa ya memang porsi kamu saat

57:19

ini seperti itu.

57:21

Dan orang tua kamu kalau dia adalah

57:23

orang tua yang baik, dia akan bisa

57:25

menerima itu. Karena sebenarnya ya ada

57:28

istilah anak katanya durhaka, tapi orang

57:30

suka lupa orang tua tuh juga bisa

57:32

durhaka loh sebetulnya.

57:34

Tapi jarang terekspose kali ya.

57:35

Exactly. Jadi, em tolong hindari dan

57:39

keluarin pikiran bahwa saya gagal, tapi

57:41

usaha terus. Dan yang namanya

57:44

membanggakan orang tua itu enggak melulu

57:47

dari sisi finansial atau pencapaian

57:49

hidup.

57:50

Hm. Heeh. Kalau dari sisi

57:53

gagal itu kan orang-orang emang ngelihat

57:55

dari materialistisnya gitu kayak

57:57

He.

57:58

Ada barangnya bisa bawa orang tua umrah

58:00

gitu ya.

58:02

Itu kan yang ditunjulkan dimunculkan

58:03

juga di sosial media ya.

58:06

Tapi aku sangat-sangat relate sama

58:07

kata-kata di awal tadi ya sebelum Q&A

58:09

ketika ketika kita tidak membani orang

58:12

tua kita.

58:13

He.

58:14

Ketika kita bisa fulfill kita punya

58:16

dream sendiri dengan uang kita, itu

58:18

sebenarnya sudah konteks yang sukses ya

58:20

untuk seorang anak ya.

58:21

Karena kan logikanya tugas orang tua itu

58:24

adalah dititipi dapat amanah untuk

58:27

membesarkan, mendidik, men-urture,

58:30

meng-guide supaya akhirnya mereka bisa

58:32

mandiri dong. He.

58:34

Jadi sebetulnya kalau akhirnya anak itu

58:36

bisa bertanggung jawab sama dirinya

58:37

sendiri dan keluarganya dia dan kalau

58:40

aku tambahannya dalam koridor agama yang

58:42

aku anut, ya itu anakku ya alhamdulillah

58:44

udah sukses gitu loh.

58:47

Yap, yap.

58:49

Aku ke petang kedua ya dari Layla Utami.

58:53

Kak izin nanya kalau kita terlil hutang

58:57

dan kita ngerasa bahwa tidak ada jalan

58:59

keluarnya,

58:59

Heeh.

59:00

aku harus melakukan aksi apa? ya untuk

59:03

aku bisa melihat harapan itu masih ada.

59:06

Oke.

59:08

Angka tidak pernah berbohong. Jadi aku

59:11

akan selalu bilang, "Kamu ambil kertas

59:14

dan ambil pen. Jangan tulis di laptop

59:17

atau ketik-ketik. Karena journaling

59:20

dengan tangan itu efeknya beda dengan

59:22

ketikan."

59:23

Hm. ambil kertas, bikin tabel utang saya

59:27

di platform apa aja atau institusi apa

59:30

aja, bank atau apapun itu. Berikutnya

59:32

adalah berapa jumlah cicilan saya.

59:35

Berikutnya adalah berapa sisa utang yang

59:37

masih harus saya bayar. Jadi totalnya

59:39

nih. Terakhir adalah berapa bunganya.

59:43

Oke, kamu urutin dari yang cicilannya

59:47

ya, yang di mana sisa utang itu paling

59:51

kecil.

59:52

Jadi kalau sisa utang paling kecil itu

59:54

utang yang mana? Terlepas dia cicilannya

59:56

berapa besar atau bunganya berapa besar,

59:58

itu duluan yang kamu selesaikan. Teori

1:00:00

ini bilang kalau kamu bisa menghilangkan

1:00:02

satu ee list dalam daftar itu akan

1:00:06

sparks eh kepercayaan diri bahwa aku

1:00:09

ternyata bisa loh melakukan ini.

1:00:11

H.

