Explore Transcripts

Tak Miskin, Tak Kaya: Nasib Kelas Menengah Terhimpit Beban Ekonomi | Narasi Explains

Narasi Newsroom289.4K views11:071,386 wordsIndonesian

Video Description

Mereka tak masuk kategori miskin, tapi juga belum cukup kuat untuk menghadapi tekanan ekonomi. Kelas menengah—penggerak utama konsumsi rumah tangga—justru makin terpinggirkan. Ketika kebijakan tak menjangkau mereka, laju ekonomi ikut tertahan. Jadi, seperti apa kondisi kelas menengah Indonesia hari ini? Dan bantuan seperti apa yang benar-benar mereka perlukan? (Narasi) Jangan lupa subscribe, tinggalkan komentar dan share video ini. Tonton konten video-video lainnya di https://www.narasi.tv Follow: https://www.instagram.com/narasinewsroom/ https://www.facebook.com/NarasiNewsroom https://twitter.com/NarasiNewsroom Konten video dan YouTube Channel ini adalah bagian dari Narasi.

najwa shihabnajwashihabnarasinarasi newsroomnarasi storiesnarasi entertainmentnarasi talksnarasi sportsnarasi daily

Transcript

Click timestamps to jump to that point

  • Setiap krisis melanda, perhatian pemerintah biasanya langsung mengarah ke kelompok masyarakat miskin dan rentan. Bantuan sosial digulirkan, subsidi diperluas, dan berbagai insentif difokuskan untuk menahan laju kemiskinan. Tapi ada satu kelompok yang sering luput

  • dari perhatian. Yaps, kelas menengah. Tapi siapa sih sebenarnya yang dimaksud dengan kelas menengah? Badan Pusat Statistik atau BPS dan WorldBank punya kriteria berbeda soal

  • siapa yang masuk kelas menengah. Menurut BPS pada 2024, kelas menengah adalah mereka yang punya pengeluaran bulanan antara Rp2 juta sampai Rp9,9 juta per orang dengan garis kemiskinan secara nasional sebesar Rp582.932.

  • World Bank membaginya lebih rinci. Dalam laporan berjudul Aspiring Indonesia Expending the Middle Cast yang diterbitkan pada September 2019, masyarakat Indonesia dibagi ke lima kelompok berdasarkan pengeluaran per kapita per bulan. Pertama, kelompok miskin atau mereka yang punya

  • pengeluaran sekitar Rp354.000 per bulan. Berikutnya ada kelompok rentan atau vulnerable. Kelompok ini sedikit di atas garis kemiskinan tapi masih rentan jatuh miskin lagi. Pengeluaran mereka ada di kisaran Rp354.000 hingga Rp532.000

  • per bulan. Di atasnya lagi ada kelompok Aspiring Middle Class. Ini kelompok yang sudah keluar dari kemiskinan dan kerentanan tapi belum benar-benar aman. Pengeluaran mereka Rp532.000 hingga Rp1,2 juta per bulan. Lalu ada

  • kelompok kelas menengah atau middle class yang dianggap cukup stabil secara finansial. Pengeluarannya berkisar Rp1,2 juta hingga Rp6 juta per bulan. Terakhir, kelas atas atau upper kelas dengan pengeluaran bulanan di atas Rp6 juta per orang. Meski definisinya

  • beragam, satu hal yang pasti. Kelas menengah punya peran vital dalam roda ekonomi. Data BPS 2024 menyebutkan sekitar 66% penduduk Indonesia termasuk kelas menengah dan calon kelas menengah. Mereka inilah yang menyumbang lebih dari 81% pengeluaran rumah tangga nasional.

  • Artinya mayoritas konsumsi nasional dari belanja bahan pokok, transportasi, hiburan, pendidikan anak digerakkan kelompok ini. Sayangnya mereka sering luput dari radar kebijakan pemerintah. Saat krisis ekonomi datang, mereka seringkiali enggak dianggap cukup miskin untuk dibantu, tapi juga enggak cukup

  • kaya untuk bertahan sendiri. Sebenarnya dalam beberapa tahun terakhir ini yang yang kita lihat ya, bahwa stimulus-stimulus yang diberikan oleh pemerintah itu memang banyak yang tidak menyasar ke kelas menengah. Misalkan bantuan beras itu hanya ditujukan untuk

