0:30
Kabut turun perlahan di lereng Gunung
0:33
Kawi. Menyapu pepohonan pinus seperti
0:36
tirai tipis yang [musik] digerakkan
0:38
tangan tak terlihat. Aroma tanah basah
0:42
dan [musik] dupa yang samar bercampur
0:47
Di sanalah pada tahun-tahun terakhir
0:52
ketika Hindia Belanda masih menancapkan
0:55
kuku [musik] kekuasaannya.
1:00
namanya Raden Wiratama,
1:04
seorang bangsawan kecil dari wilayah
1:06
Malang [musik] yang hidup dalam
1:08
bayang-bayang kejayaan masa lalu
1:12
Rumahnya masih berdiri megah, tetapi
1:15
tembok-temboknya [musik] retak dan
1:18
halaman luasnya ditumbuhi ilalang. Ia
1:22
mengenakan kebaya [musik] pria sederhana
1:25
jauh dari kemewahan yang pernah menjadi
1:27
warisan [musik] keluarganya.
1:30
Namun di balik sorot matanya yang tenang
1:33
tersembunyi gelora kegelisahan [musik]
1:35
yang tak pernah benar-benar padam.
1:39
Sejak kecil ia telah mendengar [musik]
1:42
bisik-bisik tentang Gunung Kawi, tentang
1:45
tempat di mana keinginan manusia bisa
1:48
bertemu takdir, tentang pesugihan,
1:51
ritual yang konon mampu membuka pintu
1:54
kekayaan dengan harga yang tak pernah
1:59
[musik] Orang-orang membicarakannya
2:02
dengan suara setengah takut, setengah
2:06
Sebagian mengatakan itu hanyalah mitos.
2:09
Sebagian lain bersumpah pernah melihat
2:13
bukti. Suatu sore ketika matahari turun
2:17
seperti bara merah di ufuk barat,
2:20
seorang lelaki tua datang ke rumah
2:25
Tubuhnya kurus, rambutnya memutih, dan
2:28
langkahnya nyaris tak bersuara.
2:35
Gunung Kawi [musik] tidak pernah
2:37
memanggil orang yang tidak siap,"
2:40
ucapnya [musik] pelan setelah mereka
2:42
duduk berhadapan di serambi. [musik]
2:45
Wiratama tidak langsung menjawab. Ia
2:48
hanya menatap jauh ke arah pepohonan
2:51
yang bergoyang pelan.
2:54
Aku tidak mencari kekayaan semata,"
2:59
"Aku ingin mengembalikan [musik]
3:00
kehormatan keluargaku."
3:03
Ki Jagaraga tersenyum tipis. Senyum yang
3:06
lebih mirip bayangan.
3:09
Semua orang berkata begitu di awal.
3:12
Angin [musik] berhembus membawa suara
3:15
gamelan dari kejauhan. Entah nyata atau
3:18
hanya permainan pikiran. [musik]
3:21
Jika kau tetap ingin pergi, kau harus
3:24
[musik] siap kehilangan sesuatu yang
3:26
lebih berharga daripada emas."
3:30
Wiratama menganggup. Ia tidak tahu saat
3:33
itu betapa dalam arti kata-kata itu.
3:37
Perjalanan menuju Gunung Kawi dimulai
3:43
Langit masih gelap, hanya dihiasi
3:46
bintang-bintang yang perlahan memudar.
3:49
Wiratama berjalan menyusuri jalan tanah
3:53
bersama Ki Jagaraga. [musik]
3:56
Hutan di sekitar mereka hidup dengan
3:58
suara, desir daun, langkah binatang
4:03
dan sesekali pekikan burung malam.
4:07
Semakin [musik] tinggi mereka mendaki,
4:09
udara semakin dingin.
4:12
Kabut menjadi lebih tebal, menempel di
4:15
kulit seperti embun yang enggan pergi.