1:00:11

Nah, caranya gimana? Maka kamu harus

1:00:13

lihat nih oke dari penghasilan kamu itu

1:00:17

emang kurang atau tidak? Kalau misalnya

1:00:19

memang ada faktor kurang, kamu lihat

1:00:22

masih mungkin enggak kamu lebih fruga

1:00:24

lagi. Kalau emang tidak bisa ya memang

1:00:26

tidak ada jalan lain selain kamu harus

1:00:29

mencari cara menambah income mungkin

1:00:31

untuk sementara waktu. Di mana sekarang

1:00:33

opsinya itu ee cukup banyak ya, baik

1:00:36

dari ee online, commerce, macam-macam

1:00:39

lah. Tapi itu bukan yang harus

1:00:40

terus-terusan. Hanya sampai batas kita

1:00:43

mulai bisa ngilangin daftarnya satu

1:00:44

persatu.

1:00:45

Hmm. Ya, ya. Ya, aku aku setuju sama

1:00:48

itu.

1:00:48

Heeh.

1:00:49

Dan masuk akal masih bisa realistis

1:00:51

untuk kita kerjain.

1:00:52

Betul.

1:00:53

Pertanyaan ketiga dari Safira Khaila.

1:00:56

Mbak, izin nanya. Saya sering

1:00:58

menghindari ngobrol keuangan karena

1:01:00

takut memicu konflik dengan keluarga

1:01:02

saya.

1:01:02

Hm.

1:01:03

Padahal di satu sisi saya ingin membantu

1:01:05

adik saya kuliah dan sisi lain orang tua

1:01:07

juga banyak banget hutangnya gitu. He.

1:01:10

Saya sendiri belum mapan dan saya ingin

1:01:12

mengatur keuangan saya dengan sehat tapi

1:01:14

susah

1:01:15

sebagai tulang punggung keluarga. Ada

1:01:17

solusi.

1:01:17

Oke. Again, angka tidak berbohong.

1:01:21

Ada satu tools yang jarang banget

1:01:23

dipakai sama orang, tapi ini penting.

1:01:26

Oke,

1:01:26

namanya tools

1:01:29

balance, kekayaan bersih pribadi. Jadi,

1:01:34

basically kita bikin di sebelah kiri itu

1:01:37

semua harta yang kita punya, di sebelah

1:01:39

kanan itu adalah semua pinjaman yang

1:01:41

masih harus dibayar, bukan cicilan

1:01:43

pinjamannya.

1:01:44

Pinjaman. Dalam hal ini kan tadi dia

1:01:45

share ini orang tua yang banyak hutang.

1:01:48

Berarti hartanya itu termasuk harta

1:01:50

orang tua. H.

1:01:51

Oke.

1:01:52

Y.

1:01:52

Dari sini sebenarnya akan kelihatan

1:01:54

Bilal orang tuanya sebenarnya punya

1:01:56

harta enggak sih buat bayar pinjaman

1:01:58

tersebut? Kalau misalnya iya contoh

1:02:00

misalnya jual rumah ya maka mungkin itu

1:02:03

perlu dilakukan. Tapi ingat pada saat

1:02:06

jual rumah artinya dia harus menyisihkan

1:02:08

sejumlah uang untuk bisa ngontrak untuk

1:02:10

sekian lama. Kira-kira gitu. Karena kan

1:02:12

dia tetap harus punya rumah tinggal.

1:02:14

Nah, itu sebenarnya adalah kuncian. Ada

1:02:17

orang yang pernah nih cerita anaknya tuh

1:02:20

kayak sedih sedih sedih sedih sedih gitu

1:02:21

karena ini kayaknya my parents tuh broke

1:02:24

deh. Dia enggak nyiapin tabungan buat

1:02:26

aku kuliah. Jadi kayaknya aku mesti cari

1:02:27

beasiswa. Lala la.

1:02:29

Tapi terus dia sempat cerita juga bahwa

1:02:31

iya dia tuh gimana sih enggak nyiapin

1:02:33

tabungan gini gini gini tapi dia masih

1:02:35

ada rumah tiga

1:02:37

sama masih punya mobil satu.

1:02:40

Artinya apa? dia pikir tabungan itu

1:02:42

harus berbentuk tunai cash. Padahal

1:02:45

berarti si rumah yang tiga itu ya harus

1:02:47

dijual. Benar enggak?