  • kelas miskin atau kelas menengah ke bawah dan miskin gitu. Nah, menengah ke bawah pun itu tidak banyak yang mendapatkan bantuan langsung dari pemerintah. Tapi masalahnya adalah banyak sekali kelas-kelas menengah ini yang dia juga merasakan dampak negatif dari adanya perlambatan ekonomi, adanya

  • dampak ekonomi global dan sebagainya yang pada akhirnya ini menurunkan proporsi dari dari kelas menengah kita. Makanya kalau kita lihat sebenarnya ini mereka ini rentan miskin ini ternyata tidak eligible mendapatkan panduan sosial tapi dia mendapatkan efek negatif

  • dari adanya suatu fenomena ekonomi atau kebijakan-kebijakan yang berdampak negatif terhadap perekonomian seperti misalkan untuk yang kenaikan harga BBM tahun 2022 itu yang mendapatkan adalah untuk masyarakat yang miskin tapi untuk rendah miskin dia tidak mendapatkan

  • bantuan tunai untuk ee kompensasi dari dari kenaikan BBM, tapi dia harus membayar BBM lebih tinggi. Stimulus yang dikeluarkan pemerintah pada Juni 2025 pun masih belum cukup menyentuh mereka. Ada lima jenis stimulus yang digelontorkan pemerintah.

  • Diskon tiket kereta, pesawat, dan kapal laut, potongan 20% tarif tol, bansos, dan bantuan pangan untuk keluarga penerima manfaat, subsidi upah untuk pekerja bergaji di bawah Rp3,5 juta, serta diskon iuran jaminan kecelakaan kerja untuk sektor padat karya selama 6

  • bulan. beberapa mungkin bisa dinikmati kelas menengah, tapi efektivitasnya masalahnya adalah kelas menengah kita juga memang tengah menghadapi masalah pendapatan yang memang tidak tidak kunjung membaik. Artinya mereka untuk menabung pun mereka berkurang gitu ya.

  • Apalagi untuk melakukan pembelian ee services ataupun produk-produk yang sifatnya tersier. Jadi kalau saya pribadi sebenarnya untuk yang stimulus eh diskportasi ini cenderung tidak akan bisa mempengaruhi pertumbuhan ekonomi ee

  • secara signifikan. Nah, yang kedua adalah dari bantuan-bantuan subsidi upah. Nah, pada saat ini memang akan diberikan untuk beberapa 17 juta ya, 17 juta pekerja yang dia dengan gaji di bawah Rp3,5 juta gitu kan. Dan ini

  • memang kalau menurut saya tidak ditujukan untuk pekerja-pekerja yang ada di kawasan industri-industri seperti Cikarang, Karawang, Jakarta, maupun Cilegon yang dia UMR-nya sudah lebih. Nah, ini yang yang kita lihat sebenarnya ini akan mengarahnya kepada

  • industri-industri yang ada di Jawa Tengah, Jawa Timur ataupun yang ada di luar pulau Jawa dengan ya UMR-nya yang masih di bawah Rp3,5 juta per bulannya. Sebenarnya ini bisa meningkatkan konsumsi kelas pekerja yang memang masuk

  • kepada kelas menengah ke bawah. kita melihat bahwa juga ada beban yang memang menimpa untuk kelas pekerja menengah ke bawah ini dengan adanya ya tadi ya inflasi inflasi yang sudah terjadi gitu kan seperti volatile food yang memang

  • masih sangat sangat ee dinamis infasinya. kita juga masih melihat pendapatan mereka walaupun naik 6,5% tapi memang masih banyak yang belum ya tercukupi kebutuhannya dan sebagainya. Dan ditambah lagi kita juga di ada

  • fenomena PHK yang marak terjadi di bulan Februari eh bulan Januari, Februari hingga Maret. Makanya BSU ini sayangnya tidak menyasar kepada ee orang-orang yang dia lebih dari 3,5 juta juga tidak

  • menyasar kepada kelas yang sifatnya informal. Pada triwulan pertama 2025, pemerintah telah menggelontorkan berbagai bantuan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Namun, angka pertumbuhan masih belum mampu menembus 5%. Menurut Yusuf Rendy Manilet, peneliti dari Center of Reform

  • on Economic Indonesia, salah satu penyebabnya adalah stimulus yang ada belum benar-benar menyasar kelas menengah. Memang stimulus ini ee diperuntukkan atau ditujukan terutama dalam mengejar ee target pertumbuhan ekonomi dalam

  • jangka pendek. Namun sekali lagi ee kita cukup sulit untuk bisa mengatakan bahwa ee berbagai stimulus ini menyentuh ya akar permasalahan. Misalnya salah satu permasalahan yang dihadapi saat ini

  • adalah turunnya kelas menengah ya. Nah, kalau kita lihat dari berbagai bantuan ini dia tidak secara spesifik gitu ya memberikan bantuan terhadap kelas menengah. Daya beli kelas pendapatan bawah. Tentu ini merupakan langkah yang patut diapresiasi.