4:19
Di tengah perjalanan, mereka melewati
4:22
[musik] sebuah kompleks makam yang
4:25
Dua makam tua berdampingan dijaga oleh
4:29
pohon-pohon besar yang akarnya
4:31
mencengkeram [musik] tanah seperti
4:35
Ki Jagaraga berhenti.
4:38
[musik] Ini tempatnya," katanya liri.
4:43
Makam itu milik tokoh yang dihormati
4:45
[musik] masyarakat setempat. Figur
4:48
sejarah yang diyakini memiliki kekuatan
4:50
spiritual besar lain. Orang-orang
4:54
[musik] datang dari berbagai penjuru,
4:56
membawa bunga, dupa, dan harapan.
5:01
Wiratama [musik] merasakan sesuatu yang
5:05
Seperti ada tekanan halus [musik] di
5:09
seperti udara di sekitarnya menjadi
5:13
Berlutut, [musik] kata Ki Jagaraga.
5:19
Tanah di bawah lututnya dingin hampir
5:24
Bau bunga [musik] melati dan kenanga
5:31
Dalam keheningan itu, suara dunia seolah
5:36
dan sesuatu yang lain mendekat.
5:40
Hari pertama berlalu tanpa kejadian luar
5:43
[musik] biasa. Mereka tinggal di sebuah
5:46
pondok kecil di dekat makam. Wiratama
5:50
menjalani laku tirakat. Puasa, diam,
5:57
Ia tidak boleh berbicara [musik] kecuali
6:01
Tidak boleh makan kecuali sedikit
6:03
[musik] air dan nasi putih.
6:06
Pada malam ketiga, sesuatu berubah.
6:13
hutan menjadi terlalu sunyi.
6:17
Wiratama duduk bersila di depan makam.
6:24
ia merasakan hawa dingin menjalar dari
6:29
Bukan dingin biasa, dingin [musik] yang
6:34
Ia membuka mata perlahan.
6:37
Kabut di depannya bergerak bukan karena
6:40
angin, melainkan [musik] seperti makhluk
6:46
Dari dalam kabut [musik] itu muncul
6:48
siluet tidak sepenuhnya jelas. tetapi
6:52
cukup untuk membuat jantungnya [musik]
6:57
Kenapa kau datang? Suara itu terdengar
7:01
bukan di telinga, tetapi langsung di
7:04
dalam kepalanya. [musik]
7:07
Wiratama menelan ludah.
7:10
"Aku mencari jalan," jawabnya.
7:15
Jalan [musik] selalu ada. Suara itu
7:20
Yang tidak semua orang miliki adalah
7:23
keberanian untuk membayar harganya.
7:28
Kabut itu semakin mendekat. [musik] Ia
7:32
mencium bau tanah basah bercampur
7:34
sesuatu yang lain. Sesuatu yang busuk
7:38
seperti kenangan yang membusuk.
7:43
Apa yang kau inginkan?
7:48
[musik] Wiratama terdiam.
7:51
Ia teringat ibunya yang sakit dan hidup
7:56
Ia teringat [musik] nama keluarganya
7:59
yang kini hanya menjadi cerita lama.
8:02
Ia teringat rasa malu yang terus
8:08
"Aku ingin kekuatan," katanya akhirnya.
8:15
Kabut itu berdenyut pelan seperti
8:22
Semua itu [musik] bisa menjadi milikmu.
8:32
sebagai gantinya, kau harus memberikan
8:34
[musik] sesuatu yang kau cintai.
8:39
Jantung Wiratama seperti berhenti
8:45
[musik] Tidak ada jawaban langsung,
8:51
Ia melihat dirinya di masa depan.
8:55
Rumahnya kembali megah, tanahnya luas.
8:58
Orang-orang menghormatinya
9:01
[musik] ibunya tersenyum, sehat,
9:06
[musik] Namun bayangan itu berubah.