1:02:49

Mungkin pada saat itu cita-citanya punya

1:02:50

rumah mau dikontrakin atau apa, tapi

1:02:52

ternyata enggak bisa karena ada tanggung

1:02:53

jawab ini. Nah, dengan begini aku pengin

1:02:57

ee pendengar kita ini itu tuh ngobrol

1:02:59

sama orang tuanya sama-sama duduk bareng

1:03:02

dan cari solusi untuk utang tersebut.

1:03:04

Baru berikutnya ini soal si kuliah adik

1:03:07

itu.

1:03:07

Iya. Karena kuliah adik itu juga adiknya

1:03:10

harus diajak ngobrol. Kakak mampunya

1:03:13

segini. Kalau kakak mampunya segini,

1:03:15

opsi ee kuliahnya tuh di sini, sini

1:03:18

sini. Ya, adiknya juga memang perlu

1:03:20

untuk memahami kakaknya kemampuannya

1:03:22

gimana. Tapi kadang-kadang yang kejadian

1:03:25

adalah si kakaknya kan diteror gitu kan,

1:03:28

dibilang, "Kamu tuh ya dulu semua

1:03:30

uangnya bapak ibu tuh buat muliahin kamu

1:03:33

gitu. Giliran kamu sukses, kamu enggak

1:03:35

mau lagi bantu adik-adik apa segala

1:03:36

macam." Ah, balik lagi tuh financial

1:03:38

unmasment. Iya dong.

1:03:40

Sekarang tinggal pilihan di si kakak.

1:03:42

Si kakak ini mau ngikutin semua yang

1:03:45

diomong itu atau dia berani untuk

1:03:48

ngomong? Nah, ini kan titik pilihan nih,

1:03:50

Bilal.

1:03:51

Kalau Kakak bilang kayak tadi, dia

1:03:52

bilang, "Aku enggak berani berkonflik."

1:03:54

Berarti itu pilihan hidupnya dia.

1:03:56

Artinya kamu mesti sadar penuh bahwa

1:03:59

this life itu akan menggeluti kamu for

1:04:04

the next berapa gitu loh ke depan. Dan

1:04:06

itu pilihan sadar kamu loh karena kamu

1:04:09

tidak mau berkonflik.

1:04:11

Yang tadi aku sering bilang bahwa kamu

1:04:14

memilih loh untuk enggak apa-apa deh gue

1:04:16

diginiin daripada gue diomongin orang,

1:04:19

gue dibilang anak durhaka, gue dibilang

1:04:21

apa enggak apa-apa deh. Ya berarti itu

1:04:23

yuk

1:04:24

secara sadar kamu mau melakukan itu.

1:04:28

Maka kalau udah itu yang kamu pilih, aku

1:04:31

cuman punya satu saran. Ih kelas.

1:04:34

Iya. ikhlas dalam kesedihan.

1:04:38

Mau gimana lagi? You choose that. Dan

1:04:40

kalau kamu bilang, "Aku enggak punya

1:04:41

pilihan," manusia itu selalu punya

1:04:43

pilihan.

1:04:44

Tapi pilihan seperti apa yang berani

1:04:46

kita ambil dan sanggup mungkin kita

1:04:48

ambil? Kan kadang ya omongan orang kan

1:04:50

emang suka nyelekit banget. Tapi kan

1:04:52

faktanya ada juga yang cuek banget,

1:04:53

enggak peduli, ada juga yang aduh gitu

1:04:55

kan. Ya sudah, kamu yang paling tahu

1:04:57

diri kamu. Kalau kamu enggak sanggup, ya

1:04:59

udah berarti ini harus kamu jalanin,

1:05:00

gitu aja.

1:05:01

Iya. What you're not changing, you're

1:05:03

choosing, katanya. Yes.

1:05:04

Karena itu pilihan hidup. Ya,

1:05:06

betul.

1:05:07

Terakhir, Mbak Prita, aku penasaran, ada

1:05:10

enggak the worst advice yang pernah

1:05:12

Kakak dengar?

1:05:14

Ada.