  • Tapi apakah kemudian bantuan ini cukup untuk bisa mendorong perekonomian secara umum tanpa memasukkan kelas menengah? Karena sekali lagi kelas menengah ee jenis bantuannya relatif terbatas dan di saat yang bersamaan kelas menengah ini

  • ee punya proporsi yang besar dalam konsumsi rumah tangga secara umum. BPS mencatat dalam 5 tahun terakhir dari 2019 hingga 2024 jumlah warga kelas menengah menyusut 9,48 juta orang tinggal 47,85 juta saat ini. Proporsinya

  • pun ikut turun dari 21,45% menjadi 17,13% dari total populasi. ini kelas-kelas menengah kita share e pendapatannya itu sekitar 70% di tahun 2000-an, 2000-an awal, tapi ini melambat menjadi hanya

  • sekitar 66% di tahun 2023. Nah, sedangkan untuk kelaskelas 2 10% orang kaya itu meningkat dari 25 26% menjadi sekitar 30% di tahun 2023. Artinya ini terjadi pergeseran bahwa kelas atas kita

  • share pendapatannya terus meningkat. Sedangkan untuk kelas menangkat kita pendapatannya kelas menurun eh terus menurun dan jumlahnya juga menurun tapi tidak ke atas tapi dia justru ke bawah. Nah, kemudian kalau kita lihat dari sisi pendapatan disposibel masyarakat kita terutama yang untuk kelas menengah itu

  • semakin menurun bahwa di tahun 2023 pendapatan disposibel atau pendapatan yang bisa dibelanjakan oleh masyarakat itu sekitar 75%. Artinya 25% itu pendapatan ee full kita itu tidak bisa dibelanjakan karena ada potongan mulai

  • dari potongan ee tunjangan kesehatan dan sebagainya hingga tunjangan pajak atau pembayaran pajak. Jadi 25% tersedut di situ. Kita hanya bisa memanfaatkan 17% dari pendapatan kita untuk bisa kita konsumsi. Nah, ini yang menyebabkan akhirnya konsumsi rumah tangga kita

  • terus melambat dan kita lihat di Ramadan pun itu juga semakin melambat. Lantas bantuan seperti apa yang sebenarnya dibutuhkan kelas menengah? Kalau rentan miskin itu mereka karakteristiknya hampir serupa dengan masyarakat miskin. Tentu mereka akan

  • lebih diuntungkan ketika mereka mendapatkan ee langsung atau penentunan langsung gitu kan. Yang kedua kita bicara mengenai e kelas menengah kita yang memang sifatnya e konsumtif. Nah, kalau ada kelas menengah yang dia di atas rentang miskin ya atau kita di atas

  • aspiring middle class itu mereka butuh singsul yang bisa mengerakkan konsumsi mereka. Misalkan contohnya kalau kita lihat mereka membutuhkan untuk apa nih? Untuk mereka mengkonsumsi melalui kartu kredit.

  • Misalkan mereka mengkonsumsi banyak kartu kredit. Nah, ini bisa bisa di di ditingkatkan dengan cara apa? dengan cara memberikan ya stimulus untuk ya pinjaman kartu kredit dimurahkan dan sebagainya yang itu bisa menggerakkan mereka untuk melakukan konsumsi melalui

  • kartu kredit. Kelas menengah bukan sekedar angka di statistik. Mereka adalah tulang punggung ekonomi dari guru, buruh pabrik, perawat, hingga pedagang online. Tanpa kebijakan yang berpihak, mereka bisa jatuh ke jurang kemiskinan. Saat itu terjadi bukan hanya daya belih yang

  • runtuh, tapi juga fondasi masa depan ekonomi Indonesia. [Musik]

Get Transcripts for Any YouTube Video

YouTLDR instantly transcribes and summarizes YouTube videos in 100+ languages.

Try YouTLDR Free