9:10
Rumah itu sunyi, ibunya [musik] tidak
9:13
ada. Tidak ada tawa, hanya kemewahan
9:23
Kabut itu kembali bersuara.
9:26
Semua pilihan memiliki [musik]
9:32
Pagi harinya, Wiratama terbangun dengan
9:38
Ki Jagaraga sudah duduk di luar menatap
9:42
matahari yang baru terbit.
9:46
Kau sudah bertemu?" katanya tanpa
9:52
Wiratama tidak menjawab.
9:54
Ia duduk di [musik] samping lelaki tua
9:56
itu mencoba memahami apa yang baru saja
10:04
Itu bukan sekedar mimpi lanjut Kijaga
10:09
dan bukan pula sesuatu yang bisa kau
10:15
[musik] Apa itu? Tanya Wiratama.
10:20
Ki Jagaaraga menghela napas.
10:24
Keinginanmu [musik] sendiri yang diberi
10:30
Kata-kata itu terasa lebih berat
10:33
daripada apapun yang ia dengar
10:35
sebelumnya. Hari terakhir tiba.
10:39
Kabut pagi terasa lebih tebal dari
10:44
Orang-orang mulai berdatangan ke makam
10:46
membawa persembahan.
10:49
Suasana menjadi hidup. Tetapi [musik]
10:52
bagi Wiratama, dunia terasa semakin
10:57
Ia berdiri di depan makam untuk terakhir
11:02
"Sudah kau putuskan," tanya [musik] Ki
11:07
Wiratama menatap tanah lalu menatap
11:12
Kemudian tanpa berkata apa-apa, ia
11:16
berjalan mendekati [musik] makam,
11:18
berlutut dan menutup mata.
11:22
Kabut itu datang lagi lebih cepat,
11:32
Suara itu kembali. [musik]
11:35
Wiratama menarik napas panjang.
11:41
tidak akan terjadi apa-apa.
11:44
Jawab suara itu tenang.
11:47
Kau akan kembali seperti sebelumnya.
11:53
kehormatan yang hilang,
11:59
dan jika aku menerima [musik]
12:05
kau akan mendapatkan semua yang kau
12:13
detik-detik terasa seperti jam.
12:19
[musik] Wiratama membuka mata.
12:26
[musik] Kabut itu berhenti bergerak
12:30
seolah waktu membeku.
12:33
"Kau [musik] yakin?"
12:35
Suara itu bertanya. Kali ini dengan nada
12:41
Aku tidak ingin kekayaan [musik]
12:43
yang membuatku kehilangan apa yang
12:46
benar-benar berarti.
12:49
Kabut perlahan memudar.
12:52
Udara kembali terasa [musik] ringan.
12:55
Dan untuk pertama kalinya sejak ia
12:58
datang, [musik] Wiratama merasa
13:04
Bertahun-tahun kemudian, [musik] nama
13:07
Wiratama memang tidak pernah tercatat
13:09
sebagai orang terkaya. Namun, ia dikenal
13:13
sebagai seseorang yang membangun kembali
13:16
kehidupannya dengan kerja keras. Ia
13:19
[musik] membuka usaha kecil, membantu
13:22
petani, dan perlahan-lahan mengembalikan
13:26
martabat keluarganya [musik]
13:28
bukan dengan jalan pintas,
13:30
tetapi dengan ketekunan.
13:34
Ibunya hidup cukup lama untuk melihat
13:39
Dan ketika ia [musik] meninggal,
13:44
Di lereng Gunung Kawi, makam itu masih
13:50
Orang-orang masih datang,
13:53
[musik] masih membawa harapan,
13:56
masih mencari jalan pintas menuju
14:01
Namun kabut di sana selalu sama. [musik]
14:11
Karena legenda Gunung [musik] Kawi
14:13
bukanlah tentang pesugihan semata,
14:17
melainkan tentang [musik] pilihan
14:20
dan harga yang bersedia dibayar manusia
14:24
untuk keinginannya sendiri. Yeah.