1:05:16

Ini tuh menarik ya, karena aku enggak

1:05:18

tahu sebenarnya ini potongan aja atau

1:05:21

ini tuh lengkap. Karena sometimes

1:05:23

nasihat keuangan itu suka

1:05:24

dipotong-potong. Tapi kayaknya sih yang

1:05:26

ini aku dengarnya tuh udah komplit,

1:05:28

yaitu

1:05:31

orang dibilang enggak perlu kamu bikin

1:05:34

budget. Itu 50, 30, 20 living, saving,

1:05:38

playing tuh bikin kamu malah enggak bisa

1:05:41

achieve apa-apa. Udahlah jalanin aja lu

1:05:44

duit punya berapa, ya udah

1:05:46

pengeluarannya berapa. Yang penting

1:05:48

katanya gitu yang penting enggak minus

1:05:53

itu

1:05:55

bahaya banget karena penelitiannya sudah

1:05:59

banyak sekali bahwa budgeting helps us

1:06:04

to make

1:06:05

logical decision.

1:06:07

Hm.

1:06:08

Karena dengan budgeting itu ada di

1:06:10

mental kita tahu bahwa saya memang hanya

1:06:14

boleh pakainya segini. Jadi kalau

1:06:17

misalnya ini lewat, saya sadar penuh ini

1:06:19

tuh lewat dan saya tahu bahwa saya

1:06:22

harusnya balikin ke sini suatu hari

1:06:23

nanti. H

1:06:24

mungkin enggak sekarang. Tapi aku tuh

1:06:27

selalu yakin akan ada masa-masanya

1:06:31

Tuhan kasih kita rezeki lebih, Bilal.

1:06:33

Enggak mungkin enggak.

1:06:34

Benar. Benar.

1:06:35

Aku yakin banget itu. Dan pada saat itu

1:06:38

terjadi dan kamu enggak punya budget

1:06:40

akan bablas aja. Aku sering bercanda

1:06:44

sama bapak-bapak di seminar. Aku bilang

1:06:47

gini, "Coba Bapak-bapak ingat-ingat.

1:06:49

Kalau sekarang Bapak-bapak sudah mau

1:06:51

pensiun, belum punya dana pendidikan

1:06:53

anak, terus Bapak-bapak bilang, "Udahlah

1:06:55

entar insyaallah dicukupkan." Enggak

1:06:57

boleh begitu. Jangan-jangan dulu

1:06:59

rezekinya udah turun, tapi terus

1:07:01

Bapak-Bapak pergi ke dealer mobil jadi

1:07:03

DP dia tuh.

1:07:04

Hm.

1:07:04

Bukan malah jadi dana pendidikan anak.

1:07:06

Pilih DP mobil instead of dana

1:07:08

pendidikan anak. Coba jujur sama aku,

1:07:12

STNK udah ganti berapa kali baru pada

1:07:14

ketawa.

1:07:15

There goes your dana pendidikan anak.

1:07:17

Aku bilang gitu. Dan itu alasannya

1:07:19

karena enggak punya budget.

1:07:20

Hm.

1:07:21

Nah, kalau kamu belum bisa ngejalanin

1:07:23

budgeting living 50%, saving 30%,

1:07:26

playing 20%, jangan salahkan teorinya.

1:07:30

Tapi kita adjust. Oke, saat ini mungkin

1:07:32

kita UMR, yang penting kita enggak

1:07:34

payat, yang penting kita enggak pinjol

1:07:36

gitu ya. Tetapi we know bahwa nanti saat

1:07:39

kita udah semakin baik kondisinya itu

1:07:42

yang kita kejar.

1:07:43

Y.

1:07:43

Jadi itu menurut aku penting banget

1:07:46

untuk semua orang punya budget supaya

1:07:48

mereka bisa create hidup yang memang

1:07:51

lebih indah dan sejahtera.

1:07:53

Wow sekali. Thank you Pak Rita atas hari

1:07:57

ini. Aku sangat banyak belajar hal baru.

1:08:00

Thank you juga.

1:08:00

Thank you. Sehat terus. Terima kasih

1:08:02

semuanya. Sampai jumpa. Yeah.

More transcripts

Explore other videos transcribed with YouTLDR.

Get the TLDR of any YouTube video

Transcribe, summarize, and repurpose videos in 125+ languages — free, no signup required.

Try YouTLDR Free